
Ini hari pertama untukku saat menjadi seorang istri. Tapi malah dilingkupi rasa bersalah. Dan ketika aku terbangun dipagi hari, bukan karena sinar cahaya yang masuk melalui celah gorden. Tapi karena suara ketukan pintu yang memanggilku berulang-ulang. Tulang ini terasa sangat remuk, bukan karena adanya malam pertama. Tapi lelah karena semalam selama satu harian duduk menyambut tamu.
"Nona, tuan besar menanyakan apakah nona ingin sarapannya diantar ke kamar saja? Soalnya mereka semua sudah menunggu dimeja makan." Aku masih sempatnya menguap, eh ternyata aku masih ingin tidur.
"Antar ke kamar saja, katakan pada ayah aku belum mandi." Aku kembali menutup pintu setelah pelayan sudah mendengar apa yang aku mau. Ada satu yang mengganjal, kemana Adam? Dia tidak ada dikamar. Aku membuka kamar mandi, kosong. Tidak ada orang, apa Adam sudah sarapan pagi bersama ayah dan ibu dimeja makan? Aku menggaruk kepalaku. Lalu masuk kedalam berniat akan membersihkan diri.
Setelah selesai, aku mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Dan pintu kembali diketuk.
"Masuk saja, tidak aku kunci." Aku masih tetap berdiri didepan cermin.
"Bi, apa Adam ikut sarapan dibawah?"
"Loh memangnya nona tidak tau? Tuan muda sudah pergi pagi-pagi sekali. Dia melakukan keberangkatan pagi ini."
"Keluar negeri Maksudnya?"
"Iya nona." Deg. Aku langsung membanting sisir keatas meja. Sialan!! Dia tidak menganggap aku sebagai istri ternyata! Apa kali ini Adam balas dendam ya karena aku tidak memperbolehkannya tidur diatas tempat tidur bersamaku.
"Saya permisi nona." Pelayan pasti tau kalau saat ini aku sedang marah, tapi bagus juga aku bertanya olehnya.
Kalau Adam pergi, lalu kapan dia akan kembali? Bukankah kuliah juga masih beberapa tahun lagi? Ah sudahlah, aku juga biasanya memang sendiri.
Aku mengambil sarapan yang terletak di atas meja. Mengunyah tanpa adanya rasa selera. Yang ada didalam otakku saat ini hanya Adam. Kenapa dia tidak bilang padaku? Atau sekedar memberitahu dengan surat kek, kalau difilm juga seperti itukan.
Aku teringat kejadian tadi malam. Adam meringkuk kedinginan, tapi aku tidak peduli dan tetap kekeuh memintanya tidur di sofa. Aku sangat merasa bersalah.
"Kau mau apa Adam?" Aku bertanya saat Adam mendekat.
"Aku hanya ingin meminta bantuanmu membukakan kancing kemeja ini, terlalu susah jika aku membukanya sendiri." Aku mendengus, karena semula aku yang lebih dulu mengganti pakaian dan membersihkan make up di wajahku.
"Iya aku bantu." Aku beringsut turun, duduk ditepi tempat tidur dan Adam berdiri dihadapanku. Aroma tubuhnya membuatku terpesona, sempat juga berpikir hal jorok. Baru satu kancing yang terbuka, Adam sudah menyentuh tanganku lalu dengan seenaknya menarikku kedalam dekapannya. Aroma tubuhnya semakin tercium. Gila! Kenapa ada gelenyar aneh yang mengalir saat ini. Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh.
"Kau, kau modus ya! Kau mencari kesempatan!" Aku kembali ke posisi awal, berbaring dan menarik selimut. Adam hanya tertawa kecil dan masuk kedalam kamar mandi. Jantung, ya jantungku berpacu lebih cepat dari hitungan normal.
Baru saja memejamkan mata, aku merasa tempat tidur bergoyang.
"Hei, kau mau apa?"
"Tidur lah."
__ADS_1
"No! Kau tidur di sofa, aku takut kau berbuat macam-macam." Aku mengancamnya dengan bantal, jika dia tidak mau maka aku siap untuk menghajarnya.
"Tidak, aku janji. Dan kalau aku berbuat macam-macam, aku tidak akan berdosa. Kau lupa jika kau adalah istriku?" Eh aku ingat itu.
"Iya tapi aku tidurnya terlalu lasak. Tempat tidur ini hanya cukup untukku." Adam masih diam ditempat.
"Lasak? Coba aku ingat-ingat, sepertinya tidak." Pukulan bantal benar-benar mendarat tanpa ampun.
"Iya-iya aku tidur di sofa." Adam turun dan mengambil satu bantal. "Kalau begitu besok akan kubeli tempat tidur yang cukup untuk ditiduri lima orang." Gerutunya dan merebahkan tubuhnya di sofa. Aku kembali menutup mataku.
Tengah malam, Adam kembali bangun dan mengatakan kalau dia kedinginan. Aku hanya menjawab dengan memintanya mematikan AC. Tapi lagi-lagi Adam berulah, mengganggu tidurku dengan meminta selimut. Jelas aku tidak memberinya, karena didalam kamar hanya ada satu selimut saja. Kalaupun ada, itu pasti didalam lemari, ah aku tidak cukup tenaga untuk melakukannya.
"Jahat sekali istriku. Apa aku harus mencari istri lain yang lebih baik?" Aku bisa mendengarnya dengan jelas meksipun mataku menutup sempurna. Tapi aku tidak ingin meladeni, yang ada aku bisa bergadang semalaman hanya karena berdebat kembali dengannya.
Dan saat pagi terbangun, Adam malah sudah pergi. Sekarang aku berpikir bahwa Adam benar-benar marah padaku, lalu bagaimana kalau Adam mengaduhkan hal ini dengan ayahku atau ibunya? Aaahhh aku bisa dicap sebagai istri yang durhaka.
"Hallo Munah?" Disela-sela frustasiku Munah menelponku.
"Nara, kau tidak kuliah hari ini?" Ku regangkan kembali otot-otot ku. Masuk atau tidak ya?
"Jam kuliah kita jam berapa?"
"Iya aku pergi, lagian aku juga bosan berada dirumah."
"Bosan? Bukankah sudah ada Adam sekarang?" Aku menghela nafas, menyambar minuman dan meneguknya. Barulah menjawab pertanyaan Munah. Aku yakin dia past akan kaget mendengarnya.
"Adam pergi, dia sudah kembali keluar negeri."
"What?? Jadi, kau dan dia berpisah? Bagaimana bisa?" Benarkan dugaan ku.
"Entahlah. Sudahlah aku akan bersiap, aku akan menjemputmu nanti."
"Eh tidak perlu, aku pergi bersama Wahid." Kenapa malah aku merasa iri dengan Munah? Harusnya kan Munah yang iri denganku, karena aku sudah menikah dan memiliki suami. Kenapa keadaannya seperti terbalik sekarang ya? "Sudah ya, kita bertemu dikampus saja, Wahid sudah datang."
Kulempar asal ponselku, dan bersiap untuk pergi kuliah. Bagaimana reaksi teman-teman kuliahku ya jika tau kalau aku sudah menikah? Aku yakin satu diantara mereka pasti ada yang berpikir negatif. Aku akan memberitahu Munah agar tidak mengatakan kepada mereka.
Ponselku berdering, aku menyambarnya. Tapi saat akan mengangkat telepon panggilan sudah berakhir. Dan berganti suara notif pesan masuk.
"Selamat pagi istriku." Hah? Ini Adam, eh kenapa aku tersenyum sendiri? Apakah aku senang sekarang ya?
__ADS_1
"Kau pergi tidak memberitahu? Jika kau kembali aku juga tidak ingin mengenalmu." Aku tidak membalas ucapan selamat paginya. Adam kembali menelponku, eh apa dia takut ya?
"Apa?"
"Sayang." Deg. Aku tersenyum lagi. "Maaf, aku sudah mencoba membangunkan mu, tapi kau tidak bangun juga."
"Kenapa kau tidak mengatakannya tadi malam?"
"Bukankah kau yang meninggalkan aku tidur? Aku ingin mengatakannya tapi malah kau memukul dengan bantal." Keluhnya lagi.
"Ku pikir kau marah denganku, jadi pergi tidak pamit." Kudengar Adam tertawa kecil diseberang telepon.
"Apa kau kuliah hari ini?"
"Iya, ini juga mau pergi."
"Kau hati-hatilah dijalan." Ya, begitu aku menjawabnya.
"Nara? Titip salam buat Renan ya? Kau jaga dia dengan baik."
"Hei, mengapa harus aku? Sudah ada baby sitter dan ibu yang menjaganya. Lagian aku juga tidak bisa mengasuh bayi." Aku menyambar tas dan berjalan keluar kamar.
"Adam, apa kau kembali keluar negeri dengan terburu-buru karena akan melakukan pengobatan?"
"Hem."
"Jawablah." Adam malah diam. Kalau iya, berarti Adam belum dinyatakan sembuh? Itu berarti aku juga akan kehilangannya??
"Kau sudah mau pergi kan? Kalau begitu aku tutup teleponnya." Tut.. Dan pembicaraan pagi ini dengan Adam berakhir.
Saat sudah berada diluar rumah, aku meminta penjaga untuk mengambil mobil dari dalam garasi. Aku juga sudah pamit dengan ibu, meskipun dia sempat mencegah karena takut aku terlalu lelah dan memaksakan diri. Tapi aku menjawab takut kalau nilainya minus.
Ting. Notif pesan di ponselku berbunyi lagi.
Adam mengirimkan photo. Aku langsung membukanya.
"Pernyataan surat resmi dari dokter?" Mataku berbinar membaca apa yang sudah dikirim oleh Adam. Bahkan sempat berteriak girang, membuat pekerja dihalaman rumah ayah juga ikut kaget.
Bersambung..
__ADS_1