Langit Mendung

Langit Mendung
studi tour


__ADS_3

Malam ini, ya malam ini aku pergi bersama Adam. Hanya berdua. Itu juga tanpa sepengetahuan Munah dan Wahid. Setelah kurasa tubuhku sudah jauh lebih enakkan. Dan besok, adalah hari dimana kami akan pergi liburan. Lebih tepatnya liburan sekaligus belajar. Aku lebih memilih pergi dengan mobilku sendiri. Dan melarang Adam untuk menjemputku.


Aku pergi sesuai alamat yang sudah Adam jelaskan. Aku juga bisa tahu tempat ini karenanya, sebelumnya aku tidak pernah datang kesini. Paling juga hanya mall ataupun club'. Sebuah lapangan luas, tetapi jika malam akan ada banyak penjual membawa gerobak mereka. Lalu menyediakan tempat untuk makan, hanya seadanya. Adam memilih tempat paling pojok, yang jauh dari keramaian. Aku menurut saja, selama Adam tidak akan berbuat hal nekat. Maaf, aku masih trauma dengan malam itu.


"Kau sudah sampai?" Aku mengangguk, lalu Adam menepuk ruang kosong di sampingnya. Aku duduk, diam menunggu dia yang mengajak bicara.


"Apa Elena tau kau pergi malam ini?" Dan akhirnya aku yang mengalah dengan bertanya padanya lebih dulu.


Adam mengangguk. Takut kalau nantinya malah Elena curiga denganku dan Adam. Walaupun sebelum mengenal Elena sudah lebih dulu mengenal ku. Ah tapi aku juga tau cara berpikir anak muda jaman sekarang.


"Kau tau Nara, setiap malam aku tidak pernah tidur dengan tenang." Aku menunduk.


"Aku memikirkan mu. Bagaimana kalau kau hamil, dan rasa bersalahku. Aku tidak tau cara menebusnya. Sementara kau saja terus menghindar. Aku tau, kita memang masih sekolah. Tapi, aku juga bisa berpikir dewasa." Jujur, aku memang kagum dengan pemikirannya.


"Tidak mungkin ada lelaki lain yang mau menerimamu nantinya jika kau sudah dalam keadaan tidak suci lagi. Aku sendiri juga begitu." Aku menoleh kearahnya. Hei, aku tidak akan mau menikah! Meskipun aku hamil.


"Katakan Nara aku harus bagaimana?"


"Dam. Cukup menjadi temanku saja. Aku tidak apa-apa seperti ini. Ini juga bukan kesalahanmu sepenuhnya. Kau sudah bersama Elena. Jangan sakiti hatinya yang lembut. Aku juga bersalah atas kejadian waktu itu, andai saja aku tidak mabuk." Aku menunduk lagi, kenapa harus membahas hal ini. Tapi aku janji, malam ini akan selesai, dengan cara aku memaafkan Adam dan bersikap normal seperti biasanya. Adam tidak akan mencurigai aku bahwa aku sedang hamil.


Yang aku pikir tadi malam Adam tau bahwa aku sedang hamil anaknya, ternyata Adam hanya tau kalau ibuku yang hamil. Karena dia tidak sengaja membaca pesanku, lancang memang. Tapi ya sudah, aku bersyukur dia mengira aku sakit karena memikirkan hal itu.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Aku menghela nafas lalu berdiri.


"Lupakan lah Dam. Bukankah kau sudah tau aku tidak ingin berumah tangga nantinya, apapun itu aku tidak ingin mengenal cinta. Aku akan memaafkan mu dan melupakan kejadian malam itu. Tapi kau juga harus berjanji untuk tidak lagi membahasnya dan menyimpan rahasia itu." Maaf Dam, maaf sekali. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku hamil anakmu. Biar ini semua aku yang menanggungnya. Aku tau, ini salahku.


Aku berbalik dan berdiri di hadapan Adam. Aku tersenyum, agar dia tidak lagi berpikir masalah itu. Tuhan, bantulah aku menyembunyikan kehamilan hingga anak ini lahir.


Aku teringat akan kata-kata bi Gina waktu itu. Dia bersedia mengurus anakku nantinya ketika sudah lahir ke dunia, dengan begitu aku tetap bisa melanjutkan kuliahku.


"Jalani saja hubunganmu dengan Elena, pastikan kau tidak menyakitinya."


Aku harus mencoba berdamai dengan keadaan. Satu masalah bisa selesai dengan aku menerimanya. Dan satu langkah lagi, aku mencoba untuk menerima keluarga ku. Meski itu berat, dan saat ini memang tidak bisa.


"Maafkan aku ya." Aku kembali duduk dan tersenyum.


"Kenapa?" Aku menoleh saat Adam menatapku bersamaan ponselnya yang berdering.


"Elena telepon, sebentar ya." Aku mengangguk dan melihat Adam yang agak sedikit menjauh dariku. Samar-samar aku bisa mendengar kalau Adam sempat menyebut namaku. Dan seperti biasanya, Adam pasti akan memberikan ponselnya padaku, aku tau maksudnya. Pasti Elena tidak percaya jika Adam memang pergi bersamaku malam ini. Serumit itukan cinta? Makannya aku lebih memilih hidup sendiri seumur hidup.


"Ya Elena?"


"Kak Nara? Syukurlah, ternyata Adam tidak berbohong." Dia menghela nafas lega. "Ya sudah kak, kalau begitu kakak harus happy malam ini ya." Apa yang di katakan Adam padanya?


"Oh iya. Kau tidak keberatan kan kalau aku meminjam Adam sebentar?" Aku melirik ke arah Adam yang juga melirik ke arahku.


"Tidak kak." Dia tertawa kecil. "Dia teman kakak, kakak jauh lebih berhak atas Adam." Ah, perkataan apa ini! Apa benar begitu?


"Aku tutup ya kak Nara, bye." Aku mengembalikan ponsel Adam.


Keadaan sempat hening beberapa saat. Setelah Adam juga sudah merasa lega karena aku mau memaafkannya. Dan begitu juga denganku, aku berusaha menerima ini.


"Nara, aku ingin menceritakan sesuatu tentang keluargaku." Aku mengangguk, aku bersedia mendengarkan.


"Tapi kau harus janji, menjaga ini agar tetap menjadi rahasia. Wahid ataupun Munah jangan sampai tau." Apakah seserius ini?


"Katakanlah." Ucapku dan menunggu. Adam menyandarkan tubuhnya, mengadahkan padangannya ke arah langit.


"Sebenarnya ayahku sudah lama meninggal."


"Adam! Apa maksudnya?" Aku langsung memotong pembicaraannya. Bagaimana mungkin? Bukankah ayahnya pernah datang ke sekolah waktu itu?


"Aku serius. Kematian ayahku harus disembunyikan. Tapi, karena sudah jelas. Aku berani untuk menceritakan hal ini denganmu. Aku yakin kau tidak akan berbicara dengan siapapun."


"Jadi, waktu itu yang datang ke sekolah siapa??"


"Itu adik dari ayahku." Aku diam lagi, siap mendengarkan selanjutnya.


"Ayahku kecelakaan, lalu meninggal. Dan itu ternyata hanya unsur kesengajaan. Pihak keluarga sepakat untuk mengatakan bahwa ayahku masih hidup. Agar bisa menyelidiki semuanya, dan ternyata orang yang sudah membuat ayahku meninggal. Dia juga sudah meninggal beberapa bulan lalu. Jadi, sudah tidak bisa melakukan tuntutan. Ibu juga sudah ikhlas."


"Aku masih tidak percaya." Aku menggeleng pelan.


"Huh. Walau sebenarnya aku tidak yakin kalau orang itu yang melakukannya. Tapi melihat ibu juga ikhlas, aku juga ikut saja."


Aku mengangguk lagi, hanya bisa mengelus bahunya agar tetap kuat.


Aku tidak menyangka akan ini, ternyata Adam juga memiliki masalah yang sangat sulit. Yang aku pikir hanya aku saja yang merasakan ini. Ternyata tidak.


"Memangnya kau menduga siapa orangnya? Kenapa kau masih tidak yakin? Bukannya katamu bukti juga sudah ada?"


"Iya, aku malah menyangka kalau salah satu di antara keluarga kami yang melakukannya." Ada-ada saja! Aku langsung protes begitu Adam mengatakannya.


"Reaksimu sama seperti ibuku." Bicara tentang ibu, aku malah belum pernah bertemu dengan ibunya. Karena memang kami tidak pernah main kerumah Adam. Sepertinya dia masih menyimpan banyak hal yang berupa rahasia. Pantas saja setiap kali Wahid ataupun Munah ingin berkunjung kerumahnya, Adam selalu memiliki alasan. Yang katanya ibunya pergi, ataupun juga rumahnya sedang ramai, ada acara keluarga. Ya, aku yakin sekali kalau Adam masih memiliki rahasia.


"Kau punya kakak kan? Waktu itu pernah kau sebut namanya, aku lupa?"


"Iya, kak Windu. Dia sedang melanjutkan kuliah di luar negeri. Sebentar lagi juga akan selesai, dan dia yang akan menjadi pimpinan di perusahaan ayah."


"Jadi ini alasanmu pindah kesini?" Adam mengangguk.


"Sebenarnya tidak juga, sedari kecil aku dan keluargaku memang tinggal di kota ini. Hanya saja harus pindah waktu itu karena alasan bisnis ayahku. Tetapi karena kejadian itu, ibu minta pulang lagi kesini." Aku manggut-manggut.


"Hei, kita sudah berbicara banyak. Tapi tidak pesan makanan ataupun minuman." Tiba-tiba Adam mengingatkan hal itu, benar juga. Ah tapi aku tidak lapar ataupun haus. Aku sudah merasa sedikit lega hanya karena Adam sudah percaya akan aku tidak hamil.


"Sebaiknya tidak usah Dam. Kita berjalan saja, menikmati suasana malam." Adam mengangguk setuju, tapi dia tetap membeli minuman kemasan, lalu memberikannya padaku. Kami berjalan di bawah sinar rembulan, mengelilingi Padang luas tanah lapangan ini. Menyeret kaki sambil berbincang.


"Nara, semenjak kejadian itu pikiranku terlalu mesum." Aku menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Iya, bagaimana pun aku selalu terbayang lekuk tubuhmu. Eh maaf!" Aku reflek memukulnya, Adam malah terkekeh geli. Seakan-akan bentuk tubuhku hanya bahan candaan saja.


"Aku sudah memaafkan mu lho." Aku menatapnya tajam. Dia berulang kali meminta maaf lagi. Baiklah, aku sudah berdamai jadi menerima candaannya sekarang.


"Kau mau aku bawa ke pusara? Akan ku kenalkan kau dengan ayahku." Aku belum tau harus menjawab apa. "Tenang, ayahku ada di kota ini kok. Ibu yang meminta agar ayah tetap dikuburkan di kota kelahirannya."


"Baiklah aku mau."


"Setelah kita pulang dari studi tour ya?" Aku mengangguk lagi.


Aku harus mulai sibuk sekarang. Aku harus mencari orang yang bisa membangun rumah untuk adik-adikku yang ada di jalanan. Uang sudah ada, ayah bahkan sudah menambahkan uang bulanan ku. Dan besok aku akan pergi, kesempatan untukku bisa meminta uang lagi dengan ayah. Lumayan kan, bisa buat tambahan membeli peralatan rumah nantinya.


Tak terasa, ini sudah jam 10 malam. Aku bahkan belum mempersiapkan untuk kepergian besok.


"Dam, aku harus pulang sekarang." Adam mengangguk.


"Aku akan mengantarmu."


"Eh tidak usah. Aku kan bawa mobil."


"Iya aku tau. Tapi setidaknya aku bisa memastikan kau sampai dengan selamat." Aku tertawa kecil. Memang begitu, bukan hanya Adam. Wahid juga selalu begitu jika aku pulang walaupun membawa mobil sendiri, dia akan tetap mengantarku pulang. Dengan alasan yang sama yang dikatakan oleh Adam.


"Kau yakin tidak ingin makan dulu?" Aku mengangguk lagi. Aku tidak lapar.


"Baiklah, ayo kita pulang."


***


"Gundah"


Api tidak berkobar


Keringat juga tidak bercucuran..


Tapi kenapa bisa lelah?


Tuhan..


Bisakah kau tunjukkan sesuatu?


Yang membuat hati puas


Siapapun tidak berhak mengatur siapa..


Hanya mencoba menanam harapan


Yang suatu waktu akan tumbuh..


Buat ingat bagaimana proses kehidupan..


Bersama matahari yang datang setiap pagi..


Kinara.


Saat sudah sampai di apartemen, aku membereskan apa saja yang akan di bawa besok. Tapi aku tidak ingin langsung tidur, aku lebih memilih menuangkan suasana hatiku saat ini melalui puisi. Sambil menyesap sebatang rokok aku menulisnya. Mengamati setiap kejadian yang aku lalui. Lalu aku tuangkan di atas kertas. Aku memasukannya ke dalam tas. Melipatnya menjadi lipatan yang kecil, lalu menyelipkan di antara buku milikku.


Setelahnya aku berbaring, ku lihat ini sudah pukul 23:30. Aku mengambil ponselku, lalu mengirimkan pesan ke ayah. Aku yakin, besok pasti akan dibaca olehnya. Ah sudahlah, aku tidak berharap ayah membalasnya malam ini juga. Yang terpenting aku sudah menyampaikan keinginaku.


Baru saja hendak memejamkan mata, ternyata ayah langsung menelpon ku. Berarti ayah tidak tidur malam ini?


"Hallo yah?"


"Nara, ini Tante?" Deg. Kenapa harus dia! Ayah kemana?


"Kau meminta uang? Berapa? Biar Tante transfer sekarang juga." Apa? Mana mungkin aku mengatakannya.


"Nara?"


"Eh iya. Tidak usah. Biar aku bicara sendiri besok dengan ayah."


Jujur, berdamai tidak semudah yang di ucapkan. Apa lagi harus mencoba sok akrab.


"Ayahmu sakit. Kau tidak bisa datang melihatnya?"


"Ayah sakit?"


"Iya. Kalau kau mau, besok akan Tante suruh supir untuk menjemput mu, kalau kau sudah pulang studi tour." Aku menggeleng pelan. Aku tidak seistimewa itu!


"Tidak usah, ya sudah besok aku langsung kesana."


"Terima kasih ya." Aku tidak menjawab dan langsung mematikan telepon.


Aku tidak jadi tidur, hanya bisa duduk menekuk kedua kakiku dan memeluknya. Ayah sakit? Kenapa aku bisa tidak tau hal itu.


Ting.. Bunyi notif di ponsel ku. Ha? Benar-benar langsung di transfer oleh Tante Intan? Jumlahnya juga sangat banyak. Ini bukan uang jajan untuk studi tour. Tapi bisa di pakai untuk liburan keluar negeri selama satu Minggu bahkan lebih. Ah tapi sudahlah. Aku harus bersyukur atas ini. Dengan begini, aku tidak akan kekurangan uang untuk mereka yang akan aku bantu.


***


Aku sudah bersiap berangkat. Saat akan berjalan menuju mobil, aku sangat mengenali sosok yang berdiri di dekat mobilku. Siapa? Seorang wanita, tapi dia membelakangi ku. Aku terus berjalan. Hingga sampai, aku menegurnya. Memintanya sedikit bergeser agar tidak menghalangi jalanku masuk ke mobil.


"Ibu?" Ibu tersenyum, mau apa dia datang pagi-pagi?


"Nara, kau tidak sekolah? Kenapa memakai pakaian rumah?" Ku urungkan niatku untuk pergi.


"Iya, hari ini studi tour." Jawabku.

__ADS_1


"Padahal hari ini ibu bermaksud mengajakmu untuk kerumah."


"Maaf Bu. Tapi nanti aku juga mau jenguk ayah. Ayah sakit." Ibu diam tidak menjawab dan sama sekali tidak memberikan respon. Apa dia malah senang mendengar kalau ayahku sakit? Dasar gila!


"Apa ibu datang hanya untuk itu?"


"Ah iya, sebenarnya tadi karena mengantar Laras ke sekolah. Jadi sekalian ibu mampir." Wow amazing! Bolehkah aku bertepuk tangan untuk seorang ibu yang ada di hadapanku sekarang? Bahkan sedari kecil aku tidak pernah merasakan hal itu. Hanya supir setiap hari yang mengantarku bersama pengasuhku dulu. Paling tidak juga bersama ayah, sekalian ayah pergi bekerja. Ibu selalu memiliki seribu alasan ketika harus mengantarku ke sekolah.


Dan yang aku ingat, terakhir kali saat aku harus mengambil raport sekolah. Aku memohon untuk ibu yang mengambilnya, tapi ibu bilang tidak sempat karena ada urusan. Hingga akhirnya ibunya Munah yang menjadi waliku, dia mengambil dua raport sekaligus. Ternyata, ibu sibuk karena mempersiapkan pernikahannya dengan om Asraf. Begitu sakitnya aku ketika tau.


"Bu aku akan pergi sekarang, takut terlambat. Kalau tidak ada keperluan lagi sebaiknya ibu pulang." Wajah ibu berubah pias, aku tidak bermaksud mengusir. Tapi memang benar, aku harus pergi sekarang juga.


"Ibu harap besok kau datang. Ibu akan menjemputmu setelah pulang sekolah." Aku tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam mobil.


Eh ponselku sudah berdering berkali-kali ternyata, ada pesan dan juga panggilan tidak terjawab.


"Munah? Ada apa?" Aku menghentikan mobilku sebentar sebelum memasuki jalanan raya, lalu menelpon Maemunah.


"Ada apa? kau banyak sekali mengirimkan aku pesan?"


"Nara, apa kau bisa menjemputku? Mobil ayahku mogok." Ya ampun, aku kira ada apa.


"Kau tunggu di depan bisakan? Biar kita langsung berangkat nanti. Takut terlambat dan tertinggal bus."


"Iya-iya, aku menunggu."


Aku melajukan mobil agak kencang. Kalau terlambat apel akan tertinggal informasi nantinya. 15 menit perjalanan, aku sudah bisa melihat Munah yang berdiri dengan tas ranselnya. Jika di lihat lucu sekali, berkali-kali menolak angkutan umum yang menawarkannya untuk naik. Aku yakin, kalau sudah begitu pasti supir tidak segan untuk memaki karena dikira Munah naik angkutan umum pilih-pilih. Padahal memang tidak akan naik angkutan umum. Untungnya jalan menuju ke sekolah masih satu arah, jika putar balik aku yakin kami akan terlambat.


"Heh syukurlah. Untung kau membaca pesanku." Begitu melihat mobilku Munah langsung masuk.


"Jadi ayahmu berangkat berkerja naik apa?"


"Ayahku meminta ijin, sekalian akan bawa mobil ke bengkel."


Setelah sampai di sekolah. Aku langsung turun, ku dengar Munah teriak-teriak memanggilku. Aku berhenti melangkah dan berbalik.


"Kenapa sih?" Munah menggoyangkan tas yang dia bawa. Ah ya ampun, aku menepuk keningku sendiri. Aku bahkan melupakan tas ku.


"Untung masih tertinggal di dalam mobil. Kalau tertinggal di apartemen bagaimana?" Aku tersenyum, sudah biasa jika mendengar Munah menggerutu.


"Kita ke kelas sekarang. Aku yakin mereka semua sudah berkumpul." Aku mengangguk, Munah berjalan lebih cepat dan menarik tanganku. Bahkan aku hampir terjatuh karena kakiku tersandung batu.


"Akhirnya sampai juga." Kami duduk, meski saat masuk ke kalas bersamaan dengan guru.


Aku meletakkan tas ku ke atas meja. Ku lirik ke arah laci meja. Benarkan, memang selalu ada coklat setiap pagi disini. Aku menilik ke arah sekeliling. Sebenarnya jam berapa orang yang meletakkan coklat disini datang? Bahkan aku sudah pernah mencoba datang sangat pagi sekali, tapi tetap sudah ada. Jadi aku yakin, kalau orang itu meletakkan disini saat pulang sekolah. Baiklah, aku akan mengintipnya jika aku tidak lupa. Aku memasukkan coklat ke dalam tas. Tidak ingin bertanya kepada siapapun lagi, karena waktu itu malah menjadi keributan bahkan sampai bertengkar dengan Mida, hanya gara-gara aku menanyakan perihal coklat ini.


"Kenapa Nara? Apa ada masalah?" Ya ampun, apa aku segelisah itu? Sampai guru di depan pintu memperhatikan ku?


"Eh tidak ada Bu." Aku tersenyum kikuk. Semua mata tertuju padaku, termasuk Mida yang duduk di seberang. Dia melirikku dengan sinis lalu tersenyum mengejek. Eh apa mungkin dia orangnya? Sengaja membuatku merasa istimewa, lalu ujung-ujungnya malah menertawakan ku?


"Soal kelompok ibu bagi sekarang ya." Aku harus mendengarkan baik-baik.


"Bu? Apa tidak bisa kelompok kita sendiri yang menentukan?" Wahid mengangkat tangannya dan protes. Diikuti dengan siswa lain, keadaan langsung riuh. Aku sependapat dengan Wahid sih, bagaimana kalau Mida satu kelompok denganku? Oh no! Yang ada tidak belajar, tetapi malah menjadi rekor pemenang dalam berkelahi.


"Sudah diam!" Teriaknya. "Baik kalau begitu, kalian tentukan sendiri masalah kelompok. Satu kelompok terdiri dari 4-5 orang." Percuma, tetap akan bersorak. Apapun kenyatannya memang dasarnya siswa akan tetap heboh!


"Sekarang kalian sudah bisa langsung menuju bus yang sudah menunggu di depan sekolah." Ada yang berlari lebih dulu, ada yang bersantai. Termasuk aku, aku juga santai saat ini. Untuk apa coba lari-lari? Malah seperti anak sekolah dasar.


"Nara, kau pergilah lebih dulu. Aku mau ke kantor, soalnya tadi ayahku menitipkan uang sekolah. Kalau tidak aku bayarkan sekarang takutnya nanti terpakai."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Aku berjalan sendirian, sekolah sudah tampak tenang. Karena seluruh murid sudah mulai belajar di dalam kelas. Aku berjalan sambil menunduk.


"Nara, nanti kau duduk denganku ya?" Aku mendongak, lalu menoleh ke samping.


"Adam? Munah bagaimana?"


"Dia duduk bersama Wahid. Biarlah, mungkin mereka akan membahas perjodohan dengan saudaranya Munah." Aku tertawa kecil, iya benar. Wahid tengah sibuk mendekati kakaknya Munah.


Saat masuk, yang kosong hanya bangku paling belakang. Pas untuk duduk dua orang. Lalu Munah nanti duduk dimana?


"Dam, Munah bagaimana?"


Adam menunjuk ke salah satu tempat duduk. Heh ya ampun, ternyata Wahid sudah duduk disana dengan santainya sambil mengunakan earphone di telinganya.


Dan benar, baru saja aku duduk dengan Adam. Munah masuk dan langsung duduk di sebelah Wahid. Kenapa sepertinya sudah mereka rencanakan ya? Aku berdiri sebelum bus berjalan, ternyata benar dugaan ku. Munah dan Wahid tengah menonton film Drakor. Hei sejak kapan mereka berdua jadi tergila-gila begitu?


"Hihi, tampan sekali ya ampun. Andai kau seperti itu, pasti aku akan terus mengejarmu."


"Dan jika aku seperti itu, aku tidak mau berteman denganmu. Atau sekedar melihat dan menyapamu aku tidak mau!"


"Dasar!" Aku geleng-geleng dan duduk lagi, beberapa menit akur dan selebihnya mereka betengkar.


"Anak-anak, kita absen dulu ya. Setelah itu langsung berangkat." Kami menjawab serempak.


Dan, semua sudah menjawab hadir. Barulah bus melaju, siap menuju tempat studi tour kali ini. Kira-kira kemana ya, sialnya guru merahasiakan soal tempat. Biasanya sih kalau begini pasti bakal ke suasana yang buat nyaman, gunung misalnya.


Aku mengeluarkan coklat dari dalam tas ku, menelan ludah saat membukanya. Kenapa aku jadi sangat suka, tidak-tidak memang aku suka coklat. Tapi tidak sampai begini biasanya.


"Kau mau?" Melihat Adam yang terus memperhatikan gerakkan ku membuka coklat.


"Tidak, makanlah. Kelihatannya kau bakal kurang kalau aku ikut makan."


Aku tertawa. "Kau tau saja." Tapi aku tetap mematahkan coklat menjadi dua, menampakkan biji kacang Mede, rasanya aku tidak sabar langsung ingin melahapnya.


"Nih." Ragu-ragu aku memberikannya. Sumpah, aku merasa tidak rela.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2