Langit Mendung

Langit Mendung
Puisi cinta untuk seorang istri


__ADS_3

Aku sudah menarik nafas dalam-dalam saat sampai di tengah lapangan. Praktek akan segera di lakukan. Aku berdiri di antara Munah dan Adam. Aku juga meminta bantuan Munah, dengan alasan yang sama yang aku berikan kepada Adam. Datang bulan, nyeri perut. Dan untungnya mereka percaya.


"Setelah ini kau harus rajin olahraga, kau lihat tubuhmu semaikan membesar. Apa kau mau menjadi seperti Aisah?" Ah tidak!!! Aisah adalah anak tergendut di sekolah kami. Dia saja sampai susah berjalan. Sialan Munah, bisa-bisanya aku dibandingkan dengan Aisah.


"Sudah kau duluan yang bicara." Aku berdehem, lalu melangkah lebih dulu mendekati guru yang olahraga yang memiliki kumis tebal itu. Wajahnya tidak seram, hanya saja aku takut kalau meminta ijin begini, apa lagi soal nilai.


Aku berbalik badan lagi, dan mendekat ke arah Munah dan Adam. Saat akan berbicara ternyata beliau malah menerima telepon. Duh, harusnya sudah selesai malah sekarang mengumpulkan keberanian lagi.


"Sudah sana." Aku mengangguk.


"Pak, aku datang bulan pak. Aku tidak bisa ikut lari keliling lapangan, perutku nyeri pak." Dia malah menatapku dari ujung kaki hingga kepala. Membuatku malah tak bisa menggerakkan tubuh. Tatapan seperti melucuti pakaianku saja. Aku reflek menutupi bagian dadaku.


"Kenapa pak?"


"Kau tidak kelihatan seperti masa datang bulan." Malah menilik lebih dalam lagi, sialan! Kalau begini lebih baik aku ikut lari saja.


"Ya sudah pak, kalau tidak memberi ijin. Aku ikut lari, tapi jika terjadi sesuatu bapak tanggungjawab ya?" Eh dia malah garuk-garuk kumis.


"Baiklah, kau duduk saja disini. Temani saya." Deg. Lah ini apa maksudnya? Tidak-tidak, aku tidak boleh berpikir kotor dulu.


"Iya pak."


"Ayo semuanya kumpul." Aku ikut berdiri dalam barisan. Penjelasan sudah terdengar, apa saja yang harus dilakukan oleh mereka. "Seharusnya prakteknya juga ada renang, tapi berhubung disekolah kita tidak ada kolam renangnya, kan tidak mungkin saya meminta kalian renang di parit belakang sekolah."


"Haha." Kami serempak tertawa, ternyata lucu juga. Eh melihat kumisnya saja aku ingin tertawa. Apa istrinya tidak merasa geli ya? Apa lagi saat? Eh, dasar-dasar pikiranku kenapa jadi mesum begini.


"Ya sudah, kalian lakukan lah. Saya akan lihat dari sini dan menilainya." Saat barisan sudah bubar, aku duduk tidak jauh dari pak guru.


"Nara, sini." Dia menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya. Aku ragu-ragu untuk mendekat, aku takut malah yang ada nantinya timbul gosip.


"Kenapa pak?" Aku masih berdiri dihadapannya.


"Duduklah." Aku mengangguk, memberi jarak beberapa centimeter dengannya. "Kau harus tetap mengerjakan sesuatu untuk mengganti nilai hari ini."


"Hah?" Aku kaget, jangan sampai dia berkata yang jorok.


"Kau kan pandai membuat puisi kan?" Aku mengangguk. "Nah, dua hari lagi istri saya ulang tahun. Bisakah kau buatkan saya puisi romantis?" Bolehkah aku tertawa sekarang? Sudah dua kali aku harus melakukan ini untuk orang lain. Memang sih aku merasa karyaku lebih berharga. Tapi kenapa bukan aku sendiri yang menuliskan untuk seseorang.


"Kau mau tidak? Jika istri saya suka, maka nilaimu akan saya beri plus." Eh? Jelas aku langsung mengangguk, baiklah nanti malam aku akan mulai menuliskan puisinya. Akan aku buat setiap baitnya menyentuh hati. Khusus untuk pak guru.


"Nara?"


"Eh iya pak?" Aku melihat Adam berlari sambil mengedipkan matanya padaku. Aku tersenyum membalasnya. Dan melihat wajah Munah yang sudah penuh dengan keringat, padahal baru juga dua putaran keliling lapangan.


"Anak saya seusia denganmu, sama seperti kalian. Hanya saja dia tidak bisa menikmati hari-harinya seperti anak seusianya." Eh kenapa pak guru tiba-tiba berbicara begini padaku?


"Maksudnya pak?" Pak guru tersenyum kecut menoleh sekilas ke arahku.


"Dia tidak bisa melihat." Deg. Benarkah? "Sejak bayi, terkadang saya juga kasihan. Tidak pernah mau keluar rumah."


"Pasti anak bapak cantik."


"Benar, saya juga begitu menilainya, mungkin karena saya adalah ayahnya."


"Anak bapak hanya satu?"


"Tidak, ada dua. Tapi yang satu laki-laki dan sekarang sudah meninggal."


"Meninggal?" Eh aku menutup mulutku karena berbicara terlalu keras.


"Iya, dia meninggal di umur 7 tahun. Maka dari itu, saya selalu ingin menghibur istri saya. Dengan cara apapun, agar dia tetap terlihat senang. Bisa melihat istri saya tersenyum setiap hari membuat saya lebih semangat menjalani hari-hari."


Cinta, aku yakin pak guru memiliki cinta begitu besar untuk istrinya. Aku selalu bangga melihat laki-laki sepertinya. Dan aku ikut senang, ketika tau rumah tangga orang lain akan harmonis. Hanya saja aku tidak pernah merasakan itu sebelumnya. Aku terkadang salut dengan orang-orang yang bisa membuka hati dan mencintai satu orang saja dalam hidupnya. Seperti bi Gina contohnya, lalu ibunya Adam, dan juga ayahnya Munah. Aku belajar tentang hal itu dari orang-orang di sekelilingku. Dan hari ini, aku mendapat pelajaran itu lagi dari pak guru. Memang, aku sendiri tidak percaya tentang cinta. Tapi hal nyata itu sering aku lihat. Benar kata Adam, aku harus lebih peka terhadap orang yang ada di sekelilingku. Agar aku juga bisa membuka hati. Tapi, perasaan yang aku punya sekarang terhadap Adam itu apa? Aku merasakan nyaman jika di dekatnya, apa ini hanya karena aku mengandung anaknya? Aku belum bisa memastikan hal itu.


"Apa bapak sangat mencintai istri bapak?" Ku beranikan diri untuk bertanya.


"Jangan kau tanya hal itu. Saya bahkan rela menukar nyawa dan meminta kepada Tuhan agar istri saya tetap hidup dan biar saya saja yang mati."


"Hah?" Aku tercengang, apa itu hanya untaian kata indah seperti membuat puisi?


"Kau ini Nara, kau juga pasti sudah pernah pacaran. Bapak tau lah bagaimana kelakuan anak muda jaman sekarang. Malah melebihi pasangan suami istri, dan bahkan ada yang sampai ada yang hamil diluar nikah. Itu sangking cintanya." Deg. Tapi pak aku tidak cinta dengan Adam!!!!


Ingin sekali aku berteriak begitu sekarang.


"Aku tidak pernah pacaran pak, jadi tidak tau." Jawabku dan menunduk.


"Pak, kenapa Kinara tidak ikut berlari? Bapak pilih kasih ya!!" Mida, dia berhenti berlari dan menghampiri ku yang duduk dengan pak guru. Wajahnya yang memerah karena lelah dan terkena paparan sinar matahari. Nafasnya terengah-engah.


"Dia sedang sakit. Kalau mau sakit juga saya persilahkan untuk duduk." Jawaban itu membuat Mida tidak lagi berani protes. Dia Langsung pergi melanjutkan tugas yang diberi pak guru.


"Kau pernah bertengkar dengannya kan?" Aku mengangguk ragu, sudah lama sekali tapi kenapa masih ingat ya.


"Lalu apa reaksi orang tuamu saat tau?"


"Hah?" Aku kaget lagi, aku harus jawab apa sekarang? Berbohong lagi.


"Jangan bilang ayahmu, Husein tidak tau." Aku menggeleng.


"Sudah saya duga. Jika ayahmu tau dia pasti akan bertindak."


"Bertindak?" Aku belum paham, bertindak bagaimana maksudnya.


"Iya bertindak. Setidaknya meminta sekolah untuk mengeluarkan Mida."


"Ah tidak pak. Ayah tidak begitu orangnya."


"Kata siapa? Saya kenal ayahmu lho. Dia kan teman SMA saya dulu."


"Benarkah pak?" Pak guru mengangguk. Ternyata ayah juga memiliki teman ya? Haha, aku kira ayah langsung jadi pengusaha.


"Sewaktu kalian studi tour saja ayahmu menelepon kepala sekolah, dan mengatakan jangan sampai terjadi apa-apa denganmu." Eh tidak mungkin kan?


"Kenapa kau kaget? Bukankah itu memang seharusnya yang dilakukan orang tua untuk anaknya." Aku mengangguk saja. Terima kasih ayah, suara batinku tidak akan bisa tertiup angin dan terbawa sampai ke telinga ayah. Biar saja hal ini menjadikan ku lebih bisa menerima ayah kedepannya.


"Maaf, jika saya lancang bertanya hal ini. Bukankah kedua orang tuamu sudah bercerai? Lalu kau ikut dengan siapa?" Aku mendudukkan kepalaku, menggoyangkan kedua kaki yang menggantung. Aku harus menjawab apa. Aku malu, apa lagi orang waras akan berpikir yang macam-macam tentangku.

__ADS_1


"Saya tinggal sendiri pak di apartemen."


"Wah, kau hebat sekali ya. Jadi kalau kau sakit siapa yang mengurus?"


"Tidak ada pak. Ada sih pembantu di apartemen, hanya saja beliau pulang hari." Pak guru manggut-manggut.


"Pak, mau sampai kapan kami berlari? Bapak tidak ikut menghitung malah asik bicara sama Kinara." Adam sialan kau!!


"Dua putaran lagi." Jawabnya santai, dan kembali mengajakku berbincang. Aku menjulurkan lidah ke arah Adam yang sepertinya sedang sewot. Haha, aku ingin tertawa sekarang. Ah tidak, aku juga sedih. Bukankah saat ini aku sedang berbohong ya?


Hingga pelajaran olahraga berakhir, aku yang duduk di dalam kelas termenung. Segala pikiran sudah ada di dalam otakku, berputar secara bergantian dan seluruhnya tentang masalah. Yang pertama, aku memikirkan tentang Iam, sudah satu Minggu lamanya dia tidak juga menghubungiku, hanya terus meletakkan coklat dilaci meja. Tidak juga membalas melalui surat yang aku tulis. Dan yang kedua, ayah? Apa dia benar-benar tau keberadaan Iam dan keluarganya sekarang? Lalu tentang ayah yang diam-diam selalu memberikan perhatian terhadapku.


"Nara?" Aku mendongak dengan rasa malas untuk melihat orang lain sekarang.


"Kenapa Adam?"


"Bagaimana dengan janjimu?" Ah iya aku teringat soal itu. Sup daging yang janjikan untuknya.


"Apa sekarang kalian hanya memiliki rahasia berdua saja?" Aku menoleh ke arah Munah yang kini duduk di sampingku.


"Tidak, ya sudah nanti kau juga ikut, jangan lupa ajak Wahid juga."


Aku segera menelepon bi Gina dan memintanya untuk belanja ke pasar membeli daging segar. Lalu memintanya juga meracik bumbu sup, hanya saja aku memasak nantinya. Bukan aku tidak tau, aku tau soal bumbu sup. Cuma tidak mungkin mereka harus menunggu lama, sementara sewaktu pulang sekolah itulah dimana perut meronta minta di isi.


Pelajaran yang berakhir setelah mendengar bel pulang sekolah. Munah meminta ikut denganku. Karena Wahid akan pulang kerumah dulu, yang katanya karena ada ayah dan ibunya dirumah jadi harus pamit agar dibilang anak yang patuh.


"Uang jajanku akan menambah kalau aku melalukan itu ketika mereka dirumah." Pikirannya hanya uang untuk mobil. Ah entahlah, padahal yang aku tau mobilnya sudah bagus.


"Aku langsung ikut pulang ke apartemen. Aku akan membantumu memasak nanti." Ucap Adam dengan semangat. Wajahnya terlihat lelah sekali, ku berikan sapu tangan padanya. Memintanya membersihkan wajah yang terlihat kusam setelah berkeringat.


"Kalian cocok." Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Munah yang sembarangan. Berjalan memasuki mobil dan siap untuk mengemudi.


"Nara, bagaimana hubunganmu dengan Satria?" Deg. Sudah aku tidak ingin bahas. Semenjak malam itu, aku tidak pernah lagi membalas pesan darinya, juga tidak menghiraukan panggilan telepon darinya.


"Nara?"


"Hah? Iya? Kau bertanya tentang Satria tadi ya? Dia sudah punya pacar, dia hanya menganggap ku adiknya. Kau tau kan, aku tidak suka memiliki hubungan lebih dengan siapapun."


"Benarkah?" Aku mengangguk, itu sudah mewakili seluruh pertanyaan yang akan diajukan Munah.


"Kukira kau sudah mulai membuka hati." Munah bergumam pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Ternyata menjaga jarak dengan Munah tidak membuat hari-hariku menyenangkan. Aku tidak bisa melihatnya bertengkar dengan Wahid, tertawa lepas setiap kali berkumpul. Aku salah soal itu. Dan sekarang, waktu semakin dekat dengan ujian kelulusan. Jadi lebih baik aku memanfaatkan waktu bersama mereka sebelum benar-benar harus berpisah dengan cara menyembunyikan diri sampai menunggu waktu kelahiran tiba. Memanipulasi pikiran mereka dan mengatakan kalau aku sedang berada diluar negeri.


Saat sampai di apartemen. Aku meminta Munah untuk memarkirkan mobilku, aku turun lebih dulu dan berjalan memasuki gedung apartemen dengan berbagai macam penghuni di dalamnya.


"Jangan berlari nanti kau jatuh." Tidak mungkin aku melakukan hal itukan. Aku juga tau menjaga anak dalam kandunganku.


Aku dengar suara dari arah dapur, ada suara gemercik air di wastafel. Lalu meletakkan asal tas sekolah dan berjalan ke belakang setelah membuka pintu. Kebiasaan bi Gina memang sama sepertiku, lupa mengunci pintu. Heh kalau ada maling yang masuk pasti tidak akan tau.


"Bibi sedang apa?"


"Eh!" Bi Gina kaget dan menoleh ke arahku. "Bibi sedang mencuci daging. Mau di masak sekarang?" Aku mengangguk. "Gantilah dulu seragam sekolahnya Nara."


"Iya bi sebentar ya. Bibi jangan ngapa-ngapain lagi, biar aku saja yang masak." Aku Berteriak dan memasuki kamar.


"Bi, bibi temani Munah saja ya, biar aku yang masak."


"Memangnya ada acara apa? Kenapa harus kau sendiri yang masak? Harusnya kan bibi Nara." Aku menggeleng dan tersenyum.


"Aku sudah janji dengan Adam bi. Dia memintaku untuk memasak sup daging untuknya. Aku ingin membuktikan saja kalau aku tidak berbohong bahwa aku bisa masak." Bi Gina tersenyum dan mengelus lenganku.


"Apa perasaanmu sudah berubah terhadapnya?" Aku tertawa kecil mendengar bi Gina membisikkan kata-kata aneh itu.


"Nara?" Aku menoleh saat sudah menumis bumbu yang sudah lebih dulu digiling bi Gina. Ternyata tidak lama bi Gina meninggalkan ku Adam malah pergi ke dapur. "Aku ingin membantumu memasak, apa yang bisa aku kerjakan?" Aku menatap ke arah meja, semua sudah disiapkan.


"Tidak ada. Sudah kau kembali duduk saja di depan bersama mereka." Untungnya segala peralatan sudah super canggih sekarang. Memasak daging dengan hitungan menit saja sudah bisa empuk.


Aku mulai menuangkan air ke dalam panci, bumbu yang aku tumis juga sudah harum. Adam yang menetap duduk di meja makan dekat dapur. Menopang kepala dengan satu tangannya, aku tau kalau sedari tadi Adam terus memandangiku, tapi acuh saja berpura-pura tidak tau.


"Benar-benar calon istri idaman." Ya aku mendengar Adam mengatakannya.


"Kau lupa, kita itu teman." Adam langsung terdiam.


Sesuai taksiran ku, matang dengan waktu tidak lama. Kasian, mereka juga sudah pada lapar.


"Harum sekali, pasti enak." Munah datang bak tengah melihat seorang pembantu yang sedang memasak, kedua tangannya dia letakkan di pinggang. Dan melirikku, aku juga membalas lirikannya.


"Sejak kapan kau pandai memasak?"


"Sejak adanya bi Gina disini." Kami sama-sama tertawa, padahal tidak ada yang lucu.


"Munah, bisa kau bantu membawa piring ke depan?"


"Bisa, lalu apa lagi?" Ku lihat Munah melirik ke arah Adam yang duduk dengan tenang.


"Kau sedang apa? Tidak berguna jika laki-laki berada di dapur." Ucapnya dan berlalu pergi membawa piring.


"Tadi aku yang membantu kau tidak mau, sekarang giliran Munah yang datang kau memberinya pekerjaan. Ah tidak adil." Gerutunya lagi dan berdiri dari tempatnya.


"Kau cemburu?"


"Tidak, jika Munah laki-laki bisa saja." Hah? Apa sih maksudnya, sudahlah. Aku lebih memilih mencicipi sup yang sudah mengepulkan asap dan gelembung di dalam panci. Sudah matang, rasa juga sudah pas.


Semua sudah duduk saling berhadapan, menyiapkan piring dengan tatapan singa yang sedang lapar. Satu, dua, tiga, mereka saling berebut untuk mengambil nasi. Bi Gina pamit ke belakang lagi karena katanya akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Kau jangan makan terlalu banyak, apa kau mau gendut seperti Nara?" Wahid, kau sudah mulai main fisik!


"Eh, kau tidak makan?" Adam bertanya padaku.


"Kau tidak dengar apa kata Wahid? Bukankah sekarang aku sudah gendut?"


"Hei, aku hanya bercanda, kau marah ya?" Aku tersenyum dan menggeleng.


Mata siapa kini yang berbinar ketika mencicipi masakan ku? Wahid, dia yang pertama. Lalu Munah, memuji kalau masakan ku seperti rasa masakan ibunya. Dan Adam, dia hanya makan dalam diam, tetapi ketika nasi di piring hampir tandas, Adam menambahkannya lagi.


"Makanlah." Adam menyodorkan makanannya ke hadapanku.

__ADS_1


"Tidak, aku nanti saja."


"Buka mulutmu." Heh, aku tidak bisa menolak lagi. Baiklah, hanya satu suapan saja.


"Sudah ku katakan kalau kalian itu cocok."


"Cocok menjadi teman." Jawabku santai.


"Sudah, aku sudah kenyang." Aku berdiri dan bangkit dari duduk, menyambar tas dan mengambil secarik kertas dan pena. Saat otaku sudah mulai merias kata, aku akan segera menulisnya sebelum hilang di telan pikiranku sendiri.


"Jangan berisik, makanlah dan habiskan." Aku tau, jika mereka pasti akan protes dan bertanya aku akan melakukan apa.


"Wanitaku"


Sentuhan tangan lembut yang selalu membuat aliran darahku berdesir..


Detak jantungmu begitu berarti..


Begitu pula denyut nadimu..


Berdirilah di sampingku..


Bergandeng tangan melihat indahnya ciptaan Tuhan


Nafas bersama dan berjuang


Demi sebuah kehidupan putri kecil


Jangan pernah membanjiri bola matamu


Jangan pernah jatuhkan setetes pun air ke pipimu


Aku melemah ketika melihatnya


Surga untuk anak-anakku adalah kau..


Pena ini sebagai saksi perasan ku..


Yang mengalir bersama tahun-tahun yang terlewat


Ku tadahkan tangan kepada Tuhan


Agar umurmu panjang..


Harapan dan doa berpijak disatu nafas..


Jangan lelah hidup bersamaku


Biarkan gelap dan terang mewarnai dunia


Sebagai lukisan diluar ruangan


Tetaplah bersamaku..


Hingga kita tidak bisa melihat lagi perubahan siang dan malam..


"Kau sedang apa?" Ada saja orang yang kepo ingin melihatnya. Aku langsung melipat secarik kertas dan kembali memasukan ke dalam tas.


"Jangan pernah mencurinya!" Tegas ku kepada Munah.


Ah sangking fokus dan bersemangat membuat puisi untuk pak guru. Aku sampai tidak sadar jika mereka sudah selesai dengan urusan mengisi perut, bahkan piring kotor juga sudah dibawa ke dapur.


"Kau membuat puisi?" Adam bertanya.


"Iya." Jawabku dan tersenyum, padahal aku berniat akan membuatnya nanti malam. Tapi rasa senang karena ini untuk istrinya, aku malah lebih bersemangat dan tidak bisa menahan tanganku untuk tidak menggunakan pena menggores disetiap kertas.


Jam sudah menunjukkan pukul 02 siang. Mereka segera pamit untuk pulang. Setelah merasa kenyang. Begitu juga dengan bi Gina yang tidak bisa menemani ku hingga sore. Karena hari ini bi Gina akan pergi ke pusara.


"Aku sangat ingin ikut bi, tapi tubuhku rasanya lelah sekali."


"Sudahlah, bibi juga bisa sendiri. Kau istirahatlah, tidur dan jangan memainkan ponsel lagi, ataupun melakukan hal lain."


"Baik bi."


Jika dirumah orang lain, majikan lah yang mengatur pembantu, tapi jika di apartemenku berbeda, akulah yang harus mendengarkan bi Gina. Dengan segala perhatiannya untukku. Aku merasa jauh lebih baik semenjak ada kehadirannya disini.


"Bibi hati-hati ya." Aku langsung mengunci pintu.


Aku bukan hanya lelah, tapi juga sangat mengantuk. Ah ya ampun, padahal hanya memasak sup saja. Anakku kau kenapa manja sekali sih. Aku mengelus perutku saat sudah rebahan.


Ponselku berdering, baru saja akan memejamkan mata. Tidak, saat kulihat ternyata itu Satria. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya.


"Nara? Maaf." Dia mengirimkan pesan untukku. Lagi-lagi aku harus mengabaikannya.


Entah sejak kapan aku tertidur, dan kembali terbangun saat senja mulai datang. Langit indah yang terlihat dari jendela apartemen, aku masih malas untuk sekedar bangkit dari posisiku. Lebih baik begini dulu, menunggu seluruh nyawa terkumpul kembali.


Aku meraba dimana keberadaan ponselku.


"Kenapa banyak sekali panggilan tidak terjawab?" Aku melihatnya, nomor tidak dikenal?


Juga ada pesan darinya.


"Kak, ini Laras. Ibu masuk rumah sakit kak. Ibu terjatuh dan keguguran." Apa? Aku langsung bangkit, bingung harus melakukan apa sekarang.


"Hallo?"


"Iya kak."


"Katakan ibu ada dirumah sakit mana?" Setelah mendengar apa yang dikatakan Laras, aku langsung bersiap untuk pergi. Ya Tuhan, aku sangat merasa kasihan terhadap ibu sekarang, bagaimana keadaannya. Tidak, aku tidak ingin mendengarnya menangis. Aku takut, trauma psikis ku kambuh lagi.


Ya, aku memiliki penyakit aneh, yang jika mendengar ibuku menangis, pasti aku merasakan kepalaku sakit dan bayangan dimasa lalu merasuki pikiranku. Dimana dulu ayah dan ibu betengkar hebat.


Ku hembuskan nafas sebelum keluar apartemen, meskipun tanganku sudah gemetar memegang handle pintu. Aku harus bisa mengendalikan diri, bukankah dulu seorang psikolog anak sudah memastikan kalau aku sudah sembuh. Mungkin ini hanya efek dari kepanikan ku saja.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2