
"NARA!!!!!! BANGUN!!!" Aku terlonjak kaget mendengar lengkingan suara Maemunah yang bak terompet di telingaku. Ku pukul wajahnya dengan bantal. "Kau lupa? Bukankah kita harus ke salon hari ini? Ini sudah jam berapa?" Aku menatap ke arah jam dinding.
"Ya ampun, kenapa kau baru bangunkan aku sekarang?" Aku protes dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Beribu kali aku membangunkan mu." Gerutunya lagi.
"Hei, aku pinjam dulu pakaianmu! Dalaman juga sekalian, aku kan tidak bawa." Dia masih teriak disana.
"Ya ampun, kenapa tidak kau pakai saja baju barumu!" Wajahku sudah penuh sabun, mana mungkin aku keluar lagi.
"Eh enak saja! Itu untuk pergi ke pesta! Memangnya ibumu sedang mengadakan pesta apa!"
"Ambilah di lemari. Pilih yang mana kau suka." Aku Berteriak lagi, kami berdua malah bak anak kecil yang saling teriak-teriak. Eh kalau saja aku tinggal dirumah rusun. Pasti para tetangga akan merasa terganggu.
Hari ini, aku bukan hanya menemani Munah ke salon. Tapi aku juga ingin potong rambut. Mengubahnya menjadi pendek, iya kalau kata orang buang sial. Entah kenapa aku merasa bersemangat sekali. Apa ini karena kau anakku? Aku mengelus perutku yang masih rata.
Saat aku keluar kamar mandi, Munah sedang duduk sambil memegang sebuah kertas kecil. Aku berjalan mendekat, ternyata bukan kertas. Itu photoku sewaktu kecil. Dari mana dia dapat?
"Kenapa bisa kau temukan ini?" Aku langsung merebutnya.
"Aku seperti pernah melihat photo itu, tapi dimana ya?" Dia berpikir.
"Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Sebaiknya kau mandi sekarang, kita akan langsung berangkat setelah ini.
"Iya-iya." Dia bangkit dari duduknya, lalu berhenti melangkah dan berbalik ke arahku. "Nara, bi Gina tidak datang?" Aku menggeleng sambil menyisir rambut.
"Kalau hari libur, bi Gina datang kalau aku memintanya. Lagian suaminya juga masih sakit." Munah mengangguk dan masuk ke kamar mandi.
***
Akhirnya selesai dengan urusan ke salon, aku juga sudah lebih fresh setelah mendapat pijatan lembut. Dan rambutku juga sudah seperti yang aku inginkan. Meski Munah sempat melarang ku, dengan alasan sayang sekali jika harus potong rambut. Beginilah, begitulah. Ah dia saja tidak tau dengan apa yang aku rasakan sekarang.
"Nara, kenapa tadi kau bilang tidak mau di pijat di bagian punggung? Kau ini seperti orang hamil saja. Malah sempat muntah lagi."
"Ha? Namanya juga masuk angin." Kenapa Munah bisa berkata begitu?
Saat sampai dirumah ibu, pintu gerbang langsung terbuka. Tanpa banyak pertanyaan, karena ini memang rumahku. Aku dan Munah langsung turun. Menilik ke arah sekitar rumah, sepi. Apa mereka semua pergi? Tapi untuk apa ibu memintaku untuk datang?
"Apa ibu ada dirumah pak?" Aku bertanya kepada salah satu tukang kebun dirumah ibu, aku juga sudah mengenalnya. Beliau berkerja disini sudah sangat lama.
"Nyonya tadi lagi keluar, mungkin sebentar lagi akan pulang." Aku dan Munah saling pandang. Untuk apa mengundangku datang kesini! Jujur, aku malah senang dengan begitu aku dan Munah bisa langsung pulang. Menghabiskan waktu satu harian di apartemen.
"Oh kalau begitu, aku pulang ya pak. Tolong nanti sampaikan sama ibu kalau aku sudah datang kesini."
"Nona?" Wajahnya seperti sayu saat menatapku, aku berhenti melangkah.
"Kenapa pak?"
"Kenapa tidak tinggal disini saja?" Deg. Aku tersenyum, walau hatiku terhujam. Mereka semua baik kepadaku, iya pelayan dirumah dan semuanya, mereka baik. Aku juga rindu bi Asih. Tapi sayangnya aku tidak mungkin bertahan disini hanya karena mereka kan?
"Pak, maaf ya. Aku tidak bisa." Aku pamit dan menarik lengan Munah, berjalan terburu-buru masuk ke mobil. Sebelum ibu kembali pulang dan menahanku disini.
"Apa kau tidak memberi kabar ke ibumu kalau kau mau datang kesini?" Aku menggeleng pelan.
"Aku sudah bilang akan kesini. Memang dasar kehadiranku bukan sesuatu yang istimewa. Jadi ya begitu." Munah menghela nafas berat, kali ini dia tidak protes. Mungkin dia berpikir jika ini memang benar.
"Kita pulang ke apartemen aja ya?" Munah mengangguk setuju. Aku tau, agar Munah tidak merasa bosan aku akan membeli makanan sebelum pulang ke apartemen.
"Sudah cukup?" Munah mengangguk. Lalu mengambil kantung plastik yang berisi makanan.
"Ini juga terlalu banyak. Mungkin satu bulan aku tinggal bersamamu, aku bisa menjadi gendut." Ucapnya dan meninggalkan ku lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Munah, kau lah yang gantian menyetir." Dia melirikku dengan tajam. "Kau tidak kasian apa melihat ibu hamil kelelahan?" Ha? Aku kenapa bisa bicara begitu? Ya Tuhan, bagaimana.
"Haha lucu sekali alasanmu. Hanya karena aku mengira kau hamil lalu kau bawa-bawa itu menjadi alasan ya!" Eh dia hanya anggap ini candaan syukurlah. Hampir saja jantungku lompat dari tempatnya, kalau sampai Munah menanyakan hal ini.
"Loh, kenapa kau duduk dibelakang?" Aku hanya tersenyum, lalu membaringkan tubuhku di kursi belakang. Menekuk kedua kaki dan memainkan ponsel. Aku tertegun saat melihat begitu banyak notif di ponselku.
"Nara, apa kau benar-benar tidak mau ikut lomba puisi di acara pentas seni besok?"
Ha? Sialan, grup chatting kenapa malah jadi ramai membicarakan ku? Padahal aku yang mengirim photo Munah semalam.
"Nara!!!" Munah berteriak, suaranya yang tidak bagus itu hampir memecahkan gendang telingaku!
"Apa sih?"
"Kau tuli ya! Dari tadi aku bertanya kau tidak menyahut?"
"Sudah kau fokus saja menyetir."
Ting.
Adam?
"Katanya tidak mau kenal cinta, tapi akhirnya mau juga." Apa maksudnya? Aku kembali membuka pesan grup chatting ku. Sialan! Munah!! Dia diam-diam mengambil photoku yang tengah bertukar nomor ponsel.
"Munah?" Aku memanggilnya dengan sangat lembut sambil mengeratkan gigiku.
"Apa?"
"Kenapa kau diam-diam mengambil photoku tadi malam? Dan kenapa kau kirim di grup kita!" Kalau saja dia tidak sedang menyetir, ku pastikan aku akan mencekiknya.
"Hehe." Eh dia malah tertawa tanpa merasa berdosa dan bersalah.
"Sudahlah Nara, lelaki itu sangat tampan. Aku sengaja berpura-pura tidak tau, dan bertanya padamu. Ternyata kau malah tidak mengaku kalau sudah bertukar nomor telepon."
"Tidak, aku tidak bertukar nomor telepon, hanya dia yang meminta nomor ku."
__ADS_1
"Baiklah, kalau dia sudah menghubungi mu jangan lupa beritahu aku." Cih, dasar kepo???
Dulu pernah sebelum aku mengenal Adam, dia belum masuk ke sekolah kami. Aku juga pernah bertemu lelaki dan bertukar nomor telepon. Bagiku sangat tidak masalah, jika itu hanya berteman. Tapi nyatanya aku memang hanya berteman, tapi Wahid dan Munah selalu mengejekku, membuatku malah semakin malas dan lebih memilih memblokir nomornya, agar tidak lagi bisa menghubungi ku.
"Nara, cie akhirnya bakal punya pacar." Kata-kata itu terngiang, aku bahkan merinding jika mengingatnya. Pacaran? Tidaklah, aku takut. Dan sepertinya aku juga akan melakukan hal yang sama pada lelaki tadi malam yang meminta nomorku. Jika mereka terus mengejekku. Padahal, aku tidak sama sekali terpikir kesana. Masih harus mengurusnya nanti ketika dia lahir ke dunia. Aku mengelus perutku sambil tersenyum.
"Hei, kau beneran hamil ya? Kita sudah sampai, tapi kenapa kau malah asik mengelus perutmu?" Aku langsung bangun, melihat ke sekeliling. Benar ini sudah ada di apartemenku.
"Kenapa kau tidak bilang!" Aku membuka pintu dan turun. Meminta Munah untuk memarkirkan mobil, dan aku berjalan lebih dulu menuju lift yang akan membawa ku ke lantai dimana apartemen ku berada.
"Akhir-akhir ini kau benar-benar sangat aneh." Aku berpura-pura tidak mendengar dan berjalan lurus.
Saat sampai di apartemen, aku terkejut sudah ada Adam berdiri di depan pintu apartemen. Mau apa dia? Kenapa tidak telepon aku dulu?
"Adam?" Adam menoleh.
"Bukannya kau bilang Munah menginap disini? Kenapa malah tidak ada orang."
"Kau saja tidak mau telepon aku dulu." Aku segera membuka pintu. "Tadi kita lagi keluar, mau kerumah ibu. Cuma karena ibu tidak ada, jadi balik lagi."
"Kenapa tidak menunggu sampai ibumu pulang?"
"Untuk apa? Kalaupun menunggu, bukankah kau disini juga harus menunggu?" Aku ikut duduk di sofa, membiarkan pintu apartemen tidak terkunci sebentar lagi juga Munah akan masuk.
"Iya sih."
"Wahid kenapa tidak ikut?"
"Sebentar lagi juga akan menyusul." Aku diam, dan menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Adam, kau disini? Bukannya hari ini Elena ulang tahun ya?" Aku langsung menatap Adam. Apa maksudnya? Raut wajah Adam juga sangat tidak bersemangat. Seperti terlihat sedang sakit.
"Itu sebabnya, aku butuh bantuan kalian." Heh, syukurlah. Aku pikir dia putus. "Aku mau kalian bantu aku buat kejutan."
"Surprise?" Adam mengangguk. Munah sudah tersenyum penuh arti, dia pasti sudah memikirkan hal yang tidak kami pikirkan saat ini.
"Nara, kau pandai buat puisi kan? Buatkan puisi cinta untukku ya? Kau mau kan?"
"Maksudnya? Kau mau memberi kejutan hanya dengan puisi?"
"Tidak, bukan. Maksudnya biar lebih menyentuh, saat kita datang nanti tidak usah dinyanyikan lagu ulang tahun. Tapi pakai puisi saja."
"Menarik sih." Jawab Munah. Aku masih diam.
"Wahid juga sudah membantu, dia yang membooking cafe untuk tempat pertemuan dengan Elena nanti." Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Mengambil sebatang rokok, menyesapnya. Lalu keluar dengan membawa satu lembar kertas dan pena. Mereka menatapku.
"Apa?"
"Ah tidak." Munah dan Adam saling pandang. Sebuah ide aku tuangkan. Perlahan menulis setiap baitnya, ah kenapa aku pandai membuat puisi ini, sialan! Padahal aku sendiri tidak tau tentang cinta. Sepanjang menulis kata-kata manis hatiku terus menggerutu. Jadi tidak kebayang kalau saat ini aku berada di posisi Elena. Apa aku akan merasa sangat bahagia? Seumur-umur aku belum pernah merasakannya.
"Katanya tidak tau cinta, tidak mau kenal cinta! Lalu kenapa bisa membuat puisi ini? Haha." Munah sampai memegang perutnya, mungkin terasa kram karena terus tertawa.
"Aku juga sama, sama herannya denganmu Munah." Adam garuk-garuk kepala.
"Apa ini akibat pertemuan tadi malam?"
"Pertemuan tadi malam? Lelaki yang ada di photo itu ya?" Munah mengangguk, mereka bergosip bukan di belakang tapi langsung terang-terangan di hadapan orangnya.
"Tapi aku setuju sih, dia tampan. Hampir mirip dengan Oppa Korea. Kalau dilihat sekilas gayanya juga sama sepertimu Dam."
"Benarkah?" Munah mengangguk.
"Aku sempat melihatnya saat memilih pakaian. Ternyata malah dia berkenalan dengan Kinara."
Adam tersenyum, lalu menoleh ke arahku.
"Apa dia lebih tampan dariku?" Bertanya kepada Munah atau aku? Kenapa malah Adam menatapku tanpa berkedip, sambil tersenyum pula.
"Menurutku sih lebih tampan lelaki itu." Ucap Munah dengan sangat amat jujur bila di lihat dari cara berbicaranya.
"Kalian ini kenapa sih? Lagian itu hanya pertemuan singkat. Sekarang yang aku tanya jadi atau tidak untuk kasih surprise ke Elena?"
"Heh iya-iya. Jadi mau kapan Dam?"
"Sebentar lagi, mau nunggu Wahid datang." Aku dan Munah mengangguk.
Keadaan sempat hening. Sampai Munah bilang mau ke kamar mandi. Aku diam dan Adam juga diam, hanya memainkan ponsel. Eh aku jadi teringat juga lelaki tadi malam, kenapa dia tidak menghubungi ku ya? Lalu untuk apa dia meminta nomor ponselku? Aneh.
"Kau sedang menunggu lelaki itu menelpon mu ya? Haha." Adam tertawa lagi.
"Iya." Dia berhenti tertawa, wajahnya langsung kaku.
"Sebaiknya kau bersiap sekarang. Begitu Wahid sampai kita langsung pergi."
"Bersiap untuk apa? Aku juga sudah memakai pakaian kan?" Adam terdiam.
"Wahid telepon, sebentar ya." Aku mengangguk, yang membuatku menjadi aneh. Kenapa setiap menerima telepon harus permisi dulu denganku? Harus bilang dulu. Ya harusnya tinggal angkat aja.
"Wahid sudah ada diluar. Kita langsung pergi saja." Kebetulan Munah juga sudah keluar dari kamar mandi.
"Kau lihat penampilan ku, sudah belum." Saat berjalan keluar bisa-bisanya Munah meminta pendapat padaku.
"Memangnya kenapa sih! Yang mau buat surprise kan Adam."
"Iya aku tau, tapikan harus lebih cantik kita dong! Apa lagi kita kakak kelas." Heh, aku menghembuskan nafas. Bisa-bisanya berpikir sejauh itu. "Lagian ya, siapa tau aku bertemu lelaki tampan disana. Kan bisa sepertimu diminta nomor telepon." Aku geleng-geleng dan mempercepat langkahku. Meninggalkan Munah dan berjalan di samping Adam.
***
__ADS_1
Suasananya enak, cafe tapi terlihat asri. Cafe yang terletak dipinggiran danau. Aku dan mereka bisa melihat dengan jelas bahwa sudah ada Elena yang duduk sendirian, di tempat yang sudah di pesan oleh Adam. Munah mulai merancang, mengatur sedemikian rupa bagaimana nanti jalan ceritanya. Sementara aku, aku hanya bertugas sebagai pengawal saja. Mengajari Adam cara membaca puisinya secara benar. Kurasa orang yang sudah menikah tidak akan serepot ini jika memberi kejutan kepada pasangannya. Kenapa malah anak muda seperti kami yang terlalu heboh ya?
"Kau baca ketika sudah duduk. Kalau tidak, bukan hanya kau saja yang malu. Tapi kita semua." Aku tertawa kecil mendengar penuturan Wahid. Memang benar kan, cafe juga sedang ramai. Walau tempat yang dipesan Adam sudah di pastikan kosong dari pengunjung lain.
"Ayo." Adam berjalan lebih dulu, berusaha menghafal puisi di luar kepala. Aku dan Munah berjalan di paling belakang. Membawa kado yang entah apa isinya. Itu Wahid yang membelinya tadi. Dan Adam, dia membawa cake ulangtahun yang sudah di pesan khusus di toko roti. Dan yang aku dengar, cake itu di pesan dari toko roti milik orang tua Elena sendiri.
"Hei, selamat ulang tahun." Kami bertepuk tangan, lalu ikut mengucapakan setelah Adam. Elena langsung berdiri, menatap wajah kami satu-persatu. Matanya mulai menganak sungai, aku bisa lihat itu. Lalu Elena tersenyum dan memeluk Adam. Aku langsung membuang pandangan, kenapa aku merasa sakit? Iri? Atau apa! Ah tidak, tidak boleh.
Adam tidak bisa membalas pelukan Elena, karena sedang membawa cake di tangannya. Aku tersenyum ketika Elena menatapku.
"Kak Nara, terima kasih ya." Aku membalas pelukannya. Dan bergilir ke arah Munah, terakhir Wahid.
"Oh jangan." Adam menariknya agar tidak berpelukan dengan Wahid.
"Ya ampun, semua juga dipeluk Dam." Aku lebih fokus melihat pemandangan disekitar danau. Dari pada harus menyaksikan kisah cinta ayah dari anakku. Gila ya, sandiwara ku sepertinya bagus sekali. Bolehkah aku meminta penghargaan? Aku bahkan tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Heh, berdamai dengan situasi memang sangat tidak mudah. Beginikan, selalu menggunakan perasaan. Bukan tentang perasaanku kepada Adam. Tapi, setiap kali aku merajut hubungan baik dengan Adam, aku malah semakin merasa kacau sendiri. Berpura-pura tersenyum, berpura-pura tidak tau apa-apa. Melupakan kejadian malam itu, sebenarnya ini semua sungguh menyiksaku.
"Potong dong kuenya." Mereka semua masih tengah asik ber-selfie. Munah dengan Wahid, dan Adam dengan Elena. Aku beranjak dari tempat ku berdiri. Menyandarkan tubuhku di salah satu tiang penyanggah cafe. Melihat danau yang airnya hijau, aku menunduk. Mengarahkan pandanganku ke ikan-ikan kecil. Aku lebih nyaman melihat mereka. Entah kenapa, aku lebih suka hal yang tidak banyak orang tau ataupun sukai. Aku juga malah lebih senang melakukan hal yang belum pernah orang lain coba. Apa aku memiliki keistimewaan? Seperti beberapa orang yang memuji ku?
sepertinya tidak, aku hanya perempuan bodoh yang tidak bisa menjaga kesucian ku.
"Siapa ini?" Aku melihat nomor baru yang masuk, hanya mengirimkan pesan dengan tanda smile senyum.
"Siapa?" Aku membalasnya.
"Satria." Sama, masih dengan diakhiri smile tersenyum.
"Oh iya iya."
Dan, aku sendiri merasa tidak kesepian diantara mereka semua. Aku berbalas pesan dengan Satria. Tersenyum sendiri, tapi aku tidak pernah menggunakan perasaanku. Hanya teman, ya aku mengatasnamakan itu.
"Nara, Kau tidak ingin pesan makanan?" Aku kaget, saat Munah menepuk pundakku.
"Eh, tidak usah aku kenyang." Munah menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau sedang chatting dengan laki-laki itu ya?" Aku tersenyum, lalu sengaja menabrak bahu Munah. Aku tertawa puas saat dia mulai mengumpat dengan kesal.
"Loh kak Nara mau kemana?" Wahid dan Adam juga menatapku.
"Mau ke kamar mandi, sebentar ya. Kalian makan aja duluan."
"Ke kamar mandi? Kok bawa tas?" Aku masih mendengar itu, tapi aku terus berjalan. Aku memang benar akan ke kamar mandi. Tapi untuk membersihkan wajahku. Dan, lipstik dan juga bedak ada di dalam tas, tidak mungkin kan aku tinggal.
Saat sampai di dalam kamar mandi, ini waktunya aku mengeluarkan apa yang tidak bisa aku keluarkan dihadapan orang-orang. Air mata, ya aku menangis tanpa suara, maka dari itu aku harus membawa foundation kesini, jadi bisa menutupi wajahku yang lusuh. Aku meremas perutku sendiri. Memukulnya dengan sangat kuat. Antara sadar atau tidak, tapi sudah beberapa hari aku tidak mendengar nasehat dari bi Gina malah banyak setan semakin mendekat. Selalu menghantuiku, menyalahkan semuanya kepada janin yang sedang aku kandung. Ya Tuhan, aku tidak tau harus apa. Aku tidak bisa membayangkan, kalau suatu saat anakku bertanya pada ayahnya. Apa aku egois? Memikirkan diriku sendiri yang tidak ingin menikah?
Sudah setengah jam lamanya aku berada di dalam kamar mandi. Dan selama itu, aku pergunakan waktu untuk menangis. Kali ini, dan seterusnya aku tidak bisa menangis di hadapan Munah ataupun Wahid. Mereka akan bertanya nantinya. Masalah apa yang sedang aku hadapi. Aku mencuci muka, setelah merasa puas dan lega. Lalu mengolesi foundation. Tak lupa lipstik. Selesai, aku langsung keluar kamar mandi.
"Ibu?" Ponselku berdering. Aku urungkan lagi niatku untuk keluar. Kembali menutup, dan duduk di atas wall in closed.
"Iya Bu?" Suaraku agak sengau, mungkin karena masih tersisa cairan bening yang menyumbat hidungku sehabis menangis.
"Nara, tadi kau datang kesini? Maaf ya, ibu kira kau tidak jadi datang karena tidak ada kasih kabar. Jadi ibu pergi."
"Iya. Memangnya ibu pergi kemana?"
"Ibu dan om Asraf pergi ke pantai, itu juga karena Laras yang minta. Dan ibu juga pengen." Deg. Kenapa rasanya sakit? Ibu sedang tidak pamer keakrabannya pada Laras kan?
"Aku juga ingin Bu." Aku berbicara pelan dan lirih, aku yakin ibu tidak mendengar.
"Nara?"
"Iya Bu."
"Besok saja kau kesini ya, ibu akan jemput di sekolah. Sekalian ibu juga jemput Laras."
"Terserah ibu. Ya sudah aku tutup ya Bu." Hiks, ayah??? Apa ayah juga akan pamer jika sudah memiliki anak dari tante Intan nantinya? Lalu aku ini apa? Hiks..
Tarik nafas, buang perlahan. Aku melakukannya sampai tiga kali. Lalu bersiap untuk kembali ketempat dimana teman-temanku berkumpul.
"Nara, apa kau ke kamar mandi yang ada di rumahmu?" Munah langsung menghakimi ku begitu melihat ku datang, padahal aku juga belum sempat untuk duduk. Aku tersenyum, dan mengelus lengannya. Aku tau, jika begitu Munah pasti berhenti mengoceh.
"Makanlah. Kau pasti belum makan kan?" Adam menyodorkan nasi goreng ke arahku. Aku menatapnya, lalu menatap ke arah piring.
"Tapi aku sudah kenyang. Kalian makan saja."
"Kenyang? Kau belum makan Nara!!" Heh, Munah. Dia lebih cerewet dari seorang ibu.
"Apa perlu aku suapi?" Adam!!! kenapa kau berbicara seenaknya di depan Elena??
"Tidak apa-apa kak, asalkan kakak mau makan." Dia tau kalau aku meliriknya tadi.
"Sini, aak." Semua menatapku lalu tertawa kecil, gila. Semua temanku memang gila.
"Eh tidak usah, iya aku makan." Aku mengalah, apa-apaan ini. Mana mungkin aku mau, meskipun sudah sering Adam melakukannya. Tapikan saat ini beda situasi. Ada Elena disini.
Satu suap masuk ke mulut. Aku mengunyah. Dua suap, dan perutku mual. Aku merasa sangat eneg. Ingin muntah, aku menahan di mulut. Berhenti mengunyah.
"Kau kenapa?" Wahid bertanya. Aku hanya menggeleng. Tapi kali ini sudah tidak bisa ku tahan. Aku berdiri dan memuntahkan makanannya ke danau.
Aku berharap mereka tidak akan pernah curiga padaku.
11
Kalau tidak mereka pasti akan merasa jijik.
"Kau kenapa? Nara?" Huek, tidak ada apapun yang keluar. Tapi perutku tetap saja mual. Aku tau, ini pasti gejala ngidam dari orang hamil. Aku tak menghiraukan Adam yang terus bertanya padaku. Dia berdiri di sampingku dan memijat leherku. Aku langsung menyambar tas dan pergi dari hadapan mereka. Berlari kecil menuju mobil. Sudah, aku tidak tahan jika terus begini.
Bersambung..
__ADS_1