
Aku hanya ingin sendiri saat ini, tidak peduli jika hari sudah berganti dan pagi datang menyambut. Aku tetap ingin berada didalam kamar. Aku kecewa kepada ayah, tapi aku jauh lebih kecewa kepada Adam. Jika dia sudah dinyatakan meninggal, mungkin aku bisa memikirkan permintaannya. Tapi tidak, Adam meminta sesuatu karena ada seorang gadis yang dia sayang.
Rasa lapar tidak datang padaku, aku benar-benar sudah kehilangan selera dalam hal apapun. Bahkan hidup sekalipun, aku sudah tidak ingin.
"Kinara, keluarlah sayang. Jika kau tidak mau maka kau bisa menolaknya dengan bicara baik-baik." Ternyata kali ini yang membujuk adalah ibu Intan. Pintar sekali ayah kalau aku tidak bisa menolak permintaan ibu tiriku yang lembut ini.
"Kinara, sudah ada Munah diluar. Bukankah kau harus pergi ke kampus hari ini?"
Aku sudah berdiri didekat pintu, aku tidak menjawab. Hanya nafasku saja yang naik turun.
"Bu, bisakah Munah saja yang masuk ke kamarku?" Dan akhirnya aku mengalah. Karena setahuku tidak ada pemberitahuan hari ini untuk datang ke kampus. Entahpun ayah yang tau tapi tidak mengatakannya padaku.
"Baiklah." Kudengar suara langkah kaki yang semakin menjauh. Tapi aku tetap berdiri didekat pintu, hanya hitungan menit pasti Munah sudah ada disini.
"Nara bukalah." Hah? Kenapa hanya hitungan detik saja.
"Nara hei, aku ada disini." Ceklek. Kubuka pintu kamarku secara perlahan. Sialan! Jadi sedari tadi dia memang berada disini?
"Kau?"
"Iya aku berdiri didekat tangga, hanya saja ketika ibumu memintaku untuk masuk aku langsung saja naik."
"Kenapa kau datang kesini?" Munah menyodorkan aku coklat.
"Sebagai ganti sarapan untukmu. Bukankah coklat dapat mengubah mood mu menjadi lebih baik?" Aku tersenyum, lalu duduk diatas tempat tidur.
"Terima kasih." Dia mengangguk. "Kenapa kau datang kesini?"
"Ayahmu yang meminta, bukankah kau sedang tidak baik-baik saja?" Aku diam. Dan lebih memilih untuk membuka bungkus coklat dari pada harus menjawab pertanyaannya.
"Nara?"
"Hem."
"Nara?"
"Hem." Plak, Munah memukulku. Gila! Pukulannya kali ini memang benar terasa sakit.
"Kau tidak ingin menjawab-"
"Aku dijodohkan oleh Windu. Dan itu atas permintaan Adam! Dia sudah sadar dari komanya karena kedatangan Elena kesana." Aku bahkan menjelaskan hanya dengan satu nafas. Munah terlonjak kaget dan mengatakan "gila" secara berulang kali.
"Ini benar-benar gila!"
"Kau saja berpikir begitu, lalu bagaimana kalau kau berada diposisi sekarang? Apa yang akan kau lakukan?"
"Lebih baik aku jujur saja kalau Adam lah laki-laki yang sudah membuatmu hamil." Deg. Dan idenya kali ini lebih gila dari apa yang aku bayangkan.
__ADS_1
"Tidak mungkin Munah!"
"Tapi hanya itu caranya Nara. Apa kau memiliki cara yang lain?"
Aku turun dari tempat tidur, berjalan kearah pintu dan memastikan tidak ada orang lain yang bisa mendengar obrolan ku dengannya.
"Bukankah kau bilang hari ini kita harus datang ke kampus?" Munah mengangguk. "Untuk apa?"
"Hanya mendaftar ulang dan memastikan nama kita sudah terdaftar diabsen. Juga sekaligus mengambil jurusan."
"Kita pergi sekarang."
"Dengan wajahmu yang tampak sembab?" Aku langsung beralih ke cermin, menyambar foundation.
***
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Aku sengaja mengambil kesempatan ini, berbicara didalam rumah aku takut karena terus diawasi. Dinding saja bisa berbicara dan mengaduh kepada ayah.
Dan akhirnya aku memilih untuk pergi ke kampus, tanpa harus diantar oleh supir. Sebab aku juga rindu membawa mobil sendiri. Lalu memilih sebuah tempat yang pas jauh dari keramaian.
"Kita hanya tinggal menunggu Satria, maksudku Windu."
"Kau memintanya datang kesini?" Aku mengangguk, aku memang mengirimkan pesan padanya dan membagikan lokasi ku saat ini. Agar dia lebih mudah mencarinya.
"Kalau dia tidak datang gimana?"
"Kau, kau sudah setuju ya?"
"Ssstt?" Aku tersenyum.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?"
"Diamlah." Munah memastikan mengunci mulutnya dan tidak lagi bertanya.
Aku melihat lagi jam ditangan, sudah 30 menit berlalu tapi Windu belum juga datang. Ah aku mulai kesal, padahal pesanku sudah dibaca olehnya.
"Sebaiknya kau telepon saja." Aku mengikuti saran Munah.
Dua kali panggilan terabaikan. Heh, aku mulai kesal. Tapi tidak menyerah begitu saja. Karena ini kesempatanku untuk berbicara olehnya tanpa harus diawasi oleh siapapun, termasuk pengawal ataupun supir suruhan ayah.
"Hallo?" Ah akhirnya Windu menjawab panggilanku.
"Kak, apa kau tidak bisa datang? Aku sudah menunggu hampir satu jam."
"Ya ampun aku lupa, tunggulah sebentar. Aku baru selesai rapat." Hah? Lupa katanya! Sialan, jadi kalau aku tidak menelponnya aku harus berada disini seharian?
"Nara, kau masih disana kan?"
__ADS_1
"Eh iya kak, aku tunggu." Aku langsung mematikan sambungan telepon.
"Kenapa?" Munah bertanya saat melihatku yang geram dan merobek tissue.
"Dia lupa, kalau kau tidak memintaku untuk menelponnya mungkin sampai besok pun dia tidak akan datang." Munah bukannya bersimpati malah menertawakan ku.
"Itu akibat kau menutupi rencana apa yang sedang kau rencanakan."
"Oke, begini." Dan aku menjelaskan apa saja yang akan aku katakan pada Windu. Dan intinya aku berpura-pura setuju dengan perjodohan ini, tapi dengan syarat yang harus dia mau.
Windu datang setengah jam setelah aku menelponnya tadi. Dia datang dengan wajah yang bingung, juga sepertinya dia terburu-buru.
"Maaf ya, kau menunggu terlalu lama. Apa ada hal yang sangat penting sehingga kau memintaku untuk datang kesini?" Aku mengangguk.
"Kak, sebaiknya kau duduklah dulu." Eh kurang baik apa coba Munah padanya. Aku saja tidak menawarkannya untuk duduk.
"Ini minumlah kak." Munah memberikannya minuman baru.
"Kak, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Katakanlah." Munah mengangguk saat aku menatapnya.
"Begini kak, yang pertama. Bagaimana bisa kau berpikir jika Elena lah gadis yang ditunggu oleh Adam? Apa benar, saat kedatangannya kesana Adam benar-benar bangun dari komanya? Lalu yang ingin sekali aku tau, apa reaksi Adam saat tau bahwa Elena datang kesana?" Aku menarik nafas, menjeda sebentar kata-kataku.
"Itu semua baru pertanyaan pertama?" Aku mengangguk. Windu membenarkan lagi posisi duduknya, dia seperti orang yang akan diintrogasi, sehingga menimbulkan rasa gelisah.
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh ibu. Karena selama ini dia yang tau bagaimana Adam dan apa yang Adam inginkan. Memang benar, saat Elena datang Adam bangun dari komanya. Adam tidak memberikan reaksi apapun, yang jelas saat ibu bertanya padanya dia mengenal Elena atau tidak, Adam menjawab dengan mantap bahwa dia mengenal Elena. Adam tidak banyak bicara, bahkan aku mendengar cerita dari ibu, kalau Adam seperti tidak menganggap adanya Elena disana." Aku menunduk, lalu mendongak lagi melirik kearah Munah.
"Lanjut pertanyaan kedua kak." Windu mengangguk, aku cukup puas untuk jawaban yang pertama. Semua dia lakukan atas perintah ibunya.
"Lalu, ketika Adam bangun dari komanya. Apa yang Adam sampaikan? Apakah dia memiliki pesan yang harus kau kerjakan lagi selanjutnya kak?" Windu membeku sesaat. Dia seperti tengah salah tingkah.
"Ada."
"Apa?"
"Adam meminta-"
"Aku menikah denganmu kan kak?"
"Kinara, kau sudah tau soal itu, kenapa kau malah?"
"Aku hanya ingin memastikannya. Kenapa kau mau denganku kak? Yang jelas-jelas keadaanku sekarang sangatlah hina." Munah mengelus lenganku, berbisik mengingatkan agar aku tidak emosi.
"Karena aku mencintaimu." Deg. Deg. Yang mana yang harus kupercaya? Ucapan cinta dari seorang adik atau seorang kakak?
Bersambung..
__ADS_1