
Aku sebenarnya canggung sekarang jika harus bertemu dengan Adam. Karena pembicaraan kami sudah tidak seasik dulu. Tapi mau bagaimana, Adam sudah ada disini. Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, aku langsung keluar. Dan sekarang, sudah bertambah satu orang lagi. Sialan, sejak kapan Wahid datang? Bukankah Munah mengatakan kalau dia sedang sakit? Aku tersenyum saat mereka semua menoleh kearah ku.
"Kenapa?" Aku bertanya sambil satu tangan menutup kembali pintu kamarku.
"Wajahmu terlihat sangat lelah, kau juga memiliki mata panda. Apa akhir-akhir ini kau tidak tidur?" Adam langsung bertanya ketika aku baru saja duduk.
"Tidak, mungkin karena aku tidak memakai bedak." Dia manggut-manggut seperti tau saja.
"Kita keluar malam ini?" Wahid mulai memberi ide gilanya.
"Tidak, kalian saja ya? Aku sangat lelah." Aku menolak secara halus, tapi wajah Adam berubah seperti tidak suka dengan jawabanku.
"Kau lelah? Memangnya apa yang kau perbuat selama pergi dengan lelaki tampan itu?" Dia melirikku dengan sinis. Apa maksudnya berkata begitu?
"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Memangnya apa yang kau pikirkan! Aku pergi lama karena tadi sempat tertidur."
"Tidur dengannya?" Aku mengangguk.
"Hah?" Mereka yang kaget malah langsung menjawab dengan bersamaan.
"Kau tidur dengannya?" Sekali lagi Munah memastikan.
"Dia hanya menemaniku tidur?" Aku menjawab lagi dengan santainya, memangnya apa yang salah? Aku juga tidur ditempat terbuka kan?
"Kau kenapa menjadi murahan sekali?"
"Adam! Apa maksudmu bicara begitu?" Aku mulai membentaknya.
"Hei, hei sudahlah. Mungkin maksudnya Kinara dia tertidur karena kelelahan. Jadi si laki-laki itu hanya bisa menemani dan menunggunya sampai dia bangun. Apa begitu maksudnya Kinara?" Ya Tuhan, disini hanya Wahid yang tidak berpikir jorok tentangku.
Jujur, inilah saat yang aku benci. Ketika Adam mulai menganggap ku mau tidur dengan laki-laki manapun sejak dia merenggut kesucian ku malam itu. Padahal, dia tidak tau jika saat ini aku sedang mengandung anaknya. Berjuang sendirian, menangis jika menyesali kejadian satu malam yang membuatku hancur. Mataku mulai memanas, sungguh aku tidak dapat menahannya.
"Maaf." Aku hanya mengangguk, suasana jadi hening. Entah pun karena telingaku mendadak tuli. Tidak bisa lagi mendengar candaan dari mereka. Tidak lagi mendengar Wahid dan Munah bertengkar seperti biasanya.
"Munah, maaf aku tidak bisa mengantarkan kau pulang. Jika kau tidak keberatan, kau bisa tidur disini." Aku langsung beranjak, dan tidak ingin berlama-lama lagi duduk dengan mereka. Menahan air mata yang jatuh sangat membuat dadaku terasa sesak.
"Kinara?" Aku tetap berjalan masuk kedalam kamar. Menarik selimut hingga menutupi wajahku ketika sudah berada diatas tempat tidur. Apa yang dikatakan Adam itu memang sangat menyakitiku. Tidak seharusnya dia berpikir jorok tentangku. Aku bukan perempuan murahan! Dan Satria yang aku kenal memang baik. Meskipun sempat dia melakukan hal yang membuatku memutuskan hubungan pertemanan. Tapi dia juga tidak pernah memandang rendah aku. Walau dia sendiri tau jika aku sedang dalam keadaan hamil diluar nikah.
Adam, aku tau dia menyayangiku karena dia juga pernah menyatakan itu langsung padaku. Lalu, apa yang saat ini dia lakukan karena dia merasa cemburu? Dan harusnya tidak perlu mengatakannya dihadapan Wahid dan Munah. Aku juga memiliki ponsel kan? Bukankah dia bisa sekedar menelponku ataupun mengirimkan pesan.
"Aw." Sakit, perutku sakit sekali. Seperti rasa keram di bagian bawah. Munah! Harusnya aku memanggil Munah sekarang.
Aku merintih menahan sakit, air mata jatuh tidak berhenti.
"Kinara?" Munah langsung mendekat ke arahku.
"Kau kenapa?"
"Sakit Munah, perutku sakit sekali." Munah juga panik. Dia juga sama denganku, apa yang bisa kami lakukan?
"Apa kau mau jika aku membawamu kerumah sakit?"
Ide gila! Itu adalah hal yang sangat berbahaya.
"Adam dan Wahid sudah pulang. Aku akan menginap disini."
"Buatkan saja aku teh hangat."
"Baiklah kau tunggu sebentar."
Munah yang pergi keluar kamar dengan berlari kecil. Ada untungnya ternyata saat memberi tahu Munah jika aku sedang hamil. Dia semakin sering menginap di apartemen, dengan alasan ingin selalu menjagaku.
"Aw." Aku meremas bantal dan menggigitnya. Apa aku akan melahirkan? Tidak mungkin kan?
Untuk sekedar merubah posisi saja susah. Rasanya aku ingin melompat, agar rasa sakit ini bisa berkurang.
"Kinara, apa yang kau lakukan?" Percobaan terakhir, aku merubah posisi menjadi bersujud diatas tempat tidur. Munah yang kembali dengan membawakan teh hangat untukku malah semakin panik.
"Kau bisa telpon dokter Linda? Katakan padanya jika perutku sangat sakit."
Munah sangat cekatan, dia pun langsung mengambil ponselku, dan aku tetap berada dalam posisi bersujud. Dengan begini, aku merasa rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Sudah?"
"Minumlah dulu tehnya, dokter sudah dalam perjalanan kesini."
Glek, satu tegukan masuk kedalam menghangatkan dahagaku.
"Apa masih sakit?"
"Tidak terlalu."
"Tunggulah sebentar lagi."
Munah mengelus perutku, dan mengajak bicara apa saja anak dalam kandunganku. Aku bisa tersenyum kecil mendengarnya. Dengan keringat dingin yang mengalir di wajahku saat ini.
"Kau tampak sangat pucat. Kau harus kuat, dua hari lagi Kinara kita akan melaksanakan ujian kelulusan. Kau juga rindu suasana sekolah kan?" Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi? Kenapa bisa sampai perutmu sakit?"
"Aku tidak melakukan apapun. Hanya saja, setiap kali pikiranku merasa stres aku pasti akan merasakan sakit."
"Apa kau merasa sakit hati karena ucapan Adam?" Aku jelas langsung mengangguk, karena itu benar dan tidak perlu aku tutupi.
"Aku rasa dia cemburu padamu. Maafkan aku, itu juga karena aku yang tidak bisa menahan mulut untuk berbicara soal kau pergi dengan Satria. Aku terlalu panik, sehingga aku menelpon Adam untuk datang." Aku tersenyum kecut. Bagiku Munah tidak salah. Karena dia khawatir padaku kan? Tapi Adam saja yang berlebihan.
"Dia begitu karena cemburu."
"Dan itu alasanku tidak ingin menjalin hubungan lebih dengan orang lain. Tidak ingin merasa sakit dan menyakiti. Lebih baik berteman."
"Kinara."
"Munah, kau tau bagiamana perjalan hidupku. Dan saat ini, hubunganku dengan ibu mulai membaik." Munah mengalah dan diam. Aku yakin dia mengerti posisiku.
Beberapa menit setelahnya, bel apartemen berbunyi. Aku dan Munah sudah tau siapa yang datang. Dokter Linda, ya aku yakin dia yang datang. Tidak mungkin jika Adam kembali lagi kesini.
"Tunggu sebentar, aku akan membuka pintu."
Samar-samar aku mendengar dari dalam pembicaraan Munah dari dalam. Yang membahas tentang apa yang terjadi padaku beberapa menit lalu. Pintu terbuka dan menampakkan sosok dokter Linda, ekspresi wajahnya yang sulit ditebak itu. Tapi lebih terlihat santai dan tidak ada kepanikan sama sekali.
"Berbaringlah." Dia langsung memintaku melakukannya ketika sampai didalam kamar. Dan aku menurutinya.
Yang pertama kali dilakukan adalah memeriksa detak jantung kandunganku. Dahinya sesekali berkerut, alat yang terus diputar di bagian perut berbunyi. Tapi mana aku tau bagaimana keadaan janinku sekarang sebelum dokter menjelaskan.
__ADS_1
Kudengar dia menghela nafas saat selesai memeriksa.
"Ini terlalu lemah." Deg. Maksudnya?
"Kau harus istirahat total. Jika kau sendiri sering mengalami stres berlebihan, itu sangat berpengaruh pada anak yang kau kandung."
"Tapi dokter, dua hari lagi aku sudah harus melaksanakan ujian kelulusan." Jawabku lirih.
"Itu tidak masalah, yang terpenting kau harus menjaganya jika kau masih ingin melihat bayimu selamat." Ya Tuhan, bantulah aku. Kalau sudah begini, aku sendiri merasa takut. Ku akui jika dulu aku tidak menginginkannya lahir ke dunia, tapi setelah mengandungnya hingga tujuh bulan, aku malah semakin tidak sabar melihatnya lahir ke dunia dan menjadi penguatku untuk melanjutkan perjalan hidup.
"Sakit yang kau rasakan hanya kontraksi palsu." Dokter Linda memberikan obat padaku untuk langsung diminum.
"Istirahatlah setelah meminum obat ini. Dan sebelum hari ujian kelulusan tiba, saya sarankan untuk tidak melakukan hal apapun diluar rumah dan juga jangan memikirkan hal apapun yang bisa membuatmu stres."
Munah yang kembali mengantarkan dokter Linda keluar. Aku tetap berbaring setelah meminum obat, dan tak lupa ucapan terimakasih pada dokter Linda. Susah memang tidak melakukan cek up rutin kerumah sakit. Ini semua demi nama baik keluarga dan juga aku.
***
Entah jam berapa sekarang, aku tidak tau. Yang pasti aku terbangun karena haus, tenggorokan terasa kering. Ku ambil air yang tersedia di atas nakas. Aku melihat Munah yang tidur dengan pulasnya. Kasian, dia juga pasti lelah karena sudah merawatku. Mataku seperti segar, harusnya kan aku kembali mengantuk. Aku malah lebih tertarik untuk sekedar bermain ponsel. Biarlah, aku yakin nanti pasti akan kembali merasakan kantuk.
Begitu banyak pesan yang Adam kirimkan, semua notifikasi yang ada darinya. Eh tidak, aku salah ternyata bukan hanya dari Adam. Tapi juga dari Satria, yang mengucapkan selamat tidur. Aku tidak akan membalasnya, takut menganggu tidurnya malam ini. Aku hanya membalasnya dalam hati saja.
"Maaf."
"Maafkan aku."
"Maafkan aku Kinara."
Dan semua kata-kata itu dia kirimkan berulang kali. Bukan hanya dari pesan, tapi juga dari akun sosial media milikku. Andaikan kau tau Adam, aku hampir saja nyaris kehilangan anakku hanya karena mendengar kata-katamu.
"Hah? Untuk apa dia menelpon?" Deg. Apa dia tau jika aku sudah membaca pesannya? Gila! Apa dia tidak tidur? Aku mengabaikan panggilannya, dan meletakkan ponsel disampingku. Kubiarkan layar yang berkedip kembali normal seperti biasanya. Ketika akan mengambilnya, Adam kembali menelponku. Dia benar-benar tidak tidur.
"Nara? Hallo?" Aku sengaja tidak bersuara walaupun aku mengangkat panggilan telepon darinya.
"Maafkan aku. Aku, aku hanya cemburu. Aku hanya ingin kau menemaniku saja, disisa hari terakhirku." Deg. Adam!! Apa lagi ini maksudnya? Apa dia menggunakan kelemahannya untuk membuatku goyah dan bersimpati? Tapi kenapa suaranya tampak bergetar?
"Aku tau, kau bisa mendengarku? Aku tau Nara." Diam sebentar.
"Aku sangat merasa bersalah. Aku ingin bertemu denganmu besok, hanya kau dan aku saja."
"Maaf Adam, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku butuh istirahat total karena kan-" Ya Tuhan, hampir saja kau keceplosan. "Aku sedang tidak enak badan."
"Baiklah, aku akan datang ke apartemen besok."
"Apa penyakitmu kambuh? Kenapa suaramu bergetar?" Ah aku benar-benar tidak bisa menahan rasa khawatir padanya.
"Tubuhku menggigil, aku sangat merasa dingin?"
"Dimana ibu? Kau harus memanggil ibu sekarang?"
"Aku tidak ingin menyusahkannya. Kau tidurlah."
Adam, harusnya saat ini aku marah padamu. Aku berhak untuk memakimu sekarang! Tapi kenapa malah aku sangat ingin dekat denganmu sekarang? Memberimu selimut agar tidak merasa dingin. Bagaimana rasa sakit yang dialami Adam sekarang? Apa lebih sakit dari yang aku rasakan saat mengalami kontraksi tadi?
"Adam, apa kau sengaja tidak tidur hanya karena ingin menelponku?" Dengan rasa penasaran aku bertanya.
"Kalau iya memangnya kenapa? Apa kau merasa tersanjung?" Aku diam.
"Aku hanya tidak akan bisa tidur sebelum kau memaafkan aku."
"Tidurlah, sekarang aku sudah memaafkan mu." Apakah mulutku sejalan dengan hatiku?
"Apa kau memaafkan hanya karena merasa kasihan padaku?"
"Tidak."
"Nara, aku mencintaimu. Kau tau kan bedanya cinta dengan sayang?"
"....." Hening, aku tidak bisa menjawabnya.
"Nara? Kau salah satu semangatku untuk sembuh? Bisakah kau berjanji padaku?"
"Adam, maaf. Aku mohon, jangan bahas perasaan untuk sekarang ini? Aku ingin menjernihkan pikiranku, menjauhi apapun yang bisa menjadikan beban dipikiran ku. Aku hanya berharap, kau bisa sembuh." Sekarang, Adam yang diam dan tidak menjawab. Apa dia tersinggung dengan jawabanku?
"Adam. Masa depan kita masih panjang?"
"Tapi aku sudah merebutnya darimu?" Deg. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku menepati janjiku pada dokter Linda kalau begini?
"Baiklah, jika kau tidak ingin tidur sekarang? Maka aku yang akan tidur lebih dulu."
"Nara, tunggu?" Aku diam dan siap mendengar apa yang ingin dia katakan lagi padaku.
"Semoga kau bermimpi indah malam ini?"
"Kau juga."
Apa itu adalah kata-kata yang sering diucapkan setiap orang ketika menjalin hubungan? Seperti pacaran misalnya? Apa juga setiap jam makan, mereka akan saling mengingatkan? Kenapa saat membayangkannya aku malah merasa nyaman ya? Aneh!! Bukankah aku sendiri sudah mengatakan bahwa tidak ingin menikah ataupun pacaran?
Aku tidak tau, kehendak Tuhan seperti apa. Tapi aku hanya ingin Adam hidup lebih lama lagi. Entah bagaimana akhir dari cerita kami nantinya, aku benar-benar tidak bisa menebaknya. Karena saat ku kunci hatiku rapat-rapat saja, Adam dengan gampangnya bisa membukanya. Sialan, dialah orang yang berhasil merenggut kesucian ku dan juga hatiku.
"Semoga kau bermimpi indah malam ini." Kata-kata itu terus terngiang, dan berhasil membuatku tersenyum.
"Kau menendang Jua? Apa kau juga merasa senang?" Kuelus perutku yang tertutup selimut. Sambil memejamkan mata, dan mengingat ucapan Adam. Aku harus mimpi indah malam ini. Dan aku juga menunggu kedatangan mu Adam. Besok, aku menunggunya disini.
***
Aku yang menunggu malam, dimana Adam sudah berjanji akan datang. Dan sekarang, aku sudah kembali sendiri lagi berada di apartemen. Hanya saja ibu sudah menelpon dan memintaku untuk datang kerumah besok. Dia bilang kalau sangat merindukan ku. Setelah sekian purnama, akhirnya aku bisa juga mendengar kata-kata tulus itu dari seorang ibu. Andai saja aku bisa melihat bintang secara langsung, pasti aku juga akan berbagi tawa dengannya malam ini.
Ketika mendengar suara bel aku langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. Membukanya dan menampakkan sosok Adam yang berdiri di hadapanku. Membawa sebuah paper bag, yang entah apa isinya. Yang pasti aku tidak ada memesan makanan apapun.
"Masuklah." Kami duduk saling bersebelahan. Detak jantung ini, sudah tidak terkendali. Aliran darah seperti menyengat di bagian tubuh manapun. Termasuk, dia anak dalam kandunganku juga ikut menggelitik didalam perut. Korset yang menahan perutku agar tidak kelihatan membesar sungguh tidak jadi hambatan untuknya bergerak.
"Ini untukmu. Sebagai ucapan maaf ku." Aku mengambilnya, melihatnya. Apa ini? Kenapa begitu banyak coklat? Aku mendongak menatap kearah Adam. Dia tersenyum.
"Sudah lama sekali aku tidak memberinya untukmu." Hah, Tuhan kenapa aku senang hanya dengan diberi coklat? Bukankah kesalahan Adam tadi malam sudah membuatku merutukinya!
"Biar aku buka." Belum menjawab, tapi Adam langsung mengambil coklat dari tanganku.
"Kinara maafkan aku." Semula mulutku sudah terbuka, bukan untuk berbicara, tapi untuk menikmati coklat yang sudah membuatku menelan salivah.
__ADS_1
"Tidak seharusnya aku berkata begitu, maaf aku sudah merendahkanmu." Aku mengangguk saja, iya berarti aku sudah memaafkan mu Adam!
"Aku hanya, aku hanya cemburu melihat kau pergi dengan laki-laki lain?" Deg. Benarkan dugaan ku.
"Apa menurutmu aku berlebihan?"
"Adam, aku tidak tau soal itu. Sebaiknya kau tanyakan saja kepada orang yang lebih berpengalaman." Bodo amat! Aku lanjutkan saja mengunyah coklat yang lumer di mulut dan menyisakan biji kacang.
"Aku hanya menginginkan satu permintaan darimu?"
"Katakanlah."
"Nara, apa kau menjadi pacarku hanya untuk beberapa Minggu saja?"
"Apa maksudmu?" Kumohon jangan membuatku harus memikirkan hal yang bisa mempengaruhi kesehatan kandunganku! Aku meremas pinggiran sofa sambil melirik kearah lain. Aku sangat takut jika Adam terus memaksa begini.
"Kau tau apa maksudku Nara." Syukurnya belum sempat aku menjawab Adam sudah harus menerima telepon. Entah dari siapa itu, tapi yang pasti Adam tidak beranjak sedikitpun. Dia tetap duduk disampingku.
"Iya Bu?" Oh tidak! Adam menerima panggilan berupa video call dari ibunya. Aku langsung menggeser dudukku secara perlahan, tapi satu tangan Adam menahannya. Dia tetap memintaku diam.
"Kalau ibu tidak percaya, ini bicaralah dengannya." Hah? Mulutku masih penuh dengan coklat.
"Kinara? Sayang, ibu merindukanmu?" Aku melambaikan tangan, dan langsung menelan seluruh coklat yang ada didalam mulutku.
"Ibu? Ibu apa kabar? Aku juga rindu pada ibu?"
"Tidak Bu, dia berbohong!" Reflek aku memukul lengan Adam. Aku memang benar rindu dengan ibunya kan!
"Ibu baik. Besok datang kerumah ibu ya? Ibu akan memasak untukmu."
"Tapi Bu-"
"Pokoknya besok ibu tunggu, Adam akan menjemputmu setelah pulang dari rumah sakit." Aku menoleh kearahnya, kerumah sakit? Lagi?? Apa setiap hari Adam harus datang kerumah sakit? Untuk apa, bukankah penyakitnya juga tidak berkurang, bahkan juga tidak menemukan titik terang untuk kesembuhannya. Dia masih sempatnya tersenyum ketika aku melihatnya? Sekuat apa sebenarnya Adam!
"Nara?"
"Ah iya Bu?"
"Apa kau sudah makan?"
"Sudah Bu."
"Kau makan coklat pemberian dari ibukan?" Hah? Adam! Bukankah dia bilang dia yang memberi untukku?
"Apa kau suka? Ibu tau jika kau sangat menyukai coklat. Jadi ibu meminta Adam untuk membawanya."
"Iya Bu. Terima kasih banyak, aku sangat suka?"
Habislah kau Adam. Aku melirik tajam kearahnya, tapi Adam memalingkan wajah dan berpura-pura tidak mendengar. Tidak semudah itu, setelah ini aku akan menghakiminya.
"Iya sayang. Baiklah ibu tutup panggilannya ya, ibu tidak akan menganggu waktu kalian berdua." Eh, apa ini? Kenapa anak dan ibu ini malah seperti sudah kompak ya! Apa Adam juga mengatakan kepada ibunya kalau dia mencintaiku?
"Adam kau?"
"Aku tetap sama seperti Adam yang dulu." Dia merebut ponselnya dari tanganku.
"Kau tunggulah sebentar disini, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Hei! Apa ini, aku belum menanyakan perihal coklat, belum juga menghakiminya! Kenapa dia malah pergi begitu saja? Harusnya kan dia mendengarkan aku marah dulu!
Dia benar-benar kembali dengan membawa nafasnya yang terengah-engah. Gila, apa dia berlari keluar? Dan kembali dengan waktu secepat ini?
"Aku hanya mengambil laptop di mobil." Adam kembali duduk. Aku sudah lupa akan memarahinya mulai dari mana, dan lebih tertarik untuk melihat layar laptop yang sudah memunculkan kilau sinarnya.
"Kau pernah membuka laptopku kan?" Aku mengangguk. "Dan kau penasaran dengan isinya kan?" Eh tidak, eh iya. Ah aku bingung harus menggeleng atau mengangguk.
"Kau penasaran dengan yang ini?"
"Kenangan masa kecil?" Adam mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang kau sudah tau aku adalah orang yang kau cari. Dan begitu juga aku, jadi aku tidak lagi ragu untuk memberikannya untukmu."
"Adam, apa ini?" Aku tercengang melihat begitu banyak photo ku dan Adam sewaktu kecil. Apa dia benar-benar menyimpannya selama bertahun-tahun? Walaupun photo itu tidak kelihatan bagus seperti hasil kamera jaman sekarang.
"Dan kau harus tau ini."
"Lukisan?" Adam tersenyum.
"Siapa yang melukis?" Dia menunjuk dirinya sendiri. Tidak mungkin?
"Kau tidak percaya?" Aku menggeleng, tapi mataku benar-benar takjub memandangnya.
"Apa kau lupa? Sejak kecil hobiku memang melukis?" Iya benar! Adam memang hobi melukis.
"Tidak ada yang tau selain kau Nara. Aku sering melukis diam-diam didalam kamar. Dan mengambil photonya melalui kamera ponsel, lalu setelah itu aku kembali menghapus lukisan yang sudah aku lukis."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak begitu percaya diri untuk menunjukkan hasil lukisanku kepada orang lain. Termasuk ibu, dan kaulah orang satu-satunya yang melihatnya sekarang."
"Hah?" Benarkan, selama ini aku sudah menduganya, kenapa! Adam terlalu banyak menyimpan rahasianya sendirian.
"Tapi kenapa aku orangnya? Kenapa ibumu juga tidak boleh tau tentang ini?"
"Anak dan orang tua juga harus memiliki privasi kan? Dan aku memang memilihmu untuk melihatnya, memangnya kenapa? Itukan sudah menjadi hak ku?"
"Tapi Adam, ini sangat bagus sekali. Kau benar-benar pintar mengekspresikan perasaan melalui lukisan. Kenapa kau tidak mau ikut pentas seni setiap kali diadakan disekolah?"
"Sudah kukatakan aku tidak terlalu percaya diri."
"Kau juga begitu kan? Kau pintar mengarang puisi, tapi kau juga tidak mau ikut." Heh, aku hanya bisa menghela nafas. Adam memang benar.
"Kinara?" Aku menoleh, dan mata kami bertemu tatap.
"Aku akan membuatkan lukisan khusus untukmu. Tapi tidak sekarang."
"Benarkah? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena aku ingin memberinya sebagai hadiah kenangan, yang tidak akan kau lupakan sampai kapanpun." Deg. Kenapa aku malah sedih mendengarnya? Adam, apa kita akan berpisah setelah ini? Setelah kita sama-sama lulus sekolah? Ahhhhhhhhh ya Tuhan, kenapa rasanya aku sangat tidak rela!
"Adam, apa kau ingin pergi?"
"Jika kau bertanya begitu, maka aku akan menjawab. Jika Tuhan memperbolehkan aku tetap disini, maka dengan senang hati aku menjalaninya."
Dan aku pun, menjatuhkan air mataku didepan Adam. Dia menyadarkan aku bahwa penyakit yang dia punya menang tidak main-main. Aku menangis sesegukan dipelukannya. Beban yang dia punya lebih berat dariku. Tapi saat ini, kami berdua memang sama-sama berjuang untuk hidup. Aku yang akan berjuang bertaruh nyawa ketika melahirkan, dan Adam juga akan berjuang melawan penyakitnya. Tuhan, aku mengikuti kata-kata Adam. Jika kau memperbolehkan aku tetap hidup maka dengan senang hati aku menjalaninya.
__ADS_1
Bersambung...