
Aku yang hampir saja ketahuan, aku yang hampir saja menyerah menutupi kebohongan ini. Tapi bi Gina menyelamatkan ku dengan cara mengatakan pada Munah bahwa aku dan bi Gina tengah membahas kehamilan ibuku. Dan Munah percaya begitu saja, tanpa menanyakan apapun lagi.
Yang menjadi pertanyaan ku adalah alasan Adam yang sangat tidak masuk akal. Dia mengatakan hanya karena merindukan ayahnya. Ayah yang sudah satu tahun belum kembali lagi ke kota ini. Aku juga hanya bisa menunduk ketika Adam menjelaskan itu. Hanya aku yang tau. Meski Munah sempat menanyakan sesuatu yang membuatku tercekat setelah Adam sadar.
"Kau yakin, kita saja tidak pernah melihat ayahnya kan? Apa jangan-jangan ayah Adam sudah meninggal? Dan, dan keluarga mereka menutupinya? Bisa saja kan! Terkadang kejadian di film itu bisa nyata dalam kehidupan kita Nara."
Ah aku pusing, biarlah itu hanya masalah Adam. Dan sekarang aku bersiap untuk pergi ke salah satu cafe, untuk berjumpa dengan Satria. Teman chatting ku. Aku yang sibuk memakai korset, memakainya sangat kencang. Hingga bagian perutku terasa berdenyut.
"Ya ampun, susah sekali." Aku membukanya lagi, menarik nafas lalu membuangnya. Baiklah, jangan terlalu ketat. Akan aku atur waktunya, hanya satu jam saja. Agar aku juga tidak terlalu tersiksa. Aku memakai celana kulot, dan memakai kaus biasa. Lalu melapisinya lagi dengan cardigan rajut. Tak lupa ku bawa tas selempang berukuran 20 cm. Agar bisa sedikit menutupi bagian perut ketika aku membawanya.
Malam pertama berjumpa dengan Satria. Tidak, ini yang kedua. Hanya saja kali ini semua dengan rencana. Satria yang baru saja pulang dari luar negeri. Walaupun aku sudah sering chatting dengannya. Tapi aku juga belum tau sifatnya bagaimana. Cuma yang aku tau, Satria lebih dewasa pemikirannya dari aku.
Ting, notif pesan masuk.
"Aku sudah sampai."
Aku segera melangkah keluar, mengunci apartemen dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Hah, sudah lama sekali rasanya tidak keluar malam. Merasakan udara yang sedikit dingin, itu bagiku.
Saat aku sampai di sebuah cafe, musik mengalun dengan lembutnya. Aku mencari keberadaan Satria. Dimana dia? Ku buka ponsel lagi, aku akan mengirim pesan untuknya.
"Aku sudah-"
"Nara?" Aku mendongak, pesanku menggantung. Aku tidak bisa berbohong. Satria memang tampan.
"Kak Satria?" Aku menunjuknya dan tersenyum. Dia mengangguk lalu mengajakku untuk masuk.
"Aku belum masuk ke dalam. Sengaja menunggu kau datang. Jadi ya aku di dalam mobil saja dulu." Aku mengangguk saja dan mengikuti langkahnya.
"Disini saja ya?" Aku mengangguk, duduk di paling sudut. Bisa melihat sekeliling cafe, menatap ke berbagai sudut. Termasuk panggung cafe yang saat ini tengah mengalun musik. Sepasang anak remaja yang mengisi acara duduk disana. Suara merdunya mampu membuatku terpaku, aku suka musik juga.
Pelayan cafe datang, membawakan buku menunya. Aku benar tidak lapar, karena aku sudah makan masakan bi Gina yang tadi aku bawa pulang.
"Kak, aku minum saja ya." Satria tercengang melihatku. "Aku sudah makan kak." Dia mengangguk lalu dia juga hanya memesan minuman. Aku juga merasa tidak enak jadinya, berpikir karena aku tidak mau memesan makanan, lalu Satria juga mengikutiku.
"Kau sedang diet ya?" Dia tersenyum jahil. "Kau gendutan sekarang, jauh berbeda saat pertama kali kita bertemu." Aku sendiri menjadi insecure mendengarnya. Jujur, ketika ada laki-laki yang berkata begitu, aku jadi malu sendiri. Bagiamana bentuk tubuhku nanti setelah melahirkan?
"Eh tenang tapi kau tetap cantik kok."
"Benarkah?"
"Kau senang ya di puji?" Aku tersenyum dan mengangguk. Tidak juga, padahal batinku berkata lain.
Minuman datang setelah 10 menit memesan. Aku hanya minum air limun saja. Aku datang kesini, hanya tidak ingin melihat Satria kecewa. Itu alasan yang paling mutlak bagiku.
"Setelah ini kau kuliah dimana?" Uhuk, aku langsung tersedak saat minum. Untungnya tidak menyembur ke wajah Satria.
"Eh pelan-pelan. Aku tidak akan meminta minuman mu." Aku tersenyum dan mengangguk. Satria menyodorkan tissue untukku. Eh, kalau Adam pasti dia sendiri yang akan mengelap mulutku. Duh kenapa aku malah berpikir Adam sekarang ya?
"Aku hanya bertanya kau nanti kuliah dimana, kenapa kau kaget sampai tersedak?"
"Eh, iya aku belum tau mau kuliah dimana. Kakak bertanya begitu aku jadi teringat."
"Hah? Seharusnya kau pikirkan itu dari sekarang. Bukankah ujian kelulusan akan dilakukan dua bulan lagi?" Aku diam dan berpikir, andai saja kau tau kak apa yang saat ini ku alami. Pasti kau tidak akan bertanya seperti ini.
"Nara?" Aku mendongak lagi.
"Apa kah kau memiliki pacar?" Ha? Kenapa bertanya begitu? Aku yakin ujung-ujungnya pasti tidak enak. Apa Satria mau mengungkapkan perasaannya. Aku hanya ingin berteman saja.
"Tidak kak."
"Baguslah." Nah kan, dia bilang bagus.
"Memang seharusnya kau tidak udah pacaran dulu. Pikirkan masa depan, kuliah dan belajar. Itu nomor satu. Karena anak muda jaman sekarang, jika sudah pacaran pasti akan melupakan tujuan hidupnya." Ya ampun, ternyata aku hanya kepedean.
"Memangnya kakak tidak pernah pacaran?" Dia meneguk minumannya lalu menggeleng. Tidak pernah? Mana mungkin!
"Kau tau, aku banyak memiliki teman perempuan. Tapi rata-rata mereka pacaran, dan menjadikan aku sebagai tempat pengaduan. Hanya ada satu orang yang tidak pernah melakukan itu padaku, selama aku mengenalnya."
"Siapa kak?" Aku bertanya, jika benar berarti dia sama seperti ku.
"Kau Nara." Aku langsung menunduk, apa sedang di puji sekarang? Kenapa rasanya aku menjadi salah tingkah saat mendengarnya?
"Kak, aku memang tidak ingin merasakan yang namanya pacaran. Aku tidak ingin jatuh cinta, dan satu lagi. Aku tidak ingin menikah dan berumah tangga." Aku sengaja mengatakan hal ini, hanya ingin membuat dia paham. Seperti apa aku sebenarnya.
"Kau serius dengan perkataan mu?" Aku mengangguk lagi. "Kenapa?"
"Maaf kak, mungkin aku tidak bisa memberi alasan itu kepada kakak. Cukup aku saja yang tau, tentang masa lalu pahit yang aku alami."
"Kurasa hidupmu cukup berat?" Aku hanya tersenyum. Ku lirik jam di tangan, masih tersisa 20 menit lagi untuk berbicara dengannya.
"Kau sudah ijin pada orang tuamu kalau mau keluar malam?" Ini salah satu pertanyaan yang menjebak ku. Jika aku menjawab iya, maka aku berbohong.
"Kak aku suka lagu ini." Aku mengalihkan topik dan berpura-pura tidak mendengar saja.
"Iya, kau suka ya?" Aku mengangguk, menoleh ke arahnya dan tersenyum.
__ADS_1
"Nara, apa kau memiliki saudara? Adik atau kakak?" Aku menggeleng, ternyata Satria sangat pintar. Dia bahkan mencari tau tentang ku dan bertanya secara langsung. Sehingga aku tidak bisa berpikir lama untuk menjawabnya.
"Anak tunggal?" Aku mengangguk, kali ini tersenyum. Aku hanya memiliki adik angkat, dan tidak menganggap adik tiri yang hidup bersama ibu.
"Kakak punya adik?"
"Iya punya, dia juga sebaya denganmu. Hanya saja, dia juga sudah punya pacar."
"Kenapa kakak tidak?" Dia malah tersenyum ke arahku. Duh, kenapa ini?
"Aku? Hem, aku punya komitmen. Jika sudah mapan barulah aku akan mencari calon istri, bukan pacar." Aku manggut-manggut mendengarnya.
"Memangnya setelah ini kakak akan bekerja dimana?" Aku bertanya lagi, ternyata asik juga bertemu langsung dengan orang yang belum pernah kita jumpai, hanya berbalas pesan melalui via chatting. Ingin bertanya ataupun menjawab juga harus mengetik pesan lebih dulu.
"Aku akan menjalankan perusahaan ayah."
"Oh, ayah kakak pengusaha?" Satria mengangguk lagi.
Aku melirik ke arah jam tangan lagi, sudah waktunya aku pulang. Meski tersisa beberapa menit, tapi rasanya perutku dan nafasku sudah sangat sesak. Aku rasa cukup sudah melakukan sesi tanya jawab dengan kak Satria. Setelah ini aku juga tidak tau, dia masih mau berteman denganku atau tidak. Karena yang kudengar barusan dia kan mencari calon istri setelah mapan. Dan kurasa, sebelum dia menjalankan perusahaan ayahnya juga dia sudah mapan. Bahkan sejak lahir, memang begitu kan kalau anak orang kaya, harta belum tentu habis jika dimakan tujuh turunan sekaligus.
***
Pagi ini aku datang ke sekolah, seperti biasanya. Ada coklat di bawah laci mejaku. Kali ini aku langsung memakannya, keadaan kelas masih sepi. Aku sengaja datang pagi-pagi sekali. Aku mengeluarkan photo itu dari dalam tas, menelitinya dengan baik-baik. Di sudut kiri paling bawah, ada tangan yang sangat kecil. Tidak akan terlihat jika hanya dilihat secara sekilas.
"Tidak mungkin kan, aku mencari tanda tangan siapa ini! Bagaimana bisa? Apa mungkin aku harus meminta tanda tangan setiap murid di sekolah ini? Hanya karena ingin tau keberadaan Iam sekarang. Ah nggak lucu!" Aku berbicara sendiri, menjawab sendiri. Biarlah, tidak ada yang mendengar jadi tidak akan ada yang menganggap ku gila.
Keadaan kelas semakin ramai, seiring berjalannya menit. Dan sampai pada pelajaran pertama, aku melirik ke arah tempat dimana biasanya Adam duduk. Tapi dia tidak ada, Wahid duduk sendirian disana.
"Kau mencari Adam?" Aku mengangguk ketika Munah bertanya.
"Dia tidak masuk hari ini, mungkin sakit. Kau mau tidak kalau kita datang kerumahnya?"
Bukankah kata Adam, kalau mau datang harus menghubunginya terlebih dahulu? Nanti yang ada Adam malah marah kalau datang tidak memberi kabar, meskipun hanya sekedar menjenguknya.
"Hei, kau mau tidak?"
"Hah? Eh, sebaiknya kita tanya dulu ke Adam. Siapa tau dia hanya butuh istirahat dan tidak ingin di ganggu. Bukanlah kedatangan kita malah mengganggunya?"
"Tidak mungkin." Aku diam lagi. Mengetik pesan di bawah meja agar tidak terlihat oleh guru. Menanyakan keadaan Adam. Ah seharusnya dari tadi malam aku meneleponnya. Kalau begini, aku akan cerita ke siapa tentang photo ini?
"Kau benar-benar tidak mau?" Heh, aku hanya bisa menghela nafas. Jika aku berterus terang dan mengatakan tidak mau pasti Munah akan tetap memaksaku. Baiklah aku mengangguk tanda setuju.
***
"Nara, kau saja yang pencet bel." Hanya itu saja kenapa harus aku.
"Maaf, cari siapa?" Kami serentak menoleh, seorang pelayang dirumah Adam, yang juga ingin masuk kedalam. Sepertinya baru pulang belanja.
"Eh mbak, maaf. Kami temannya Adam." Lagi-lagi aku yang harus menjadi tumbal, aku yang berbicara.
"Oh temannya tuan muda. Maaf sekali Adam dan keluarga sedang pergi keluar kota. Belum tau kapan mereka pulang." Deg. Kenapa Adam tidak bilang? Bahkan pesanku saja tidak ada dibalas, dibaca juga tidak.
"Kalau begitu kami permisi mbak." Pelayan mengangguk, dan menghilang di balik gerbang setelah dia masuk. Aku melangkah lemas menuju mobil, begitu juga dengan Munah.
"Berarti benar kan, Adam benar-benar rindu dengan ayahnya. Dan mungkin ibunya membawanya kesana agar rasa rindunya Adam bisa terobati."
"Eh, kenapa juga Adam tidak pernah bercerita tentang keluarganya ya? Harusnya kan dia bisa cerita ke kita, supaya tidak menjadi beban sendirian."
Aku tetap fokus mengemudi, tidak mendengar apa yang bicarakan oleh Munah. Tapi yang aku tau saat ini dia terus saja mengoceh.
"Nara!!!" Aku kaget dan menoleh.
"Kau kenapa diam saja?"
"Aku hanya khawatir dengan Adam."
"Bukan kau saja, tapi aku juga." Hening, hingga mobilku sampai didepan rumah Munah. Aku tidak ingin mampir, karena jika ibunya tau kalau aku datang. Tidak semudah itu untuk aku bisa langsung pulang. Aku sudah tidak tahan, menggunakan korset ini. Bukan hanya terasa sesak, tapi juga gatal dan panas. Kasian sekali anakku.
Aku harus pulang sekarang, karena semalam aku tidak jadi periksa kandungan. Dan akhirnya, membuat janji hari ini. Meminta dokter yang biasa memeriksa ku datang ke apartemen.
"Kau tidak mampir?"
"Aku langsung pulang saja ya, soalnya aku juga ada urusan lain. Titip salam buat ibu ya?" Munah mengangguk, tapi wajahnya menatapku seperti penasaran dengan aku yang sekarang. Berubah, selalu menolak saat diajak pergi ataupun berkumpul. Maaf, ini semua harus kulakukan. Padahal aku sangat rindu, rindu gelak tawa mereka. Kejahilan Wahid, aku sangat merindukannya.
"Ya sudah, kau hati-hati ya." Aku mengangguk, dan menunggu Munah menutup pintu mobil.
"Eh, Nara. Kau jangan menyembunyikan sesuatu!" Dia bahkan membukanya lagi. Aku tersenyum dan mengangguk lagi.
"Iya." Munah melambaikan tangannya ke arahku. Heh, aku merasa sangat tidak nyaman. Kenapa Adam tidak mau bercerita denganku. Sebenarnya apa yang dia lihat dirumah bi Gina semalam? Apa mungkin suami bi Gina adalah orang yang telah membuat ayahnya meninggal? Bisa saja kan, dan akhirnya Adam syok saat melihat photonya. Eh tapi mendengar cerita bi Gina, suaminya itu orang baik. Apa mungkin?
Aku hanya mencoba berspekulasi sendiri, dan mengaitkan hubungan dari cerita yang ku dengar. Bukankah Adam mengatakan kalau supir itu kabur setelah kejadian, dan hidup susah bersama keluarganya. Itu semua berkaitan dengan kehidupan bi Gina.
"Adam, ayolah kau harus membalas pesanku!!" Aku memukul kemudi, melihat ponsel yang ternyata nomor Adam tidak aktif.
Hingga tanpa terasa, mobil sudah sampai di apartemen. Aku cepat-cepat berjalan menuju lift. Dan saat sampai, bi Gina langsung membuka pintu untukku. Aku yang langsung menerobos masuk, bi Gina hanya menggeleng.
__ADS_1
Aku duduk di sofa, menyandarkan tubuhku. Setelah membuka ikat pinggang di rok sekolah, dan membuka kancing korset.
"Huh, sesak bi. Aku sudah tidak tahan sebenernya. Bagaimana aku bisa bertahan dua bulan lagi. Sementara dua bulan itu perutku semakin membesar?" Bi Gina duduk di samping ku, mengusap lembut puncak kepalaku.
"Sabar, bibi yakin kau pasti bisa. Kau hindari berjalan jauh, kau tidak lagi perlu ke kantin. Kau duduk saja di dalam kelas. Jika kau merasa sudah bosan. Permisi saja ke kamar mandi, lalu buka sebentar." Aku tersenyum, nah kan jika mengeluh dengan bi Gina. Pasti selalu memiliki jalan keluar.
Suara bel berbunyi, aku dan bi Gina saling padangan. Lalu bi Gina memintaku untuk cepat masuk ke dalam kamar. Setelah itu barulah bi Gina membukakan pintu.
"Nara, dokter Linda sudah datang." Bi Gina berteriak dari luar pintu. Aku cepat-cepat mengganti pakaianku.
"Iya bi, sebentar ya."
Setelah aku sudah memakai daster longgar, yang dibelikan bi Gina. Ah rasanya sangat lega, dan pastinya jauh lebih nyaman.
"Dokter." Aku tersenyum membuka pintu kamar. Dan bi Gina mempersilahkan untuk dokter Linda masuk.
"Ayo berbaring." Pertama-tama yang di lakukan, mengecek tensi ku. Lalu dokter Linda menyentuh perutku. Yang aku harapkan kabar baik, janin ku sehat meskipun setiap hari mendapatkan tekanan.
"Tensinya tinggi." Dokter Linda menoleh ke arah bi Gina, sepertinya sengaja ingin bi Gina tau dan mendengar.
"Jadi bagaimana dokter? Apa itu bahaya?"
"Kalau terus-terusan tinggi ya jelas berbahaya. Saya sarankan, untuk Nara jangan terlalu memikirkan hal yang membuatnya emosi. Sering-seringlah keluar rumah, biasanya itu dapat menetralkan emosi. Dengan melihat pemandangan luar yang tidak membosankan." Pantas saja, aku sudah tidak pernah keluar apartemen. Yang aku lihat hanya dinding sekolah dan dinding kamar.
"Saya buka ya." Aku mengangguk, saat dokter Linda menyibakkan daster yang aku pakai. Matanya langsung membulat, seperti kaget saat melihat perutku. Kenapa?
"Nara, apa kau memakai korset terlalu ketat?" Aku tidak bisa menjawab, bi Gina tolong lah aku.
"Dokter, dokter kan tau. Nara masih harus menyelesaikan sekolahnya. Dua bulan lagi juga sudah melakukan ujian kelulusan. Kalau tidak melakukan itu, bagaimana nanti jika ada yang tau? Bukannya Nara juga harus dikeluarkan dari sekolah." Dokter Linda langsung menghela nafas saat mendengar perkataan bi Gina.
Ya, sejak awal memeriksa ku dokter Linda memang sudah mengerti. Keadaan dan situasinya, tapi melihat perkembangan janinku dokter Linda malah seperti memiliki ketakutan untuk selalu mengatakan bahwa janin yang aku kandung itu sehat. Dokter Linda hanya diam, dan memasang stetoskop di telinganya, mengoleskan gel dingin di atas perutku. Berikutnya, dia mengeluarkan alat perangsang detak jantung janin di dalam perut. Memutari area perut, dan sampai pada bagian bawah. Aku juga jelas mendengarnya. Benar-benar ada kehidupan di dalam sana. Hitungan bulan lagi aku akan menjadi ibu. Setelah selesai, dokter Linda melepas stetoskop.
"Ini yang saya takutkan." Apa, aku ingin dengar dokter.
"Dekat jantungnya lemah, karena setiap hari harus mengalami tekanan." Dokter Linda duduk di sofa yang ada di kamar. Aku juga ikut bangkit, dan duduk ditepi tempat tidur.
"Saya sarankan, untuk memakai korset jangan terlalu ketat. Meskipun harusnya tidak memakai, mau bagaimana lagi." Aku menunduk, hanya bisa menatap kedua kakiku sekarang. Berharap lantai akan segera menemukan jawabannya. Mataku memanas, aku menahannya. Jangan sampai ini jatuh, meksipun aku tau apa yang saat ini di pikirkan dokter Linda. Semuanya buruk tentangku, anak sekolah yang sudah hamil. Dan tidak memiliki laki-laki yang harusnya bertanggung jawab atas ini. Aku saja, jika melihat ada orang lain yang berada di posisiku, aku pasti akan menghujatnya. Mengatakan apapun yang pantas aku katakan. Begitu juga dengan orang lain, berpikir sama tentang ku, tentang keburukan.
"Dokter, saya mau tanya?"
"Katakan Nara."
"Apa saat aku melahirkan nanti, aku boleh memintanya untuk melahirkan di apartemen saja?" Dokter Linda dan bi Gina hanya saling pandang.
"Dokter, tolong. Aku tidak ingin semuanya sia-sia." Kemudian dokter Linda mengangguk. Dia bahkan tersenyum, dan berjalan ke arahku.
"Jika apa yang pernah dikatakan bi Gina benar, saya yakin kau akan menemukan kebahagiaan nantinya." Aku menunduk, mana mungkin aku bisa bahagia setelah ini. Tanpa bisa merasakan dipanggil ibu oleh anakku sendiri dihadapan orang-orang. Menutupi indentitasnya, ya Tuhan. Aku sangat tidak ingin dia menderita seperti ku.
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama." Aku bak anak kecil sekarang, yang padahal saat ini aku akan memiliki anak.
"Nara, vitaminnya harus diminum sampai habis ya?" Aku mengangguk. "Apa kau sudah siap melakukannya USG?"
"Bi? Bagaimana?"
"Dokter, tunggu saja sampai usia kandungan genap tujuh bulan."
"Ya sudah. Kalau begitu saya permisi."
"Mari saya antar dokter." Aku kembali berbaring di tempat tidur. Sudah saatnya aku berisitirahat, tidur di siang hari sudah seperti kewajiban untukku.
Tidur dengan posisi telentang rasanya sudah tidak nyaman, aku lebih suka miring sambil memeluk guling. Aku tersenyum kalau anakku menendang, setiap sekolah aku tidak pernah merasakannya. Karena tertahan dengan korset.
"Nara??" Aku menoleh ke arah pintu, suara itu!!
"Nara, kau tidur?" Aku berpura-pura memejamkan mata. Aku tau, itu Munah yang datang. Gawat, aku harus berpura-pura tidur dan tetap pada posisi ini. Kenapa dia bisa secepat ini sampai ke apartemen? Bukankah tadi juga baru aku antar pulang?
"Kau beneran tidur?" Munah mulai dengan aksinya, menyentuh telingaku, lalu menusuk-nusuk hidung ku dengan jari. Ya Tuhan, aku sudah tidak sanggup ingin tertawa. Dan terkahir, aku terasa perutku ada yang meraba, jangan!!
"Munah!" Dia kaget, dan memukul lenganku.
"Nah kan kau tidak tidur! Eh kenapa perutmu sangat keras?" Aku memegangnya.
"Iya, aku masuk angin. Apa kau tadi tidak lihat ada dokter yang baru saja memeriksa ku?" Munah mengangguk.
"Iya sih. Tapi tadi kau tidak apa-apa." Aku diam. Masih dengan posisi tidur yang sama. "Padahal sudah aku katakan, kau jangan menyembunyikan sesuatu! Apa lagi soal kesehatan!" Aku tersenyum.
"Kau ingin istirahat ya?" Aku mengangguk lagi, dan membuat wajahku semelas mungkin.
"Ya sudah, kau istirahat lah. Aku pamit pulang, aku juga tadi hanya mampir sebentar. Karena tadi menemani ibuku belanja, kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini." Dia menepuk pelan lenganku. Aku masih melihat Munah yang berjalan ke arah pintu. Lalu Munah juga sempat menoleh, aku melambaikan tanganku dan tersenyum.
"Huh, hampir saja.."
Bersambung..
__ADS_1