
Aku tau, didalam pernikahan yang selalu ditunggu dan dinanti pasangan suami istri adalah anak. Hal yang menjadi perdebatan tersendiri untukku dan Adam. Dia meminta untuk secepatnya aku hamil lagi, tapi aku menolak dengan alasan harus menyelesaikan kuliahku dulu.
"Renan, lihat kakakmu tidak mau memberimu keponakan." Aku dan Adam juga sengaja membawa Renan kedalam kamar. Itu semua juga permintaannya, suka melihat anak kecil.
"Adam." Aku berbicara dengan lembut. "Sebaiknya kita rundingkan hal ini dengan ayah dan ibu."
"Baiklah, aku rasa itu lebih bagus." Aku mengangguk. Lalu beralih dengan lukisan yang diberi Adam untukku. Dia sudah berjanji akan menjelaskan dengan detail mengenai lukisan itu setelah pulang dari perusahaan ayah.
"Aduh, Renan kakak ngantuk sekali sepertinya."
"Adam, kau menyebalkan. Kau sudah berjanji padaku." Aku melipat kedua tanganku di dada. Dan, Adam mengangguk.
"Apa kau terpaksa?"
"Tidak istriku."
"Aku geli mendengarnya." Ah lebih tepatnya aku jadi salah tingkah.
"Baiklah sayang." Aku tersenyum, tapi lagi-lagi memalingkan wajah agar Adam tidak melihat bahwa aku senang saat ini.
"Jelaskan." Aku mengambil Renan dari pangkuannya. Dan berdiri disisi lukisan yang sudah aku turunkan. Aku siap mendengarnya, apa lagi soal noda yang seperti darah itu.
"Lukisan ini, sengaja aku buat untuk menggambarkan tentangmu. Kau dan anak-anak, jika bersama mereka kau selalu tertawa. Dan langit mendung itu, adalah suasana hatimu yang sebenarnya." Deg. Ternyata aku salah, yang aku pikir adalah aku akan bersedih ketika langit mendung datang karena memikirkan nasib mereka adik-adikku. "Aku hanya berusaha mengabadikan momen masa lalumu dengan lukisan, agar kau tidak lupa bahwa perjalanan hidupmu sungguh berat namun kau mampu melewatinya. Agar kedepannya, ketika kau mengalami masalah kau tidak merasa sangat terpuruk karena kau juga pernah mengalami sebelumnya."
"Lalu, siapa laki-laki yang berdiri bersamaku?" Adam tersenyum dan memainkan alisnya.
"Sebenarnya, aku sendiri tidak tau. Hanya saja, aku berharap dia lah yang akan membuatmu jauh lebih bahagia." Tidak masuk akal.
"Dan sekarang, kau menikah denganku. Jadi tugasku adalah membuatmu bahagia."
"Harusnya katakan saja kalau laki-laki itu adalah kau. Kenapa terlalu berbelit-belit."
__ADS_1
"Kau tidak senang ya?"
"Tidak, justru aku malah jauh lebih senang." Adam mendekat, tapi aku menahannya dengan tangan.
"Satu lagi, ini apa?" Aku menunjuk dimana ada bercak merah seperti darah. Adam menghela nafas lalu duduk ditepi tempat tidur.
"Adam, apa itu darah?" Adam mengangguk. "Itu darahmu?" Adam menggeleng.
"Itu juga cat lukisan. Hanya saja aku sengaja membuatnya disana, karena waktu aku membuatnya aku sudah berpikir tidak akan bisa sembuh. Hanya meninggalkan darahku yang mengalir ditubuh anakku." Deg. Aku belum paham maksudnya.
"Setelah aku tau bahwa kau hamil dan pendarahan waktu itu, aku pulang kerumah dan menyelesaikan lukisan ini. Jadi, anak yang sedang berada didalam pelukanmu itu adalah anak kita. Jika aku tidak ada lagi di dunia ini, bukankah yang tertinggal hanya darah daging ku?" Ya Tuhan, kenapa aku ingin menangis, tapi kenyataannya tidak begitu. Yang pergi malah darah daging ku.
"Coba kau pahami sekali lagi, laki-laki yang berdiri disampingmu dalam lukisan itu hanya seperti bayangan. Yang berarti seperti tidak nyata adanya." Aku meniliknya. Benar, kenapa Adam sangat pintar mengekspresikan sesuatu? Aku jadi sangat kagum padanya, sungguh.
"Aku tidak menyangka, kalau saja aku tidak meminta penjelasan padamu pasti aku akan salah paham terus." Adam menepuk ruang kosong disampingnya. Aku menurut, duduk dengan memangku Renan. Adam merangkul ku, mata kami sama-sama tertuju kearah lukisan yang berada tepat dihadapan ku saat ini. Mengangumi setiap arti dalam lukisan yang Adam buat.
"Aku berpikir waktu itu, kalau itu adalah darah asli yang keluar dari tubuhmu." Adam mengeratkan rangkulannya.
"Apa kau sangat khawatir waktu itu?" Aku jelas mengangguk, karena bagaimanapun sebelum kesadaran ku hilang aku sempat melihatnya dengan jelas, Adam sempat mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Sudahlah, itu sudah berlalu." Aku membenarkan posisi dudukku. Lalu mengajak Adam keluar kamar. Sudah saatnya Renan tidur.
"Apa sekalian saja kita meminta pendapat ayah?" Adam bertanya.
"Jika ayah sedang senggang, maka tidak masalah."
Adam meminta Renan saat aku akan menuruni anak tangga, kesempatan untukku agar bisa lebih dulu melihat ayah sedang apa. Dan ternyata, ayah sedang duduk santai sambil melihat televisi bersama ibu.
"Nara, dimana Renan?" Baru mendengar suara langkah kaki saja ayah sudah peka.
"Itu, bersama Adam." Aku duduk di sofa lain.
__ADS_1
"Ada apa?" Aku tersenyum, ayah selalu tau jika aku akan bertanya padanya.
"Renan, ayo sayang sudah saatnya tidur." Dan anehnya, Renan tidak mau. Dia malah berpaling dan kembali memeluk Adam. Kami tertawa secara bersamaan. Sungguh, Adam memang sudah cocok menggendong anak.
"Biarkan saja dulu, Renan juga kelihatannya belum mengantuk. Kau tidak keberatan kan Adam jika menggendongnya sebentar."
"Tidak yah."
"Yah, aku ingin menanyakan sesuatu. Dan lebih tepatnya meminta pendapat ayah dan ibu." Mereka saling pandang lalu mengangguk. Aku menoleh kearah Adam, bermaksud ingin bertanya padanya. Apakah aku saja yang mengatakannya?
"Kenapa? Bicaralah, apa ini soal anak?" Aku mengangguk, tebakan ayah selalu benar.
"Aku masih kuliah yah, dan itu juga baru satu semester. Aku ingin menunda kehamilan, karena takut mengganggu konsentrasi belajarku."
"Lalu, bagaimana dengan Adam? Apa dia setuju dengan keputusanmu sayang?" Ibu beralih duduk disampingku.
"Sebenarnya aku keberatan Bu. Dengan apa yang dimau Kinara."
"Ayah juga sependapat dengan Adam." Hah? Kenapa laki-laki selalu kompak? Mereka tidak tahu rasanya bagaimana mengandung, tidak tau rasanya jika ngidam saat awal-awal kehamilan.
"Kalau saat ini kau sengaja menunda kehamilan, lalu sewaktu kau sudah siap. Jika Tuhan tidak memberikannya bagaimana perasaanmu? Apa kau tidak merasa kecewa?" Deg. Benar! Kenapa aku tidak memikirkan hal itu?
"Jangan berpikir tentang masa lalu ayah dengan ibumu."
Ibu Intan mengelus lenganku. Aku menoleh kearahnya, dia mengangguk. Berarti dia juga sependapat dengan ayah dan Adam. Aku kalah telak kalau begini.
"Kau tidak perlu khawatir, kuliah tidak memandang usia. Bahkan yang sudah memiliki 4 anak saja masih ada yang kuliah. Jadi menurut ayah tidak perlu menunda kehamilan."
Kali ini aku beralih ke Adam, dia senyum-senyum sendiri. Aku tau, setelah ini pasti dia bakal berteriak girang didalam kamar karena keputusannya disetujui.
"Kalian sudah menikah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Benar, apa yang dikatakan ibu.
__ADS_1
"Baik ayah." Dan, Renan dikembalikan lagi kepada ibunya. Aku kembali masuk kedalam kamar setelah mendengar jawaban dari ayah. Dugaan ku benar, sepanjang jalan menuju kamar Adam tidak ada henti-hentinya mengatakan. "Aku benarkan?" Dan dia tidak akan diam sebelum aku menjawabnya. Seolah-olah dia butuh pengakuan dariku kalau memang aku kalah dan salah.
Bersambung..