
Aku melewati malam tanpa tidur, termenung memikirkan segala hal yang terjadi. Sepertinya jika begini terus aku bisa kembali depresi. Dan entah seperti apa juga penampilanku sekarang. Kantung mata pasti sudah jelas menghitam. Beberapa kali pintu kamarku diketuk. Entah itu pelayan ataupun bi Gina yang mengantar sarapan pagi ku. Sekalipun ayah aku tetap tidak perduli.
Bagiku, aku sudah tidak perlu menjelaskan lagi. Karena semua sudah jelas, aku dan Adam memang bersalah. Kalaupun ayah datang menemui ku didalam kamar, aku yakin ayah akan tetap menyalahkan aku.
Aku beralih ke balkon kamar. Memegang besi pembatas dan melihat indahnya langit. Kuhela nafas sambil merentangkan tanganku. Tuhan, akankah ada keajaiban untuk aku bisa melewatinya? Kembali bahagia misalnya. Ah aku yakin Tuhan juga tidak mau mengabulkan doa orang yang kotor sepertiku.
Gubrak!!! Aku langsung menoleh.
"Suara apa itu?" Aku melihat pintuku didobrak! Gila, siapa yang melakukanya??
"Nara?"
"Munah, kau??"
"Bukan aku, tapi dia." Munah menunjuk kearah Wahid. Aku terdiam, dan melihat apa yang mereka bawa saat ini?
"Maaf, soal pintu kamarmu. Ayahmu sudah memberi ijin dan bahkan menyiapkan tukang bangunan untuk memperbaiki." Tidak, aku tidak butuh penjelasan itu. Tapi?
"Nara, selamat ulang tahun." Haaaa!!! Aku bahkan lupa hari apa ini?
"Semoga kau panjang umur dan sehat selalu. Silahkan kau tiup lilinnya." Aku termangu.
"Hei, tiup lilinnya." Mataku memanas, ah tidak. Aku menangis haru, ternyata Munah masih mengingat hari ulang tahunku.
"Duduklah." Munah menepuk sofa didalam kamarku.
"Nara, aku memiliki kado istimewa untuk mu." Wahid menyerahkan papar bag, yang aku yakin isinya adalah pakaian.
"Kau bersihkan lah tubuhmu, setelah itu kau coba. Aku ingin melihatnya apa kau cocok memakai itu."
"Tapi?" Munah mendorong tubuhku untuk masuk kedalam kamar mandi.
"Sudah sana, cepat ya. Aku dan Wahid menunggu."
Aku mengguyur tubuhku dibawah shower. Membahasi seluruh tubuh mulai dari rambut. Tidak lama, aku hanya butuh 15 menit untuk membersihkan diri. Lalu keluar dengan memakai handuk kimono.
"Wahid, kau tutuplah dulu matamu." Aku hanya mengeluarkan kepalaku saja, kupastikan dia menutup mata barulah aku berlari menuju ruangan ganti.
Kubuka paper bag pemberian Wahid.
"Kenapa baju kebaya?" Gumamku.
__ADS_1
Tapi aku tetap mencobanya. Berputar didepan kaca untuk memastikan penampilan ku.
"Wah, pas bagus sekali. Kau kelihatan cantik." Eh dia memujiku saat ini? Kalau Munah marah bagaimana?
"Tapi kenapa harus baju ini?"
"Aku dan Munah akan melakukan sesi photo denganmu. Anggap saja ini kenangan sebelum aku kembali keluar negeri." Bagiku itu alasan yang pas. Tapi bagaimana jika orang-orang dirumah ini tau? Terutama ayah, sementara masalahku saja belum kelar. Dan bagaimana dengan kondisi ibunya Adam?
"Kau berpikir apa? Ayo sini akan kukeringkan rambutmu."
"Tapi aku masih memakai ini?"
"Aku dan Wahid tidak meminta kau membukanya kan?"
"Munah, bagaimana dengan ibunya Adam?"
"Ibunya baik-baik saja." Munah menoleh kebelakang. "Hid, sudah bisa kau panggil sekarang."
"Panggil? Panggil siapa?" Munah diam dan tidak menjawab. Sebenarnya apa lagi yang mereka rencanakan? Aku sudah curiga dan penasaran.
"Mana yang akan dirias?" Aku melihat sosok itu dari cermin, dia membawa tas besar. Siapa itu?
"Untuk apa Munah? Aku tidak mau!!"
"Sudah, kau diamlah. Kita hanya akan melakukan sesi photo saja."
"Apa ayahku sudah pergi?"
"Ayahmu baru saja pergi." Wahid yang menjawab.
"Apa dia tau jika kalian melakukan ini?" Munah dan Wahid mengangguk serempak.
"Kak, silahkan dirias wajahnya. Hingga Nara kelihatan sangat cantik saat diphoto."
Seorang MUA mulai berkutat, rambutku sudah mengering. Aku memejamkan mata, kubiarkan saja apa yang dia lakukan dengan wajahku saat ini. Karena semalam aku tidak tidur, jelas saat merasakan kepala dan wajah disentuh aku menjadi ngantuk.
"Eh." Aku kaget saat akan terhuyung ke depan. MUA itu tersenyum dan mengatakan "ngantuk ya?" ah aku malu sekali.
Entah berapa lama aku duduk dengan diam sambil memejamkan mata. Hanya bisa mendengar suara cekikikan dari Wahid dan Munah. Yang pasti aku berharap mereka tidak mengerjai ku dengan menyewa seorang MUA untuk merubah penampilan ku seperti badut.
"Sudah selesai, coba lihat." Munah langsung berlari, dia tidak henti-hentinya memujiku.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi ya?"
"Terima kasih kak." Aku masih tetap duduk didepan cermin, dan menatap wajahku sendiri tanpa berkedip. Ini benar-benar bukan seperti aku. Aku sendiri saja sangat pangling.
"Ayo kita turun?"
"Hah? Kau gila ya? Dengan penampilanku yang seperti ini? Bagaimana jika orang-orang dirumah menanyakannya?" Munah dan Wahid malah saling pandang dan tertawa.
"Kenapa?"
"Sudah ayo turun. Mereka semua sedang tidak ada didalam rumah." Munah menarik tanganku untuk berjalan keluar meninggalkan kamar.
"Munah, aku tidak bisa. Kenapa tidak photo didalam kamarku saja? Aku benar-benar tidak ingin keluar kamar."
"Kau ingin mengecewakan Wahid ya? Dia sudah membayar mahal hanya untuk make up saja. Kau sendiri tau kan bagaimana pelitnya dia? Jika aku berada di posisimu aku akan sangat bersyukur karena bisa mendapatkan kejutan seperti ini. Heh, andai saja kau adalah aku." Munah mengubah ekspresi wajahnya sesedih mungkin. Hal itu sungguh membuatku sangat tidak tega.
"Baiklah. Tapi janjikan ini tidak akan lama." Munah kembali tersenyum dan mengangguk.
"Sudah ayo?" Wahid sepertinya tidak sabar. Terbukti dia berjalan lebih dulu.
"Kita mau photo dimana?"
"Dihalaman rumah ayahmu."
Aku sudah selesai menuruni anak tangga. Menoleh sekeliling, keadaan benar-benar sepi. Penjaga ataupun pelayan tidak ada yang melintas. Kemana perginya mereka semua? Apa sedang istirahat dibelakang rumah? Lalu ayah dan ibu, aku juga tidak melihatnya.
Apa mungkin mereka sedang berada dirumah sakit ya untuk menjenguk ibunya Adam.
"Munah tunggu sebentar." Aku menghentikan langkahku. Menoleh lagi kebelakang. Aku semakin merasa aneh saat ini. Kenapa hanya melakukan sesi photo saja aku harus memakai kebaya juga make up?
"Kenapa Nara! Apa lagi yang kau pikirkan? Mereka sudah menunggu."
"Mereka? Mereka siapa?" Munah membuang nafasnya secara kasar. Apa aku sudah berlebihan ya dengan cara terus bertanya?
"Nara!! Bukankah sudah ada yang menunggu kita disana? Tukang photo, Wahid?" Eh ya ampun, aku menggeleng dan mempercepat langkahku. Meski satu langkahku kali ini tidak bisa selebar biasanya karena memakai kebaya.
"Nah itu dia pengantin wanitanya sudah datang." Deg deg deg. Ada apa ini? Adam? Ibunya? Ibuku? Dan ayah? Bukankah mereka sedang berada dirumah sakit sekarang? Aku seperti tidak memiliki tulang dan mulut, tubuhku bak terombang ambing kesana-kemari. Mulutku kaku masih menatap halaman depan rumah ayah yang disulap menjadi sebuah dekorasi pernikahan.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucapan demi ucapan mengalir, berdenging ditelinga ku. Tuhan, apa ini juga hanya mimpi??
Bersambung...
__ADS_1