
Sesuai janji Adam padaku, hari ini setelah pulang aku akan di bawa pergi ke pusara. Tempat dimana ayahnya berisitirahat. Aku tidak boleh mengatakan ini dengan siapapun. Bahkan Adam sudah mengancam ku. Andai saja ayahnya masih hidup, aku juga sangat ingin mengenalnya. Satu lagi kabar gembira di hari ini, Munah memenangkan lomba puisi kemarin. Piagam dan tropi dia berikan kepadaku. Dan anehnya, di piagam juga tertera namaku. Bagaimana bisa?
"Ini juga karenamu yang membacanya dengan penuh penghayatan." Aku mengembalikannya kepada Munah. Aku hanya menulisnya, tidak pantas rasanya jika aku yang menerima. Dan kemarin aku juga tidak tertarik untuk mengikuti acara pentas seni.
"Nara, kau tau. Hasil karya itu sangat mahal. Kalau kau tidak mau menerimanya itu sama saja artinya aku mencuri karyamu."
"Tapi kan itu memang benar." Munah memukul lenganku, bahkan juga mencubitnya.
"Kau selalu jujur kalau ingin menyudutkan aku. Sudah ini ambil, bawa pulang. Lalu kau beri tau kepada ayah dan ibumu. Siapa tau kau dapat penghargaan lebih besar. Uang jajan tambahan misalnya." Dia terkekeh geli, masih sempatnya memikirkan uang, umpatku kesal.
"Nara?" Munah juga ikut menoleh, padahal Adam hanya memanggilku.
"Bisa ikut denganku sebentar, aku ingin berbicara." Aku mengangguk. Tapi tidak begitu saja Munah melepasku.
"Kalian mau bicara apasih? Apa sekarang mulai main rahasia-rahasiaan?"
"Tidak, sudah kau tunggu disini sebentar." Munah akhirnya mengalah, dan duduk sendiri di depan kelas.
Adam mengajakku ke halaman belakang sekolah. Kemudian memintaku untuk duduk. Sementara dia hanya berdiri.
"Dam, sebenarnya ada apa sih?"
"Aku hanya ingin meminta pendapat." Lalu Adam berjalan mondar-mandir. Lalu berhenti, dan menoleh ke arahku.
"Katakanlah ada apa? Aku malah tambah bingung jika kau seperti ini Dam?"
"Hem, sudahlah lupakan. Ayo kita kembali kedalam kelas." Adam menarik lenganku lagi, saat melewati kantin aku menghempaskan tangannya agar terlepas. Bukan karena dilihat banyak orang. Tapi aku merasa aneh melihatnya. Semula memaksaku untuk ikut, tapi malah tidak jadi berbicara. Memangnya kenapa sih? Apa dia lagi bertengkar dengan Elena?
"Kak Adam? Kak Nara?" Aku dan Adam serempak menoleh ke belakang. Ternyata itu Elena, jika dia saja mau menegur Adam. Berarti dugaan ku salah. Ada hal lain yang ingin Adam bicarakan denganku.
"Elena?" Dia tersenyum. "Aku duluan ya Dam. El duluan ya." Dan setelah aku pergi. Elena dan Adam duduk di dekat kantin. Aku masih Sesekali menoleh, rasanya masih jengkel dan penasaran. Adam mau mengatakan apa? Apa dia mau bilang kalau tidak jadi pergi nanti. Ah tapi apa susahnya sih tinggal bilang saja. Tidak harus membawaku ke tempat sunyi jugakan. Huh dasar aku itu paling tidak bisa, kalau ada yang mengganjal begini pasti aku terus memikirkannya.
"Adam mana?" Melihatku kembali duduk Munah bertanya. Dan sekarang juga sudah ada Wahid disini.
"Di kantin. Dia hanya memintaku menemaninya membeli makanan di kantin tadi. Ternyata ada Elena disana, ya sudah aku tinggal saja mereka."
"Oh. Eh semalam bagaimana? Kau kan pulang kerumah ibumu. Berarti tidak ada masalah kan? Buktinya kau masih enjoy." Heh, aku menghela nafas.
"Ya tetap saja begitu. Aku tidak keluar kamar hingga sore. Ibu tetap memaksaku untuk menginap, tapi aku tidak mau."
Ibu yang makan bersama dengan anak tirinya dan juga om Asraf. Aku sengaja tidak ingin ikut makan bersama mereka di meja makan. Aku meminta makananku di antar ke dalam kamar. Aku saja yang berada di dalam kamar, bisa mendengar gelak tawa mereka. Bercanda saat berada di meja makan. Jujur saja aku iri. Apa lagi saat aku mengintip dari balik pintu, ibu yang dengan telaten menuangkan makanan ke piring Laras dan om Asraf. Aku semakin tahu posisiku dimana, aku hanya orang asing dirumah itu.
Andai saja, ibu membujukku dengan segala kelembutan yang dia punya. Pasti aku akan mau makan bersama mereka. Bayangkan, jika semalam aku bergabung, apakah aku tidak benar-benar merasa tersudutkan? Dan malah tadi Munah bilang, aku harus memberi tahu kedua orang tuaku tentang prestasi yang aku dapat. Cih, aku yakin mereka tidak akan peduli. Eh tapi tidak juga, ayah pasti mau mendengarkan tentang hal ini.
"Ya memang begitu lah Nara. Aku juga heran deh sama Munah. Kenapa kau malah bertanya soal ini? Kau lihat kan sekarang. Wajah Nara jadi murung."
"Kenapa aku yang kau salahkan?" Aku mau tuli saja sekarang, kalau mereka sudah gabung.
"Ya iyalah. Harusnya kan kau tidak perlu bertanya lagi soal itu. Memangnya setiap apapun yang di alami Nara harus dia beritahu padamu?" Munah terdiam, lalu dia memegang tanganku, menggenggamnya.
"Maaf ya Nara, bukan maksudku."
"Tidak. Wahid saja yang berlebihan bicaranya."
"Kau yang berlebihan!" Sekarang Munah yang menghakimi Wahid. Ah mereka kembali berdebat. Entah kapan akurnya, terkadang tau-tau sudah pergi berdua. Lucu sih, temanku memang aneh.
"Hid, gimana hubungamu dengan kakaknya Munah?" Wahid tersenyum sebelum menjawab ku.
"Aku sudah pergi dengannya kemarin malam. Dia cantik sekali, baik, lembut. Tidak seperti adiknya." Wahid menuding kepala Munah dengan jarinya.
"Kau lihat saja nanti, aku juga bakal bisa dapat pacar yang jauh lebih tampan darimu."
"Aku tunggu, silahkan cari. Sudahlah, kau memang ditakdirkan tidak punya pacar. Ujungnya juga kau akan menikah denganku." Uhuk, aku langsung tersedak, karena kaget tiba-tiba Wahid berkata seperti itu. Apa ini maksudnya Wahid melamar Munah? Dia menyukai Munah?
"Dasar gila!!" Munah berdiri dan langsung menarik rambut Wahid.
"Aw sakit-sakit?" Belum berhenti, aku harus bagaimana sekarang. Memang mereka selalu seperti itu, eh jangan-jangan benar mereka berjodoh.
"Hei, apa-apaan kalian ini!" Adam datang sendiri, lalu kemana Elena?
Rambut Wahid sudah tidak berbentuk. Semua itu ya ulah Munah. Dia kembali duduk tanpa merasa bersalah. Wahid malah mengganggunya lagi, menoel hidung Munah, megang dagunya sambil mengatakan. "Hai calon istriku."
"Kalau cinta bilang cinta hid." Adam ikut duduk.
"Eh sebentar ya." Aku berdiri menjauh untuk menjawab telepon. Satria? Mau apa dia telepon aku.
"Hallo?" Ucapku pelan. Aku tidak mau mereka mendengar, pasti nanti malah tidak henti-hentinya mengejekku.
__ADS_1
"Hai, apa kabar?"
"Baik, ada apa telepon?"
"Aku ganggu ya?" Aku menoleh sebentar ke arah mereka. Ternyata hanya Adam yang menatapku tanpa berkedip. Aku segera memalingkan wajah.
"Tidak juga sih. Tapi aku lagi di sekolah. Memangnya kau tidak sekolah? Kok sepertinya sepi sekali tidak ada suara apapun. Satria malah tertawa.
"Aku sudah kuliah." Duh, malunya aku. Namanya juga aku tidak terlalu memahami saat berjumpa, wajahnya sudah dewasa atau tidak. Lagian, jaman sekarang tidak bisa menebak umur melalui wajah saja. Kadang ada yang terlihat tua padahal usianya masih muda, dan begitu juga sebaliknya. Contohnya seperti Elena, jika ada yang mengatakan dia masih SMP. Orang-orang yang tidak tau juga akan percaya.
"Ya sudah, kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Jangan lupa membalas pesanku disaat waktumu senggang."
"Eh iya." Aku langsung memasukan ponsel kedalam saku seragam sekolahku. Dan kembali duduk bersama mereka.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku meminta berganti pakaian dulu barulah siap untuk pergi ke pusara. Adam mengikuti mobilku dari belakang, hingga sampai di apartemen. Aku tidak mungkin membiarkannya diluar saja.
"Aku haus." Baiklah, aku mengajaknya untuk masuk. Lagian juga ada bi Gina di apartemen.
Aku membuka pintu apartemen, lalu meminta Adam untuk duduk. Aku berjalan ke arah dapur, dan memanggil bi Gina. Tapi tidak ada jawaban. Lalu masuk ke dalam kamar. Semua sudah rapi. Apa bi Gina sudah pulang? Aku mengeluarkan ponsel ku. Ya ampun, ternyata bi Gina sudah mengirimkan pesan berkali-kali. Padahal aku sudah rindu dengannya, dan ingin cerita tentang banyak hal. Baiklah, kalau hari ini sempat aku akan datang kerumahnya. Untuk sekedar menjenguk suaminya.
"Dam, bi Gina sudah pulang. Kau bisa ambil air sendiri kan di dapur? Aku mau ganti pakaian dulu." Adam mengangguk dan berjalan ke arah dapur. Aku langsung menutup pintu kamar.
Seperti biasa aku akan meletakkan kembali seragam sekolah di keranjang. Aku memandangnya, lalu melihat tubuhku di depan cermin. Saat ini, usai kandungan sudah memasuki dua bulan. Perutku masih terlihat rata, hanya saja nafasku yang mulai sesak. Kata bi Gina, saat usia kandunganku sudah 3-4 bulan itu sudah mulai terlihat. Aku bahkan sekarang lebih nyaman tidur hanya mengunakan baju daster. Aku hanya punya dua, nanti aku akan membelinya lagi. Dan juga kaus yang ukuran XL, jadi kalau aku memakainya nanti keluar rumah tidak terlihat. Ya, aku harus mulai mempersiapkan ini.
Saat aku membuka pintu kamar mandi, aku bermaksud untuk mencuci wajahku saja. Aku terpeleset, satu tanganku menopang tubuh ke belakang. Aku menjerit karena spontan. "Aw." Aku ingin bangkit, tapi rasanya kakiku sakit sekali. Aku mengelus perutku dan berharap dia tidak apa-apa.
"Nara??" Berarti Adam mendengarku menjerit tadi. Dia langsung membantuku berdiri. Memapah tubuhku ke arah tempat tidur. "Kau tidak apa-apa?" Aku hanya merintih. "Kenapa bisa jatuh? Kau tidak hati-hati ya?" Adam menaikkan satu kakiku ke pangkuannya. Lalu melihat ada memar di bagian pergelangan kaki.
"Kau ada minyak urut?" Aku mengangguk, lalu menunjuk ke arah laci meja. Seingatku ada disana.
"Sini, biar aku pijitin." Aku mengangguk saja, meski harus meringis ketika Adam menekan di bagian yang menurutku adalah titik rasa sakitnya. "Lain kali kau hati-hati ya." Aku mengangguk. Tapi namanya juga musibah, mau sehati-hati apapun tetap juga bisa jatuh.
"Sudah. Coba kau berdiri. Kalau tidak bisa, ya sudah kita batalkan saja perginya." Aku menggeleng. Tidak, kalaupun batal juga pasti Adam akan kecewa.
Aku berdiri dan merasakan pergelangan kakiku sudah lumayan, tapi saat akan melangkah aku kembali merasakan nyeri, sehingga tubuhku tidak memiliki keseimbangan.
"Eh." Adam langsung menarikku dan jatuh dalam pelukannya. Tubuhku jatuh di atas tubuhnya. Mata kami saling bertemu, deru nafas saling terdengar. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdegup sangat kencang? Aku yakin Adam pasti juga mendengarnya.
"Maaf Dam. Aku tidak sengaja. Kakiku sudah tidak sakit." Aku langsung berdiri, lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Meski rasa kaki masih sakit, aku berjalan juga sedikit pincang. Tapi bukan karena hal ini aku seperti orang yang tengah sakit parah kan?
Aku keluar kamar mandi, ternyata Adam sudah tidak ada di dalam kamar. Syukurlah, ku kira dia masih menungguku.
"Kau yakin tidak apa-apa? Kakimu?" Aku menggeleng dan tersenyum.
"Bukankah sudah ada tukang urut?" Adam tertawa, dan mendekat ke arahku. Mengulurkan tangannya untuk menggandengku.
"Aku takut kau jatuh lagi." Aku mengangguk. Benar, itu malah bisa membahayakan kehamilan ku.
***
Aku sudah sampai ke pusara bersama Adam. Sebelum melangkah aku menatap ke arah langit. Lalu siap untuk melangkah masuk. Taman rumput yang dihiasi batu besar berwarna putih, iya dulu sewaktu aku kecil, aku menyangka pusara adalah taman rumput.
Dedaunan kering yang ikut terseret saat kaki melangkah, berjatuhan dari beberapa pohon yang ada disini. Adam tetap menggenggam tanganku saat melangkah, meskipun berjalan tidak beriringan. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan aku baik-baik saja. Berjalan sedikit pincang memang menyulitkan ku untuk mempercepat langkah. Adam berhenti, dan aku berdiri tepat di sampingnya. Dia menoleh dan tersenyum, lalu menunjuk ke arah batu putih bertuliskan nama "Hendrawan Agustama". Mataku menyipit, kala angin menerpa.
"Dia ayahku. Ayah aku datang, ini Kinara." Aku tersenyum, meski jiwa yang sudah terkubur itu tidak ada disini. Bahkan tidak akan pernah ku jumpai. Bentuk dan rupa yang memang tidak pernah ku tau. Adam berjongkok, lalu mengusap batu putih itu sebagai tanda pengenal bagi siapa yang sudah meninggal. Aku juga sadar, suatu saat nanti aku akan berada di tempat yang sama seperti ayahnya. Dan semua orang juga akan begitu. Ikut merasakan berpisah, berbeda alam dan selamanya tidak akan bertemu lagi. Jika Tuhan berkehendak maka akan dipertemukan melalui mimpi.
Mataku memanas, entah kenapa aku sangat merasakan kesedihan. Seperti sudah mengenal sosok yang terkubur dibawah gundukan tanah ini. Adam menarik lenganku, dia memintaku untuk ikut berjongkok disebelahnya.
"Ayah, anakmu ini membuat kesalahan kepada wanita yang ada disini bersamaku saat ini. Aku ingin menembusnya dengan cara menikahinya. Tapi dia menolak." Aku menoleh ke arah Adam. Dia terus mengoceh sendirian, suaranya yang terbawa angin. Semoga tersampaikan pada siapa dia berbicara saat ini.
"Adam?" Dia menoleh, rambut yang memiliki poni di depan terbang begitu saja saat menatapku. Wajahnya memiliki sinar, aku tidak tau pantulan cahaya dari mana yang menyinari wajah Adam. "Apa kau pernah membawa Elena datang kesini?" Adam menggeleng, dia tersenyum lalu kembali melihat ke arah pusara.
Aku bisa melihat, nafas Adam yang naik turun tak terkendali. Matanya berkaca-kaca, aku hanya bisa mengelus pundaknya. Memintanya untuk tegar, siapapun akan merasakan nantinya. Posisi Adam sekarang. Hanya saja, aku berharap, dan ingin meminta pada Tuhan. Agar kedua orang tuaku meninggal bukan karena niat orang lain. Tetapi memang sudah saatnya Tuhan memanggilnya untuk kembali.
"Elena hanya pacarku. Sementara posisimu masih berada jauh di atasnya. Kau lebih pantas aku kenalkan kepada ayah." Adam, hiks. Aku menunduk, tangan kami saling bertaut. Aku menggeleng pelan, aku memang tidak tau maksud perkataan Adam. Tapi itu berhasil menyentuh hati lembutku. Tidak pernah aku merasa seistimewa ini, sebelumnya tidak pernah.
"Setelah kita lulus, sebaiknya kau harus menunjukkan bahwa kau bisa sukses seperti ayahmu. Kau harus sungguh-sungguh dalam belajar. Walau dia tidak disini, aku yakin langit akan menunjukkan padamu, bahwa ayahmu bangga memiliki anak seperti mu." Adam menoleh ke arahku, lalu menggeleng. Kurasakan tangan lembut menyentuh pipiku, menyusur di setiap inci wajahku.
"Tidak ada yang bisa di banggakan dariku."
"Kenapa?"
"Kau, alasannya adalah kau Nara." Deg. Aku? Aku kenapa? Otakku memang selalu lama loading.
"Aku?" Adam mengangguk.
"Iya. Aku sudah gagal sebelum dimulai." Dia menunduk, melepas tangan yang semula menyentuh pipiku. Lalu beralih kearah gundukan tanah yang dihidupi rumput liar. Adam mencabutnya satu-persatu. Dan aku mengikutinya. Hingga tampak bersih, aku dan Adam masih saling terdiam.
__ADS_1
"Sebaiknya kau mendoakan ayahmu sekarang." Adam mengangguk, setiap yang datang ke pusara pasti hanya untuk itu tujuannya. Mendoakan siapa yang telah tiada di dunia.
"Nara, aku ingin mengatakan sesuatu." Aku mengangguk dan menunggu.
"Kalau suatu saat, aku lebih dulu di panggil oleh Tuhan. Kau harus janji untuk selalu mengunjungi pusara. Agar aku tidak menanam rasa rindu yang berlebihan dari dunia yang berbeda." Adam, kenapa kau bicara begitu!! Aku malah menjadi gentar dan takut kehilanganmu.
"Nara?" Aku menatapnya.
"Maafkan aku untuk semua yang ku perbuat malam itu. Maukah kau memulainya dari awal. Aku berjanji di depan pusara ayahku, untuk tidak menyakitimu. Buka hatimu, dan berhenti untuk tidak ingin mengenal cinta. Agar kau tidak selamanya merasa sendiri."
"Adam ma, maksudnya apa?" Adam malah mengangguk dan tersenyum.
"Aku akan memperkenalkanmu tentang apa itu perasaan cinta. Kau akan merasakan patah hati, bahagia, bisa tersenyum dan menangis. Bisa dirasakan bersamaan."
"Adam, aku belum mengerti." Aku menggeleng, aku tidak bisa mencerna kalimat Adam dengan baik.
Adam bangkit, dia tidak menjawab pertanyaan ku. Adam malah pamit kepada ayahnya untuk segera pulang, lalu mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ayo kita pulang. Apa kau mau tidur disini menemani ayahku? Bisa-bisa ibuku cemburu padamu?" Dia tertawa. Hei, secepat itu melupakan topik pembicaraan yang tidak aku mengerti. Bahkan Adam tidak menjelaskannya. Malah mengajakku untuk minum es setelah sudah duduk di dalam mobil.
"Hallo Bu?" Aku melirik saat Adam menerima telepon.
"Sebentar lagi ya, tadi kata dokter jam 5 sore juga masih bisa kok."
Dokter? Siapa yang sakit? Aku menoleh kearahnya.
"Ibuku yang sakit. Dan harus rutin cek up ke dokter." Ternyata dia tau jika aku ingin bertanya padanya.
"Apa itu semua dan kaitannya dengan kematian ayahmu?" Ragu-ragu sebenarnya aku bertanya seperti ini. Tapi Adam mengangguk. Dia bahkan tau apa yang ingin kutanyakan.
"Hal itu wajar jika dirasakan setiap istri. Kau juga akan merasakan suatu saat."
"Tapi ibuku tidak."
"Itu karena ibumu tidak memiliki rasa cinta kepada ayahmu." Aku terkesiap, langsung mengubah posisi dudukku menghadap ke arah Adam.
"Ha? Dari mana kau tau."
"Eh aku hanya menebak. Kenapa kau malah seserius itu? Ya kalau memang memiliki rasa cinta, pasti ibumu tidak akan berpisah. Maaf ya Nara." Aku mengangguk. Tapi apa yang dikatakan Adam memang benar.
"Dan, jika seorang wanita memiliki cinta meskipun belum menikah. Ketika ditinggal, tidak akan memiliki selera untuk hidup. Karena separuh jiwanya sudah pergi."
"Itu terlalu lebay jika berlaku juga pada sepasang kekasih." Ucapku sewot.
"Kau tidak percaya, kau pasti akan merasakannya."
"Kalau begitu aku tidak akan mau membuka hati seperti saranmu tadi. Aku ingin hidup sendiri, merasakan masalahku sendiri. Tanpa harus merasakan kesedihan karena ditinggal mati." Ucapku enteng. Adam menghela nafas, mungkin dia sudah geram dengan jawabanku.
"Apa sebelumnya ibumu pernah menangis? Saat bercerai, apa ibumu menangis?"
"Tidak." Adam tersenyum.
Aku ingat itu, bahkan ibu malah menelpon seseorang yang entah siapa aku tidak tau. Aku hanya mendengarnya saat tidak sengaja melewati ruang tamu. Ibu duduk di sofa, melipat satu kakinya. Ibu bahkan malah tersenyum senang mengatakan bahwa dia sudah bercerai. Seperti menemukan harta Karun yang sudah dia cari selama ini. Aku ingat jelas, saat ibu mengatakan. "Aku sudah bebas."
Waktu itu aku memang belum tau apa-apa. Dan juga sampai saat ini, aku tau semenjak Adam setiap harinya menggambarkan padaku bagaimana seseorang yang memiliki perasaan. Hanya satu yang ingin aku tau, tapi belum siap mendengarnya. Meski itu ibu ataupun ayahku yang mengatakannya.
Bagaimana mereka bisa menikah tanpa cinta?
Dan bagaimana aku terlahir, sementara mereka saja tidak saling cinta?
Apa seperti ku? Ibu hamil diluar nikah? Dan terlahir lah aku, sehingga mereka seperti menyesal memiliki putri seperti ku? Sampai saat ini, aku belum menemukan jawabannya. Hanya satu yang hal yang sering ku tebak, ya itu kemungkinan besar ibu hamil diluar nikah. Dan terpaksa menikah dengan ayah. Seperti apa hubungan mereka dulu, aku bahkan tidak tau. Tidak pernah kutemui satupun photo kenangan mereka sewaktu muda. Setidaknya satu, tentang kebersamaan mereka dulu sebelum menikah. Tidak ada, dan tidak pernah kutemui di setiap sudut rumah. Meskipun di dalam kamar ayah dan ibu dulu. Sangking penasarannya aku bahkan pernah membuka dompet ibu, tapi tetap tidak ada. Yang ada malah barisan kartu yang tersusun rapi di dalam dompetnya.
"Nara apa kau terus akan melamun memikirkan apa itu cinta? Nara, cinta itu hanya bisa dirasakan bukan dipikirkan." Adam geleng-geleng kepala, lalu dia turun tanpa mengajakku. Aku belum mengerti kalau sebenarnya sudah sampai tujuan. Hingga aku disadarkan, kami mampir disebuah cafe.
Ha? Inikan cafe waktu itu? Cafe dimana Adam memberi kejutan untuk Elena.
"Adam tunggu?" Aku tertatih mengejarnya. Apa dia tidak sadar jika kakiku sakit?
"Adam? Kenapa kesini? Apa ada Elena disini?" Adam menggeleng dan tersenyum.
"Bukannya kau suka tempat ini, danau ini? Bahkan kau selalu memandangnya ketika kita disini kemarin." Ha? Sebegitu jauh dia memerhatikan gerak-gerik ku?
Saat sudah duduk di tempat kemarin. Aku tersenyum memandang keindahannya. Danau, iya aku suka. Adam selalu tau apa yang aku pikirkan.
"Apa kau sudah siap?" Lagi-lagi kata-katanya tidak bisa aku tebak. Siap apa? Lompat ke danau?
"Siap untuk mengenal cinta?" Deg.
__ADS_1
Bersambung..