
Rasa rindu ini begitu membuncah. Teriakan berserta pelukan yang diberikan mereka begitu tau kedatanganku. Jujur, aku menolak bertemu karena keadaanku saat ini. Aku hanya sering menitipkan salam, mengirim uang untuk keseharian mereka. Dan terkadang sengaja memesan makanan kesukaan mereka melalui via online.
"Kak, kami rindu." Air mataku menggenang, rasa haru ini menyeruak. Membayangkan kebahagiaan mereka sekarang, yang dulunya tidur di jalanan, hujan dan panas akan mereka rasakan tanpa adanya atap. Tempat teduh yang selalu berpindah, penampilan yang kumuh. Sekarang adik-adikku sudah jauh dari itu semua. Bi Gina benar-benar mengurus mereka dengan baik.
"Kak, sebentar lagi aku ujian kenaikan kelas kak." Aku mengelus puncak kepala anak tertua. Ah sudahlah, sudah tidak lagi tertahan air mata bahagia ini.
"Kau harus rajin belajar ya?"
"Iya kak."
Bi Gina tersenyum hangat, memintaku untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang aku bangun dari hasil uang meminta kepada ayah. Ah dia turut andil dalam hal ini, hanya saja tidak tau menahu.
"Bi, apa mereka sudah makan?"
"Sudah, baru juga selesai."
"Kak, kapan makan pizza lagi?" Ya Tuhan, mereka sangat suka itu ya? Padahal baru satu Minggu lalu aku mengirimkan pizza kesini.
"Pantas saja orang kaya suka itu kak, ternyata sangat enak. Perpaduan roti lembut dengan daging, makan pakai saus." Glek, benar aku sendiri juga sempat menelan salivah saat membayangkan perkataannya.
"Kalian mau?" Anggukan bergilir dari kepala mereka.
"Baiklah, akan kakak pesankan untuk kalian."
"Yeayy.." Nah kan, teriakan girangnya itulho membuat suntuk ku hilang seketika.
Duduk disalah satu ruangan dengan beralaskan karpet berbulu lembut, aku sengaja tidak membelikan sofa untuk mereka. Begini terlihat lebih nyaman dan bersih. Aku juga kasihan dengan bi Gina, harus mengurus tiga rumah sekaligus. Apartemen, rumahnya sendiri, dan yang satu ini, rumah adik-adikku. Meskipun aku ingin memberi gajih bi Gina double. Tapi bi Gina menolak, dengan alasan gajih yang dia terima dari ayah sudah lebih dari cukup. Setiap aku menanyakan Nominalnya berapa bi Gina tidak pernah mau menyebutnya.
Jika di apartemenku, aku bisa merasakan sejuk dengan adanya AC. Tapi disini berbeda, kipas angin besar ini sudah cukup. Angin disini juga banyak, karena pepohonan masih banyak disekitar rumah bi Gina. Mataku menatap ke arah hiasan dinding. Aku merasa tidak pernah membelikan mereka barang itu. Terlihat seperti lukisan jalanan dan beberapa anak tengah bermain. Sungguh indah. Aku sampai berdiri bahkan berjinjit hanya untuk bisa menyentuhnya.
"Bi, apa bibi yang membelinya?" Aku bertanya tanpa menoleh ke arah bi Gina.
"Tidak? Bukankah kau yang membelinya dan mengirimkan paketnya kesini?"
Aku? Aku tidak pernah memesan dan membeli lukisan dinding ini. Aku tertarik untuk membahas hal ini, siapa yang mengirim?
"Bi, aku tidak pernah memesan lukisan dinding ini." Aku duduk disebelah bi Gina.
"Sebentar." Bi Gina berjalan ke arah belakang rumah, sepertinya ingin menunjukan sesuatu padaku.
"Kak, jangan lupa pizza nya." Aku tertawa kecil, mereka berlari lagi keluar rumah untuk bermain, tidak peduli panas yang mulai naik tepat di atas kepala.
Aku membuka aplikasi yang ada di ponsel, memesan makanan sesuai yang mereka mau. Sambil menunggu bi Gina kembali dari belakang.
"Done!" Klik, dan tinggal menunggu makanan datang. Begitu mudah kan sekarang, apapun bisa dilakukan hanya melalui ponsel.
"Ini Nara." Kardus besar itu bi Gina letakkan di depanku. Aku meraihnya, membaca tulisan paket yang ada di atas kardus.
Benar, disana tertera namaku. Jam dan tanggal pemesanan begitu jelas. Tapi aku benar-benar tidak pernah membelinya, bahkan aku baru melihat lukisan semacam ini sekarang.
"Bi, selain aku dan bibi yang tau tentang mereka, bukankah Adam juga tau?"
"Jadi maksudnya ini Adam yang memesan?" Aku mengangguk, siapa lagi kalau bukan dia? Bukankah Adam ayah dari anakku yang cukup misterius? Aku yakin, ada lagi rahasia yang Adam tutupi dari aku.
Aku langsung mengeluarkan ponsel ku, mencari nama Adam dan menghubunginya. Aku harus menanyakan hal ini sekarang.
Satu kali panggilan berlalu begitu saja, hanya ada operator yang menjawab. Aku masih berusaha lagi, hingga panggilan ke empat. Adam menjawab teleponku.
"Hallo Adam?"
"Nara, ada apa?" Terdengar suaranya agak berbisik.
"Adam, kau sedang apa?"
"Hei, kau lupa jika aku masih disekolah? Aku tadi buru-buru ijin ke kamar mandi karena kau terus saja menelpon."
Aku melihat ke arah jam dinding, ya Tuhan aku lupa jika saat ini masih dalam jam belajar.
"Nara, ada apa katakanlah? Jika tidak penting pasti kau tidak akan menelpon ku berulang-ulang."
"Hem aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Apa kau yang membelikan lukisan dinding untuk adik-adikku?"
"Aku tidak mendengar apa yang kau katakan, nanti saja aku akan menemuimu sepulang sekolah."
Heh, aku hanya bisa menghela nafas saat Adam sudah mematikan sambungan teleponnya. Aku kembali meletakkan ponsel, dan memandang kardus yang ada di hadapanku.
"Kau tidak perlu khawatir soal ini, bibi yakin yang mengirimkan pasti orang baik. Terbukti yang diberikan ini lukisan indah. Coba kau amati lukisan dinding itu." Aku menuruti kata-kata bi Gina. "Terlihat seperti mereka dulukan? Maksud bibi kehidupan mereka di jalanan." Eh benar, juga ada jembatan diatas anak-anak yang sedang duduk. Ah aku sangat yakin sekarang, lukisan ini memang menggambarkan kehidupan anak-anak jalanan. Dengan dihiasi langit mendung mereka duduk dengan menekuk kaki, menggambarkan suasana kekhawatiran ketika melihat langit yang akan menjatuhkan ribuan air.
"Kak, ada yang datang." Aku dan bi Gina langsung bangkit berdiri. Tidak terasa, ah makanan sudah datang.
Mereka sudah berlarian mengikutiku masuk kedalam rumah. Duduk dengan rapinya dan tersenyum tidak sabar menunggu pizza hangat dibuka.
"Makanlah." Tangan yang berebut itu, aku senang melihatnya.
"Kak, kami sangat ingin memainkan game." Deg. Aku hanya memberikan mereka televisi disini. Jujur, keuanganku saat ini memang sudah menipis, ayah belum memberikan aku uang bulanan.
"Jangan begitu, kak Kinara belum bekerja." Mereka langsung menundukkan wajahnya, merasa bersalah sudah berani meminta sesuatu denganku.
"Bi, tidak apa-apa. Mereka berhak memintanya." Aku tersenyum, baiklah aku akan meminta uang bulanan dengan ayah lebih awal.
"Bi, siang ini adalah jadwal periksa."
"Kakak sakit?" Eh mereka mendengar, aku kira sudah fokus dengan makanan.
"Iya." Salah satu bergerak mendekat ke arahku. Memegang dahiku, mengukur suhu tubuhku dengan tangannya. Aku tertawa, mereka khawatir denganku ternyata.
"Kalau kakak sakit kenapa datang kesini? Maaf ya kak, kami selalu menyusahkan kakak."
"Dari mana kalian belajar kata-kata itu?"
"Dari ibu. Ibu selalu bilang, kalau kami hidup saat ini juga karena bantuan kakak." Dia, dia anak tertua disini, pasti sudah mengerti akan hal ini.
"Tidak, kakak tidak merasa begitu." Aku menoleh ke arah bi Gina.
"Nara, jangan selalu menuruti kemauan mereka."
"Mereka masih anak-anak bi."
"Ikutlah dengan bibi sebentar." Aku mengangguk. "Kalian tetaplah disini, dan habiskan makanan yang sudah dibelikan kak Kinara."
__ADS_1
"Iya Bu." Serentak menjawab.
Aku mengikuti langkah bi Gina, hingga sampai di dapur. Bi Gina memintaku untuk segera duduk. Aku sudah tau pasti bi Gina ingin membicarakan soal jadwal periksa ku hari ini. Dan memilih tempat dimana adik-adikku tidak bisa mendengarnya. Karena mereka semakin tumbuh dewasa setiap harinya, seperti usia kandunganku saat ini. Jika mereka memasang telinganya, pasti akan tau apa yang sedang aku bicarakan dengan bi Gina jika berada didekat mereka.
"Jika jadwal periksamu hari ini, kenapa kau malah datang kesini dan meminta bibi juga untuk pulang lebih awal?"
"Aku sangat merindukan mereka bi. Mereka juga salah satu penyemangat ku."
"Nara, tapi bibi juga harus mendampingi mu setiap periksa kandungan." Bi Gina benar, tapi bukankah bisa aku membawa bi Gina lagi ke apartemen. Eh, dadaku tiba-tiba saja sesak. Setiap kali memikirkan hal berat, akhir-akhir ini selalu begitu.
"Kira-kira jam berapa dokter akan datang?" Aku mengingat lagi, karena setiap kali dokter Linda datang pasti sekitar jam 2 siang. Dan sekarang, ah benar hanya tinggal satu jam lagi.
"Apa bibi bisa ikut aku untuk pulang sekarang?" Bi Gina langsung mengangguk tanpa berpikir. Baiklah, aku harus memberi alasan untuk mereka.
"Bibi siap-siap dulu, kau tunggu sebentar ya."
"Iya bi."
Aku melihat kotak pizza sudah tandas habis tidak bersisa, semua makanan sudah pindah kedalam perut dan tersisa di tangan yang sudah bekas gigitan. Aku tersenyum, mereka sangat lahap memakannya.
"Kalian suka?" Aku kembali duduk ditengah mereka, mengelus puncak kepala dengan lembutnya. Tidak semua, hanya yang bisa aku gapai saja.
"Suka sekali kak."
"Ya sudah, lain hari kita beli lagi ya?"
"Iya kak."
"Kalian tetaplah dirumah, jangan main diluar lagi. Sebaiknya istirahat didalam rumah. Kakak akan pergi sebentar dengan ibu."
"Kemana kak? Beli game yang kami minta?" Ya ampun, aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan mereka, melihat wajah yang tidak berdosa ini. Kedipan mata yang anggun dari setiap anak yang ada di hadapanku. Tanpa aku sadari selama ini, mereka tampan dan cantik.
"Iya, tapi kakak tidak janji hari ini ya. Kakak ada urusan soalnya."
"Berarti besok kak?" Aku mengangguk. Tubuhku sudah tidak terlihat lagi jika dipandang, tertutup oleh kerumunan mereka yang berebut untuk memelukku.
"Dia kak Nara ku!"
"Dia kakak ku!"
"Kakakku juga!"
"Hei, sudah dia kakak kalian semua." Heh aku menghela nafas lega, akhirnya bi Gina datang menyelamatkan aku.
"Kak, kami masih rindu."
"Iya kakak bakal datang lagi kesini nanti, dan bisa lebih lama dengan kalian. Tapi tidak sekarang." Ku usap lembut wajah dari salah satu diantara mereka. Yang mana gadis kecil paling muda.
"Kakak janji?"
"Janji."
"Sudah, ayo Nara."
Aku dan bi Gina melangkah keluar, berjalan melewati pagar bambu yang tersusun rapi, dengan corak warna-warni disetiap bambunya. Para tetangga bi Gina menyapa hangat saat bertemu tatap dengan kami. Bertanya akan pergi kemana. Belum lagi ada anak lelaki yang mungkin lebih tua dariku. Menggodaku dengan menanyakannya kepada bi Gina.
"Bibi, siapa nama gadis yang bersama bibi?"
"Hehe." Bi Gina hanya tersenyum dan menoleh ke arahku. Aku bisa apa kalau tidak membalas senyumannya? Berjalan lalu menunduk.
"Kalau saja kau sedang tidak hamil, bibi juga mau menjodohkan dengan salah satu pemuda disini."
"Bibi?" Aku tersentak mendengar ucapannya. "Sejak kapan bibi memiliki pemikiran begini?" Bi Gina hanya tersenyum dan membuka pintu mobil.
"Aku tidak ingin dijodohkan bi, pacaran apalagi sampai menikah."
"Sampai kapan Kinara?" Deg. Aku menggeleng.
"Kau benar-benar menyukai Adam ya? Apa sekarang sudah beralih, dari Iam menjadi Adam?"
"Mereka orang yang sama bi."
"Berarti tebakan bibi benar." Ah ya ampun, sejak kapan bi Gina pandai menggodaku?
"Sudahlah bi." Aku melajukan mobil, menjauhi gang rumah bi Gina. Memasuki jalanan raya yang lenggang disiang hari.
"Kau harus memberi tau Adam soal ini Kinara. Ketika anakmu lahir nantinya. Tidak peduli beberapa tahun kemudian, tapi yang pasti Adam berhak tau. Karena itu adalah anaknya." Deg. Ah aku harus fokus menyetir.
"Bi, aku tidak bisa. Bagaimana cara mengatakannya kepada Adam?"
"Kau pasti bisa, karena tidak pantas jika Adam mendengarnya dari orang lain. Apalagi dari bibi."
"Akan aku pikirkan bi."
Keadaan sudah hening, bi Gina mungkin tau jika aku sedikit tersinggung kalau dia harus membahas hal ini. Walaupun ketika suasana hatiku sedang tenang. Karena bagiku, menyembunyikan kehamilan yang setiap harinya semakin berkembang, itu saja sudah sangat sulit bagiku.
***
Beberapa menit menunggu, dokter Linda sudah datang. Membawa peralatan yang aku minta. Beberapa menit ke depan aku akan mengetahui jenis kelamin dari anakku. Rasanya jantungku semakin berdebar. Jika dia laki-laki, apakah akan mirip seperti Adam? Dan jika dia perempuan apa akan sama denganku? Ah tidak, jangan. Aku menyadari jika aku sangat keras kepala.
"Berbaringlah." Aku mengikuti perintah dari dokter. Menarik kain yang menutupi bagian perutku, menatap fokus ke arah layar yang tidak terlalu besar.
"Detak jantungnya kenapa sangat lemah?" Wajah kecewa jelas terlihat dari dokter Linda, dia mendengus seperti marah denganku yang tidak bisa menjaga kesehatan bayiku sendiri.
"Lihat, posisi sudah berbalik. Ketika usia kandungan tujuh bulan, posisi kepala bayi akan menghadap ke bawah." Aku mengangguk lemah, perkataan dokter Linda yang mengatakan detak jantung dari kandunganku lemah sudah membuatku sedikit patah semangat.
"Lihat." Aku hanya bisa melihat bentuk wajah yang belum bisa ku yakini seperti apa ketika lahir nanti.
"Jenis kelaminnya laki-laki." Ya Tuhan, sesuai harapanku.
"Wah, laki-laki." Bi Gina juga ikut senang mendengarnya. Bukan berarti jika jenis kelamin anakku perempuan aku tidak mau, hanya saja masing-masing orang memiliki keinginan. Meskipun semasa hamil ini aku tidak menginginkannya.
Pemeriksaan sudah selesai, dan berakhir pada suntikan di tubuhku.
"Itu adalah suntikan vitamin B9. Untuk menghindari cacat saraf pada janin. Apalagi mengingat detak jantung yang lemah, saya memberinya dosis yang sesuai."
"Efeknya apa dokter?"
"Tidak ada, yang kau rasakan hanya ngilu yang lama hilangnya setelah suntikkan. Tidak seperti bulan-bulan lalu." Syukurlah, aku masih bisa menahan jika hanya terasa ngilu.
__ADS_1
"Dokter, lalu bagaimana dengan janin didalam kandunganku? Apa sangat berbahaya jika detak jantungnya terus melemah?" Bi Gina sudah ikut duduk di sampingku, dia terus mengelus lenganku. Dialah yang tau bagaimana saat ini aku sangat merasakan kekhawatiran.
"Jelas sangat berbahaya, bukankah sudah saya katakan pada bulan lalu? Saya juga berharap semuanya bisa normal. Perbanyaklah makan buah dan sayur. Itu juga bisa mempengaruhi perkembangan janin." Aku mengangguk.
"Bibi akan belanja sayuran dan buah untukmu kepasar. Jauh lebih banyak dari yang biasanya bibi belikan." Bi Gina bersisik pelan, aku tersenyum mendengarnya.
"Apakah vitamin yang saya beri setiap bulannya selalu kau minum?"
"Iya dokter, selalu saya minum." Dokter Linda mengangguk, dia mulai membuka semua alat dan melipatnya dengan rapih ke dalam tas.
"Bi, siapa yang datang?" Aku dan bi Gina saling pandang. Oh my God, bagaimana ini? Dokter Linda masih disini, dan aku yakin jika yang datang kesini hanya orang-orang yang dekat denganku.
"Dokter, duduklah dulu. Saya akan mengambilkan anda minum."
"Tidak usah repot-repot."
"Eh tidak dokter, tunggulah." Bi Gina mengedipkan matanya padaku. Eh aku harus mengajak dokter Linda berbicara agar dia juga tidak buru-buru untuk keluar.
"Dokter, bagaimana soal kelahiran ku nantinya? Aku ingin melakukan tindak operasi saja."
"Sudah, saya sudah siapkan rumah sakit yang cocok."
"Saya mau yang terbaik dokter. Katanya juga ada yang melahirkan melakukan tindak operasi tapi tidak terlalu lama merasakan sakitnya. Maksudnya, ehm jahitannya cepat kering." Dokter Linda tertawa kecil. Kenapa? Aku tidak salah kan? Aku hanya tidak tau bahasa apa yang lebih tepat ketika bicara dengan seorang dokter.
"Bisa." Dia tersenyum. "Itu semua tergantung berapa biayanya. Lebih tepatnya uang yang kita siapkan."
"Oh begitu ya dokter, terima kasih."
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
Aku melihat ke arah pintu yang masih menutup, bi Gina belum juga kembali. Siapa yang datang? Ya ampun, bi Gina cepatlah.
"Eh aku mau bertanya, apa jika dirumah sakit nama pasien yang melahirkan bisa disembunyikan?" Dokter Linda mengerutkan keningnya. "Maaf dokter jika pertanyaan ku membuat bingung."
"Soal pasien yang berada dirumah sakit, kita bisa melakukan konfirmasi pada pihak resepsionis agar menjaga privasi. Tapi, jika kelahiran tidak bisa, karena nama ibu yang melahirkan harus tetap terdaftar." Ah sudahlah aku pusing. Dunia kedokteran benar-benar membuatku sangat bingung.
"Bi?" Wajah bi Gina tampak bingung, setelah kembali dari luar.
"Dokter, sudah selesai?" Bi Gina memberikan teh hangat kepada dokter Linda. Dia meneguknya hanya beberapa teguk, lalu meletakkannya kembali.
"Sudah. Maaf saya tidak bisa menghabiskan tehnya, saya juga harus segera pergi karena sudah ada pasien yang menunggu."
"Mari dokter saya antar." Kedua orang itu pergi meninggalkan aku sendiri didalam kamar. Aku yang sangat penasaran ingin bertanya dengan bi Gina, rasanya lama sekali. Merasa tidak sabar aku berjalan keluar kamar. Menilik disekitar sofa, kosong tidak ada orang. Ah berarti bi Gina berhasil mengusir tamu yang tidak diundang.
"Kinara?" Aku terkesiap kaget ketika bi Gina tiba-tiba muncul.
"Kau sedang apa?" Aku menarik tangan bi Gina masuk ke dalam kamar. Menutup kembali pintu dengan rapat.
"Bi, siapa yang datang?"
"Adam." Deg. Adam?
"Lalu bi? Kemana dia?"
"Bibi bilang kau sedang tidur dan istirahat." Heh, syukurlah.
"Dia percaya bi?" Bi Gina mengangguk.
"Buktinya dia pergi."
"Terima kasih ya bi. Bibi sudah banyak membantuku selama ini?" Aku memeluknya dengan penuh kehangatan. Rasa hangat seperti tengah memeluk seorang ibu kandung. Entahlah, atau rasa pelukan dari ibuku lebih hangat dari ini.
"Bibi pulang naik angkutan umum saja, kau istirahatlah."
"Tapi bi, tidak apa-apa?" Bi Gina menggeleng dan masih sempat tersenyum. Menuntunku untuk kembali naik ke tempat tidur. Benar ya kata dokter Linda, ngilu bekas suntikkan tidak bisa hilang begitu saja.
"Bi hati-hati ya."
"Iya."
Aku tidak langsung tidur, hanya berbaring dan menyambar ponsel yang berdering tanda notif pesan masuk.
"Nara?" Ternyata Adam, sebenarnya aku juga sudah menduga kalau memang dia yang mengirim pesan.
"Iya Dam?"
"Apakah kau benar-benar sudah tidur?" Maksudnya? Aku harus memutar otak untuk mengartikan pertanyaan Adam. Bukankah aku sedang membalas pesan darinya? Kenapa malah bertanya?
"Beberapa menit lalu aku datang ke apartemen, dan bi Gina bilang kau sedang tidur? Apakah kau benar-benar tidur?" Ya Tuhan, aku lupa! Adam sampai memperjelas isi pesannya.
"Maaf, aku baru bangun." Ah terpaksa aku harus berbohong lagi kan.
"Apakah kita bisa bertemu?" Berpikir, ya aku berpikir dulu. Jika dokter Linda mengatakan bahwa detak jantung kandunganku sangat lemah. Itu artinya aku tidak bisa melakukan aktivitas, karena aku harus menggunakan korset untuk menutupi perutku yang membesar. Tidak, aku harus menolak.
"Maaf Dam. Tapi aku sedang tidak enak badan." Walau sebenarnya aku juga rindu padanya.
"Baiklah." Heh, syukurlah jika Adam tidak memaksa. Aku kembali meletakkan ponsel asal. Kenapa rasanya malah jadi tidak enak begini? Menolak pertemuan Adam berkali-kali. Dan bahkan aku belum sempat mengucapakan terima kasih atas tindakannya yang mencari pelaku itu.
Ah!! Aku menggelengkan pelan kepalaku. Berjalan menuju lemari, aku sudah lama sekali tidak menyesap rokok. Apa sekarang boleh? Aku, aku sangat suntuk saat ini.
Satu bungkus masih tersimpan rapi di dalam lemari, beserta korek apinya. Aku kembali duduk didekat jendela. Menatap nyalang ke arah pepohonan yang bergoyang terkena angin. Melambai ke arahku, sejuk mata memandang penghijauan. Aku merasa ingin merentangkan tangan sekarang, terbang bagai burung menikmati alam bebas. Aku tidak terkurung, hanya saja terpaksa mengurung diri.
Sialan, aku sudah habis satu batang rokok, tapi rasanya belum puas. Aku kembali mematik korek api, mengambil satu batang lagi dari bungkus rokok. Kali ini aku menatap ke arah bawah parkiran apartemen.
Tunggu, itu siapa? Yang sedang menatapku sekarang?
"Adam?" Dia melipat kedua tangannya, berdiri menyandarkan tubuhnya di bagian depan mobilnya. Aku harus apa sekarang? Tubuhku terasa kaku, apakah dari ketinggian seperti ini Adam bisa melihatku dengan jelas? Gila! Sejak kapan dia disana? Apa sedari tadi? Dari sewaktu bi Gina mengusirnya? Ah semua pertanyaan memenuhi otakku sekarang.
Aku menutup tirai dan kembali duduk. Mematikan rokok yang baru beberapa hisapan saja. Naik ke atas tempat, memeluk guling. Tapi mataku tidak bisa terpejam.
Ting. Ponselku berbunyi lagi.
"Terima kasih sudah menapakkan dirimu di depan jendela apartemen. Dengan begitu aku bisa merasa lega, memastikan kau baik-baik saja." Deg. Adam? Aku ingin berlari turun sekarang. Memeluknya, ya Tuhan aku benar-benar memiliki rasa yang aneh saat ini.
"Adam!" Ah kenapa aku malah menangis, aku harus membalasnya dengan apa?
"Sampai bertemu diujian kelulusan." Tidak, aku melemah. Walau hanya hitungan Minggu, kenapa aku tidak rela? Kenapa tidak rela, bukankah itu hanya waktu yang sebentar?
"Apa kau marah karena aku tidak mau menemuimu?" Aku berharap Adam segera membalasnya. Apapun jawabannya akan aku terima.
__ADS_1
Nihil, hingga aku menguap karena mengantuk, tidak ada lagi balasan dari Adam. Baiklah, aku tidur saja dulu. Mungkin Adam sedang dalam perjalanan jadi tidak bisa membalas pesan dariku.
Bersambung..