Langit Mendung

Langit Mendung
Akhir bahagia


__ADS_3

POV AUTHOR


Dan memang jarak biasanya menjadi penghalang antara suatu hubungan, itu adalah salah satu hal yang menyebabkan banyaknya salah paham. Lalu memutuskan untuk berpisah dengan alasan sudah tidak cocok lagi. Berbeda dengan yang satu ini, mereka masih bisa menahan agar emosinya tidak meluap percuma.


Begitu mendengar dan membaca apa yang sudah disampaikan oleh Munah, Wahid langsung memesan tiket untuk kembali ketanah air. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu dari kampus. Ataupun sekedar memberi kabar keorang tuanya.


Malam sepertinya akan menjadi saksi untuk mereka kali ini. Ada jantung yang hampir keluar dari tempatnya karena sudah berdebar tidak karuan.


"Ayo angkatlah Munah!!" Berkali-kali melakukan panggilan saat sudah didalam perjalanan kerumah.


"Apa?" Wahid menelan salivahnya. Ada perasaan lega di dirinya saat ini. Bisa mendengar suara itu benar-benar membuatnya lega.


"Keluarlah, aku sudah berada didepan rumahmu." Padahal belum! Hanya menunggu beberapa meter saja.


Diseberang telepon, setelah mendengar Wahid mengatakannya dia langsung kocar-kacir. Bingung, merutuki setelah mematikan panggilan.


"Bu, ibu aku keluar sebentar."


"Eh Munah, kau mau kemana?" Ayahnya menghalanginya, lalu menunjuk jam dinding yang sudah memperlihatkan bahwa ini sudah malam.


"Sebentar yah, ada Wahid diluar." Tidak peduli jika ayahnya masih terdiam tidak percaya.


"Bu, bukankah Wahid masih berada diluar negeri? Apa anak kita sedang ngelindur?"


"Kita tunggu saja yah." Mereka sepakat untuk duduk menonton televisi. Dan beberapa kali melihat kearah pintu, berharap jika anaknya sedang tidak halusinasi ataupun berkhayal tentang kekasihnya.


Diluar rumah, wajah Munah sudah tersorot lampu taxi. Matanya menyipit, lalu melangkah pelan untuk memastikan siapa yang turun.


"Dasar gila!" Mempercepat langkahnya dan berdiri tepat dihadapan Wahid setelah taxi yang mengantarnya sudah pergi.


"Apa kau-"


"Ssstt.. Tenanglah!" Satu jarinya menempel dibibir Munah, dan itu mampu membungkamnya untuk tidak teriak ataupun memakinya.


"Duduk dulu, apa boleh?" Munah mengangguk dan memintanya duduk tidak didalam rumah, hanya dibawah pohon dengan kursi kayu buatan ayahnya. Dengan begini Munah berpikir akan jauh lebih aman, ayah dan ibunya tidak akan mendengar jika mereka adu mulut. Meski baku hantam sekalipun, mungkin tetangga juga tidak ada yang tau, karena suasana sudah sepi.


"Photo itu, kau hanya salah paham. Apa kau tidak mengenalinya?"


"Iya aku kenal, dia seorang perempuan. Sama sepertiku." Wahid merangkulnya, tapi langsung dilepas paksa oleh Munah.


"Kau tidak rindu padaku?" Munah menggeleng.


Munafik sekali, batinnya.


"Apa kau ingin memutuskan hubungan kita?" Sekilas lirikan itu bisa dilihat oleh Wahid. Munah diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng.


"Baiklah jika kau ingin putus denganku. Dan mengakhiri hubungan kita." Hah? Munah langsung menoleh, tangannya sudah mengepal dengan kuatnya. Tinjunya jika dilampiaskan saat ini, pasti bisa membuat siapapun pingsan.


"Jadi kau benar-benar selingkuh? Kau benar-benar memilihnya?"


"Hei ini hanya salah paham. Dia hanya artis luar negeri, dan aku salah satu fansnya. Tidak salah kan jika aku meminta photo bersamanya?" Munah masih tetap saja tidak terima.


"Tapi dia tetap perempuan kan? Sama denganku!"


"Aku tidak tau jika kau cemburu sangat berlebihan." Ah Wahid salah jika dia mengatakan itu! Akibatnya Munah malah semakin emosi.


Cup.


"Kau gila! Kenapa menciumku?"


"Agar kau diam!"


"Kau benar-benar menyebalkan!"


"Aku tidak bisa jauh darimu." Deg. Munah menoleh, lagi-lagi dibuat gila.


"Maafkan aku jika aku salah. Tapi ini hanya salah paham." Diam lagi.


"Apa ayahmu ada dirumah?" Munah mengangguk.


"Aku ingin bertemu dengannya."


"Untuk apa? Ayah sudah tidur, kau ingin mengganggunya?"


"Lalu tadi siapa yang mengintip dari jendela?" Hah? Munah melihat kearah jendela, benar gorden juga masih bergerak. Tandanya belum lama disentuh.


"Kau pintar sekali berbohong." Wahid berdiri dan mulai melangkah.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" Munah menahannya.


"Mau masuk, ingin bertemu ayahmu."


"Jangan! Kau jelaskan dulu padaku."


Wahid menghela nafas.


"Aku sudah menjelaskannya padamu kan? Ini hanya salah paham saja! Aku sudah mengatakan kalau aku tidak bisa jauh darimu dengan keadaan betengkar. Dan kau malah ingin putus denganku, kalau begitu aku akan mengatakannya pada ayahmu."


"Mengatakan kalau kita sudah putus?" Krik.. krik.. Hening beberapa saat.


"Kalau begitu aku akan masuk." Wahid tetap melangkah.


Disela-sela itu Munah masih tetap menggerutu tidak jelas. Sampai akhirnya ayahnya menyambut kedatangan calon menantunya, berpura-pura mengucek mata seperti orang tengah bangun tidur. Padahal tadinya memang mengintip dibalik gorden jendela. Wahid tetap santai meskipun ingin tertawa sekarang. Lalu dipersilahkan duduk.


"Kau ingin minum teh?" Basa-basi dihadapan ayah dan ibunya dengan baik.


"Kau tidak perlu bertanya, sebaiknya kau buatkan saja."


Ayahnya menjawab dengan tegas. Tersenyum sebelum melangkah lalu menggerutu lagi saat melewati pintu penghubung.


"Dia benar-benar mau mengatakan kepada ayah? Sebenarnya ngidam apasih ibunya dulu, kenapa kekakuan anaknya seperti itu! Ah tapi aku sayang dia."


Didalam ruangan tamu kini mereka sudah saling pandang dan tersenyum, belum memulai obrolan. Dan melakukan itu secara berulang-ulang.


"Eh om."


"Ya?"


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Kedua orang tua itu saling pandang, tersenyum lagi dan mengangguk.


"Apa sebelum itu boleh ibu bertanya padamu Wahid?" Nah kan, siapa duluan yang akan berbicara. Jam dinding hanya berdetak bosan melihat mereka sepertinya.


"Iya Bu, silahkan."


"Bukankah harusnya saat ini kau sedang berada di luar negeri? Apa kalian sedang bertengkar?"


"Ehem." Berpikir dulu, tersenyum lagi. "Apa yang akan aku katakan, akan berkaitan dengan yang ibi tanyakan saat ini." Mereka semakin bingung sepertinya mendengar apa jawaban dari Wahid.


"Aku kesini malam-malam, melakukan penerbangan dari luar negeri hanya karena ingin bertanggung jawab."


"Begini, sebelumnya aku minta maaf Bu, om eh ayah." Tarik nafas dulu. "Aku ingin menikahi Munah secepatnya, karena dia sedang hamil anakku." Duar.. Kedua orang tua ini langsung terdiam. Saling pandang, lalu menggeleng. Tidak mungkin, jawaban mereka hanya begitu dan sempatnya masih tertawa.


"Aku sungguh minta maaf, aku akan menikahinya secepatnya."


"Kalau begitu kalian harus menikah! Besok?"


Ada nampan yang bergetar saat membawakan tiga gelas teh hangat. Munah berhenti melangkah saat mendengar ayahnya berbicara. Dia berpikir Wahid melamarnya saat ini, tanpa menunggu persetujuan darinya. Lalu dengan gampangannya ayahnya menerima lamaran itu.


"Ayah, apa maksudnya?" Meletakkan nampan dan ikut duduk disamping ibunya.


"Baik ayah. Aku akan mempersiapkan semuanya mulai dari malam ini. Ayah dan ibu tenang saja, aku akan menghubungi ayah dan ibuku, juga seluruh pihak keluarga. Soal persiapan pernikahan, biar WO saja yang mengatur. Aku juga akan menghubunginya."


"Tunggu dulu." Munah berontak. "Kenapa ayah menerima lamaran itu begitu saja? Bukankah aku masih kuliah? Begitu juga dengan Wahid. Bahkan kami saja kuliah berbeda negara, bagaimana mungkin bisa menikah?" Protes tanpa tau bibit permasalahan yang sudah ada sekarang.


"Munah, diamlah. Ini juga kesalahan kalian. Ayah dan ibu tidak ingin seluruh keluarga tau, apa lagi para tetangga. Sebelum perutmu membesar sebaiknya kalian menikah."


Saat ini, Munah sudah menatap tajam Wahid. Benar-benar tidak tau apa yang sudah dikatakan Wahid beberapa menit lalu.


"Ayah ibu, kalau begitu aku permisi. Aku akan mempersiapkan semuanya. Besok, aku pastikan tidak ada kendala apapun."


***


Semua yang dikatakannya benar, Wahid benar-benar memberi kabar ini kepada seluruh keluarga. Meski ada perdebatan sengit awalnya, diantara dia dan kedua orang tuanya.


"Ibu, itu hanya alasan saja. Aku tidak ingin dia menikah dengan orang lain, mana mungkin aku berani menghamili anak orang." Dan kata-kata itu hanya didengar oleh ibunya, karena dialah yang paling merasa kecewa. Ayahnya hanya bersikap santai dan mengatakan kalau ini sudah biasa terjadi dikalangan anak muda. Jadi bisa dipastikan bukan sifat Wahid menurun dengan siapa?


Acara mulai diselenggarakan, bukan dihalaman rumah seperti pernikahan Kinara. Tapi digedung yang disewa dengan cara mendadak. Malam itu juga Wahid memohon kepada ayahnya untuk menelpon salah satu pemilik gedung, dan permintaannya dikabulkan dengan senang hati.


Dan sekarang, keluarga mulai disibukkan dengan menyambut tamu. Sementara pengantin wanita belum juga terlihat, entah apa yang dia lakukan didalam ruangan make up. Padahal soal merias wajah sudah selesai setengah jam yang lalu.


Lain hal dengan orang terdekat, mendengar kabar ini malah spot jantung. Uring-uringan tidak jelas, repot dengan kebaya sambil merutuki teman dekatnya yang akan menikah karena hamil duluan. Itu kabar yang dia dengar tadi malam dari ibunya Munah melalui sambungan telepon.


"Padahal aku sudah sering memberinya peringatan! Sering sekali malah. Ah tapi Munah benar-benar tidak bisa mendengarkan aku sepertinya."


"Sayang, sudahlah. Mungkin dia merasa kesepian semenjak kita menikah, bukankah sudah sedikit waktu untuknya jika ingin pergi denganmu."

__ADS_1


Mobil pun melaju menuju gedung yang menjadi saksi pernikahan Munah dan Wahid hari ini.


"Baru kali ini pergi undangan bersama suami." Gumamnya sambil melirik Adam yang penampilannya sudah perpect. Dengan batik yang senada dengan Kinara tentunya.


"Aku mencintaimu Kinara."


"Aku juga." Sama-sama tersenyum. Malah mereka yang sepertinya akan menikah ya? Sungguh romantis didalam mobil, satu tangan berada distir kemudi, dan satu tangan Adam gunakan untuk menggenggam tangan Kinara.


Begitu turun dari mobil, padangan Kinara tertuju kepada sosok yang juga turun dari dalam mobil. Dia sangat mengenalnya.


"Kak Windu, dia juga dia undang?"


"Dia juga mengenal Munah kan?"


"Apa dia tidak sakit hati? Pasalnya kan dia juga baru saja melamar Munah, walau katanya itu hanya candaan saja."


"Apa? Melamar?" Kinara menutup mulutnya dengan tangan, lalu beralih berjalan lebih dulu agar tidak ditanya lebih jauh. Berpura-pura ingin menyapa kakak iparnya.


Semua sudah berkumpul sekarang, para tamu hanya dihadiri oleh keluarga dua mempelai. Duduk rapi didalam gedung dan menunggu kedua pengantin mengucapkan janji suci pernikahan.


"Itu Munah, cantik sekali." Beberapa pujian terlontar saat melihatnya mulai berjalan keluar dari ruangan. Seluruh mata tertuju padanya, bahkan ada sedikit rasa iri dihati Kinara, pasalnya dia tidak merasakan pernikahan seperti ini, meski sama-sama secara mendadak.


Saat janji suci pernikahan telah terucap, disitulah mereka juga sah sebagai pasangan suami istri. Dan tiba saat waktu pelemparan bunga. Kinara sudah sibuk berbisik kepada Adam untuk meminta kakaknya berdiri dan ikut berbaris agar mendapatkan bunga yang dilemparkan oleh kedua pengantin.


"Memangnya kenapa? Kenapa harus aku?"


"Kak, kata orang tua sih kalau kau mendapatkannya maka kau juga akan segera menyusulnya."


"Itu hanya mitos."


"Kalau menurutmu hanya mitos, maka buktikanlah kak." Windu berdiri dan ikut dalam gerombolan pada jomblo yang siap menangkap lemparan bunga.


"Satu, dua, tiga." Mereka saling berteriak dan berebut.


"Adam, lihat." Sibuk sendiri heboh sendiri saat melihat Windu berhasil menangkap dengan satu tangan dan anehnya juga ada tangan orang lain disana.


"Eh itu siapa?"


"Itu sepupunya Munah, yang waktu itu berkenalan dengan Wahid." Dengan sombongnya Windu berbalik dan mengedipkan mata kepada Adam dan Kinara. Dia bangga dan memamerkan bahwa hanya mengikuti tradisi seperti ini sungguh mudah baginya.


Tepuk tangan dan sorak meriah jelas terdengar, tapi bukan untuk kedua mempelai, hanya saja untuk mereka yang masih tetap menggenggam bunga.


"Eh maaf." Perempuan yang berada disamping Windu mengalah dan menyerahkan bunga itu kepadanya.


"Tidak, kau yang lebih dulu menangkapnya."


"Cie, jangan-jangan jodoh." Teriak Wahid dari atas panggung dia berdiri.


"Heh, akhirnya." Ucap Kinara lega.


"Kenapa?"


"Iya akhirnya kak Windu menemukan jodohnya."


"Hei, bagaimana mungkin? Mereka saja tidak saling kenal!" Kinara menunjuk disudut ruangan, tampak Windu dan perempuan itu berbincang bahkan saling bertukar nomor telepon.


"Iya kau benar."


***


Malam pertama bagi mereka, dan akhirnya Munah tau apa maksudnya Wahid mengatakan bahwa dia hamil. Sungguh itu adalah kecurangan, bisa-bisanya memberi alasan yang berujung aib keluarga. Tapi malam ini ada juga kesedihan yang dia rasakan. Sebab besok Munah sudah harus ikut Wahid keluar negeri, tinggal bersamanya dan kuliah disana.


"Apa sudah selesai beres-beres?"


"Sudah."


"Kau sedih?" Munah mengangguk.


"Kenapa tidak kau saja yang pindah kuliah disini? Buktinya saja Adam mau."


"Berbeda, jika Adam sudah menyerahkan seluruh perusahaan milik ayahnya kepada kakaknya. Tapi aku? Aku harus belajar banyak disana, karena perusahaan ayah hanya diwariskan padaku."


Dan, malam pertama bagi mereka tidak mungkin terlewatkan begitu saja. Sedih boleh, tapi melakukan kewajiban seorang istri harus tetap dilakukan.


Kedepannya, mereka yang membina rumah tangga diusia yang masih muda haruslah saling menjaga kepercayaan. Karena godaan itu bisa datang dari kalangan apa saja.


TAMAT...

__ADS_1


Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mampir, insyaallah bakal ada bonus chapter. Tunggu karya baru dari author ya? Sekali lagi makasih yang selalu kasih support, dari mulai vote, like dan komentar yang kalian berikan. Semoga kita semua sehat-sehat terus ya.. Jangan tanya lagi siapa jodoh buat Windu, karena sudah ada didepan matanya sekarang.


__ADS_2