
POV Author
Ibu mana yang tidak syok melihat keadaan anaknya dalam kondisi kritis. Belum lagi tau apa penyebab anaknya melakukan hal seperti ini, sebelumnya memang pernah memberontak. Tapi tidak pernah mengurung diri didalam kamar.
"Ibu, ibu tenanglah." Ibunya terus berlari mengikuti suster yang membawa Adam diatas banker. Sampai Windu mencegah dengan menarik tangan ibunya, barulah dia berhenti dan beralih ke pelukan anaknya. Menangis dengan sesegukan dan berkali-kali menyebut nama Adam.
"Ibu, berdoa saja. Bukan hanya ibu yang sedih, tapi aku juga Bu."
"Tapi Windu, bukankah kau juga mendengar dokter mengatakannya kan? Kalau sudah ada darah yang keluar dari hidung, bukankah sangat mustahil untuk Adam bisa sembuh?"
"Sebaiknya kita menunggu saja bagaimana keputusan dokter Bu." Didalam hatinya, Windu juga sebenarnya sudah pasrah. Penyakit yang diderita Adam hanya beberapa orang saja di dunia yang bisa sembuh. Tapi jika dia mengatakannya, bukankah perempuan yang berada didalam pelukannya sekarang akan bertambah syok?
"Maaf, silahkan tunggu diluar. Pasien akan segera kami tangani." Seorang suster langsung menutup pintu ruangan ICU. Windu segera memapah ibunya untuk duduk.
"Kau tau tidak, jika Adam selama ini selalu memimpikan ayahnya? Dia mengatakan kalau ayahnya datang dan menjemputnya, tapi didalam mimpi itu Adam bilang kalau ayahnya mengajaknya pergi liburan."
"Liburan?" Ibunya mengangguk lagi.
"Dulu sewaktu kau masih tinggal dengan nenekmu, ayah pernah berjanji dengan Adam akan membawanya pergi liburan keluar negeri. Dan itu menunggu usianya Adam menginjak 19 tahun." Ibu langsung terisak lagi. Mengingat hal itu. Jika bisa dikatakan, kasih sayang ayah lebih ke Adam.
"Kau kan tau, jika Adam sudah memiliki penyakit itu sejak kecil. Lalu ayah memberi janji seperti itu agar Adam semangat untuk sembuh. Tapi semenjak kehilangan ayahmu, penyakitnya datang lagi bahkan lebih parah." Deg. Windu menunduk, dia juga ikut meneteskan air matanya.
"Ibu, kita berdoa untuk kesembuhan Adam." Mereka saling merangkul, menguatkan satu sama lain.
"Bu, sebentar aku akan menerima telepon."
"Angkatlah."
Windu segera beranjak dari tempatnya, mencari suasana yang tidak begitu ramai. Setelah menemukan tempat yang pas, layar ponsel itu langsung disentuh.
"Hallo?"
"Pak, apa bapak bisa datang ke kantor sekarang?" Suara diseberang telepon mulai terdengar, ya itu adalah sekretarisnya dikantor.
"Saya sedang berada dirumah sakit. Sepertinya tidak bisa. Memangnya kenapa?"
"Maaf pak mengganggu waktu bapak. Tapi-"
"Katakanlah."
"Hem bapak Abdi datang ke kantor pak." Deg. Windu langsung meremas ponselnya dengan geram.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menanganinya?" Lama sekretarisnya menjawab.
"Baik, tunggulah. Saya akan segera datang."
"Baik pak."
Windu kembali datang, dan berusaha menetralkan emosi dengan mengubah mimik wajahnya seperti sebelum dia pergi menerima telepon.
"Ibu, aku akan pergi kekantor sekarang. Apa ibu tidak apa-apa jika aku tinggal?" Berbicara dengan sangat lembut.
"Apa ada urusan yang jauh lebih penting dari nyawa adikmu?" Deg. Windu memalingkan wajahnya, bisa apa sekarang? Begitu batinnya berbicara.
"Pergilah. Ibu bisa sendiri."
"Bu, aku hanya sebentar saja. Ada dokumen penting yang lupa aku tanda tangani."
"Pergilah nak, ibu mengerti. Cepat kembali lagi ya." Windu menyempatkan lagi memeluk ibunya. Sekali lagi sebelum pergi, mencoba menguatkan hati seorang ibu saat ini.
Kesendirian disisi ruangan, menunggu dokter ataupun suster yang keluar. Untuk mencari informasi tentang kondisi anaknya. Air mata itu jatuh lagi, dimana bayangan masa lalu muncul di kepalanya.
"Sayang, jika anak kita laki-laki lagi aku tidak apa-apa, asalkan dia sehat." Dengan senyuman dan tangan lembut itu menyentuh perut yang sudah membesar.
Tes, air mata itu jatuh lagi. Ingin sekali protes kepada Tuhan sekarang. Kenapa! Harusnya dua jagoan, dan sekarang, jika Adam pergi yang berarti hanya tersisa Windu.
"Keluarga pasien?" Lamunan itu buyar ketika suara dokter terdengar ditelinganya.
"Kami sudah menyuntikan beberapa vitamin. Tapi, belum ada respon."
"Dokter, maaf. Anak saya memiliki alergi obat." Dokter langsung merubah raut wajahnya. Sepertinya orang yang tengah kaget.
"Apakah dia pasien yang selalu datang cek up kesini?"
"Benar dok." Dokter langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
"Dokter, bagaimana?"
"Tunggu sebentar, dokter yang biasa menangani akan datang."
"Apa saya boleh masuk?" Dokter mempersilahkan, dan itu juga dibatasi waktunya. Hanya 10 menit tidak lebih, karena mengingat kondisi Adam yang memang sudah lemah.
Tidak mungkin bisa menahan air mata melihat kondisi anak yang terbaring dengan terpasang selang diseluruh tubuh. Kakinya sudah bergetar, berjalan dengan perlahan mendekat. Ingin sekali rasanya memeluk, dan menyingkirkan berbagai macam alat yang terpasang dengan mengeluarkan bunyi.
__ADS_1
"Adam. Ini ibu sayang." Mata yang menutup itu, sempat mengeluarkan cairan bening.
"Adam, kau mendengar ibukan?" Tetap tidak ada respon. Ibu menghapus air mata yang keluar dari mata Adam. Dia sangat yakin, jika orang yang sedang koma pasti bisa mendengar apa yang dikatakan orang lain.
Hingga waktu yang sudah ditentukan itu berjalan, ibu kembali keluar ruangan. Dengan penampilannya yang lusuh, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat rapi dan cantik. Air mata sudah membuat matanya seperti habis terkena tinjuan orang lain.
"Herna?" Dia mendongak, melihat siapa yang menegurnya dirumah sakit ini.
"Kau, sedang apa?"
"Husein." Ayah dari Kinara itu langsung ikut duduk.
"Aku sedang menunggu Adam. Keadaannya sudah kritis sekarang."
"Ya Tuhan. Kenapa musibah bisa datang di keluarga kita secara bersamaan?"
"Bersamaan? Maksudnya? Apa istrimu?"
"Bukan, tapi anakku Kinara. Putri kecilmu." Deg. Ibunya Adam langsung mengubah posisi duduknya, lebih tepatnya memiringkan tubuhnya.
"Kinara? Kenapa dia? Apa dia juga memiliki penyakit?" Husien menggeleng. Lalu memalingkan wajahnya, menatap kearah depan. Satu tarikan nafas panjang, lalu dibuang dengan kasarnya. Hanya itu sedari tadi yang dia lakukan ketika dadanya mulai sesak. Dengan begitu, seorang ayah yang sedang hancur ini tidak akan menangis.
"Kinara hamil." Ibunya Adam langsung terlonjak kaget, dia berdiri dari duduknya tapi tidak membuka suara hanya mulutnya saja yang terbuka.
"Tapi dia keguguran. Dan sekarang, Kinara belum sadarkan diri didalam ruangan ICU."
"Siapa orang yang tega menghamilinya?"
"Pertanyaanmu adalah semua pertanyaan kami saat ini." Deg. Ibunya Adam menggeleng.
"Aku yakin, jika Kinara pasti mengenal orang itu dengan dekat."
"Harusnya kau mencari tau, bukankah hanya hal seperti ini tidak sulit untukmu?"
"Aku takut salah menebak. Dan lebih baik lagi jika aku mendengarnya langsung dari Kinara."
Dua kabar duka ini sungguh menghujam jantungnya. Ibunya Adam mengelus dada, menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.
"Jika anakku sudah kembali dari kantor, maka aku akan datang untuk melihat keadaan Kinara. Kau harus bersabar, jangan pernah menyalahkan Kinara. Karena ini semua juga berawal dari perceraian kalian." Husien berdiri dan pergi meninggalkan Herna. Dengan wajahnya yang lelah hari ini. Itu semua tidak bisa ditutupi.
Bersambung..
__ADS_1