
Suasana pagi ini, ah iya aku kembali merasakannya. Bi Gina tengah sibuk mempersiapkan sarapan, dia juga menyiapkan teh hangat dan vitamin yang biasa aku minum.
"Jika teman-temanmu mengajakmu pergi, maka kau harus menolaknya." Peringatan yang aku ingat pagi ini, dan bahkan bi Gina sudah mengatakannya tidak hanya satu kali.
"Bibi, aku juga tau itu." Aku sayang pada Juanda. Aku mengelus perutku sambil tersenyum. Ah akhirnya, tidak terasa hari terakhir ujian sudah tiba. Hanya beberapa jam ke depan aku tidak lagi perlu pusing untuk u
bagaimana cara menutupi kehamilanku.
"Bi?" Bi Gina langsung menoleh kearah ku. Semula tengah mencuci kuali yang kotor sehabis memasak.
"Aku ingin mengatakan sesuatu bi." Bi Gina mengangguk.
"Katakanlah, setelah itu bibi juga akan mengatakan sesuatu padamu." Giliran ku yang mengangguk.
"Bi, hari ini kan terakhir aku melaksanakan ujian kelulusan. Yang berarti hari ini juga terakhir aku bertemu dengan Adam." Bi Gina langsung mendekat, meninggalkan pekerjaannya.
"Adam akan pergi keluar negeri untuk melakukan perobatan bi." Aku melanjutkan lagi kalimatku.
"Benarkah?" Aku mengangguk dan kembali menyuapkan sarapan kedalam mulut.
"Apa aku harus memberi tahunya bi? Tentang kehamilanku, karena aku takut tidak akan bisa bertemu Adam lagi nantinya." Bi Gina terdiam, dia belum menjawab. Dan lebih memilih untuk memberiku vitamin karena aku sudah selesai sarapan.
"Bi? Aku butuh masukan dari bibi."
"Kinara, jujur bibi tidak bisa menjawabnya." Deg. Lalu apa aku harus meminta masukan dari Munah?
"Baiklah bi, kalau begitu aku berangkat ya?"
"Kau hati-hati dijalan ya. Ingatlah, sebelum bertindak maka pikirkan lagi matang-matang."
"Iya bi." Kenapa mata bi Gina begitu sendu? Aku berbalik lagi ketika sudah sampai di pintu penghubung. Teringat akan sesuatu, bukankah bi Gina juga bilang akan mengatakan sesuatu padaku?
"Kenapa Nara?"
"Bi, bukankah bibi juga bilang akan mengatakan sesuatu padaku?"
"Itu, Hem hanya ayahmu saja yang meminta bibi menemuinya nanti." Deg. Kenapa? Ada apa? Aku kembali lagi berjalan ke dapur.
"Untuk apa bi?"
"Bibi tidak tau."
"Ah semoga saja ayah akan membahas tentang gajih bibi. Aku berharap jika ayah akan menaikan gajih bibi." Bi Gina tersenyum, tapi kenapa wajahnya tidak terlihat senang? Apa bi Gina tidak lagi mau bekerja denganku? Dan jangan bilang bi Gina, eh aku berpikir apa sih. Tidak mungkin jika bi Gina berkhianat kan!
"Pergilah, kau bisa terlambat jika terus melamun." Aku tersadar, dan segera pergi keluar apartemen. Duniaku, akan berubah setelah ini.
***
Kendaraan kali ini yang terparkir jauh lebih banyak dari hari biasanya. Aku yakin, pasti mereka sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Pergi entah kemana dengan alasan merayakan hari kebebasan, iya hari dimana mereka sudah berhasil menyiapkan ujian.
Saat akan turun, aku dikejutkan dengan deringan diponsleku. Ku tutup terlebih dahulu pintu mobil barulah aku melihat ke layar ponsel.
"Ibu?" Aku segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya Bu?"
"Nara, sebaiknya setelah kau selesai ujian jangan pergi kemanapun. Karena ibu ingin bertemu denganmu nanti."
Aku tersenyum sebelum menjawabnya. Sungguh aku sangat tidak keberatan kali ini. Bukankah hal ini yang sangat aku inginkan.
"Baiklah Bu. Apa ibu yang akan datang keapartemen? Tapi sebaiknya jangan Bu. Karena tadi, Hem bi Gina bilang kalau ayah akan datang."
"Tidak sayang. Ibu memintamu untuk langsung datang kerumah ibu." Aku diam. "Kau tidak keberatan kan?"
"Baiklah Bu." Tapi aku merasa curiga disini. Apa ibu mau mengatakan kalau om Asraf sudah kembali lagi kerumahnya? Dan ibu tidak jadi bercerai? Sungguh aku bingung, padahal seharusnya aku senang. Karena waktu itu aku sendiri yang memintanya pada ibu.
"Hei, kenapa kau melamun disini? Apa kau tidak melihat jam, sebentar lagi bel akan berbunyi." Aku langsung menoleh, ya Tuhan ternyata Wahid.
"Kenapa kau baru datang?"
"Eh tadi aku kesiangan." Aku berjalan beriringan dengan Wahid. "Kau sendirian? Tidak bareng dengan Adam?"
"Tidak, dia sepertinya sudah datang lebih awal."
Aku diam, berjalan sambil menunduk menuju kelas.
"Kau ikut nantikan?"
"Kemana?" Aku menoleh sekilas.
"Rencana akan pergi ke puncak. Apa Munah tidak memberitahumu kemarin?" Aku menggeleng, tapi memang Munah tidak berbicara apapun.
"Wah aku lupa jika kau sekarang sudah menjadi anak ibu ya."
"Kata-katamu sangat menyindirku." Wahid tertawa. Jarak menuju kelas sudah tinggal beberapa meter saja. Dan terlihat sosok laki-laki tampan berdiri didepan kelas dengan melipat kedua tangannya. Tidak berkedip saat menatapku jalan berdua dengan Wahid.
"Kenapa?" Wahid yang lebih dulu bertanya padanya. "Apa kau cemburu kalau aku berjalan dengan Kinara?" Adam memukul lengan Wahid.
"Kenapa kalian lama sekali? Apa tidak melihat jam? Kalau kalian terlambat bagaimana?"
"Hei, memangnya kau pernah melihatku datang cepat?" Wahid protes, tapi mereka malah masuk kedalam dan yang membuatku merasa teriris, kenapa Adam tidak menyapaku?
"Kinara?" Munah melambaikan tangannya saat melihatku yang sudah berjalan masuk kedalam kelas. Dia seperti tidak berjumpa denganku satu tahun saja. Aku membalas senyumannya dan langsung berjalan menuju mejaku. Lain hal dengan Mida, tatapan kebencian itu jelas terlihat dari matanya. Tersenyum mengejek saat aku akan melewatinya. Sudahlah, aku lebih memilih membuang pandanganku ketika melewatinya.
Bruk!! "Aw." Aku menjerit, sakit sekali. Ternyata Mida sengaja memanjangkan kakinya agar aku terjatuh. Dan sialnya aku terjatuh dengan posisi tengkurap. Hingga perutku menjadi tumpuan sekarang.
"Kinara!!!" Munah berteriak sekencang-kencangnya. Dia langsung memaki Mida, mengumpatnya habis-habisan.
"Dasar sialan! Anj**g!! Ba**sat kau!!" Aku masih merintih menahan sakit. Seluruh siswa yang sudah berada didalam kelas mulai berkerumun. Mida masih tetap merasa tidak bersalah. Hingga Adam datang dan menamparnya. Aku sendiri kaget dan terperangah.
"Aku bisa menuntutmu!!" Teriaknya dan memaki Adam.
"Lakukanlah!!"
"Hei sudahlah." Wahid menengahi. Dan sekarang aku sudah terduduk. Munah terlihat sangat panik dan khawatir.
"Nara, kau tidak apa-apa kan? Nara, bagaimana dengan?"
__ADS_1
"Ssstt.." Aku menggeleng, ingatlah tidak hanya kita disini. Seluruh siswa bisa mendengarnya. Begitu aku mengatakan dengan bahasa mata.
"Kinara, jika kau merasa sangat sakit. Sebaiknya kuantar kau ke UKS." Aku menggeleng dan sempat tersenyum.
"Tidak Adam."
Dan yang membuatku semakin emosi, Mida masih bisa tertawa mengejek saat menatapku.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disitu?" Suara itu, guru sudah masuk kedalam kelas.
Semua langsung bubar dan kembali duduk di bangku masing-masing. Sementara aku meremas seragam karena merasakan sakit yang teramat.
"Kinara terjatuh Bu." Munah membuka suaranya.
"Jatuh?" Guru itu sudah berjalan mendekat ke mejaku.
"Lalu apa bagaimana? Apa kau masih bisa mengikuti ujian?"
"Bisa Bu. Aku tidak apa-apa."
"Syukurlah, kalau begitu bisa kita mulai kan sekarang?" Semua sudah serempak menjawab, terkecuali aku. Aku menoleh lagi, ternyata sedari tadi Adam terus menatapku. Tidak, kenapa wajahnya begitu terlihat sedih. Aku tersenyum, tapi Adam malah membuang pandangannya, dan tidak membalas senyumku.
Waktu tidak terasa, aku sudah berhasil mengisi seluruh jawaban Dimata pelajaran pertama. Dan sekarang, sudah waktunya aku kembali mengerjakan soal berikutnya dengan berganti mata pelajaran. Aku sudah tidak fokus, karena satu tangan aku gunakan untuk memegang perutku.
"Kau yakin baik-baik saja?" Munah berbicara pelan.
"Nara?" Aku menoleh dan mengangguk. Aku tau jika saat ini pasti Munah sangat khawatir akan kandunganku.
"Sudah aku tidak apa-apa." Tapi tetap saja Munah tidak menunjukkan reaksi kelegaan dari raut wajahnya.
"Sebaiknya, setelah ini kau harus memeriksakan kandungamu." Tidak, bagaimana dengan ibu? Bukankah aku sudah janji padanya akan datang setelah selesai ujian. Jika terlambat pasti ibu akan terus menelponku.
Setengah jam berlalu, aku berhasil mengisi semua jawaban. Tapi keringat dingin terus keluar dari wajahku dan juga sela-sela jariku. Sungguh aku sudah sangat tidak sanggup, aku merasa sudah tidak kuat lagi. Ini benar-benar sangat sakit.
"Munah?" Aku memanggilnya dengan suara lirih.
"Nara, wajahmu sangat pucat." Dia panik, tapi masih bisa menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh guru yang sedang mengawasi.
"Aku tidak tahan lagi." Munah langsung mempercepat menjawab soal ujian. Lalu beralih lagi padaku.
"Waktu tinggal lima menit. Sebaiknya segera siapkan, karena sudah harus dikumpulkan." Munah berdiri dan merapikan meja, menyambar soal ujian beserta jawaban miliknya dan milikku. Lalu berjalan menuju meja guru untuk mengumpulkan.
"Apa kau ingin ke kamar mandi?" Aku menggeleng. Hanya beberapa menit lagi, ya aku pasti kuat, begitu juga dengan anakku.
"Baiklah, waktu habis segera kumpulkan sekarang." Riuh suara siswa malah membuatku semakin gerah. Kepalaku malah ikut pusing sekarang.
"Nara kau?" Munah membulatkan matanya. Lalu menatap kearah bawah tanpa berkedip.
"Kenapa?" Aku bertanya hampir tidak mengeluarkan suara lagi.
"Nara, kau pendarahan!" Deg. Aku? Aku langsung melihat, benar kakiku sudah penuh darah. Tubuhku seakan bergetar, aku merasa tidak bisa lagi mendengar. Yang aku tau, sebelum aku benar-benar menutup mata ini, Adam berlari mendekat, tapi aku melihat juga ada darah yang keluar dari hidungnya. Adam, apa kita akan mati bersama?
Bersambung..
__ADS_1