
Masalah, ya aku percaya sekarang kalau semua masalah pasti akan memiliki jalan keluar. Termasuk yang aku alami dulu. Benar kata Adam, semua akan teratasi dengan aku menerimanya. Menjalaninya tanpa ada lagi rasa dendam. Ya Tuhan, aku jadi teringat Adam.
Aku pernah mendengar sendiri dari mulut Adam, bahwa aku boleh mengambil lukisan didalam kamarnya jika dia tidak kembali. Tapi bagaimana caranya? Bukankah itu sudah termasuk lancang. Dan aku sendiri penasaran. Jangan ditanya soal rasa rinduku pada Adam. Tapi, kalau untuk rasa dihati, aku sudah tidak tahu. Semua sudah terkubur bersama perginya Juanda dari sisiku.
Aku berharap, Tuhan kembali mempertemukan aku dengan Adam disaat aku sudah benar-benar lupa akan kejadian dan kenanganku bersamanya. Sehingga tidak lagi berharap lebih pada hubungan kami dulu, yang aku sendiri tidak tau statusnya seperti apa. Mantan suami? Bukan! Aku tidak pernah menikah, tapi aku sudah pernah melahirkan anaknya. Dan kalau mantan pacar? Ah aku tidak pernah merasa meresmikan hubungan kami. Yang benar hanya teman, eh tapi tidak juga. Aku bahkan sudah pernah tidur dengannya. Oh Tuhan aku pusing.
"Kinara?" Suara teriakan dibalik pintu kamar mengganggu lamunanku.
"Iya Bu?"
"Nara, sudah waktunya makan malam."
"Bu, apa boleh aku makan didalam kamar saja? Aku masih ingin melanjutkan menulis puisi." Ibu tiriku ini masih berpikir.
"Bu?"
"Baiklah, akan ibu katakan pada ayah." Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
Setelah menutup pintu, aku kembali duduk didekat ruangan kecil yang sudah pernah aku lihat sebelumnya. Benar apa yang dikatakan Munah dulu, tempatnya sangat cocok untuk aku belajar dan menulis puisi.
"Kinara." Baru saja aku mau menuliskan apa yang sudah ada didalam otakku. Tapi lagi-lagi pintu kamar diketuk. Yang aku pikir itu adalah salah satu pelayan, mengantarkan makan malam kedalam kamar. Ternyata ayah yang datang dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa yah?"
"Kenapa? Kau malah bertanya? Kenapa kau tidak ikut makan dimeja makan bersama ayah dan ibu Intan?"
"Aku sedang menulis puisi yah?" Ayah tetap tidak mau tau, dan menarik tanganku untuk keluar kamar.
"Kau lihat siapa yang datang. Lagian, bagaimana kau bisa menulis kalau perutmu juga belum terisi." Ayah merangkul ku sepanjang jalan menuruni anak tangga. Jika sewaktu kecil aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini, maka ketika aku dewasa ayah masih menganggap ku seperti anak kecil.
"Munah?" Munah melambaikan tangannya, dia sudah duduk dimeja makan. Dengan gayanya yang sudah menyiapkan piringnya sendiri. Gila! Lapar dibawa pergi heh!
"Kau sendirian?"
"Sayang, duduklah dulu." Ibu memperingatkan aku.
"Ayo kita makan." Hening, aku yakin Munah datang kesini pasti karena mempunyai maksud. Apa dia mau menolak tawaran ayah yang akan membiayai kuliah ditempat yang sama denganku?
Aku dan Munah hanya bisa saling lirik, tidak sabar rasanya untuk membawa Munah kedalam kamar dan banyak bercerita.
"Kenapa kau makan terlalu sedikit?" Eh ini keduanya selalu saja romantis.
"Tidak mas aku memang sudah kenyang."
"Mas?" Ayah menoleh lagi. "Aku sangat ingin memakan sup."
"Pelayan-"
__ADS_1
"Tidak mas. Aku ingin kau yang memasaknya."
"Ppffft.."
"Kinara!"
"Ayah, itu adalah permintaan adikku. Sebaiknya ayah lakukan." Ibu berkedip padaku. Aku menunggu respon ayah selanjutnya. Oh my God, seorang Husein harus memasak, bahkan aku yakin ayah pasti bingung cara mengupas bawang.
"Apa harus sekarang?" Ibu menggeleng.
"Tidak mas, aku ingin besok." What? Biasanya jika ingin sesuatu, pasti harus sekarang juga kan? Ini kenapa besok! Ah aku tau kalau ibu sedang mengerjai ayah.
"Aku juga sangat ingin jika ayah yang masak."
"Kinara apa kau?"
"Ayah! Jangan berpikir macam-macam kali ini." Ayah langsung terdiam. Selalu saja berpikir aku hamil lagi, gila! Aku masih waras kali.
"Baiklah, besok akan aku masak khusus untukmu dan Kinara." Yeay, aku dan ibu Intan langsung bersorak bak anak kecil.
Makan malam dimeja makan sudah selesai, kini giliran ku menarik Munah masuk kedalam kamarku. Dan tentang puisi yang akan aku buat sudah ambyar, padahal tadinya semua kata sudah tersusun dengan rapi. Aku malah hanya mengingat sup saja sekarang.
"Katakan, ada apa kau datang kesini? Ini juga sudah malam Munah."
"Tidak, ini baru jam setengah delapan malam." Heh. "Biasanya juga kita berkumpul sampai jam satu malam." Sialan, apa yang dikatakannya benar pula.
"Kau gila ya! Mana mungkin ayah memberiku ijin."
"Tenanglah, aku yang akan meminta ijin pada ayahmu."
"Alasannya apa?" Munah membisikkan sesuatu padaku. Aku yang mendengar rencananya langsung tertawa.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap sekarang." Kini gilirannya menungguku. Dan sekarang, aku tidak lagi perlu memakai korset ataupun memakai pakaian yang longgar. Aku sudah kembali seperti dulu, sebelum aku mengandung.
"Kau terlihat sangat cantik ibu muda."
"Munah, dengan kau berkata begitu aku jadi tersinggung."
"Maafkan aku."
"Baiklah, karena kau temanku, maka aku memaafkan mu." Kami saling pandang dan haha selanjutnya tertawa.
Saat mencari keberadaan ayah, yang aku pikir dia tengah berada didalam kamar. Mungkin sedang mencari resep sup ataupun kembali bermanja dengan ibu Intan. Ternyata ayah sedang kedatangan tamu.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kau harus meminta ijin dengan ayahmu." Aku mengangguk dan pergi keruang tamu. Kudengar ayah tengah tertawa dan lalu berbincang kembali.
Ayah sudah melihatku datang, tapi aku tidak tau siapa yang sedang bersama ayah sekarang. Bodo ah, aku tetap saja berjalan mendekat. Lalu mengode Munah untuk segera mendekat dengan bahasa tangan. Bukankah dia yang bilang akan meminta ijin?
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Ayah, aku ijin keluar malam ini?" Aku sudah melirik kearah Munah. Terserahlah, aku tidak ingin melihat ataupun memandang siapa tamu ayah.
"Kalian mau kemana?"
"Aku hanya mengajak Munah jalan-jalan saja om. Sekaligus mencari kado ulang tahun untuk ibuku." Ayah tampak berpikir, aku berdoa semoga saja ayah memberi ijin.
"Baiklah."
"Kinara?" Suaranya tidak terlalu kencang. Aku langsung menoleh kearah dimana orang itu memanggilku, lebih tepatnya berada diseberang sofa.
Satria??? Gila!
"Kalian saling kenal?"
"Tidak yah." Secepat itu aku menjawab. Tapi Satria tidak berkedip menatap ku. Pasti dia kaget jika aku adalah anak dari Husien.
"Om kami pamit."
"Hati-hati dijalan. Jangan pulang sampai larut." Aku secepat mungkin menjauh dari ruangan itu. Tapi Munah menarikku.
"Bukankah dia?"
"Iya dia Satria, kakak tampan yang sempat kau kagumi."
"Tunggu, untuk apa dia datang?"
Aku hanya menggeleng, lalu kembali berjalan.
Tidak secepat itu bisa menghindari pertanyaan Munah. Sampai didalam mobil sekalipun dia tetap saja bertanya.
"Ada satu cerita yang belum pernah aku katakan padamu."
"Apa?"
"Waktu itu, aku pernah melihatnya dirumah sakit bersama Adam dan ibunya. Tepat saat aku akan memasuki ruangan." Munah langsung memintaku menatapnya.
"Apa jangan-jangan sebenernya Satria adalah kakaknya Adam?"
"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi bukankah kakaknya Adam bernama Windu? Dan bisa jadi kan, Satria hanya mengurus perusahaannya saja." Munah setuju dengan jawabanku. "Dan mengenai dia dirumah sakit, bisa saja dia memang membantu Adam dan ibunya untuk keberangkatan mereka."
Aku mengatakan apa yang aku pikirkan, bukankah itu sudah cukup jelas jika Satria bukan kakaknya Adam.
"Tapi Kinara, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau Satria itu bekerja diperusahaan ayahnya sendiri?" Deg. Tidak! Aku melupakan hal itu. Jadi Satria???
Bersambung..
__ADS_1