Langit Mendung

Langit Mendung
Anak siapa ini?


__ADS_3

POV Author


Yang seharusnya merasakan bahagia, dimana telah selesai menempuh tiga tahun lamanya dimasa SMA. Bersorak karena sudah berhasil melewati ujian akhir, yakni ujian kelulusan. Mencoret baju dan berkumpul dengan teman yang lain. Tidak peduli dengan nilai ataupun kelulusan nantinya. Begitulah yang selalu dipikirkan anak-anak muda jaman sekarang.


Beda hal dengan kedua keluarga ini, dan yang paling sakit adalah Kinara. Dia harus berada diruang ICU, terbaring tanpa bisa membuka matanya. Melihat betapa sedihnya kedua orang tua dan juga teman dekatnya.


Sekarang, seluruh siswa dan bahkan guru sudah mengetahui. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentang Kinara yang menyembunyikan kehamilannya. Semua sia-sia. Gosip sudah menyebar kemanapun. Rasa kecewa dan sedih juga dirasakan orang-orang tertentu.


"Bagaimana dokter?"


"Bayi tidak selamat. Karena memang belum cukup umur untuknya lahir. Kami sudah melakukan tindak operasi. Hanya tinggal menunggu pasien sadar saja."


"Apa? Apa tidak bisa diselamatkan?" Ayahnya protes, seakan bayi diluar nikah inipun begitu penting baginya.


"Maaf pak, karena memang bayinya sudah meninggal didalam kandungan." Deg. Semua yang mendengar melemas. Dua kali, ya ibunya merasakan hal ini dua kali, hanya saja berbeda keadaan. Dia yang sempat kehilangan anaknya, dan kini cucunya yang memang tidak diinginkannya lahir.


"Ikutlah denganku." Wahid menarik paksa lengan Munah, hingga kesudut dimana tidak ada orang lain lagi yang melintas.


"Apa kau tau tentang ini?" Munah menunduk, dan tidak menjawab. "Katakan Munah!!" Munah menggeleng pelan.


"Aku, aku-"


"Kau tega sekali. Aku juga temannya." Isak tangis lirih terdengar, lalu siapa yang harus disalahkan?


"Lalu, apa kau tau siapa ayah dari anak itu? Orang yang sudah membuat hidupnya Kinara hancur?" Diam lagi.


"Apa laki-laki itu? Laki-laki yang sering pergi bersamanya?"


"Eh bukan!" Cepat Munah menjawab. Dari pada orang yang tidak bersalah harus disalahkan.

__ADS_1


"Berarti kau juga tau kalau Kinara hamil." Munah terjebak soal ini.


"Hid, maaf aku tidak bisa membahasnya sekarang, lagian juga aku tidak bisa bicara disembarang tempat. Sebaiknya kita fokus dulu kepada Kinara, karena dia juga harus secepatnya sadar. Bukan hanya kau yang butuh penjelasan, tapi kedua orang tuanya juga."


"Kau ini sangat menyebalkan!" Meninju kepala Munah dengan pelan.


"Tapi kau suka kan!!" Wahid langsung menarik tangannya, hingga tubuh Munah menempel padanya. Nafas dan detak jantung sudah bergerak tidak terkendali. "Apa yang kau lakukan!!"


"Aku bisa saja menghamilimu juga."


"Dasar gila! Apa juga kau ingin seperti Adam?" Hah? Munah kaget sendiri dengan apa yang dia katakan. Menggeleng dan pergi meninggalkan Wahid. Itu juga menyempatkan diri untuk menginjak kaki Wahid barulah dia berlari.


"Hei tunggu, Adam? Kenapa Adam?" Munah hanya melambaikan tangannya dan mempercepat langkahnya untuk kembali bergabung bersama ibu dan ayahnya Kinara. Mereka yang setia menunggu. Karena dokter juga mengatakan kondisi Kinara sangat lemah. Jadi untuk bisa menunggunya sadar tidak bisa dipastikan waktunya.


"Munah? Ikutlah dengan om sebentar." Munah menelan salivah, tau sekarang setelah Wahid pasti ayahnya Kinara yang meminta penjelasan. Ingin marah tapi bagaimana! Karena dia sendiri juga ikut merahasiakan hal ini.


Ah bodohnya aku!! Harusnya kuberitahu saja ayahnya! Gerutunya dalam hati sambil berjalan mengikuti langkah ayahnya Kinara.


"Kau tau kan?" Munah tidak mungkin bisa berbohong lagi sekarang. Terlepas dari apa yang selalu dia terima dari ayah temannya ini. Baik uang ataupun berupa bantuan lainnya.


"Maafkan aku om. Tapi aku tau setelah usia kandungannya enam bulan. Jadi aku tidak tau dari awal."


"Om tau, jika kau diam karena dia temanmu. Kau mencoba menyelamatkannya dari keadaan riuh." Tarikan nafas jelas terdengar. "Tapi sekarang, semuanya jauh lebih riuh dari apa yang dibayangkan Kinara." Munah hanya bisa menunduk.


"Apa dia pernah mengatakan, siapa anak dari bayi yang Kinara kandung?" Deg. Pertanyaan yang sangat dihindari Munah saat ini. Tidak mungkin harus berkilah lagi, karena semuanya sudah terlanjur terbongkar.


"Maaf om. Tapi kalau itu hanya bi Gina yang tau."


"Sudah saya duga." Munah mendongak. "Tapi tetap saja bi Gina tidak memberi tahu." Helaan nafas terdengar lagi. Orang tua mana yang tidak pusing kalau begini. Meskipun bayi itu sudah tiada, tapi tetap saja kehancuran masa depan anaknya tidak bisa dielakkan lagi. Takdir sudah menimpanya.

__ADS_1


Dilain sisi, Wahid yang duduk sendiri hanya bisa melihat seorang ibu menangis. Menangis entah karena kecewa ataupun kehilangan. Ingin rasanya menenangkan tapi terhalang oleh rasa canggung. Wahid lebih memilih meminjam ponselnya, lalu mengirim pesan ke Adam. Bertanya dimana dia sekarang, dan bagaimana keadaannya. Karena setelah Kinara dilarikan kerumah sakit, Adam seperti hilang ditelan bumi. Bukankah harusnya dia disini sekarang. Itu yang sedang dipikirkan Wahid.


10 menit menunggu tidak ada balasan. Padahal nomor Adam juga sedang aktif. Melirik lagi kearah depan, masih tetap melihat pemandangan yang sama, ibunya Kinara masih tetap menangis. Padahal matanya sudah sembab, dan sangat susah untuk terbuka.


"Hallo? Iya pa?" Wahid berdiri dari duduknya ketika menerima telepon dari orang tuanya.


"Iya aku akan segera pulang sekarang." Wahid melihat kearah lorong rumah sakit. Munah tidak kunjung kembali, sementara sudah ada urusan dirumah yang juga penting baginya. Takut kalau orang tuanya menunggu, Wahid lebih memilih pergi lebih dulu. Pamit kepada ibunya Kinara, meskipun hanya dijawab dengan anggukan dan suara tangis.


"Aneh, dulu saja Kinara tidak diperhatikan. Kenapa malah sekarang menangis tidak ada hentinya." Gerutunya pelan saat sudah menjauhi ruangan dimana Kinara berbaring. Bisa dipastikan ibunya tidak akan mendengar.


***


"Bu, ibu kenapa?" Windu yang baru saja datang, karena baru selesai mengadakan rapat diperusahaan.


"Adam tidak mau pergi, Adam berontak dan tidak keluar kamar. Padahal penerbangan harus dilakukan sore ini." Ibunya menangis, sambil terus berada didepan pintu kamar anaknya.


"Biar aku dobrak saja." Windu sudah mengambil ancang-ancang.


"Windu, tidak usah?"


"Bu, apa ibu tidak takut jika terjadi sesuatu didalam?" Ibunya terdiam. Lalu menyingkir dari depan pintu. Satu tunjangan berhasil membuka pintu yang dikunci oleh Adam. Karena tenaga seseorang yang tengah panik pasti jauh lebih kuat.


Keduanya tercengang, saat melihat tubuh Adam yang tergeletak dilantai dan tidak bergerak.


"Adam!!" Teriakan itu jelas terdengar dan secara bersamaan.


Seragam sekolah yang masih menempel itu sudah berlumuran darah. Lemas, itu yang dirasakan ibunya sekarang.


"Ya Tuhan, selamatkanlah anakku." Doa terakhir sebelum Adam dilarikan kerumah sakit.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2