
Aku yang rempong jika sudah menginginkan makanan tetapi saat sudah bi Gina pulang. Aku sangat ingin makan mie instan yang di buat sendiri. Padahal bi Gina sudah memasakkan ku. Ku bayangkan mie instan yang pedas berada dalam mangkuk, berhiaskan telur di atasnya. Kuah merah karena cabai, aku berkali-kali menelan air liur ku. Tak sabar ingin cepat matang.
Aku menggiling cabai, lalu mengiris tomat. Saat sudah air mendidih barulah aku masukan telur. Menunggu saja, kalau hanya masak begini aku memang bisa. Tapi rasa malas itu yang tidak memiliki obat, dan kalau sudah ingin seperti ini pasti tetap aku lakukan.
"Akhirnya.." Aku membawa mangkuk berisi mie pedas ke sofa ruang depan. Berkali-kali menghirup kepulan asap, aroma cabai sangat menyeruak di hidungku. Yang biasanya aku takut pedas, tapi kali ini benar-benar ingin.
"Sudah tidak sabar ya?" Aku mengelus perutku, lalu menggulung mie dan meniupnya. Satu suapan mendarat ke dalam mulut, mengunyah dan mengunyah. Gulungan kedua, meniupnya. Saat akan memasukkan ke dalam mulut bel berbunyi. Awalnya aku tidak ingin menghiraukan, makan saja. Berpura-pura tidak mendengar. Tapi gedoran di pintu sangat mengusikku.
"Munah?" Aku kaget saat membuka pintu. Saat ini aku tengah memakai hot pant dan kaus berukuran over size. Tidak memakai korset, semoga saja tidak terlihat.
Munah menatap ku dari ujung kaki hingga ujung rambut, ada apa? Biasanya juga aku selalu seperti ini.
"Kau sendiri?" Munah menggeleng.
"Masuklah." Aku sengaja tidak mengunci pintu. "Kemana Wahid?"
"Ada, dia sedang berada di parkiran menunggu Adam sampai."
"Adam?" Aku heran, bukankah katanya dia sakit. Dan sampai sekarang juga belum masuk sekolah.
"Kau masak mie?" Aku mengangguk, jujur selera makanku hilang begitu saja, dengan kedatangan Munah kesini.
"Kau mau? Makanlah." Aku menyodorkan mie dalam mangkuk ke hadapannya. Lalu aku masuk ke dalam kamar, aku harus memakai korset sebelum Wahid dan Adam sampai.
"Wah enak sekali." Aku tersenyum saat mendengar Munah diluar menikmati mie buatan ku. Setelah selesai memakai korset, aku kembali keluar kamar. Tidak lama hanya sekitar lima menit saja.
"Kau yang buat sendiri?" Aku mengangguk. Kembali duduk dan tidak ada niatan meminta mie ku kembali. Seleranya sudah hilang bersama asap yang mengepul.
"Nara, sebaiknya kau bersiap. Karena kita akan pergi." Aku mengerutkan kening, pergi? Pergi kemana?
"Kalian saja ya, aku tidak ikut." Munah mengelap mulutnya menggunakan tissue. Sudah selesai makan ternyata, ku lirik mie sudah tandas habis tak bersisa.
"Tidak kali ini kau harus ikut, kita akan pergi nonton. Film horor kesukaanmu sudah tayang."
"Benarkah?" Aku langsung antusias mendengarnya. Jujur saja, itu film yang aku tunggu sejak lama. Beberapa bulan lalu hanya bisa melihat trailernya saja. Tapi mengingat pesan bi Gina, sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu. Heh, aku menghela nafas. Padahal aku sangat ingin.
Pintu terbuka, dan menampakkan Wahid dan juga Adam. Ada yang berbeda disini, kenapa wajah Adam sangat pucat?
"Adam? Bukankah kau sedang sakit? Jangan bilang Munah dan Wahid memaksamu keluar."
"Tidak, siapa bilang aku sakit? Bukankah kalian datang kerumah dan pelayan dirumah hanya mengatakan kalau aku sedang pergi keluar kota?" Aku terdiam, mana mungkin aku sangat tidak percaya akan hal itu. Untuk apa dia pergi keluar kota? Tidak mungkin dia memberi alasan untuk melihat ayahnya, sementara aku sudah tau semuanya dan pusara yang aku datangi waktu itu, bahkan aku masih ingat tempatnya.
"Munah sudah mengatakannya padamu kan?" Aku mengangguk saat Wahid bertanya padaku. "Kenapa kau belum bersiap? Kami sudah memesan tiketnya." Lho? Kenapa tidak menelpon ku lebih dulu sih?
"Kau tidak mau? Kami bahkan rela untuk menonton film itu lho, meskipun tidak menyukainya. Ini demi kau Nara." Kerongkongan ku terasa tercekat, tidak bisa mengeluarkan kata apapun untuk menolak ajakan mereka. Baiklah, kali ini aku mau. Mengingat pesan dokter Linda kemarin. Aku juga harus keluar apartemen agar pikiranku tidak jenuh. Ternyata menunggu dua bulan lagi itu sangat lama ya.
"Tunggu sebentar." Munah langsung bertepuk tangan karena berhasil membujukku, aku hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.
Ini yang membuatku malas, selain menutupi kehamilan aku juga tidak memiliki pakaian terlalu banyak yang bisa menutupi lekuk tubuhku. Hah, aku membuang nafas kasar, dan duduk di tepi ranjang tempat tidur. Memandang ke arah lemari pakaian yang sengaja aku buka dengan lebar. Aku terpikir sesuatu, baiknya aku gunakan saja pakaian kemarin yang aku pakai untuk bertemu dengan Satria.
Saat sudah selesai, aku hanya menguncir rambutku dengan tinggi, memakai lipstik tipis agar bibirku juga kelihatan memiliki warna. Munah tercengang menatap penampilanku. Aku tau, dia pasti akan protes.
"Kenapa?" Aku berjalan dengan santai dan duduk di sofa.
"Kau, penampilan mu malah seperti orang sakit demam." Sialan mereka malah menertawakan ku, Wahid juga wajahnya sampai memerah.
"Kau kan tau, berat badanku naik drastis semenjak ada bi Gina disini. Celana jeans ataupun pakaian lain yang aku punya, semuanya tampak sempit jika aku pakai."
"Sudahlah, mau bagaimana manapun kau tetap terlihat cantik. Ayo kita pergi sekarang?" Aku tersenyum mendengar Adam membela ku.
"Lebih cantik mana Nara denganku?" Hei, kenapa Munah bertanya begitu! Sejak kapan memiliki sifat iri begitu!
"Kalau menurutku kalian tidak ada yang cantik." Dengan santainya Wahid menjawab, membuatku bisa mengeluarkan tawa kecil.
Wahid dan Munah sudah berjalan lebih dulu, sementara aku harus mengunci pintu apartemen. Adam setia menungguku, ini kesempatan untukku bertanya.
"Sudah?" Aku mengangguk, Adam mengulurkan tangannya padaku. Aku yang memang sudah biasa tidak keberatan soal itu. Hanya saja, aku dan Adam bukan seperti teman, melainkan memiliki hubungan khusus. Ah aku segera mengusir pikiran itu dari otakku.
"Dam, tanganmu dingin sekali." Adam malah tersenyum. "Kau sakit?"
"Tidak."
"Kenapa kau tidak masuk sekolah? Dan apa yang terjadi sebenarnya ketika dirumah bi Gina?"
"Nanti saja, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu." Aku terdiam, melangkah bersama memasuki lift.
"Eh." Aku kaget saat mendengar ponselku berbunyi, sangat nyaring dari biasanya, mungkin karena sedang berada di dalam lift.
"Hallo kak?"
"Nara? Kau sedang apa?" Aku melirik ke arah Adam yang juga melirik ke arahku.
"Aku sedang berada diluar kak, mau ke bioskop nonton film."
"Oh baiklah, kalau begitu hati-hati. Nanti kalau sudah pulang jangan lupa beri kabar ya?"
"Eh iya kak." Aku kembali memasukkan ponsel ke dalam tas selempang. Dan melangkah keluar saat pintu lift sudah terbuka.
"Siapa?"
"Ha?" Aku tau kalau Adam menanyakan siapa yang menelepon ku barusan.
__ADS_1
"Itu Satria."
"Oh." Adam melangkah lebih dulu, aku tidak tau dia kenapa. Yang pasti aku yakin dia tidak mungkin cemburu, karena Adam juga tidak berhak atas itu.
"Lho, kau tidak bawa mobil?" Adam menggeleng.
"Kita naik mobil Wahid saja, malah lebih asik jika pergi satu mobil." Heh, iya benar yang dikatakan Adam. Adam membukakan pintu untukku, aku dan dia duduk dibelakang. Sementara Munah sudah duduk dengan santainya di samping Wahid.
"Sudah?" Aku dan Adam serempak mengangguk.
Mobil sudah berputar arah, siap melaju memasuki jalanan raya. Aku hanya diam, memandang pepohonan yang tampak seram jika dimalam hari. Akan terlihat jika ada sorot lampu pengendara dijalan raya. Lalu menatap ke arah langit yang penuh bintang. Berkedip seirama dan seolah tersenyum padaku. Aku juga membalasnya dengan tersenyum tipis. Adam tiba-tiba menggenggam tanganku dengan sangat erat, membuatku menoleh ke arahnya.
Dan dia tersenyum. "Kau suka bintang?" Jelas aku mengangguk, siapapun pasti menyukainya. Selain malam tampak lebih indah, dan juga itu pemandangan di langit yang nyata, bukan hanya lukisan sebuah karya.
Adam mendekat ke arahku lalu berbisik. "Apa kau juga menyukai ku?" Aku langsung kaget dan membulatkan mata. Memukul lengannya dengan keras.
"Hei, kenapa kalian malah main pukul-pukulan?" Yang berada di depan tampak protes.
"Giliran aku dan Adam saja kau protes. Lalu kau dengan Wahid setiap hari dan setiap saat." Munah tertawa, Wahid hanya meliriknya sekilas. Ah ya ampun, aku benar-benar rindu suasana ini. Aku menyesal menjauhi mereka sepertinya, dengan mengurung diri di dalam apartemen.
***
Mobil Wahid sudah berbelok, aku menatap heran karena ini bukan bioskop. Aku bahkan sangat mengenali tempat ini. Aku sudah ingin protes dan bertanya sekarang. Apa maksudnya ini!!
"Kenapa kesini? Bukankah kalian bilang akan nonton?"
"Nara, kenapa kau sangat takut sekarang jika kami mengajakmu kesini? Bukankah ini tempat yang kau cari setiap memiliki masalah?" Aku menoleh ke arah Adam. Jangan bilang dia juga ikut andil dalam hal ini, bersekongkol dengan mereka untuk membohongiku.
"Sudah masuk saja." Adam malah menarik tanganku untuk segera turun. Aku menghempaskan tangannya, dan menatapnya dengan tajam.
"Nara?" Aku diam tidak menjawab. Aku berdiri di samping mobil. Aku kecewa dengan Munah, Wahid dan Adam. Jujur, aku sangat emosi sangat ini. Walau bagaimanapun aku sangat menyayangi anak yang ada didalam kandunganku. Mereka tidak tau.
"Beri aku alasan kenapa kau marah begini Nara?" Munah memaksaku untuk menatapnya, sementara Adam dan Wahid berdiri di pintu masuk. Tidak ada tamu lain, aku yakin kalau Wahid sudah menyewanya.
"Aku, aku eh hanya tidak ingin datang lagi ke tempat ini. Karena bi Gina melarang ku, aku menganggapnya sebagai pengganti orang tuaku." Mataku memanas seketika, tahan jangan sampai jatuh meksipun nada bicaraku sudah bergetar. "Kau tau, rasanya diperhatikan kan Munah? Terakhir kali kita datang ke tempat ini, apa kau tidak ingat? Aku sakit setelah mengkonsumsi alkohol. Dan, apa? Ternyata itu berefek pada lambungku. Sehingga bi Gina melarang ku, dan memintaku fokus untuk belajar dan tetap berada di apartemen." Munah menunduk, lalu mendongakkan wajahnya dan memelukku.
"Maaf, maafkan aku ya. Tapi bukan berarti jika kita datang kesini kau harus minum. Tidak, apa pernah sebelumnya aku memaksa kau untuk minum?" Aku menggeleng, benar memang benar mereka tidak pernah meminta ataupun memaksa ku untuk minum. Malah aku sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri. Itu yang aku takutkan saat ini, selain menyakiti anak yang aku kandung, aku juga ikut merasakan sakitnya.
"Ya sudah, ayo kita masuk?" Aku menarik lengan Munah, dia bahkan kaget melihatku yang berubah pikiran secepat itu. Aku tau, pasti diantara mereka ada yang menanam kecurigaan. Baiklah, dengan begini aku bisa membuktikannya, meskipun itu tetap berbohong. Setidaknya aku bisa mengurangi pikiran buruk mereka terhadapku.
"Nara?" Adam menarik tanganku saat akan memasuki ruangan yang penuh lampu kelap-kelip. Suara musik berdentum keras. Munah dan Wahid sudah berada di dalam lebih dulu.
"Aku ingin bicara sebentar, jangan masuk dulu." Aku berhenti, dan siap mendengarkan Adam berbicara.
"Kau sedang hamilkan? Kau hamil anakku kan? Kenapa kau menutupinya?" Deg. Tidak mungkin bi Gina memberi tahu Adam kan? Tidak kan?
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini, lagian juga kita hanya melakukannya sekali, tidak sepenuhnya kau terus menuduhku hamil."
Suara dentuman musik yang memekakkan telinga, ah aku sangat rindu suasana ini. Baiklah, aku akan menikmati malam ini, untuk yang terakhir sebelum aku melahirkan.
"Woo.." Wahid sudah meloncat dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Menikmati musik dengan menggoyangkan tubuhnya.
Munah menarik tanganku, dan memintaku untuk memulai aksi yang sudah lama tidak aku tunjukkan. Dengan penampilan seperti ini? Haha aku jadi ingin tertawa, harusnya aku pergi ke rumah ibadah bukan malah ke diskotik.
Aku melihat Adam yang masuk dan duduk saja. Dia tidak ikut bersamaku, Munah dan Wahid. Hanya mengambil cemilan dan memakannya.
"Munah, aku duduk ya." Munah mengangguk, dan dia bersama Wahid sekarang.
Aku duduk di lain sofa dengan Adam. Aku memilih untuk memejamkan mata, merentangkan kedua tangan dan menyandarkan tubuhku di sofa. Jika aku mengatakan hal ini pada bi Gina, aku yakin pasti beliau akan kecewa dan menganggap ku memang tidak bisa berubah.
"Nara?" Aku membuka mataku, dan Adam sudah duduk di sampingku. Sejak kapan dia ada disini, entahlah aku juga tidak tau. Aku tidak menjawabnya dan memejamkan mataku kembali.
"Nara, ini." Munah memberikan ku satu gelas minuman. "Minum dong, sekali saja." Aku hanya tersenyum, lalu menggenggam gelas berukuran kecil itu di tanganku.
"Iya nanti aku minum." Munah mengangguk dan kembali dengan Wahid. Aku melirik ke arah Adam.
"Jika benar kau tidak hamil, maka kau tidak akan takut meminumnya." Deg. Mereka semua, kenapa seperti menjebak ku sekarang. Apa aku harus mengaku? Tidak semudah itu, yang ada malah menambah masalah.
"Minumlah." Adam menyodorkan ke hadapanku. Aku menatap gelas yang menggantung tepat didepan wajahku saat ini. Glek, aku menelan air liurku sendiri. Dulu dia temanku di saat aku butuh, iya hanya minuman itu yang membantuku melupakan masalah yang terjadi. Aku langsung mengambilnya, meneguknya hingga habis. Lalu aku meminta Adam untuk menuangkannya lagi.
"Benar, tidak apa-apa?" Sudah tidak aku hiraukan lagi perkataannya. Aku langsung meneguknya kembali, sudah dua gelas sekarang. Kurasa itu cukup untuk membuktikan dihadapan Adam.
Waktu terus berjalan, aku mulai merasa pusing. Perutku sangat panas, begitu juga dengan tubuhku. Aku merasakan tubuhku mulai tidak enak. Ada yang menggelinjang di dalam perut. Meronta ingin bebas, aku sudah tidak tahan.
"Aku mau pulang sekarang." Aku sudah meremas perutku yang rasanya tidak karuan. Akankah aku mati bersama dengan bayiku malam ini? Karena kebodohan yang aku buat sendiri, demi menyelamatkan rahasia yang aku pendam?
Aku berlari keluar room yang saat ini sudah panas suasananya, secepat mungkin aku melangkah masuk ke dalam mobil Wahid. Menunggu mereka diluar, aku memukuli kepalaku sendiri. Bodoh! Bodoh! Begitu aku berteriak.
"Ya Tuhan." Air mataku menetes, hanya Adam yang berlari keluar mengejarku. Aku menghapus air mata yang jatuh.
"Nara?" Aku menoleh. "Biar aku antar kau pulang menggunakan mobil Wahid." Aku menggeleng.
"Tidak usah, jika mereka belum ingin pulang. Aku bisa pulang sendiri naik taxi."
"Eh tidak-tidak. Tunggu sebentar." Adam berlari lagi masuk, aku sudah tidak sabar. Keluar mobil dan menanti taxi, semoga saja masih ada.
Aku melambaikan tangan ke arah taxi yang lewat, dan keberuntungan masih berpihak padaku. Aku langsung masuk dan mengatakan alamat yang aku tuju. Begitu taxi melaju, tangisku langsung pecah. Tidak peduli apa yang saat ini supir pikirkan terhadapku.
"Ini ada tissue." Bahkan supir memberikanku tissue. Ya ampun, aku tidak bisa menahan tangisku. Hiks, sakit sekali rasanya. Aku juga tidak bisa menyalahkan temanku. Karena ini memang salahku yang tidak bisa jujur. Jika mereka tau, aku yakin mereka tidak akan mungkin melakukan ini, malah yang ada membantuku untuk tetap menjaga kandunganku.
Tanganku gemetar saat memegang ponsel, mencari nomor bi Gina. Hanya untuk menelpon saja rasanya sesulit ini.
__ADS_1
"Hallo bi?" Suaraku sangat lirih.
"Nara? Kenapa? Ada apa? Kau menangis?" Kepanikan bi Gina langsung tercipta di sebrang telepon. Aku juga mendengar ada suara adik-adikku disana.
"Bi, perutku sakit sekali." Aku mengaduh, ya hanya bi Gina tempat pengaduanku saat ini. "Bi, besok pagi bisakah bibi bawa dokter Linda ke apartemen? Aku tidak masuk sekolah besok."
"Jika kau sangat merasa sakit, bibi akan datang sekarang."
"Tidak usah bi, ini sudah malam." Hiks, aku tidak bisa menghentikan tangisku.
"Sekarang kau dimana Nara?"
"Aku dijalan bi."
"Apa kau keluar?" Aku Langsung terdiam. "Katakan Nara, apa yang kau lakukan?" Bi Gina jauh lebih panik sekarang. "Nara?"
"Maaf bi, Munah memaksaku. Begitu juga dengan Adam."
"Nara, ya Tuhan."
"Hiks, mereka memaksaku karena mencurigai ku bi."
"Ya sudah, langsung istirahat saja kalau sudah sampai. Besok pagi bibi akan datang bersama dokter Linda." Aku mematikan sambungan telepon, tubuhku sudah benar-benar lemas.
Saat taxi sampai, aku meminta supir mengantarkan ku sampai ke dalam. Rasanya aku sudah tidak sanggup walaupun hanya berjalan dari pinggir jalan raya. Ponselku terus berdering, Adam dan Munah terus menghubungi ku.
"Pak, maaf sekali jika menyusahkan."
"Apa anda bisa berjalan nona?" Aku mengangguk, tapi supir taxi tetap turun.
"Maaf pak, bukankah aku sudah membayar?" Dia mengangguk dan tersenyum, lalu tanpa ijin dia memapah ku, mengantarku hingga di depan pintu lift.
"Pak tunggu." Dia berhenti dan menoleh.
"Ambillah, anggap saja ini uang tips." Tanganku yang memegang beberapa lembar uang masih menggantung di udara. "Pak, ini rezeki."
"Terima kasih banyak. Semoga nona dan bayi dalam kandungan sehat." Deg. Kenapa dia bisa tau?
"Eh iya, terima kasih juga doanya pak." Untungnya keadaan apartemen sudah sepi, penghuni lain sudah tidak ada yang seliweran. Aku menekan tombol sesuai lantai apartemen, menyandarkan tubuhku hingga menunggu sampai.
***
Aku mengerjab, perlahan membuka mataku. Aku sudah berada di dalam kamarku, ku lihat ini pukul 01 malam. Kenapa aku bisa tidak sadar sudah berada disini? Terakhir kali yang aku ingat, aku berjalan keluar pintu lift. Tapi, setelah itu aku benar-benar tidak lagi mengingat apapun.
"Kau sudah bangun?" Aku terlonjak kaget, mendengar suara begitu lembut, tapi itu suara laki-laki.
"Kau sudah bangun?" Dia bertanya lagi, semula berdiri di jendela kamar menghadap ke arah luar. Dan kini berjalan mendekat ke arahku.
"Kau?" Tidak mungkin, pasti ini hanya mimpi kan?
"Iya, aku lihat kau turun dari taxi. Tapi yang membuatku heran, kenapa kau sampai di papah saat berjalan."
"Lalu bagaimana bisa kakak masuk kesini?" Aku langsung melihat tubuhku yang tertutup selimut. Ternyata aman, masih lengkap dan tidak sedikitpun terbuka.
"Kau pingsan setelah lift berhenti, untungnya aku yang menemukan mu pingsan, kalau tidak bagaimana? Maaf aku sudah lancang masuk ke dalam apartemen mu. Dan sengaja mengambil kunci di dalam tas mu."
"Iya kak, tidak apa-apa. Seharusnya aku yang berterima kasih." Satria mengangguk.
"Kak, aku sudah tidak apa-apa, kakak bisa pulang sekarang. Ini sudah larut malam." Satria tidak menjawab malah diam dan menunduk. Aku takut, bagaimana kalau dia memanfaatkan situasi ini?
"Kak?" Satria menoleh lagi. "Kau kenapa?"
"Eh tidak. Tunggu sebentar, aku buatkan kau teh hangat setelah itu aku akan pulang." Aku mengangguk saja, sepertinya teh hangat juga bagus.
10 menit berlalu, Satria kembali masuk ke kamarku. Membawakan ku secangkir teh hangat, aku menerimanya setelah bisa duduk.
"Minumlah, agar lebih enakan." Aku mengangguk.
Satria menatapku tanpa berkedip, membuatku sendiri bingung salah tingkah, sekaligus merasa takut. Pasalnya ini sudah larut malam, dan aku hanya berdua dengannya di dalam kamar apartemen. Jika terjadi sesuatu denganku, berteriak sekalipun tidak akan ada yang mendengarnya. Aku meletakkan teh di atas meja yang berada di samping tempat tidur.
"Kak, sebaiknya kakak pulang. Aku takut kalau ada yang tau akan berpikir macam-macam nantinya."
"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu sendirian? Aku tidak tega meninggalkan ibu hamil dengan keadaan sakit." Deg. Ibu hamil? Tidak, mungkin hanya salah dengar!
"Kak?"
"Nara, bagaimana kau bisa menyembunyikan hal itu?"
"Kak?"
"Aku tau Nara, supir taxi yang memberi tahu aku." Deg. Sudah cukup, aku semakin melemas. Tubuhku yang belum sepenuhnya memiliki tenaga, kini harus dihujam kembali.
"Kak? Apa aku boleh minta satu permintaan?"
"Katakan."
"Tolong rahasiakan hal ini, tolong kak." Hiks, air mataku jatuh lagi. "Aku ingin lulus dari sekolah, mengikuti ujian. Tolong kak." Aku mengatupkan kedua tanganku. Satria yang berdiri di sampingku hanya diam.
"Istirahatlah, aku tidak bisa janji untuk itu." Satria melangkah pergi meninggalkan ku. Saat sampai di pintu kamar dia kembali menoleh.
"Jujur aku menyesal mengetahuinya. Yang aku pikir kau adalah gadis polos." Brag. Pintu kamar tertutup dengan kecangnya. Aku hanya bisa menangis sekarang, hancur semuanya hancur.
__ADS_1
Bersambung..