Langit Mendung

Langit Mendung
Hari berat selanjutnya


__ADS_3

POV Author


Diruangan inilah beberapa orang suruhannya berkumpul. Menunduk ketika sudah menjelaskan apa saja yang mereka ketahui belakangan ini, dan bukti terakhir yang diberikan membuatnya sangat syok. Memegang dada dengan satu tangannya, ada yang berdenyut disana. Sesakit itu kah ketika tau apa yang terjadi dengan anaknya selama ini?


"Keluarlah." Hanya menyisahkan satu orang saja yang berada didalam ruangannya sekarang. Yaitu asistennya.


"Katakan pada mantan istriku, aku memintanya bertemu siang ini ditempat biasa."


"Baik pak." Duduk dengan memutar kursinya kearah jendela, melihat matahari disiang ini yang sangat terik. Membakar kulit siapapun yang berjalan dibawah tanpa menggunakan penadah.


"Maaf pak." Asistennya kembali lagi. "Beliau menanyakan ada keperluan apa?"


"Katakan saja, aku akan membahas masalah anak." Baik, begitu lagi dia menjawab dan berlalu pergi keluar ruangan. Mungkin akan melakukan panggilan telepon kembali.


Tarikan nafas itu, adalah nafas seseorang yang tengah memikul beban yang amat berat. Apa sebenarnya yang sudah dia ketahui tentang anaknya? Hanya ada beberapa orang suruhannya saja yang tau, itupun sudah membuat sumpah dan janji agar tidak dibeberkan kesembarang orang meskipun keluarga mereka sendiri.


Sekali lagi Menatap berkas yang bertumpuk diatas meja kerjanya. Sudah tidak ada lagi semangatnya dihari ini, padahal harusnya dia sendiri harus menandatangani beberapa proyek yang meminta kerja sama. Tapi malah lebih memilih pergi meninggalkannya.


"Uruslah dulu perusahaan, saya akan pergi keluar."


"Pak, bukankah harusnya hari ini--"


"Katakan saya ada urusan lain yang jauh lebih penting, jika mereka mau maka datanglah besok." Hanya bawahan, meskipun menjadwalkan apa saja yang menjadi jam kerja bosnya. Tapi jika sudah ada penolakan dia hanya bisa mengangguk patuh.


"Sayang? Aku pulang telat hari ini. Jangan menungguku jika kau sudah lapar, pikirkan saja kesehatan anak kita." Sebelum memasuki mobil yang sudah dibukakan pintu oleh pengawal, dia masih bisa menyempatkan diri untuk menelpon istrinya.


"Ketempat yang sudah saya katakan tadi." Hening, tidak berani menjawab karena tau jika tuannya sedang memikirkan hal berat hari ini.


Sesampainya ditempat yang dia katakan tempat biasa. Hanya duduk dan memesan kopi dingin sambil menunggu mantan istrinya datang. Lalu membolak-balik beberapa lembar kertas yang menjadi laporan kerja pengawalnya.


"Tidak mungkin Kinara berbuat seperti ini." Husein, ya dialah orang itu. Mengusap wajahnya dengan kasar setelah menerima informasi yang membuat jantungnya hampir saja lompat dari tempatnya. Beberapa kali mengetahui jika Kinara selalu membatu orang lain, meminta uangnya dengan berbagai macam alasan.


Selama Kinara memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen, Husein selaku ayah kandungnya tidak hanya diam. Dia sengaja meminta beberapa pengawal untuk selalu mengawasi anaknya. Mengikutinya kemana pun dia pergi. Bahkan jika Kinara setiap malam pergi ke club' ayahnya juga tau. Hanya saja, karena tidak pernah tau jika anaknya berbuat macam-macam, maka dia masih memberi kebebasan.


"Tolong, kau jemput dokter itu datang kesini dan pastikan dia tidak menolak." Mematikan lagi sambungan telepon. Entah siapa kali ini yang diberi tugas. Yang dia mau masalah harus tuntas secepat mungkin.


"Maaf tuan, ruangan VVIP sudah bisa anda masuki." Salah satu pelayan datang dengan membungkukkan tubuhnya, tidak berani menatap wajah dari pengunjungnya. Dia masih menunggu, jawaban apa yang akan diberikan untuknya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan langsung masuk kesana." Pelayan mengangguk dan masih tetap menunduk, hingga dia yang disegani sudah hilang dari pandangan mata barulah berani beranjak dari tempat berdirinya saat ini.

__ADS_1


"Heh, kelihatanya kali ini tuan Husein sedang tidak baik-baik saja." Dia sempat mengelus dada dan mengucapkan syukur bisa melayani tamu istimewa yang datang ketempat ini. Lalu beralih kemeja yang masih bersih namun tetap harus dibersihkan kembali.


Setengah jam menunggu kedatangan orang yang penting didalam ruangan VVIP ini. Pembicaraan apapun tidak akan terdengar siapapun terkecuali orang yang berada didalam ruangannya. Duduk dengan melipat menaikan satu kakinya. Berkali-kali menoleh kearah dinding kaca. Rasa gelisah sungguh melingkupinya saat ini.


"Maaf tuan." Menunduk. "Dokter itu sudah datang."


"Suruh dia masuk sekarang." Mengangguk lalu membukakan pintu.


Tercengang, ya itu reaksi dokter Linda saat ini. Dokter yang menangani kehamilan Kinara. Dia masih belum tau apa maksudnya dijemput untuk datang kesini. Bertemu langsung oleh orang tua Kinara. Lututnya melemas, dokter biasa sepertinya bisa apa sekarang?


"Duduklah, jangan sungkan. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu." Menoleh kebelakang, melihat dua pengawal itu berdiri disisi pintu.


"Duduklah dokter." Dokter Linda mengangguk, menarik nafas dan membuangnya secara perlahan saat tubuhnya mulai menyentuh sofa empuk dan mewah ini.


"Maaf tuan-"


"Tunggulah sampai ibunya datang. Karena aku tidak ingin mendengar penjelasan itu sendirian."


Bagaimana bisa? Hanya itu yang dokter Linda pikirkan saat ini. Melirik ke kanan dan kiri. Bingung sendiri, meminta maaf saja tidak diperbolehkan. Lalu bagaimana harus membuka mulutnya?


"Untuk apa kau memintaku datang kesini?" Mereka menoleh, Husein hanya tersenyum tipis lalu menggunakan bahasa tangannya untuk mempersilahkan mantan istrinya itu duduk. Tatapannya yang tajam, tidak hanya tertuju pada mantan suaminya yang juga ayah dari anaknya. Tapi juga menatap heran kepada dokter yang duduk dengan menunduk saat ini.


"Waktuku tidak banyak, sebaiknya kau katakan saja sekarang."


"Pergilah." Husein mengusir pengawal untuk keluar ruangan.


"Apa kau sudah melakukan hal yang kuminta?" Namira, selaku ibu dari Kinara mengerutkan keningnya. Mengingat kembali percakapan mereka beberapa hari lalu, yang meminta dia membawa Kinara kerumah sakit.


"Untuk apa? Bukankah dia terlihat sangat baik?" Husein tersenyum lagi. Lain hal dengan dokter Linda yang sudah ingin mengeluarkan jantungnya sementara agar tidak berdetak saat ini. Nafasnya seakan terhenti, sudah tau jika ujungnya dialah yang akan menjelaskan.


"Ketika kau membiarkan Kinara tinggal di apartemen, apakah kau pernah datang untuk sekedar melihatnya?" Namira diam membeku, tapi kepalanya menggeleng dengan lemah.


"Tapi sekarang, aku dan Kinara. Hubungan kami sudah jauh lebih baik. Aku sudah meminta maaf padanya, dan dia juga sudah bersedia untuk memaafkan kesalahan ku."


"Tapi kau sendiri terlalu egois, hanya karena apartemen itu milikku, kau tidak mau datang kesana. Kau lebih memilih untuk memperhatikan anak tirimu." Brak!! Suara gebrakan meja itu langsung terdengar dengan kerasnya.


"Jangan berbicara berbelit-belit! Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Tidak perlu kau menyudutkan aku. Kau lupa, kau juga tidak pernah memperhatikannya kan?"


"Haha." Tawa renyah dari hati yang pilu itu terdengar. Dia hancur, gagal menjadi suami dan juga gagal menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Kau salah! Lalu siapa yang mencarikan pembantu untuknya di apartemen kalau bukan aku? Dan kalau bukan karena aku yang meminta pengawal untuk selalu mengintainya, aku juga tidak akan tau apa yang terjadi sekarang ini." Deg. Namira diam, benarkah? Begitu batinnya berbicara.


"Dokter, kini giliran mu yang menjelaskan. Agar mantan istri saya ini tau!" Deg. Lagi-lagi, kedua perempuan ini saling pandang.


"Jelaskan padanya sudah berapa bulan usia kandungan Kinara."


"Husein!!" Dia berteriak dan berdiri dari duduknya. Menunjuk wajah Husein dengan satu jarinya.


"Apa maksudmu berkata begitu?" Tapi air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Nada bicaranya sudah bergetar.


"Duduklah, sebaiknya kau mendengar dulu penjelasan dokter." Namira mengalah dan duduk kembali, karena memang tubuhnya saat ini sudah melemas.


"Usia kandungan Kinara sudah memasuki tujuh bulan. Dia sengaja menyembunyikan kehamilannya, dan memakai korset setiap harinya. Agar tidak bisa kelihatan orang lain jika perutnya semakin membesar."


"Bagaimana bisa?" Ucapnya lirih dan berhasil menjatuhkan setitik air mata.


"Ya Tuhan, Kinara."


"Dan jenis kelamin anaknya sudah diketahui, dia laki-laki." Mendongak, kedua orang tua ini saling pandang.


"Maafkan saya. Saya hanya dokter yang berusaha menjaga privasi pasien."


"Aku tau soal itu. Terima kasih atas informasi yang sudah kau berikan. Kau boleh pergi sekarang. Dan kedepannya jika kau dibutuhkan, maka jangan menolak ketika seseorang menjemput." Dokter Linda mengangguk, lalu mengambil langkah cepat agar keluar dari ruangan itu. Dan sekarang ini, dia sudah meninggalkan beberapa pasien yang sangat membutuhkannya.


"Bagaimana? Bagaimana kedepannya? Masa depan Kinara?" Tanyanya pada Husien.


"Tenanglah, tunggu sampai dia selesai ujian. Dan besok adalah hari terakhirnya."


Jika sebelumnya Kinara yang merasakan hari beratnya, maka mulai saat ini. Kedua orang tua inilah yang harus menjalani hari beratnya. Perceraian yang terjadi diantara mereka, inilah dampak yang sesungguhnya. Anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang, sudah tumbuh menjadi pemberontak.


"Kalau saja kau tidak menggugat ku waktu itu, aku pasti bisa bertahan demi Kinara."


"Aku mohon, jangan lagi bahas masa lalu itu. Diantara kita tidak pernah ada cinta. Kau juga sudah bahagia dengan keluarga barumu."


"Kata siapa tidak pernah ada cinta?" Namira mendongak, menatap wajah mantan suaminya sekilas. "Aku mencintaimu. Tapi kau yang tidak tau soal itu." Deg. "Bukankah kau dulu juga memiliki rasa padaku sebelum menikah, lalu kenapa setelah menikah kau malah seperti tidak ingin hidup denganku?" Deg. Lagi-lagi Namira terbungkam.


"Aku hanya menyayangimu sebagai teman." Kali ini Husien yang terdiam. Dia merasa sudah menyakiti istrinya yang berada dirumah sekarang. Dengan bertemu Namira hari ini, tanpa sepengetahuannya. Belum lagi menyatakan soal perasan dimasa lalu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2