Langit Mendung

Langit Mendung
Perlengkapan bayi


__ADS_3

Kenapa saat sudah didepan rumahnya malah tubuhku terasa gemetar? Aku berbalik badan serasa ingin pulang saja.


"Hei kau mau kemana?"


"Kita pulang saja ya?" Aku ingin menarik tangan Munah menjauh pergi. Aku memang sangat merindukan ibu Marisha. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk mengurusi perusahannya. Tapi, malah merasa segan sekarang. Ah jadi serba salah begini sih.


"Kinara?" Ah terlambat, suara lembut itu sudah memanggil ku. Dan matanya sudah menangkap keberadaan ku sekarang.


"Ibu." Aku tersenyum, mendekat dan melepaskan tangan Munah.


"Ibu merindukanmu, kenapa kau tidak pernah datang?" Dia memelukku, aku menghindari dibagian perutku. Berpura-pura menoleh ke arah Munah agar pelukan cepat terlepas.


"Bu dia Maemunah. Temanku, dan juga temannya Adam." Ibu tersenyum hangat ke arahnya. Lalu memintaku dan Munah untuk masuk bersamanya.


Rumah yang megah ini, ah tidak beda jauh dengan rumah ayah dan ibuku. Kenapa aku malah seperti tengah membandingkan dengan apartemen kecil milikku ya? Apa harus aku meminta ayah untuk memperbesarnya? Gila! Yang ada ayah malah memaksaku untuk tinggal bersamanya.


"Ibunya cantik sekali." Munah memujinya dengan berbisik. Aku tertawa kecil, ah masa dia tidak bisa melihat hasilnya, Adam kan tampan.


"Kalian sudah makan?"


"Belum."


"Sudah bu." Hei, kenapa jawaban kami berbeda.


"Yang mana yang benar?" Aku dan Munah saling pandang, cengengesan menampakkan barisan gigi yang rapih. Lalu menggeleng secara bersamaan, ah aku berbohong soal makan. Yang aku tau, jika tuan rumah sudah bertanya begitu berarti akan mengajak makan.


"Kita makan sama-sama ya?"


"Nanti saja Bu."


Harusnya aku langsung to the point menanyakan keberadaan Adam sekarang. Iya, karena tujuan awal datang kesini memang mencari Adam. Dia tidak terlihat, aku sendiri tidak tau dimana letak kamar Adam. Aku menilik disetiap pintu ruangan disini, yang terlihat dimana aku dan Munah tengah duduk. Tapi semuanya terkunci sepertinya.


"Ibu, dimana Adam?" Wajahnya, kenapa malah berubah sendu? Apa aku salah jika menanyakan hal ini? Ah tidak, apa Adam berbuat salah dan diusir? Duh, otak kenapa sih kau selalu mencari jawaban sendiri.


"Adam, dia masih pergi keluar kota bersama kakaknya."


"Keluar kota?" Ibunya Adam mengangguk lagi. "Apa ada urusan keluarga? Kenapa ibu tidak ikut?"


"Kinara, Adam tengah menjalani terapi disana. Dan kakaknya yang pergi menemani, paling besok sudah pulang."


"Terapi?" Deg. Jantungku berdenyut, jadi apa yang dikatakan Elena benar?


"Terapi dilakukan untuk memperkuat tulangnya. Agar tubuhnya tidak terlalu lemah, dan sampai ujian kelulusan selesai nanti barulah Adam berangkat keluar negeri untuk melanjutkan pengobatannya."


Apa? Aku tidak salah dengar? Munah juga sama kagetnya denganku. Kami berdua saling pandang, ekspresi bingung dan kaget jelas tertangkap di wajah kami.


"Kenapa? Apa kalian tidak tau?" Aku menggeleng, begitu juga dengan Munah.


"Pantas saja dia tidak masuk sekolah beberapa hari ini Tante." Aku terdiam, Adam aku merindukannya.


"Tante, memangnya Adam memiliki penyakit apa?"


"Adam memiliki penyakit leo kimia sejak kecil, tapi sudah dinyatakan sembuh sewaktu usianya delapan tahun. Dan setelah ayahnya meninggal, dia sempat mengalami depresi, Adam menjadi pendiam. Tidak tau, penyakit itu datang lagi, dan malah membawa penyakit lain. Ada kelenjar ditubuhnya."


Ya Tuhan, Adam jadi menderita. Aku sangat merasa bersalah sekarang. Berkali-kali Adam mengatakan padaku, kalau dia sangat susah untuk tidur karena telah menodai ku. Tapi aku hanya menganggapnya sepele, jika tau begini lebih baik aku beritahu Adam yang sebenarnya terjadi. Tapi kurasa sudah terlambat, jika aku memberitahu sekarang, yang ada keadaan Adam semakin parah. Karena terbebani pikiran.


"Adam tidak pernah cerita apapun. Tentang penyakitnya." Ucapku lirih.


"Sudah ibu duga. Karena sebenarnya keluarga besar pun tidak ada yang tau. Jadi wajar jika dia tidak ingin kalian tau, mungkin karena Adam sendiri tidak ingin merasa dikasihani." Deg. Adam!! Aku khawatir sekali denganmu.


"Nara?" Munah memanggilku, menyandarkan aku yang sudah melemas seperti tidak bertulang saat ini. Aku yakin, dia juga tau apa yang aku rasakan saat ini.


Luka, kenapa setiap langkah aku selalu merasakan luka. Tuhan, apa ini jawaban doa yang aku minta sebelum tidur? Begitu banyak yang Adam tutupi dariku. Ini sungguh tidak adil, Adam banyak tau tentangku. Tapi dia masih bisa merahasiakan masalah penyakitnya dariku.


"Kinara, Munah, kita makan ya? Kalian mau kan?" Munah menyenggol lenganku. Aku terkesiap dan langsung mengangguk. Padahal, selera makan sudah tidak ada, hilang begitu saja. Mencelos dari perutku bersamaan kabar duka yang aku dengar. Kami mengikuti langkah ibunya Adam yang menuju meja makan.


Di meja makan, hanya ada kami bertiga. Beberapa pelayan yang menghidangkan makanan, banyak sekali. Padahal, jika dihitung pun tidak akan cukup jika masuk kedalam perut. Aku sendiri tidak tau harus makan masakan yang mana. Semuanya tidak ada yang berhasil menggodaku.


"Nara, kenapa sayang? Jika kau tidak suka makanan yang ini, ibu akan meminta pelayan menggantinya." Dan dengan jiwa kepahlawanan Munah, dia dengan seenaknya mengambilkan nasi dan beberapa lauk. Menuangkannya kepiring ku.


"Munah, sudah cukup. Ini banyak sekali."


"Tidak, kau memang harus makan banyak." Sialan! Dia masih sempat mengedipkan matanya ke arahku.


"Makanlah." Aku mengangguk.


"Habiskan Nara."


"Iya Bu."


Munah kau jahat sekali. Mengambilkan aku makanan tidak kira-kira. Aku terus saja kepikiran Adam. Setiap kunyahan tidak bisa menghilangkan Adam dari dalam pikiranku. Tidak lucu jika aku menyusulnya kan? Menanyakan alamat dimana tempat Adam berobat.


"Kinara, kenapa tidak dihabiskan?" Aku melirik ke arah Munah yang makan dengan lahapnya. Sialan, dia memang tidak tau malu ya.


"Aku sudah kenyang Bu."


"Dia diet Tante, lihatlah tubuhnya semakin besar setiap hari." Mau saja ku tusuk Munah sekarang menggunakan sendok garpu.


Selesai makan, ibunya Adam tidak langsung membiarkan aku dan Munah pulang. Dia mengajak untuk duduk di gazebo yang ada dihalaman rumahnya. Memintaku untuk duduk disebelahnya, puncak kepalaku dibelai dengan lembut.


"Apa kau ingat jika dulu kalian pernah dijodohkan?" Munah yang mendengar melirikku, lalu fokus lagi dengan ponselnya. Pasti dia sedang berbalas pesan dengan Wahid sekarang.


"Ingat Bu."


"Jika Adam tidak bisa, apa kau mau tetap menjadi menantu ibu?" Hah?


"Maksudnya Bu?"


"Kau bisa menikah dengan kak Windu, kakaknya Adam. Dia juga belum memiliki pacar." Deg. Kenapa ada-ada saja permintaan setiap orang tua.


"Memangnya kenapa Adam tidak bisa Bu?"


"Apa kau mau memiliki suami nantinya yang penyakitan?"


"Eh, bukan itu maksudnya Bu. Aku juga tidak tau kedepannya bagaimana, lagian aku dan Adam juga hanya teman."

__ADS_1


"Tapi ibu sangat ingin kau yang menjadi menantu ibu nantinya."


Bolehkah aku berkata sekarang? Ibu dan anak sama-sama suka memaksa? Kedengarannya terlalu kejam ya?


"Mereka memang saling suka Tante." Munah! Bisa-bisanya dia berkata tanpa merasa bersalah.


"Tidak, kalau saat ini ibu tidak akan mengijinkan kalian untuk pacaran. Saling suka, itu hal wajar." Huh, syukurlah.


"Ibu hanya tidak mau jika anak-anak ibu sudah tau pacaran, ujung-ujungnya malah membuat aib keluarga."


"Maksudnya Tante?"


"Hamil diluar nikah, bukankah anak sekarang rata-rata begitu?" Aku langsung mengubah posisi dudukku menjadi tegak, menarik nafas. Sesak, itu sangat sakit sekali ketika telingaku mendengarnya.


"Oh begitu ya Tante." Aku hanya bisa menunduk, menunduk dan menunduk.


"Kinara, bukankah kau sudah berjanji dengan ayahmu akan datang kerumahnya?"


"Hah?" Otakku belum loading.


"Iya, kau yang mengatakan tadi malam." Aku mengangguk. Baiklah, aku tau maksudnya.


"Bu, aku harus pulang sekarang. Aku lupa kalau ada janji dengan ayah."


"Baiklah, kalian hati-hati ya."


***


Aku kembali menjatuhkan air mata, berhenti disalah satu bahu jalan. Meluapkan kesedihanku, biasanya aku yang menikmati suasana kesedihan ini hanya sendirian. Tapi sekarang sudah ada Munah disamping ku. Aku menangis dalam dekapannya, dia terus memenangkan ku. Tapi sesekali menggerutu karena bajunya yang basah terkena tetesan air mata. Hiks, aku rasa aku adalah orang yang paling hina di dunia ini.


"Apakah kita jadi pergi kerumah ayahmu?"


"Ha.." Tangisku semakin mengeras, sialan bisa-bisanya dia masih mengejek di keadaan yang benar-benar membuatku pilu.


"Kau yang memberi ide inikan? Bagaimana kalau ibunya Adam menelpon ayahku dan mengatakan kalau aku bilang akan pergi kesana. Hiks, ternyata ini hanya alibi kita saja."


"Hei, aku hanya berusaha menyelamatkan mu tadi. Aku tau kau akan menangis, makannya lebih baik aku berbohong." Aku mengambil tissue, dan menghapus air mataku, tak lupa juga membersihkan cairan bening yang juga ikut keluar dari lubang hidung.


"Kau jorok sekali sih!"


"Apa kau tidak pernah menangis?" Hampir saja aku melempari tissue ini ke Munah jika dia berani protes lagi.


"Lalu, kita kemana sekarang?" Aku menggeleng, entahlah. Tidak mungkin kan aku benar-benar datang kerumah ayah.


"Terserah, jika kau ingin pulang ya sudah aku akan mengantarmu."


"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu di keadaan seperti ini? Yang ada kau malah mencelakakan calon keponakanku."


"Aku tidak sebodoh itu! Walau pernah mencobanya dulu." Munah menoleh ke arahku, kenapa? Kenapa wajahnya secepat itu berubah menjadi sendu?


"Nara?" Kami saling tatap. "Maafkan aku." Hah?


"Maafkan aku, aku pernah memaksamu minum alkohol waktu itu. Aku tau perasaanmu sangat sakit, tapi aku hanya ingin tau kau hamil atau tidak. Jika saja waktu itu kau benar-benar keguguran, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."


"Apa sewaktu Mida menunjang perutmu, kau?"


"Iya." Munah langsung terdiam, dia terus mengumpat sambil memukul stir kemudi.


"Dengan kau tidak memberitahu siapapun, aku sudah merasa sangat berhutang Budi padamu."


"Kau gila ya! Lebih banyak aku yang berhutang padamu."


Mobil sudah melaju, kubiarkan saja Munah membawaku kemana asal tidak kerumah ayah atau ibuku. Mobil melaju dan berbelok saat berada di perempatan jalan. Kepalaku sampai memutar saat melihat banyaknya anak-anak jalanan mengamen. Andai saja aku sudah menjadi pengusaha sukses seperti ayah. Aku akan membantu setiap orang yang merasa kesusahan, termasuk anak-anak yang tidak memiliki pendidikan seperti mereka. Rela berpanas-panasan hanya untuk bisa makan satu hari.


"Munah, berhenti." Walau lampu sedang tidak merah, aku meminta Munah tetap berhenti dipinggir jalan. Membuka kaca mobilku, ku lambaikan tangan ke atas untuk memanggil mereka. Ada dua orang anak perempuan yang mendekat, penampilannya yang kumuh itu, ah aku teringat saat pertama kali berjumpa dengan adik-adikku yang kini hidupnya sudah jauh lebih baik.


"Wah, banyak sekali. Terima kasih kak." Mereka melompat girang, aku mengeluarkan semua uang yang ada didalam dompetku. Uang cash yang aku bawa sekitar tujuh ratus ribu. Mungkin cukup untuk mereka makan beberapa hari.


"Kau gila! Kau berikan semua kepada mereka?" Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kau tau, uang segitu bagi mereka adalah harta yang paling banyak yang mereka punya. Kita beruntung, setidaknya tidak merasakan panas dan hujan, beruntung tidak merasakan pahitnya mencari uang diusia yang harusnya masih menginjak sekolah dasar." Munah langsung terdiam. Aku berniat akan melanjutkan kata-kataku lagi, tapi Munah sudah membuka mulut akan kembali bersuara.


"Kau orang baik, tapi kenapa masalah berat selalu datang padamu. Aku percaya sekarang, kalau temanku ini seorang perempuan yang kuat." Aku tersenyum dan mengelus lengannya.


Munah kembali melajukan mobil, tidak jauh kisaran ratusan meter mobil berhenti lagi di sebuah toko. Aku menatap tulisan besar yang ada didepan toko. Gedung yang menerawang ini, siapa saja bisa menebak bahwa ini adalah toko baby shop. Pakaian yang unik menggantung. Mataku langsung liar, kenapa aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya? Ternyata jika datang ketempat langsung lebih puas dari pada harus berbelanja melalui via online.


"Ayo?" Aku masih duduk dan membuka stell belt. Kali ini aku menjadi ragu untuk turun. Aku takut jika ada yang melihat, aku harus memberi alasan apa? Membeli baju untuk adikku? Bukankah ibu juga sudah keguguran?


"Ayo?" Munah menunggu ku, dan mengulang lagi kalimatnya.


"Munah tunggu." Tanganku sudah memegang pintu mobil, tapi mataku menatap kesana-kemari.


"Sudahlah, jika kita bertemu orang lain aku akan mencari alasan." Aku mengangguk.


Ah aku tidak pernah melihat pakaian bayi seimut ini, tapi kenapa untuk anak laki-laki tidak memiliki model yang unik ya? Hah, tidak, apapun jenis kelamin anakku. Bukankah aku sendiri yang berharap jika anakku lahir dengan jenis kelamin laki-laki.


"Aku ambil troli dulu, kau tunggu disini." Malah seperti Munah yang akan menjadi seorang ibu. Senyumnya, semangatnya, hah bukankah harusnya dia sedih juga hari ini seperti tadi malam. Ini malah dia sangat bersemangat.


Munah sudah datang membawa troli, dia mendorongnya dan aku mengikuti langkahnya beriringan. Dia juga yang memilih popok, pakaian dan lainnya keperluan untuk bayi.


"Sewaktu ibuku mengandung adikku, aku juga yang memilihnya." Ah pantas saja dia lebih tau, kenapa rasanya sangat asik ya jika pergi belanja dengan ibu.


"Itu kau lihat, ah lucunya." Dia menarikku ke arah tempat dimana botol susu bayi. Dan aku yang sangat suka warna coklat pun seketika terhipnotis, mengambilnya bukan hanya satu atau dua. Tapi lima sekaligus, mana yang ada corak warna coklat pokoknya aku ambil!


"Kau berlebihan sekali." Munah mengembalikan lagi pada tempatnya, dan tersisa tiga botol susu didalam troli.


"Apa ketika anakmu lahir aku juga bisa selalu datang untuk melihatnya?" Deg. Itu yang aku takutkan, jika dia diurus dengan bi Gina nanti, aku saja belum tentu bisa melihatnya setiap hari. Ah apa lagi aku akan melanjutkan kuliah, bagaimana kalau aku sibuk? Tapi aku tetap harus memberinya kasih sayang. Aku juga tidak ingin dia hidup nantinya sepertiku.


"Kinara! Kenapa kau melamun!" Heh, aku tersentak. "Aku hanya bertanya, apa aku bisa selalu melihatnya nanti?"


"Eh itu-"


"Hei, Munah? Kinara? Kalian sedang apa? Kenapa membeli peralatan bayi?" Deg. Aku dan Munah saling pandang, ketika tau siapa yang datang dihadapan kami, menegur dengan senyumnya yang menjijikan menurutku.


"Eh itu, ini adik ayahku akan segera lahiran. Jadi aku belikan saja." Syukurnya, Munah sudah menyiapkan alasan.

__ADS_1


"Kau sendiri sedang apa disini Mida? Kau juga belanja keperluan bayi? Kau sedang tidak hamilkan?" Sialan, secepat itu Munah membalikkan fakta.


"Aku haha. Aku hamil? Kau bercanda, aku saja tidak dibolehkan pacaran oleh orang tuaku." Dia tersenyum sinis, aku tau jika kata-katanya barusan pasti sedang menyindir dengan menyebut orang tua.


"Aku hanya menemani kakakku saja. Itu dia ada di depan." Aku dan Munah mengangguk, lalu aku segera mengajak Munah untuk pergi. Tidak perlu lagi berbicara dengan orang yang sesuci embun dan sempurna Sepertinya.


"Hei, tunggu." Heh, mau apa lagi dia. "Belanja sebanyak ini? Seperti kau saja yang akan menjadi orang tua."


"Maksudnya? Kau menuduhku sedang hamil?"


"Eh tidak juga!" Aku menarik lagi tangan Munah, aku malas berdebat ditempat seperti ini. Orang sepertinya yang tidak tahu malu akan tetap saja berbicara sesuka hati, tidak perduli jika ada orang lain yang mendengar nantinya.


"Sudah kukatakan, jangan pernah menggubrisnya!"


Aku merasa ini sudah cukup, dan membawa seluruh belajaan kemeja kasir. Membayarnya dengan kartu sakti milikku. Dan sialnya, kenapa harus ada dia juga disini. Sepertinya Mida sengaja membuntuti.


"Kenapa kau yang membayar? Bukankah adik ayahnya Munah yang akan melahirkan?"


"Kenapa kau suka sekali mengurusi hidup orang lain?" Aku menyentaknya dihadapan karyawan toko. Lalu menerima kembali kartu milikku saat selesai pembayaran. "Bagiku, berbagi itu indah." Aku langsung menentang belajaan dan pergi.


"Sombong sekali kau! Aku kan hanya bertanya." Aku masih bisa mendengarnya menggerutu, tapi tetap saja melangkah pergi.


"Apa kau akan membawanya ke apartemen?" Aku mengangguk.


"Kau saja yang menyetir lagi ya." Dan untungnya Munah tidak keberatan.


Saat mobil sudah melaju mataku kembali menangkap sesuatu. Ada toko yang menjual game rumahan, terletak tidak jauh dari toko yang baru saja aku datangi. Aku kembali teringat adik-adikku.


"Kenapa?" Aku hanya menggeleng, lalu mengeluarkan ponsel dan mencari nama ayah disana.


"Aku akan menelpon ayahku." Aku menunggu panggilan itu dijawab, sudahlah aku mengalah dan akan meminta uang lagi padanya.


"Ayah?" Ah akhirnya dijawab juga.


"Ada apa Nara?"


"Tidak, aku hanya rindu." Munah langsung Melirik ke arahku.


"Ayah senang mendengarnya." Maaf, aku harus mengatakan ini walaupun sesungguhnya aku berbohong.


"Ayah, bisakah berikan uang bulanan ku sekarang? Aku ingin membeli sesuatu."


"Apa kata-kata rindu itu hanya alasan saja?" Deg. Aku lupa jika ayahku bukan orang yang bodoh.


"Tidak juga." Munah menahan tawanya dengan satu mulut. Sialan, dia tau kalau aku berbohong.


"Baiklah, akan ayah kirimkan." Yes, aku Berteriak dalam hati. Akhirnya, keinginan adik-adikku bisa terkabulkan.


"Terima kasih ayah." Aku menutup telepon dan langsung menjerit.


"Gila! Apa uangmu benar-benar sudah habis?" Aku menggeleng.


"Tidak, aku hanya ingin membeli sesuatu."


"Apa game?" Aku mengangguk. "Sejak kapan kau menjadi hobi bermain game? Bukankah kau hobinya menulis puisi?" Aku tertawa.


"Kau tau kan, kalau bi Gina sudah memiliki anak angkat sekarang?" Munah mengangguk. "Mereka sangat menginginkan game rumahan itu, ya aku ingin memberinya, jadi aku meminta uang dari ayahku."


"Jangan bilang, kau juga yang membangun rumah untuk mereka!" Deg. Memangnya kenapa! Kan tidak salah.


"Ah tidak."


Tidak terasa, mobil sudah berhenti dihalaman bawah apartemen. Seperti biasanya, aku turun lebih dulu dan membawa beberapa paper bag berukuran besar.


"Eh, jangan. Tinggalkan saja di mobil. Biar aku yang membawanya, kau masuk sajalah lebih dulu."


"Kenapa? Itu sungguh merepotkanmu. Kau itu temanku bukan asisten ku." Jelas kalau untuk itu aku tidak mau merepotkannya. Aku tidak mau Munah menganggapnya aku memanfaatkannya.


"Kau juga lupa? Kau itu sedang hamil, bukankah orang yang hamil tidak boleh membawa yang berat-berat? Sudah sana kau turun dan langsung saja masuk ke apartemen."


"Terima kasih, sepertinya aku harus membelikan tas baru untukmu." Munah langsung tertawa begitu mendengarnya, padahal aku benar-benar serius akan perkataan ku barusan.


Berjalan menuju lift, sebenarnya ingin menunggu Munah dan naik lift bersama. Tapi, aku juga sudah sangat lelah, ingin cepat-cepat bersantai dan duduk. Padahal, belanja juga hanya sebentar, tidak terkena panas pula.


Aku yang sudah duduk santai disofa, sambil menunggu Munah datang. Aku sudah menyiapkan air dingin untuknya, aku yakin jika dia juga haus.


Saat pintu terbuka, aku dikagetkan dengan kedatangan yang bukan hanya ada Munah.


"Wahid?" Dia tersenyum, dengan gayanya membawa paper bag milikku. Wajahku sudah panik, tapi melihat Munah masih bisa santai. Sungguh, apa dia sudah gila membiarkan Wahid ikut masuk dengan membawa semua peralatan bayi yang kami beli?


"Kalian belanja banyak sekali. Apa Munah juga memintamu membelikan semua keperluannya?" Wahid meletakan paper bag di atas meja. Aku langsung berdiri dan menyambarnya, akan aku bawa ke dalam kamar.


"Eh iya, aku yang membelikannya karena dia sudah mau menginap disini."


"Benarkah?" Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Pintu terbuka lagi, ternyata Munah juga ikut menyusulku ke dalam.


"Kau gila! Kenapa harus dengan Wahid disaat membawa ini?" Munah malah tertawa.


"Kau tidak dengar dia bilang apa? Dia tidak tau, bahkan dia tidak melihat apa isinya."


"Kau bisa menjamin itukan?"


"Apa yang kau takutkan sekarang?"


Aku meletakkan semua paper bag didalam lemari.


"Kau sudah tau apa yang aku takutkan kenapa masih bertanya?"


Munah kembali menarik lenganku untuk segera keluar kamar. Dengan alasan kasihan jika Wahid lama-lama ditinggal sendirian.


"Sepertinya kau sudah membalas perasaannya." Munah langsung mencubit lenganku.


Ah Tuhan memberiku bahagia saat ini, walau sebelumnya aku harus menangis terlebih dahulu. Sudah lama sekali tidak melihat pemandangan ini, melihat Munah dan Wahid bertengkar dihadapan ku. Berebut apa saja. Aku jadi bisa ikut tertawa. Andai saja ada Adam disini, pasti semua akan terasa lengkap.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2