
Semenjak tau dan mendengar hal itu, perjodohan! Apa itu! Itu sungguh tidak masuk diakal bagiku. Padahal, kuliahku juga belum dimulai. Kenapa tidak ada yang mengerti sekarang? Apa kasih sayang ayah padaku hanya sandiwara saja?
Seharusnya aku bisa lama dirumah ibu, tapi mengingat pikiranku yang tidak tenang saat ini. Aku lebih memilih untuk langsung pergi kerumah bi Gina.
"Nara, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau melamun? Sedari tadi mereka mengajakmu bicara tapi kau tidak mendengarnya."
"Maaf bi." Ya Tuhan, kali ini aku tidak akan merepotkan bi Gina.
"Bi, ayah sudah tau tentang mereka."
"Jadi hanya karena hal itu kau memikirkannya? Apa ayahmu marah?" Aku menggeleng dan tersenyum.
"Bibi, ternyata lukisan itu juga ayah yang memberinya. Ayah sudah tau sejak lama." Aku dan bi Gina menoleh kearah mereka yang tengah asik bermain. Begini saja sudah membuatku tenang. Kehidupan yang jauh lebih layak memang pantas mereka dapatkan. Tugasku sudah selesai, tinggal mengawal mereka hingga mendapatkan pendidikan tertinggi nantinya.
Tuhan, aku tidak ingin menikah. Aku tidak ingin menjalani rumah tangga yang rumit. Rasanya aku ingin hidup seperti ini saja.
"Bi, apa bibi pernah mendengar ibu Intan mengeluh?" Bi Gina mengajakku untuk berbicara didalam. Semula kami duduk di teras rumahnya. Aku yakin, kalau begini pasti banyak hal yang ingin bi Gina sampaikan padaku.
"Apa kau siap mendengarnya?" Aku mengangguk.
"Sebenarnya, nama ayahmu dikalangan bisnis sudah menjadi perbincangan hangat sejak kau mengalami keguguran. Dan para guru disekolah juga sebelumnya berdiskusi tentang kelulusanmu. Hanya saja, diwaktu terakhir itu kau benar-benar sudah menyelesaikan ujian. Tidak salah jika kau tidak hadir dihari perpisahan sekolah."
Aku, ya aku sadar jika aku adalah sumber masalah saat ini.
"Ayahmu sudah berkali-kali bertanya kepada bibi siapa laki-laki itu, dia akan mencarinya. Tapi bibi tetap menjawab tidak tau. Karena jika dihitung dari usia kandunganmu waktu itu. Kau sudah melakukannya sebelum bibi bekerja." Ya Tuhan, aku jadi sangat merasa bersalah kepada bi Gina.
"Bi maaf untuk itu. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakannya, lelaki itu Adam bi. Bagaimana mungkin? Dan sekarang aku malah terlibat juga oleh kakaknya."
"Kinara, sudahlah. Kau harus fokus untuk kuliahmu saja."
Bibi, aku ingin menangis sekarang. Bagaimana aku bisa fokus jika ayah sudah merencanakan perjodohan itu? Aku ingin marah, tapi aku yakin ayah bertindak seperti ini pasti karena ulahku, dan rasa malu yang dia tanggung sebagai orang tua. Aku juga tidak bisa menyalahkan Adam sekarang.
***
__ADS_1
Langit tampak mendung, tidak secerah saat aku pergi dari rumah tadi pagi. Awan gelap sudah berkumpul, mungkin tengah berbincang akan menurunkan ribuan air kebumi. Kilat bak menyambar siapa saja yang tengah berjalan. Aku masih berada didalam mobil, dan sudah memasuki pekarangan rumah ayah. Kalau tengah memikirkan hal berat seperti ini, aku sangat ingin pergi ke apartemen. Sekedar menenangkan diri tanpa ada siapapun yang mengganggu. Ataupun masuk ke club' untuk melupakan kesedihan.
"Apa ayah sudah pulang?" Aku bertanya kepada salah satu pengawal yang berdiri didepan rumah dengan kokohnya.
"Sudah nona, baru saja." Aku mengucapkan terima kasih dan masuk kedalam.
Aku tidak langsung menghampiri ayah dan mengajaknya bicara, tapi aku lebih memilih untuk mengguyur tubuhku dibawah shower dengan air dingin. Agar emosi tidak meluap saat bicara dengan ayah.
30 menit berlalu, dan aku sudah siap untuk keluar kamar. Menemui ayah dan bertanya, apakah benar yang dikatakan ibu tadi pagi.
"Nara, ayah mencarimu sayang."
"Aku juga mencari ayah."
"Ayah ada digazebo dekat tepi kolam renang."
Aku langsung berjalan menuju kesana. Sepertinya ibu ada urusan lain sehingga dia tidak ikut duduk disana. Entahpun sengaja karena ayah memintanya tidak perlu mendengar hal apapun yang akan dibicarakan padaku. Mengingat ibu Intan tengah hamil saat ini.
"Ayah?"
"Ayah mencariku?" Ayah mengangguk.
"Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu." Suara ayah tampak begitu berat.
"Aku juga ingin menanyakan suatu hal dengan ayah."
Ayah mempersilahkan ku untuk lebih dulu bertanya. Baiklah, aku mengatur nafasku agar berbicara lebih santai.
"Tadi pagi sewaktu aku datang kerumah ibu. Ibu mengatakan kalau aku akan dijodohkan? Apa itu benar yah?" Ayah menoleh kearah ku, dia belum menjawab. Tapi kudengar helaan nafas.
"Dan laki-laki yang dijodohkan padaku adalah kakaknya Adam. Bagaimana bisa?"
"Kinara itu benar." Deg. Aku belum lagi sempat menyelesaikan kata-kataku.
__ADS_1
"Ayah?"
"Kinara, itu adalah permintaan Adam. Karena dia temanmu, dia tau apa yang terjadi padamu. Lalu meminta ibu dan kakaknya untuk menuruti kemauannya ini."
"Lalu ayah setuju?"
"Nara, bagaimana ayah bisa menolak? Kau juga tau bagaimana kau yang sekarang, dan mereka adalah keluarga yang baik. Bisa menerimamu dengan senang hati, bagi ayah itu adalah anugrah. Dan bisa ayah pastikan kalau ayah tidak salah langkah."
Apa aku harus menangis sekarang?? Dadaku terasa sesak. Juanda, duhai anakku, bawalah ibu bersamamu nak.
"Yah, bukankah Adam saat sedang koma?"
"Dia sadar sewaktu temannya datang." Deg. Elena?? Aku meremas apa saja yang berada di sampingku. Sungguh ini sangat menyakitkan.
"Ayah aku ingin sendiri." Aku langsung pergi begitu saja, berlari secepat mungkin untuk sampai kedalam kamarku.
"Kinara?" Ayah masih Berteriak, aku tidak peduli. Begitu juga dengan ibu, dia menarik tanganku. Tapi aku langsung menepisnya, maaf hanya bisa terucap dalam hati. Karena orang yang tidak tau menahu harus ikut menanggung pelampiasan ku saat ini.
"Baj**gan!!" Aku berteriak dan melempar apa saja yang ada didekat ku. "Kau bilang jika kau menyayangiku. Ternyata kau melakukan hal itu hanya karena merasa bersalah padaku. Nyatanya sampai saat ini kau masih menyimpan rasa untuk Elena!" Hiks.. Aku sudah terduduk dilantai, semuanya semakin hancur sekarang. Adam terlalu jahat padaku. Kehancuran ku saat ini, sakit ku yang aku rasakan sekarang. Terdengar bersamaan dengan petir yang berada diatas langit. Hujan mulai turun dengan derasnya. Aku yakin, suasana hatiku pasti saat ini sama dengan langit yang sedang mendung.
"Sialan kau Adam!" Hiks..
Ting.. Bunyi notif pesan dari ponselku, aku tau jika bukan Munah ataupun Wahid pasti Windu yang menghubungi ku saat ini. Karena selain keluarga hanya mereka yang memiliki nomor ponselku.
"Kau harus tau, Adam sadar karena kedatangan Elena. Tidak sia-sia aku mencarinya, terima kasih sudah memberikan alamatnya Nara. Aku akan mentraktir mu makan sebagai ucapan terima kasih."
Aku meremas ponselku sendiri. Dan setelahnya melempar dengan asal.
"BA**SAT!!"
Kata-kata indah, perhatian selama ini yang diberikannya kepadaku. Aku tau, itu semua pasti hanya karena rasa bersalahnya saja. Dan sekarang, semuanya sudah terbukti. Tidak ada cinta, tidak ada kasih sayang. Aku semakin yakin untuk menolak perjodohan ini. Aku akan mengatakan kalau aku tidak ingin menikah.
Bersambung..
__ADS_1