
"Kinara, sedang apa kau disini?" Aku terdiam, lalu menoleh. Dari mana ayah datang? Ternyata aku tidak menyadarinya kalau mobil ayah baru saja sampai.
"Begini om, Kinara tidak percaya kalau aku adalah kakaknya Adam." Ahhhhhhhhh sialan? Ayah malah tersenyum.
"Iya benar Kinara, Windu adalah kakaknya Adam."
Aku harus apa sekarang? Aku mati kutu.
"Ayo Windu masuk kedalam, om juga ingin mendengar bagaimana kondisi Adam saat ini?" Ayah malah mempersilahkan Satria, eh Windu masuk kedalam.
Dan aku masih mematung ditempat sebelum ayah memanggilku dan memintaku untuk segera masuk kedalam.
"Nara?" Aku menoleh saat mendengar suara tidak asing.
"Bibi?" Bi Gina segera berjalan mendekat.
"Kenapa kau keluar? Ada apa? Bibi mencarimu didalam kamar tapi kau tidak ada."
"Eh aku tadi, bi sebaiknya bibi ikut denganku. Ada hal yang penting ingin ku bicarakan." Bi Gina mengangguk saja dan mengikuti langkahku yang masuk kedalam kamar. Dan sekarang mungkin ayah juga Windu sedang membahas tentang Adam. Terserahlah, hanya saja nanti aku terus mempertanyakan kenapa Elena harus datang ke sana! Menemui Adam. Eh apa aku sedang cemburu ya sekarang??
Bi Gina sempat kaget dan juga tidak percaya saat aku mengatakan kalau Satria adalah kakak kandungnya Adam.
"Wajah mereka juga tidak mirip. Hanya saja mereka sama-sama tampan." Ah ya ampun dengan polosnya bi Gina berkata begitu?
"Bibi, Satria-"
"Windu."
"Iya bi, maksudnya itu. Windu mirip dengan ibunya, sedangkan Adam mirip dengan ayahnya." Bi Gina hanya manggut-manggut.
"Tapi bi, yang membuatku penasaran sekarang, kenapa harus Elena yang datang kesana? Dan itu katanya Adam yang menginginkannya? Ah aku sungguh tidak mengerti bi."
Bi Gina mengelus lenganku.
"Kau cemburu?" Deg. Aku menoleh kearah bi Gina. Kenapa bi Gina bisa berpikir begitu? Apa benar aku cemburu. "Kau terlalu emosi jika membahas Elena."
"Bukan itu bi. Mau bagaimanapun juga Elena orang yang sudah membuatku harus diskors waktu itu. Aku tidak bisa melupakan hal itu begitu saja."
"Bukankah waktu itu kau juga sudah memaafkannya?" Aku terdiam, benar aku sudah memaafkannya. Tapi kan? Ya ampun! Iya aku cemburu saat ini, aku benar-benar cemburu.
"Kinara?" Tok. Tok.
"Biar bibi yang buka." Bi Gina meninggalkan ku dan berjalan menuju pintu kamar setelah mendengar ada yang memanggil.
"Bi? Sudah kuduga kalau bibi disini."
"Kenapa nyonya?" Aku turun dan melihat, ternyata ibu yang memanggilku.
"Kenapa Bu?"
"Tidak sayang, ibu hanya meminta bi Gina menemani ibu berbelanja hari ini."
"Oh ya sudah, kalau begitu ibu hati-hati." Dan kembali dalam kesunyian ketika pintu kamarku sudah ditutup. Aku tidak bisa tenang, sebelum mendengar penjelasan itu dari Windu.
"Tidak, lebih baik aku melihat dan membuka lukisan yang Adam berikan untukku." Aku bahkan belum melihatnya dari kemarin.
Aku berjalan menuju tempat tidur, karena lukisan itu aku letakkan dibawah. Perlahan merobek kertas yang menghalanginya.
"Hah?" Aku masih tercengang, karena belum bisa memahami arti dari lukisan ini.
__ADS_1
"Kenapa ada anak-anak?" Aku menilik satu persatu dari lukisan yang menggambarkan seorang anak dan juga ada perempuan tengah berdiri bersama seseorang.
"Ini, seperti aku yang tengah berkumpul dengan adik-adikku. Tapi kenapa aku menggendong bayi?" Deg. Lalu?? "Apa yang berada di sampingku didalam lukisan ini adalah Adam?" Aku berbicara sendiri tanpa berharap ada yang bisa menjawabnya. Karena hanya Adam saja yang tau.
"Eh ini apa?" Aku melihat dibawah lukisan ada bercak merah seperti darah, karena aku yakin itu bukan warna cat dari lukisan.
"Tidak mungkin!" Aku langsung terduduk lemas. Jika benar itu darah, maka Adam menyiapkan lukisan ini dihari terakhir aku melihatnya, ya aku sangat itu. Dimana sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat melihat Adam mengeluarkan darah dari hidungnya. Ya Tuhan, aku merasa sangat tidak sanggup sekarang. Adam, datanglah padaku untuk sekedar menjelaskannya.
***
Malam sudah datang, tapi aku benar-benar tidak ingin makan bersama keluarga. Aku meminta pelayan mengantarkan makanan kedalam kamar. Dan memohon kepada ayah untuk kali ini tidak memaksaku. Karena aku masih butuh waktu untuk sendirian.
"Langit Mendung"
Biasan cahaya sudah tidak terlihat..
Mataku bisa menerobos indahnya awan ketika gelap..
Tanpa perlu tameng untuk menatap..
Tuhan memberikan kesempurnaan untuk alamnya..
Ketika ribuan air datang menyerbu bumi..
Aku tidak ingin melihat ada ribuan air mata yang jatuh..
Meski kuasamu sungguh indah Tuhan..
Tapi ada yang bersedih atas Rezeki yang kau beri..
Mencari tempat perlindungan agar tidak basah..
Memohon untuk yang terbaik..
Disaat langit mu mulai mendung..
Aku juga merasa teriris..
Mengingat hidup makhluk ciptaan mu..
Yang tidak mempunyai tempat teduh..
Tuhan..
Setiap awan mulai gelap..
Bolehkah aku meminta sesuatu yang mustahil..
Kehidupan abadi untuk orang yang terpenting..
Kinara.
Ketika aku selesai menulis, disitulah pintu kamarku diketuk. Pas, semua sesuai waktu. Aku meletakkan kertas itu diatas meja lalu berjalan untuk membuka pintu.
"Sebentar."
"Loh Munah?" Munah tersenyum dan membawa nampan berisi makan malam ku.
"Kenapa kau?"
__ADS_1
"Iya, coba kau lihat ponselmu. Sudah berapa kali aku menelpon tapi tidak ada jawaban." Munah meletakkan nampan diatas meja dekat tempat tidur. "Lalu ayahmu bilang, kalau kau tidak ingin makan bersama. Lalu ayahmu juga bilang, kalau kau pasti sedang membuat puisi." Aku mengangguk, dan Munah menjentikkan jarinya. Ah aku tau maksudnya, pasti dia ingin melihatnya.
"Kau makanlah, aku ingin membacanya." Aku mengangguk, Munah yang asik duduk entah membaca puisiku sekarang, ataupun melihat keindahan malam ini dari balik jendela kamar.
"Isi maksud puisi ini apa?" Aku belum bisa menjawab karena masih ada makanan didalam mulutku.
"Nara?"
"Hem." Aku meneguk air lebih dulu.
"Iya, bukankah dulu ketika langit mendung datang ada beberapa orang yang sedih, misal pekerja bangunan? Atau juga seperti adik-adikku, bukankah mereka dulu tidak mempunyai tempat tinggal?"
"Adik-adikmu?" Hah? Aku sudah mengatakannya, baiklah. Aku akan menjelaskan hal ini setelah selesai makan.
Munah terus menatapku, dia benar-benar menunggu penjelasan dariku. Dan sampai suapan terakhir, Munah langsung menyodorkan air untuk aku minum.
"Katakan dengan jujur." Aku mengangguk dan meneguk minuman yang dia berikan.
"Maaf, sebelumnya kau harus melihat ini." Aku bermaksud menunjukkan lukisan Adam padanya. Karena bagiku, saat ini hanya Munah yang bisa mengerti posisiku. Tidak ada lagi yang harus aku tutupi darinya.
"Ini lukisan Adam yang buat." Munah berdiri, lalu jari tangannya yang lihai menyentuh setiap bagian dari lukisan. Seolah-olah tengah kagum tapi tanpa berkata.
"Nara ini?"
"Munah, Adam pernah berpesan padaku. Dia akan menyiapkan lukisan ini sebelum hari perpisahan itu tiba. Dan Adam memintaku untuk langsung mengambil kerumahnya jika dia tidak lagi kembali. Tapi malah kakaknya yang memberikannya kepadaku."
"Tunggu, apa itu maksudnya Adam?" Aku hanya mengangkat bahu tapi tidak bisa menyembunyikan bagaimana perasaanku sekarang.
"Dan, kau lihat dibawah lukisan itu. Ada bercak darah disana." Munah mengikuti saran ku dan melihatnya langsung. "Aku ingin bertanya padamu, bukankah sewaktu aku mengalami keguguran, Adam juga sempat mendekat padaku?" Munah mengangguk. "Apa kau melihat saat itu jika Adam mengeluarkan darah dari hidungnya?" Munah tampak mengingat.
"Iya benar, itulah alasannya kenapa Adam tidak ikut mengantarmu kerumah sakit."
"Berarti dugaan ku benar Munah. Dia menyiapkan lukisan ini dalam keadaan yang sudah tidak memungkinkan."
"Ya Tuhan Adam. Nara, dia benar-benar mencintaimu." Aku hanya bisa diam.
"Coba kau lihat lagi, arti dari lukisan itu Munah." Munah menggeleng, karena dia tidak tau.
"Anak-anak yang berada didalam lukisan itu, adalah gambaran dari anak-anak jalanan yang sedang duduk menekuk kaki, mereka menunduk ketika keadaan langit mulai mendung. Lalu yang berdiri disana, itu adalah aku bersama Adam."
"Tunggu, tapi didalam lukisan itu jika benar kau kenapa menggendong seorang bayi?"
"Karena Adam sudah mengetahui aku hamil semenjak aku pendarahan disekolah."
"Tidak!! sekarang aku tau, yang berarti Adam menambhakan lukisan setelah mengetahui bahwa kau hamil?" Aku mengangguk, Munah tercengang tidak menyangka begitu banyak rahasia yang disembunyikan Adam.
"Dan sekarang ini, Elena sudah pergi keluar negeri untuk menemui Adam. Entah bagaimana ceritanya, aku tidak tau. Windu ataupun Satria selaku kakaknya Adam meminta alamat Elena padaku."
"Hah? Kenapa bukan kau Nara? Kenapa harus Elena?"
Dan aku mengatakan, kalau mulai sekarang tugas Munah adalah mencari tau tentang hal ini. Bukankah Windu juga sudah menganggapnya sebagai teman sekarang?
"Jadi kau dan anak-anak angkat bi Gina?"
"Maaf untuk itu aku tidak memberitahu dari dulu. Karena bagiku kebaikan tidak perlu diumbar Munah." Munah memelukku dengan sangat erat.
"Kau benar-benar orang baik, aku yakin jika kau juga akan bertemu jodoh yang baik."
Bersambung..
__ADS_1