Langit Mendung

Langit Mendung
Kejutan ulang tahun


__ADS_3

POV AUTHOR


Didalam rumah mewah ini, kehangatan terus saja terjalin. Apa lagi sekarang buah hati mereka sudah lahir. Kasih sayang seorang ayah jelas diberikan, masa lalu juga menjadikan trauma tersendiri untuknya.


Anak usia yang baru saja menginjak hitungan bulan sudah memiliki fasilitas yang lengkap. Belum lagi mainan yang tersusun rapi didalam lemari kaca. Bak sudah dipastikan bahwa kelak anaknya mau memainkannya. Robot Lego yang berharga puluhan juta, mobil-mobilan dengan harga yang fantastis. Meski sudah sering dikatakan pada istrinya itu sangat berlebihan, tapi sepertinya seorang Husein ini memang tidak peduli kalau soal menghamburkan uang untuk anaknya.


"Jangan lupakan anak perempuan mu mas." Selalu kata-kata itu yang diucap oleh sang istri. Sekedar mengingatkan agar tidak ada rasa iri dihati Kinara.


Kedua baby sitter yang dipilih khusus oleh mereka juga terkadang masih heran. Setiap kali melihat tuan mereka pulang dengan membawa mainan.


"Mas, sudah cukup. Besok jangan membelinya lagi." Senyuman itu malah mengembang. Dia acuh dan lebih memilih untuk melihat putra kecilnya.


"Mas?" Dia beralih ke istrinya sekarang.


"Sudahlah, meskipun Kinara tidak mendapatkan kasih sayang dulunya. Tapi dia juga ku perlakukan dengan seperti ini." Heh, bisa apa sekarang?


"Dia sedang tidur, sudah nanti saja kalau sudah bangun. Ayo, sekarang mandilah." Tarikan diujung jas membuatnya tidak bisa menolak. Kedua baby sitter itu tampak menunduk, tapi sesekali melihat apa yang sedang dilakukan tuan dan nyonya mereka. Ingin tertawa takut kalau ditanya kenapa.


"Usia tidak mengurangi ketampanannya ya?"


"Hei dia adalah tuan kita. Jagalah bicaramu, jika nyonya mendengarnya bagaimana?" Mereka terkikik geli.


"Aku yakin, saat usia muda dulu tuan Husein pasti paling tampan di sekolahnya."


"Eh lihat nona Kinara. Dia sangat terlihat cantik dan elegan meskipun hanya memakai kaus saja. Ahhh beruntungnya kita bisa menjadi baby sitter untuk anaknya." Mereka bergosip tanpa sadar sedang berada didalam rumah.


"Iya, eh nona Kinara pergi ya? Dia sedang liburan saat ini. Oh betapa indahnya jika aku bisa bertukar nasib dengannya. Semua yang dia inginkan pasti akan terwujud." Salah satu baby sitter itu tersenyum dan mengadahkan padangannya ke langit kamar. Entah apa yang saat ini dia banyangkan.


"Kau pasti tidak tau kan? Kalau sebenarnya Nona Kinara sudah memiliki anak?"


"Hah??? Kau, kau bercanda ya? Mana mungkin!! Usianya masih sangat muda, dia juga belum menikah. Bagaimana bisa memiliki anak?"


Ini sudah termasuk pelanggaran dalam bekerja, karena salah satu aturan ketat dirumah ini adalah paling tidak diijinkan menceritakan tentang tuan mereka. Apapun yang terjadi didalam rumah ini tidak boleh diceritakan. Tugas mereka hanya bekerja sesuai bagian masing-masing. Menerima gajih yang jauh lebih besar dari para ART ataupun baby sitter pada umumnya.


Tapi jika sudah begini, rasa penasaran mana mungkin bisa menutup begitu saja. Ada rasa semangat yang semakin ingin tau.

__ADS_1


"Aku mendengar cerita bahwa dulu nona Kinara tidak tinggal disini, tapi setelah dia ketahuan hamil dan melahirkan. Barulah nona tinggal disini."


"Ah kau dapat berita ini dari mana sih?" Yang membuka aib langsung menyodorkan ponselnya, memperlihatkan beberapa berita terkini yang masih ada di internet. Meskipun berita utama itu sudah dihapus, tapi rekam jejak digital tidak bisa dihilangkan. Karena ada saja orang yang menyebar luaskan. Hingga saatnya berita itu hilang dengan sendirinya.


"Ha? Lalu, dimana anaknya?"


"Anaknya meninggal."


"Anak siapa yang meninggal?" Gubrak, mereka kaget saat tau ibu dari anak yang mereka asuh masuk. Hentakan suara langkah kaki tidak terdengar karena sangking sibuknya mereka menceritakan aib orang lain.


"Eh tidak nyonya." Mereka menunduk, dan berdiri dengan rapinya.


"Nanti saya akan keluar sebentar, ada urusan. Tolong jaga Renan dengan benar ya."


"Pasti nyonya."


"Itu apa?? Kenapa ada photo suami dan anak saya?" Deg. Layar ponsel masih tetap menampakan berita satu tahun lalu.


"Ini-"


"Coba saya lihat?" Mereka terdiam, membeku ditempatnya. Nafasnya sudah naik turun, kaki melemas. Jika saja ketahuan, sudah dipastikan mereka tidak bisa lagi bekerja disini. Itu yang mereka pikirkan saat ini.


Senyuman tipis itu keluar dari bibir seorang istri.


"Tidak, itu hanya masa lalu. Sebaiknya jangan lakukan hal ini lagi. Jangan pernah mencari tau hal yang bukan urusan kalian. Karena semakin banyak mencari tau, semakin sedikit kesempatan hidup." Deg. Tubuh semakin melemas. Tidak berani menatap hanya menunduk dan memandang kedua kaki mereka sendiri.


"Tidak, saya hanya bercanda. Cukup sampai disini saja, jangan sampai suami saya tau. Dia mungkin tidak akan marah karena itu sebuah fakta. Tapi saya tidak ingin hanya karena ulah kalian dia jadi mengingat masa itu dan bisa mempengaruhi kesehatannya."


"Sekali lagi maafkan kami nyonya."


"Baiklah. Oh iya satu lagi. Kinara itu anak yang baik, bahkan sifatnya jauh lebih mulia dibandingkan kita. Ada sesuatu yang dia punya tapi tidak dimiliki oleh kalian."


Suara lembut itu mengakhiri pembicaraan, dia berlalu pergi dan menyisahkan kedua kaki yang bergetar.


"Padahal hanya ibu tiri, tapi dia sangat menyayanginya."

__ADS_1


"Diamlah! Kau seperti banyak tau saja. Ini semua karena ulahmu!" Betakkan itu langsung membungkam mulutnya.


Di halaman rumah, sudah ada supir yang menunggu sepasang suami istri ini. Yang katanya akan berangkat ke suatu tempat, ada urusan yang sangat penting.


"Tuan, apa ingin berangkat sekarang?" Bi Gina juga menunggu tidak jauh dari depan pintu rumah.


"Bi, sebaiknya kau ikut saja. Sebagai penunjuk jalan. Kau lebih tau apa yang diinginkan Kinara."


"Iya bi, aku juga setuju dengan mas Husein."


Bisa pergi bersama dengan tuan rumah dan satu mobil itu adalah keajaiban ataupun rezeki bagi mereka. Tujuan mereka saat ini adalah, ingin mempersiapkan kejutan ulang tahun Kinara. Karena hari ulang tahunnya tepat jatuh pada esok hari. Sebenarnya bisa saja jika Husein meminta para pekerja yang ada dirumahnya, tapi Intan selaku istrinya meminta agar mereka langsung yang menyiapkan.


"Nah itu gang rumah saya tuan." Kedatangannya kali ini, akan bertemu dengan anak-anak jalanan yang ditolong oleh Kinara. Jelas dia mempunyai maksud jika sudah datang kesini langsung.


"Mereka lucu mas." Senyum itu, adalah senyum kebahagiaan yang sering muncul dari bibir Kinara.


"Anakmu benar-benar luar biasa, semoga Renan juga seperti kakaknya."


"Sepertiku lebih tepatnya."


Setelah selesai dengan urusan membuat rencana dengan membawa mereka datang besok, ada satu lagi yang harus mereka berikan. Sebuah kado, dan itu diserahkan kepada bi Gina yang memilihnya langsung. Karena dia lebih dekat dengan Kinara.


"Maaf tuan, maaf sekali jika saya lancang berkata begini. Ada baiknya jika ibu Namira juga ikut serta, biarkan dia datang. Dengan begitu, nona Kinara merasa kebahagiaannya lengkap." Husein terdiam, dia menoleh kearah istrinya. Dan anggukan itu adalah sebuah jawaban.


"Lakukanlah mas demi Nara."


Bi Gina langsung mengucap syukur saat apa yang dia sarankan didengar.


"Sebentar sayang aku angkat telepon." Istrinya melepas gandengan tangan dan membiarkan suaminya bergerak bebas saat mengangkat telepon.


"Hallo Windu, ada apa?" Husien langsung menoleh kearah istrinya, dengan wajahnya yang memerah.


"Baik." Sambungan telepon berakhir.


"Kita pulang sekarang." Keduanya tercengang.

__ADS_1


"Tapi kadonya belum dibeli mas. Nanggung sudah disini." Posisi mereka berdiri tidak jauh dari pintu masuk menuju toko. Bi Gina tidak berani bertanya ataupun sekedar memberikan saran lagi. Dia tau jika saat ini ada kabar yang membuatnya emosi.


Bersambung..


__ADS_2