Langit Mendung

Langit Mendung
Tidak bisa menolak Satria


__ADS_3

Aku seperti orang linglung sekarang, entah darimana asalnya aku bisa berada ditempat ini. Duduk bersama keluarga yang asing, karena baru sekali ini aku menemui mereka. Dan untungnya aku tidak pergi sendiri kesini, aku didampingi Munah. Semenjak dia tau kalau aku sedang hamil, Munah lebih perhatian padaku. Bahkan jauh saat sebelum aku mengalami ini.


"Apakah kabarmu sehat?"


"Sehat pak."


"Saya sengaja meminta kau datang kesini, terima kasih Munah sudah menyampaikan pesan saya." Munah mengangguk. "Tunggulah, akan saya panggilkan istri dan anak saya." Aku tersenyum menjawab ucapannya. Ah dia guruku, guru yang katanya memiliki skandal denganku. Aku tidak habis pikir, bagaimana cara orang itu yang katanya paman dari Elena bisa mengambil semua photoku secara diam-diam, tanpa aku bisa mengetahuinya.


"Yang mana Kinara?" Seorang perempuan cantik, hanya saja penampilannya sederhana. Jika dilihat, pasti dia juga sebaya dengan ibu. Aku tersenyum dan mengangguk, lalu mengatakan bahwa akulah yang bernama Kinara. Tanpa basa-basi, dia langsung duduk di sampingku. Mengelus lenganku, lalu matanya berkaca-kaca.


"Kau anak yang baik. Kau hanya membantu suamiku memberi kejutan ulang tahun untukku. Tapi kenapa ada saja orang yang menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentangmu."


"Semua itu sudah takdir Tuhan bibi." Kali ini dia merangkul ku, senyum hangat keluar dari bibirnya. Begitu juga dengan pak Effendi.


"Ini anak saya." Dia merangkul perempuan cantik, aku tau itu pasti anaknya yang tidak bisa melihat. Tidak seperti aku dan Munah. Dia cantik, sama seperti ibunya. Tersenyum padaku, meskipun arahnya tidak padaku. Aku bisa memaklumi itu.


"Kinara, apa ayahmu sudah tau soal ini?" Aku mengangguk lagi.


"Ayah sudah tau. Ayah juga sudah tau siapa pelakunya pak. Tapi aku meminta ayah untuk tidak menuntutnya."


"Kenapa? Bukankah itu sudah termasuk pencemaran nama baik, dengan memfitnah seseorang?"


"Tidak pak. Biar Tuhan saja yang menegurnya."


Pak Effendi dan istrinya tersenyum padaku. Aku dan Munah saling pandang. Berapa lama lagi aku duduk disini? Aku sudah sangat merasa sesak.


"Beberapa hari lagi sudah ujian kelulusan kalian."


Waktu memang terlalu cepat, tidak terasa. Dan aku berharap, saat hari itu tiba aku masih bisa melihat Adam. Sampai saat ini, Adam belum juga mengubungiku. Dia menjauhiku, apa karena aku sudah tau tentang penyakitnya? Dan berpikir bahwa aku juga akan menjauhinya setelah mengetahui penyakitnya? Aku bukan tipe orang yang seperti itu!


"Apa kau sudah mempelajari tentang soal ujian nanti?"


"Sudah pak, Munah membantuku soal itu." Aku melirik lagi ke arah Munah, ayolah ajak aku pulang atau setidaknya memberi kode. Aku sudah tidak betah.


"Ayah, apa kak Kinara cantik?" Aku hampir tertawa mendengarnya. Dia tidak salah menanyakan hal itu, tidak sama sekali. Aku tau, dia juga ingin melihat secara langsung. Bukan hanya melihat wajahku saja, tapi juga ingin melihat indahnya dunia kan?


"Menurutmu bagaimana?"


"Cantik, aku bisa menebak dari suaranya."


Tawa renyah keluar begitu saja dari mulutku, bagaimana bisa ada orang yang menebak rupa hanya dengan mendengar suaranya saja. Ah anak dari pak Effendi ternyata benar-benar cantik, dan bukan hanya cantik. Dia juga manis ketika tertawa. Cantiknya begitu natural, jika tertawa akan terlihat gigi cakilnya.


"Kalau aku bagaimana?" Munah mendaftar, eh apa dia pikir anak pak Effendi ini adalah cenayang?


"Hem, kalau kakak juga cantik. Tapi kakak cerewet."


"Ahhhhhhhhh kenapa dia bisa benar sih?" Nah kan yang diramalkan malah protes, malah bergelayut denganku lagi. Munah, apa kau tidak sadar jika membawa tubuhku sendiri saja sudah terasa berat.


"Kak, bisakah kakak buatkan puisi untukku?" Deg. Bagaimana caranya dia membaca? "Hehe, maaf kak. Tapi aku juga ingin kakak yang membacanya untukku."


Baiklah, ini adalah sebuah permintaan. Dia yang belum pernah melihat dunia, jika satu saja keinginannya dituruti bukankah ada bahagia yang tercipta walaupun hanya bisa mendengar?


"Mau sekarang?" Ah mana mungkin aku bisa memikirkan begitu cepat.


"Kalau kakak tidak keberatan." Aku mengangguk, istri pak Effendi langsung menyiapkan kertas dan pena untukku. Sengaja pergi meninggalkan kami disini, hanya tinggal bertiga. Munah berpindah duduk disamping anak pak Effendi. Aku mulai fokus menatap kertas, hanya saja pikiranku tidak disini. Aku harus membuat puisi yang bisa membuatnya mendengar itu sebagai motivasi.


Munah mengajaknya berbicara, menanyakan beberapa hal. Dan aku, tetap masih berpikir. Meskipun saat ini masih dipenuhi oleh rasa rindu dengan Adam.


Aku berkutat beberapa menit, baru mendapatkan empat baris saja. Aku memegang kepala, terasa pusing.


"Anakku, bantulah ibu berpikir." Aku berbicara pelan sambil mengelus perutku.


"Nara, apa sudah selesai?"


"Eh belum. Tunggulah sebentar lagi."


"Harapan"


Bergumam dalam doa..


Bersyukur dengan semuanya..


Meski tidak pernah melihat indahnya langit..


Meski tidak pernah melihat indahnya dunia..


Rumput, aku ingin menyentuhmu..


Merasakan gelitik di bagian jari..


Angin berhembus menerpa wajah..


Menyadarkan bagaimana keadaan dunia..


Merasakan pelukan hangat..


Merasakan sentuhan lembut..


Sentuhan menuntun kemana arah aku ingin pergi..


Rasa yang aku miliki tanpa bisa melihat..


Denyut nadi adalah tanda bahwa aku masih hidup..


Berjuang untuk melihat dunia dan berbicara dengan angin..


Tuhan.. Bisakah kau perlihatkan satu saja indahnya ciptaan mu..


Sambil menggenggam tangan orang-orang yang selalu menyentuhku..


Disaat aku merasakan kegelapan..


Aku membacanya dengan nada bergetar, menahan tangis. Meskipun puisi yang aku buat tidak terlalu menyentuh bagi siapapun yang tidak tau untuk siapa puisi ini aku tulis. Tapi aku tau, jika orang yang ada didalam puisi yang aku buat sekarang, dia sangat ingin melihat dunia. Melihat matahari tenggelam, melihat bulan menghias malam dengan indahnya. Dan bintang, yang selalu menemani disaat langit malam sedang cerah.


Kertas aku serahkan kepada anaknya pak Effendi, kulihat dia sudah menjatuhkan air mata. Tuhan, meskipun dia tidak melihat, tapi dia bisa mendengar. Dia juga bisa menangis.


"Kak, terima kasih." Ucapnya tulus, dia mengulurkan tangannya minta dipeluk. Dengan senang hati, ku serahkan tubuhku. Ku tepuk hangat pundaknya.


"Kak, apa kau pernah ikut lomba puisi? Semua karya lmu sungguh menyentuh ku."


"Dia hanya sering ikut pentas seni disekolah, dan dia selalu menang." Dengan bangganya Munah memamerkan prestasi yang aku punya.


"Benarkah? Wah, semoga kedepannya kakak menjadi orang sukses ya?" Aku tersenyum, tidakkah dia tau jika entah bagaimana masa depanku sekarang.


Saat derap langkah kaki mendekat, kami serentak menoleh. Kedua orang tuanya datang dengan bertepuk tangan dan tersenyum senang.

__ADS_1


"Bagus sekali puisi yang kau buat."


"Tidak bibi, itu hanya sekedar pemikiran biasa. Aku menuangkannya melalui kertas dan pena."


"Kau terlalu merendah." Dia mengelus puncak kepalaku. Kenapa aku malah selalu mendapatkan kasih sayang dari ibu orang lain? Kenapa ibuku tidak begini? Tuhan, maafkan aku yang sering protes dengan apa yang aku punya.


Aku dan Munah tidak bisa pamit pulang begitu saja. Menolak tawaran makan bersama rasanya susah, apa lagi sudah tersedia makanan di meja. Dan piring untukku juga Munah. Bagaimana bisa kami menolaknya? Kedua orang tua ini akan terlihat kecewa jika kami pergi begitu saja, tanpa mencicipi hidangan yang sudah dimasak.


Selesai makan, aku dan Munah langsung saja pamit untuk pulang. Kali ini mereka tidak menghalanginya lagi. Beribu ucapan terima kasih ku dengar beberapa menit selama ada dirumah ini. Ah walaupun aku berlebihan dengan mengatakan ribuan kali. Dan terakhir yang aku dengar adalah permintaan maaf dari istri pak Effendi.


"Kalau saja waktu itu kau tidak membuatkan puisi sebagai kado ulang tahun, pasti kau masih bisa sekolah sekarang."


"Tidak bibi, sudahlah." Aku tersenyum lagi. Mereka mengantarkan aku dan Munah hingga keluar rumah. Berdiri diteras rumahnya sambil melambaikan tangan ketika mobil sudah bergerak maju.


"Nara, ponselmu berdering." Benar, aku tidak menyadarinya. "Angkatlah siapa tahu itu penting."


"Aku rindu dengan Adam."


"Iya aku tau, angkatlah siapa tahu itu Adam." Ah iya Munah benar. Aku langsung mengeluarkan ponselku dari dalam tas selempang milikku. Ku lihat layar ponsel, lalu menoleh ke arah Munah.


"Ayahku." Ku geser layar dengan satu tangan, lalu menempelkan ketelingaku.


"Iya ayah?"


"Ke rumah ibumu sekarang."


"Memangnya ada apa yah?"


"Datang saja. Dengarkanlah perkataan ayah kali ini. Dia sangat membutuhkanmu saat ini."


"Baiklah." Aku menoleh ke arah Munah setelah menutup panggilan telepon.


Satu lagi, masalah yang tidak pernah kelar. Berdamai dengan ayah kenapa tidak sulit, tapi dengan ibu. Ah aku terlalu sakit jika harus membayangkannya. Jujur, aku terpaksa melakukan ini, perintah ayah untuk datang kerumah ibu. Aku terpaksa melakukannya!


"Munah, jika kau ingin pulang aku akan mengantarmu."


"Tidak, memangnya kau mau kemana?"


"Aku mau kerumah ibu."


"Aku ikut." Aku mengangguk, dan sebenarnya memang aku sangat berharap jika Munah mau ikut denganku.


"Ayahmu yang meminta?"


"Iya, aku hanya menuruti kemauannya."


Hari terakhir saat bertemu ibu, aku meninggalkannya disaat dia masih terbaring lemah di atas banker rumah sakit. Dan hari itu juga, aku sempat memakinya. Hari ini, aku datang lagi. Entah harus bersikap bagaimana nantinya. Tapi, jika dia mengusirku aku akan pulang dan tidak akan lagi menemuinya seumur hidupku.


"Sudah sampai, ayo turun. Kau memikirkan apa sekarang?" Aku melirik kearah Munah. Ini juga rumahku kan? Tapi aku sudah asing dengan rumah ini. Ah kenapa sih! Belum lagi harus bertemu dengan adik tiri ku.


"Kita pulang saja ya?" Munah langsung menahan kedua tanganku.


"Kau gila ya! Ingatlah dia ibumu. Sudah saatnya kau tanyakan apa masalah yang terjadi dengan ayah dan ibumu dulu. Mungkin ini sudah saatnya Nara. Kau juga sudah dewasa, dan bukankah sebentar lagi kau juga menjadi seorang ibu?" Deg.


"Baiklah."


Aku masuk kedalam, bertanya kepada penjaga ataupun pelayan yang aku temui. Tapi jawaban mereka semua sama, ibu tidak keluar kamar sejak semalam. Pintunya juga dikunci, yang berarti ibu juga tidak makan apapun. Tapi satu yang mengganjal pikiranku, kemana anak dan suaminya itu? Mereka tidak terlihat disini. Dan kalau ibu berada didalam kamar sejak semalam. Bukankah itu artinya ibu sendirian?


"Tunggu, dimana om Asraf dan Laras?" Kedua pelayan ini malah saling pandang. Wajah sendunya membuatku bisa menebak kalau ada sesuatu yang terjadi. Apa ini alasan ayah memintaku untuk datang? Ah dasar, berarti aku hanya dibutuhkan disaat dia sudah sendiri.


"Munah?"


"Tidak, aku menunggu disini saja. Kau saja yang naik ke atas." Aku mengangguk. Melangkah menaiki anak tangga menuju kamar ibu.


Tok.. Tok.. Aku mulai mengetuk pintu.


"Aku datang!" Tidak ada suara apapun didalam. Yang awalnya aku masih biasa saja. Tidak memiliki rasa khawatir. Tapi setelah beberapa menit aku berdiri dan mengetuk, tetap saja tidak ada jawaban.


Perasaan semakin tidak enak, yang aku benar-benar khawatir sekarang.


"Ibu bukalah! Aku datang." Jika saja aku sedang tidak hamil, aku pasti akan mendobrak pintunya.


"Munah, tolong panggilkan beberapa penjaga rumah, sekarang." Aku berteriak dari atas, dan Munah yang mendengar juga langsung sigap berdiri. Dia berjalan ke arah luar. Aku berjalan mondar-mandir gelisah. Menggigit satu jariku. Jika ibu meninggal bunuh diri? Ah apa mungkin dia melakukan hal itu! Sebenarnya apa yang terjadi sekarang?


Ayah! Aku harus menelpon ayahku!


"Ah sial, kenapa tidak aktif sih!"


"Nara?" Akhirnya, Munah datang membawa tiga penjaga rumah ibu.


"Tolong, dobrak saja pintunya aku takut terjadi sesuatu kepada ibu didalam."


"Baik nona." Munah menarik tanganku sedikit menjauh dari pintu kamar ibu. Mereka yang siap sudah membuat ancang-ancang.


"Satu, dua." Serentak teriak dan mendobrak pintu. Belum, pintu belum berhasil dibuka.


"Coba lagi." Dan bruk, pintu terbuka. Munah menahan lagi tanganku agar tidak berlari.


"Ingatlah kau tidak sendirian." Aku mengerti maksudnya, berjalan saja kasian anak yang ada dalam kandunganku. Aku melihat kearah tempat tidur. Tidak ada siapapun disana, bahkan selimut masih tersusun dengan rapi.


"Nara, kamar mandi." Eh iya, ada suara keran air yang hidup. Aku beralih ke kamar mandi. Aku menoleh dan tiga penjaga masih setia menunggu di depan pintu kamar.


"Ibu!" Ku panggil berkali-kali, tapi tidak ada sahutan. Tanganku sudah memegang handle pintu, dan untungnya tidak dikunci.


Apa yang aku lihat sekarang?


"Ibu?" Aku berteriak, melihat ibu yang terbaring dengan pakaiannya yang lengkap, tapi seluruhnya basah karena air tidak dimatikan. Lagi-lagi Munah melarang ku untuk bertindak.


"Tolong." Munah berteriak, agar penjaga itu datang. Sungguh, tubuhku melemas sekarang. Entahlah, kenapa aku jadi takut sekarang? Aku takut jika harus kehilangan ibu.


***


Aku sudah duduk disebuah kursi empuk yang disediakan disebelah tempat tidur. Aku sampai tertidur disini. Aku mengerjab, melihat ke sekeliling, aku berada dikamar rumah sakit sekarang. Ku lihat wajah pucat yang sedang tidur.


"Ibu." Aku memanggilnya dengan lirih.


"Kinara?" Yang aku kira ibu memanggilku, ternyata itu Munah yang duduk di sofa ruangan.


"Kau lelah? Kau bahkan sampai tertidur?" Aku mengangguk. Ternyata Munah masih setia disini.


"Munah, kau pulanglah. Kau juga harus istirahat, bukankah besok juga masuk sekolah? Sudah cukup merepotkanmu hari ini." Dia menggeleng dan tersenyum.


"Kau sangat khawatir dengan ibumu?" Aku menoleh lagi melihat wajah pucat ibu. Beberapa selang yang terpasang dan jarum yang ada ditubuh ibu. Iya, aku khawatir padanya.


"Tadi saat kau tidur, ayahmu menelpon. Jadi aku mengangkatnya."

__ADS_1


"Apa kau mengatakan pada ayahku?" Munah mengangguk.


"Ayahmu akan datang kesini." Deg. Ayah datang? Apa dia juga ikut khawatir? Lalu bagaimana jika Tante Intan tau? Tidak, seharusnya ayah tidak perlu datang kesini, bukankah sudah cukup aku saja yang berada disini. Lagian jika ibu tau, pasti dia juga akan marah.


"Niat ayahmu baik, dia hanya ingin melihat." Aku terdiam, sekali lagi aku memikirkan Tante Intan.


"Ta-"


"Nara?" Aku dan Munah sontak langsung menoleh ke arah pintu. Dia yang tengah kami bicarakan sudah datang, berdiri didekat pintu dengan gagahnya. Ada dua orang pengawal yang ikut dengannya. Aku masih tercengang, melihat ayah semakin berjalan mendekat. Dan membiarkan pintu ruangan tertutup dengan sendirinya.


"Ayah?" Seperti tidak merasa canggung sama sekali, ayah menyentuh tangan ibu lalu mengusap lembut puncak kepalanya. Tidak, aku benar-benar tidak salah lihat.


"Ayah, bagaimana dengan Tante intan?" Ayah menghela nafas berat, memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Jangan sampai dia tau, dan jangan pernah mengatakan apapun padanya tentang keadaan ibumu sekarang?"


"Lalu maksudnya ayah datang kesini?" Ayah berjalan dan duduk di sofa ruangan.


"Kinara, aku pulang ya. Nanti aku akan datang lagi, agar kau tidak kesepian. Kau tunggulah disini, kasian ibumu. Dia membutuhkanmu saat ini." Munah berbisik pelan, dia pintar sengaja memberi waktu untukku dan ayah agar bisa berbicara lebih serius tanpa adanya orang lain.


"Om aku pamit pulang." Ayah mengangguk, lalu entah apa lagi yang selanjutnya dilakukan ayah. Dia mengejar Munah hingga didepan pintu.


"Banyak sekali, terima kasih om." Ah aku tau, pasti ayah memberikannya uang jajan. Disaat seperti saja ayah masih sempat mengingat Munah. Ya Tuhan, lancarkan selalu rezeki ayahku.


"Kinara, katakan pada ayah sebenarnya apa yang terjadi?" Aku hanya menggeleng, aku memang tidak tau. Yang aku tau, ibu sudah terbaring tak sadarkan diri.


"Lalu apa penjelasan dari dokter?"


"Dokter belum mengatakan apapun." Ayah mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya apa yang tengah ayah pikirkan saat ini? Apa dia masih menyimpan rasa untuk ibu? Lalu, kenapa mereka harus bercerai?


"Jika ibumu sudah sadar, maka tanyakanlah apa yang selama ini ingin kau tahu. Ayah harus kembali ke kantor sekarang, ada kerjaan yang masih menunggu ayah." Ayah mengelus puncak kepalaku, aku mengangguk.


"Keisnilah, peluk ayah." Aku memeluknya, ayah menepuk-nepuk pundak ku dengan lembut.


"Semoga apa yang terjadi pada ibumu dulu, tidak akan pernah terjadi kepadamu."


"Maksudnya?" Ayah pergi begitu saja, tanpa lebih dulu memberiku sebuah penjelasan. Aku menatapnya hingga pintu ruangan kembali tertutup. Aku berjalan mendekat kearah dimana ibu berbaring saat ini. Ku dengar alat deteksi jantung terus berbunyi, tanda kalau ibu masih hidup.


"Hallo bi?" Aku menerima telepon dari bi Gina.


"Nara, kau dimana? Kenapa belum pulang ke apartemen?"


"Apa bibi masih disana?"


"Tidak, bibi hanya sedang mengantarkan sesuatu." Sesuatu! Sesuatu apa?


Aku pun langsung memberi tahu dimana aku sekarang, bi Gina turut mengucapkan belasungkawa atas kejadian yang menimpa ibu. Mendoakan yang baik-baik untuk kesembuhan ibu. Panggilan berakhir dan aku belum sempat menanyakan apa yang dibeli bi Gina untukku.


Saat dokter kembali datang, aku diminta untuk keluar ruangan. Dan duduk di kursi tunggu yang ada diluar ruangan. Duduk sendirian, rasanya sangat tidak nyaman berada disekitaran rumah sakit. Tempat dimana banyaknya kuman berkembang biak.


"Kinara?" Aku mendongak, melihat siapa yang datang menyapaku.


"Kak Satria?" Aku menoleh kesekililing. Tidak ada siapapun lagi yang aku kenal, untuk apa dia disini? Apa dia juga tau ibuku sakit dan bermaksud untuk menjenguk, tidak mungkin kan? Ah apa ini hanya sebuah kebetulan?


"Aku hanya mengantar saudaraku yang sakit." Dia sudah duduk di sampingku. Tanpa bertanya, dia juga sudah menjawab apa yang ada dibenak ku.


"Kau apa kabar?"


"Aku baik."


"Siapa yang sakit?" Dia menunjuk kearah pintu ruangan.


"Ibuku."


Hening lagi. Padahal aku sudah mengatakan padanya berulang kali, untuk tidak menegurku. Ah tapi sepertinya Satria ini tipe orang yang sangat keras kepala.


"Kinara?" Aku menoleh sekilas kearahnya. "Bertemanlah dengan ku lagi." Deg. Aku sudah malas memikirkan hal lain, Adam, ibu, aku hamil. Itu saja sudah membuat memori di otakku penuh.


"Setidaknya bertemanlah dengan orang yang tau bagaimana keadaanmu sekarang."


"Kak."


"Iya aku mengerti, jawabanmu pasti akan tetap sama. Tapi ciuman itu, hanya tanda kasih sayangku terhadap mu. Hanya teman Kinara."


"Kenapa kak? Bukankah kau yang bilang sendiri, kalau teman perempuanmu juga banyak? Kenapa hanya kehilangan satu kau merasa rugi? Dan apa kau juga melakukannya dengan semua teman perempuan mu? Mencium mereka tanpa meminta ijin?" Nafasku mulai naik turun tidak terkendali, aku emosi.


"Tidak, sudah kukatakan kau berbeda dengan mereka." Apa lagi maksudnya? "Apa kau tidak ingat perkataan ku waktu itu? Sudah kubilang kau berbeda."


Sudah beberapa kali aku menghindar jika bertemu dengannya. Dan beberapa kali aku menegaskan padanya, aku tidak ingin berteman lagi. Tapi, takdir Tuhan selalu mempertemukan aku dengannya, ditempat tertentu. Dan selalu bertemu disaat aku sedang merasa kalut.


"Aku khawatir dengan ibuku kak."


"Itu wajar, karena kau menyayanginya." Benarkah! Aku menyayangi ibu?


"Apakah dia sehat?"


"Dia? Siapa?" Mata Satria tertuju pada perutku. Aku yang reflek langsung memegang dengan satu tangan.


"Eh dia sehat." Menoleh lagi kesekililing. Aku takut, jika tiba-tiba ada yang melihatku.


"Ketika dia lahir nanti, ijinkan dia untuk memanggilku ayah."


"Hah?"


"Hanya teman, jadi biarkan dia memanggilku ayah." Kenapa aku merasa senang? Jika anakku lahir, ada yang bisa dipanggil ayah.


"Jua kak. Namanya Juanda."


"Namanya bagus." Senyumnya manis. Eh aku kenapa sih, sedetik bisa berubah pikiran tentang menafsirkan seseorang.


Aku melihat dokter yang sudah keluar ruangan langsung berdiri, aku ingin menanyakan bagaimana kondisi ibu.


"Kinara, jadi bagaimana?"


"Iya kak, aku menerimamu lagi menjadi temanku." Satria besorak tanpa suara. Mengepalkan tangannya dan berkata yes. Berhasil membuatku mengeluarkan suara tawa renyah disela-sela pikiran yang sedang tidak baik-baik saja.


"Dokter, bagaimana kondisi ibu?"


"Ibumu sudah siuman. Kau bisa melihatnya sendiri. Sejauh ini, keadaan semakin membaik. Dia hanya dehidrasi karena tidak ada apapun yang dikonsumsi selama dua hari."


Dua hari?? Sialan! Ibu benar-benar tidak mendapatkan perhatian selama dirumah.


"Baik dokter, terima kasih." Saat aku menoleh, Satria sudah tidak ada. Mungkin sudah kembali keruangan dimana saudaranya dirawat. Dan bodohnya aku lupa menanyakan dimana ruangan saudaranya, kalau saja aku tau. Aku juga ingin menjenguknya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2