Langit Mendung

Langit Mendung
Kakak tampan itu Satria


__ADS_3

Menangis itu adalah kepuasan hati disaat mulut sudah tidak lagi bisa berbicara. Untuk mengungkapkan apa yang dirasa, berupa kekecewaan ataupun rasa sakit yang kita rasakan. Ah sudah cukup rasanya aku menjatuhkan air mata. Bersama Adam, dia tidak langsung mengantarkan aku pulang kerumah ibu. Tapi Adam sengaja membawa berkeliling kota. Dia banyak berbicara tentang kemajuan perusahaan ayahnya. Seakan-akan melupakan penyakit yang katanya tinggal menunggu hari kematian. Ada satu hal yang harus aku akui sekarang. Aku mencintai Adam. Aku benar-benar mengakui perasaan itu sekarang. Entah bagaimana kedepannya, aku hanya berharap Tuhan bisa adil untuk hatiku dan kehidupanku.


Dan sekarang, aku bisa kembali lagi keapartemen. Setelah melihat ibu sudah kembali pulih, dia yang memintaku untuk kembali kesini. Mungkin tau jika aku juga merindukan tempat tidur yang selalu menjadi saksi disaat aku sedang menangis. Jujur, hari ini aku senang, karena ada Munah dan bi Gina yang sedang repot membereskan pakaian bayiku.


"Kau duduk saja, biarkan aku dan bi Gina yang membereskan." Aku saja seperti ratu saat ini. Aku hanya bisa duduk memandang mereka dari pinggiran tempat tidurku. Yang paling bersemangat disini ya Munah. Malah seperti dia saja yang akan memiliki anak.


"Nara, ini terlalu banyak." Bi Gina memintaku menatap kearah lemari baby yang sudah aku beli, bahkan tempatnya saja tidak cukup.


"Itu semua ulah Munah bi. Dia yang berbelanja tanpa tahu aturan." Aku tertawa kecil, tapi yang disindir malah seperti bangga.


"Tidak apa-apa bi, selesai dipakai bisa disumbangkan keorang lain." Ah iya, Munah benar.


Rasanya jantung ini hampir saja keluar dari tempatnya, ketika mendengar suara bel yang berbunyi. Siapa yang datang? Aku langsung berdiri, lalu saling pandang dengan mereka.


"Bi?"


"Kau disini saja, biar bibi yang buka."


"Tenanglah, bi Gina pasti bisa memberi alasan untuk mengusir secara halus siapa yang datang." Munah beralih duduk di sebelahku, mengelus lenganku agar aku tidak panik.


Jika yang datang ayah, itu sangat tidak mungkin. Karena di jam siang seperti ini pasti ayah sibuk dikantornya. Ataupun Adam, bukankah dia sudah mengatakan padaku jika dua hari ini sebelum melakukan ujian kelulusan dia juga akan melakukan pengobatan.


"Apa Wahid? Dia tau kau disini kan?" Munah langsung menggeleng.


"Wahid sedang tidur, tadi dia bilang lagi tidak enak badan." Heh, aku hanya bisa menghela nafas. Lelah menerka lebih baik diam menunggu bi Gina kembali.


"Aku mau lanjutkan susun pakaian bayinya, sedikit lagi."


Aku memperhatikan lemari yang berukuran besar ini, seluruhnya berwarna coklat. Sama seperti yang aku mau, ini sudah terlalu berlebihan jika dikatakan untuk tempat pakaian bayi. Dan aku yakin, tidak semua ibu hamil membeli tempat pakaian anaknya sebesar ini.


"Ah lucu sekali.." Tiba-tiba Munah berteriak, aku langsung memintanya menutup mulut.


Kriek.. Pintu terbuka, bi Gina masuk dengan wajahnya yang bingung.


"Nara itu?"


"Siapa bi? Apa bibi sudah memintanya untuk pergi?" Bi Gina menggeleng, lalu menatap lagi ke arah Munah.


"Adam bi?"


"Bukan, bibi juga tidak kenal. Cuma dia bilang dia kenal Nara. Dia juga bilang." Bi Gina sepertinya sudah sekali hanya untuk sekedar mengatakannya. "Dia bilang, dia tau kalau kau sedang hamil." Deg. Deg. Tidak!! Siapa yang datang? Aku langsung berjalan ke arah pintu, tak ku hiraukan lagi larangan Munah dan bi Gina yang memintaku untuk tetap berada didalam kamar. Aku sangat penasaran, kenapa dia bisa tau? Berarti bi Gina sudah sempat mengusirnya tadi, aku yakin itu.


Aku hanya bisa melihat punggungnya saja ketika keluar dari kamar. Berjalan pelan, hingga aku bisa melihat wajahnya.


"Kak Satria?" Kaget, sumpah. Karena dia berani datang ke apartemen, nekat untuk tetap masuk?


"Kak, kau sedang apa disini?"


"Tidak, aku hanya rindu padamu." Dia malah tersenyum dengan manisnya. Ya Tuhan, aku lupa kalau aku sudah berjanji untuk kembali berteman dengannya.


Dan dengan ramahnya aku menyambut, aku ikut duduk diseberang sofa.


"Kak? Kenapa kau mengatakan hal itu kepada bi Gina? Maksudku kepada orang yang membukakan pintu untukmu?" Aku harus menanyakan hal ini. Kenapa? Ini sangat lah berbahaya, jika bukan bi Gina yang membukakan pintu lalu Satria dengan seenaknya mengatakan kalau dia tau bahwa aku sedang hamil, bukankah itu sangat membuatku malu dan terancam?


"Aku tau, aku tau jika dia adalah pembantu disini. Dan aku yakin, dia juga pasti tau." Deg. Ini hanya sebuah kebetulan, tidak mungkin jika Satria mencari tau semua tentangku.


"Tapi kak, bukankah kita juga sudah sepakat? Untuk kembali berteman, tanpa harus membahas kehamilanku?" Satria mengangguk, dan meminta maaf padaku. Aku beranjak dari dudukku, kembali masuk kedalam kamar. Meminta bi Gina untuk menyiapkan air minum dan cemilan. Karena bagaimanapun Satria adalah tamu, ya meski sebelumnya sempat ditolak masuk oleh bi Gina.


"Ayo? Temani aku, bukankah kau juga penasaran ingin melihat siapa laki-laki itu?" Aku menarik tangan Munah yang tengah rebahan di atas tempat tidurku. Beberapa kali dia menguap, mengeluh katanya sepi jika tidak ada Wahid.


"Kau sajalah. Aku ingin numpang tidur sebentar."


"Kau yakin?"


"Tidak!" Munah langsung bangkit, tertawa kecil dan akhirnya mau untuk aku ajak keluar. Bukankah jika Satria adalah temanku, dan dia juga harus menjadi temannya Munah? Aku harus memperkenalkan mereka.


"Kak?" Aku meminta Munah untuk memperkenalkan diri.


"Dia temanku."


"Munah." Munah tersenyum ramah padanya.


"Satria?" Mereka saling berjabat tangan beberapa detik, kemudian kembali duduk. Aku melihat mata Satria yang masih mengamati Munah. Ah apa dia menyukai Munah dari pandangan pertama? Tidak, bagaimana nasib Wahid nantinya? Bukankah jika dilihat dari wajah saja sudah jauh lebih tampan Satria dari pada Wahid?


Ya Tuhan, kenapa otakku berpikir seperti inisih!


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Munah menoleh kearah aku, aku tau jika saat ini dia bingung. Lalu menggeleng lagi ketika menatap kearah Satria.


"Sepertinya tidak. Mungkin karena kita tinggal satu kota, jadi wajar jika melihat wajah tidak asing." Jawabnya santai. Dia bahkan bisa mengambil cemilan yang baru saja bi Gina letakkan ke atas meja.


"Oh iya mungkin." Hening, apa lagi yang harus dibahas sekarang?


"Apa kalian tidak bosan berada dirumah? Terutama kau Kinara, bukankah saat ini kau masih menjalani masa skorsing?" Deg, dan dia tau lagi.


"Aku? Eh tidak."


"Iya bosan. Kak sebaiknya kau ajak Kinara jalan-jalan." Munah!!! Sialan!


***

__ADS_1


Dan akhirnya, aku berakhir duduk didalam mobil. Menuju tempat parkir, aku pasrah saja jika Satria membawaku kemana. Aku menoleh ke arah luar. Aku tidak salah lihat kan? Ah pemandangan ini sungguh menyejukkan mataku. Pasir putih pantai sungguh membuatku ingin segera berlari kesana. Aku menoleh lagi kearah Satria.


"Kau suka kan? Jangan sungkan, bukankah kita sudah berjanji untuk kembali berteman?"


"Terima kasih kak. Tapi, tetap saja aku tidak bisa bergerak sesuka hati." Aku menunduk, benarkan? Kehamilan ku semakin menua, jika aku terlalu lasak yang ada malah mengancam dua nyawa sekaligus.


Sebelum turun, ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Jika dia sudah benar-benar mengganggap aku teman dekatnya, harusnya aku juga tau dimana rumah dan siapa keluarganya kan?


"Kak, sebenarnya waktu dirumah sakit aku terjatuh. Karena melihat seseorang yang aku kira itu kau kak. Jadi aku mengejarnya."


"Lalu kau jatuh?" Satria langsung memiringkan tubuhnya, wajahnya langsung berubah khawatir.


Dan aku pun mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan kandungamu?"


"Sampai saat ini masih baik-baik saja kak. Selepas aku jatuh hanya merasakan nyeri sedikit."


"Apa kau sudah memeriksanya ke dokter?" Aku menggeleng. "Itukan dirumah sakit Kinara, harusnya kau-"


"Kak!" Aku spontan memotong ucapannya. Kenapa dia ini, bukankah dia tau jika aku menyembunyikan hal ini!


"Itu sangat tidak mungkin. Yang ada semua orang akan tau."


"Maaf, aku sampai lupa." Aku mengangguk. "Jadi, apa kau mau turun sekarang?"


"Iya kak." Secepat itu Satria lebih dulu turun, berlari kecil memutari mobil lalu membukakan pintu untukku. Begitu aku berpijak, aku disambut dengan angin pantai yang tidak berujung. Menerbangkan rambut hingga tak beraturan. Panas terik di siang hari seperti sudah tidak lagi dirasakan.


"Ayo?" Aku menyambut uluran tangannya. Mengikuti langkahnya yang membawaku kesebuah gubuk. Hanya kami berdua. Pengunjung pantai lainnya berada jauh, karena bukan hari weekend. Jelas tempat wisata tidak begitu ramai.


Bukan hanya aku, semua orang pasti juga menyukai pantai. Pernah aku bermimpi sewaktu kecil, berlari dibibir pantai bersama ibu dan ayah. Saling mengejar dengan gelak tawa yang lenyap terbawa angin. Ah tapi itu hanya mimpi. Meski aku dan ibu sudah jauh lebih baik sekarang, tapi ayah sudah menjadi milik orang lain.


"Kinara, kau tunggu disini sebentar."


"Kak, kau mau kemana?" Satria tersenyum padaku, dan mengatakan hanya ingin membeli minuman. Aku mengangguk dan tidak memandang langkahnya kemana. Aku lebih tertarik pada ombak pantai yang menerpa karang. Langit biru yang tidak berujung itu, menjadikan ini semua seperti lukisan.


Beberapa menit kemudian, Satria kembali dengan membawakan aku kelapa muda. Yang bisa dinikmati langsung melalui buahnya. Hanya ada sedotan dan jeruk yang menjadi penghias. Sumpah, aku sampai menelan salivah. Membayangkan kesegarannya.


"Ini milikmu."


"Kan sama saja kak."


"Berbeda Kinara." Aku mengerutkan keningku, apa milikku ada obatnya? Aku jadi ragu untuk sekedar langsung menikmatinya.


"Milikmu tidak dicampur dengan apapun, itu murni air kelapa. Karena ibu hamil sangat bagus jika meminum ini?"


"Benarkah?" Satria mengangguk.


"Kau terlalu menyinggung ku kak."


Air kelapa muda, ah segarnya. Masuk kedalam dahaga, glek. Bahkan sampai berbunyi saat aku menelannya.


"Kak, apa hari ini kau tidak ada kegiatan?"


"Tidak, ibuku yang berada di kantor. Aku memang meminta cuti selama dua hari ini. Aku lelah, lagian jugakan aku baru saja belajar menjadi pemimpin. Jadi wajar, jika aku masih merasa stres saat menghadapi masalah perusahaan."


"Wah, kau sudah berhasil jadi pemimpin ya kak."


"Iya. Itu juga bantuan dari ibu." Aku jadi ingin mengenal ibunya. Eh aku berpikir apasih sekarang.


"Kinara?" Aku menoleh ke arahnya, semula tengah meminum air kelapa muda milikku.


"Apa kau masih berhubungan baik dengan ayah dari anakmu?"


Aku mengangguk saja, bingung harus menjawab. Bukan hanya sekedar berhubungan baik, bahkan jauh lebih baik. Tapi tidak mungkin aku mengatakannya, karena Satria pasti akan menghakimiku.


"Dan kau masih menyembunyikan hal ini darinya?" Aku mengangguk lagi. "Lalu apa rencanamu kedepannya?"


"Melahirkan." Satria tertawa dan mengusap-usap kepalaku.


"Iya aku tau itu, orang yang tengah hamil juga pasti akan melahirkan. Maksudku, rencanamu setelah melahirkan, kau melanjutkan kuliah atau tidak? Dan bagaimana dengan anakmu?"


"Eh itu, bi Gina yang akan merawatnya."


"Apa aku boleh membantu?" Hah?


"Membantu? Maksudnya? Membantuku melahirkan?" Satria langsung mengeluarkan suara gelak tawa.


"Bukan, tapi membantu menjaga anakmu."


"Tidak perlu kak. Kau ingin membuat orang-orang curiga, bagaimana kalau dikira kau adalah ayahnya?"


"Aku tidak keberatan, bukankah aku sudah pernah memintanya padamu? Meminta untuk jadi ayahnya." Gila! Dia mengatakan hal itu dengan santainya. Bukankah di dunia ini sangat sulit menemukan orang seperti Satria? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, aku tidak menemukan gerakan ataupun tatapan matanya yang menyatakan kalau dia sedang bercanda.


"Tapi kak. Itu semua sangat mustahil." Aku menunduk. "Sebenarnya aku sangat ingin kuliah diluar negeri, tapi kalau aku melakukannya, bukankah aku jadi sangat jauh dengan anakku. Aku tidak ingin dia merasakan hal yang sama seperti ku."


"Kau? Kau butuh kasih sayang?" Dia menepuk bahunya. "Bersandar lah, aku bisa memberikannya untukmu."


"Eh tidak kak."

__ADS_1


"Kita berteman kan? Kenapa kau malah ragu?" Dia masih berharap aku mau menyadarkan kepalaku. Dan aku merasa tenang, sangat tenang bahkan nyaman saat menyadarkan tubuhku padanya. Kami saling terdiam, Satria tidak bicara apapun lagi. Keheningan ini, membuatku malah semakin larut dalam kenyamanan. Angin juga sangat mendukung untuk aku memejamkan mata, ah baiklah ini hanya sebentar. Tidak mungkin aku bisa tertidur dengan pulasnya dengan posisi seperti ini.


****


Dari mana asalnya, beberapa menit bisa berubah secepat ini? Dari mana datangnya Adam? Dan, kenapa semua menjadi ramai? Aku dan Adam sudah berdiri ditengah-tengah keramaian, menerima ucapan selamat dari mereka semua. Berphoto bersama keluarga, aku menilik lagi kearah sekeliling.


Tidak, aku menikah dengan Adam? Pesta? Sekali lagi, aku ingin memastikan, dan ada Munah disana. Berdiri dengan Wahid. Aku menoleh kearah Adam. Dia malah tersenyum dengan manisnya padaku.


"Apa kita menikah?"


"Kenapa? Bukankah kau juga menginginkan hal ini, agar anak kita memiliki orang tua yang lengkap." Deg. Seketika itu aku melemah. Spontan aku memandang perutku yang sudah membesar. Ini memang tidak salah.


Aku ingin menjerit sekarang!


"Tidak!! Tidak mungkin."


"Kinara? Kinara, kau kenapa?" Aku membulatkan mata ketika melihat orang yang ada di hadapanku ini Satria.


"Kau bermimpi?" Aku mencoba bangun. Eh bukankah tadi aku hanya bersandar di bahunya? Kenapa malah sekarang aku sudah tidur di pangkuannya?


"Kau bermimpi?" Dia bertanya sekali lagi padaku. Tidak ada pernikahan. Angin, dan suasana ombak pantai juga gubuk semua masih sama. Ya Tuhan, aku benar-benar bermimpi.


"Kau tidur begitu pulas ya ternyata? Sampai kau bermimpi?" Aku mengangguk.


"Kau mimpi apa?" Tidak mungkin aku memberi tahunya kan? Sementara ini ada sangkut pautnya dengan Adam. Tidak mungkin. Satria memang tau kalau aku hamil, tapi dia tidak boleh tau siapa ayah dari anak yang aku kandung. Bisa saja dia nekat mencarinya kan?


"Tidak kak. Lupakan saja." Aku merapikan lagi penampilanku. "Kak, jam berapa sekarang?"


"Sudah jam lima sore." Hah? Aku langsung mengambil ponselku. Ya Tuhan begitu banyak panggilan dari Munah dan beberapa pesan. Bi Gina juga sempat menelpon ku.


"Kak, kita pulang sekarang ya?" Satria mengangguk, dia membantuku untuk turun dari gubuk. Ah sia-sia datang kesini, aku bahkan belum membasahi kakiku dengan air. Jadi kedatanganku kesini hanya menumpang tidur saja?


Dan disepanjang perjalanan pulang, harusnya itulah disaat aku bisa memejamkan mata. Tapi tidak ada sedikitpun rasa kantuk yang datang padaku. Aku hanya bisa mengobrol ringan dengan Satria. Dia yang tidak segan menceritakan kisah cintanya yang pernah mencintai seorang perempuan seusianya. Dan aku hanya menanggapi biasa saja, tidak berlebihan ataupun bertanya. Karena pikiranku masih penuh dengan nama Adam. Apa artinya itu jika aku menikah dengannya?


"Nara?" Aku langsung menoleh. Tepat saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah.


"Iya kak?"


"Kau tidak mendengarkan aku bicara?" Aku tersenyum, lalu menggaruk tengkuk yang memang tidak gatal.


"Maaf kak, iya tadi aku melamun." Satria kemudian langsung terdiam. Aku menjadi merasa bersalah. Setiap aku berbicara dia selalu mendengar dan menanggapi, tapi gilirannya, aku malah terkesan cuek. Ah iya ini memang tidak adil.


"Hem, lalu bagaimana perasaan kakak sekarang? Apa jika bertemu dengannya lagi kakak akan menyatakan cinta?" Satria langsung tertawa, apa aku salah bertanya?


"Kenapa kak?"


"Ah tidak Nara. Bagaimana mungkin aku bisa menyatakan cinta pada kekasih orang? Bahkan yang sebentar lagi juga akan menjadi istri orang." Satria mengeluarkan lagi suara tawa renyah.


"Berarti kalau dia putus dengan pacarnya, kakak mau dong?" Aku sengaja menggodanya.


"Hem itu belum aku pikirkan." Haha benarkan, buktinya saja Satria sampai saat ini belum juga punya pacar, bahkan sampai dia lulus dan kuliah diluar negeri. Dia masih tetap sendirian, apakah itu artinya bukan karena menunggu perempuan yang dia kagumi?


Dan keadaan kembali hening, aku juga tidak lagi ingin membahas masalah Satria. Apa lagi soal percintaan, karena aku sendiri saja sebenarnya masih bingung dengan apa itu cinta.


Hingga mobil sudah sampai di apartemen, aku langsung turun dan melarang Satria untuk membukakan pintu mobil. Dan juga menolak tawarannya yang ingin mengantarkan aku sampai ke depan pintu apartemen ku.


Aku berjalan santai menuju pintu apartemen setelah keluar dari dalam lift. Seluruh lampu sudah menyala, karena malam sudah datang. Langit benar-benar gelap. Yang berarti aku pergi sudah berjam-jam lamanya meninggalkan apartemen. Dunia pantai membuatku melupakan apa saja yang membuat pikiranku penat.


"Kau dari mana saja? Kau gila ya?" Baru saja aku membuka pintu, sudah ditatar oleh Munah. Mataku menangkap lagi sosok laki-laki yang duduk di sofa. Munah? Apa dia benar-benar tidak pulang kerumah? Sengaja menungguku disini?


"Bi Gina mana?" Aku malah bertanya dan tidak menjawab pertanyaan darinya. Tapi mataku tetap saja melirik kearah sofa.


"Bi Gina baru saja pulang. Dia juga bilang tadi kepalanya pusing. Itu mungkin gara-gara memikirkanmu." Ya ampun, aku jadi merasa bersalah karena tidak mengangkat telepon darinya.


Aku memperhatikan penampilan Munah dari atas kebawah. Dia malah tersenyum dan mengacungkan kedua jarinya.


"Aku meminjam pakaianmu. Maaf, aku tidak sempat ijin karena kau tidak menjawab teleponku. Aku khawatir, kupikir kau akan dibawa lari oleh kakak tampan itu." Sekali lagi, aku melirik kearah sofa.


"Adam, sejak kapan kau datang?" Aku mengalihkan pembicaraan, lebih baik menyapa Adam dari pada harus melanjutkan pembahasan dengan Munah. Yang ujung-ujungnya akan Adam tanyakan siapa laki-laki yang dimaksud Munah.


"Tidak, baru sekitar setengah jam yang lalu. Itu juga karena Munah yang telepon dan memintaku datang kesini, dia bilang kau dibawa pergi dengan laki-laki tampan." Di akhir kalimatnya Adam tampak menekankan kata tampan. Apa dia cemburu? Eh ya Tuhan, jantungku tidak sesantai seperti dulu saat bertemu dengannya.


"Aku mau mandi dulu." Aku langsung meninggalkan mereka disofa dan masuk kedalam kamar. Tapi sepertinya tidak semudah itu aku menghindar. Munah tetap mengikutiku dan meminta jawaban.


"Katakan, kau dari mana? Kau baik-baik saja kan? Apa dia melukaimu dan juga anakmu?" Heh aku hanya bisa menghela nafas.


"Dan sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana dia bisa tau jika kau sedang hamil?" Aku membawa tubuhku yang lemas ke tepi tempat tidur.


"Kinara, katakanlah."


"Kau kelihatan sangat khawatir, bahkan jauh lebih khawatir dari ibuku." Aku tertawa kecil. "Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Dan soal bagaimana Satria bisa tau jika aku sedang hamil, itu karena dia terlalu jeli melihat orang lain."


"Hah? Memang begitu ya jika laki-laki dewasa?"


"Tidak juga, tidak semua orang. Yang artinya, Satria itu memang pintar." Aku tersenyum dan kembali bangkit dari dudukku.


"Hei, jangan bilang kau menyukainya? Gila! Ingatlah Nara, ada Adam." Deg. Aku langsung berhenti melangkah. Tidak kan? Aku memang tidak menyukainya, aku hanya senang berteman dengan Satria. Karena dia jauh lebih dewasa dariku. Dia bisa memberi motivasi untukku.


"Kalau begitu, kau keluarlah sekarang. Temani Adam, kasian dia sendirian." Aku menutup pintu dan tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan Munah. Ah pasti dia sedang menggerutu dan menuduhku memiliki perasaan dengan Satria! Dasar gila!

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2