
POV AUTHOR
Sore yang indah, langit nampak sangat memamerkan segala ciptaan Tuhan. Semuanya tergambar di langit dengan cat di gantikan awan putih. Adam memandangnya sejenak, berdiri di balkon kamarnya. Meratapi sedikit kisahnya yang harus menyembunyikan kematian ayahnya. Jika orang yang masih hidup biasa sering dikatakan sudah meninggal. Tapi kali ini berbeda, ayahnya yang telah lama meninggal malah dikatakan masih hidup. Keluarga terpaksa menyembunyikan hal ini, karena kematian ayahnya yang memang unsur kesengajaan dari seseorang.
Yang lebih membuat keluarga mereka merasa heran adalah, kemana supir yang saat itu hilang begitu saja. Apakah dia masih hidup? Menghilang begitu saja tanpa jejak. Dan yang kedua, polisi menutup kasus itu begitu saja, seperti sudah ada permainan oleh orang yang kuat.
"Adam?" Adam menoleh ke belakang. Melihat wajah wanita tercantik di dunia baginya. Dia tersenyum lalu berjalan mendekat. "Ayo nak." Adam mengangguk, tapi secepat itu senyumnya hilang. "Bersabarlah, kau juga harus yakin untuk ini." Mengelus puncak kepala Adam dengan lembut, lalu menggandeng lengannya.
Dia Marisah, ibu kandung Adam dan istri sah dari Hendrawan Agustama. Adam adalah putra keduanya. Saat ini Adam hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sementara putra pertamanya yang bernama Windu tengah melanjutkan kuliah di luar negeri, kuliah di universitas terbaik disana.
"Apa ibu sudah menghubungi om Abdi?"
"Sudah, setelah pulang dari rumah sakit kita akan langsung bertemu dengannya."
"Apa sudah ada kabar tentang ayah? Maksudnya kabar atas meninggalnya ayah?" Berhenti melangkah, lalu mengangguk pelan. Dan itu hanya harapannya saja.
"Bu?"
"Adam, sudahlah. Jika ini tidak memiliki hasil, maka ibu sudah tidak akan lagi mengungkitnya. Biarkan mereka yang berbuat jahat kepada ayahmu menerima karmanya." Adam menggeleng.
"Adam, biarkan ayah tenang di alam sana." Adam berjalan mendahului dan memasuki mobil. Wajahnya semakin tidak memiliki semangat. Tahun demi tahun berganti, tetapi tidak memiliki titik terang. Sedikitpun tidak pernah. Jika mulut bisa berkata, tapi lain di hati yang belum bisa ikhlas. Menerima semuanya, kematian tragis yang sengaja di lakukan orang lain. Sudah beberapa kali pihak keluarga berembuk, tapi kedua putranya yakin suatu hari semuanya akan terbongkar.
Adam saat ini yang masih duduk di bangku SMA belum mampu menjabat di perusahaan ayahnya, dan kakaknya Windu juga harus menyelesaikan kuliahnya dulu. Sementara, perusahaan akan di ambil ahli dengan omnya. Semua masih berjalan dengan baik sekarang. Keuangan mereka juga lancar.
"Ayah tidak memiliki musuh kan Bu?"
"Adam, dunia bisnis itu kejam. Mereka bisa tersenyum dihadapan kita, tapi bisa juga membunuh kita saat kita lengah. Meskipun mengatasnamakan rekan kerja, mereka juga saingan kita. Begitulah yang di hadapi ayahmu."
"Bu? Mungkin tidak kalau pelakunya keluarga sendiri?" Mobil berbelok ke arah kiri saat sudah sampai di persimpangan.
"Adam, jaga bicaramu nak. Jika kau berbicara begini di dengar oleh om Abdi, dia pasti akan marah besar. Karena setahu ibu keluarga mereka saling menyayangi." Adam langsung terdiam dan fokus menyetir mobilnya.
Padahal waktu itu, pernah sekali Adam mendengar. Walau tidak jelas, tapi dia masih ingat. Entah rasa kecurigaan dari mana yang mendorongnya malah lebih memilih menyelidiki keluarganya sendiri. Adam sendiri sangat yakin, ayahnya tidak memiliki musuh dan masalah dengan orang lain. Karena setiap memenangkan tender, pasti ayahnya akan selalu ijin dengan ibunya untuk makan di luar bersama rekan-rekannya. Umur yang belum cukup, tapi telinganya tidak tuli.
"Sudah kau bereskan semuanya?" Adam menempelkan telinganya di tembok, dia benar-benar tidak tau siapa yang ada disana. Bicara dengan siapa. Adam hanya mampu mendengar suaranya saja.
"Sesuai kesepakatan, kau harus pindah dari kota ini. Mulai dengan hidup yang baru dengan keluargamu. Iya, aku janji akan terus mengirimkan uang untukmu. Pindah di desa terpencil, yang sulit untuk di jangkau orang lain. Kau mengerti?"
"Bagus. Jangan pernah hubungi aku sebelum aku menghubungi mu."
Suasana sedang duka di rumahnya. Tapi Adam sangat yakin, orang yang menelepon di balik tembok itu pasti salah satu dari keluarganya. Karena memang hanya ada keluarga disana. Yang mengetahui kematian ayahnya. Hanya saja, firasat itu muncul sekarang, setelah keluarga memutuskan untuk menyelidiki kasus kematian ayahnya. Tapi ibunya selalu tidak terima jika Adam menuduh anggota keluarga yang melakukan.
"Adam?" Adam terkesiap, lamunan tentang masa lalunya langsung buyar begitu saja.
"Iya Bu?"
"Kau melamun? Bukankah rumah sakit harusnya berbelok?" Adam menepuk keningnya, terpaksa harus putar balik untuk masuk kerumah sakit. Ibunya langsung menegurnya, jangan melamun saat berkendara, jangan seperti itu. Trauma berat yang merenggut nyawa suaminya menjadikannya ketakutan tersendiri untuk menaiki mobil.
"Maaf Bu."
Kunjungan kerumah sakit hanya satu jam, setelahnya Adam mengantar ibunya untuk datang ke tempat dimana mereka sudah janji bertemu dengan omnya. Adik kandung dari ayahnya. Adam mengatakan untuk duduk di dalam mobil saja.
"Aku tidak mau mendengar apapun yang berujung kekecewaan Bu." Ibunya mengalah, lebih memilih masuk sendiri.
Adam memainkan ponselnya, lalu melirik ke arah mobil yang baru saja berhenti. Seorang perempuan yang mungkin seumuran dengan ibunya, menutup pintu dengan kerasnya lalu berjalan ke arah mobil yang ada di belakangnya. Adam berpikir, bahwa itu hanya sepasang selingkuhan yang tengah bertengkar ataupun sengaja untuk bertemu disini.
Adam menoleh sebentar ke belakang, lalu melihat memang kedua lawan jenis itu sedang bertengkar. Kaca mobil yang sengaja di buka setengah membuatnya harus mendengar percakapan apa saja yang sedang orang lain di luar katakan.
"Ah sial, aku lupa bawa earphone." Menutup matanya, menaikan kakinya ke atas kaca.
"Kau saja yang tidak becus, seharusnya kau berpikir. Kau itu ibunya."
"Lalu apa gunanya kau sebagai ayah? Oh, aku tau. Kau tidak ingin di ganggu dengan istri barumu?"
"Heh, picik sekali pikiranmu. Kau bahkan sendiri sadar tidak? Kau lebih memilih anak tiri dari pada anak kandungmu? Apa kau tidak sama sekali kasian melihat Inaya? Hah? Jawab!"
"Arrggh! Percuma berbicara denganmu tidak akan ada habisnya. Aku akan membawa Inaya pulang kerumah ku!" Perempuan itu lantas pergi dan melewati mobil Adam. Sempat melirik sekilas ke Adam, tapi Adam berpura-pura tidak tau dan tidak mendengar. Adam tau, pasti perempuan itu mengira tidak ada orang lain disini. Dan pastinya, dia sendiri akan malu.
"Jangan kau lupakan! Itu memang rumah anakku!" Berteriak saat perempuan itu masuk ke dalam mobil, kembali membanting pintu. Lalu secepatnya pergi!
"Hei, ada-ada saja. Ternyata begitu yang dirasakan Kinara saat orang tuanya bertengkar. Aku saja yang tidak mengenal orang itu, rasanya hatiku pilu mendengarnya." Gumamnya pelan.
"Kenapa aku jadi teringat Kinara?" Adam langsung menekan layar ponselnya, mencari nomor Kinara dan menghubunginya.
"Hallo?"
"Nara, katakan. Kau tidak hamilkan??" Deg, Adam sendiri tidak tau kenapa malah menanyakan hal itu.
"Oh baiklah." Adam kembali menggenggam ponselnya. Meremasnya dengan kuat. Perasaan apa ini? Kenapa malah jadi khawatir. Batinnya.
Ting. Notif pesan masuk di ponselnya. Yang Adam kira saat itu adalah Nara.
Elena?
Menghembuskan nafas. Bukan, Adam bukan tidak suka. Hanya saja saat moodnya tidak baik, Adam merasa sangat tidak ingin di ganggu oleh Elena yang saat ini memang statusnya adalah pacarnya. Mengingat kembali kejadian malam itu membuatnya semakin merasa bersalah. Apalagi hubungannya dengan Kinara yang awalnya baik menjadi renggang. Meski setiap saat bertemu, tapi Kinara menganggap Adam seperti orang asing.
"Kak, bisakah temani aku nanti malam?"
Adam kembali meletakkan ponselnya di sebelah. Hanya membaca pesan tanpa berminat untuk menjawabnya.
Dering ponsel kembali berbunyi, Adam tau kalau itu pasti Elena.
"Iya Hallo?" Tanpa sedikitpun semangat menjawabnya.
"Kak? Kenapa tidak membalas pesanku?"
"Iya lagi dijalan."
"Kak, maaf ya kalau aku ganggu. Tapi apa kakak bisa temani aku malam ini?"
__ADS_1
"Memangnya mau kemana?"
"Mau antar kue kerumahnya teman, soalnya tadi dia pesan di tokonya ibu."
Jika sudah berkaitan dengan seorang ibu, pasti hati Adam menjadi luluh. Baiklah, begitu dia menjawab. Baru saja mematikan sambungan telepon, ternyata ibunya juga sudah muncul dengan raut muka sedih seperti habis menangis.
"Bu? Kenapa?" Ibunya diam tidak menjawab, masuk dan duduk langsung meminta Adam melajukan mobilnya.
"Bu? Katakanlah." Memohon, sesekali melirik.
"Ibu sudah tau siapa pelakunya." Adam langsung mengerem mobilnya secara mendadak sebelum memasuki jalanan raya.
"Keluarga kita kan Bu?"
"Adam! Sudah ibu bilang kan jangan pernah berburuk sangka dengan keluarga sendiri!" Meninggikan suaranya. Adam langsung terdiam.
"Orang itu sudah meninggal beberapa bulan lalu, ibu juga tau kalau ada rekan ayah yang meninggal. Jika begitu, ibu pastikan dia sudah mendapatkan karmanya. Kita tidak bisa menuntut dengan orang yang sudah tiada. Ibu rasa semua impas."
Adam diam, dan lebih memilih untuk melajukan mobil dan fokus berkendara.
Saat sampai dirumah, Adam yang merasa tidak puas karena hanya mendengar sepenggal ceritanya saja. Bagaimana cara ibu tau? Bagaimana kejadiannya, dan yakin kalau itu memang benar pembunuhnya ataupun dalang di balik kecelakaan ayahnya.
"Aku juga ingin tau Bu." Adam menahan lengan ibunya yang akan masuk ke dalam kamar.
"Om kamu sudah menyelediki. Dan soal supir itu, dia hanya di bayar. Mereka juga hidup susah sekarang. Jika kita membawa kasus ini keranah hukum, ibu tidak tega harus melihat anak dan istrinya nanti menderita. Dia juga melakukan itu atas perintah dan juga uang. Uang yang memang sangat dia butuhkan untuk operasi anaknya waktu itu."
"Jika begitu, baiklah Bu. Aku tidak akan mengungkit lagi prihal kematian ayah?" Adam berbalik badan, lalu sebelum melangkah dia pamit akan pergi malam ini untuk bertemu dengan teman-temannya. Ibunya juga setuju dan tidak melarangnya.
"Kenapa aku merasa janggal? Ah atau hanya perasaan ku saja." Memandang langit-langit kamar, entah sampai kapan melakukan itu. Jika bosan paling juga hanya keluar dan berdiri di balkon kamarnya. Memang begitu Adam. Keluar hanya untuk bertemu teman, atau juga jika Wahid mengajaknya pergi.
Hingga malam sudah datang, Adam langsung pergi menuju rumah Elena. Gadis mungil yang memang dia sukai. Selain baik, Elena juga berhasil membuat Adam terkagum dengannya. Salah satunya, tidak malu saat membantu ibunya berjualan di toko. Padahal, Elena juga tidak hidup kekurangan. Dan di toko juga sudah ada karyawan ibunya, ah tapi memang begitu jika anak yang sayang dengan orang tuanya. Sikapnya yang ramah membuat siapa saja merasa suka. Selain itu, Elena juga gadis yang pintar.
"Kakak? Dari tadi ya?" Elena datang membawa senyum manisnya.
"Belum, masuklah. Mau di antar kemana?" Menoleh ke arah Elena.
"Tidak jauh kok, nanti aku kasih tau jalannya." Adam belum melajukan mobilnya, dan memakaikan Stelbelt Elena.
"Eh makasih kak." Wajahnya memerah, menatap wajah Adam dengan sangat dekat.
"Kita jalan sekarang." Elena mengangguk.
"Nanti belok kiri ya kak. Ada tugu masuk aja kedalam." Adam mengangguk. "Apa kakak sudah makan?" Adam menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Belum." Memang benar begitu, Adam belum memasukkan apapun ke mulutnya. Jangankan makan, minum juga tidak.
"Kalau begitu nanti kita cari makanan ya kak."
"Boleh." Mobil berhenti di depan salah satu rumah berwarna hijau.
"Kak, tunggu sebentar ya." Lalu mengambil pesanan yang di letakkan di tempat duduk belakang. Ternyata juga temannya sudah menunggu di depan.
"Kak Adam." Tersenyum malu, sekilas menoleh lalu berbicara lagi.
"Cie, yang sudah punya pacar sekarang. Ingat lho belajarnya juga jangan dilupakan."
"Siap?" Memberi hormat lalu pamit untuk pulang.
"Sudah?" Adam bertanya setelah Elena kembali duduk di dalam mobil.
"Sudah kak."
"Kita mau makan dimana?" Adam bertanya lagi.
"Aku tau tempat yang enak kak." Ucapnya semangat, seperti sudah membayangkan hal indah yang akan terjadi malam ini dengan Adam. Kekasih sekaligus kakak kelasnya.
Lampu temaram menghiasi setiap sudut taman, banyak juga beberapa pasangan yang duduk disekitar mereka. Gelak tawa juga sesekali terdengar dari perkumpulan orang-orang. Mereka lebih memilih untuk membeli makanan lalu makan di taman.
"Ternyata ada juga ya taman yang kalau malam di ijinkan masuk."
Elena memasukkan nasi ke dalam mulutnya. "Kakak suka tempatnya?" Adam memandang ke arah sekeliling, lalu mengangguk. Lumayan lah, batinnya.
"Kak, aak." Adam membuka mulutnya.
"Sudah, kau makan saja. Ini juga belum habis." Menggoyangkan bungkusan nasi di tangannya.
"Kak, aku mau tanya sesuatu?" Adam menoleh dan menunggu Elena berbicara lagi.
"Kalau jawabannya panjang dan berupa penjelasan, sebaiknya habiskan makanannya dulu." Elena mengangguk, dan yang ada tau sekarang. Berarti Elena akan menanyakan suatu hal yang memerlukan bait panjang untuknya menjawab.
Beberapa menit kemudian, setelah makanan tandas. Elena akan kembali membahas hal yang akan dia tanyakan.
"Kak?" Adam menoleh ke arahnya, memandang wajah Elena yang seperti bersinar terkena pantulan cahaya bulan.
"Setelah ini kakak kuliah kan?" Adam mengangguk. "Kakak akan kuliah dimana?"
"Rencana akan kuliah di salah satu universitas terbaik di kota ini. Tapi." Sengaja menggantung kalimatnya.
"Ibu meminta untuk kuliah di luar negeri." Deg. Elena langsung menunduk. Meski tidak tau hubungannya dengan Adam akan panjang atau tidak, tapi ketika mendengarnya kenapa malah seperti sedih. Tidak ingin jauh lebih tepatnya.
"Namun, karena ada seseorang di sampingku sekarang. Aku akan menolak untuk itu dan lebih memilih kuliah disini." Mata Elena langsung berbinar, dan memeluk Adam.
"Makasih kak." Eh, Elena merasa lancang dan melepaskan pelukan. Keadaan menjadi canggung detik itu, tapi Elena mengatur nafasnya, untuk kembali relax.
"Kak, sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting."
"Jadi tadi tidak penting?" Adam mengerutkan keningnya.
"Bukan kak, itu juga penting. Penting sekali malah, tapi ada yang sedikit buat aku penasaran."
__ADS_1
"Katakanlah."
"Kak Nara?" Ragu-ragu berkata, Adam menolehnya sekilas, lalu melihat ke arah depan lagi.
"Kenapa dia?" Tanpa melihat ke arah Elena.
"Apa benar orang tuanya pisah? Dan kak Kinara tinggal sendiri di apartemen?" Adam mengangguk.
"Apa dia tidak takut? Jika ada orang jahat masuk dan melakukan hal yang tidak-tidak" Adam meremas botol yang saat ini dia genggam. Elena juga hanya bertanya, tapi pertanyaan itu sudah terjawab dengan kejadian lalu, dan pelakunya adalah Adam sendiri.
Aku! Aku orangnya yang berbuat tidak-tidak padanya!! Begitu Adam berteriak dalam hati, dan langsung menyalahkan dirinya lagi.
"Kak?"
"Kita pulang sekarang." Ha? Elena menggeleng pelan, dan menyalahkan dirinya atas pertanyaan ini.
Apa kak Adam marah karena aku menanyakan hal tentang teman dekatnya? Apa tidak ada orang lain yang boleh tau tentang privasinya?
Berjalan menuju mobil Elena terus bertanya, yang tidak memerlukan jawaban atas pernyataannya. Melihat Adam yang terus diam, bahkan sampai mobil melaju. Adam tetap diam.
"Kak, maaf ya. Aku salah bertanya." Menunduk memainkan jari tangannya sendiri.
"Kak aku hanya-"
"Sudahlah, aku tau kau juga perempuan. Jadi pasti memiliki kekhawatiran yang sama." Elena mengangguk, bersyukur jika Adam tidak menyalahkannya atas hal ini.
"Kak, aku sayang padamu." Adam tersenyum dan menoleh sebentar.
"Turunlah, kita sudah sampai."
"Kak, terima kasih."
"Iya. Tidurlah yang nyenyak. Aku pulang ya?" Elena mengangguk. Berdiri di samping mobil Adam, lalu melambaikan tangan ketika sudah bergerak semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Senyum manisnya belum hilang, hal kecil yang dilakukan Adam baginya sangat spesial. Masuk ke dalam rumah sambil bernyanyi kecil tentang lagu kesukaannya.
Di lain tempat, kedua teman dekat ini kembali bertengkar. Sudah biasa adu mulut, bahkan aduh jotos.
"Wahid, kau gila ya! Kalau tertabrak tadi bagaimana?" Protes dan memukul lengan Wahid yang tengah menyetir mobil.
"Ah aku tidak sabar ingin secepatnya liburan." Memukul-mukul stir kemudi dengan kerasnya. Lalu tertawa kecil dan melirik ke arah Munah yang saat ini masih jengkel karena Wahid hampir menabrak pengendara lain.
"Dasar sinting! Itu bukan liburan, tapi hanya tugas sekolah." Gerutunya lagi, sambil memainkan ponsel.
"Kira-kira kita lulus dengan nilai berapa ya? Aku tidak sabar, jika nilaiku tinggi ayahku akan membelikan ku mobil keluaran terbaru." Pamer lagi, Munah masih diam tak tidak ingin sama sekali menanggapinya.
"Iya aku tau, kau anak orang kaya."
"Bagus kalau tau, dan karena aku sedang senang karena berhasil mendapatkan kenalan baru malam ini, jadi aku akan menraktirmu makan."
"Benarkah? Steak yang ada di resto simpang tiga ya?" Nah, sudah mulai melunjak sekarang.
"Boleh, tapi kau saja yang makan. Aku tunggu di dalam mobil." Eh, Munah langsung menatapnya dengan tajam.
"Itu terlalu mahal, kita cari tempat lain saja." Munah langsung terdiam dan tidak menjawab lagi.
Dasar pelit! Dasar pelit? Begitu dia ingin meninju wajah Wahid sekarang ini.
Saat sudah sampai tujuan, tempat pilihan Wahid sendiri. Yang dia bilang katanya tempatnya sangat cocok untuk mereka yang sedang lapar. Maemunah bahkan tidak menyentuh makanan yang sudah ada di hadapannya.
Kalau hanya ini aku juga bisa membelinya. Melirik ke arah Wahid yang sudah mengatur posisi sendok, siap menyantap. Merasa kalau dirinya dilirik, dia juga balik melirik.
Meletakkan sendok dan bertanya.
"Kenapa?" Munah hanya melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau hanya makan bakso, aku juga bisa bayar sepuluh mangkuk!"
"Wah, baguslah. Kalau begitu kau saja yang bayar. Mas, mas." Melambaikan tangannya.
"Tambah satu mangkuk lagi ya, nanti dia yang bayar?" Munah langsung berdiri dan menggebrak meja.
"Mau pulang? Pulang saja sana. Mau naik apa? Taxi? Ini sudah malam, taxi juga tidak ada." Heh, Munah melirik ke arah sekitar. Ojek, juga tidak ada. Hanya bisa menghela nafas, lalu duduk kembali.
Kruk.. Perutnya berbunyi minta di isi.
"Pfftt.." Wahid menahan tawa.
"Makan lah, makan Munah sayang." Wahid menuangkan saus, kecap dan cabai. Lalu mendorong mangkuk ke arah Munah.
"Hid, kadang aku berpikir kenapa aku bisa mengenal orang seperti mu? Kenapa juga aku bisa dekat dan menjadi teman! Hah, Tuhan kenapa!"
"Hei, ingat lah satu kebaikan ku. Tidak mungkin kalau tidak ada!" Berbicara dengan santai tanpa merasa sakit hati atas perkataan Munah. Kenapa, Wahid bisa membandingkan mana teman, karena baginya apa yang di katakan temannya hanya bahan bercandaan.
Munah mulai memasukkan satu bakso ke dalam mulut. Lalu, mengunyah. Terasa enak di lidah dan mempercepat makannya. Melirik ke arah mangkuk yang baru saja di sediakan penjual. Itu juga permintaan Wahid tadi, dia meminta nambah.
Mata sudah menatap ke arah mangkuk yang masih mengepulkan asap. Detik berikutnya, sudah saling tarik. Garpu yang menjadi ancaman Wahid saat ini, sedikit lagi mengenai tangannya.
"Ini punyaku!" Menggeser mangkuk di arahnya.
"Itu aku yang pesan Maemunah!!!" Tidak peduli, Munah memindahkan bakso ke dalam mangkuknya. Lalu melirik ke arah Wahid dan tersenyum.
"Nih, aku tidak serakus itu dan bisa menghabiskan semuanya." Munah hanya mengambil dua bakso dan mendorong mangkuk itu lagi mendekat ke arah Wahid. Mereka saling pandang, lalu detik berikutnya "hahaha" tertawa. Benarkan, mereka hanya bertengkar biasa. Hanya beberapa menit saja, lalu bisa melupakannya.
Munah menatap Wahid dan tersenyum, melihat temannya makan dengan lahapnya. Selera anak orang kaya ternyata sangat rendah, bakso pinggir jalan. Yang seorang kuli juga mampu membelinya.
Munah teringat akan sesuatu. Kata-kata Wahid yang mengatakan meminta satu kebaikannya di ingat. Satu tahun lalu, dimana Munah dan keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Ayahnya yang sakit dan harus dirawat, gajih dalam sebulan hanya cukup untuk membayar biaya rumah sakitnya. Setiap pagi, ibunya membuka pintu pasti ada uang didalam amplop. Dan jelas itu berisi uang.
Dan itu terus terjadi hingga beberapa Minggu, lalu Munah berinisiatif untuk mengintip siapa orang yang telah membantu keluarganya. Ternyata, pada saat pukul jam 12 malam tepat ada seseorang memakai jaket Hoodie berwarna hitam, sengaja meletakkan amplop itu. Tapi Munah, tidak bisa dibohongi, dia tau siapa orang itu. Karena jaket dan mobil yang dipakai, Munah sangat mengenalnya, dan itu adalah Wahid. Yang berarti, dia juga tidak sepelit yang orang lain pikirkan. Bahkan bisa dikatakan Wahid jauh lebih baik dari orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
Bersambung...