
Aku sudah berganti pakaian layaknya pengantin. Gaun pengantin yang aku pakai berwarna merah muda, memiliki pita besar dibagian pinggang. Berkali-kali mereka memujiku. Aku harus apa? Dasarnya memang aku cantik haha. Dan Adam, memakai jas berwarna putih, jika aku boleh jujur dia sangat tampan hari ini.
Adam menggandeng lenganku saat menuruni anak tangga. Jujur, aku malu meskipun statusku dengannya sudah sah kalau melakukan hal apapun.
"Adam, aku tidak merasa kesulitan berjalan." Kulepas tanganku.
Adam mendengus, tapi aku merasa tidak peduli. Jika aku bisa memohon maka biarkan aku terbiasa untuk jadi seorang istri yang baik.
Aku melihat kesekililing halaman, yang kini sudah dipenuhi para tamu yang hadir. Tidak satupun diantara mereka yang aku kenal selain keluarga dan para pekerja dirumah ayah. Jelas, karena mereka semua adalah teman bisnis ayah yang seumuran dengannya. Mungkin juga hanya Windu yang masih berstatus lajang.
"Sayang, kau cantik sekali." Puji ibu Intan, aku lebih memilih untuk mencium Renan. Karena sudah bosan mendengar pujian sedari tadi.
"Ibu tidak lelah? Kenapa tidak baby sitter saja yang menggendong?"
"Tidak sayang, ini juga baru ibu ambil. Mereka masih membersihkan diri." Aku belum puas jika belum membuatnya menangis karena risih terus-menerus dicium.
"Sudah, sebaiknya kau duduk lah disana. Banyak tamu yang ingin bersalaman denganmu." Aku mengangguk, lalu menoleh kebelakang. Ternyata Adam belum bergerak sebelum aku bergerak.
"Apa Munah dan Wahid pulang?" Aku bertanya kepada Adam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, yang aku tau Adam sedang melamun. Aku melihat apa yang saat ini sedang ditatap olehnya. Hingga aku memukul lengannya barulah Adam tersadar.
"Kau tidak dengar aku bicara apa?"
"Hah?" Aku mendengus, sudah kuduga kalau Adam tidak mendengar.
"Dia sangat mirip denganmu."
"Siapa?"
"Renan, tadi kau memangilnya dengan nama itu kan?"
"Oh iya. Semua yang melihatnya juga langsung berkata begitu." Adam diam lagi, memperhatikan Renan hingga dia masuk kedalam bersama baby sitter.
Ayah sudah sibuk dengan para tamunya, begitu juga dengan ibunya Adam. Hanya saja, aku benar-benar tidak melihat Windu saat ini. Apa dia tidak kembali sejak tadi? Apakah setelah ini dia juga akan bermusuhan dengan Adam?
"Kak Nara?" Aku dikejutkan dengan kedatangan Laras. Dia berdiri diantara ayahnya dan ibuku. Om Asraf juga datang??
"Kak, selamat ya? Bolehkan aku meminta photo bersama kalian?" Aku mengangguk. Ibu menebar senyum saat melihatku tersenyum didepan kamera. Pandangannya sungguh menghangat saat ini.
"Kak, selamat ya. Kau cantik sekali hari ini kak." Dan aku tidak bisa lagi menghitung sudah berapa kali orang-orang memujiku.
"Terima kasih, kau juga cantik Laras." Eh kuharap aku tidak terpaksa mengatakan itu. Karena bagaimanapun, rasa benci masih tersisa sedikit meskipun aku sudah berdamai dengan keadaan. Bagaimana tidak, kalau mengingat ketika ibu tengah terpuruk dia dan ayahnya malah pergi meninggalkan ibu, sehingga aku sendiri yang harus mengurusnya.
"Kinara, selamat ya? Semoga rumah tanggamu akan baik-baik saja." Tadi anaknya, dan sekarang ayahnya. Aku tersenyum, lalu mengangguk.
"Terima kasih om."
"Nara?" Ibu memperingatkan.
"Eh terima kasih ayah."
"Jika belum terbiasa, maka cobalah." Adam mengelus lenganku. Susahnya jika memiliki kedua orang tua yang sudah bercerai dan menikah lagi dengan memiliki pasangan masing-masing. Untuk hal ini, aku benar-benar ingin menangis.
"Kau harus belajar dari mereka." Hah?
__ADS_1
"Belajar? Apa yang bisa aku pelajari? Kau tau sendiri jika mereka saja bercerai." Protesku, Adam menghela nafas. Kenapa apa jawabanku salah?
"Iya maksudnya itu, bukan berarti aku memintamu untuk mencontoh. Tapi hanya belajar bahwa rumah tangga itu rumit, jadi kalau bisa saling memahami."
"Maka dari itu aku tidak mau menikah!" Bentakku lagi.
"Hei, lalu ini apa?? Kenapa tadi kau tidak menolak saja?"
"Maaf nona muda, tuan muda. Saya hanya mau menawarkan makan untuk kalian. Soalnya sedari tadi tuan dan nona muda belum makan." Ternyata seorang pelayan, jadi dari tadi dia mendengar kalau aku sempat berdebat dengan Adam?
"Nanti saja bi."
"Tapi nona, ini ini perintah dari tuan besar." Aku mencari keberadaan ayah, dia berada diantara kerumunan kerabatnya. Tapi masih sempat melihatku dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Baiklah, antarkan makanannya kesini." Pelayan mengangguk lalu pergi.
"Kau sekarang takut ya dengan ayahmu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Lalu, apa kau takut denganku?" Aku langsung menggeleng. "Benarkah? Ingatlah mulai malam ini kau harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri." Aku mengerutkan keningku.
"Bagaimana? Menyiapkan makan untukmu? Semua sudah diurus oleh pelayan dirumah ini, mencuci ataupun menyetrika baju." Jawabku enteng. Lalu menoleh kearah Adam. "Hei kau ingin menjadikan ku budak ya? Ah aku tidak mau."
"Kau lupa jika kewajiban seorang istri bukan hanya itu? Ada lagi, coba kau tebak."
"Aku tidak ingin menjawab, aku sudah lelah. Jangan paksa otakku untuk berpikir." Adam sepertinya mulai kesal.
"Eh itu kak Windu ya? Dia datang? Adam, aku ingin bicara dengannya sebentar." Adam malah menatapku tanpa berkedip saat aku menoleh kearahnya.
"Aku hanya ingin bicara dan meminta maaf. Kau tau kan bagaimana kesalahanku padanya." Adam mengangguk lemah, aku langsung pergi meninggalkan Adam. Berjalan menuju kearah Windu yang tengah berdiri menikmati satu gelas es.
"Eh Nara, kau mau kemana?" Tanganku dicekal.
"Munah, kau kemana saja? Kenapa baru datang?"
"Aku harus menemaninya kesalon, aku juga harus menemaninya membeli baju baru. Jadi jangan tanya lagi denganku." Wahid langsung menjawab, Munah tersenyum dan mengedipkan matanya. Benar-benar tau cara memeras orang yang pelit.
"Ini ada kado dari ibuku, dia mengucapakan selamat untukmu. Dan ini, kado dari aku dan Wahid." Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Aku akan mengunjungi ibunya setelah ini, dan mengucapkan terima kasih juga.
"Tapi bukankah Wahid sudah memberi kado padaku tadi pagi?"
"Ah itu hanya akting, itu memang kebaya nikah yang disiapkan oleh ibu dan ayahmu." Aku memukulnya, dosanya pasti banyak karena terus berbohong.
"Kau bisa meletakkannya dimeja sana. Aku ingin kesana dulu." Aku harus buru-buru pergi, karena jika terlalu lama semua orang akan bertanya kenapa pengantin pria hanya duduk sendirian.
"Eh tunggu, kau mau kemana?" Lagi-lagi Munah menahan ku.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan kak Windu. Kalian nikmatilah dulu hidangan yang ada."
"Nara?" Aku tidak lagi menoleh saat Munah memanggilku.
Dan akhirnya, Windu sudah tidak lagi ada ditempat tadi aku melihatnya. Kerumunan ini, para tamu yang hadir hari ini sangat menyulitkan aku untuk mencarinya. Aku tidak peduli, dengan orang-orang yang menatap heran saat aku berkeliling. Kenapa tidak ada? Aku kesal sendiri dan memilih berdiri, cukup mataku saja yang mencarinya dan kakiku diam ditempat.
__ADS_1
"Kau mencari siapa?" Pundakku ditepuk oleh seseorang. Eh tapi aku mengenali suaranya.
"Kak? Aku mencarimu."
"Untuk apa?" Dia sangat ketus bicara denganku.
"Aku, aku hanya ingin meminta maaf. Ikutlah denganku sebentar kak." Aku menarik tangannya. Menariknya hingga jauh dari keramaian. Tidak peduli jika saat ini Adam melihatku dari kejauhan. Untungnya ada Munah dan Wahid disana yang menemaninya mengobrol.
"Kak, maaf untuk semuanya. Ini adalah takdir kak, mohon jangan benci aku. Karena mulai saat ini, aku adalah adikmu juga." Windu tidak mau menatapku. Dia melipat kedua tangannya di dada. Menatap kearah lain.
"Aku memang kecewa denganmu. Jujur, aku sudah memiliki rasa yang lebih dari hanya sekedar teman ataupun adik. Tapi aku jauh lebih kecewa dengan Adam. Aku bahkan membencinya."
"Kak, jangan berkata seperti itu. Kalau ayah kalian tau, apakah dia tidak akan sedih?"
"Nara, ayahku jauh lebih sedih melihat Adam yang tega berbuat seperti itu dengan seorang perempuan." Deg.
"Tapi kak, ini semua memang salahku. Kau juga tau kan, kalau aku sendiri yang memang tidak memberitahunya kalau aku sedang hamil waktu itu. Aku menutupinya dari Adam, ini semua salahku kak."
"Setidaknya dia bisa mengatakan kalau sudah merenggut kesucian orang lain."
"Maaf kak."
"Kau begitu membelanya, apa kau sangat mencintainya?" Deg. Aku harus menjawab apa? Aku sendiri masih bimbang.
"Perhatian semuanya." Suara siapa itu? "Saya akan membicarakan sesuatu yang penting." Ayah? Apa yang akan ayah katakan? Semua rekan bisnisnya sudah berkumpul.
"Kembalilah kesana." Windu berbalik, dan berjalan pergi meninggalkanku. Aku masih berdiri mematung, melihatnya hingga berhenti berjalan. Windu sudah berdiri tepat disamping ayahku.
Dengan berat hati, aku kembali duduk bersama Adam. Melihat dan mendengarnya dari sana.
"Kenapa kau lama sekali? Pelayan sudah mengantarkan makanan untukmu dan Adam." Kenapa yang protes malah Munah?
"Diamlah, aku ingin mendengar apa yang ingin ayahku bicarakan." Kami dan semua yang ada disini diam, hening dan hanya terdengar suara ayahku.
"Aku akan memperkenalkannya. Dia adalah Windu Satriawan Agustama, anak dari Hendrawan Agustama. Rekan bisnis kita dulu. Dan dia adalah pemimpin yang baru diperusahaan Neo. Sah menjadi seorang Presdir." Tepuk tangan ramai dan mengucapkan selamat untuknya, termasuk aku, aku juga mengikutinya. Aku melirik kearah Adam, dia malah menunduk.
Apa Adam sedih, karena bukan dia yang jadi pimpinan?
"Dibalik itu, aku akan memberi kabar duka. Sudah seharusnya kalian tau. Sudah bukan satu dua orang saja yang menanyakan keberadaan Hendrawan saat ini. Dia sudah meninggal beberapa tahun lalu. Akibat kecelakaan yang disengaja oleh seseorang. Kematiannya sengaja disembunyikan, guna untuk menyelidiki siapa pelakunya. Dan sekarang, semua sudah terungkap. Kalian hanya menunggu berita yang naik dari media manapun."
Mereka langsung merasakan suasana duka dihari pernikahan ku ini. Aku menoleh lagi kearah Adam, dia masih tetap menunduk.
"Untuk itu, saya berharap kalian mau mengadahkan tangan dan berdoa kepada Tuhan agar Hendrawan tenang disana." Doa-doa itu seperti mengapung di udara, terus naik hingga menembus langit.
"Ayah." Aku mendengar Adam mengucapkan itu dengan lirih.
"Adam?" Dia mendongak, dan matanya memerah. Eh apa penyakitnya akan kambuh?
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, jika kau terus disamping ku." Aku tersenyum, mengelus lembut tangannya. Kalau saja dia tidak sedang bersedih, pasti akan sulit untukku melakukannya.
Bersambung..
__ADS_1