
Menikmati malam duduk di dekat jendela memang salah satu kesukaanku. Memegang satu cemilan di tangan kiri, dan memangku ponsel yang sejak tadi hening. Sudah dua hari ini aku menunggu Iam memberi kabar padaku, semenjak aku meninggalkan nomor ponsel di bawah laci meja. Kertas itu sudah tidak ada yang berarti Iam memang sudah mengambilnya. Entah kenapa aku merasa sangat dekat dengannya saat ini. Apa benar dia teman satu kelasku? Dan aku juga teringat perkataan Adam. Untuk lebih memahami orang-orang di sekitarku.
Begitu aku mendengar bunyi notif di ponsel, aku langsung membukanya.
"Apakah kita bisa bertemu? Aku menunggu di taman kota."
Untuk apa lagi Satria mengajakku bertemu? Aku malu, dia sudah tau kalau aku hamil. Aku masih berpikir.
"Sekarang?"
"Iya." Heh.
Ku bongkar lemarin pakaian, mencari yang pas untuk ku pakai keluar malam ini. Meskipun Satria sudah tau, tapi tidak dengan yang lainnya. Aku tidak sabar menunggu dua bulan lagi. Setelah selesai ujian aku bisa bebas rebahan di dalam apartemen sambil menunggu kelahiran ku tiba. Rencana sudah aku buat, mengatakan kepada semua orang bahwa aku akan pergi keluar negeri setelah selesai ujian.
Aku membenarkan lagi switer yang aku pakai. Menggunakan topi jaket dan masker. Biarlah, anggap saja malam ini sedang dingin. Aku tersenyum saat membuka pintu mobil. Sudah lama sekali sepertinya. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dan menuju taman kota hanya 20 menit dari apartemen.
"Mbak, parkir ya." Aku mengangguk. Saat menepikan mobil diantara mobil lain ternyata juga harus membayar uang parkir. Gila, sekarang apapun bisa dijadikan uang ya! Padahal ini juga belum tentu tanah miliknya.
"Ambil aja ya kembaliannya mas." Aku melangkah setelah memberinya satu lembar uang seratus ribuan. Mungkin dia juga masih bingung kenapa banyak sekali. Sudah ku katakan, aku suka sedekah.
"Kak, aku sudah sampai?" Aku menelpon Satria saat sudah berdiri didekat lampu taman. Pandanganku menilik ke arah sekeliling.
"Kau dimana?" Aku mencoba memahami lagi dimana aku berdiri sekarang. Padahal tidak terlalu ramai, tapi kenapa sulit mencarinya.
"Aku ada di dekat lampu taman, pakai jaket hitam." Aku tau, Satria kesulitan mencari ku dengan aku menutupi wajahku.
Tanganku tiba-tiba saja di sentuh, di genggam. Aku menoleh, Satria tersenyum ke arahku. Tatapan matanya sudah berubah seperti pertama kali bertemu, bukan saat terakhir dia menemuiku. Mungkin saat itu kecewa denganku, tapi Satria juga belum mendengar penjelasan dariku kan. Berhenti di satu titik, aku tercengang. Kenapa sudah ada tikar disini? Menatap Satria dan dia mengangguk.
"Duduklah, aku takut kalau duduk di kursi taman akan membuatmu tidak nyaman." Aku tersenyum dan duduk. Ada beberapa cemilan dan minuman yang dia siapkan. Apa sudah direncanakan seminggu yang lalu? Persiapan sungguh sudah matang sepertinya.
"Nara, apa kau bisa memberitahu siapa ayah dari anak yang kau kandung?" Deg. Aku melirik ke arah sekitar. Sepi, untunglah kalau ada yang mendengar bagaimana? Aku menunduk lagi, dan hanya menggeleng.
"Tidak tau?" Aku diam.
"Kak, tolong jika ingin bertemu denganku jangan membahas masalah ini."
Aku sudah ingin pulang sekarang. Suasananya semakin tidak enak.
"Aku hanya ingin tau, kenapa kehamilanmu sampai disembunyikan. Jika benar dia tidak mau tanggung jawab, maka aku bersedia. Hanya saja aku ingin mendengar alasannya."
"Maaf kak, untuk apa aku melakukan itu? Aku saja tidak berminat untuk pacaran apa lagi menikah."
"Lalu, kenapa kau bisa sampai hamil? Kalau bukan awalnya kau pacaran, apa ini alasannya kau menolak untuk pacaran lagi? Karena kau sudah?" Satria mengentikan mulutnya berbicara, aku terdiam. Kenapa sakit mendengarnya? Sebagus apapun manusia jika sudah hamil diluar nikah, pandangan orang lain tidak pernah baik. Meskipun itu musibah yang tidak di inginkan. Mataku memanas, sungguh aku malah menjadi putus asa sekarang.
"Nara maaf." Satria mendongakkan wajahku dengan tangannya. "Kau menangis?" Aku langsung menepis tangannya yang berusaha menyentuh ku lagi. Dia beringsut mendekat.
"Nara, maaf. Maaf sekali, bukan maksudku seperti itu. Bagaimana orang yang tau tidak akan memandang rendah dirimu, jika kau saja tidak mengatakan bagaimana kau bisa hamil."
"Waktu itu aku mabuk, dan orang itu juga mabuk. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang sudah membuatku hamil, karena aku sadar jika itu kejadian diluar kendali. Aku, tidak mau menikah. Jadi aku lebih memilih menyembunyikan kehamilan ini. Tapi sekarang kakak sudah tau, dan aku yakin orang-orang juga akan tau." Perlahan, Satria menarik lenganku, membawaku ke pelukannya. Langit, kau jadi saksi saat ini. Tentang patah semangat ku. Tentang keraguan yang mengenal cinta. Padahal, seharusnya aku sudah mulai membuka hati. Untuk siapapun, itu pesan Adam agar aku selalu merasa dekat dengan orang-orang baik yang menyayangiku.
"Apakah kau mengenal orang itu?" Aku mengangguk dalam dekapannya. Sekali lagi aku memandang langit, bintang berkedip sempurna. Apa benar Satria tulus denganku? Bukan hanya memanfaatkan ku saja? Dalam situasi ini, terkadang banyak orang yang memakai topeng untuk mencari simpati, dan ujungnya tetap sama. Menjatuhkan ku ke dalam dasar jurang!
"Dan sering berjumpa dengannya?" Tidak, kali ini aku ragu untuk mengatakannya. Bagaimana kalau Satria mencari tau siapa orang itu. Tidak, aku harus tetap diam. Hingga dia juga memilih diam dan tidak bertanya lagi.
"Kak, jika kau simpati dan kasihan denganku. Cukup satu saja permintaanku. Tolong jaga rahasia ini." Aku kembali duduk dengan posisi awal. Bangkit dari dekapan Satria. Aku tau, dia lebih tua dariku. Dan soal pemikiran pasti sudah berbeda.
"Apa kau tidak merasa kasihan, ketika anakmu lahir nanti tidak memiliki ayah?" Aku diam lagi, mencerna kalimatnya.
Aku sudah pernah mendengar ini dari bi Gina, tapi sekali lagi balik ke status ku. Aku juga masih sekolah, aku ingin menerima kelulusan. Bukan menerima ijazah dengan mengambil paket C. Dan tentang keluargaku, status ayahku yang seorang pengusaha. Di kenal bukan hanya dikalangan bisnis, tapi juga masyarakat. Usahanya yang banyak diminati orang. Pasti aku akan menjadi topik utama dalam berita nantinya. Kasihan ayah.
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi." Aku tersenyum. Terima kasih, hanya di dalam hati. Terima kasih untuk tidak membahas hal ini lagi.
"Kita kesana?" Satria menunjuk penjual gelembung sabun.
"Eh mau ngapain kak?"
"Mau beli." Aku menggeleng.
"Tidak kak, aku disini saja. Mataku terlihat sembab jika habis menangis."
"Baiklah tunggu disini." Aku mengangguk. Kenapa ada penjual gelembung sabun disini? Bukankah ini taman kota yang kalau malam lebih banyak anak muda berpacaran?
Aku mengambil minuman yang sudah Satria sediakan, membuka tutupnya dan meneguk hingga setengah botol. Ponselku bergetar, melihat ke arah layar. Adam? Sebelum menjawab panggilan dari Adam aku menoleh ke arah Satria. Dia masih berdiri di samping penjual, memilih yang mana akan dia beli. Dasar, ternyata melebihi anak kecil.
"Hallo?"
"Nara, kau dimana?"
"Aku, aku ada di taman kota Dam." Melirik lagi ke arah Satria.
"Taman kota? Sama siapa?"
"Aku eh sendiri."
"Aku kesana sekarang."
"Eh, jangan Dam. Tidak aku bersama temanku."
"Temanmu? Munah?"
"Bukan."
"Laki-laki?" Kenapa aku takut kalau jujur dengan Adam. Ah gila, perasaan segan macam apa ini!
"Iya, nanti aku telepon lagi ya." Aku langsung mematikan sambungan telepon saat Satria berjalan mendekat. Aku tersenyum saat dia menyodorkan gelembung sabun ke arahku.
"Siapa yang menelepon?" Aku meletakkan ponsel di samping ku duduk.
"Temanku, hanya menanyakan tugas sekolah." Jawabku, sudah banyak sekali dosaku sepertinya. Setiap hari harus berbohong.
"Oh. Kau pintar tidak?" Aku tertawa kecil, sambil membuka tutup botol.
"Tidak."
__ADS_1
"Kita tiup sama-sama ya?" Aku mengangguk. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Gelembung itu mengapung di udara, terbawa angin dan terbang sesuka hati. Semakin banyak aku dan Satria meniup maka akan semakin ramai. Iya, saat ini aku malah merasa tengah dikelilingi kupu-kupu. Tanpa sayap mereka bisa terbang. Aku tertawa saat Satria meniup ke arahku.
"Kak, tolong photokan aku ya?" Aku menyodorkan ponsel padanya, bergaya dengan didampingi gelembung yang belum pecah.
"Terimakasih." Ucapku dan menerima kembali ponselku. Aku langsung meng-upload photo di story' akun sosial media milikku.
Baru Lima menit, sudah ramai saja yang berkomentar.
"Cie, kau sama siapa?" Munah.
"Ada yang sedang jatuh cinta sepertinya." Wahid.
"Enak sekali main gelembung, pantas saja aku tidak boleh kesana." Adam.
"Aku menunggumu pulang." Adam.
"Kak, cantik sekali malam ini."
"Bidadari tak bersayap." Satria.
"Hei, kak kenapa kau juga ikut komentar sih!" Aku tertawa dan memukul lengannya. "Apa-apaan bidadari tak bersayap." Aku memilih meletakkan ponsel dan bermain lagi dengan gelembung.
"Kalau di luar negeri sewaktu aku kuliah. Setiap aku pulang kuliah, aku melihat banyak anak-anak yang bermain gelembung. Sepertinya asik jika bermain itu, tapi saat aku pulang kesini. Aku bahkan tidak pernah melihat anak-anak bermain gelembung. Yang ada anak-anak malah lebih memilih bermain ponsel."
"Jaman sudah canggih kak." Aku tertawa, tidak puas rasanya hanya duduk, aku berdiri. Ternyata bukan hanya aku dan Satria saja yang bermain gelembung, tetapi juga pasangan lain ada. Berarti sekarang, anak-anak yang suka menjadi orang dewasa, dan orang dewasa malah lebih suka menjadi anak-anak.
Aku juga rindu masa kecilku, berlarian tanpa masalah. Selalu tersenyum setiap hari, hanya menangis jika mendengar ayah dan ibu betengkar. Aku menginjak botol minuman, dan akan terjatuh.
"Eh." Untungnya Satria dengan sigap menopang tubuhku. Posisi ini, seperti yang ada di film. Mata kami saling bertemu hingga beberapa detik.
"Maaf kak."
"Kau harusnya lebih berhati-hati Nara. Apa kau ingin jika an-"
"Kak!" Aku meletakkan jari di bibir dan memintanya tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat ini ada beberapa pasang mata yang menatap ke arahku. Mungkin karena tadi aku sempat menjerit ketika hampir jatuh.
"Mereka juga pasti mengira kau istriku jika mereka tau kau sedang hamil." Dia berbisik di telingaku, kata-katanya membuatku merinding. Istri? Aku jadi ingin tertawa sekarang.
"Aku menunggu di apartemen." Pesan singkat dari Adam ketika notif di ponselku berbunyi.
"Kak?" Aku menatap ke arah Satria.
"Kenapa?" Jawabnya tanpa berkedip membalas tatapanku.
"Kak kau menyeramkan jika menatap orang seperti itu."
"Pfftt.." Dia malah mengelus puncak kepalaku dan menarik hidungku.
"Kau lucu sekali, pasti nanti anakmu juga lucu." Tersenyum dan menaikturunkan alisnya.
"Kak!!"
"Nara, aku menyayangimu sepertinya." Hah? Maksudnya.
"Sepertinya?" Aku bahkan sampai mengerutkan keningku. Kenapa harus ada kata sepertinya? Bukankah itu artinya tidak yakin.
"Benarkah?" Eh kenapa wajah Satria berbinar sekarang.
"Iya, aku jadi merasa memiliki seorang kakak sekarang."
"Oh." Jawabnya singkat dan membereskan bungkus makanan yang dia makan sendiri.
"Kak, maaf ya aku harus pulang sekarang. Ini sudah malam." Tanganku menunjuk ke arah langit, padahal tanpa aku menunjuknya Satria juga tau jika ini gelap.
"Apa kau mau aku mengantarmu?" Aku menggeleng, untuk apa? Aku juga membawa mobil.
"Tidak usah kak, aku duluan ya?" Aku berdiri dan menyambar ponselku.
"Tunggu, kita barengan jalannya Nara!" Oh iya, haha ternyata Satria juga ingin pulang. Baiklah aku menunggunya, berjalan beriringan sepertinya asik juga.
"Hati-hati dijalan ya kak."
"Kau juga harus hati-hati." Aku mengangguk dan tersenyum. Tanganku sudah menyentuh pintu mobil.
"Eh Kinara tunggu." Aku menoleh, tanpa aba-aba Satria menarikku dalam pelukannya. Lalu melepas dan mengecup bibir ini dengan singkat. Dan mengucapkan kata maaf sebelum meninggalkan ku yang mematung sambil menyentuh bibirku sendiri.
"Kenapa semua lelaki sama saja? Tidak pernah meminta ijin terlebih dahulu?" Aku menutup pintu mobil dengan kencangnya. Jantungku berdegup sangat kencang saat ini. Kemarin Adam dan sekarang Satria? Adam, kalau dia aku merasa tidak heran ataupun dirugikan. Ah, tapi kenapa harus Satria sekarang!! Ya Tuhan, apa dia mulai menganggap ku rendah? Karena aku hamil di luar nikah? Begitu?? Aku benar-benar sudah kehilangan harga diri sejak malam itu, malam aku dan Adam membuat dosa terbesar selama hidup.
Aku membawa mobil tidak sesantai saat pergi. Sengaja melampiaskan marahku malam ini dengan kebut-kebutan! Biarlah, jika aku mengalami kecelakaan lalu mati itu kurasa lebih baik dari pada hidup seperti sekarang ini.
***
Aku melihat Adam sudah berdiri di depan pintu apartemen. Dia benar-benar menungguku, aku yang saat ini masih emosi hanya meliriknya sesaat. Lalu membuka pintu dan membantingnya kembali.
"Nara, kau kenapa?"
Dia juga mengikuti masuk ke dalam, padahal tadi sempat kaget saat aku menutup pintu dengan kecangnya. Aku duduk di sofa, wajahku saat ini pasti sangat jelek sekali bila dilihat. Berkali-kali ku usap bibirku. Tak puas rasanya, aku membanting tas ku ke atas meja.
"Kau marah padaku?" Aku hanya menggeleng. Adam duduk di sampingku.
"Ah kenapa laki-laki semuanya sama saja sih!!"
"Sebaiknya kau katakan, kau kenapa?" Aku diam, melirik ke arah Adam. Apa aku harus mengatakannya? Tidak mungkin kan?
"Ada yang menciumku tanpa meminta ijin."
"Apa?" Adam malah kaget setelah mendengarku berbicara. "Siapa? Apa laki-laki yang kau temui tadi?" Aku mengangguk. "Siapa namanya? Aku lupa."
"Satria."
"Namanya seperti pahlawan, sepertinya tidak mungkin melakukan hal itu." Eh, kenapa dia malah membela sesamanya!
"Maaf, aku juga terkadang mencium tanpa meminta ijin."
__ADS_1
"Kalau kau berbeda Adam?" Eh, aku langsung menutup mulutku. Sama saja! Tidak ada yang berbeda!!
"Benarkah? Berarti aku istimewa?" Aku meliriknya, tidak. Kau hanya temanku!
"Maksudnya, kau kan temanku."
"Hanya teman?" Aku mengangguk. Dan juga kau adalah ayah dari anakku.
"Katakan, dimana alamat rumahnya. Tunjukkan padaku, yang mana orangnya? Biar aku pukul dia karena telah merugikan mu." Dengan gayanya mengepalkan tangan. Aku malah ingin tertawa melihat reaksinya.
"Tidak perlu! Kau pasti kalah dengannya. Dia lebih tinggi darimu, tubuhnya juga kekar."
"Hei, kenapa kau malah membandingkan aku dengannya? Seperti apa sih Satria itu!!" Adam malah menggebrak meja. Apa? Dia tidak terima kalau itu memang kenyataannya. Soal ketampanan, bagiku mereka sama.
Aku jadi teringat, bukankah tadi Satria melamarku? Memintaku untuk menjadi istrinya.
"Tidak-tidak." Aku menggeleng pelan.
"Apanya yang tidak?" Eh, aku jadi kikuk sendiri.
"Apa kau mau minum?" Adam mengangguk, aku bangkit dan berjalan ke arah dapur. Bukan hanya Adam yang haus, aku juga. Aku meneguk air dingin hingga tandas satu gelas, rasanya masih kurang nambah lagi. Lalu berdiri mematung, sebenarnya bagaimana tujuan hidupku saat ini? Mendengar orang lain berbicara seperti merendahkan ku aku langsung kehilangan semangat. Ah, aku seperti orang yang tidak mempunyai pendirian.
"Nara? Apa kau baik-baik saja di dapur?" Eh, sudah berapa lama aku berdiri melamun? Aku langsung menyambar gelas dan membawa satu botol air dingin untuk Adam.
"Ini." Aku meletakkannya di atas meja.
"Nara? Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Aku mengangguk.
"Munah bertanya padaku, kenapa kau menjauhinya? Apa dia memiliki salah?" Aku mengerutkan keningku. Apa segitunya sikapku dengan Munah?
"Tidak, dia tidak memiliki kesalahan." Elakku.
"Lalu?" Aku menggeleng, tidak mungkin aku mengatakannya Adam!!
"Sudahlah, itu hanya firasat kalian saja!" Adam diam. "Eh sebentar ya." Aku mengangkat telepon, nomor tidak dikenal, siapa?
"Hallo?"
"Nara, ini Tante sayang."
"Tante Intan?" Kenapa aku merasa bersemangat mendengarnya.
"Iya. Hehe. Ada yang ingin Tante katakan mengenai temanmu itu?" Aku melirik ke arah Adam. Lalu mengambil dua langkah lebih jauh darinya.
"Benarkah Tante?"
"Iya. Ayahmu bilang, kalau sebenarnya keluarga temanmu itu memiliki masalah yang bersangkutan dengan hukum. Sehingga mereka memang memilih untuk tidak berkomunikasi dengan sembarang orang. Tapi mengenai masalah apa, Tante tidak tau."
"Tante, makasih ya. Segini saja sudah cukup bagiku."
"Tapi Tante janji, Tante akan bertanya lagi dengan ayahmu. Tante yakin kalau sebenarnya ayahmu juga tau hal ini."
"Iya Tante."
Setelah menutup telepon, aku kembali duduk.
"Siapa?" Adam bertanya, tapi suaranya terdengar dingin.
"Tante Intan, istri ayah." Adam mengangguk. "Adam, sepertinya tebakan ku benar. Keluarganya Iam sedang tersandung masalah. Makannya mereka tidak bisa berkomunikasi atau berinteraksi ke sembarangan orang." Adam mengerutkan keningnya.
"Dari mana kau tau?"
"Tante Intan yang mengatakannya, karena aku memintanya untuk bertanya pada ayahku. Aku yakin kalau sebenarnya pasti ayahku tau. Hanya saja dia menutupinya dan tidak mau mengatakannya padaku langsung." Adam mengangguk lagi. "Menurutmu bagaimana?"
"Jika firasat mu juga begitu, mungkin memang itu kebenarannya."
"Heh." Aku menghela nafas. "Tapi kenapa ya, dia juga belum menghubungi ku. Padahal, aku sudah memberinya nomor ponselku, apa segitunya privasi kehidupannya." Aku menyadarkan tubuhku di sofa.
"Sudahlah, kenapa kau malah memikirkan hal itu? Lebih baik pikirkan dulu pelajaran sekolah, jangan lupa besok kita ada praktek olahraga di lapangan." Aku langsung mengubah posisi dudukku menjadi tegak.
"Praktek olahraga di lapangan?" Adam mengangguk.
"Untuk nilai tambahan. Apakah kau tidak mendengarnya kemarin? Bukankah kau juga masuk." Aku terdiam, benar belakangan ini aku tidak fokus belajar. Guru mengatakan apa aku juga tidak tau.
"Palingan juga hanya berlari keliling lapangan."
"Berlari keliling lapangan?" Ku pastikan sekali perkataan Adam.
"Kenapa kau begitu takut sih?" Gila, aku tidak boleh panik.
"Tidak, aku baru saja datang bulan. Nyeri di perutku belum hilang, aku takut jika berlari malah mempengaruhi kondisi ku."
"Kau bisa mengatakannya nanti kepada guru." Aku mengangguk. "Aku juga akan membantumu menjelaskan."
"Terima kasih."
"Nara, kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan?" Aku menggeleng. Jangan bahas ini, cari topik lain.
"Eh Dam. Bukankah aku sudah janji akan memasakkan mu sup?" Adam mengangguk. "Kalau begitu, jika kau besok membantuku berbicara kepada guru dan berhasil, sepulang sekolah aku akan memasakkan sup untukmu. Aku akan meminta bi Gina untuk membelikan daging."
"Kau janji?" Aku mengangguk antusias.
"Kalau begitu kau pulang sekarang, istirahat agar besok saat berlari kau lebih semangat. Jangan lupa sambil Berteriak makan sup!" Aku tertawa sendiri, kata-kataku benarkan?
"Kau mengusirku dengan kalimat yang pas!" Adam bangkit dari duduknya, lalu mendekat ke arahku.
"Nara? Apa aku boleh mencium mu?" Hah? Deg. Gila, kenapa dia berbicara begitu. "Kau kan merasa risih setelah dicium orang asing. Maka aku akan menghapusnya." Hei, alasan macam ini!
"Boleh?" Aku menunduk saat pandanganku bertemu, lalu mengangguk. Aku merasakan kehangatan saat bibir kami bertemu, Adam tidak langsung melepasnya. Hingga aku mundur satu langkah dan Adam tersadar.
"Maaf. Aku tidak ingin ada orang lain yang melecehkan mu. Cukup aku saja." Apa? Apa maksudnya?
"Aku menyayangimu." Lagi-lagi Adam membuatku tidak bisa membuka mulut. Aku seperti tengah terhipnotis mendengar kata-katanya.
__ADS_1
"Tidurlah, semangat untuk besok." Aku mengangguk, lalu menutup pintu dan bersandar. Memegang jantung yang berdetak tidak stabil. Perlahan tanganku turun dan berhenti tepat di perutku. Mengelusnya sambil tersenyum. Aku tidak bisa mencintai orang lain, tapi aku senang rasanya di cintai.
Bersambung..