
Pentas sudah terpasang di tengah halaman sekolah. Dan juga ada tenda khusus untuk para siswa duduk. Kursi berjajar dengan rapinya. Pentas seni diadakan hari ini, sengaja tidak dilaksanakan di aula. Agar seluruh siswa bisa melihatnya. Meskipun hanya memilih duduk di depan kelas. Sama seperti ku, memilih duduk dan melihat dari kejauhan. Tidak penting melihat wajah dari setiap peserta, sudah ada speaker besar yang akan membantu menjadikan alat pengeras suara. Jadi, siapapun yang membaca puisi bagiku tidak penting, tapi bagaimana isi dari puisi itu sendiri. Meski acara sudah akan di mulai, Munah masih saja mendesak ku untuk ikut.
"Ayolah Nara, jika kau tidak ingin ikut ya sudah. Tapi kita duduk disana." Aku meliriknya dengan tajam, Munah mana peduli. Dia tetap saja menarikku. Dan berhasil duduk di salah satu kursi.
"Acaranya juga belum dimulaikan?" Keluhku lagi. Munah malah menunjuk ke arah panggung dan tersenyum. Iya Munah kau memang sekarang. Ternyata acara sudah di mulai.
"Munah? Mana daftar-"
"Eh iya Bu." Munah langsung berdiri, menutupi pandanganku. Aku sudah tidak dengar Munah dan Bu Irma berbicara apa. Suasana sudah ramai, kata sambutan mulai diberikan. Sebelum acara di mulai. Aku bosan, hari ini aku benar-benar malas sekali. Untuk bergerak saja malas. Kalau saja tidak diancam akan diberikan nilai minus jika sampai tidak hadir hari ini. Aku pasti akan libur dan lebih memilih rebahan di apartemen. Padahal juga tidak ada kegiatan belajar mengajar.
"Sudah selesai?" Munah mengangguk dan kembali duduk disamping ku. "Sejak kapan kau mempunyai urusan dengan Bu Irma?"
"Sejak hari ini, haha. Tidak, aku hanya diberi tugas saja tadi. Lalu dia bertanya apakah sudah selesai mengerjakan tugas yang dia beri?" Aku manggut-manggut.
"Eh itu sudah di mulai." Munah antusias sekali, padahal aku tidak ikut. "Adam dan Wahid kemana ya?" Aku memutar kepala, dan menunjukan dimana Wahid dan Adam duduk. Tentu, Adam duduk di samping Elena. Dan Wahid, dia tebar pesona diantara murid perempuan lainnya.
Elena, ah aku jadi teringat tadi malam. Elena berkali-kali memujiku tentang puisi yang aku buat semalam. Dia sampai meminta nomor ponselku kepada Adam. Dan dia juga bilang sangat mengkhawatirkan aku sewaktu aku pergi begitu saja. Untungnya aku memiliki alasan yang pas. Kalau tidak, mungkin bisa sampai pagi aku meladeni pacar Adam itu, ayah dari janin yang aku kandung saat ini.
Belum lagi, soal Elena yang terus bertanya tentang Adam. Lalu menyatakan cintanya yang begitu besar lewat pesan singkat, tapi dia berbicara padaku bukan pada Adam.
"Kak, kau tau kak Adam selalu cerita tentang kakak. Dia juga bilang kakak wanita kuat, hehe. Aku jadi ingin seperti kakak." Aku sendiri tidak tau, saat membaca pesan itu. Aku senang, tapi Elena jujur atau tidak aku tak tahu.
"Adam juga selalu mengkhawatirkan kakak lho."
Ya ampun, kenapa aku jadi terngiang-ngiang soal itu. Kesannya malah Elena seperti tengah memuji Adam di depanku, dan menjodohkan ku. Padahal kan Elena pacarnya.
"Nara, kau tunggu disini ya. Jangan kemana-mana, tunggu sampai aku kembali."
"Hei, kau mau kemana?"
"Ke kamar mandi, sebentar." Heh, memang ya Munah.
Beberapa menit aku menunggu, Munah tak kunjung kembali. Ingin sekali rasanya aku kembali ke kelas saja. Duduk menyendiri malah lebih tenang, dari pada harus duduk disini. Ramai, tapi aku sendirian. Aku langsung membulat kan mata ketika mendengar MC memanggil nama Munah. Maemunah! Apa yang dia lakukan sekarang? Sangat mustahil jika dia ikut lomba ini kan? Munah sangat bodoh untuk membuat puisi. Bukan maksudku menjengkalinya. Tapi, itu memang benar.
"Munah akan membacakan puisinya yang berjudul gundah." Hah? Munah!! Maemunah!! Dia mengetuk mikrofon dengan jari, padahal jelas-jelas itu sudah menyala.
"Maaf sebelumnya, ini hanya puisi karya temanku. Dan dia tidak ingin ikut, jadi aku saja yang mewakili." Dengan tidak malunya Munah mengatakan hal itu. "Gundah, karya Kinara Adnan Husein." Sontak semua mata menatap ke arahku, apa lagi yang jelas-jelas saat ini tau kalau aku sedang duduk diantara mereka. Aku bukan bangga, justru aku malu. Aku berdiri dan langsung mengambil seribu langkah, pergi dari keramaian di bawah tenda. Dan masuk ke dalam kelas.
Aku sudah tidak mendengar lagi apa yang di baca Munah, karena aku sudah tau isi dari puisi itu. Yang aku pertanyakan, dari mana Munah bisa mendapatkan puisi itu??
Aku meletakkan tas ke atas meja. Menjadikannya alas untuk kepalaku yang aku jatuhkan di atas meja. Seharusnya aku bangga, tapi bagaimana pendapat murid lain dan terutama guru? Pasti akan mengatakan bahwa aku terlalu sombong untuk sekedar mengakui karyaku.
"Eh apa ini?" Aku meraba lagi ke dalam laci. Lalu duduk dengan tegak, untuk melihat apa benda yang aku pegang.
"Coklat?" Aku melihat ke sekeliling kelas. Wus.. Hanya dan angin lewat dari arah depan, yang ternyata kipas angin sedang menyala. Kali ini tidak hanya satu, tapi ada dua. Apa ini double bonus Karena semalam libur sekolah?
Aku langsung membukanya, karena ku yakin coklat bisa membuat mood menjadi lebih baik. Selain dia manis, coklat juga warna kesukaan ku.
"Nara?" Aku mendongak, semula meletakkan kepala di atas meja sambil mengunyah coklat.
"Adam?" Aku duduk, tubuhku kenapa sekarang tiba-tiba lemas.
"Kau tidak apa-apa kan? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Aku reflek meraba wajahku sendiri, sepertinya tadi tidak. Hanya aku saja yang sepertinya mager dan malas melakukan sesuatu. Ibarat sedang lapar tapi tidak ingin makan, walau makanan sudah ada disamping ku.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kenapa kau kesini?" Aku merasa posisi ini sangat nyaman, menidurkan kepala di atas meja.
"Kau juga semalam sangat aneh, tiba-tiba mual dan muntah. Lalu pulang begitu saja. Kau sakit? Seharusnya kau jangan memaksakan diri untuk ikut semalam. Lihat, sekarang bahkan kau masih merasakannya kan?" Adam duduk di sebelahku, tempat dimana setiap harinya Munah duduk.
"Tidak, sudahlah."
"Itu tadi memang benar puisimu?" Aku mengangguk. "Dari isinya, sepertinya saat kau menulis itu ada sesuatu yang membuat hati dan pikiranmu terguncang?"
"Kau mau jadi peramal?" Adam malah tertawa. "Sudah sana, pasti kau meninggalkan Elena kan?" Adam diam tidak menjawab. "Sudah sana, aku tidak ingin Elena nantinya malah berpikir aku merebutmu darinya."
"Dia yang merebutku darimu." Hah? Aku langsung duduk dengan posisi normal dan menatapnya.
"Kau bicara apa?" Aku menudingnya dengan menunjuk wajahnya.
"Ah tidak." Membuang pandangannya dariku. "Kau makan coklat?" Aku mengangguk.
"Kau mau?" Adam diam dan malah tersenyum. "Ini?" Aku mematahkan coklat, dan menyodorkan ke arahnya. Maaf ya, jika harus memberinya coklat yang satu lagi, aku sangat tidak rela. Meksi aku tidak sama sekali tau siapa yang sengaja meletakkan coklat disini setiap harinya.
"Ak-" Adam malah memasukkan patahan coklat yang kuberi untuknya kedalam mulutku.
"Adam!" Dia tertawa, menatapku tanpa berkedip.
"Aku kan memberinya untukmu."
"Jangan kau pikir aku tidak tau, kalau sebenarnya kau tidak rela memberikannya padaku walau hanya secuil saja."
"Dari mana kau tau?" Mengunyah lagi, berbicara sambil mengunyah.
"Dari tatapanmu." Ha? Kali ini aku berhenti mengunyah sebentar. Aku tidak mengerti maksud ucapan Adam.
"Iya, tatapanmu masih sama seperti kemarin, sewaktu kau memberikan coklat itu padaku. Bukankah kemarin kau bilang kalau sebenarnya kau tidak rela membaginya?" Aku langsung tertawa. Iya benar, itu masuk akal. Adam ternyata pintar menyimpulkan sesuatu. Aku baru menyadarinya sekarang.
"Sekarang katakan kenapa kau malah pergi ketika tau kalau ternyata Munah ikut lomba dengan membawakan puisi karyamu?" Aku menunduk.
"Adam, apa kau juga akan menghakimi ku seperti perasaanku saat ini?"
"Bukan begitu, jangan karena hal sepele kau malah jadi bertengkar dengan Munah. Dia teman kita lho." Huaa.. Benar seharunya aku terharu karenanya. Adam merentangkan tangannya, memintaku untuk segera memeluknya. Ya ampun, aku nyaman sekali dengan posisi seperti ini. Andai ayah selalu merentangkan tangannya untukku. Mempersilahkan ku untuk melakukan semua yang aku suka, menceritakan segala kegundahan padanya. Aku ingin sekali rasanya. Mengaduh tentang teman, Hiks. Aku sampai meneteskan air mata, membasahi seragam milik Adam.
Dia terus menepuk pundakku. "Sudah."
__ADS_1
"Kak Adam?" Aku dan Adam langsung menoleh. Elena, bagaimana ini? Ya Tuhan, bagaimana pikiran Elena terhadapku nantinya?
"Kak, kenapa kau menangis? Apa kak Adam yang melakukannya?" Aku menatap wajah Adam, yang sama sekali tidak tegang seperti ku saat ini, dia bahkan masih bisa tersenyum saat Elena berjalan mendekat ke arahnya.
"Selain kuat, dia juga cengeng. Kau jangan seperti itu ya?" Mengelus lengan Elena dengan lembutnya, ya Tuhan. Aku merasa tersudutkan.
"Elena, maaf ya. Kau sempat melihat Adam dan aku berpelukan."
"Bukankah itu hal biasa kak?" Dia masih sempat tersenyum??? Apa dia tidak cemburu?
"Hal yang biasa dilakukan seorang teman. Memeluk, merangkul disaat kita merasakan sedih. Justru kakak bisa salah paham jika melihatku dan kak Adam berpelukan. Karena kami adalah sepasang kekasih yang mempunyai hubungan kak. Jadi, jika melakukan itu pasti orang-orang akan beranggapan yang tidak-tidak."
"Kau pintar sekali bicara." Elena merasa di puji dengan Adam, dia lagi-lagi tersenyum. Aku saja yang sejenis dengannya merasa gemas melihat wajahnya yang seperti anak-anak.
"Kakak yang mengajariku soal itu kan?" Adam membalas senyumannya.
Iya, aku akui itu. Elena bisa dikatakan seorang gadis yang sempurna. Selain baik, dia juga pengertian. Yang dulunya ku pikir, jika Adam ataupun Wahid. Ketika sudah memiliki kekasih tidak akan punya waktu untuk aku dan Munah. Tapi aku salah sepertinya, sejauh ini bahkan mereka malah lebih peduli denganku. Apa ini juga karena Adam merasa bersalah terhadapku?
"Kak, ponselmu berbunyi." Ah iya, ya ampun. Bisa-bisanya aku tenggelam dalam pikirkan ku sendiri.
"Hallo?"
"Nara? Kau pulang jam berapa?"
"Hem, seperti biasa Bu."
"Ya sudah, nanti ibu jemput."
"Eh tidak usah Bu." Yah, terlambat ibu sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Kenapa ibumu?" Adam langsung bertanya ketika melihat perubahan raut wajahku.
Elena yang masih ingin berada disini, menarik kursi lain dan ikut duduk.
"Ibuku mau jemput, tapi aku kan bawa mobil."
"Ya sudah, kau pulang saja dengan ibumu. Soal mobil nanti aku bisa meminta bantuan Wahid dan Munah untuk mengantarkan ke apartemen." Mataku berbinar. Adam, dia jahat hanya satu malam. Dan baik kepadaku setiap hari.
"Tidak merepotkan?" Aku memastikan sekali lagi.
"Bukankah sudah sering?" Aku tertawa kecil, benar. Benar yang dikatakan Adam.
"Jadi kau menyesal?"
"Elena, ayo?" Dua orang teman Elena berdiri di depan pintu kelas dan memanggilnya.
"Oh iya. Kak Nara, duluan ya. Kak Adam." Adam mengangguk. "Kak jangan buat kak Nara sedih." Seharusnya aku yang berbicara begitu Elena, jangan buat kau bersedih. Seharusnya aku yang mengatakan itu kepada Adam.
Suara langkah kaki Elena semakin menjauh, dan sampai tidak terdengar lagi.
"Yang tadi, sebelum teman Elena datang."
Aku mengingat perkataan apa yang aku katakan beberapa detik lalu.
"Menyesal?" Adam mengangguk. "Apa kau menyesal?"
"Iya. Aku memang menyesal." Adam menghembuskan nafas. "Aku menyesal sudah merusakmu."
"Bisakah kita membahas hal lain selain ini? Bukankah kita sudah sepakat untuk melupakannya? Dan aku sudah memaafkan mu?" Adam menunduk, menatap kakinya sendiri.
"Kau tau, ini juga tidak sepenuhnya salahmu. Ini juga salahku Dam."
"Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang sedang kau tutupi. Setiap malam aku selalu mimpi buruk."
"Itukan hanya perasaanmu saja. Kalaupun aku hamil, apa kau yakin aku mampu menutupinya sendiri?"
"Hamil? Siapa yang hamil?" Dua wanita sejoli yang sangat akan benci masuk, tanpa ada suara tiba-tiba memotong pembicaraan ku dan Adam. Jangan bilang dia sudah dengar dari awal pembicaraan ku dan Adam. Dan masuk dengan berpura-pura tidak tau.
"Ibuku yang hamil, kenapa?" Mida malah bertepuk tangan.
"Wow, amazing. Kau akan memiliki adik? Bagaimana ya rasanya? Sudah akan lulus sekolah, eh malah punya adik bayi." Aku melirik ke arah Adam, dia sudah menatap tajam ke arah Mida.
"Tidak memiliki saudara saja sudah seperti anak yang di buang. Apa lagi sampai memiliki adik, wah bisa-bisa kau di coret dari kartu keluarga." Mida tertawa puas sekali. Tertawanya sangat menyayat hatiku, bersama perkataannya barusan.
"Bisakah kau tidak mengacaukan pikiran seseorang? Bagaimana kalau saat ini kau ada di posisi Kinara?" Mida dan Sekar saling pandang lalu tertawa.
"Apa? Mana mungkin Adam." Mida tersenyum mengejek. "Tidak, maaf ya Kinara. Aku hanya bercanda. Aku datang kesini mencarimu hanya mau memberikan ini." Mida meletakkan ke atas meja, menyodorkan ke arahku.
"Itu undangan ulang tahun. Besok malam aku bakal adakan party, kau jangan sampai tidak datang ya. Maaf untuk semua perkataan ku." Aku belum bisa percaya begitu saja, pasti ada yang tidak beres. "Ini untukmu Dam. Jangan lupa bawa pacarmu ya?" Senyumnya manis, berubah drastis saat pertama dia masuk.
Mereka berlalu begitu saja, setelah memberi undangan. Aku membaca setiap tulisan yang tertera disana. Terutama mamaku, Mida menulisnya dengan lengkap. "Kinara Adnan Husein."
"Kau mau datang?" Aku masih bingung, kalau mengangguk berarti iyakan?
"Tenanglah, ada aku dan Munah. Bisa dipastikan Mida tidak berani berbuat macam-macam."
"Iya tapi aku tidak bisa janji ya. Soalnya terkadang mood kan bisa berubah kapan saja."
"Aku kira karena kau ada janji dengan yang lain."
"Siapa? Aku tidak pernah pergi kecuali dengan kalian kan?" Adam diam sebentar.
"Bukankah kau sudah punya teman baru? Lelaki yang photonya di kirim Munah." Hei, kenapa mereka suka sekali membahas hal itu sih.
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin aku mau pergi dengan orang yang baru aku kenal." Aku bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu.
"Benarkah? Siapa namanya?" Adam bertanya lagi.
"Satria." Ucapku sambil memainkan ponsel, baru juga disebut namanya, notif pesan darinya langsung muncul. "Panjang umur nih orangnya chatting aku." Memamerkan ke arah Adam.
"Ya sudah, kenapa tidak kau balas?" Adam melihatku yang malah memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Tidak penting. Aku bosan jika ada laki-laki yang bertanya sedang apa? Sudah makan? Memangnya dia juga begitu dengan orangtuanya? Tidak kan! Kalau laki-laki sudah menanyakan hal itu, pasti ujung-ujungnya akan meminta lebih, soal perasaan terutama."
"Kau tidak pernah pacaran, tapi kenapa malah seperti sudah memiliki pengalaman? Yang aku sendiri belum tentu bisa memahaminya." Aku tertawa kecil, benar juga ya? Padahal aku hanya bicara asal-asalan saja. Itu hanya menurutku, menurut pandanganku memang seperti itu.
"Nara, apa kau benar-benar tidak ingin merasakan jatuh cinta?" Aku tertegun, ini maksudnya apa??
"Aku tidak tertarik."
"Aku bisa mengajarimu."
"Caranya?"
"Kau bersedia membuka hati, aku akan melatihmu mulai dari sekarang."
"Adam sudahlah, sudah kubilang aku tidak tertarik."
"Nara??" Ini dia manusianya yang membuatku menangis hari ini. Munah Langsung berlari ke arahku.
"Kau sudah membuat Nara menangis hari ini. Harusnya kau meminta maaf." Adam mengedipkan matanya ke arahku. Oke, aku akan berakting. Kalau hanya hal itu mudah bagiku.
"Nara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencuri puisimu? Tapi kau dengar tadi kan, kalau aku bilang itu puisi milikmu? Hasil karyamu." Aku diam, Adam diam. Munah semakin bertingkah, dia memelukku dari belakang. Tubuhku sampai terasa sesak, karena pelukannya begitu erat.
"Nara, semua guru juga sudah tau. Terutama Bu Irma. Sebelum itu, aku sudah lebih dulu membicarakan ini dengannya. Nara maafkan aku, hiks. Aku lancang sudah mengambilnya tanpa ijin. Aku hanya ingin semua orang tau kau hebat dalam hal ini Nara. Maafkan aku."
"Katakan bagaimana kau mengambilnya?" Munah melepas pelukannya, dan berdiri tepat di samping ku. Aku tidak ingin menatap wajahnya yang memang benar-benar merasa bersalah. Bisa-bisa aktingku gagal dan malah tertawa.
"Sewaktu tas mu tertinggal di dalam mobil. Aku tidak sengaja menjatuhkannya, lalu aku melihat ada selembar kertas yang jatuh. Aku mengambilnya." Aku menarik nafas dan membuangnya secara kasar.
"Nara, maafkan aku."
"Nara sudah mengatakan bahwa tidak ingin mengenalmu lagi." Hei, kenapa Adam malah menjadi kompor.
"Benarkah begitu Nara?" Aku mengangguk lemah. "Nara, apa perlu bersujud di kakimu agar kau mau memaafkan ku?" Dia kembali memelukku. "Nara, hiks.." Dia menangis! Dia Menangis, aku sudah tidak tahan lagi rasanya. Aku benar-benar ingin tertawa sekarang.
"Oke sudah impas." Ucap Adam dan bertepuk tangan.
"Impas! Maksudnya?" Munah menghapus sisa air matanya.
"Ya kan kau sudah membuat Nara menangis, dan sekarang kau juga sudah menangis karena ulah Kinara. Bukankah itu sudah impas!" Aku melirik ke arah Munah.
"Apa?" Saat dia merubah posisinya menjadi berdiri di hadapanku.
"Kalian sengaja mengerjai ku ya?" Aku dan Adam saling pandang. Lalu menertawakan Munah yang wajahnya sudah di banjiri air mata. Dan kali ini berujung dengan pelukan yang terbalas, mana mungkin aku bisa berlama-lama marah dengannya, apa lagi sampai menjauhinya dengan hal sepele yang bermaksud hanya ingin membuatku senang.
Saatnya pulang, aku hanya mendengarkan Munah yang mengoceh sepanjang jalan, memamerkan hasil karyaku yang banyak di puji seluruh siswa ataupun para guru. Padahal, itu juga belum tentu menang. Pengumuman akan dilaksanakan besok. Karena mengingat waktu yang tidak cukup. Aku sudah berdiri di depan gerbang bersama Munah sekarang. Menunggu ibu datang menjemput.
"Itu, itu kan?" Munah menunjuk ke arah mobil yang baru saja berhenti. Aku menoleh ke belakang, mencari keberadaan Adam.
"Tunggu sebentar lagi, masih terlalu ramai." Munah mengangguk setuju.
"Eh, apa kau diundang dengan Mida?" Aku mengangguk, sambil menunggu kami berbincang, biarkan saja ibu juga menunggu.
"Iya, tadi sudah dibahas dengan Adam."
"Jadi kau datang?" Aku hanya mengangkat bahu. Meskipun dia tadi sempat mengucapkan kata maaf, tapi nada bicaranya seperti meremehkan.
"Nara?" Aku menoleh, akhirnya yang di tunggu datang.
"Itu ibuku, ayo. Kau tidak ingin menyapanya?" Aku menarik tangan Adam. Ibu langsung membuka kaca jendela mobil.
"Nara? Masuklah." Pandangan ku teralih pada sosok perempuan yang duduk di samping ibu. Enak sekali dia, setiap hari diantar jemput oleh ibu. Bukankah kalau hanya membeli mobil masih mampu?
"Itu ibumu?" Adam berbisik di telingaku. Aku mengangguk.
"Bu, ini temanku Adam." Ibu hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Adam juga membalas senyumnya dan mengangguk sopan.
"Dam, titip mobil ya?" Aku memberikan kunci kepada Adam, lalu masuk kedalam mobil.
"Hati-hati." Adam melambaikan tangan.
Aku duduk di belakang sendirian. Sudahlah, aku sudah lelah. Aku memilih memejamkan sebentar, menyandarkan tubuhku. Baru kali ini aku dijemput ibu pulang sekolah. Seumur hidup, baru kali ini. Bisa dibayangkan seperti apa rasanya? Ya, walaupun sebenarnya ibu menjemputku karena dia juga bilang sekalian akan menjemput Laras.
"Kak? Disekolah kakak ada acara ya?" Aku langsung membuka mataku.
"Iya, pentas seni."
"Wah, seru tuh. Kakak ikut?"
"Tidak, temanku yang ikut. Tapi memakai karyaku."
"Puisi?" Aku mengangguk.
"Jadi benar kata ibu ya, kalau kakak hobi sekali membuatnya. Kak, kalau aku ada tugas sekolah mengarang puisi, kakak bantu aku ya." Kenapa sok akrab sih? Lagian juga mana mungkin ibu menceritakan hal itu dengan Laras. Yang ada ibu terus memuji Laras di depanku.
Sepanjang jalan Laras terus mengoceh, tentang ibu dan temannya. Dan tidak segan dia juga memujiku. Aku sudah bosan di puji. Aku butuh kasih sayang ibu. Itu sudah lebih dari cukup membuatku semangat untuk hidup. Kira-kira bagaimana reaksi ibu kalau tau aku hamil? Ah pasti dia tidak akan mengakui aku sebagai anak.
__ADS_1
Bersambung..