
Aku melangkahkan kaki memasuki sekolah, tapi ada yang aneh disini. Semenjak aku turun dari mobil, para murid disekolah ini pada saling berbisik sambil menatap ke arahku. Yang awalnya aku merasa itu hanya perasaan ku saja. Tapi lama kelamaan aku menyadari kalau mereka memang tengah membicarakan aku dari belakang, samping, dan juga depan. Aku bak berada di tengah pasar tapi sedang tersesat. Aku senyum dengan mereka, tapi mereka malah membalasnya dengan hujatan.
"Apa mereka sudah tau jika aku hamil? Matilah aku." Aku bergumam pelan lalu mempercepat langkahku. Aku hanya berharap sedang bermimpi buruk dan terbangun di siang hari lalu ujung-ujungnya aku tidak masuk ke sekolah. Ya hanya itu harapanku sekarang.
"Kak Nara?" Suara lembut namun tegas memnagilku, aku menoleh saat sudah berada tidak jauh dari kelasku. Tatapan matanya yang tajam juga seperti tengah menghinaku saat ini. Baiklah, aku atur nafas dan akan bertanya dengan lembut.
"Ada apa Elena?"
"Kak, aku mengira jika kakak baik. Tapi ternyata aku salah." Deg. Apa maksudnya? Dia bicara soal Adam kah?
Aku menggeleng pelan, sambil menyipitkan mataku.
"Bicaralah yang jelas Elena."
"Kakak tega sekali merebut suami orang?"
"Merebut suami orang?" Aku berusaha memperjelas apa yang sudah dikatakan oleh Elena. Wajah imutnya bisa juga berubah menjadi galak.
"Seharusnya kakak tidak melakukan itu!"
"Aku tidak merebut siapapun dari siapapun. Apa maksudnya kau mengatakan itu?"
"Apa kakak tidak merasa berdosa?" Aku jelas langsung menggeleng, ah tidak sepertinya aku memang memiliki dosa saat ini.
"Kak Nara?" Sekarang bicaranya lebih melembut.
Elena mengajak aku untuk duduk didekat batu taman sekolah. Dia menarik lenganku dan meminta temannya untuk pergi lebih dulu. Berdoa semoga bel masuk juga akan lama berbunyi, sehingga aku mendapatkan waktu lebih lama mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh Elena.
Seluruh mata kini menatap ke arah dimana kami duduk. Aku menutupi rok sekolah dengan tas milikku.
"Kak, apa benar kakak memiliki hubungan dengan pak Effendi? Dan beberapa photo kalian yang terlihat mesra. Lalu beredar juga photo kakak, ehm." Dia melirik ke kanan dan kiri. Lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Photo kakak yang keluar dari diskotik." Deg. Deg. Jantung ku perlahan memompa tidak terkendali, nafasku sesak. Tuhan tolong aku butuh oksigen yang lebih saat ini.
Ini sedang tidak berada didalam ruangan, tapi aku merasakan jika sedang akan di eksekusi mati. Bagaimanapun mungkin bisa mereka semua berpikir kalau aku memiliki hubungan dengan pak guru? Dan apa? Photoku saat di bar.
"Boleh aku lihat photonya?" Elena mengangguk.
"Kakak bersama Adam." Terdengar nada kekecewaan saat Elena mengatakannya. Aku menggeleng lagi, ini di ambil tepat saat Adam akan mengantarkan aku pulang? Iya, dan ini juga tepat saat dimana malam kejadian itu! Siapa yang mengambilnya.
"Elena dengar." Aku memegang kedua bahunya. "Aku dan Adam hanyalah teman, dan kau juga tau itu. Aku juga bukan hanya pergi berdua bersamanya, tapi aku juga pergi dengan Wahid dan Munah." Elena mengangguk. "Jangan berpikir akulah yang menjadi perusak hubunganmu dengannya, dan soal itu kau juga taukan? Jika aku memang sering pergi ke diskotik?" Elena mengangguk lagi.
"Tapi kak, pak Effendi?" Deg. Ya Tuhan, kenapa harus ada masalah seperti ini.
"Kakak tidak memiliki hubungan apa-apa." Aku berdiri dari dudukku, lalu membersihkan rok sekolah yang sempat terkena tanah.
"Kak, jujur sebenarnya aku tidak percaya ini. Tapi?"
"Tapi apa El?"
"Guru sudah pada tau kak, karena orang yang menyebarkan photo ini mengunggah photo dengan aku fake. Lalu mengirimnya ke grup sekolah. Bukan hanya guru dan murid disini saja yang bisa melihatnya, tetapi juga para alumni sekolah ini."
Ayah! Pasti ayah juga akan melihatnya! Bukankah dia juga alumni sekolah ini!!! Tidak!!
"Elena, kalau begitu aku masuk ke kelas dulu. Terima kasih untuk informasinya."
"Iya kak."
Teman satu kelasku kini sedang melihat penampilanku dari atas ke bawah. Termasuk Mida, dia sudah ada di dekat mejaku bersama Munah. Sepertinya tengah membicarakan ku, dan aku sudah yakin akan hal itu. Padangan mereka yang menatap tajam membuatku seperti tengah dikuliti hidup-hidup.
"Munah?" Aku langsung duduk di sampingnya, dengan nafasku yang terengah-engah.
"Aku tidak heran sih, wajar namanya juga anak broken home. Tapi, apa jika saat ini tubuhmu mengembang bukan karena hamil?" Deg.
"Tutup mulutmu Mida!" Munah menggebrak meja dan mengusirnya dari hadapanku.
"Kenapa kau marah? Aku hanya mengatakan apa yang orang-orang sedang pikirkan."
Adam, dimana dia? Aku yakin jika Adam pasti bisa membantuku! Kenapa dia belum juga datang?
Adam masuk bersama Wahid ke dalam kelas tepat saat bel sekolah berbunyi, hanya Adam lah yang tersenyum ke arahku saat melewati meja belajarku. Aku tidak bisa membalasnya, aku berharap Adam tau dengan melihat raut wajahku saat ini.
"Munah, aku bersumpah tidak melakukan hal itu." Aku menggenggam tangan Munah dengan erat, bahkan keringat dingin sudah bermunculan dari sela-sela jariku.
"Kau harus membuktikannya."
"Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Kenapa jadi serumit ini." Keluhku lagi.
Keadaan mulai hening ketika seorang guru sudah masuk ke dalam kelas. Suara langkah kakinya membuatku merinding, asli aku sendiri juga tidak tau. Mungkin karena rasa takutku yang berlebihan. Entah apa itu, tapi berhasil membuat daraku berkali-kali berdesir tidak terkendali. Adam, aku menoleh ke arahnya. Setiap masalahku pasti Adam siap membantu. Aku mengatupkan kedua tangan didekat dada, memohon pada Adam.
"Apa?" Dia membuka mulut tanpa suara, lalu menggeleng. Yang artinya dia tidak tau apa-apa sekarang.
"Kinara Adnan Husein." Deg. Apa? Namaku disebut dengan lantangnya. Hening dengan seluruh tatapan mengarah padaku. Sialnya aku malah membalas satu persatu tatapan mereka, memutar kepala seperti burung hantu. "Kau dipanggil ke kantor." Deg. Matilah aku!! Aku harus membawa saksi setidaknya bisa membantuku.
"Bu?" Aku mengangkat tangan. "Bisakah aku membawa Munah?" Hahaha seluruh temanku malah tertawa, kenapa, apa ada yang salah? Munah memukul lenganku.
"Kau yang dipanggil, pergilah sendiri. Nanti aku akan menyusul tanpa kau minta!" Dia berbisik sambil mengeratkan gigi.
"Ayo Kinara." Aku langsung berdiri, berjalan dengan menyeret kaki yang terasa berat. Keadaan sudah sepi sekarang, karena pelajaran sudah berlangsung. Nafasku terengah-engah, padahal jalan menuju kantor tidak terlalu jauh.
"Permisi pak." Aku mengetuk pintu yang terbuka lebar. Memanjangkan leherku untuk melihat isi dalam kantor. Syukurlah, hanya ada guru BP disini.
"Masuklah." Suara dinginku itu jelas membahana di telingaku.
Saat aku duduk, pak Effendi juga muncul dan ikut duduk di sampingku. Aku meliriknya, kami akan melalui sidang ini.
__ADS_1
"Kinara?" Guru BP yang ada di hadapanku sekarang membetulkan lagi kaca mata yang dia pakai.
"Apa kau sendiri yang mengunggah photo itu?" Jelas aku langsung menggeleng. "Apa semua berita itu benar?" Aku menggeleng lagi.
"Buka mulutmu."
"Bapak bisa tanyakan langsung kepada pak Effendi pak. Aku hanya membantunya membuat puisi untuk istrinya, kejutan dihari ulang tahun." Dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang aku tutupi. "Pak, apa bapak masih menyimpan puisi itu?" Aku bertanya dengan pak Effendi.
"Ada, tapi saat ini tidak saya bawa karena yang menyimpan istri saya."
"Sebenarnya, saya juga tidak percaya akan hal itu. Hanya saja, photomu dengan pakaian yang tidak pantas lalu tempat yang kau kunjungi. Itu sangat mencoreng nama baik sekolah ini." Aku menunduk sekarang. Pak Effendi menguatkan aku dengan menepuk pelan bahuku.
"Tindakan yang harus kami lakukan adalah mengeluarkan mu dari sekolah ini. Terkecuali, orang tuamu bersedia hadir." Ayah? Ibu? Tidak?? Jangan sampai ayah tau.
"Pak, aku mohon jangan pak. Aku, aku masih ingin sekolah pak." Dia malah mengeluarkan amplop kecil berwarna putih. Aku tau, itu pasti surat yang membuatku lemas jika membacanya.
"Pak, aku mohon."
"Pak, sebaiknya beri keringanan untuknya pak." Pak Effendi berusaha membelaku saat ini.
"Begini, kami juga tidak bisa mengeluarkanmu dari sekolah, karena ujian kelulusan hanya tinggal satu bulan lagi, meskipun hal itu yang harusnya kau lakukan. Jadi, kami hanya bisa melakukan tindakan ini." Apa ini? "Kau di skors selama satu bulan, dan kembali masuk ketika waktu ujian tiba. Ini juga untuk menghindari riuhnya sekolah, bukankah kau sudah tau jika seluruh murid dan guru disekolah ini sudah tau?" Deg. Lalu bagaimana pelajaranku? Bukankah aku akan tertinggal.
Aku memohon sekali lagi, memohon dengan sangat. Tapi keputusan tidak dapat diubah. Aku juga menyadari jika aku salah. Aku hanya bisa berjalan keluar kantor dengan keadaan seperti linglung. Pandanganku kabur.
"Ini tas mu." Aku menunggu di depan kelas dan meminta Munah untuk mengantar tasku keluar.
"Kau baik-baik saja kan?" Aku mengangguk. "Tunggulah, siang ini aku, Wahid dan Adam akan datang ke apartemen." Aku tidak menjawab dan langsung berbalik.
Hanya dalam satu hari, kebahagiaan yang aku dapat karena telah bertemu dengan teman kecilku, hilang luluh lantah. Tuhan memberiku kejutan lagi di pagi ini.
Aku melajukan mobil yang tidak tau harus kemana sekarang. Tujuanku saat ini, aku benar-benar tidak tau. Hingga berhenti disatu titik. Menatap ke arah taman, dimana bunga tersusun rapi disana. Aku turun dari mobil dan berjalan ke arah taman. Meninggalkan semua barang didalam mobil, termasuk tas dan ponselku.
Duduk dibawah sinar matahari pagi, mengelus perutku yang saat ini tertutup sempurna oleh korset dan seragam.
"Tidak seharusnya anak sekolah ada ditempat ini." Hah, aku terkesiap mendengar suara itu.
"Ayah???" Aku langsung berdiri, ketika tau ayah ada dihadapan ku sekarang. "Ayah, kenapa ayah disini?" Ayah malah duduk dan memintaku juga untuk duduk kembali.
"Ayah tidak sengaja melihat mobilmu terparkir disini, dan dari kejauhan dijalan raya juga melihat ada anak memakai seragam sekolah duduk ditengah taman." Aku menoleh ke arahnya, apa aku harus mengatakannya?
"Katakan pada ayah, kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini? Apa kau sering seperti ini?"
"Tidak."
"Katakan pada ayah, mulai sekarang anggaplah ayah sebagai temanmu." Ayah? Dia bahkan menentukan jari kelingkingnya untukku sebagai tanda janji bahwa aku menyetujuinya.
"Ayah. Aku di skors dari sekolah." Ucapku lirih.
"Ayah sudah tau." Deg. Benarkah?
"Ayah! Ayah jahat sekali padaku!! Apa ayah belum puas membuat mentalku lemah sejak kecil?? Dan sekarang ayah melakukan hal ini lagi?" Keadaan suasana hati yang sudah mendung, sekali berkedip saja aku yakin air mataku akan menetes.
"Ayah memiliki alasan untuk ini Nara."
"Tidak yah. Menurutku apa yang ayah dan ibu lakukan tidak pernah memiliki alasan. Apapun itu! Hanya ingin menyiksa anak sendiri!!"
"Jangan bawa-bawa nama ibumu. Semua ayah yang salah. Bukankah ibumu sedang berduka sekarang?" Lagi-lagi, perkataan ayah selalu menghujam seluruh denyut jantung.
"Ibu tidak pernah peduli padaku, jadi tidak salah jika aku tidak peduli dengannya, seperti itu juga dengan ayah."
"Nara? Apa ini sebagai pelampiasan? Apa ini alasanmu untuk tidak mau tinggal bersama ayah? Kehidupan malam mu, dan berakhir dengan kau di skors dari sekolah."
"Aku tidak melakukannya ayah! Aku hanya menolong, bahkan pak Effendi sempat menitipkan salam untuk ayah!"
"Apakah salam itu kau sampaikan pada ayah?" Aku tidak bisa berkutik, benar aku tidak menyampaikannya. Tapi kan sekarang aku sudah mengatakannya pada ayah?
"Ayah pergilah, untuk apa ayah ada disini. Hanya untuk menyalahkan ku saja. Lebih baik ayah ke kantor."
Sebenarnya aku hanya ingin sendiri, meskipun ayah sudah mengatakan kalau meminta untuk selalu menganggapnya sebagai teman. Tapi rasa canggung masih terjadi. Sebelumnya aku memang tidak pernah dekat dengannya. Mungkin, suatu saat nanti aku akan mau melakukan semua itu. Bermanja dengannya tanpa kenal usia. Tapi saat ini, aku sedang mengandung, aku sendiri saja berjaga jarak dengan orang lain.
"Selesaikan sekolahmu dengan baik. Setelah kau Lulus, kau harus tinggal dengan ayah. Dan apartemen itu akan ayah jual!" Ayah berdiri dan pergi meninggalkannya ku. Mulut yang sudah terbuka ingin protes juga sepertinya hanya sia-sia. Langkah ayah semakin menjauh bersamaan dengan pandangan mataku yang mengikutinya.
Heh.. Aku hanya bisa menghela nafas sekarang. Sendiri memikirkan sesuatu yang belum memiliki ujung. Aku teringat, dua hari lagi sudah waktunya jadwal pemeriksaan kandunganku.
"Hallo?" Aku menelpon dokter Linda, aku takut dia juga lupa.
"Iya, Kinara?"
"Dokter, jadwal periksa kandung dua hari lagi kan?"
"Iya benar, kenapa Nara?"
"Aku ingin melakukan USG. Aku ingin tau jenis kelamin dari anakku. Apa dokter bisa membawa alatnya ke apartemen? Aku tidak mau jika harus pergi kerumah sakit?"
"Bisa, nanti akan saya usahakan."
"Terima kasih dokter." Huh, ini sudah saatnya aku mengetahui jenis kelamin dari anakku. Anak yang aku kandung selama enam bulan ini. Sebelumnya aku selalu menolak, tapi entah kenapa semenjak tau bahwa Adam adalah Iam. Aku memiliki semangat untuk merawat bayi mungil yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Aku sangat ingin mendengarnya menangis.
***
Aku kembali ke apartemen sekitar pukul 10 pagi. Melemparkan asal tasku ke sofa, dan begitu duduk aku langsung membuka kancing seragam mengendurkan ikatan pinggang. Heh, sudah sesak sekali.
"Kenapa sudah pulang Nara?" Bi Gina datang dari arah dapur, duduk di sampingku dengan membawakan satu gelas air dingin.
__ADS_1
"Ini bi." Aku menyerahkan amplop kecil yang didalamnya ada surat dilipat sedemikian rupa. Aku meneguk air dingin yang memuaskan dahagaku. Ku biarkan bi Gina membaca surat itu mulai dari barisan atas.
"Bagaimana bisa? Apa penyebabnya?"
"Hanya salah paham bi." Aku menarik nafas. "Bi, biarlah aku dihukum seperti ini. Aku sudah tidak tahan lagi setiap hari harus mengunakan korset. Rasanya sesak bi." Aku mengeluh, dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Bak anak kucing yang tengah bermanja dengan induknya, mengeong dengan lembut.
"Bibi juga berpikiran sama denganmu. Tapi kalau seperti ini kau akan tertinggal pelajaran. Dan juga, kau malah tidak bisa lulus Kinara."
"Bibi. Aku akan meminta bantuan Adam nantinya."
Sejak bi Gina tau dan mendengar ceritaku tentang siapa Adam dan keluarganya, yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan ku dulu. Bi Gina lebih suka jika Adam datang ke apartemen. Katanya aku lebih sering tersenyum, ah terkadang bi Gina suka lebay.
"Bi, dua hari lagi dokter Linda datang. Aku memintanya melakukan USG. Aku ingin lihat jenis kelamin anakku bi." Bi Gina langsung tersenyum, dia juga ikut senang. Karena sebelumnya bi Gina sudah pernah mengatakan hal itu, hanya saja aku selalu menolaknya.
"Bi aku ingin istirahat di kamar."
Tubuhku merasa lemas, dan selalu seperti ini jika aku mengalami guncangan masalah. Anakku juga tidak seaktif biasanya. Tendangan kecil itu seakan hilang begitu saja. Itu yang aku takutkan, pikiran mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandunganku.
Ah rasanya nyaman sekali jika sudah berbaring di tempat tidur. Empuk, memeluk guling dengan posisi miring. Aku suka dengan gaya tidur seperti itu, tapi kini aku mulai merasakan serba salah jika ingin tidur.
"Hei, kenapa kau tidak bergerak?" Aku mengelusnya dengan lembut. "Ah kau sedang tidur ya?" Aku tertawa sendiri membayangkan suatu hari akan bisa menggendong anakku.
Entah berapa lama aku tertidur setelah mengajak anak didalam perutku berbicara. Tubuhku terasa terguncang ke kanan dan kiri, seperti sedang ada gempa sekarang. Tapi mataku masih mengatup sempurna, sangat susah untuk di buka. Merasakan kenyamanan tidur di siang hari.
"Nara?" Aku terpaksa membuka mata, berkedip beberapa kali. Memastikan siapa yang tengah mengganggu tidurku sekarang.
"Munah?" Aku belum bergerak sedikitpun, hanya membuka mata saja. Tidak, Munah jangan sampai melihat perutku.
"Kau sendirian?" Munah menggeleng dan mengatakan jika dia pergi bersama Adam dan Wahid.
"Keluarlah dulu, aku ingin ke kamar mandi."
Setelah memastikan Munah sudah menutup pintu kamarku kembali, aku turun dengan perlahan dan menuju kamar mandi. Memakai korset dan mengganti pakaian yang lebih tertutup. Aku bercermin setelah mencuci wajah. Ku elus pipiku sendiri, merabanya. Wajahku tampak sembab.
"Kenapa begini ya? Apa karena aku tidur terlalu lama?" Ku bersihkan lagi mengunakan handuk. Barulah aku keluar kamar mandi.
"Nara?" Adam yang pertama kali menyapaku. Pandanganku menyapu keseluruh meja sofa. Berjajar beberapa buku pelajaran yang tebal dan buku tulis, berserta pena.
"Apa mau belajar kelompok?" Mereka kompak dengan menganggukkan kepala. Aku sudah duduk sekarang. Tepatnya duduk disebelah Adam.
"Kau menangis satu harian ya?" Aku menggeleng. Benar memang aku tidak menangis. "Wajahmu sembab sekali." Adam, jauhkan tanganmu! Aku ingin berteriak begitu ketika Adam menyentuh wajahku dengan jari-jarinya. Apakah tidak melihat jika Munah dan Wahid sudah tidak berkedip menatapnya sekarang.
"Ehem!!" Wahid sengaja berdehem, mungkin untuk menyadarkan Adam bahwa bukan hanya aku dan dia saja yang ada disini sekarang. Tapi kenapa jantungku berdebar sekarang? Aneh! Bukankah itu hal yang biasa dilakukan oleh teman ya?
"Baiklah, apa bisa kita mulai pelajarannya?"
"Ini pelajaran apa?" Aku menatap mereka meminta jawaban.
"Kita bukan ingin belajar kelompok, hanya saja akan memberimu catatan hari ini, kau tidak ingin tertinggal pelajaran kan?" Aku menggeleng.
"Silahkan dimulai." Munah menarik tanganku, meletakkan pena di genggamanku, sementara Wahid membacakannya agar aku mendengar dan menulisnya. Dan Adam, dia tengah sibuk dengan laptopnya.
Dalam waktu satu jam, aku bisa menyelesaikan seluruh catatan dan tugas hari ini. Mereka memintaku mengerjakannya, tidak perlu mengumpulkan ke sekolah. Hanya saja agar aku tau jika pertanyaan ini nantinya muncul di soal ujian kelulusan.
"Sekarang, waktunya kau jelaskan kepada kami, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan pak Effendi?" Deg. Lagi-lagi aku harus membahasnya.
"Kalian tau kan, beberapa hari lalu aku menulis puisi?" Biarlah, mereka harus belajar mengingat sekarang. "Itu adalah puisi untuk istrinya, sebagai ganti nilai karena aku tidak ikut praktek kemarin. Dan sebagai rasa terimakasihnya, pak guru mengajakku makan diluar. Aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksa." Mereka diam mendengarkan. "Dari situ muncullah fitnah, hanya saja yang aku heran kan, siapa yang mengikutiku dan mengambil beberapa photo yang akhirnya menjadi fitnah."
"Sudah terlacak!!!" Adam memperlihatkan laptopnya. Gila! Dia bisa mencari orang yang memakai akun palsu untuk mengunggah photoku.
"Ini?" Adam mengangguk. Aku benar-benar tidak mengenalinya, tapi aku terus menilik wajah seseorang yang tengah aku lihat sekarang.
"Sepertinya tidak asing."
"Sama, aku pernah melihatnya."
"Dimana?" Kami serempak bertanya kepada Adam. Dia masih diam kemudian memeriksa profil dari orang itu. Dicarinya photo yang lebih jelas lagi.
"Bagaimana kau bisa mencarinya?"
"Ada aplikasi yang menunjang ini." Entah apa lagi sekarang yang Adam lakukan. Ternyata dia pintar!
"Coba kau lihat ini."
"Ayah?" Aku menatap ke arah Adam. "Tidak mungkin ayahku Adam!"
"Tunggu, kau belum menjawab pertanyaan kami kan? Kau pernah melihatnya dimana?" Munah bertanya, dia sudah mewakili pertanyaanku.
"Aku, aku pernah melihatnya dirumah ayahmu." Deg. Apa ini semua ulah ayah? Pantas saja dia bisa tau jika aku terkena musibah seperti ini. Ya Tuhan, kenapa orang tuaku tega berbuat begini padaku? Apa salahku, aku hanya ingin hidup dalam ketenangan.
"Nara, kau tenanglah dulu. Jangan berpikir yang tidak-tidak." Munah memelukku, dia tau perasaanku saat ini, kecewa! Ya aku kecewa dengan kekakuan ayah.
Aku berdiri, dan masuk kedalam kamar. Mencari keberadaan ponselku.
"Hallo?"
"Nara, kenapa sayang?"
"Tante, bisakah kita berjumpa?"
Malam ini, aku meminta Tante Intan untuk berjumpa denganku diluar, aku yakin jika ayah melakukannya pasti Tante Intan juga tau.
"Tante, jangan bilang kepada ayah. Aku hanya ingin meminta bantuan kepada Tante."
__ADS_1
Setelahnya aku keluar lagi untuk kembali duduk di sofa. Wajahku sudah mulai tak bersahabat. Ada gemuruh yang siap menyambar siapa saja saat ini.
Bersambung..