
Malam yang tenang, bersamaan dengan kedipan lampu yang menghias disetiap sudut pagar. Aku yang duduk dengan melipat satu kaki, menaikannya seolah caraku ini lebih terlihat elegan. Aku duduk masih sendiri, menunggu kedatangan seseorang yang akan aku mintai informasi dan penjelasan. Berkali-kali kulihat jam ditangan, sudah 20 menit berlalu begitu saja. Minuman ku juga sudah berembun membasahi meja. Tetesan airnya mengalir diluar gelas.
Ku tatap danau yang gelap, danau dengan air indah seperti tidak akan terlihat jika malam hari. Aku sengaja memilih tempat ini, Adam yang memperkenalkan padaku waktu itu. Ketika dia masih menjalin hubungan dengan Elena. Dan tempat yang paling pojok lebih cocok untukku saat ini. Menutupi mata sembab ku dari orang-orang, foundation tidak cukup membantu ternyata. Aku terus menangis saat tau kalau ini ada hubungannya dengan ayah. Masalah yang aku hadapi sekarang, adalah perbuatan ayah.
"Kau yakin dia akan datang?" Aku melihat jam lagi, lalu mengangguk. Adam, dia ikut denganku hanya saja duduk agak jauh dariku. Aku membutuhkannya untuk menjelaskan beberapa bukti yang dia dapatkan melalui sistem hacker semampunya.
"Baiklah aku akan kembali kesana." Sebelum pergi, Adam menyempatkan mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Benar-benar hal yang jarang dilakukan anak seusianya. Sifat dewasa yang dia miliki sangat membuatku nyaman. Hanya saja bagiku Adam belum pantas untuk dipanggil ayah.
Wanita cantik itu sudah datang, bersamaan langkah kaki yang terdengar di telingaku. Aku menyambutnya dengan senyuman, dia istri ayahku.
"Maaf sayang, Tante harus mempunyai alasan yang jelas untuk keluar rumah." Tau saja jika aku mulai bosan menunggunya.
Dia menarik kursi dan ikut duduk.
"Minumannya sudah tidak dingin. Tante pesan saja lagi." Dia menggeleng, menghargai apa yang sudah aku pesankan dengan meminumnya beberapa teguk, walau pembicaraan belum dimulai.
"Baiklah Nara, katakan apa yang ingin kau katakan." Waktu berharga saat ini, tidak akan aku sia-siakan.
"Tante, kenapa ayah tega berbuat ini padaku?" Dia menatapku tanpa berkedip.
"Apa ini penyebab dari sembabnya matamu?" Aku mengangguk saja karena itu memang benar. Jika siang hari tadi aku tidak sadar kalau bermimpi dan menangis hingga wajahku pun terlihat sembab. Tapi setelahnya aku sadar dalam keadaan menangis.
"Ayah melakukan sesuatu hal yang memalukan padaku. Hingga aku di skors dari sekolah Tante. Meminta bodyguardnya mengikuti aku dan mengambil beberapa photoku. Lalu mempostingnya menggunakan aku fake. Guru tidak bisa menerima penjelasan begitu saja. Hingga akhirnya mengambil keputusan yang membuatku harus menanggung sendirian."
"Nara?" Suara sangat lirih terdengar, dia yang mendengar saja sudah berkaca-kaca matanya. Bagaimana denganku yang statusnya adalah anak kandung. "Nara, maafkan ayahmu." Aku tersenyum kecut. Bahkan aku dan ayah saja belum berdamai meskipun sudah berbicara layaknya kedua manusia. Tapi, malah ayah melakukan hal ini. Membuatku tidak mau mengakui bahwa dia ayahku.
Seharusnya ayah menjadi cinta pertama anak perempuannya. Tapi ayahku berbeda, dia malah menjadi sumber kebencian dari anak perempuannya.
"Jadi Tante harus melakukan apa Nara? Katakanlah?"
"Bisakah Tante bantu aku meminta penjelasan kepada ayah?" Tante Intan mengangguk, dia meneguk lagi minumannya hingga habis. Aku yakin tenggorokannya terasa kering sekarang setelah mendengar apa yang aku katakan.
"Sebaiknya kau harus berjumpa dengan ayahmu sekarang. Dia tidak sedang sibuk." Aku masih berpikir, bagaimana Adam nanti? Apa aku harus membawanya saja? Lagian juga diakan anak dari sahabatnya.
"Sebentar Tante." Aku melangkah pergi mendekati meja Adam, diikuti tatapan dari Tante intan tentunya. Aku yakin jika dia pasti sedang bertanya dalam hati, tentang siapa lelaki yang berbicara padaku sekarang.
"Kau yakin akan ikut?" Jujur, sebenarnya ketakutan ku akan berkurang dengan adanya Adam disamping ku.
Dia menggenggam tanganku, dengan posisi aku berdiri dihadapannya.
"Kau percayalah, ayahmu tidak akan marah jika melihatku datang bersamamu."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Kau tidak ingat? Atau memang kau pura-pura lupa? Jika aku adalah lelaki yang dijodohkan padamu sedari kecil." Aku langsung memukul bahunya, Adam malah terkikik geli. Lalu berdiri dan menarikku, berjalan kembali mendekat ke arah mejaku dimana Tante Intan tengah duduk.
"Nara, siapa dia?" Pertanyaan yang aku tunggu.
"Tante tidak mengenalnya, tapi aku yakin ayah pasti kenal dengannya." Tante Intan tersenyum, menyambar tas dan memimpin jalan. Tau saja jika aku sudah setuju akan pergi kerumah ayah sekarang.
Aku pergi bersama Adam, Tante Intan pergi bersama supir. Mana mungkin ayah mengijinkan istri cantiknya pergi sendirian membawa mobil, apa lagi sekarang malam hari.
Ketika dalam perjalanan, Adam sesekali menoleh ke arahku, meski aku sedang menatap ke arah jalanan. Aku tau jika Adam sedang memperhatikan ku. Kenapa semenjak Adam menyatakan perasaannya aku malah lebih canggung, setiap perlakuan yang diberikan untukku aku selalu menganggapnya peduli karena rasa. Aku juga sebenarnya malu, pernah mengatakan soal rasa suka yang dulu sempat aku punya untuk seorang Iam. Meskipun rasa itu masih tersimpan sedikit di hati ini. Tapi tidak mungkin aku mengatakannya kan, sementara orang itu adalah Adam. Temanku, sekaligus ayah dari anakku.
"Sampai kapan kau akan berbicara dengan hatimu sendiri?" Deg. Dia tau kan? Aku menoleh ke arahnya lagi. Lalu membuang pandangan saat mata kami bertemu tatap.
"Jika umurku panjang, menikahlah denganku. Hanya denganku, tapi jika tidak maka menikahlah dengan orang yang aku pilih."
"Kenapa kau mengatur soal siapa yang akan menjadi jodohku? Eh tidak! Maksudnya bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin menikah!!"
"Wanita memang memiliki gengsi yang tinggi." Gumamnya, ah aku bisa mendengar itu? Sialan jadi dia mengataiku sekarang ya!
"Nara?"
"Hem." Menoleh lagi ke arahnya, tapi hanya sekilas aku lakukan.
"Coba kau bayangkan, jika aku memakai jas dan berdiri kokoh menjadi pimpinan diantara banyaknya karyawan." Dan aku benar-benar membayangkan hal itu. "Bagaimana, apa aku terlihat tampan?"
"Iya." Eh, aku langsung menatap ke arah jendela, lebih tepatnya menyembunyikan rasa malu. Dan sekali lagi, kebodohan ku yang bisa-bisanya mengikuti sarannya untuk membayangkan hal ini. Gila! Apa aku benar-benar sudah termakan oleh sumpah? Aku mencintai Adam! Semudah inikah jatuh cinta?
"Adam?" Kini giliran ku yang akan bertanya padanya.
"Hem." Sialan! Dia mengikuti jawabanku ketika namanya disebut.
"Apa yang kau rasakan ketika berpacaran dengan Elena? Maksudnya, emm apa hatimu berdebar jika dekat dengannya?"
"Apa saat ini kau merasakan hal itu?" Aku mengangguk sebagai jawaban saat Adam menoleh sekilas.
"Haha." Kenapa? Kenapa dia tertawa!! "Kau bertanya soal itu karena kau merasakannya?" Aku diam. "Dan berdebar saat kau ada disamping ku?" Kulihat Adam geleng-geleng kepala lalu melanjutkan tawanya lagi. Hingga mobil berhenti tepat didepan gerbang tinggi rumah ayah. Rumah megah yang memiliki banyak pelayan dan penjaga tetapi hanya memiliki dua tuan rumah didalamnya.
"Kau benar-benar sudah membuka hati ternyata." Ucapnya lagi saat aku akan turun dari mobil. Perasaan aneh, itu memang yang sering aku rasakan akhir-akhir ini.
Aku lebih memilih diam tidak menjawab, dan langsung turun saat Tante Intan sudah menungguku tidak jauh dari mobil Adam.
"Apa temanmu akan ikut masuk?"
"Iya Tante, bukti ada ditangannya." Jawabku dan menunggu Adam yang turun membawa laptop.
Tante Intan mengangguk, dia tetap menunggu. Dan akan masuk berbarengan denganku dan Adam. Andai saja hati ibu selembut Tante Intan. Mungkin dalam hitungan hari aku sudah luluh seperti ini. Tidak peduli jika luka masa kecil selalu menghantuiku. Setidaknya merasa menyesal sedikit saja!
__ADS_1
Kami sudah menginjakkan kaki di dalam rumah megah milik ayah. Yang jika dilihat, rumah milik Adam juga seperti ini. Pelayan ataupun para penjaga rumah serempak menundukkan kepalanya saat kami melangkah masuk ke dalam rumah. Jika dulu sewaktu kecil aku belum tau tentang itu, maka sekarang aku tau kalau itu adalah bentuk penghormatan mereka kepada tuannya.
"Kalian tunggu disini, biar Tante yang panggil ayah." Aku mengangguk, Adam malah menilik setiap sudut dirumah ayah. Matanya yang liar kesana kemari, bahkan menatap satu persatu pelayan dirumah ini. Aku memukul lengannya, setidaknya jangan terlalu mencolok untuk menandai orang lain.
"Kenapa?"
"Kenapa kau melihat mereka satu-persatu?" Aku berbicara pelan agar tidak terdengar.
"Aku hanya ingin tau, yang mana orangnya." Aku mengerti maksudnya, pasti Adam tengah mencari orang yang sudah mengambil dan mengunggah photo itu diam-diam.
Derap langkah kaki dikeadaan hening jelas terdengar, sayup-sayup suara Tante Intan dan ayah tengah berbincang. Hanya saja aku tidak mendengar mereka tengah membahas apa.
"Jangan emosi, bicaralah dengan lembut dia adalah ayahmu." Tangan Adam menggenggam erat tanganku, setelah ayah duduk dihadapan ku, Adam langsung melepas tangannya.
"Nara, ada apa? Kenapa kau datang malam-malam."
"Tolong siapkan minum." Tante Intan meminta pelayan untuk melaksanakan tugasnya.
Deg. Jantungku berdebar kencang, bukan karena didekat Adam. Tapi karena emosiku sudah bergejolak saat melihat wajah ayah. Tapi aku menetralkan itu semua, menarik nafas pelan. Mengikuti saran Adam agar tidak terpancing emosi.
"Apakah ayah mengenal orang ini?" Aku menyodorkan laptop kepada ayah. Lalu dia mengangguk. Benar! Dugaan ku tidak salah, memang ayah yang melakukannya kan!
"Kenapa dengannya?" Deg. Dia bertanya Kenapa, seharunya sudah sadar saat aku menunjukan photo yang tidak asing baginya.
"Kinara, katakanlah sayang." Aku mengangguk mendengar kata-kata Tante Intan yang lembut.
"Dia yang sudah mengambil photoku diam-diam, dia yang sudah mengunggahnya sehingga satu sekolah tau. Termasuk para guru beserta alumni sekolah. Bukankah dia bekerja kepada ayah?" Ayah mengangguk lagi. Tanganku sudah mengepal geram.
"Apa ayah yang sengaja melakukan ini padaku? Ayah memintanya melakukannya kan?" Nafas sudah mulai terengah-engah.
"Nara minumlah dulu?" Tante Intan memintaku setelah pelayan meletakkan minuman ke atas meja.
Baiklah, aku akan meneguknya hingga habis agar emosiku tidak meledak saat ayah menjawabnya.
"Tidak." Tidak katanya! Apa itu!
"Dia memang bekerja pada ayah. Menjadi orang suruhan ayah. Tapi tidak sekarang. Dia sudah ayah pecat." Apa?? Aku dan Adam saling pandang.
"Apa kau sudah memastikan bahwa dia orangnya?"
"Iya paman." Adam menjawab dengan sangat tegas. Ah kenapa aku jadi kagum begini.
"Kau?" Menilik wajah Adam, ayah menunjuk wajah Adam sambil berpikir.
"Anak dari mendiang Hendrawan." Ayah langsung berdiri, berjalan dan memeluk Adam dengan sangat erat.
"Calon menantuku." Ucap ayah lirih, jelas aku mendengarnya karena aku duduk tidak jauh dari Adam. Ada yang bergetar sekarang, Dag Dig Dug suara jantungku. Sekali bertemu sudah berani menyatakan suara hatinya!
"Apa kau masih sakit?" Aku langsung menoleh, sakit? Adam tersenyum dan menggeleng pelan. Aku berdehem lagi, harus kembali ke topik awal! Inikan masalah ku.
"Jadi jika ayah tidak menyuruhnya, untuk apa dia melakukan itu?"
"Bisa jadi karena dendam dengan ayah." Lagi-lagi, yang mencoba menghancurkan ayah hanya serangga kecil.
"Ayah memecatnya karena dia tidak memiliki rasa hormat, tidak bisa diandalkan."
"Tunggu sebentar." Adam sedang melihat lagi beberapa photo yang pernah orang itu unggah. Lalu memperlihatkannya padaku. Aku sempat mengerutkan keningku, saat melihat wajah yang tidak begitu jelas disana. Bagaikan seorang ayah dan anak yang tengah berphoto, rangkulan tangannya menandakan bahwa mereka memiliki hubungan. Aku baru sadar ketika Adam menyebut satu nama. Satu nama yang membuatku syok menderanya.
"Elena?" Adam mengangguk.
"Siapa Elena?" Ayah bertanya, begitu juga dengan Tante Intan, dia sangat tampak antusias ingin melihat, lebih ke penasaran sih sebenarnya.
Aku dan Adam sepakat, untuk tidak memberitahu kepada ayah siapa Elena yang sudah kami sebutkan namanya. Aku memberi kode kepada Adam melalui bahasa mata, syukurnya dia paham maksudnya.
Keadaan sempat hening beberapa saat, ketika aku dan Adam kembali mencari akun lain yang bisa menjadi bukti kuat untuk menanyakan hal ini nanti dengan Elena. Ayah dan Tante Intan juga diam hanya melihat kami berdua berkutat dengan laptop.
Aku merasa sangat berdosa, sudah menuduh ayah. Berspekulasi sendiri tentang masalah ini. Sempat mengumpat dalam hati. Bahkan rela membuang air mata satu harian hanya karena ada rasa dendam. Membencinya dengan seluruh jiwaku jika benar ayah melakukannya.
"Aw." Aku memegang perutku yang tiba-tiba terasa sakit. Mereka semua menoleh ke arahku.
"Nara kau sakit?" Tante Intan nampak sangat khawatir, dia langsung berpindah duduk didekat ku. Saat tangannya akan mengelus perutku, aku langsung memegangnya.
"Eh aku tidak apa-apa Tante." Tersenyum kecut, aku menoleh kearah Adam yang kini fokus menatap perutku dengan posisinya yang tengah memangku laptop. Tidak, kenapa malah semua melihatku seakan-akan tengah mengintimidasi?
"Aku tidak apa-apa. Hanya ingin buang angin." Mereka tertawa dan mengelus dada. Berpikir mungkin jika aku sakit? Ya Tuhan, hanya perutku saja yang memang terasa sedikit sakit, sedikit!
"Ayah." Aku memanggilnya dengan lembut. "Maaf sudah menuduhmu." Ayah mengangguk dan tersenyum, dia menepuk ruang kosong yang semula adalah tempat dimana Tante Intan duduk. Memintaku untuk mendekat dengannya. Aku melangkah menuruti kemauan ayah. Sebagai wujud rasa bersalahku padanya.
"Sudah ayah katakan, ayah ingin mendengar masalah yang kau hadapi dari mulutmu sendiri. Bukan dari orang lain. Sampai kapan kau akan menganggap ayah sebagai orang yang selalu kau andalkan?" Pernyataan ayah sungguh menjebakku saat ini. Sungguh, ayah pintar sekali memanfaatkan situasi. Tau saja jika aku merasa bersalah, jadi akan menyetujui perkataannya.
"Jangan paksa Nara." Kata-kata itu, menjadi penyelamat saat ini. Aku akan berterimakasih kepada Tante Intan. Dia baik, meskipun aku belum bisa memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Baiklah, ayah memaafkan mu." Ayah memelukku, perlahan tanganku juga bergerak membalas pelukannya.
"Bisakah ayah meminta satu permintaan padamu?" Aku mengangguk, selama itu bisa aku lakukan, maka aku akan menyanggupinya.
"Datanglah kerumah ibumu. Lihatlah keadaannya." Deg. Aku menunduk. "Ibumu menyalakan ayah dan juga Tante Intan saat ini. Dia tau jika kau sering datang kerumah ayah. Jadi menyalahkan ayah agar kau tidak datang untuk melihatnya." Aku menggeleng pelan, kenapa pikiran ibu bisa sejauh itu.
"Aku-"
__ADS_1
"Nara, dia tetap ibumu sayang." Tante.... Aku ingin memeluknya sekarang.
"Kau harus tau, bagaimanapun dialah yang berjuang melahirkan mu dulu. Bertaruh nyawa, dia juga akan merasa sakit jika kau terus menjauhinya."
Aku melirik ke arah Adam. Dia mengangguk pelan, itu artinya aku harus mau menuruti kemauan ayah.
"Tapi ibu tidak menyayangiku." Jawabku.
"Dari mana kau tau?" Ayah! Pertanyaan macam apa ini. Seharusnya ayah tidak udah membahas soal ibu dihadapan Tante Intan.
"Ayah juga menjadi saksi selama ini kan?" Ayah langsung terdiam begitu mendengarku mengatakan hal yang ujungnya akan tetap menyalahkan dirinya juga.
Heh, aku menghela nafas. Aku kembali merasakan sesak diruangan besar ini. Anak mana yang tidak ingin dekat dengan ibunya? Anak mana yang rela jauh dengan orang tuanya! Aku terkadang memikirkan hal itu, meskipun ibu sering memaksa ku untuk pulang kerumah dan tinggal lagi dengannya. Tapi aku tidak bisa menerima orang asing yang berada disana. Begitu juga dengan ayah, meskipun aku mengenal Tante Intan sosok yang lembut dan baik, tapi aku juga masih tetap menganggapnya sebagai orang asing. Mereka benar-benar tidak paham apa maksudku. Bukankah aku pergi dari rumah adalah bentuk protesku! Tapi tetap saja tidak mengerti.
Baru beberapa bulan berpisah sudah menikah lagi, jika benar diantara mereka tidak ada cinta seharusnya berikan aku sedikit perhatian. Sebagai bentuk kasih sayang mereka kepada anak. Tapi setelah berpisah, ayah pergi dan ibu malah mengabaikan aku. Sibuk dengan urusannya sendiri, tau-tau menikah lagi.
"Ayah, aku hanya butuh waktu." Ayah mengelus punggungku dan mengangguk.
"Jadi kau tidak bisa mengabulkannya?"
"Itu akan aku pikirkan."
"Baiklah." Ayah menghela nafas berat.
"Ayah akan membantumu membereskan masalah ini. Menghapus seluruh postingan itu di sosial media. Ayah akan meminta bantuan orang yang bisa melakukannya. Tapi, soal kau diskors dari sekolah, ayah tidak bisa melakukannya. Kau harus menerima itu."
"Iya yah."
"Lain kali datanglah ketika memiliki masalah, bicarakan langsung kepada ayah." Aku mengangguk.
Aku dan Adam pamit untuk pulang. Ayah dan Tante Intan ikut mengantar hingga di depan rumah. Aku terngiang-ngiang perkataan ayah yang meminta Adam untuk menjagaku, sebelum aku dan Adam benar-benar pergi melangkah keluar rumah ayah.
"Kau dengarkan? Kau harus menurut denganku!" Cih, aku mendengus. Dia jadi besar kepala sekarang hanya karena ayah mengatakan hal itu padanya.
"Nara, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Tapi kau harus menjawabnya dengan jujur."
"Katakanlah?" Adam mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Jantungku berdebar saat menunggu pertanyaan yang akan dia lontarkan.
"Aku merasa ada yang hidup didalam perutmu saat ini." Deg. Benarkan! Aku sudah menduga jika hal itu yang akan dipertanyakan. Dari tatapan mata Adam tadi, dia melihat perutku tanpa berkedip.
"Jika seorang ibu memiliki firasat yang kuat, apakah seorang ayah tidak bisa?" Jantungku oh jantungku, dia hampir melompat dari tempatnya sekarang.
Aku tidak menjawabnya, aku memilih diam. Adam memintaku untuk jujur, dan aku tidak keberatan awalnya. Jika aku berbohong sekarang, bukankah itu artinya aku sedang ingkar janji.
"Kita tunggu saja waktu yang tepat." Aku tau, jika jawabanku ini tidak sama sekali nyambung dengan pertanyaan yang Adam berikan. Seharusnya aku hanya bisa menjawab iya atau tidak.
"Kau begitu sanggup menutupinya dariku." Suara Adam, kenapa bergetar seperti tengah menahan tangis saat ini?
"Kau begitu sanggup!" Dia mengulang kalimat yang sama. "Kau membuatku hidup dengan tidak tenang. Rasa bersalah selalu menghantuiku."
"Adam!" Aku membentaknya. "Sudah kukatakan jangan pernah bahas masalah ini lagi!"
Keadaan langsung hening seketika, hingga mobil sampai di apartemen. Aku menyodorkan tissue sebelum turun. Karena aku bisa mendengar suara isakkan pelan. Hanya saja aku tidak sanggup bila harus melihatnya Menangis. Meski ku tau, saat berada didalam perjalanan Adam sesekali menghapus air matanya yang jatuh membasahi wajah.
"Terimakasih untuk malam ini. Kau sudah membantuku." Sebelum aku turun dari mobil.
"Tunggu." Adam menarik tanganku, aku terdiam. Adam buru-buru membuka stell beltnya.
Dia memelukku, lalu perlahan melepaskan tangannya, pelukan yang awalnya terasa erat kini sudah melonggar. Dia menyentuh wajahku dengan kedua tangan.
"Biarkan aku menyentuhnya." Apa? Kenapa tubuhku tidak merespon, melakukan penolakan! Tidak, Adam sudah mengelus lembut perutku. Dia tersenyum, disela-sela wajahnya yang tampak sendu.
"Sebentar saja." Aku terdiam, hingga sadar aku langsung menepis tangannya menjauhkannya dari seluruh bagian tubuhku.
"Sudah kukatakan aku tidak hamil!" Aku membuka pintu dan langsung turun. Membanting dengan kerasnya pintu mobil. Berjalan dengan cepat menaiki apartemen.
"Aku sudah mengatakannya padahal, tapi kenapa dia masih saja curiga terhadapku." Aku menggerutu pelan saat menunggu pintu lift terbuka.
Brug. Aku menabrak tubuh seseorang. Lalu mendongakkan wajah.
"Maaf aku tidak sengaja." Perlahan, tubuh itu berbalik ke arahku. Deg. Aku takut jika dia marah. Bagaimana ini?
"Nara?" Deg!!! Satria??? Aku langsung mundur membentur dinding lift.
"Kak." Lirihku. Kenapa dia ada disini? Apa dia datang untuk mencariku?
"Tenanglah, aku hanya berkunjung ke apartemen temanku." Oh syukurlah, perasan ku yang terlalu pede hampir saja membuatku malu.
"Duluan kak." Aku harus segera pergi dari sini.
"Nara tunggu!" Dia menarik tanganku.
"Aku minta maaf." Aku mengangguk saja. "Bagaimana, apa ayah dari anak yang kau kandung mau bertanggungjawab?" Wajahku langsung berubah masam.
"Tolong kak, jangan ikut campur masalahku!" Aku langsung mengibaskan tangan, mempercepat langkahku menuju pintu apartemen milikku.
"Ya Tuhan, kenapa harus bertemu dengannya lagi?" Aku menyandarkan tubuhku saat sudah menutup pintu.
Jika aku memiliki riwayat penyakit jantung pasti aku akan mati sekarang. Menghadapi berbagai macam masalah ini.
__ADS_1
Bersambung...