
POV AUTHOR
Seminggu berlalu, setelah kepulangan Wahid keluar negeri. Suasana sepi jelas dirasakan, rindu membuncah disetiap detak jantungnya. Yang biasanya ada yang mengantar jemput, walau hanya dengan waktu satu Minggu saja. Tapi jelas kini merasa sepi. Kinara juga sudah menikah. Hal itu benar-benar membuatnya merasakan menjalani hari yang berbeda.
Munah sarapan dimeja bersama keluarganya. Seperti biasa satu tangannya digunakan untuk memainkan ponselnya. Menunggu masuknya notif pesan dari sang kekasih yang berada di negeri seberang.
"Kak, selesaikan dulu sarapannya." Sering kali ayahnya memberi teguran, hanya didengar tapi tidak bertindak sesuai perintah. Munah hanya menjawab dengan "iya yah" dan satu menit kemudian kembali menyentuh ponsel.
"Wahid juga sedang istirahat. Jam di negara kita dan di negaranya itu sudah berbeda." Munah mendengus dan fokus kembali pada sarapan paginya.
"Kau ingin berangkat bersama ayah?" Munah melihat jam dinding. Ini masih terlalu pagi, sementara kuliah dimulai jam 10 hari ini.
"Aku naik taxi saja yah." Ayahnya mengangguk.
"Tidak meminta nebeng sama Kinara?" Ibunya mengejek, sudah tau kalau sekarang Kinara pergi bersama Adam. Senyumnya membuat Munah menjadi jengkel.
"Ibu!"
"Iya-iya, barang kali mereka mau menjemputmu." Munah hanya menggeleng, bukan berarti tidak mau. Munah sendiri yakin jika Adam ataupun Kinara tidak akan menolak ataupun keberatan jika dia meminta Tebengan. Hanya saja, merasa tau diri dan tidak ingin mengganggu kedua anak manusia yang tengah dimabuk cinta.
Selesai sarapan Munah kembali masuk kedalam kamar. Memastikan tidak ada buku yang tertinggal, sekaligus bermalas-malasan dan menunggu waktu yang tepat untuk pergi kuliah.
"Ahh andai waktu bisa diputar dengan cepat." Keluhnya lagi sambil bermain ponsel.
Munah mulai membuka akun sosial media, memasuki beranda orang-orang yang memposting berbagai macam kalimat ataupun photo.
"Oh, jadi sekarang sudah mulai update bersama kekasih halal ya?" Munah mengomentari salah satu postingan Adam, yang memasukan photonya bersama Kinara. Walau hanya sebatas tangan saling menggenggam, tapi mana mungkin Munah tidak tau itu tangan siapa.
"Hah? Ini siapa?" Kali ini dikejutkan dengan postingan dari sang kekasih. "Kenapa ada photo perempuan disini?" Wahid memosting photo bersama wanita, dengan tanda hati sebagai caption. Hal itu sudah menjelaskan siapa sosok perempuan yang bersamanya didalam photo.
"Sialan!!" Munah membanting ponselnya diatas tempat tidur. Lalu mengambilnya lagi, melihat sekali lagi photo itu dan membantingnya lagi. Duduk diam, memikirkan perasannya saat ini. Tidak, matanya sudah mendung. Ada air yang siap jatuh.
Tidak menunggu lama, Munah langsung menelpon Wahid berulang-ulang. Tapi tidak ada jawaban, pesan juga tidak dibalas. Rasa cemburu saat ini membuatnya tidak sama sekali semangat untuk pergi kuliah. Hanya ada satu orang yang bisa menjadi tempat pengaduan saat ini.
"Aku harus menelpon Kinara."
Mencari nomor ponsel Kinara saja tangannya sudah bergetar. Satu tetes air mata yang jatuh diatas layar ponsel malah mempersulitnya untuk menekan apapun.
"Hallo?" Kinara sudah menjawab diseberang telepon.
"Nara, apa kau sudah pergi?"
__ADS_1
"Belum, ini juga baru mau sarapan. Kenapa Munah?" Ini kesempatan untuknya berbicara. Mau tidak mau, Kinara juga harus tau.
"Bisa tidak kau menjemputku? Aku akan menunggu dipinggir jalan raya."
"Tunggulah, sebentar lagi aku pergi."
"Nara?" Dia belum mematikan sambungan telepon.
"Kau kenapa?" Suara parau yang terdengar dari Munah sudah membuatnya curiga.
"Wahid selingkuh."
"Apa!!"
"Kau buka saja akun sosial media milik Wahid, kau bisa dengan jelas melihatnya."
"Baiklah." Munah kembali meletakkan ponselnya, mencari tissue untuk menghapus sisa air matanya. Tubuhnya melemas, kalau begini apakah bisa terus diperpanjang hubungan mereka?
"Tenanglah, kau boleh memiliki pacar. Kau juga boleh dekat dengan laki-laki manapun. Tapi, akan kupastikan kalau kau hanya menikah denganku." Kata-kata candaan itu masih teringat jelas, terngiang saat ini didalam pikirannya. Memang benar, Wahid sering mengatakan itu dulu sebagai bahan candaan saja.
"Kak, apa kau tidak pergi sekarang saja?" Suara itu, itu adalah suara ibunya dari luar kamarnya. Munah langsung bergegas merapikan lagi penampilannya, make up yang hampir luntur itu dirapikan kembali.
"Ini juga mau pergi Bu." Munah membuka pintu. "Aku pergi bersama Kinara Bu."
"Iya." Munah berteriak sambil berlari kecil. Rasanya takut kalau ibunya tau dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
***
Sudah setengah jam lamanya menunggu, sengaja mempercepat kepergiannya dari rumah dan duduk menunggu Kinara tidak jauh dari tepi jalan raya. Yang membuatnya lebih teriris adalah, harus menerima kabar tidak enak lagi dari Kinara.
"Munah, maaf kau pergi naik taxi saja ya? Soalnya ban mobilnya pecah, ini juga aku sedang menunggu supir yang dikirim ayahku." Heh, Munah hanya mampu menghela nafasnya, lalu berdiri dan menunggu dipinggir jalan raya.
Tin.. Tin..
"Munah?" Seseorang yang berada didalam mobil berteriak memanggilnya. "Kau sedang apa?"
"Kak Windu? Aku sedang menunggu taxi."
"Naiklah, kau bisa pergi bersamaku." Ragu-ragu melangkah, takut merepotkan juga iya. Apa lagi saat ini Windu pergi dengan diantar oleh supirnya.
"Ayo?"
__ADS_1
"Oh iya kak." Dan akhirnya memilih jalan pintas. Uang aman hari ini, batinnya. Padahal biasanya ketika mendapatkan bala bantuan seperti ini, wajah Munah langsung girang. Tapi tidak hari ini, dia sangat tampak lesuh.
"Kak, bukankah kita tidak satu arah?"
"Memang tidak, nanti kau turun saja di persimpangan." Windu tertawa setelah mengatakan hal itu karena melihat wajah Munah yang semakin cemberut.
"Tidak, aku hanya bercanda. Aku juga akan pergi ketempat kuliahmu."
"Ha? Untuk apa kak? Bukankah kau sudah lulus dan menjadi sarjana kak?"
"Ada yang harus diurus mengenai Adam. Kakak menjadi walinya saat ini." Munah mengangguk, wajarlah begitu yang dia pikirkan.
"Kak?" Windu menoleh sambil menggulung lengan jasnya.
"Kenapa?"
"Apa kau pernah patah hati kak?"
"Belum lama aku merasakannya, kau juga tau. Kenapa masih bertanya. Kau ingin mengejek ya?" Munah menggeleng.
"Tidak, bukan itu maksudku kak. Kalau kakak dengan Kinara kan memulai hubungan karena perjodohan. Maksudnya itu apa sebelum ini, kakak pernah mengalami patah hati? Misal diselingkuhi gitu?" Windu mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan semacam ini. Tapi dia termasuk orang yang pintar untuk melihat kondisi orang lain.
"Kau sedang mengalaminya ya?" Dia tertawa, malah menunjuk Munah sebagai lelucon saat ini. "Sayangnya aku tidak pernah." Kembali ke mode serius.
"Pantas saja."
"Apa?"
"Kau tidak pernah mengalaminya kak, berarti kau juga tidak pernah pacaran."
"Hei pernah? Hanya saja ditinggalkan menikah." Giliran Munah yang tertawa. Tanpa sadar, dia sudah sedikit melupakan kesedihannya dihari ini.
"Itu hanya kau saja kak yang menganggap hubungan kalian pacaran." Munah mengejek lagi. Windu merasa skakmat dan tak berani berkomentar.
"Sekarang aku tanya, apa kau sedang diselingkuhi pacarmu saat ini?" Dengan polosnya Munah mengangguk. "Haha berarti lebih baik aku, tidak pernah pacaran jadi tidak pernah diselingkuhi." Dengan bangganya Windu menepuk dada.
"Pacaran sana kak, biar tau bagaimana rasanya jatuh cinta dan patah hati."
"Aku hanya ingin langsung menikah saja seperti Adam. Tapi tidak dengan begitu caranya. Apa kau mau?" Munah menoleh, wajahnya tampak bingung. Tapi ekspresi Windu tidak sedikitpun menunjukkan bahwa ini sekedar candaan saja.
Apa dia sedang melamarku saat ini? Batinnya.
__ADS_1
Bersambung..