Langit Mendung

Langit Mendung
Kabar duka yang sebenarnya


__ADS_3

Sudah dua hari ini, aku dan bi Gina tidak bertemu. Saling bertanya kabar melalui ponsel saja. Bi Gina memintaku untuk tetap dirumah, dan berpesan jangan sampai lupa mengirim makanan untuk mereka adik-adikku. Aku masih duduk memakai seragam sekolah. Hal yang aku sukai ketika melamun, duduk di dekat jendela apartemen. Menatap pantulan cahaya disetiap genteng. Membuka jendela lebar-lebar, agar angin masuk menyeruak ke seluruh tubuh. Keringat yang sempat ada di bagian leher dan kepala bisa langsung kering. Aku pun merasakan kesegaran. Kalau sudah begini, ujung-ujungnya malah merasakan kantuk.


"Eh tidak-tidak. Lebih baik aku mandi, hari ini paketan akan datang." Aku memesan beberapa pakaian untuk mereka. Berbagai ukuran sesuai dengan postur tubuh mereka. Tinggal menunggu paketan datang, aku akan langsung pergi kesana. Tadi, aku sudah sempat memesan makanan melalui via online, meminta dikirimkan sesuai alamat. Untungnya sekarang semua bisa dibeli tanpa harus datang ke tempat. Agar mereka tidak lama menunggu, dan kelaparan seperti waktu itu.


Langkah kedua setelah ini, aku akan mencari sepetak tanah yang harganya masih bisa di jangkau.


Aku membersihkan diri terlebih dahulu, lalu bersiap untuk pergi. Semoga paket juga sudah sampai setelah aku mandi.


Aku merasakan kesegaran yang teramat saat air menetes membasahi seluruh tubuh. Aku memegang perutku, lama-lama terlihat membuncit meskipun belum membesar. Hanya aku yang bisa melihatnya, orang lain tidak akan tau. Aku selalu teringat Adam, jikalau aku mengajak janin yang ada di perutku berbicara.


Ini sudah pukul 02 siang. Setelah mandi, aku duduk di sofa. Mengubungi reseller yang menjual pakaian, paket sudah dalam perjalanan, perkiraan akan sampai 15 menit lagi. Itu karena aku membeli dari toko yang tidak jauh dari apartemen.


Pintu di ketuk, bel juga berbunyi, aku langsung sigap membukanya. Paket sampai lebih cepat dari perkiraan, syukurlah.


"Mas maaf sebelumnya. Apa bisa bantu saya untuk membawa paket ini ke mobil?" Aku ragu-ragu meminta tolong sebenarnya. Karena membawa ini ke atas saja sudah berat, malah ketika sampai aku memintanya untuk membawanya turun kembali.


"Oh iya baik." Lagi-lagi harus bersyukur karena kurir mau membantunya.


Aku tidak hanya mengucapkan terima kasih. Tapi juga memberinya uang tips yang pantas. Kurir malah berbalik mengucapkan terima kasih berulang kali. Dia bahkan mengatakan kalau ini terlalu banyak. Ternyata membuat orang lain tersenyum memiliki satu kebanggaan tersendiri untukku.


"Nara?" Aku menoleh.


"Kau mau pindah?" Eh, aku harus bicara apa sekarang. Kenapa Adam ada disini?


"Adam?" Aku harus mencari alasan, iya harus.


"Kau datang?" Dia mengangguk, berjalan mendekat ke arahku. Dan menatap ke arah kardus yang sudah diletakkan di mobil. Aku menutup bagasi mobilku. Lalu beralih ke Adam. Berpikir, semoga untuk ini otakku dapat bekerja dengan baik, layaknya ketika menulis puisi.


"Aku, ini hem. Aku menyusun pakaian ku yang sudah tidak ingin aku pakai. Lalu akan memberikannya ke tetangga bi Gina." Adam diam, dia malah melipat kedua tangannya di dada. Menatapku dan mengerutkan keningnya. Aku sangat berharap, kali ini Tuhan mau membantuku. Dengan cara membuat Adam percaya.


"Tapi kenapa ada kurir yang membawanya?" Oh my God!! Sebenarnya sejak kapan Adam datang.


"Kurir?" Aku menoleh ke arah kanan dan kiri.


"Itu memang kurir, tapi dia mengantar paket bukan ke apartemen milik ku. Lalu aku meminta bantuannya. Makannya aku memberikannya uang tadi sebagai ucapan terima kasih."


"Oh. Ya sudah. Jadi ini mau kau antar sekarang?" Aku mengangguk. "Kalau begitu aku ikut denganmu. Karena awalnya tadi aku datang kesini mau mengajakmu jalan-jalan." Deg. Bagaimana ini? Jujur, aku tidak ingin ada yang tau. Aku tidak ingin kebaikan ku dilihat orang lain. Aku paling tidak suka itu. Dan ujungnya mereka malah mencampuri urusanku nantinya.


"Eh tidak usah Dam. Aku sendiri saja." Adam terlihat kecewa.


"Kalau mau mengajakku jalan-jalan, harusnya nanti malam saja bukan sekarang Dam. Ini juga panas, memangnya mau kemana?" Adam semakin mendekat ke arahku.


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti malam." Dia hanya mengelus kepalaku dengan lembut, lalu berbalik pergi masuk ke dalam mobil. Ku pastikan mobil Adam sudah memasuki Jalan raya barulah aku melajukan mobilku.


Rasa nyaman yang tidak bisa aku tutupi, aku tidak cinta. Aku sayang dengan Adam layaknya teman, seperti aku menyayangi Munah. Tapi, kalau terus selalu dekat begini, dan hanya pergi berdua saja aku malah takutnya memiliki perasaan yang berbeda.


Aku menghentikan mobil di depan kontrakan. Ku lihat pintu masih tertutup rapat, berarti mereka benar-benar tidak keluar rumah dan menuruti perkataan ku.


Aku membuka bagasi mobil, dan mengangkat kardus itu keluar. Berat juga ternyata, tapi aku masih punya tenaga untuk mengangkatnya. Satu, dan ada dua lagi. Aku kembali ke mobil setelah meletakkan di depan pintu. Yang kedua, saat aku mengangkatnya, perutku terasa sakit di bagian bawah. Aku menjatuhkan kardus paketan dan langsung terduduk, meremas perutku. Ini rasanya sangat sakit. Untuk berdiri saja terasa sekali. Aku menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada lalu lalang pengendara. Aku menunduk, menekuk kakiku, menunggu sampai rasa sakitnya sedikit menghilang.


"Ayo aku bantu?" Aku langsung mendongak, saat ada suara dan tangan yang terulur dihadapan ku.


"Adam?"


"Rumah bi Gina di daerah sini?" Hah? Apa? Aku menoleh ke arah kontrakan. Lalu mengangguk.


"Ya sudah ayo." Aku menerima uluran tangannya, menggenggam dengan erat. Sama saja saat bangkit masih terasa nyeri. Aku Kembali terduduk, keringat dingin membasahi wajahku. Tanganku gemetar, ada apa ini? Jangan sampai terjadi apa-apa.


Adam langsung menggendong ku, dan membawaku masuk kedalam mobil.


"Tunggu saja disini." Aku mengangguk. Melihat Adam memindahkan sisa kardus paketan ke depan pintu rumah. Lalu dia mengetuknya.


"Eh bagaimana ini?"


"Siapa?" Aku melihat ada salah satu dari mereka yang membuka pintu. Aku mengintip di balik kursi mobil. Jangan sampai mereka melihatku.


"Oh ini ada baju bekas untuk kalian. Hem, katanya sih disuruh bi Gina. Kalian kenal?" Mereka mengangguk antusias, dan menyeret paket ke dalam.


"Kak terima kasih ya sudah mengantarnya." Adam tersenyum dan mengangguk, lalu berbalik ke mobil saat pintu sudah kembali di tutup. Ku dengar suara bahagia dari dalam sana, mereka Berteriak girang. Hah, lega akhirnya. Tapi hari ini aku tidak bisa berjumpa dengan mereka.


"Sudah, kau bisa bawa mobil?" Aku mengangguk lagi.


"Terima kasih Dam, sudah membantu."


"Iya, ya sudah kau hati-hati."


"Eh dam tunggu." Aku merasa ada yang tidak beres, kenapa Adam bisa tau kalau aku kesini?


"Kenapa kau bisa tau aku disini? Kau mengikuti ku ya?" Adam menggeleng dan menunjuk rujak buah di seberang jalan.


"Oh." Aku menelan ludah. Kenapa sepertinya itu sangat enak ya?


"Kau mau?" Aku langsung mengangguk. "Kau pulang lah ke apartemen, biar aku yang belikan. Tunggu saja, nanti aku antar."

__ADS_1


"Makasih ya Dam." Adam mengangguk dan melajukan mobilnya, memutar arah untuk bisa sampai ke seberang jalan.


Aku membayangkan betapa segarnya disiang hari makan rujak buah. Lalu di siram kuah pedas dengan resep yang hanya penjualnya saja yang tau. Mangga, apa lagi jika ada mangga mudanya. Duh, air liurku kembali mengumpul membayangkan aku mengunyahnya. Hanya gara-gara rujak buah saja aku sampai melupakan rasa sakit di bagian perut bawahku. Aku ingat pesan bi Gina, yang tidak memperbolehkan ku mengangkat beban terlalu berat. Karena bisa terjadi perut turun, itu kalau aku tidak mengandung. Tapi saat ini aku tengah hamil, yang berarti janin ku lah yang turun.


Apa ini tidak berbahaya? Ingin sekali aku bertanya dengan bi Gina, tapi mengingat saat ini bi Gina juga masih dilanda masalah, ataupun duka. Eh yang ada aku malah menambah bebannya saja.


Saat sampai di apartemen, aku mencoba menelpon ibu. Ibu juga sedang hamilkan? Dia juga sudah punya pengalaman saat mengandungku dulu. Baiklah, aku akan bertanya saja padanya. Mumpung Adam juga belum sampai.


"Iya Nara? Ada apa?"


"Hem Bu. Aku mau tanya."


"Tanya apa nak?" Ya Tuhan, seumur-umur baru kali ini mendengar ibu memanggilku dengan sebutan itu, dengan nada yang lembut pula.


"Bu, apa benar kalau orang yang sedang hamil tidak boleh mengangkat beban berat?"


"Iya benar."


"Biasanya apa efeknya Bu? Dan bahaya atau tidak?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Eh iya, kenapa aku tidak berpikir kesana ya?


"Tidak Bu, ini hanya tentang pelajaran sekolah. Aku kan anak IPA Bu."


"Oh iya. Kalau merasakan sakit, maka itu turun perut. Atau peranakannya turun."


"Apa berbahaya Bu?"


"Kalau untuk orang tengah hamil ya jelas berbahaya. Apa lagi yang hamil muda, bisa terjadi keguguran."


"Lalu, apa obatnya Bu?"


"Tidak ada obatnya Nara. Kalau nenekmu dulu menyarankan untuk kusuk, agar menaikkan kembali peranakan yang turun."


"Oh ya sudah Bu."


"Nara?" Aku menjawab panggilan ibu. "Kau sedang tidak hamil kan?" Hah?


"Bu, tidaklah. Mana mungkin!! Pacar saja aku tidak punya?"


"Baguslah. Ibu tidak akan mau mengakui mu sebagai anak, kalau kau sampai hamil diluar nikah." Aku langsung menutup panggilan, berasalan kalau tidak ada sinyal. Tubuhku langsung melemas, bersandar di sofa. Mataku menerawang ke atas. Setiap orang tua pasti akan berkata begitu jika tau anaknya hamil di luar nikah. Ah kenapa mataku terasa panas, sudah coba ku tahan agar tidak menangis. Aku teringat akan kata-kata petuah. "Sebaik-baiknya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga busuknya." Yang artinya, sebaik-baiknya menyimpan rahasia pasti akan tetap terbongkar.


"Ahh hiks." Aku harus bagaimana? Aku yakin, suatu saat semuanya akan tau. Apa aku harus memberi tahu Adam sekarang? Dan memintanya untuk ikut merahasiakan hal ini? Ahhhhhhhhh mana mungkin Adam mau!! Pasti dia malah nekat akan menikahi ku.


"Hiks." Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Kenapa harus terjadi denganku. Aku sendiri tanpa orang tuaku. Aku juga tidak bisa mengaduh ataupun memberi tahu mereka. Lihat kan, ibu saja sudah mengancam ku, ya walaupun sebenarnya saat ini aku sudah merasa tidak di anggap anak dan dilupakan begitu saja. Sewaktu aku memutuskan untuk tinggal di apartemen ibu juga sudah mengancam ku. Dan mengatakan tidak akan menganggap ku sebagai anak, tidak akan membantuku jika terjadi sesuatu denganku.


Aku tersadar dari lamunan saat Adam sudah berdiri di hadapanku, menyerahkan kantung plastik berwarna putih. Aku cepat-cepat menghapus air mataku, yang berserakan di wajah karena aku menutupnya dengan tangan tadi. Adam duduk di sebelahku, melihatku tanpa berkedip. Aku menunduk, sudah tau pasti Adam akan menanyakan aku kenapa.


"Aku tidak apa-apa. Hanya teringat bi Gina, kasian melihatnya."


"Apa lagi yang kau sembunyikan?" Aku berpura-pura tidak mendengar, membuka bungkusan yang ada di hadapanku sekarang.


"Enak sekali." Benar, ternyata ada buah mangganya.


"Apa tidak asam?" Aku menggeleng. Lagi, aku menyuapkan ke dalam mulut.


"Kau mau?" Aku menyodorkan dan menyuapinya. "Enak kan?" Adam malah meringis, menyipitkan kedua matanya, lalu bergidik.


"Jangan mangga, yang lain. Itu sangat asam. Kenapa kau bilang tidak asam?"


"Iya memang tidak asam kok." Aku memakannya lagi. Bak makan buah melon, tidak merasakan apapun kecuali kesegaran.


"Aneh." Gumamnya tapi aku dapat mendengar.


"Kau mau lagi?" Aku menyodorkan buah nanas di mulutnya. "Aak." Adam menurut, membuka mulut dan mengunyah.


"Sudah, kau makan saja. Besok-besok kalau menginginkan sesuatu sebaiknya bilang. Jadi aku bisa membelikannya untukmu." Aku mengangguk saja.


"Karena kata orang, kalau sedang hamil ketika menginginkan sesuatu tapi tidak terpenuhi maka anaknya akan mengeluarkan air liur ketika sudah lahir." Aku langsung berhenti mengunyah, menatapnya dengan mulut yang penuh.


"Tapi akukan tidak hamil?" Adam malah tertawa. Kenapa? Apa ada yang lucu.


"Iya aku tau. Ya sudah, lanjutkan makanmu. Aku boleh numpang tidur kan?" Hah? Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar.


"Tidak, aku tidur disini saja. Minggir." Adam menyingkirkan tanganku, dan seenaknya dia tidur di atas pangkuanku. Biarlah, aku melanjutkan makanku saja. 5 menit berlalu, Adam tidak bersuara lagi, dia benar-benar tidur sepertinya.


Bel apartemen berbunyi, aku kesulitan untuk bangkit membuka pintu. Ku dengar suara wanita yang memanggil, tapi tidak asing.


"Masuklah, tidak di kunci." Aku berteriak, entahlah yang aku yakin sendiri siapapun itu tidak akan mendengarnya. Eh, tapi bagaimana kalau itu bukan Munah? Bagaimana kalau itu Tante Intan? Apa yang dia pikirkan nanti kalau sampai melihatku bersama laki-laki di dalam sini. Aku akan beranjak dari dudukku, tapi pintu sudah terbuka. Menampakkan wajah Munah, lalu di susul oleh Wahid.


"Eh, apa-apaan Adam! Dia tidur?" Aku mengangguk. "Photo ah, terus aku kirim ke Elena."


"Jangan usil!" Wahid menyambar ponsel milik Munah.

__ADS_1


"Kalian dari mana?"


"Tadi sih niatnya mau pergi jalan-jalan, cuma aku maunya ajak kau Nara. Ternyata juga ada Adam disini, malah tidur lagi."


"Dia baru saja tidur." Ucapku, dan memandang wajah tampan Adam. Eh aku memikirkan apa sih?


"Ini apa?" Menunjuk rujak buah yang masih tersisa sedikit lagi. "Uwek, asam!!" Munah langsung mengambil tissue dan mengelap mulutnya. Langsung tidak berhenti mengomel, bahkan sampai merutuki penjualnya.


"Sudah tau buah belum matang tetap saja di jual!!" Wahid menutup telinga agar tidak mendengar ocehan dari Munah. Sebenarnya aku juga begitu, kalau sudah mendengarnya mengomel, duh telinga terasa berdenging.


Wahid tiba-tiba saja berdiri, berjalan ke arahku. Entah apa yang akan dia lakukan sekarang. Lalu memberi isyarat untuk aku dan Munah diam. Dengan bahasa jarinya yang di tempelkan di mulut.


"Eum.." Wahid menekan hidung Adam, membuatnya tidak bisa bernafas. "Eum." Matanya masih terpejam, sungguh aku yang memangku merasa geli jika Adam bergerak begini.


"Hah, Nara!!" Teriaknya tiba-tiba dan terbangun. Matanya memerah, melihat sekeliling. Munah menutup mulutnya dengan bantal sofa. Wahid berdiri di hadapan ku dan Adam sambil melipat kedua tangannya. Tanpa rasa bersalah masih menunggu kesadaran Adam kembali sepenuhnya.


"Hai Adam. Kau sedang apa disini? Kenapa hanya untuk tidur saja sampai jauh-jauh ke apartemen Kinara? Apa kau di usir oleh ibu dan ayahmu?" Wahid bertanya dengan santainya.


Adam menoleh ke arahku, aku tersenyum dan membuang pandangan. Adam mengucek matanya lagi, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lalu berpindah posisi, menyandarkan tubuhnya di sofa. Dan apa? Adam kembali memejamkan matanya.


"Hei, apa dia tidak sadar?" Munah sampai merasa heran. Lucu, Adam seperti orang yang tengah ngelindur.


"Nara, kenapa tidak kau usir saja mereka?" Aku menoleh, Munah dan Wahid langsung memasang ancang-ancang, siap untuk melempar bantal ke arah Adam. "Padahal aku sedang mimpi indah tadi!" Brug. Mereka melempar secara bersamaan.


"Aw." Adam mengelus wajahnya. Lalu membuka mata, aku sendiri melihat reaksinya tidak bisa menahan tawa. Ya ampun, Adam.


"Kalian kenapa kesini sih?!" Masih protes. Mungkin karena tidurnya terganggu.


"Memangnya kenapa? Hei, kau mau melakukan apa dengan Kinara? Kau sudah punya Elena, apa masih kurang?"


"Elena tidak bisa di sentuh." Hah? Aku membulatkan mataku mendengar perkataan Adam. Jadi maksudnya, aku akan dijadikan pelampiasannya??


"Aaahhh Adam kau mesum sekarang ya!!!" Munah menutup wajahnya dengan bantal sofa. Geleng-geleng, dan terkikik geli. Aku bangkit dari dudukku, beralasan akan mengambil air untuk mereka.


Sampai di dapur, aku menggerutu pelan. Membanting apa yang bisa aku banting.


Pyar.. suara pecahan kaca. Aku tidak sengaja kalau ini, sungguh. Menyenggol gelas yang sudah aku siapkan, tidak sengaja terkena lengan kiriku.


Aku cepat-cepat menunduk dan berjongkok, membereskan pecahan kaca.


"Nara?" Aku mendongak. "Kau ini!!" Adam mendekat.


"Minggir, sudah sana. Biar aku yang bereskan." Aku mengangguk dan meninggalkannya. Kembali duduk bersama Munah dan Wahid. Membawakan mereka minuman dingin.


"Kau memecahkan apa??" Wahid bertanya padaku.


"Gelas, aku tidak sengaja." Jawabku. "Sudah dibereskan oleh Adam."


"Oh begitu." Wahid menuangkan air ke dalam gelas.


"Aku sekalian, aku juga haus." Wahid tidak menjawab, tapi dia tetap menuangkan kedalam gelas untuk Munah.


"Ini tuan putri." Aku tertawa melihatnya, melihat reaksi wajah Munah yang dia buat sejelek mungkin dan di tunjukkan pada Wahid.


Adam sudah kembali, dia duduk di sofa lain dan tidak lagi duduk di sampingku. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Nara, ponselmu berdering." Aku langsung mengambilnya. Ternyata bi Gina yang menelpon ku.


"Hallo bi?" Ketika mendengar suara bi Gina, mengatakan sesuatu sambil menangis. Meski tidak jelas karena bi Gina mengatakannya sambil menangis, tapi aku masih bisa mendengarnya. Seketika, tubuhku kembali melemas.


"Iya bi, aku akan kesana." Ponsel terlepas begitu saja dari genggamanku.


"Nara, kenapa? Ada apa?" Munah langsung berpindah duduk di sampingku.


"Suami bi Gina meninggal." Mereka langsung terdiam. Kasian bi Gina, aku benar-benar syok mendengarnya. Meskipun aku sendiri tidak pernah tau seperti apa sosok suaminya. Tapi yang aku dengarkan dari bi Gina, mang Suryo orang baik. Bahkan tidak pernah sekalipun menyakiti hati bi Gina dan membuatnya menangis. Meskipun mereka hidup tanpa sosok anak. Tapi mereka hidup jauh dari kata pertengkaran.


"Kita kerumah sakit?" Aku menggeleng.


"Jenazahnya sudah dibawa pulang kerumah." Adam memapah aku untuk berjalan, kami sepakat akan pergi menggunakan mobil Adam. Dan langsung menuju kerumah bi Gina.


"Adam, kenapa belok kanan? Rumah bi Gina belok kiri." Adam menoleh ke arahku. Dia seperti bingung. Kenapa? Kan memang benar rumah bi Gina arah ke kiri.


"Nanti aku tunjukkan lagi jalannya." Adam mengangguk. Aku duduk di belakang bersama Munah, Wahid duduk di samping kemudi menemani Adam. Saat sampai di daerah rumah bi Gina, aku menunjuk sebuah gang kecil.


"Mobil parkir saja disini." Mereka turun, dan aku mengatakan kepada salah satu warga disana. Sengaja memarkirkan mobil disini untuk datang kerumah duka. Mereka juga tidak merasa keberatan.


Rumah bi Gina belum ramai, dan aku yakin kalau mereka juga baru Sampai. Hanya saja sudah terpasang tenda dan kursi. Sebagaimana suasana duka, begitulah keadaan rumah bi Gina saat ini. Tangis bukan hanya dari keluarga saja, tapi para tetangga yang datang juga ikut merasakan kesedihan. Termasuk aku salah satunya, ah aku malah merasa pusing jika terus menangis begini. Apalagi melihat bi Gina nantinya, pasti tidak lagi bisa membendung air mataku.


Saat akan melangkah masuk, Adam menarik lenganku. Aku menatapnya, kulihat Wahid dan Munah sudah duduk terlebih dahulu disana. Bersama pelayat lainnya.


"Kenapa Dam?"


"Kenapa? Kenapa kau selalu menyembunyikan sesuatu? Bahkan dari orang-orang tedekatmu?" Maksudnya apa lagi? Apa Adam mau membahas soal kehamilan lagi? Di tengah-tengah suasana duka seperti ini? Apa dia juga tidak tau kalau disini banyak orang yang lewat, bisa saja mereka mendengar.

__ADS_1


"Bukannya tadi kau katakan kalau paketan yang kau kirim untuk anak tetangga bi Gina?" Aku mengangguk, karena kau memang memberikan alasan itu tadinya. "Lalu, kenapa rumah bi Gina ada disini? Bukankah harusnya di tempat dimana kau mengirimkan paket tadi? Ini sudah sangat berbeda jauh, dan berbeda arah." Aku tidak bisa memberikan alasan apapun sekarang, otakku benar-benar tidak bisa berpikir. Aku langsung pergi meninggalkan Adam, dan mengajak Munah untuk masuk. Menemui bi Gina, dan mencoba untuk menguatkannya. Urusan Adam, aku akan memikirkan alasan apa yang aku beri untuknya nanti.


Bersambung..


__ADS_2