
Aku tidak menyangka jika akhir liburan menjadi seperti ini. Satu posisi aku senang, aku bisa bertemu Adam kembali. Tapi, ini sungguh kejadian yang sangat memalukan untukku. Ini saatnya aku harus dijadikan bahan persidangan dengan kedua keluarga sekaligus.
Munah dan Wahid juga ikut, mereka malah tidak memiliki rasa sedih sepertiku. Mereka kompak mengatakan kalau sangat senang. Sialan, kenapa aku seperti sedang dikhianati??
"Nara, ikutlah denganku sebentar." Tanpa menunggu jawabanku Windu langsung menarik tanganku begitu saja, saat turun dari mobil. Adam menatapku tanpa berkedip, tatapannya sangat tidak bisa dibaca.
"Kak, iya pelan-pelan." Ibunya Adam membiarkan saja melihat anaknya membawaku sebelum masuk kedalam rumah.
"Kak, sudah bicaralah jika kau ingin bicara." Aku melepas paksa tanganku dari cengkramannya.
"Kinara, kenapa kau tidak jujur saat aku menanyakan soal villa?"
"Kenapa? Karena kau menyembunyikan sesuatu dariku kak? Karena ada Adam disana? Memangnya kenapa jika aku bertemu dengannya? Hah? Diakan juga temanku." Windu bingung, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Aku masih bertanya, selain hal aku yang salah masuk kamar. Sebenarnya apa lagi yang mereka sembunyikan?
"Kak, jawab."
"Aku dan ibu sepakat untuk menutupi pertemuan itu."
"Aku bertanya kenapa, itu semua memiliki alasan."
Windu menoleh lagi kebelakang, Dan yang aku tau Adam masih berdiri disana. Memandang ku dari kejauhan, mungkin rasa penasarannya terlalu besar untuk mendengar apa yang sedang kami bicarakan.
"Itu semua permintaan Adam, dia yang meminta untuk menyembunyikan semuanya. Aku juga baru tau itu, ibu sengaja tidak mengatakannya pada siapapun." Deg. Sebenarnya apa maunya Adam? Setelah ini, aku akan meminta penjelasan darinya.
"Nara tapi aku kecewa dengan perbuatanmu ini."
"Tapi aku benar-benar salah masuk kamar kak!" Aku tau apa yang Windu pikirkan saat ini. Dia pasti sedang memandang rendah diriku. Baiklah aku akan terima itu, dengan begitu dia sendiri yang akan menolak perjodohan ini dan memilih mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dariku. Malah aku tidak perlu repot-repot membuat rencana untuk memutuskannya.
"Aku tau kau salah masuk kamar, tapi kau tidur hanya memakai!" Windu mengibaskan tangannya ke udara. Aku yang berbuat salah tapi sepertinya dia yang sangat menyesali.
"Maaf untuk itu. Semua perempuan juga akan melakukan hal yang sama denganku sewaktu tidur ketika merasa panas."
__ADS_1
"Hah?" Kenapa? Kenapa Windu kaget dengan ucapanku?
"Bukankah udara disana sangat dingin?"
"Aku mabuk!"
"Nara kau?" Dia menggeleng. "Jadi kau dengan Adam sudah?"
"Kak! Apa yang kau pikirkan?"
"Nara, bagaimana aku bisa berpikir positif saat ini. Jika kejadian yang menimpamu dulu juga sedang dalam keadaan mabuk." Dia benar. Kenapa aku sakit saat mendengarnya.
"Kak bicara denganmu tidak ada ujungnya, kau terus saja menyalahkan ku. Kau tidak bisa percaya dengan apa yang aku katakan kak." Aku melangkah pergi, tapi satu tanganku langsung dicekal olehnya.
"Aku cemburu!" Deg.
"Kak, kau gila ya? Dia adikmu." Windu menggeleng lagi. Eh kenapa ini? Kenapa dia sepertinya akan menangis??
"Aku merasa jika kau dan Adam memiliki hubungan yang lebih. Dan aku, aku hanya orang ketiga diantara kalian." Deg. Jika firasat seorang ibu tidak bisa dibohongi. Lalu bagaimana dengan firasat seorang kakak? Apa ini hanya sebuah kebetulan? Tapi kenapa yang dikatakannya saat ini benar.
Tuhan aku sungguh bingung.
"Masuk lah kak, ayah dan ibuku sudah menunggu didalam."
Entah berapa lama aku berbicara dengan Windu, yang pasti aku dikagetkan saat masuk kedalam rumah ayah. Semuanya berkumpul disini, ada ibu kandungku? Bi Gina? Mereka semua menatapku dengan tatapan kecewa. Aku tau itu, hanya bi Gina sajalah yang menyelipkan senyum tipis saat aku duduk.
Adam dan ibunya duduk bersebelahan, sementara ibuku dan bi Gina duduk tidak jauh dariku. Ayah dan ibu Intan berdiri, aku sudah siap jika harus diintrogasi sekarang. Windu, dia duduk sendirian tapi dia tidak mau menatapku. Lalu kemana dua temanku itu? Sialan, harusnya mereka jadi saksi saat ini, tapi malah menghilang. Tolong, aku butuh oksigen. Rasanya semakin sesak berada diruangan yang luas ini.
"Nara?" Suara ayah terdengar sangat dingin. Aku hanya bisa menunduk, aku tidak berani menatapnya. "Kau tau, apa yang kau lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Jika ada orang luar yang mengetahui, maka berita buruk akan kembali menghangat."
"Ayah maaf. Aku benar-benar tidak sadar dalam keadaan mengantuk."
__ADS_1
"Kau tidak ingin jujur?"
"Maaf yah, aku dalam keadaan mabuk." Hening, suasana hening. Katakan pada siapapun, aku tidak ingin berada diposisi sekarang.
"Lalu, apa yang kau lakukan dengan Adam?" Aku menggeleng.
"Aku tidak melakukan apapun, aku berani bersumpah." Ku acungkan jariku. Agar ayah bisa percaya dengan ucapanku.
"Lalu, bagaimana dengan Windu? Apa kau tetap ingin melanjutkan perjodohan ini?" Hah! Kenapa jadi Windu yang ditanya? Harusnya aku dan Adam saja.
"Windu, jawablah." Ibunya membuka suara. Tapi Adam, dia melirikku. Ah ya Tuhan, aku sangat rindu lirikan itu, tatapan itu!
Hening, Windu belum mau menjawab. Dia hanya menghela nafas dan melirik kearah aku dan Adam.
"Nara?" Bi Gina tiba-tiba saja berdiri dari duduknya. Aku mendongak kali ini, menatapnya dengan bingung.
"Tuan, nyonya maaf sekali jika saya lancang mengatakan hal ini. Tapi, hal yang harusnya satu tahun lalu saya katakan, tertunda dengan sebab Adam sakit dan kritis. Sekarang, kondisi Adam sudah jauh lebih baik, mungkin sudah saatnya saya mengatakan yang sebenarnya." Deg, tidak!!
"Bi?" Aku memanggilnya dengan lantang.
"Kinara!! Kau diamlah!!" Ayah membentakku dengan kecang. Nyaliku langsung menciut. "Bi katakanlah." Bi Gina mengangguk, tatapanku sudah tidak lagi digubris oleh bi Gina. Aku hanya butuh penguat saat ini, aku butuh genggaman tangan seseorang, bukan hanya sekedar meremas pinggiran sofa.
"Sebenarnya Adam adalah ayah dari anak yang dilahirkan Kinara." Deg. Deg. Semua menatapku, termasuk ibuku sendiri, lalu mereka beralih dengan Adam. Apa aku dan Adam sudah saatnya menjelaskan? Tentang kejadian satu tahun lalu?
"Ibu?" Adam memeluk ibunya yang saat ini sudah melemas. "Maafkan aku ibu." Ucapnya lirih. Windu berdiri dan keluar begitu saja dari ruangan. Dia pasti sangat kecewa, ketika mendengar kebenarannya. Laki-laki yang pernah dia cari, laki-laki yang telah membuatku hamil ternyata orang yang tinggal satu rumah dengannya.
"Ibu!!" Adam berteriak saat tau ibunya sudah tidak sadarkan diri. Aku bangkit dari tempatku, berjalan untuk membantu Adam.
"Masuk lah ke kamar!!" Ayah kembali membentakku. Aku seperti menjadi orang asing, siapapun tidak mau menegurku saat ini. Mereka sibuk untuk mengurus ibunya Adam. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Bukankah saat ini aku sudah cukup bahagia? Kenapa harus datang masalah yang lebih besar, sehingga banyak menyakiti hati orang lain?
"Maafkan bibi Nara. Temuilah kebahagiaanmu yang sesungguhnya setelah ini. Kau tidak perlu repot-repot lagi untuk bersandiwara." Apa yang harus aku katakan? Aku kecewa dengan kejujuran bi Gina, tapi aku juga harus berterima kasih padanya.
__ADS_1
Bersambung..