Langit Mendung

Langit Mendung
Alkohol mengusik kandunganku


__ADS_3

Gelisah yang tak beralasan. Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemen. Menunggu paket pesanan datang. Karena katanya hanya datang dalam waktu beberapa jam saja. Aku sengaja tidak datang langsung ke tempat penjualan, karena takut ada yang melihat dan bertanya untuk apa membeli korset.


Saat mendengar suara bel aku langsung membukanya, tapi tidak. Yang datang, bukan paket yang aku harapkan. Tapi lelaki yang membuatku harus menggunakan korset itu. Untuk apa dia datang kesini? Apa karena tadi aku tidak masuk sekolah? Heh, kalau begini aku harus tetap masuk dan memastikan keadaan baik-baik saja. Sebelum kejadian itu, aku merasa senang jika melihatnya datang untuk memastikan aku baik-baik saja. Tapi sekarang berbeda, aku malah merasa kalau sedang di intai, dan sepertinya Adam benar-benar ingin tau aku hamil atau tidak.


"Kau mau apa?"


"Nara, bisakah bersikap lembut padaku? Walau aku tau kesalahan ku ini tidak bisa termaafkan." Aku terdiam, dan masih berdiri mematung di tempat.


"Masuklah." Aku lebih mengalah dan mempersilahkannya masuk. "Kau sendiri? Munah mana?"


"Mereka nanti juga datang. Tadi Wahid mengantarnya pulang dulu untuk mengganti pakaian." Aku mengangguk, duduk di sebrang sofa.


"Nara-"


"Stop? Pasti kau ingin menanyakan aku hamil atau tidak kan?" Adam terdiam, dan memandang ke arah dapur. Memanjangkan lehernya.


"Tidak ada orang, bi Gina hari ini tidak datang. Suaminya sedang sakit." Adam mengangguk, dan sepertinya ingin melanjutkan kata-katanya. Ku lihat dia merogoh saku celana, lalu mengeluarkan bungkusan plastik.


"Coba pakai ini, aku harus memastikan kau hamil atau tidak." Deg. Apa itu? Testpack? Tidak, jangan sampai Adam tau.


"Untuk apa?"


"Kau harus mencobanya, ini alat pendeteksi kehamilan. Jika kau tidak hamil maka hanya ada garis satu."


"Tapi Dam, aku juga baru selesai menstruasi. Mustahil jika aku hamil. Waktu Mida menunjang perutku, itu aku sedang merasakan nyeri datang bulan. Makannya rasa sakitnya jadi berkali lipat." Huh, aku sudah setenang mungkin mengatakannya.


"Kau yakin?" Dia mendekat ke arahku, aku diam tidak menolak. Adam mengulurkan tangannya untuk mengusap perutku, kenapa aku tidak menolaknya? Aku malah merasakan ketenangan. Sungguh, apa memang janin dalam perutku yang menginginkannya?


"Eh, sebentar aku mau buka pintu." Aku berdiri, dan meninggalkan Adam, jantungku berdetak tidak karuan saat dia menyentuh perutku. Tidak, aku tidak boleh begini. Aku harus bersikap tenang.


"Makasih ya mas." Ternyata hanya tukang antar paket.


Aku kembali berjalan menuju sofa, duduk dan meletakkan paket yang terbungkus kantung plastik ke atas meja.


"Nara jika kau tidak hamil, apakah kau bisa bersikap seperti biasanya? Berteman denganku?" Aku masih diam, ini bukan hanya sekedar permintaan. "Tapi kalau kau merasa keberatan, maka katakanlah apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"


"Tidak ada." Adam membuang nafas kasar.


"Nara?"


"Dam? Biarkan waktu yang menjawab, ini baru satu bulan yang lalu. Aku juga belum bisa melupakannya. Kau tau kan, aku saja masih mengingat kejadian masa kecilku, tentang orang tuaku. Apalagi ini Dam yang menyangkut masa depanku. Aku tidak bisa berpura-pura menjadi baik secepat itu."


"Baiklah. Tapi jangan pernah jauhi aku Nara." Aku mengangguk lemah, memang benar dia temanku.


"Ini paket apa? Kau pesan baju ya?" Dengan lancangnya Adam mengambil paket ku dan membukanya. Terlambat untukku mengambil dari tangannya.


"Korset?" Menatap ke arahku, Adam menatap ke arahku sambil mengerutkan keningnya.


"Untuk apa? Bukankah kau juga tidak gendut?" Menilik postur tubuhku, aku malah risih sekarang di tatap seperti itu.


"Bukan." Aku merebut dari tangannya lalu berjalan masuk ke kamar untuk menyimpannya.


Ku lihat Adam memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Nara, bisakah kau jujur saja? Aku akan bertanggungjawab." Aku menggeleng.


"Adam, itu korset bi Gina yang pesan. Dia mau memakainya, jadi aku belikan saja." Alasan lagi, ya kau harus percaya kali ini.


"Baiklah aku percaya." Hening, keadaan kembali hening beberapa menit, dan akhirnya aku bisa bernafas lega saat Munah datang bersama Wahid.


"Tara.." Ucap Munah bangga dan memarkan kantung plastik yang dia bawa. Lain hal dengan wajah Wahid yang lesu. Dia bahkan langsung merebahkan di sofa panjang. Menaikan kakinya sesuka hati.


"Itu apa?" Tanyaku.


"Ini makanan, kau pasti belum makan kan?" Aku menggeleng. "Ini hasil merampas dari orang kaya raya yang super pelit." Lagi-lagi dia bangga dengan hasil merampas, tunggu. Aku menoleh ke arah Wahid.


"Iya, merampas dari Wahid haha." Tawa yang di hasilkan Munah seperti bisa menular. Aku dan Adam juga ikut tertawa, tertawa di atas penderitaan Wahid.


"Hid, kau diam saja saat di rampas?" Adam bertanya.


"Dia pintar." Jawabnya lesu.


"Sudahlah, nanti aku yang akan ganti." Aku mengalah, mungkin uang itu akan di gunakan Wahid untuk membeli keperluan yang lain.


"Eh jangan-jangan Nara." Munah langsung mencegahku yang akan mengambil dompet.


"Jangan, sudah kita makan saja."


"Iya Nara, benar makan saja. Setelah ini aku juga akan menghajarnya." Wahid Melirik tajam ke arah Munah.


"Kau berani?" Munah juga menantang dan mendekat ke arah Wahid. Dan secepat itu mereka sudah adu bantal, aku merasa lemas karena terus tertawa bukan karena belum makan.


"Aw." Bantal tepat mengenai perutku. Aku langsung mengaduh sakit.


"Nara, kau tidak apa-apa?" Adam langsung mendekat ke arahku, mengelus perutku yang masih rata. Wajahnya seperti sedang panik saat ini. Kedua orang yang berbuat ulah terdiam dan malah tersenyum memandang ke arahku dan Adam.


"Kalian cocok deh." Eh dia malah bersandiwara bukannya minta maaf. "Iya kan Hid?" Munah duduk di sebelah Wahid.


Aku langsung menggeser dudukku menjauh dari Adam. Bingung dan salah tingkah. Sadarlah, kami hanya teman. Aku tidak ingin pacaran, merasakan cinta lalu menikah. Tidak, aku tidak mau.


"Hei, hanya becanda." Munah tertawa lagi.


"Munah, kalian lain kali hati-hati. Untung cuma bantal, kalau batu bagaimana?" Munah dan Wahid malah saling pandang ketika Adam menegur mereka.


"Kalau batu, lebih baik lempar ke arahnya." Ucap Wahid dan menunjuk ke Munah.


Sudah ku duga, jika berbicara dengan mereka dalam mode serius hanya aku yang bisa. Kenapa begitu? Iya, karena jika aku yang berbicara dalam keadaan sedih, mereka tidak akan bercanda. Kalau begini, percuma juga di tegur, toh aku malah senang melihat tingkah mereka.


Candaan ini kami akhiri dengan makan. Iya, makan hasil merampas. Aku sampai menggeleng ketika membuka makanan, pantas saja yang dirampas merasa sedih wajahnya. Ternyata makanan yang di beli total harga mencapai jutaan. Gila! Bagaimana bisa Munah melakukannya. Eh apa jangan-jangan, dia mencium Wahid lalu meminta uang? Ya ampun aku mikir apa sih? Mana mungkin lah, lagian kalau hanya mencium kening itu juga tanda kasih sayang seorang teman kan. Tidak, aku tidak boleh berpikir buruk tentang Munah dan Wahid. Hanya aku dan Adam saja yang bodoh waktu itu!


"Nara, Nara!!" Aku terkesiap kaget mendengar jeritan Munah.


"Kau melamun! Kau berpikir apasih?" Aku menggeleng.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada."


"Tidak ada air maksudnya?" Mereka saling pandang. Adam juga begitu, bahkan dia sampai berhenti mengunyah. Aku yang saat ini sedang loading berpikir, aku benar-benar tidak mendengar mereka berbicara apa tadi.


"Nara, Munah meminta air minum." Adam berbicara dengan lembut. Aku mengangguk dan langsung berdiri. Eh, hanya minum ternyata. Kenapa aku bisa tidak mendengarnya?


"Ini." Aku meletakkan air tepat di hadapan Munah lalu Kembali duduk untuk menikmati makananku.


"Jika kau memiliki masalah, sebaiknya kau berbicara dengan kami. Meski tidak bisa membantu, tapi setidaknya kau merasa lega tidak harus menyimpannya sendirian." Aku mengangguk mendengar Munah berbicara setelah meneguk air yang aku berikan.


Bagaimana mungkin aku berbicara dengan mereka? Heh, itu sangat konyol. Lagian mana mungkin kalian tidak bisa membantu, pasti bisalah. Bisa sekali malah, tapi masa depanku hancur begitu saja.


"Gimana? Apa sudah ada yang mendengar kabar tentang kepergian kita nanti?" Aku mendengar ucapan Wahid baik-baik, aku tidak ingin tenggelam dalam lamunanku lagi. Mereka jadi curiga sepertinya.


"Aku sudah bertanya, kita berangkat Minggu ini lho. Dan setelah itu nanti akan ada lomba puisi di sekolah. Nara kau ikut ya?" Hah? Kenapa aku!


"Nara?" Adam menoleh ke arahku. "Dia bisa membuat puisi?" Munah mengangguk antusias.


"Karya Nara banyak di pajang di mading sekolah. Tapi itu satu tahun lalu, sebelum kau pindah ke sekolah kami. Sekarang Nara tidak mau lagi-"


"Munah!" Aku memberi peringatan untuknya diam. "Aku tidak berminat."


"Haa.. Nara! Kau harus ikut. Iya tidak hid?"


"Iya benar. Memangnya kenapa sih? Bukannya setiap mengikuti lomba kau selalu menang?" Aku diam tidak menjawab, aku sudah malas. Satu sekolah sekarang sudah tau bagaimana kisah hidupku, itu juga gara-gara Mida. Yang ada setiap aku membuat puisi akan di komentari mereka, yang katanya pasti ungkapan hati tentang anak broken home lah, ini lah. Ah padahal puisi itu di buat memang menumpahkan suasana hati. Sialan? Aku benci sekali dengannya.


"Kita ke club malam ini." Kami serempak menoleh ke arah Wahid. "Adam, jangan bilang kau tidak diberi ijin dengan Elena!" Dia mengancam lebih dulu sebelum ada yang komentar.


"Kau juga? Nanti malam aku jemput." Menunjuk kedua bola mata Munah dengan jarinya. "Dan kau Nara. Kau tunggu saja dirumah biar Adam yang menjemputmu. Aku tidak ingin terjadi lagi, kau mabuk tanpa bisa membawa mobil." Deg. Hal itu? Aku trauma mendengarnya.


Iya, semua gara-gara itu. Ya ampun, aku tidak mau satu mobil dengannya, sungguh.


"Hid, kau saja yang jemput aku ya?" Aku memelas. Tak memperdulikan lirikan Adam saat ini.


"Memangnya kenapa kalau Adam yang menjemputmu?" Aku mencari alasan yang logis, berpikir agar mereka tidak curiga.


"Aku, aku takut kalau Elena tau mereka bisa bertengkar dan putus." Akhirnya aku memiliki alasan yang kuat.


"Memangnya kenapa kalau aku putus dengan Elena?" Deg. Kenapa Adam malah bertanya padaku? Itukan hubungannya, seharusnya dia yang tau rasanya bagaimana.


"Ya aku hanya tidak mau itu, gara-gara aku kau putus nantinya."


"Memangnya kita akan berbuat apa? Sampai Elena berani memutuskan aku?" Sialan! Dia sengaja memancingku sepertinya. Baiklah, jika aku harus pergi dengannya aku tahan agar tidak minum, dengan begitu aku aman jika dalam kondisi tidak mabuk.


"Kalian berdua kenapa sih? Seperti punya masalah yang kita tidak tau." Ternyata sedari tadi Munah memperhatikan. Aku dan Adam sama-sama menggeleng, lalu diam.


"Jadi bagaimana? Kalian mau tidak! Selagi aku berbesar hati untuk menanggung biayanya." Ini aku tidak salah dengarkan??? Seorang Wahid mau membayar?


"Ah kau serius hid?" Dia mengangguk, Munah langsung memeluknya. Memeluk dengan erat hingga leher Wahid terasa tercekik.


"Uhuk-uhuk."


"UPS maaf. Hehe."


Aku duduk menggenggam ponsel, berniat akan menelpon seseorang yang harus tau jika aku pergi kesana.


"Hallo bi?"


"Iya Nara."


"Bibi sedang apa?"


"Bibi baru saja memberi makan suami bibi."


"Apa sudah lebih baik kondisinya bi?" Lama bi Gina menjawab.


"Belum ada perubahan, masih mengeluh sakit."


"Kalau begitu, besok bibi tidak usah datang dulu, tidak apa-apa kok bi."


"Makasih ya Nara."


"Hem bi. Malam ini aku diajak pergi ke club?"


"Kau kan sedang hamil Nara?" Suaranya lebih pelan.


"Iya bi, aku tau. Tapi aku tidak akan minum kok bi."


"Baiklah bibi percaya. Hati-hati, jaga kandunganmu. Kalau ada apa-apa hubungi bibi ya."


Yah, aku lebih memilih untuk pamit dengannya, dari pada harus pamit dengan orang tuaku. Mereka mana mungkin peduli, ah sudahlah. Aku sendiri lelah berpikir buruk tentang mereka.


Secepat itu senja berganti malam, aku sudah siap dengan pakaian. Aku duduk menunggu Adam menjemputku. Duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Melihat beberapa postingan sepasang kekasih yang memamerkan kemesraannya, berandaku penuh dengan itu semua. Tapi tunggu, aku menggeser lagi layar ponselnya. Melihat lagi postingan yang sempat aku lewati.


"Elena?" Aku melihat, Adam tersenyum ke arah kamera sambil merangkul Elena. Mereka duduk di sebuah taman. Ya ampun, begini mesranya? Bagaimana tega aku merusaknya dengan mengatakan kepada Adam kalau aku hamil?


Aku langsung berjalan ketika mendengar bel berbunyi, ya itu pasti Adam.


"Tunggu sebentar, aku ambil tas." Ucapku dan meletakkan ponsel di atas meja lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Aku hanya mengambil tas gendong kecil berwarna hitam, tas yang aku suka. Malam ini juga pakaianku tidak terlalu terbuka. Dan tidak lupa, aku mengambil satu bungkus rokok di dalam lemari, memasukkan ke dalam tas. Lalu siap untuk pergi.


"Adam?" Aku langsung berlari ke arahnya, merebut ponsel ku yang ada di genggamannya.


Aku kalah tinggi dengannya, dengan susah payah aku merebut.


"Adam, itu ponselku. Berikan." Nafasku mulai terengah-engah.


"Nara, kenapa kau takut. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Aku langsung menggeleng.


"Adam! Itu hakku, kau siapa? Tidak berhak harus tau semua rahasiaku." Adam menyodorkan ponselnya kehadapan ku. Tapi dia tersenyum dan melipat kedua tangannya di dada.


"Untuk apa kau memandangi photoku bersama Elena?" Deg. Sialan!!! Aku belum mengembalikannya tadi.


"Tidak ada." Aku menoleh. "Itukan sosial media. Ya jelaslah, bukan hanya photomu saja, tapi juga photo orang lain akan terlihat. Tergantung siapa yang meng-upload nya." Adam diam dan hanya manggut-manggut.

__ADS_1


Aku berjalan lebih dulu membuka pintu.


"Jadi pergi atau tidak? Wahid sudah menunggu." Adam tidak bicara lagi. Sepanjang perjalanan juga dia terus diam.


"Kau tau tempatnya?" Adam mengangguk.


"Kinara, apa besok malam kau ada jadwal?"


"Maksudnya?"


"Ada janji sama orang lain tidak? Aku ingin mengajakmu keluar, hanya mencari angin." Aku mengangguk, tak salah kan. Dia juga masih temanku. Sebelum ini juga aku pernah pergi liburan dengannya, baiklah kali ini aku mencoba berdamai.


"Besok malam aku jemput." Aku mengangguk lagi.


Mobil sudah sampai di salah satu club', tidak semewah club' yang biasa aku sewa. Ah dasar Wahid, memang dia benar-benar pelit ya!


"Memang ini tempatnya?" Adam mengangguk, lalu kami berjalan masuk beriringan.


"Itu mobil Wahid juga sudah terparkir." Aku menoleh ke samping. Benar, Wahid dan Munah sudah lebih dulu sampai.


Aku mempercepat langkahku, mendahului Adam. Dan sampai di satu ruangan yang sudah di jelaskan pihak club'. Aku masuk, melihat Wahid dan Munah yang sudah duduk dengan manisnya, melambaikan tangan saat melihatku masuk.


"Munah, aku diberi hadiah." Dia mengeluarkan tas mahal dari paper bag. Aku meraihnya, benar ini tas mahal. "Wahid yang memberikannya." Ha? Aku tidak salah dengar? Aku menoleh ke arah Wahid, yang wajahnya datar. Tidak, ini pasti paksaan dari Munah.


"Munah, apa kau merampas uangnya lagi?" Munah menggeleng, dan tersenyum.


"Wahid meminta nomor kakak ku, anak dari om ku. Aku memberi syarat, jika mau membelikan tas yang aku mau maka akan ku berikan nomor kakakku." Aku ingin tertawa sekarang, apa boleh?


"Seharusnya bukan club' ini yang aku sewa. Tapi karena uangku juga terkuras karena ulah nenek sihir ini. Maka hanya club' ini yang bisa aku sewa." Baiklah, aku mengerti sekarang. Dasar Munah! Pintar sekali memanfaatkan orang pelit seperti Wahid.


"Hei siapa yang kau sebut nenek sihir? Ingat, kau akan menjadi kakak ipar ku." Wahid terdiam dan mengalah.


Musik sudah mulai hidup, jika kami berbicara juga harus menggunakan suara keras. Aku hanya duduk memandang ke arah mereka. Menyesap rokok yang sudah habis entah ke berapa.


"Nara, ayo?" Adam mengulurkan tangannya. Baiklah, aku tidak akan melukai janin yang ada di kandunganku. Jujur saja, rasanya jika mendengar musik dengan suara bass yang full. Aku tidak bisa menahan diri, terbawa suasana happy. Yang siapa saja memiliki masalah akan merasa terlepas di dalam sini. Wahid menyodorkan satu gelas minuman, hanya satu gelas saja. Aku meminumnya dan kembali mengikuti irama dengan bergoyang bersama teman-temanku. Tapi kami tidak seperti orang-orang yang ada di club' pada umumnya. Kami sadar, ini hanya teman.


Perutku terasa sangat panas, kepala pusing. Mual juga langsung mendera. Badanku tiba-tiba saja melemas bagai tak bertulang. Gerakkan ku tidak selincah tadi, perlahan melambat. Dan gelap, aku berpikir bahwa ini sedang mati lampu.


Aku terbangun ketika sudah ada di kamarku. Ku lihat sekelilingku, semua temanku lengkap. Lalu aku beralih ke samping. Kenapa ada dokter disini? Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa mereka semua tau aku sedang hamil?


"Nara kau jangan banyak bergerak dulu, berbaring saja." Munah melarang ku saat aku akan duduk.


"Saya sarankan, jika belum mengisi perut dengan makanan apapun. Sebaiknya jangan pernah mengonsumsi alkohol." Aku mengangguk.


Kemudian dokter permisi untuk pergi, dan meninggalkan resep obat yang bisa di tebus ke apotek. Adam mengantarkan dokter sampai depan pintu. Sekarang, hanya ada Wahid, dan Munah.


"Apa dokter ada mengatakan sesuatu yang lain dengan kalian?" Munah dan Wahid saling pandang lalu menggeleng.


"Kenapa? Apa kau sebenarnya punya penyakit?" Aku menggeleng.


"Akhir-akhir ini kau sering seperti ini Nara. Katakan lah jika ada sesuatu?" Wahid mendekat ke arahku. Aku tetap menggeleng.


"Dari mana dokter tadi? Kenapa dia mau datang?"


"Itu dokter keluarga Adam. Dia yang menelpon dan meminta bantuan, untungnya dokter mau." Aku harus berterima kasih padanya.


"Kau istirahat lah. Apa kau besok bisa masuk sekolah?"


"Bisa Munah." Aku mengusap lengannya, aku kekhawatirannya saat ini terhadapku. "Aku sudah banyak libur, takutnya malah tidak lulus."


"Iya, besok juga kita ada ulangan harian." Iya aku ingat itu, aku tidak boleh sampai tertinggal pelajaran.


"Dam? Sudah?" Adam mengangguk.


"Kita pulang saja biar Kinara istirahat." Mereka semua mengangguk, lalu pamit denganku sebelum pulang.


"Nara, apa sebaiknya aku tidur disini menemanimu? Biar aku telepon ibuku." Aku menggeleng cepat, rasanya tidak perlu menyusahkan Munah lagi.


"Hid, kau duluan saja lah. Aku temani Nara disini." Apa? Kenapa harus Adam sih?


"Eh tidak usah. Kau juga pulang saja. Oh iya terima kasih sudah memanggilkan dokter untukku."


"Iya Nara, sebaiknya Adam menemani mu disini. Setidaknya sampai kau bisa tertidur." Baiklah, aku akan mengusirnya saat Wahid dan Munah pulang.


"Adam, kita duluan ya?"


"Iya hati-hati."


Aku tau, setelah mereka pulang pasti keadaan kembali hening. Aku dan Adam. Bingung mau membicarakan soal apa lagi.


"Kau tidurlah, aku akan pulang setelah kau tidur." Aku mengangguk saja. Aku mendengar ponsel Adam berdering. Dia berdiri dan berjalan agak menjauh, mungkin ibunya yang menelpon, pikirku.


"Aku sedang berada dirumah Kinara." Dia menoleh ke arahku sekilas. Siapa? Apa Elena? Tidak mungkin kalau dia menyebut namaku kalau ibunya yang menelpon. Adam berjalan mendekat ke arahku. Lalu menyodorkan ponselnya. Apa? Aku bertanya tanpa suara.


"Elena ingin berbicara denganmu?" Aku mengambilnya dan menempelkan di daun telinga.


"Hallo?"


"Kak? Kau sakit?" Aku melirik ke arah Adam.


"Iya, Adam yang bilang?"


"Iya kak. Cepat sembuh ya kak. Biarkan Adam disana menjaga kakak." Deg. Anak ini benar-benar baik.


"Iya, makasih ya El." Aku mengembalikan ponsel kepada Adam.


"Sudah, tidurlah." Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur agar Adam juga segera pulang. Kasian juga, ini sudah malam. Sudah seharusnya dia pulang dan beristirahat.


Aku memejamkan mata hingga beberapa menit. Walau tidak tidur, tapi aku tidak ingin membuka mata sebelum Adam pergi.


"Nara aku pulang. Cepatlah sembuh." Adam mengelus keningku dengan lembut.


"Aku sudah tau tentang hal yang kau tutupi." Ha? Tidak, aku harus tetap berpura-pura tidur. Ku dengar suara langkah menjauh. Dan suara pintu tertutup. Aku perlahan membuka mata. Selamat Adam sudah pergi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2