
"Karena aku mencintaimu." Kata-kata itu terus terngiang. Aku sudah mencoba menutup telinga dengan kedua tangan, tapi tetap sama.
"Karena aku mencintaimu." Prak!! Aku melemparkan bantal secara asal sampai mengenai lampu tidur.
"Ah ya Tuhan, aku bisa gila." Aku bingung dengan hatiku sendiri. Sebenarnya saat aku mendengar Windu mengatakan hal itu, aku senang atau marah? Begitu juga dulu dengan Adam. Jantungku sering berdebar tidak terkendali, setiap kali bertemu ataupun dekat dengannya semenjak dia berani mengungkapkan perasaannya padaku.
Lain hal dengan Windu, aku benar-benar tidak merasa istimewa sama sekali. Jantungku tidak pernah berdebar, darah juga masih mengalir dengan proses yang biasa. Sayangnya, Adam hanya menipuku, dan soal Windu aku tidak tau. Bisa saja kan kedua kakak beradik itu sudah memiliki rencana? Eh apa sebaiknya aku tanyakan hal ini kepada ibu Herna?
"Kinara, Windu sudah datang." Aku kembali menghela nafas dan membuka pintu kamar.
"Ibu?"
"Turunlah, mereka ingin bicara denganmu." Aku kembali menutup pintu, tidak ada niatan untuk merapikan lagi penampilanku.
Malam ini, adalah kesepakatan diantara kami. Aku akan menjawab terang-terangan, menerima perjodohan ini ataupun menolaknya.
"Seharusnya kau katakan saja kalau Adam lah yang sudah menghamilimu." Eh kata-kata Munah itu, meskipun sangat tidak mungkin. Tapi memang hanya itu alasan yang tepat saat aku menolaknya. Namun saat ini, aku sudah memikirkan cara lain.
"Kinara, duduklah." Ayah memintaku duduk diseberang sofa, dan ibu Intan duduk disampingnya. Windu duduk sendirian, dia tersenyum padaku saat tau aku sudah datang. Aku hanya tersenyum kecut dan menunduk. Menggenggam jari-jariku.
"Kinara, kau sudah tau tentang perjodohan ini. Jadi ayah tanya padamu, apakah kau menerimanya?" Satu, dua, tiga. Apapun yang keluar dari mulutku saat ini adalah kepastian dari masa depanku.
"Aku menerimanya yah." Deg Deg. Jantungku berpacu dengan cepat, tanganku gemetar. Bukan karena cinta, tapi karena mendengar keputusanku sendiri.
"Tapi dengan syarat?" Ayah sudah membuka mulut bak ikan yang tengah mencari oksigen. Melihatku berbicara lagi ayah urungkan mengeluarkan suara.
"Apa itu Nara?" Aku menoleh kearah Windu sewaktu dia bertanya.
"Aku tidak ingin menikah sekarang. Aku ingin fokus dengan kuliahku dulu, hingga aku lulus dan menjadi sarjana maka aku siap untuk menikah." Ayah dan ibu saling pandang.
"Nara, itu waktu yang cukup lama. Dan harus menunggu beberapa tahun lagi. Ayah khawatir jika kau-"
"Aku hamil diluar nikah lagi ya?" Ayah diam tidak menjawab ku. "Aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama ayah. Dan soal itu harusnya ayah yang menasehati kak Windu, agar tidak menyentuhku sebelum kami resmi menikah."
"Windu, om berterima kasih padamu karena mau menerima perjodohan ini, menerima Kinara yang statusnya kau juga sudah tau. Tapi sekarang om tanya, apa kau bersedia menunggu?" Windu membenarkan posisi duduknya lagi, aku yakin jika saat ini dia pasti sedang gerogi.
"Aku, aku bersedia om. Dan kurasa itu lebih baik."
"Kau benar-benar tidak keberatan kan?" Ayah bertanya sekali lagi. Dan Windu menjawab dengan kata-kata yang sama, tidak sama sekali keberatan.
"Sudah kan yah? Apa aku boleh berbicara berdua dengan kak Windu sekarang?"
"Ah iya silahkan, itu sudah seharusnya. Karena mungkin ada hal lain yang ingin kalian bahas." Aku mengangguk, lalu melirik kearah Windu agar dia juga ikut bangkit dari duduknya. Aku ingin berbicara diluar saja.
"Eh tunggu." Ayah kembali mencegahku.
__ADS_1
"Ternyata kalian sudah mengenal satu sama lain cukup lama ya?" Deg. Benarkan, ayah juga tau hal itu. Sungguh bahaya jika aku menutupi sesuatu darinya. Yang aku pikir ayah tidak akan tau, tapi nyatanya. Ah sudahlah.
"Permisi om." Ayah mempersilahkan kami untuk keluar.
Lagi-lagi malam tanpa bintang. Aku sengaja meminta Windu untuk duduk dikursi taman depan rumah. Yang akan jauh dari telinga pengawal ataupun pelayan yang melintas. Kami masih diam, hanya ada suara hembusan nafas dan angin yang sesekali datang. Menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun.
"Kak, kau benar-benar mau menunggu?"
"Kenapa? Kenapa kau tidak berbicara saat tadi siang sewaktu kita bertemu?" Aku meliriknya sekilas dan tersenyum. "Apa ada hal lain yang kau rencanakan? Dibalik perjodohan ini?"
Aku menggeleng.
"Apa wajahku terlihat tukang menipu?"
"Ah buktinya saja kau sanggup menyembunyikan kehamilan mu dulu sampai berbulan-bulan."
"Kak, kata-katamu sungguh menyingung." Aku menunduk.
"Maaf. Bukan itu maksudku." Aku diam. "Kinara maaf." Windu menggenggam tanganku. "Jadi, apa sekarang kita pacaran?" Hah???
"Nara?"
"Ya?"
"Apa kita pacaran?"
Windu menghela nafas.
"Apa kau sudah mencoba akan dekat dengan laki-laki lain?"
"Trauma ku masih ada kak." Windu mengangguk.
"Baiklah, apapun keputusanmu akan aku turuti."
"Terima kasih kak."
"Kalau begitu aku pulang sekarang. Jangan pernah mengabaikan pesan ataupun panggilan dariku. Karena bagaimanapun mulai saat ini, kau adalah calon istriku." Gila, kenapa bulu kudukku meremang? Aku geli sendiri mendengarnya.
"Kak, bisakah aku minta nomor ponsel ibu Herna?" Windu terdiam. "Aku hanya ingin menanyakan kabarnya, aku juga rindu padanya. Kenapa kau begitu takut kak?"
"Tidak, apa yang aku takutkan?" Windu menyerahkan ponselnya padaku. Lalu aku mencatat nomor ponsel yang diberi nama "ibu" dengan tanda hati diujung kalimat.
Eh? Bukankah ini nomor ponselku? Kenapa? Kenapa dia memberi nama "calon istri?" Sejak kapan dia menggantinya?
"Kembalikan, jangan melihat yang lain." Aku terdiam, dan terakhir memandang langkahnya yang semakin menjauh dari pandanganku.
__ADS_1
***
POV Author
Ditempat lain, suasana yang berbeda negara ini jelas dirasakan. Berbeda siang dan malam.
Adam meminta ibunya membawanya keluar, sekedar jalan-jalan dihalaman rumah sakit.
"Adam, kenapa kau tidak menanyakan kabar Elena sewaktu dia datang?"
"Keadaanku masih lemah Bu. Sekedar membuka mulut juga susah." Heh, hanya helaan nafas terdengar. Tapi seorang ibu pasti memiliki firasat yang kuat. Terutama kedatangan Elena kesini, Adam seperti tidak ingin sama sekali menyambutnya. Walaupun Adam sadar saat Elena datang.
"Bu, bagaimana perjodohannya?" Ibu membuyarkan lamunannya. Hatinya mencelos saat mendengar Adam bertanya. Ibunya sendiri tau, jika sebenarnya Adam yang menyukai Kinara. Tapi mengingat keadaannya saat ini.
"Sudah, semua berjalan dengan lancar."
"Bu, kalau begitu jangan beri tau mereka semua bagaimana kondisi ku saat ini dan kedepannya. Jika Tuhan berkehendak, dan aku bisa sembuh. Aku ingin tidak satupun orang tau Bu. Anggap saja saat kita pulang ketanah air dengan membawa ku dengan keadaan selamat dan sehat, itu adalah surprise untuk mereka yang mendoakan kesembuhan ku." Deg.
"Adam?"
"Begitu juga dengan kak Windu. Kumohon Bu, setelah mendengar bagaimana kabar dari dokter nantinya mohon jangan beri tau siapapun. Aku mau kuliah disini Bu, sesuai rencana ibu." Ibunya mengangguk.
"Ada yang menelpon, ibu angkat sebentar ya?" Adam mengangguk dan ingin tau siapa yang menelpon. Memastikan lagi bahwa ibunya tidak akan buka mulut dan menuruti kemauannya.
"Hallo? Siapa?"
"Ibu ini Kinara." Ibunya langsung melirik kearah Adam.
"Sayang, apa kabar nak?"
"Aku baik Bu. Bagaimana denganmu Bu? Lalu Adam?" Adam menggeleng, walaupun tidak tau siapa yang menelpon. Yang pasti Adam tau orang itu sedang menanyakan keadaannya.
"Keadaannya masih sama. Hari ini dokter juga akan menjelaskan kembali tentang kondisinya." Dan obrolan pun berlanjut, hingga ibunya mengakhiri panggilan telepon.
"Siapa Bu? Siapa yang menelpon?"
"Kinara sayang."
"Apa yang dia katakan? Apa ibu tidak bertanya mengenai perjodohan itu? Apa dia merasa senang Bu?"
"Adam, dia menerimanya. Dan dia juga tidak keberatan." Ibunya mengelus lengan Adam.
Kinara, secepat itukah kau melupakanku? Memang benar, kau tidak pernah membalas perasaanku. Bahkan sampai kau mengandung anakku. Dan melahirkannya, kau belum juga mulut tentang siapa ayah dari anakmu. Kau tetap tidak membalas. Padahal soal perjodohan ini aku hanya ingin mengetesnya saja.
Batin Adam berbicara, lalu dia meminta ibunya kembali membawanya masuk. Dengan alasan ingin kembali istirahat.
__ADS_1
Bersambung..