Langit Mendung

Langit Mendung
Dilamar oleh Satria


__ADS_3

"Kinara, aku ingin bicara sebentar denganmu." Padahal saat aku pulang kerumah itu sudah pukul 10 malam. Tapi Satria tidak kunjung pulang. Aku tau, jika dia pasti sengaja menungguku datang.


Dan aku juga tau, pasti selama ini Satria mencari kabarku, karena aku sudah berganti nomor ponsel dia kesulitan untuk menghubungiku.


Seluruh akun sosial media milikku juga sudah aku blokir sendiri. Karena semua teman disekolah menyerang ku, ada juga sebagian yang ikut berbelasungkawa. Karena bagaimanapun juga aku kan tengah berduka atas kehilangan anakku, walaupun aku hamil diluar nikah. Hal yang paling dibenci Tuhan pada umatnya.


Aku masih berdiri mematung, dengan Satria menggenggam tanganku saat ini. Ada pelayan yang melintas, aku langsung mengibaskan tanganku.


"Maaf, aku tidak sengaja menabrak." Satria masih tercengang.


"Nara?" Dia berucap sangat lirih. Tatapan matanya sungguh iba. Aku paling tidak bisa melihat orang seperti ini.


"Tunggulah aku diluar. Aku akan menemuimu." Aku berbisik dan berpura-pura masuk kedalam. Untuk memastikan ayah sudah berada didalam kamar. Dengan begitu aku bisa menjelaskan kepada Satria. Dan juga ada hal yang paling penting, yang harus aku tanyakan padanya.


"Aku menunggu."


Aku melangkah masuk kedalam, lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman kaleng yang ada didalam lemari pendingin.


"Maaf nona. Kalau perlu sesuatu, baiknya minta saja pada pelayan untuk mengambilnya." Aku tersenyum, seluruh pelayan disini sangat sungkan sekali, tidak asik. Jauh lebih asik dengan bi Gina.


"Tenanglah, kalian juga butuh istirahat. Tidurlah saja. Aku juga tidak ingin merepotkan kalian."


"Tapi nona, ini memang tugas kami." Aku menggeleng dan tersenyum.


"Sebelum berada disini aku juga mengerjakan semuanya sendiri." Pelayan yang menegurku langsung tersenyum, dan aku memintanya untuk masuk kedalam kamar. Bukankah mereka semua juga sudah bangun sejak pagi buta? Lalu kalau sampai larut hanya melayaniku saja, apa itu namanya tidak berlebihan?


Aku membawa dua minuman kaleng, karena akan aku berikan kepada Satria satunya. Lagi-lagi, aku harus berpura-pura menaiki anak tangga untuk menuju kamarku, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Melihat situasi, sudah sepi. Padahal ini belum terlalu larut.


"Baiklah, sudah saatnya aku keluar." Aku berbalik, dan berharap suara derap langkah ini tidak membangunkan siapapun yang sudah mapan tidur diatas kasur.


Selamat, batinku saat sudah keluar dari dalam rumah.


"Maaf nona, ini sudah malam. Anda mau kemana?"


"Aku hanya ingin menemui temanku diluar, aku sudah ijin dengan ayah. Kalau tidak percaya silahkan kau panggil saja." Aku berjalan dengan santainya. Tersenyum saat penjaga rumah tidak lagi bertanya ataupun protes. Mungkin mereka juga melihat bahwa ada mobil yang terparkir disana.


"Akhirnya, aku sudah menunggumu sangat lama." Aku melirik jam ditangan, lama katanya?


"Aku rasa hanya 10 menit." Satria menggeleng.


"Satu bulan lebih." Deg. Sialan?


"Bukankah aku sudah menunggu kabarmu selama itu? Jelaskan padaku, bagaimana bisa kau?"

__ADS_1


"Aku anaknya Husein?" Satria mengangguk lagi.


"Aku memang anaknya." Jawabku santai, lalu menyerahkan minuman kaleng untuk Satria.


"Lalu, kenapa sekarang perutmu sudah mengempis?" Aku menoleh kearahnya. Minuman yang sudah ada dalam mulut jadi susah tertelan.


"Dan kau juga menghilang begitu saja, kau berganti nomor ponsel." Aku menarik nafas, dan membuangnya secara perlahan.


"Kak, untuk itu maaf."


"Apa selama ini yang kau katakan tentang keluargamu adalah?" Aku mengangguk, lalu siapa lagi jika bukan ayah dan ibuku yang bercerai?


"Aku tau, kau selalu menjalani hari berat." Aku diam.


"Kak, aku sudah menjalani semuanya. Dan sekarang, aku sudah harus membuka lembaran baru." Satria tidak berkedip menatap ku. Dengan dia tidak bertanya, aku sudah tau apa yang ingin dia bicarakan.


"Anakku sudah tenang. Dia tidak lagi bersamaku." Tanganku langsung dicengkeram olehnya.


"Kinara, bisakah kau bawa aku kepusara? Aku juga ingin menyapanya." Tidak, kenapa kedengarannya terlalu menyedihkan? Seolah-olah Satria adalah ayahnya.


"Aku sudah kehilangan kesempatan untuk dipanggil ayah." Ucapnya lagi.


"Hei kak, sadarlah. Jika kau ingin dipanggil ayah bukankah seharusnya kau menikah saja? Tidak perlu mengharapkannya dari anakku saja? Lagian umurmu juga sudah pantas untuk menikah."


"Aku sedang melamarmu."


"Kak, kau gila ya! aku sedang ingin fokus kuliah dan berusaha menjadi lebih baik lagi sekarang."


"Heh." Satria menghela nafas, lalu memasukkan kedua tangannya disaku celana.


"Kak, ini sudah malam seharusnya aku sudah berada didalam kamar." Aku menoleh kearah pintu rumah. Aku takut kalau tiba-tiba ayah keluar dan menanyakan perihal aku dan Satria. Lebih takut lagi jika ayah sempat berpikir bahwa Satria lah ayah dari anakku.


"Jawab dulu, kau mau tidak membawaku kepusara?" Ya Tuhan, dia benar-benar tidak menyerah ya?


"Kinara?"


"Baiklah kak, kita bertemu disana besok."


Aku sudah siap melangkah untuk pergi. Tapi lagi-lagi Satria menahannya.


"Kinara, bagaimana caranya? Aku tidak memiliki nomor ponselmu." Ah ya ampun, aku juga lupa soal itu. Satria Langsung mencatat nomor ponsel yang sudah aku sebutkan. Lalu, tersenyum senang.


"Terima kasih." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Kira-kira jam berapa besok?"


"Jam 10 pagi aku sudah sampai di pusara. Aku akan share lokasi."


"Baiklah."


"Hati-hati di jalan."


Kenapa Satria mau denganku? Kenapa Satria malah melamar ku? Apa dia hanya bercanda saja?


Aku sudah berada diatas tempat tidur, berbaring setelah mencuci muka dan mengganti dengan piama tidur. Tapi dering ponsel itu menggangguku.


Ternyata Munah yang sedang melakukan video call.


"Ada apa?"


"Hah?? Hei!!" Aku bahkan sampai berteriak kaget saat melihat layar ponsel ada sambungan lain disana.


"Kinara, apa kabar?" Aku sangat merindukannya. Tapi aku merasa canggung, bukankah saat terakhir kali bertemu Wahid mengetahui bahwa aku sedang hamil dan keguguran.


"Aku, aku baik. Bagiamana denganmu?"


"Kau tidak usah canggung begitu, sudahlah itu semua sudah berlalu."


"Hei, kenapa kalian hanya berbicara berdua saja?" Aku tertawa, ah Munah kau sangat pencemburu!


"Munah, kau tau tidak. Satria menungguku pulang tadi?"


"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?"


"Baru saja pulang." Jawabku, kenapa aku menjawabnya seperti tidak bersemangat ya?


"Lalu, bagaimana? Apa kau sudah menanyakan hal itu?"


"Hal itu?" Otakku masih loading.


"Prihal yang dia berada dirumah sakit."


"Hah! Aku lupa Munah!"


"Hei, kalian sedang bicara apasih!" Eh aku lupa kalau disini juga sedang tersambung dengan Wahid. Dan obrolan pun terus mengalir, tidak lebih tepatnya aku yang mendengarkan mereka berbicara. Entah sampai dimana pembicaraan kami, yang pasti aku sampai tertidur dengan sendirinya.


Aku berdoa setiap malam sebelum tidur, berharap Tuhan mau mempertemukan aku dengan Juanda lewat mimpi. Aku sangat ingin melihat bagaimana wajahnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2