
Dua hari sudah berlalu, aku berada disini dan keadaan ibu juga sudah membaik. Ibu sudah mau berbicara kembali, tersenyum dan makan apa yang sudah dimasak oleh pelayan dirumah. Tapi ada yang jauh berbeda denganku, jika setiap makan aku selalu disuapi oleh ibu. Dan yang aku pertanyakan, kemana suami dan anak tirinya? Mereka tidak kunjung pulang sampai sekarang.
Disini aku dan ibu duduk. Dibelakang rumah yang tersedia gubuk minimalis. Beberapa pelayan sudah stay berdiri tidak jauh. Siap melaksanakan apapun jika aku ataupun ibu membutuhkan sesuatu. Menikmati waktu di penghujung sore, dengan di suguhkan keripik kentang balado. Aku memakannya sambil memainkan ponsel. Sebenarnya jika menurut aturan kesehatan, jelas makan sambil tiduran itu dilarang. Tapi aku sudah terlalu nyaman beberapa hari terkahir harus tidur dipangkuan ibu.
"Ibu berhutang padamu." Aku mendongak, sambil mengunyah kualihkan pandangan dari layar ponsel menatap ibu.
"Berhutang?" Jika berhutang kasih sayang itu memang benar.
"Iya, bukankah kau yang membayar administrasi dirumah sakit? Ibu akan menggantinya, kirim saja nomor rekeningmu. Ibu akan mengirimkan uangnya sekarang." Aku langsung bangkit, dan duduk. Jujur, aku sangat bingung. Jika aku mengatakan bahwa ayah yang membayarnya, bukankah ibu langsung merasa benci. Dan jika aku berbohong, maka aku juga akan menerima uang yang harusnya tidak untukku.
"Bu, tidak usah."
"Kenapa? Bukankah itu memakai uang bulanan yang diberikan ayahmu?" Deg.
"Bu." Aku meletakkan ponselku. Meraih kedua tangan ibu. Sekarang aku yakin, jika aku menyayanginya. Kalau saja aku sedang tidak hamil, aku tidak ingin kembali ke apartemen, lebih baik hidup dengan ibu. Itupun kalau om Asraf tidak kembali lagi kerumah ini.
"Sebenarnya aku juga tidak tau siapa yang membayarnya. Yang pasti ada orang baik yang membantu ibu."
Ibu langsung menggeleng. "Tidak mungkin Kinara. Ibu juga tidak punya teman dekat."
"Buktinya ada Bu. Dia yang membayarnya."
"Siapa? Tidak mungkin jika kau tidak tau Nara. Bukankah namanya juga akan tertera dimeja resepsionis."
"Ayah." Jawabku lirih. Ibu langsung membulatkan matanya, wajahnya langsung berubah. Membuang padangannya dariku, melihat ke arah lain. Kulihat nafas ibu naik turun tidak terkendali.
"Ibu, jangan emosi."
"Kenapa dia selalu mencoba baik denganku."
"Yang ibu sebut dia itu ayahku Bu." Ibu langsung terdiam. "Bolehkah sekarang aku bertanya sesuatu pada ibu?"
"Katakanlah." Jawab ibu tapi masih belum mau melihatku. Apa rasa benci itu muncul lagi? Apa ibu belum sepenuhnya memberiku kasih sayang?
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu dan ayah dulu? Sampai ibu bisa menikah dengan ayah? Bukankah setiap kali bertengkar aku selalu mendengar jika kalian mengatakan tidak pernah memiliki cinta?"
"Nara!" Ibu membentakku dengan nada bergetar menahan tangis.
"Bu, aku sudah dewasa. Sudah sepantasnya aku tau. Dan ini juga ayah yang meminta, sebaiknya ibu yang mengatakannya padaku. Dan kenapa ibu sangat membenciku? Seakan-akan ibu tidak ingin aku lahir ke dunia ini menjadi anak ibu."
"Nara, itu hanya masa lalu yang pahit."
"Pahitnya masa lalu itu, dan sekarang akulah yang menelan dan menjalaninya Bu." Mataku, ah tidak. Susah sekali menahannya agar tidak jatuh membasahi wajah.
"Kau yakin ingin mendengarnya?" Aku mengangguk. "Berbaringlah lagi." Ibu menahan air matanya agar tidak jatuh. Berbeda denganku yang sudah menjatuhkan beberapa kali.
"Dulu, ibu dan ayah hanya tetangga biasa." Deg, aku langsung menelan salivah. Semoga dugaan ku tidak benar. "Jarak usia kami berbeda dua tahun. Kami berteman selayaknya tetangga. Hingga kami kuliah dan baru berjalan satu semester. Ibu mengalami hal yang tidak pernah ibu duga sebelumnya. Kedua orang tua ibu harus pergi keluar negeri selama satu Minggu. Dan saat itu hujan petir datang, malam pertama kalinya ibu berada dirumah sendiri. Tidak seperti sekarang, yang memiliki pelayan dirumah. Kalaupun ada, mereka akan pulang hari dan tidak tinggal dirumah." Sudah, jalan cerita awal yang aku dengar sudah menjerumus kearah negatif.
"Dan tiba-tiba mati lampu, ibu menjerit ketakutan. Mungkin saat itu orang tua ayahmu meminta untuk dia datang melihat keadaan ibu. Dan benar, ayahmu datang. Dia menemani ibu, kami tidak melakukan apa-apa. Tapi anehnya bisa tertidur satu kamar hingga pagi menjelang. Dan disitulah, keluarga yang tau termasuk orang tua ibu, nenek dan kakekmu. Mereka sepakat untuk menikahkan kami."
"Kenapa ibu tidak menolak?"
"Tidak bisa, mereka menganggap kami sudah melakukan sesuatu. Kalaupun terbukti tidak, maka nama kedua keluarga akan tercoreng. Dan akhirnya kami sepakat menikah. Ibu yang masih terus melanjutkan kuliah setelah menikah, begitu juga dengan ayahmu. Hingga perjanjian itu dilanggar, ibu hamil. Dan berhenti kuliah. Lalu setelah lahirnya kau ke dunia ini, ibu kembali melanjutkan kuliah ibu. Dan disitulah, pertengkaran terus terjadi. Ayahmu selingkuh dengan teman kuliah ibu, begitu juga dengan ibu. Merasa tidak memiliki cinta ataupun dicintai. Hingga akhirnya, setiap bertemu yang ada hanya pertengkaran."
"Bu. Apa sampai saat ini ibu belum bisa menerimaku?"
"Tidak. Sejak awal ibu sudah menerimamu. Hanya saja, Wajahmu yang terlalu mirip dengan ayahmu, membuat ibu selalu emosi jika melihatmu." Jadi apa aku harus melakukan operasi?
"Rasa bersalah yang ibu punya terlalu besar Kinara. Sejak kau bayi, ibu tidak pernah memberimu kasih sayang layaknya seorang anak. Maafkan ibu."
"Apa itu alasan ibu yang selalu meminta cerai kepada ayah?" Ibu mengangguk.
"Ibu sangat syok ketika kehilangan calon anak ibu, kenapa? Karena kali ini, adalah hasil buah cinta. Bukan karena keterpaksaan."
"Bu? Aku ingin masuk ke kamar." Aku tidak bisa lagi menahan sesaknya dada. Aku ingin menjerit dan menangis sekencang-kencangnya.
"Kinara?" Tidak peduli dengan panggilan ibu, aku terus berjalan sambil menghapus air mata yang menetes. Jujur, meskipun sudah tau kenyatannya, tapi rasanya aku benar-benar seorang anak yang tidak diinginkan. Apakah jika aku menikah dengan Adam, nantinya rumah tanggaku akan seperti ayah dan ibu?
Dan aku juga ingin seperti ibu, ketika habis melahirkan aku akan melanjutkan kuliah. Apa anakku nantinya juga akan merasakan hal sama denganku?
"Ya Tuhan, kutukan apa yang kau berikan kepada aku dan ibuku? Kenapa jalan cerita kami begitu sama? Bedanya ibu masih bisa menjaga kesuciannya hingga dia menikah. Tapi aku? Ya tahun." Aku terduduk disamping tempat tidurku. Entahlah, aku memukul perutku sendiri.
Jua, Juanda! Maafkan ibu nak. Jika kau lahir ke dunia, apa kau juga akan membenciku?
Hiks.. Aku selama hidup bertahun-tahun, ibu baru kali ini menganggap ku ada. Menganggap sebagai anaknya. Meksipun aku merasa sudah ada perubahan sikapnya padaku. Bukankah tetap sakit jika menerima kenyataan ini?
Kondisiku sekarang, benar-benar sudah berantakan. Aku ingin mati saja setelah tau kenyatannya. Kenapa sekarang aku malah kehilangan semangat?
Aku hanya melirik ketika ponselku berbunyi. Ternyata Munah yang menelponku. Pasti dia akan menanyakan keadaanku sekarang. Aku menolak panggilannya, melemparkan asal ponselku. Dan kembali menangis. Tapi kali ini, aku benar-benar tidak dendam dengan ibu, tidak benci dengan ibu. Aku yakin, hari-harinya sangat berat yang dijalani sewaktu mengandung aku. Dan juga memikirkan nasib anakku yang lahir nantinya. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup.
***
"Kinara? Kinara? Bangunlah." Suara khawatir itu terdengar di telingaku. Aku merasa sangat lemas, membuka mata dan melihat orang yang tidak asing itu ada di depanku.
"Munah? Dimana ibuku?"
"Ibumu ada dibawah bersama Wahid, aku sengaja datang kesini, karena aku merasa kau sedang tidak baik-baik saja saat tidak menjawab telepon dan membalas pesan dariku." Munah membantuku untuk berdiri, ternyata sangking lelahnya menangis aku jadi tertidur dilantai.
"Katakan sebenarnya apa yang terjadi?" Aku sudah duduk dipinggiran tempat tidur, dengan kedua tangan menopang kebelakang.
"Masa lalu ayah dan ibuku, hampir sama dengan apa yang aku alami sekarang. Bedanya, ibu tidak hamil diluar nikah." Munah langsung terlonjak kaget, semula dia duduk dan langsung berdiri begitu mendengar aku berbicara.
"Benarkah? Kau sudah menanyakannya langsung dengan ibumu?" Aku mengangguk.
__ADS_1
"Pantas saja ibu sampai mengalami depresi ketika keguguran. Tapi jika itu tidak terjadi, aku juga tidak akan berada disini. Dan entah sampai kapan harus menahan rasa penasaran yang selalu hadir disetiap harinya."
Mood ibu hamil itu memang sering berubah, jika beberapa jam lalu aku ingin menetap disini dan kembali tinggal bersama ibu. Tapi sekarang, aku malah ingin pulang ke apartemen.
"Aku tidak tau, bagaimana ibuku bisa menjalani hari beratnya. Sewaktu mengandung aku. Ah aku yakin Munah dia sangat menderita."
"Sudahlah, baiknya kau contoh ibumu yang kuat hingga bisa melahirkan mu ke dunia. Tapi, jangan pula kau membenci ketika anak itu lahir."
Munah memintaku untuk membersihkan diri. Aku juga sangat ingin mengguyur tubuhku dibawah air. Meredamkan segala sesuatu hingga kepalaku dingin kembali. Merapikan lagi penampilanku yang sempat semrawut. Munah membantuku menyisir rambut, aku duduk diam di depan cermin setelah selesai mandi.
"Munah, apa sudah ada kabar tentang Adam?"
"Wahid bilang, Adam sudah memberi kabar padanya. Dan sudah bisa kembali masuk ke sekolah."
"Bisakah aku meminta bantuanmu?" Munah mengangguk.
"Katakan padanya, aku ingin bertemu." Aku rindu! Banyak yang ingin aku ceritakan dan tanyakan. Bagaimana kondisinya saat ini? Jika dia menjalani terapi harusnya keadaannya juga sudah jauh lebih baik, meskipun belum dinyatakan sembuh.
"Sudah selesai. Kita turun sekarang ya? Temui ibumu dan Wahid, mereka ada diruang tamu."
"Kau duluan saja. Aku akan menutupi perutku dengan korset."
"Ah tidak, aku menunggumu saja." Heh, aku bisa apa sekarang? Kekhawatiran Munah sudah melebihi ibuku.
Setelah kurasa sudah selesai, aku mengajak Munah untuk keluar kamar. Dia tetap menggandeng lenganku seraya menuruni anak tangga. Dari kejauhan sudah terlihat sosok ibu yang duduk. Dan Wahid, dia yang mendengar langkah kaki berdetak dengan lantai langsung menoleh. Aku tersenyum kearahnya. Wahid juga membalas senyumku, hanya saja wajahnya yang menunjukkan kekhawatiran. Ada apa? Tidak mungkin kan, kalau Munah memberitahunya jika aku sedang hamil sekarang?
"Duduklah disamping ibumu." Munah melepas tanganku dan mendorong tubuhku pelan untuk duduk disamping ibu. Aku memang tidak keberatan, tapi sebagaimana ibu melihatku mengingat ayah, begitu juga denganku. Melihatnya sekarang malah lebih merasa kasihan.
"Apa kalian akan pergi?" Munah dan Wahid saling pandang.
"Iya Tante. Bolehkah kami membawa Kinara keluar sebentar?" Hah? Sialan! Kenapa Munah tidak mengatakan ini padaku tadi!
"Apa kalian sudah makan?" Mereka menggeleng secara bersamaan. "Kalau begitu ayo, makanlah dulu."
"Ta-" Terlambat, ibu sudah berdiri. Aku memang lapar, tapi lain dengan mereka. Mungkin akan merasa segan.
"Ikut saja."
Duduk di meja makan, dengan hidangan yang mewah. Aku jadi rindu masakan bi Gina. Walau lebih sering masak sup saja, tapi aku suka. Tidak melulu harus memakan ayam.
"Kinara, kenapa kau makan sedikit sekali?" Ibu menambahkan lagi nasi kepiring ku.
"Ibu sudah."
"Wah, Munah kau makan banyak sekali. Pasti kau tidak makan sejak pagi ya?" Dengan gamblangnya Wahid mengatakan hal itu. Para pelayan tampak menunduk, tapi bahu mereka bergetar karena menahan tawa. Dasar tidak tau tempat! Aku tau jika Munah sudah skakmat jadi hanya bisa tersenyum sambil mengeratkan gigi. Mungkin kalau tidak ada ibu disini, Munah sudah menghajarnya sekarang.
"Sudah ayo makan, kalau kurang bisa tambah." Makan dalam keheningan.
"Buka mulutmu." Aku membuka mulut, ternyata aku hanya ingin disuapi oleh ibu. Benarkah? Ah iya, makanan yang aku kunyah rasanya jauh lebih enak.
"Buka mulutmu?" Aku langsung mendongak. Ya Tuhan, kenapa Wahid tidak merasa segan ada ibuku disini.
"Tidak apa-apa, Tante juga pernah muda."
"Iya, ayo buka mulutmu." Dia memaksa Munah untuk membuka mulut. Wajahnya sudah memerah, tapi tetap menerima suapan yang diberikan Wahid.
Tawa renyah keluar begitu saja dari mulutku. Mendengar Munah mulai menggerutu kesal karena tingkah Wahid.
Selesai makan, aku pamit pada ibu untuk pergi bersama mereka. Entah kemana tujuannya aku pun tidak tau. Pertengkaran yang tertunda dimeja makan kini lanjut didalam mobil. Munah tidak henti-hentinya mengomel. Meskipun bukan aku yang terkena omelannya. Tetap saja kupingku panas mendengarnya.
"Munah, apa kau bisa berhenti bicara."
"Kau lihat kan, dia tidak tau malu. Ada ibumu Kinara, dan para pelayan yang melihat. Kurasa itu tidak pantas."
"Kau dengar Nara, berarti kalau tidak ada mereka pantas kan?" Ah aku mulai bosan, mobil juga belum melaju.
"Kalau kalian ingin bertengkar, silahkan. Aku akan turun dan kembali kedalam." Krik.. Krik.. Hening seketika.
Wahid langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Berhasilkan, kini giliran ku yang bertanya. Kemana mereka akan membawaku sebenarnya.
"Kalian mau membawa aku kemana?"
"Hem, ada cafe buka baru di daerah sini. Kau harus tau, tempatnya enak." Tidak, menurutku masih jauh lebih enak cafe yang ada dipinggir danau.
"Munah, bukankah kau yang bilang jika Adam sudah memberi kabar ke Wahid?" Munah mengangguk, dan memintaku untuk langsung bertanya pada Wahid.
Nanti sajalah, aku tidak ingin mengganggu fokusnya dalam menyetir. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, hingga sampai ke tujuan.
Ah aku mendesah kesal, tempatnya tidak seindah cafe dipinggir danau. Menurutku ini biasa saja. Dan tidak terlalu ramai disini, mungkin hanya ada beberapa pengunjung saja. Banyaknya tempat yang disediakan tampak kosong.
"Jangan bilang makanannya yang enak. Kita sudah makan tidak mungkin makan lagi kan." Munah malah tertawa.
"Kenapa harus kesini sih." Lagi-lagi aku seperti menyesal sudah ikut mereka.
"Kita duduk disana ya." Wahid menunjuk tempat yang jauh dari panggung cafe. Iya aku lebih suka ketenangan. Tapi mereka berdua benar-benar sengaja tidak mendengarkan aku yang menggerutu.
"Kau tidak suka tempatnya?" Aku jelas langsung menggeleng dengan memanyunkan bibir. Menarik kursi yang terbuat dari kayu dan dipernis ini dengan sedikit keras.
"Nara, kau minum apa?"
"Aku tidak haus."
"Ayolah, kita hanya tinggal menunggu sese-"
__ADS_1
"Hai, kalian sudah sampai?" Deg. Suara yang aku rindukan itu? Tidak, tidak mungkin Adam ada disini kan? Bukankah dia sedang sakit sekarang?
"Ah ini dia orangnya yang kita tunggu. Duduklah Dam."
"Kalian sudah lama?" Wahid dan Munah yang menjawab. Sungguh jantungku berdebar saat ini, aku bisa melihat lagi senyum itu. Dan Adam, dia tersenyum kepadaku? Kenapa aku malah canggung begini?
"Kinara, apa kau sehat?"
"Seharusnya aku yang bertanya, apa kau sehat Adam?" Adam tersenyum dan mengangguk.
"Seperti yang kau lihat." Jawabnya santai. Tapi matanya seperti orang yang kurang tidur.
Jika saja, hanya aku berdua disini dengan Adam. Aku akan menghakiminya, bagaimana bisa dia tidak membalas pesan dan menjawab telepon dariku. Tidak memberi kabar padaku, sementara dia bisa membuat janji bertemu dengan Munah dan Wahid. Ah apa aku pantas? Aku ingin marah sekarang. Tapi, bukankah aku hanya teman. Dan Adam juga berhak tidak memberiku kabar.
"Apa kau benar-benar tidak ingin memesan minuman?" Wahid menawarkan lagi padaku.
"Aku, aku mau jeruk hangat." Eh aku sedang tidak ingin meminum es sekarang.
"Kau tidak makan?" Aku menggeleng.
"Kami sudah makan lebih dulu sebelum pergi, tadi ibunya Nara mengajak makan. Tidak mungkin kan kalau menolak?"
"Ibunya Kinara?" Munah mengangguk, berarti soal ini Adam belum tau.
"Sudah beberapa hari inikan Kinara tinggal dirumah ibunya."
Adam hanya mengangguk. Wahai mulut, rasanya sudah tidak sabar untuk bertanya tentang penyakitnya. Kenapa Adam selama ini masih bisa terlihat santai sih?
"Kau sedang tidak sakit kan?" Disela-sela pembicaraan Munah dengan Wahid, Adam bertanya padaku. Mungkin ini kesempatannya agar mereka berdua tidak mendengar.
"Tidak."
"Kenapa kau hanya diam? Kau marah padaku?"
"Aku tidak berhak untuk marah." Aku mulai meneguk minuman hangat yang aku minta. Aku bahkan tidak menoleh kearah Adam. Ah kenapa bayangan masa lalu ibu masuk kedalam pikiranku saat ini? Bagaimana ya kalau aku menikah dengan Adam? Apa rumah tangga ku nantinya akan sama seperti ibu dan ayah? Eh jangan! Bukankah aku tidak ingin menikah?
"Kau melamun?" Aku langsung menoleh, sialan kepalaku tidak bisa dikondisikan.
"Maaf, aku tidak membalas pesanmu beberapa hari ini."
"Aku tau, kau sedang menjalani perobatan karena penyakitmu kan? Berhentilah berpura-pura sehat Adam." Adam langsung terdiam. Dia memalingkan wajah dan meneguk minumannya. Lalu kembali lagi berbicara dengan Wahid dan Munah. Membahas ujian kelulusan yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan tempat kuliah?"
"Kalau aku sih, sudah didaftarkan ayahku di universitas yang tidak jauh dari tempat ayahku bekerja." Munah lebih dulu memastikan masa depannya sudah terjamin.
"Kalau aku, kalian kan sudah tau." Dengan sombongnya Wahid juga membanggakan kuliahnya nanti diluar negeri. Ah aku jadi iri, pasti asik. Jika aku mau aku bisa saja meminta pada ayah. Tapi bagaimana dengan anakku nantinya?
"Kau bagaimana Nara?"
"Eh, aku? Aku belum tau." Aku tersenyum, Munah menunduk setelah melihatku. Dia pasti tau apa yang aku rasakan sekarang.
"Adam, apa yang dikatakan ibumu benar?" Munah bertanya, ah akhirnya dia yang berani menanyakan hal ini.
"Apa itu?"
"Kau akan pergi setelah ujian kelulusan untuk berobat diluar negeri." Lama Adam menjawab, dan hanya menggenggam kedua tangannya. Lalu menoleh ke arahku. Kenapa? Bukannya langsung menjawab, aku juga sudah tau.
"Hem, ibuku mengatakannya pada kalian?"
"Iya."
"Sebenarnya aku tidak mau."
"Kenapa?" Aku yang menjawab dengan ketusnya. "Apa kau tidak ingin sembuh?"
"Karena aku tau, aku memang tidak akan sembuh." Deg. Aku tidak rela jika harus kehilanganmu Adam. Apa rasa ini sudah melebihi hanya dari sekedar teman?
"Hei, kau jangan terlalu lemah begitu!" Wahid menepuk bahu Adam memberi semangat. Dan aku? Aku memalingkan wajah saat Adam melihat ke arahku.
"Aku memang terlalu lemah." Aku benci laki-laki seperti itu Adam! Kuatlah!
Aku sudah kehilangan semangat. Bukan aku berharap bisa hidup bersama Adam dan anakku nantinya, bukan itu. Aku hanya ingin dia sembuh dan masih bisa berteman denganku seperti biasa. Meskipun itu mustahil, tapi Tuhan pasti mau mendengar doaku.
Langit, bisakah kau menjadi teman curhatku malam ini? Aku terlalu malu untuk mengakuinya dihadapan teman-temanku. Tentang suasana hatiku. Aku merasa kacau sendiri! Apa Wahid dan Munah juga sama seperti ku? Bersedih karena penyakit Adam? Kalau iya, berarti rasa khawatir dan perasaan yang aku miliki masih sama.
"Ikutlah denganku, ada yang ingin aku bicarakan sebentar." Adam berbisik di telingaku, ketika kami sudah memutuskan untuk pulang.
"Biar aku yang antar Kinara pulang." Munah dan Wahid jelas setuju. Mereka juga perlu waktu berdua kan? Mungkin akan membahas hubungan mereka lagi, yang katanya akan menikah. Jujur, aku masih merasa lucu soal itu.
"Masuklah." Adam membukakan pintu mobilnya. Aku mengangguk, biarlah aku siap mendengar apa yang ingin Adam katakan padaku.
"Kinara?" Aku menoleh. Wajahnya terkesan ingin membicarakan hal yang serius. "Aku tau, kau tidak ingin aku membahas soal ini. Dan perjalanan kita masih panjang. Bahkan kita juga belum lulus sekolah." Deg. Apa ini?
"Tapi, kembali lagi ke masa lalu. Dimana aku merusak kehidupanmu dalam satu malam. Berjanjilah padaku, kau hanya menikah dengan lelaki yang aku pilihkan. Yang siap menerimamu apa adanya. Dengan keadaan mu yang memang tidak suci lagi. Maaf, aku tidak bermaksud mengatur siapa jodohmu. Tapi aku hanya ingin melihatmu bisa tersenyum dan bahagia, meski kita sudah berbeda alam nantinya." Aku menggeleng, aku tidak tau apa maksudnya Adam mengatakan hal ini.
"Kinara, aku hanya tinggal menunggu hari kematian bukan kesembuhan." Deg. Air mataku langsung jatuh.
"Aku menyayangimu Adam." Lirihku, aku tidak bisa lagi berbohong atas perasaan ini. Aku bimbang, Tuhan.
"Jika kau benar-benar menyayangiku, maka dengarkanlah aku Kinara. Satu saja permintaanku. Kau mau menerima lelaki yang akan aku jodohkan padamu. Yang bisa kupastikan dia baik." Aku tidak mampu lagi menjawab, aku hanya bisa menangis tanpa suara sekarang. Menelan pahitnya kenyataan. Tuhan, benarkan? Bahkan aku sudah merasa sakit sebelum benar-benar yakin aku jatuh cinta.
Bersambung..
__ADS_1