Langit Mendung

Langit Mendung
Sebuah perpisahan


__ADS_3

POV Author


Entah masalah apa lagi yang harus dihadapi keluarga Hendrawan. Windu yang kini tidak memiliki tameng, penguat untuknya. Berdiri dengan tegak, walau sebenarnya hatinya bergetar, bukan masalah takut. Tapi tidak tau harus bagaimana caranya menyampaikan kepada ibunya. Bahwa separuh saham perusahaan sudah berada ditangan omnya. Yang berarti saat ini, posisi mereka diperusahaan itu sama.


"Aku rasa, om memang tidak memiliki pikiran." Brak!!


"Lancang sekali kau berkata begitu. Hei, harusnya kau ingat. Kau bisa kuliah, kau bisa menikmati dari hasil uang perusahaan itu karena aku. Karena aku yang membantu ibumu. Kalau tidak ada aku, mungkin perusahaan ini sudah bangkrut sejak lama!" Windu tak kalah dalam hal ini, dia ikut menggebrak meja dengan kerasnya. Berdiri dan tidak segan menunjuk wajah omnya.


Baginya kesopanan tidak perlu lagi dilakukan. Yang ada dihadapannya sekarang bukan omnya, melainkan pembunuh ayahnya sendiri.


"Haha, apa om juga lupa? Kalau saja tidak ada om, ayahku tidak akan meninggal! Kau pembunuh! Dengan ambisi yang seperti sekarang ini. Ingin memiliki tapi dengan cara instan." Wajah Abdi langsung memerah, meremas jari-jarinya sendiri.


"Kalian tidak memiliki bukti!"


"Kami tidak memiliki bukti, tapi kami sudah tau siapa pecundang yang selama ini kami cari." Abdi tertawa mengejek, dia juga ikut berdiri. Berjalan mondar-mandir mengelilingi Windu.


"Memang benar aku yang membunuh ayahmu. Tapi aku tidak menyesal, dan sekarang aku puas. Haha." Ada emosi sekarang yang tidak bisa dikendalikan.


"Ingatlah, kita harus menghadapinya dengan cara halus, karena dia juga bermain dengan halus. Berpura-pura lemah saja agar dia merasa menang." Kata-kata itu terngiang ditelinga Windu. Mencoba meredam emosi kala mengingat apa saja pesan ibunya, dengan menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.


"Kenapa kau diam?" Windu hanya tersenyum tipis. "Sebentar lagi, kau akan aku depak dari perusahaan."


Dengan bangganya Abdi berkata.


"Dasar tidak tau malu!" Gumamnya pelan.


"Kau masih terlalu kecil untuk melawanku!"


"Maka dari itu harusnya om mencari lawan yang sepadan. Bukan aku ataupun ibu."


Brak. Suara dari luar pintu itu terdengar, seperti ada sesuatu yang jatuh sekarang.


Abdi langsung berjalan keluar pintu. Melihat siapa yang sedang menguping pembicaraan mereka. Lalu menoleh lagi kearah Windu dengan tatapan yang tajam. Setelahnya dia melangkah pergi.


"Hallo?" Windu memasukkan satu tangannya disaku celana.


"Hapus rekaman CCTV dibagian luar ruangan saya. Sekarang!" Lalu tersenyum dan kembali memasukan ponsel disaku celananya. Melangkah dengan gontai keluar ruangan. Dan ini sudah saatnya untuk kembali lagi kerumah sakit.


***


"Kinara sudah sadar." Deg. Kedua orang tua ini mendongak. Saling tatap dan sama-sama berdiri untuk segera masuk kedalam.


"Aku duluan!" Namira melangkah, dokter berpesan hanya diperbolehkan satu saja yang masuk. Karena mengingat kondisi pasien yang sangat lemah.


"Kinara?" Lirih memanggil nama anaknya.


"Sayang, ini ibu nak." Kinara hanya melirik, tidak menjawab tapi air matanya sudah jatuh.

__ADS_1


"Kinara?" Membelai lembut wajah anaknya yang pucat. Kinara hanya diam. "Maaf, ini semua karena kelalaian ibu dan ayahmu. Maaf, kau sudah sangat terbebani sekarang. Tapi kenapa kau tidak jujur saja soal ini?"


"Ibu." Ibunya menatap wajah Kinara dengan lembut.


"Pergilah. Bukankah ibu yang mengatakan padaku untuk tidak mau bertanggung jawab atas apapun yang terjadi padaku? Bukankah ibu sudah pernah mengatakannya waktu itu? Jadi bagaimana bisa ibu berkata sekarang untuk memintaku jujur?" Deg. Ada jantung yang spontan memompa dengan cepatnya.


"Dimana anakku sekarang Bu? Aku tidak apa-apa sekarang jika harus jauh lagi dengan ibu, meskipun ibu dan ayah tidak mau mengakui sebagai anak. Yang terpenting aku masih punya Juanda. Aku tidak ingin dia tumbuh sepertiku. Jadi lebih baik aku jauh dari ibu dari pada harus jauh darinya."


"Kinara?"


"Ibu? Aku hanya ingin anakku." Deg. Lagi-lagi, kaki yang menopang tubuh sudah melemas. Tulang seakan melunak.


"Ibu kumohon, jangan tanya siapa ayah dari anakku." Pelukan itu langsung diberikan seorang ibu. Dia tau, meskipun saat ini anaknya melakukan kesalahan yang belum tentu setiap orang tua mau memaafkan. Tapi dia sendiri sudah pernah merasa kehilangan, dan bagaimana rasanya.


Kata-kata yang setiap diucapkan Kinara menghujam jantungnya. Bahkan bersumpah dalam hati untuk menarik kata-katanya yang tidak ingin mengakuinya sebagai anak jika sampai hamil diluar nikah.


"Apa kau sangat menyayangi anakmu?" Kinara langsung mengangguk.


"Lebih dari nyawaku. Jika terjadi sesuatu padanya, aku bahkan rela menukar nyawa untuknya, bernegosiasi kepada Tuhan melalui doa."


"Ibu malu padamu Kinara." Isak tangis itu jelas terdengar. "Ibu malu padamu, ibu malu! Ibu tidak melakukan seperti itu padamu dulu."


"Bu?" Ibunya mendongak dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya. "Maafkan aku, selama ini tidak mau mendengar kata-kata ibu dan ayah. Tapi kali ini aku mohon, jangan pisahkan aku dengan anakku." Ibu yang merasa tidak sanggup menjelaskan hanya bisa mengangguk, lalu melangkah pergi dengan membawa sejuta kehancuran.


Rasa yang tidak bisa dijelaskan ini terus melingkupi pikirannya. Anak yang memang tidak pernah dia didik dan diajari, bahkan bisa jauh lebih dewasa pemikirannya dari dirinya sendiri, yang memang berstatus sebagai seorang ibu.


"Dia bi Gina, dia yang selama ini merawat dan menemani Kinara." Begitu keluar dari pintu, mantan suaminya langsung menjelaskan. Tapi Namira selaku ibu langsung memeluk bi Gina. Mengucapkan ucapan terima kasih karena sudah mau menggantikan posisinya sebagai seorang ibu.


"Anak bibi sudah bangun? Anak nakal! Kenapa tidak pulang ke apartemen? Bibi sudah menunggu dengan memasak sup kesukaan mu."


"Bibi?" Disela-sela tangisnya tapi Kinara bisa tersenyum ketika melihat siapa yang datang. "Bibi maafkan aku."


"Nara-"


"Bi, bagaimana keadaan anakku sekarang?" Deg. Bingung, bi Gina menoleh kebelakang. Berharap ada siapa yang masuk dan menolongnya dari pertanyaan ini.


"Pikirkan saja dulu kesehatan mu. Juanda sehat." Maafkan bibi jika harus berbohong Kinara. Begitu batinnya berbicara.


"Bi? Bibi tidak sedang menipuku kan?" Bi Gina menggeleng dan tersenyum.


"Nara, mereka semua menanyakan kepada bibi. Siapa ayah dari anak yang kau lahirkan. Apa bibi harus jujur?"


"Bi?"


"Nara, sudah seharusnya mereka tau. Jika kau tidak sanggup, maka biar bibi saja yang akan menjelaskan kepada mereka."


"Pergilah bi. Aku akan diam disini untuk menerima kabar selanjutnya." Bi Gina mengelus lengannya. Benarkan, hanya dengan bi Gina Kinara bisa luluh. Bahasanya yang lembut itu mampu menghipnotis anak orang kaya raya yang ada dihadapannya sekarang.

__ADS_1


"Kau harus sehat ya? Sebentar lagi kata dokter kau akan dipindah ruangan."


"Iya bi." Bi Gina berbalik. "Bi?" Bi Gina menoleh lagi kebelakang. "Terima kasih untuk semuanya." Senyuman dan anggukan itu jelas terlihat.


Saat membuka pintu, sudah ada orang lain lagi yang berada disini. Tapi dia jelas mengenali sosok itu.


"Bi Gina?" Bi Gina tersenyum dan membalas sapaannya. Dia adalah ibunya Adam.


"Tuan, saya sudah selesai. Apa tuan akan masuk? Setelah itu ada yang ingin saya bicarakan." Dia berbicara dengan ayahnya Kinara, selaku majikannya.


"Biarkan Herna yang lebih dulu masuk, dia juga akan pamit kepada Kinara."


"Pamit?" Ibunya Adam mengangguk dan tersenyum, dengan wajahnya yang saat ini sudah sembab.


"Adam akan dibawa pergi keluar negeri. Karena dia juga sudah siuman." Deg. Bi Gina langsung menunduk dan berjalan untuk duduk di kursi tunggu.


Sepuluh menit berlalu, ibunya Adam belum juga keluar dari ruangan. Husein sudah menatap Bi Gina, mengingat jika dia mengatakan akan membicarakan hal penting.


"Bi, bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" Bi Gina membuang pandangannya.


"Iya tuan."


"Permisi, pasien atas nama Kinara akan dipindah ruangan." Mereka langsung berdiri, dan segera meminta suster untuk melakukan tugasnya. Pembicaraan itu terjeda dan lebih baik menunggu suasana yang tenang.


"Husien, aku titip Windu padamu. Aku mohon bantulah dia disini selama aku pergi dengan Adam. Dia masih butuh bimbingan." Tepukan dipundak itu sudah mewakili semua permintaannya.


"Pergilah, dan kembali dengan membawa kabar bahagia."


"Namira, tolong jaga Kinara setelah ini. Dan bi Gina, terima kasih untuk informasi yang sudah bibi berikan." Dia melangkah pergi ke lorong lain. Mungkin sudah waktunya untuk dia dan Adam pergi.


Beberapa menit kemudian, Kinara sudah dikeluarkan dari ruangan. Dengan posisi tubuhnya yang berbaring di atas banker. Kedua orang tuanya dan juga bi Gina mengikuti langkah dimana Kinara akan pindah ruangan. Yang pasti, ruangan untuknya kali ini adalah ruangan khusus VVIP. Mengingat siapa ayahnya dan saham dirumah sakit ini juga milik ayahnya. Jelas jika pasien sepertinya mendapatkan keistimewaan.


Saat akan memasuki ruangan, Kinara melihat seseorang yang tengah duduk dikursi roda. Wajahnya yang pucat itu seperti tidak dialiri darah. Dan kantung matanya yang menghitam.


"Suster, tunggu. Berhentilah sebentar."


"Kinara ada apa sayang?" Dia menunjuk kearah dimana Adam dan ibunya tengah berdiri, mungkin menunggu sesuatu.


"Iya sayang, Adam akan pergi keluar negeri sekarang juga." Deg. Matanya masih tetap menatap lekat kearah Adam. Tapi saat ada laki-laki yang melangkah mendekati Adam dan ibunya, Kinara jelas melihat sosok itu.


"Satria?" Deg.


"Sudah suster, bawa masuk." Permintaan ayahnya yang tidak bisa dibantah.


"Tenanglah sayang, doakan saja temanmu itu sembuh agar kalian bisa saling bertemu lagi dikemudian hari."


Bersambung...

__ADS_1


Jujur ya, aku sendiri yang nulis ini tuh sampai nangis. Huu sedih, pengen mewek rasanya. Pasti kalian yang baca pada penasaran ya? Apa ini hanya halusinasi atau memang kisah nyata? Bisa kok tanya-tanya sama aku. Tinggal follow Ig : @Sellaaprtw


DM aja, aku juga pengen kenal lebih dekat sama setiap pembaca hehe. Makasih banyak sebelumnya yang udah mau baca setiap karya aku, mulai dari "Mana mungkin suamiku selingkuh" Makasih banyak atas support dan masukan berupa komentar yang kalian kasih ke aku. Sehat-sehat terus kalian ya 🤗🤗


__ADS_2