Langit Mendung

Langit Mendung
Kebucinan dimulai


__ADS_3

Pusara adalah tempat kembalinya setiap orang yang telah meninggal. Ada jiwa yang terkubur dibawah tanah. Jika boleh memohon, pasti setiap orang tidak akan mau merasakan kehilangan. Termasuk aku sekarang, kesalahan terbesarku hanya karena aku tidak memberitahu Adam jika aku hamil waktu itu. Dan sekarang, yang aku pikir Adam sudah tau bahwa anakku dan anaknya tidak selamat, tapi nyatanya ibunya benar-benar tidak pernah membahas soal itu padanya. Dan Adam pun tidak pernah berani untuk menanyakannya.


"Dia ada disini." Aku menunjuk batu nisan yang bertuliskan nama anakku.


"Juanda?" Aku mengangguk. Adam mengelus batu nisan sebagai tanda pengenal itu.


"Munah yang memberinya nama itu. Juanda, kebetulan aku menyukainya."


"Munah?" Aku mengangguk lagi, karena memang Munah yang memberinya nama.


"Jadi selama ini Munah juga tau kalau kau sedang hamil?"


"Hanya Munah dan bi Gina saja, dan satu lagi kakakmu. Maafkan aku Adam, bi Gina adalah orang yang aku percaya saat itu, dan hanya dia yang bisa mengerti posisiku. Terbukti, kita juga menikah saat ini karena bantuannya kan?" Adam mengangguk. "Dan Munah, dia temanku Adam. Dia bisa mengerti posisiku, meski sebelumnya dia sempat menyudutkan aku. Eh sudahlah itu semua sudah berakhir." Adam berdiri, dia memegang kedua bahuku.


"Juanda bukanlah kesalahan, dia tidak patut untuk dikeluhkan lagi. Dan dia." Adam menunjuk kearah pusara anakku. "Dia adalah darah daging kita, hanya saja usia kita yang belum dewasa saat itu tidak bisa menjaganya dengan baik. Maaf, aku tidak sepintar kakakku yang bisa melihat perempuan hamil atau tidak." Adam memelukku. Dihadapan pusara anak kami, Adam membiarkannya menjadi saksi cinta yang tertunda diantara kami.


"Itu semua sudah kehendak dari Tuhan Kinara. Kau dan aku, memang sudah ditakdirkan berjodoh. Jadi sejauh apapun berpisah, sebesar apapun masalah yang kita hadapi. Maka tetap akan bersatu." Deg. Kata-katanya, ah membuatku yakin Adam sudah jauh berbeda sekarang. Adam jauh lebih dewasa.


"Soal lukisan itu?" Adam merangkul ku, pergi menjauhi pusara anakku. Sudah cukup lama berada disini, dan saatnya pergi, kembali lagi dihari berikutnya.


"Aku akan menjelaskan ketika kita sudah pulang kerumah."


Saat dalam perjalanan, grup chatting masuk ke ponsel ku. Mengatakan kalau jam kuliahku berubah hari ini, maka itulah kesempatan untuk membawa Adam kepusara. Dan sekarang, aku dan Adam sudah dalam perjalanan menuju kampus.


"Adam, dulu ibuku berkata bahwa masa lalunya hampir sama seperti yang kita jalani saat ini. Saat menikah mereka juga sama-sama masih kuliah. Lalu ayah selingkuh dengan teman satu kampusnya. Hal itu membuat ibu semakin terpuruk dan membenci ayah." Adam malah tersenyum.


"Apa hal itu yang sedang kau takutkan sekarang?" Aku mengangguk, karena memang yang paling menyeramkan bagiku adalah sebuah penghianatan disaat mulai percaya.


"Kalau begitu kau pegang ini." Adam menyerahkan ponselnya padaku. Aku mengerutkan keningku dan merasa heran.


"Kenapa? Kenapa malah kau berikan ponselmu padaku?"

__ADS_1


"Karena segala sesuatunya dimulai dari sana. Apa kau tidak sadar jika perselingkuhan sering kali terjadi melalui ponsel?"


"Ah tidak juga, buktinya ayah dan ibu dulu juga belum memiliki ponsel, tapi tetap ada perselingkuhan." Aku melipat kedua tanganku di dada.


"Jaman semakin canggih, tidak mungkin jika terus bertemu. Yang ada malah cepat ketahuan." Aku tertawa, ada benarnya juga yang dikatakan Adam.


"Hei, jadi bagaimana kalau aku menghubungi mu? Dan ayah? Atau ibu? Termasuk orang yang memiliki kepentingan denganmu. Itu sungguh menyulitkan aku Adam." Adam tersenyum lagi. Kenapa sih, dia sangat tampan di mataku!!


"Bagaimana mungkin kau akan menghubungiku? Kalau setiap saat aku selalu di dekatmu. Jadi jika ada orang lain yang akan mencariku, mereka tinggal menanyakan saja padamu. Dengan begitu, kau tidak perlu khawatir. Siapapun yang akan berhubungan denganku, maka harus melewati istriku dulu." Ahhhhhhhhh aku seperti tengah melayang di udara sekarang. Berbunga-bunga didalam hati, sungguh merasakan cinta ternyata memang asik. Mampu membangkitkan semangat dalam hal apapun.


"Sudah sana turun. Kau tidak ingin kuliah?" Hah? Aku menoleh kearah luar, ya ampun benar ini sudah sampai.


"Kau, bagaimana?"


"Aku akan menyusul, kau masuklah lebih dulu." Aku mengangguk dan meraih pintu mobil.


"Hei, tunggu sebentar." Adam menutup kaca mobil hingga rapat. Tak sedikitpun cahaya dibiarkan masuk.


"Adam, bagaimana kalau ada yang melihat." Adam menunjuk lagi kesekililing.


"Mereka semua tidak ada yang peduli. Lagian, dari arah luar juga tidak bisa terlihat."


Tok.. Tok.. Kami menoleh secara bersamaan. Kaca diketuk tepat disamping Adam duduk.


"Buka!!!" Munah berteriak. Adam menurunkan lagi kaca jendela mobil. "Kalian kira aku tidak melihatnya??" Hah? Aku dan Adam saling pandang, spontan aku menyentuh bibirku yang masih basah akibat ulah Adam. Tapi Adam malah terlihat sangat santai.


"Hati-hati, kau bisa dituntut karena sudah mengintip suami istri tengah berpadu kasih."


"Hei sialan!!" Aku tertawa mendengar jawaban Adam. Jelas-jelas dia yang salah.


Aku turun dan melambaikan tangan kearahnya, berjalan dengan Munah menuju kelas ku.

__ADS_1


"Munah, apa kau benar-benar melihatnya?" Munah menggeleng.


"Syukurlah." Aku mengelus dada.


"Apa? Jadi benar? Kalian?" Aku menutup mulutnya dengan tanganku, kondisi sudah ramai jika berteriak pasti ada yang mendengar.


"Apa kalian juga sudah melakukannya?" Munah kembali berbisik. Aku hanya tersenyum, tapi pikiranku membayangkan hal tadi malam. "Bukankah kau bilang Adam sudah pergi lagi?" Aku diam dan terus berjalan.


"Hah, aku tau." Munah menarik tanganku, secara paksa menuju kamar mandi.


"Hei, kau gila ya?" Munah langsung mengunci pintu dia menarik syal yang melekat dibagian leher.


"Munah apa yang kau lakukan?" Dia kaget saat melihat. Mulutnya terbuka lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gila, Adam ganas sekali. Apa aku coba juga ya?" Aku langsung memukul lengannya.


"Aku peringatkan padamu jangan pernah melakukannya! Sebelum kau resmi menikah dengan Wahid! Dan itu juga kalau dia jodoh mu." Munah terdiam. "Oh iya satu lagi. Jangan katakan pada siapapun, aku malu. Jadi jika ada yang bertanya sebaiknya kau katakan saja kalau aku sedang demam." Munah mengangguk. Aku melangkah keluar lebih dulu setelah memastikan syal ku sudah rapi. Berjalan memasuki kelas, karena 10 menit lagi dosen akan sampai.


Heh, pagi ini kuliah dengan status yang berbeda. Rasanya agak aneh, tapi aku senang.


Dosen memasuki ruangan dengan membawa seseorang. Dan dia adalah orang yang aku kenal.


"Nara! Adam?" Munah bertanya padaku. Aku mengangguk. Sebenarnya tidak menyangka jika Adam juga bisa satu kelas denganku, apa jurusan yang dia ambil juga sama? Ah pasti memang sengaja.


Adam memperkenalkan diri, dan sepanjang dia berbicara tatapan matanya hanya tertuju padaku. Seakan-akan yang lain hanya patung yang tidak menarik baginya. Setelahnya Adam berjalan menuju kursi yang kosong.


"Selamat belajar sayang." Ucapnya saat melewati ku. Adam, ya ampun.


Dan kebucinan akan dimulai setelah aku yakin apa itu cinta.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2