
Aku yang saat ini sudah mengandung besar, menutupinya dari orang-orang. Tapi malah aku harus menjaga ibu dirumah sakit, menemaninya, menyuapinya makan. Padahal, aku sendiri sudah merasa tidak sanggup, satu harian memakai korset, menekan perutku. Ah ya ampun, rasanya mantap. Nafas pun sudah terasa sangat sesak. Tidak kubayangkan jika harus tidur disini malam ini. Suami dan anak tirinya, kemana mereka? Harusnya mereka yang ada disini kan, bukan aku! Ibu juga melarang ku untuk memberi tau hal ini pada mereka. Aku tidak tau apa maksudnya, tapi ibu jelas membebani aku sekarang.
"Sudah Nara, ibu sudah kenyang." Aku tetap saja menyuapkannya, meskipun sudah berkali-kali ibu mengatakan kalau sudah kenyang. Aku diam tidak berbicara apapun, tapi aku tetap mengurusnya selama dia berbaring lemah saat ini.
"Kinara?" Dia menyentuh lenganku. Tangannya yang terasa sangat dingin sekarang, aku bisa merasakannya. Seperti tengah bersentuhan dengan mayat hidup.
"Pulanglah. Biarkan ibu sendiri disini." Aku mau saja! Tapi itu sangat tidak mungkin aku lakukan.
"Tidak, tidak ada yang menjaga ibu disini."
"Tidak apa-apa. Itu memang sudah sepantasnya ibu dapatkan Nara." Deg. Dia menyadari itu?
"Ibu tidak ingin kau berada disini hanya karena rasa terpaksa."
"Sudahlah, ibu istirahat saja." Aku berjalan menuju sofa, meletakkan kembali mangkuk bekas bubur yang ibu makan. Aku menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan. Mataku yang sudah sayu karena mengantuk. Ah terserahlah, aku akan memejamkan mata sebentar. Menghilangkan penat hari ini.
***
Sudah berapa lama aku terlelap disini? Tepukan di wajahku membuatku terbangun, mengerjab mata.
"Kau tidur disini semalam?"
"Semalam? Memangnya jam berapa sekarang?" Aku yang merasa bingung, Munah juga datang kesini? Melihat ke arah ibu yang sedang diam menatap langit-langit ruangan. Lalu beralih lagi ke Munah.
"Kau mandilah, aku tadi sengaja mampir keapartemen mu. Meminta bi Gina untuk membawakan pakaian ganti. Dan ini sarapan untukmu juga yang sudah dimasak oleh bi Gina." Ya Tuhan, bi Gina selalu ingat denganku.
"Baiklah, tolong jaga ibuku sebentar ya. Aku mandi dulu." Munah mengangguk, sebelum aku menutup pintu kamar mandi. Ku sempatkan lagi bertanya kepada Munah.
"Kau tidak masuk sekolah hari ini?"
"Aku meminta ijin. Ayahku sudah menelepon wali kelas kita. Aku khawatir denganmu." Aku tersenyum hangat, meskipun itu membuatku merasa dikelilingi orang-orang baik. Tapi bukankah aku juga merepotkan?
"Sudah sana mandi, apa lagi yang kau pikirkan." Aku langsung masuk dan menutup pintu.
Ah tidak ada sabun disini! Ya ampun. Aku hanya membersihkan tubuh dengan air. Kalau selama tiga hari disini begini terus, aku juga tidak akan betah. Memang ya rumah sakit adalah musuh terbesar setiap orang.
Selesai membersihkan diri, aku berjalan keluar. Melihat Munah yang tengah berbicara dengan ibu. Bersamaan denganku yang berjalan mendekat, pintu ruangan juga terbuka. Ada dokter dan perawat yang masuk. Yang aku harapkan kondisi ibu semakin membaik, jadi bisa pulang.
"Sebentar dokter, kami akan keluar."
"Tidak usah, duduk saja disana." Dokter lelaki itu menunjuk sofa ruangan. Munah berjalan dan menarik tanganku untuk segera duduk.
"Kau betah ya dirumah sakit? Kau bahkan tidur terlalu pulas."
"Sebenarnya tidak. Mungkin karena aku lelah."
Mata kami sama-sama tertuju pada alat yang dibuka oleh dokter. Kemudian infus ditangan ibu juga dilepas. yang berarti ini ibu bisa pulang hari ini.
"Dokter, apa pasien sudah boleh pulang hari ini?" Aku bertanya, tidak lupa senyum yang aku berikan.
"Pasien memang bisa pulang hari ini, hanya saja dia tetap dalam masa perawatan. Depresi berat membutuhkan sosok penguat disampingnya." Apa? Bukan aku kan?
"Apa kau anaknya?" Aku mengangguk. "Sebaiknya kau sendiri yang merawat ibumu, hingga dia sembuh total." Deg. Sialan! Aku tidak mau. Ah tidak!! Kalau begitu caranya aku kan juga harus tinggal dirumah ibu. Enak saja, kenapa tiba begini malah aku yang harus mengurusnya? Seharusnya kan om Asraf! Saat pergi liburan saja ibu tidak pernah ingat denganku.
"Tunggu sampai ada informasi, bisa langsung pulang dan mengambil obatnya."
"Eh dokter, bukankah admistrasi rumah sakit belum dibayar?" Aku langsung berdiri, setahuku memang biaya administrasi rumah sakit belum dibayar.
"Sepertinya sudah, karena tidak ada lagi yang harus ditunda soal kepulangan pasien." Aku menoleh kearah Munah. Ah tidak, mana mungkin Munah yang membayarnya.
"Baik, kalau begitu saya permisi. Jika ada yang ingin ditanyakan lagi. Silahkan datang ke ruangan saya." Aku mengangguk.
Ibu memanggilku dengan bahasa tangan, melambaikan tangannya yang lemah. Jika kondisinya masih seperti ini, kenapa harus diperbolehkan untuk pulang?
"Apa memang ibu yang meminta pulang?" Ibu mengangguk. Heh, aku membuang nafas kasar. "Kenapa Bu? Bukankah kondisi ibu masih sangat lemah?" Ibu menggeleng, bicara saja dia susah! Lalu kenapa malah meminta pulang?
"Munah, tolong jaga ibuku sebentar. Aku akan keruangan dokter, sekaligus membayar biaya rumah sakit."
"Pergilah, ibumu aman denganku." Sombong sekali dia, eh malah roti jatahku dia yang makan.
Aku berjalan melewati setiap ruangan rawat inap dirumah sakit megah ini. Setiap ruangan yang ada pasiennya, aku akan menoleh, melihat kedalam melalui celah kaca pintu ruangan. Bukan berharap untuk bertemu dengan Satria, hanya saja aku ingin tau siapa yang sedang sakit. Bukankah dia bilang jika saudaranya. Tapi saat sampai diruangan dokter, aku tidak menemukan Satria. Apa dia sudah pulang? Atau lain lorong dengan ibu? Kalau iya, kenapa semalam Satria bisa menemukan aku disini?
"Eh sebaiknya aku ke resepsionis rumah sakit saja dulu. Sekalian mencari informasi tentang Satria." Semula ingin mengetuk pintu ruangan, tapi kembali urung dan melanjutkan langkahku lagi.
Masih ada beberapa orang yang tengah menyelesaikan admistrasi rumah sakit disana. Aku menunggu hingga mereka selesai, barulah giliran ku ingin bertanya.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Aku mengangguk.
"Pasien atas nama ibu Namira, berapa biaya rumah sakitnya."
"Sebentar ya saya check dulu." Aku menunggu sembari melihat ke kanan dan kiri, ke belakang juga. Pokoknya setiap kali ada yang lewat pasti aku akan melihatnya.
"Maaf, tapi pasien atas nama ibu Namira admistrasi sudah diselesaikan."
"Siapa yang membayarnya?"
"Bapak Husein, beliau membayar dengan cara transfer setelah menghubungi pihak kepala rumah sakit." Deg. Ayah kenapa kau sebenarnya. Apa benar dugaan ku kalau ayah sebenarnya masih menyimpan rasa untuk ibu. Lalu kenapa ayah malah memilih jalan cerai?
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" Eh aku melamun ternyata, untung tidak ada lagi yang mengantri.
__ADS_1
"Begini suster, apa ada disini pasien dirawat tapi yang menjamin atau walinya bernama Satria?"
"Tunggu sebentar ya." Lagi-lagi, aku harus menunggu.
Ku ketuk meja dengan satu jari sambil menunggu, kulirik seseorang yang sepertinya tidak asing sedang berjalan.
"Tidak ada yang bernama Satria-"
"Iya terima kasih." Aku langsung pergi begitu saja. Mengejar seseorang yang aku lihat tidak asing. Aku tidak sadar jika aku sedang berlari saat ini. Hingga aku sendiri terpeleset.
"Aw." Sakit sekali perutku. Semua yang melihat langsung mendatangiku dan menawarkan bantuan, termasuk orang yang aku kejar. Saat melihat wajahnya, aku langsung menyesali perbuatanku barusan. Sialan, aku kira orang ini adalah Satria, ternyata hanya mirip saja.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kan?"
"Lain kali hati-hati." Mereka bertanya, aku menggeleng dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menolongku. Lalu kembali berjalan menuju ruangan dokter. Kakiku sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Aku berjalan dengan pincang, sakit sekali. Belum lagi nyeri di perutku. Ya Tuhan, semoga saja anak dalam kandunganku tidak apa-apa.
"Dokter." Setelah mengetuk aku langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam. Seorang perawat pendamping langsung keluar begitu dokter memintanya.
"Duduklah. Apa kau anak dari ibu Namira?" Aku mengangguk, ternyata dia mengenaliku.
"Berarti, kau juga anak dari bapak Husein?" Aku mengangguk lagi, banyak sekali yang dia tau.
"Dokter, aku hanya ingin menanyakan lebih jelasnya kondisi ibu? Bukankah dia masih sangat lemah! Kenapa diperbolehkan untuk pulang?" Dokter dihadapan ku malah tersenyum.
"Ibumu sebenarnya hanya mengalami depresi, akibat kehilangan calon anaknya. Pengobatan bisa dilakukan dengan cara mendatangi psikolog, obat saja tidak akan berpengaruh. Dan saya sarankan, kau sendirilah yang merawat ibumu. Selama ini kau jauh dengannya kan?"
"Hah? Dari, dari mana dokter bisa tau?" Jelas aku kaget, menurutku dia orang asing, tapi kenapa bisa tau.
"Soal itu saya tidak berani mengatakannya, yang terpenting ada seseorang yang memberitahukan. Jika benar begitu, maka pengobatan yang kau lakukan akan lebih cepat dari pada seorang psikolog."
Awan mendung, datanglah. Sambar saja aku dengan petir. Aku sudah pasrah, memikirkan keadaan ku saja aku sudah bingung. Bagiamana caranya aku merawat ibu? Oh tuhan, berilah aku jalan.
Aku berjalan gontai dengan menahan kaki dan perutku yang sakit. Entah hal apa yang harus aku katakan pada ibu, jika aku pun mau merawatnya, apa ibu mau jika aku yang merawatnya? Ah entahlah.
"Nara?" Munah pasti tau, hanya dengan melihat raut wajahku yang tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Jujur, aku lelah. Bukankah seharusnya ibu hamil melakukan istirahat total. Dan beberapa hari lagi, aku juga harus menguras otak dengan berpikir ketika ujian kelulusan tiba.
"Ibumu tidur setelah aku memberinya obat." Aku mengangguk, Munah menepuk ruang kosong disebelahnya. Dengan menahan tangis aku menceritakan semuanya. Apa saja yang dikatakan dokter padaku.
"Apa sebaiknya kita menghubungi suami ibumu?"
"Tapi dokter yang memintaku Munah."
"Lakukanlah, aku akan membantumu." Heh, aku bisa apa sekarang?
***
"Bibi, aku akan tetap kembali ke apartemen. Bibi tidak usah datang setiap hari." Aku menyempatkan untuk menelpon bi Gina. Sungguh, hatiku malah merasa mencelos saat jauh darinya.
"Perbaikilah hubungamu dengan ibumu. Bibi akan merasa senang jika kau sudah menganggapnya sebagai orang tua." Bolehkan aku menangis dan memeluknya? Berterima kasih padanya karena selalu mengajarkan aku hal baik?
"Bibi?"
"Sudahlah, ingat pesan bibi. Jaga kandungamu baik-baik ya? Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin bibi."
Aku menutup telepon dengan menjatuhkan satu titik air mata. Terdiam sambil menggenggam ponsel di tanganku. Aku berharap, jika ibu bisa sembuh dengan cepat. Kembali seperti ibuku sebelumnya, biarlah jika pemikirannya tidak bisa berubah tentang menyayangiku. Tapi setidaknya aku bisa merasa bebas lagi tanpa harus tinggal didalam rumah ini.
"Kinara, ini sudah selesai?" Munah ikut duduk disampingku. Duduk ditempat tidur lamaku. "Harusnya kau bisa meminta bantuan pelayan untuk menyusun pakaianmu."
"Heh, sudahlah. Aku juga tidak akan lama disini, jadi aku tidak ingin merepotkan siapapun."
"Kau kelihatan lelah sekali. Sebaiknya kau istirahat, aku akan meminta pelayan mengantarkan teh kesini." Aku mengangguk, dan membaringkan tubuhku. Aku harus menyiapkan energi yang banyak. Saat ini ibu juga sedang istirahat di kamarnya.
Kubiarkan saja Munah melakukan apa, aku hanya ingin memejamkan mata sebentar. Pasti akan terbangun dengan waktu yang tepat.
"Minumlah dulu tehnya." Munah menyodorkan satu gelas teh hangat yang dia bawa dari dapur.
"Makasih. Kau ingin pulang?"
"Tidak, aku akan menemanimu dulu disini. Sore nanti aku akan pulang." Dia terlihat amat iba denganku, dari tatapannya aku tau jika Munah sangat khawatir padaku bukan dengan ibuku. Dimana akan kutemukan lagi teman baik sepertinya?
Doaku, panjangkanlah umur orang-orang yang baik padaku. Hingga aku dan mereka bisa selalu bertemu didalam kesusahan, memikul beban sama-sama dan saling membantu ketika membutuhkan.
"Ayahmu juga baik kepadaku, kepada keluargaku. Jika hanya ini yang aku lakukan padamu. Rasanya itu belum bisa menebus semua hutang Budi."
"Maksudnya?" Ah mataku tidak jadi terpejam ketika mendengar ucapannya.
"Iya, ternyata ayahku naik jabatan itu karena bantuan ayahmu. Dan beberapa kali uang sekolah ku sudah lunas terbayar juga ayahmu yang membayarnya. Dan bantuan lainnya, seperti uang jajan yang dia berikan padaku setiap kali bertemu. Kau tau Nara, ayahmu selalu berbuat baik kepada orang-orang yang dekat denganmu. Aku tau maksudnya, supaya mereka yang dekat denganmu termasuk aku, bisa menyayangimu dan menggantikannya posisi ayahmu yang jauh darimu."
Ayah? Lirihku dalam hati.
"Aku yakin, jika ayahmu memang orang baik. Dan dia melakukan satu kesalahan, gagal berumah tangga. Mungkin ada sesuatu dibalik kisah ayah dan ibumu. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Dari situ kau menganggap ayahmu adalah orang jahat."
"Munah, kau pintar dalam berpikir." Munah tersenyum dan mengelus lenganku.
"Memang, ayahku kemarin mengatakan kalau ada hal yang ingin aku tanyakan, sebaiknya tanyalah pada ibuku."
"Apa masih tentang rasa penasaran bagaimana kedua orang tuamu bisa menikah?" Aku mengangguk, tepat jawaban Munah sekaligus pertanyaan itu memang benar.
__ADS_1
"Tapi melihat kondisi ibu seperti ini, rasanya tidak mungkin."
Jujur, meskipun aku belum lulus sekolah. Aku kan juga sudah bisa dikatakan dewasa. Dan aku berhak tau.
"Perbaikilah hubungamu dengan ibumu." Ya, beberapa menit lalu bi Gina mengatakan hal itu. Apakah memang sudah ini saatnya? Disaat sudah tidak ada orang lain lagi dirumah ini?
"Sudah, kau istirahatlah dulu." Baiklah, aku memejamkan mata. Dan Munah pun berjalan kearah balkon kamar. Entah apa yang dia lakukan, tapi samar-samar aku mendengar dia tertawa, dan juga ada suara lelaki yang tidak asing. Sudah kuduga dia pasti sedang melakukan video call dengan Wahid.
Aku mengerjab setelah puas menutup mata dan menembus alam lain, memunculkan beberapa mimpi indah dengan bertemu Adam kembali. Lalu juga bermimpi tentang ibu yang sudah sehat dan kembali seperti sebelumnya. Ah sekalinya membuka mata, ternyata itu hanya mimpi.
Dari celah gorden sudah tidak lagi terlihat adanya sinar ataupun langit yang terlihat cerah. Senja pun sudah menghilang tanpa bisa aku nikmati hari ini. Bumi dan langit serentak menjadi gelap. Aku terbangun, yang aku kira aku tidur hanya hitungan menit saja. Gila! Sepulas itukah aku tidur di ranjang lamaku.
"Munah?" Aku berteriak mencari keberadaannya. Jelas dia sudah ada lagi di balkon kamar. Aku menginjakkan kaki ke lantai, menilik lagi ke sekeliling. Apa Munah sudah pulang karena menungguku tidur terlalu lama?
Aku berniat akan langsung membersihkan diri. Dan sampainya dikamar mandi. Aku kembali dikejutkan dengan adanya bercak darah dipakaian dalamku. Mataku membulat, kenapa? Ada apa ini? Jantungku mulai memompa seiring dengan nafas yang tersengal-sengal, aku begitu takut.
"Bagaimana caranya? Kalau aku disini Bukankah sulit untuk memeriksakan kandunganku?"
Biasanya setiap mandi, aku selalu menghabiskan waktu yang cukup lama, apa lagi mengingat kemarin aku mandi tidak menggunakan sabun. Tapi rasanya, kali ini berbeda. Aku benar-benar dilingkupi rasa ketakutan.
Selesai mandi, aku langsung mengunakan korset karena harus keluar kamar. Dan meraih ponsel yang ada dimeja dekat tempat tidur.
"Nara, aku pulang karena ibuku menelponku. Kalau kau perlu bantuan baiknya kau hubungi aku. Tadi aku pulang bersama Wahid, dia yang menjemput ku."
Setelah membaca pesan dari Munah, aku bersiap untuk keluar kamar. Berjalan dan kembali mengunci pintu kamarku. Kulihat ada dua pelayan yang menunggu didepan pintu kamar ibu.
"Apa ibu masih tidur?" Mereka serentak menggeleng.
"Nyonya tidak mau makan." Aku terdiam dan membuka pintu kamar ibu. Setelah terbuka, nampan yang berisi makanan benar-benar tidak disentuh olehnya. Aku mengambilnya, mendekat ke arah ibu yang tengah duduk diam ditepi tempat tidur.
"Ibu makanlah, aku yang akan menyuapkan." Ibu hanya mengangguk. Dia benar-benar mau membuka mulutnya saat aku menyodorkan satu sendok berisi nasi dan ayam.
Hingga beberapa suapan, ibu mengatakan kalau sudah kenyang.
"Sedikit lagi Bu."
"Tidak Nara." Ibu malah mengambil piring dari tanganku.
"Kau juga harus makan." Aku tertegun, menatap makanan yang ada didepan mulutku. Dan refleks mulutku langsung terbuka, ibu tersenyum melihatku mau menerima suapan yang dia berikan. Dan tidak terasa sampai suapan terakhir, makanan di piring sudah habis tandas tidak bersisa.
"Minumlah." Setelah ibu meminum beberapa teguk, dia kembali menyodorkannya padaku.
"Ibu minum obatlah dulu."
"Tidak Nara. Ibu sudah bosan harus menelan pil pahit setiap saat." Entah harus menggunakan cara apa aku merayu ibu.
"Aku sudah disini, aku menemani ibu. Aku mohon jangan membuatku kecewa untuk kesekian kalinya." Ibu terdiam, detik berikutnya ibu menyambar obat dari tanganku, dan meminumnya tanpa meminta bantuan.
"Apa ibu ingin istirahat?" Dia menggeleng. Malah menepuk pangkuannya, memintaku untuk tidur.
Ini tidak salah? Ragu-ragu aku meletakkan kepala diatas pangkuan ibu. Tapi akhirnya jatuh juga, ada perasaan hangat yang belum pernah aku rasakan. Meski sudah sering aku diperlakukan seperti ini dengan bi Gina, tapi rasanya jauh berbeda saat tidur dipangkuan ibuku sendiri.
"Maafkan ibu Nara. Maafkan ibu." Tes, ada yang jatuh membasahi wajahku. Ibu menangis? Tidak, jangan. Aku tidak ingin melihatnya.
"Ibu? Jika ingin berbicara, aku mohon jangan menangis."
"Kenapa? Apa trauma itu masih ada padamu?" Aku mengangguk dalam pangkuannya. Bahkan aku tidak berani mendongak menatap wajahnya.
"Apa kau mau memaafkan ibu?" Ini adalah pertanyaan yang jawabannya aku pikirkan selama bertahun-tahun.
"Semua salah ibu. Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu." Deg. Kau benar Bu! Kau benar!
"Tapi surgamu hanya terletak pada ibu." Aku diam tidak menjawab.
"Apa selama jauh dari ibu kau baik-baik saja?"
"Tidak." Mulutku mengatakan apa yang dikatakan hatiku.
"Maafkan ibu." Lagi-lagi dia mengulang kalimat yang belum bisa aku jawab.
Apa malam ini langit sedang cerah? Apa malam ini langit tidak mendung? Aku ingin melihatnya, tapi kenapa rasa nyaman ini malah membawaku ingin tetap berada dipangkuan ibu. Dan apa? Aku merasakan bahwa anak dalam kandunganku beberapa kali bergerak, apa mereka juga ikut senang?
Ibu banyak berbicara tentangku, tentang rasa bersalahnya terhadapku. Dan aku hanya diam mendengarkan. Sambil menikmati setiap sentuhan lembutnya dipuncak kepalaku. Dan terakhir, ibu mengecup wajahku berkali-kali. Memperlakukan ku bak anak kecil, ah aku memang tidak pernah mendapatkan ini sebelumnya.
"Aku memaafkan mu Bu. Maka dari itu, janjilah padaku untuk sembuh." Ibu memintaku untuk memeluknya, lengkap sudah. Keinginan untuk dipeluk, dicium, aku rasakan malam ini.
Hingga sinar cerah yang masuk dibalik gorden, membangunkan ku. Aku yang merasa tengah tidur memeluk guling. Tersadar, jika ini adalah tubuh ibuku. Tuhan, mimpi apa aku semalam bisa tidur dengan ibuku dengan cara memeluknya? Pantas saja malam pun aku tidak terbangun, seharusnya aku bisa bergadang malam ini karena sore hari aku tidur sampai petang.
"Kau sudah bangun anakku?" Ibu? Suaranya sudah tidak selemah kemarin? Apa benar kata dokter, jika aku bisa menyembuhkan ibu?
"Ibu, maaf aku tertidur disini."
"Tidak, menang ibu yang menginginkannya." Deg. Bagaimana caraku tidur semalam?
"Bangunlah, setelah itu kita sarapan bersama. Kita sarapan dimeja makan."
"Apa ibu sudah bisa?" Ibu mengangguk dan tersenyum. Hangat sekali, semangatku dipagi hari.
Terima kasih Tuhan untuk hadiahmu. Ini jauh dan jauh dari apa yang aku bayangkan. Hanya ada satu hal belum bisa aku lakukan, membuatku terbiasa dekat dengan ibu. Rasa canggung itu masih ada, tidak seperti anak-anak lain dengan ibunya. Mungkin karena seumur hidup aku baru kali ini mendapat kasih sayang ibu secara tulus. Entahlah, mungkin Tuhan sudah memberinya penyakit agar ibu bisa sadar bahwa masih ada aku di dunia ini yang dia miliki.
__ADS_1
Bersambung..