Langit Mendung

Langit Mendung
On the way liburan


__ADS_3

Pijatan dibagian kaki sungguh membuatku merasa nyaman, mata sampai membuka dan menutup.


"Itu bi, ya dibagian itu." Aku meminta bi Gina untuk memijat ku. Dari pada harus menyewa tukang pijat, lebih baik bi Gina saja. Pijatannya juga tidak kalah dengan tukang pijat profesional.


"Nara, apa tidak sebaiknya kau katakan saja? Ini sudah satu tahun lamanya kau memendamnya sendiri. Bibi hanya memberimu saran, jangan sampai ayahmu tau dari orang lain." Deg. Ini sudah orang kedua yang memintaku untuk jujur.


"Bi, kalaupun aku mengatakannya. Bukankah aku dan Adam harus menikah? Lalu bagaimana dengan keadaan Adam sekarang? Aku sendiri saja tidak tau bagaimana kabarnya."


Dipergelangan kaki saat disentuh oleh bi Gina aku menjerit. "Aw sakit sekali itu bi."


"Sebaiknya kau cari tau, bila perlu kau datang saja ke negara dimana Adam berobat. Firasat bibi mengatakan kalau Adam sudah sehat saat ini."


"Ah itu hal yang mustahil bi kalau aku pergi menyusulnya kesana. Lagian aku juga tidak akan melakukannya." Bi Gina mendengus. Aku tau jika dia pasti kecewa dengan jawabanku. Maaf, rasa itu sudah berkurang. Bukan berarti aku memberinya untuk Windu. Tentu saja tidak.


"Kau tidak bisa lagi untuk mengatakan tidak ingin menikah. Jodohmu sudah ditentukan Nara." Deg. Benar, seiring berjalannya waktu aku pasti akan menikah dengan Windu. Waktu akan terus berjalan. Bagaimana aku mencari cara agar bisa menggagalkan pernikahan ini?


"Kau jadi pergi hari ini?"


"Iya bi. Selesai bibi memijat aku langsung mandi."


Hari ini adalah hari liburan, kuliah juga sedang libur. Weekend dua hari akan aku habiskan untuk liburan. Sudah lama sekali rasanya, tidak merasakan kesegaran alam. Sudah bisa kubayangkan bagaimana rasanya.


Munah sudah menelpon secara berulang-ulang. Dan mengancam akan meninggalkanku jika aku terlambat satu menit saja. Dan akhirnya bi Gina memijat tidak sampai selesai.


"Ayah, aku pergi dulu." Aku berlari sambil membawa tas ransel yang berisi banyak pakaian. Semua sudah diatur, kami akan melakukan sesi photo dengan berganti pakaian. Lucu ya, hehe.


"Nara, apa kau tidak ingin pamit dengan ibu? Renan juga?" Aku langsung berhenti, hampir saja aku jatuh kedepan. Lalu berbalik sambil berteriak.


"Bi tolong bawakan tas ku kedalam mobil."


"Tidak perlu terburu-buru." Ayah mengingatkan, aku tidak sempat menjawab hanya mengangguk dan berlari menuju kamarnya renan. Bay the way, dia tidur tidak bersama ayah dan ibu lho, renan tidur dengan baby sister yang sudah dipekerjakan ayah sejak ibu melahirkan. Aku tau jika kedua orang tua itu pasti tetap ingin bermesraan tanpa terganggu suara tangisannya Renan.


"Ibu?"


"Nara? Ssstt.. Renan baru saja tidur." Ibu Intan berjalan mendekat. "Kau sudah mau pergi?" Aku mengangguk.


"Kau hati-hati ya? Kalian menginap di hotel yang sudah dipastikan aman kan?"


"Iya Bu." Mataku masih tetap menatap kearah box bayi, dimana adikku saat ini sedang tidur.


"Bu, aku ingin melihatnya dulu, sebentar saja." Aku berjalan, melihat Renan tidur dengan tenangnya, senyumku mengembang ketika melihatnya. Andai saja Juanda masih hidup, pasti dia akan seimut ini.


Tanganku memang tidak bisa dicegah untuk tidak menyentuhnya.


"Owek.." Hah, dia menangis.

__ADS_1


"Aku pergi Bu hehe."


"Nara!!" Ibu Intan berteriak, aku tertawa sambil berlari keluar kamar. Sungguh tingkah ku masih seperti anak-anak ya? Eh tapi aku sudah menjadi ibu lho.


"Nara?" Lagi-lagi ada saja yang memanggilku.


"Kenapa yah?"


"Apa kau sudah ijin dengan Windu?" Hah? Dia kan bukan orang tuaku! "Atau sekedar mengajaknya pergi?"


"Ayah, dia sedang sibuk saat ini. Aku tidak ingin mengganggunya." Heh, untuk berjalan keluar rumah saja harus banyak rintangan.


***


Perjalanan yang memakan waktu lima jam. Itu sungguh membuatku bosan, mana aku yang harus menyetir. Ditengah perjalanan Wahid memintaku untuk menggantikannya menyetir, dengan alasan dia mengantuk. Aku menurut saja, karena yang aku pikir selama pulang dia belum istirahat dengan baik. Eh tapi nyatanya tidak begitu, aku malah mendengar kalau mereka bermesraan. Dan beberapa kali mendengar ada suara kecupan! Sialan, kalau saja otaku mesum. Pasti aku akan melihatnya dari kaca spion mobil mereka sedang apa.


"Ini belok kemana?"


"Kiri, lalu nanti ada petunjuk arah disana." Aku mengikuti apa yang dikatakan Wahid.


"Kita menginap di hotel kan?"


"Tidak, kita menginap di villa." What the fu*k?


"Nara, dipuncak adanya villa. Kau pasti tercengang kalau melihat view pemandangan dari atas villa." Aku hanya angkat bahu. Karena memang belum melihat, mana bisa menilainya.


"Aku sudah memesan untuk kita, karena pemilik villa itu kerabat dekat ayahku." Kenapa Munah tidak bersuara sejak tadi ya?


Kali ini barulah aku melihat mereka dari kaca mobil. Sialan! Pantas saja dia tidak bersuara ternyata tidur.


"Sejak kapan Munah tidur?"


"Sejak aku memintamu bergantian menyetir." Hah?


"Jadi kau?"


"Ssstt. Diamlah, jika dia tau pasti akan menamparku." Ya Tuhan, apa selama kuliah diluar negeri Wahid selalu melihat film porno?


"Aku tau apa yang kau pikirkan Nara. Aku hanya meniru adegan film Drakor."


"Kau mengikuti Adam ya?"


"Ah kau masih saja mengingatnya. Aku tau jika kau belum bisa melupakannya." Aku lebih memilih diam dan tidak menjawab.


Petunjuk arah sudah didapat, dan saat aku berbelok sudah terlihat seperti apa tempat liburan kali ini. Puncak memang tidak pernah mengecewakan. Meski mobil sudah berhenti, aku belum beranjak dari dudukku. Memandang sekeliling, sungguh luar biasa ciptaan mu Tuhan.

__ADS_1


"Nara, apa kau tidak ingin turun?"


"Hei, sejak kapan kau bangun?" Munah mengucek matanya, menguap sesuka hati dan dihembuskan kearah Wahid. Ih nafasnya pasti bau!


"Cepatlah turun, Hid kau yang membawa barang kedalam ya?" Wahid diam tidak menjawab, lalu aku dan Munah melangkah masuk lebih dulu. Beberapa detik setelahnya kami berhenti melangkah secara bersamaan.


"Bukankah kita tidak tau yang mana villanya?" Aku dan Munah saling pandang.


"Kita tunggu saja Wahid." Aku mengangguk. Sudah 10 menit berlalu, tapi kenapa dia tidak muncul juga?


"Sepertinya dia sengaja." Aku juga setuju dengan apa yang Munah katakan, sudah hafal bagaikan sifat Wahid.


"Kalian menungguku?" Nah yang ditunggu datang, tapi kenapa dia tidak membawa apa-apa?


"Tenanglah, aku tadi mencari orang yang mau membantu membawakan tas kalian. Ayo masuk?" Dan yang memimpin jalan Wahid, dia yang menunjukkan mana kamarku dan Munah.


"Kalian satu kamar?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Lalu aku sendirian? Harusnya aku dengan Munah, dan kau sendirian?"


"Kau ingin apa yang terjadi denganku dan terjadi pada kalian juga?"


"Maksudnya?" Eh, aku hampiri saja keceplosan. Bukankah Wahid tidak tau tentang aku dan Adam.


"Eh tidak, tidak usah dibahas."


"Ya sudah. Ingat, tadi penjaga villa mengatakan kalau yang menginap di villa ini tidak hanya kita. Ada juga orang lain yang sedang berlibur." Aku dan Munah mengangguk mendengarnya.


Karena saat sampai hari sudah mulai gelap, jadi Wahid mengatur rencana untuk nanti malam. Hanya sekedar minum sedikit dan memanggang ikan.


Aku masuk ke kamar villa, apa yang dikatakan Wahid semuanya benar. Viewnya sangat bagus ketika kubuka gorden yang menjadi penghalang pemandangan luar. Dan, sejuk udara disini jelas terasa saat jendela dibuka, walau hanya sedikit.


"Kau mandilah dulu, setelah itu baru aku. Aku ingin rebahan sebentar. Menyetir sungguh membuatku lelah. Sia-sia saja kalau begini aku minta pijat dengan bi Gina."


"Kau berbicara denganku atau sedang menggerutu?"


"Tidak, harusnya aku meminta pijat setelah pulang dari liburan."


"Terserah kau saja!" Munah membanting pintu setelahnya bernyanyi saat berada didalam kamar mandi. Aku lebih memilih mengabadikan momen ini dengan ber-selfie. Duduk didekat jendela dan mengambil beberapa photo.


Hanya tinggal menunggu malam datang, aku tidak sabar kembali merasakan momen indah beberapa tahun lalu. Dan waktu itu kami masih lengkap, ada Adam. Eh aku segera mengusir pikiran itu, semakin menjauh dan mencoba melupakan tapi malah kenangan terus mengingatkan. Apa sebenarnya Tuhan juga tidak ingin jika aku berpisah dengan Adam?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2