
"Nara, apa kau sudah selesai?"
"Sudah bibi." Aku keluar dengan memakai dress longgar dibawah lutut, merapikan lagi penampilanku ketika ibu sudah menelpon dan bilang menunggu didepan apartemen.
"Kau hati-hati dijalan, ingat jangan terlalu lasak. Oh iya, apa kau menginap dirumah ibumu?"
"Eh tidak bi, bukankah besok juga aku harus masuk sekolah. Dan nanti juga Adam akan menjemput, sudah ada janji dengan ibunya akan datang kesana." Wajah bi Gina berubah jadi sendu.
"Adik-adikmu sangat merindukanmu Nara." Deg. Sudah berapa lama aku tidak datang?
"Apa mereka menginginkan sesuatu bi?"
"Mungkin saja, bukankah setiap bertemu denganmu mereka selalu meminta makanan yang aneh-aneh, dengan alasan melihatnya di iklan televisi." Aku tersenyum, benar tapi aku sama sekali tidak merasa direpotkan oleh mereka.
"Sudah pergi sana, kasian ibumu menunggu terlalu lama."
"Baiklah bi."
"Eh Nara tunggu." Aku menoleh lagi. "Apa kau ingin bibi masakan sesuatu? Untuk makan malam mu nanti." Aku berpikir sejenak. Yang sangat aku suka, hanya sup daging, itu juga selama aku hamil ini sih.
"Sup saja bi, nanti bisa aku panaskan."
"Ya sudah." Aku lanjut lagi berjalan, keluar pintu apartemen. Kali ini aku memulai hari dengan senyuman, entah semangat itu datang dari mana. Yang pasti aku menggeleng jika membayangkan Adam mencium keningku tadi malam, sebelum dia pamit pulang dan pergi. Ah gila! Harusnya aku marah padanya kan, sama seperti saat itu ketika Satria melakukannya padaku tanpa permisi terlebih dahulu.
Mobil ibu dari kejauhan sudah terlihat, tapi tidak aku juga mengenali mobil yang juga berada tepat di sebelah mobil ibu.
"Ayah?" Aku masih tidak percaya, dan menggeleng pelan. Apa mungkin benar itu ayah? Jika benar ayah, pasti mereka berdua akan beradu mulut, karena memang itulah kenyataannya jika kedua orang tua ini bertemu. Aku semakin mempercepat langkahku untuk memastikannya.
"Jika kau benar menyayanginya, harusnya kau tau apa yang sekarang terjadi dengan Kinara." Aku semakin menajamkan telingaku.
"Aku tau, jika dia diskors dari sekolahnya karena fitnah kan?"
"Lebih dari itu!"
"Maksudmu? Karena dia keluar dari club' malam? Iya? Aku juga tau itu, sudahlah aku juga sudah memperbaiki semuanya."
"Kau seorang perempuan, apa kau tidak bisa melihat jika saat ini Kinara banyak perubahan?"
"Perubahan? Perubahan apa? Jangan bicara berbelit-belit!"
"Sebaiknya kau bawa saja Kinara kerumah-"
"Ayah, ibu?" Aku berdiri dihadapan mereka sekarang. Tepat dibelakang mobil mereka tengah beradu argument. Dan aku yang mendengar masih penasaran tentang ayah yang membicarakan aku tadi.
"Kinara, ayo kita pergi sekarang?" Ibu langsung menarik lenganku.
"Bu, tunggu. Aku ingin menyapa ayah." Ibu menghela nafas dan melepaskan tanganku, dan lebih memilih untuk langsung masuk kedalam mobilnya.
"Ayah, sedang apa disini? Ayah sendiri? Kemana Tante Intan?" Wajah ayah yang semula memerah, seperti tengah menahan emosi. Tapi dalam hitungan detik dia bisa merubahnya lagi.
"Ayah hanya ingin berangkat ke kantor sayang. Tapi tadi melihat mobil ibumu ayah sengaja berhenti disini, sekedar ingin menyapanya. Dan Tante Intan dia dirumah, kau datanglah kesana. Dia juga merindukanmu."
"Iya yah. Tapi tidak bisa hari ini."
"Iya, ayah mengerti itu. Ayah bersyukur jika kau sudah mau mengakui ibumu. Dekat dengannya adalah sebuah keharusan. Ayah berharap kau juga menceritakan semuanya pada ibumu." Cerita semua? Ah tidak mungkin, aku masih merasa canggung.
"Sudah sana, ibumu sudah menunggu. Ayah tidak ingin dia menyalahkan ayah lagi." Aku tertawa kecil karena ayah berbicara seperti sedang bercanda, meskipun aku tau kalau itu serius.
Terkadang aku sendiri merasa heran, kenapa ibu sangat membenci ayah? Bukankah harusnya selama berumah tangga ibu sudah bisa mencintai ayah? Begitu juga denganku, aku saja tidak membenci Adam. Meksipun aku sudah tau bagaimana jalan cerita ibu, tapi itu hanya versi ibu saja. Aku tidak mendengarnya dari mulut ayah.
"Kinara, kau memikirkan apa?" Aku menoleh kearah ibu, dan tersenyum sambil menggeleng.
"Apa ayahmu memarahimu tadi?" Aku menggeleng lagi.
"Kita mau kemana Bu?"
"Kita mau berbelanja sayang. Eh itu kenapa kau memakai pakaian seperti orang hamil sih?" Hah? Aku tertawa renyah. Sambil berpikir mencari alasan apa.
"Tidak Bu. Ini memang sedang trend dikalangan anak muda."
"Benarkah? Kalau begitu nanti akan ibu belikan seperti ini lagi untukmu." Hehe, aku hanya bisa nyengir saja. Semangat, ujian kelulusan sudah didepan mata. Dan itu hanya berlangsung tiga hari. Tidak akan lama.
Ternyata ibu tidak langsung membawaku pergi ke mall. Ibu menyempatkan mampir kerumah karena dompetnya tertinggal.
"Kau tidak ingin ikut turun?" Aku menoleh ke halaman rumah yang tampak sepi dan hanya ada beberapa penjaga berdiri disana. Bersama tukang kebun yang tengah merapikan tanaman mahal milik ibu.
"Tidak Bu. Aku disini saja, ibu juga tidak lama kan?"
"Tidak, ya sudah tunggu sebentar." Harusnya ibu kan bisa meminta salah seorang pelayan rumah mengantarkan dompetnya kemobil. Heh tapi ibu memang beda. Dari dulu soal benda milik pribadi tidak bisa sembarangan orang menyentuhnya. Apa lagi itu dompet. Andai saja kakek dan nenek masih ada, pasti aku bisa meminta sedikit penjelasan bagaimana dulu ibu ketika kecil, dan saat usianya sama seperti sekarang.
Ting. Bunyi pesan masuk ke ponselku.
"Selamat pagi, selamat beraktivitas. Jangan lupa nanti untuk datang kerumah ibu. Semangat menjalani hari ya Nara." Deg. Jantungku, oh my God. Sesenang itukah aku ketika menerima pesan dari Adam?
"Terima kasih, kau juga."
"Nara, kenapa kau tersenyum sendiri?" Eh aku kaget, tidak menyadari kehadiran ibu disini. Benar-benar cinta bisa mengalihkan dunia ya?
"Bu?" Ibu menoleh.
"Apa ketika ibu jatuh cinta dulu, ibu juga akan sering tersenyum?" Ibu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan ku.
"Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau sedang jatuh cinta?" Eh aku harus menjawab apa?
"Tidak Bu. Aku hanya ingin tau saja."
"Ibu lebih senang jika kau terbuka begini dengan ibu Nara."
Dan mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah milik ibu, dan juga milikku. Ketika aku bertanya kenapa ibu tidak pergi menggunakan supir saja? Dan ibu menjawab, kali ini dia akan menjadi supir untukku. Dan apa, senyum langsung mengembang begitu saja dari bibirku. Aku bahagia!
Setengah jam perjalanan sudah sampai di mall termahal dikota ini. Harga pakaian disini juga tiga kali lipat dari toko biasa. Aku tidak heran, karena memang sedari kecil semua barang milikku sudah berharga kisaran jutaan. Hanya saja aku tidak mendapatkan kasih sayang, tapi itu dulu. Dan sekarang, kurasa ibu sudah berubah. Terima kasih Tuhan, disela-sela kesedihan ku kau masih menyisahkan satu keinginaku.
"Ibu yang pilihkan untukmu ya?" Aku mengangguk saja. Aku dan ibu sudah berkeliling membawa troli.
Dalam waktu beberapa menit saja, sudah banyak baju yang ibu pilihkan untukku. Dan hanya ada dua warna, biru dan coklat. Biru adalah warna yang disukai ibu, sementara ibu tau jika aku sangat suka warna coklat.
"Kau coba saja dulu." Aku masuk kedalam ruangan ganti, mencoba satu persatu. Ada dua baju yang sangat tidak ingin aku pakai. Bukan karena aku tidak suka, tapi terlalu ketat jika aku memakainya sehingga tonjolan di bagian perut jelas terlihat.
"Nara? Apa sudah selesai?" Ibu berteriak dari luar.
"Sebentar Bu." Ini sangat susah untuk dibuka. Bagiamana caranya, apa aku harus meminta bantuan ibu sekarang? Tidak mungkin kan?
__ADS_1
Ah sudah terlepas pakaian ketat ini dari tubuhku. Aku keluar dengan wajah yang ditekuk.
"Kenapa sayang?"
"Bu, aku tidak mau yang ini. Terlalu ketat jika aku pakai." Ibu tersenyum, dan malah menyentuh bagian perutku. Deg, aku sangat takut.
"Kau harus banyak olahraga." Aku tau maksudnya, tapi kan berat badanku juga sudah turun, tidak segemuk waktu itu.
"Nara?" Ibu menatapku tanpa berkedip.
"Kenapa Bu?"
"Kenapa ada yang bergerak seperti menendang?" Duar.. Bak disambar petir sekarang. Aku langsung terbungkam. Aku bingung harus memberi alasan apa.
"Mungkin hanya perasaan ibu saja." Ibu sekarang yang diam, seperti memikirkan sesuatu.
"Nara?" Aku berpura-pura sibuk memisahkan pakaian didalam troli.
"Apa ini maksud perkataan ayahmu?" Ayah? Iya, bukankah ayah meminta ibu untuk lebih menelik keadaanku sekarang.
"Bu, bisa saja cacing diperut jika berbunyi bukankah perut juga seperti bergetar? Angin juga bisa." Ibu mengelus dada dan mengucapkan syukur. Berarti tadi ibu sempat berpikir bahwa aku sedang hamil! Ah gawat.
"Bu? Apa aku boleh membelikan satu baju untuk bi Gina?"
"Bi Gina?" Ya ampun aku lupa, ibu tidak tau siapa bi Gina.
"Bi Gina yang membantuku di apartemen bu. Dia orang baik." Ibu tersenyum.
"Apa dia yang merawatmu selama ini?" Aku mengangguk.
"Pilihlah sesuka hatimu sayang, belikan untuknya. Lebih dari satu." Hah? Benarkah? Aku langsung bersemangat dan memilih pakaian yang cocok untuk bi Gina.
Dua jam berkutat didalam mall. Akhirnya selesai, aku yang lebih memilih menunggu ibu dari kejauhan, ibu yang membawa seluruh belanjaan kemeja kasir. Sudah tau kan bagaimana kalau perempuan belanja? Butuh waktu yang lama untuk memilih, sekalinya sudah mengambil ada saja hambatan yang mengatakan tidak cocok. Aku sendiri tidak tau berapa total belanjanya, yang pasti sudah menghabiskan puluhan juta.
"Nara, ayo?" Ibu menenteng dua paper bag besar berlogo ternama.
"Sini, aku bantu Bu." Ibu menyerahkan satu padaku. Dan kami pun berjalan beriringan menuju mobil.
"Jam berapa sekarang?" Ibu bertanya padaku sebelum melajukan mobilnya.
"Jam dua belas kurang 10 menit Bu."
"Kita pergi mencari tempat makan ya, kau pasti lapar kan?"
"Hehe, iya Bu." Jujur saja, memang aku sudah lapar.
Ada sebuah resto yang tidak jauh dari mall. Dan ibu memilihnya untuk makan disana. Aku setuju saja, jika ibu mengatakan makanannya enak, pasti ibu benar.
Sampai didalam, aku dan ibu duduk langsung disambut oleh pelayan cantik dan ramah. Aku juga tidak segan membalas senyumannya.
"Kau ingin makan apa sayang?"
"Aku sama saja dengan ibu." Ibu menyebutkan makanan yang dia mau beserta minumannya, aku sudah menyerahkan kepada ibu.
"Setelah ini, kau tidak kemana-mana lagi kan?"
"Aku, aku sudah ada janji dengan Adam Bu. Ibunya meminta aku datang kesana."
"Adam?" Aku mengangguk.
"Tidak pernah. Apa dia pacarmu?" Aku tertawa, tapi kenapa pertanyaan ibuku malah membuat hatiku sedikit teriris.
"Bukan Bu, apa ibu ingat Iam? Teman masa kecil ku, anak dari sahabat ayah dan ibu dulu." Ibu langsung membeku, aku tidak tau reaksi apa yang dia tunjukkan saat ini. Tapi aku akan tetap melanjutkan ceritanya.
"Adam adalah anaknya Hendrawan Bu. Dia juga pernah menyapa ibu sewaktu ibu menjemputku disekolah. Apa ibu ingat?" Ibu masih diam. "Yang membawa membawakan mobilku pulang ke apartemen." Lagi-lagi aku berusaha menjelaskan.
"Anaknya Hendrawan?" Aku mengangguk.
"Ibu masih ingatkan?"
"Apa dia sehat?"
"Maksud ibu siapa? Adam? Atau ibunya?"
"Mereka semua." Pembicaraan terjeda saat pelayan datang menghidangkan makanan ke atas meja.
"Selamat menikmati.."
"Terima kasih kak." Pelayan mengangguk dan pergi.
"Ibu akan mengantarkan mu kesana."
Aku senang, tapi kenapa aku malah ragu?
"Nara, kau dengarkan? Ibu yang akan mengantarkan." Aku hanya bisa mengangguk. Ibu memintaku untuk segera menghabiskan makanan yang ada. Lalu aku juga langsung mengirimkan pesan ke Adam, untuk tidak menjemputku.
"Kenapa? Apa kau tidak jadi datang kesini? Ibuku sudah memasak untukmu?" Adam langsung membalas pesanku.
Ya Tuhan, aku menatap kearah perutku sendiri. Baiklah, ini hanya spaghetti saja, kurasa masih sanggup untuk memakan yang lain.
"Kenapa sayang?"
"Tidak Bu."
"Buka mulutmu." Ibu menyodorkan makanan ke mulutku. Kalau begini namanya aku sudah makan dua porsi sekaligus.
Dan aku sampai bersendawa, harusnya aku menyisahkan ruang diperut untuk nanti makan masakan ibunya Adam.
"Tunggulah saja. Aku akan datang sebentar lagi." Aku membalasnya, lalu kembali meletakkan ponsel kedalam tas.
***
Aku dan ibu sudah sampai tepat didepan gerbang rumah Adam. Ibu belum membuka suara, masih sibuk mengamati rumah dari balik gerbang. Aku meliriknya, ingin segera pamit untuk turun.
"Ibu?"
"Nara, ibu ikut." Deg. Apa?? Maksudnya ibu akan ikut turun dan masuk kedalam? Eh kenapa aku malah takut, apa yang aku takutkan? Bukankah ibu dan ibunya Adam juga dulunya berteman dan saling kenal.
"Baiklah Bu." Aku turun dan mengatakan kepada penjaga rumah bahwa aku dan tuan mereka sudah memiliki janji. Setelahnya pintu gerbang terbuka lebar dan mempersilahkan untuk mobil ibu masuk, lalu gerbang kembali ditutup rapat seolah-olah tidak ada tamu yang datang kesini.
"Apa ibu?"
__ADS_1
"Kau masuk saja duluan, nanti ibu menyusul." Ibu sepertinya tengah menelpon seseorang saat aku sudah tidak lagi berada didalam mobil bersamanya. Aku melangkah dengan sesekali menoleh kebelakang, dan tepat saat ditegur oleh salah satu pelayan yang tengah melintas barulah langkahku terhenti.
"Nona Kinara?" Aku tersenyum lalu mengangguk. Tapi tunggu, aku heran bagaimana dia bisa tau namaku?
"Nyonya sudah memberi tahu jika akan ada tamu istimewa yang datang kerumah." Apa? Tamu istimewa? Aku langsung menggeleng.
"Tidak bibi, ibu sangat berlebihan."
"Hehe, buktinya nyonya masak sendiri begitu banyak, dan tidak mau menerima bantuan para pelayan. Disitu saja sudah kelihatan kalau tamu yang akan datang pasti sangat istimewa baginya." Ya Tuhan, baik sekali ibunya Adam padaku.
"Mari saya antarkan masuk." Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih, tapi sekali lagi aku menoleh kebelakang. Dan ibu masih tetap berada didalam mobil, malah kaca mobilnya ditutup. Membuatku tidak bisa melihat apa yang sedang ibu lakukan didalam mobil.
"Selamat siang nyonya, tamu anda sudah datang." Pelayan langsung pergi ketika sudah menyelesaikan tugasnya. Dan aku melihat sosok perempuan cantik itu berdiri dari tempatnya duduk, lalu tersenyum kearah ku.
"Sayang, kau sudah sampai? Ibu sangat merindukanmu." Ibunya Adam bahkan merentangkan tangannya, seraya tengah menyambut putrinya sendiri.
"Ibu aku-"
"Kau pasti mencari Adam ya?" Eh bukan itu, kenapa susah sekali sih menjelaskan bahwa aku datang tidak sendirian! Melainkan ada ibuku diluar.
"Sebentar ya, ibu akan meminta pelayan memanggilkan Adam. Dia ada didalam kamarnya." Aku mengangguk, dan duduk di sofa empuk. Ada layar laptop yang masih menyala disana. Aku yakin kalau ibunya Adam pasti sedang mengerjakan tugas perusahaan hanya dari rumah.
"Adam?" Aku tersenyum menyapanya.
Kami sudah berkumpul, dan suara derap langkah kaki itu aku jelas mendengarnya. Perlahan dan sosok ibuku sudah berdiri didepan pintu masuk. Hanya aku yang menyadarinya, tapi tidak dengan mereka berdua.
"Selamat siang Herna." Suara itu bak menggema di ruangan ini, gila itu hanya perasaan ku saja. Padahal ibu berbicara tidak keras.
Keduanya saling menoleh, lalu menoleh lagi ke arahku. Aku sendiri bingung harus memberi respon seperti apa, dan hanya bisa mengangguk.
"Ibu yang mengantarkan aku datang kesini." Ibunya Adam langsung berdiri, dia menyambut ibuku dengan berjalan mendekatinya. Entah obrolan apa selanjutnya yang akan mereka bicarakan. Yang aku tau, saat ini tinggal aku dan Adam saja yang berada disofa.
"Bagaimana bisa?" Adam bertanya dengan suara pelan agar tidak terpecah didalam ruangan sehingga menimbulkan pendengaran ditelinga orang lain.
"Aku memberitahu kepada ibu." Adam menoleh kearah lain, yang lebih tepatnya melihat dimana ibuku dan ibunya tengah berdiri saling berhadapan. Dan detik berikutnya, ibunya Adam menarik lengan ibuku dengan lembut, itu jelas terlihat di mataku. Lalu mengajaknya bukan ikut duduk di sofa tapi malah pergi meninggalkan aku dan Adam yang sudah duduk disini.
"Bi, tolong sediakan minuman." Terlihat ada pelayan yang tengah melintas Adam langsung memanggilnya.
"Hem." Aku mendongak lagi.
"Kau tidak perlu khawatir dan berhentilah melihat kearah pintu. Ibuku tidak akan melukai ibumu." Dasar, bukan soal itu, tapi aku hanya penasaran mereka akan membicarakan hal apa.
"Kau tidak ingin menanyakan bagaimana kabarku hari ini?"
"Eh iya Dam. Gimana hasil pemeriksaan kau hari ini? Bukankah semalam ibumu bilang kau akan pergi kerumah sakit?" Adam malah tersenyum, dan menarik tanganku untuk meninggalkan sofa.
"Eh mau kemana?"
"Ada sesuatu yang harus aku tunjukkan kepadamu?" Adam terus menarik tanganku, hingga sampai dianak tangga, Adam tetap saja tidak melepas genggamannya. Aku terpaksa menghempaskan hingga terlepas secara paksa. Gila! Tidak mungkin aku berlari menaiki anak tangga. Aku menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Berjalan cepat dengan jarak yang tidak jauh sungguh membuatku merasakan sesak yang teramat.
"Kita mau kemana? Apa ini akan menuju kamarmu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Hah? Kau gila ya! Bukankah kau sendiri yang bilang jika ibumu sangat marah kalau ada seorang gadis yang berani masuk kedalam kamarmu!"
"Iya, tapi itu tidak berlaku untukmu Nara." Hah? Kan sama aja! Bukankah aku juga perempuan, seorang gadis! Eh tidak, sebentar lagi aku juga akan menjadi ibu.
"Kau takut? Apa yang kau takutkan?" Adam menunjuk seseorang yang dari bawah hanya terlihat rambut panjang terikat keatas. Siapa itu?
"Tenanglah, aku tidak akan menutup pintu kamarku. Walaupun diatas tidak ada orang, tetap saja ada yang berjaga disana." Heh syukurlah kalau begitu. Tapi kenapa aku merasa seperti tengah dibodohi oleh Adam ya? Kenapa waktu itu dia sampai memutuskan hubungannya dengan Elena hanya karena Elena masuk kedalam kamarnya? Bukankah dia bilang barusan meskipun tidak ada orang diatas pintu kamar akan tetap dijaga? Sialan! Sepertinya Adam sengaja! Memanggil penjaga agar aku percaya olehnya.
"Hei, cepatlah Nara." Sampai sudah didepan pintu kamarnya, aku melirik kearah penjaga yang menunduk hormat. Aku tersenyum dan melangkah masuk.
"Kau ingin menunjukkan apa?" Dia masih sibuk dengan benda apa saja miliknya, aku hanya berdiri sambil menatapnya tanpa berkedip.
"Apa Adam ada didalam?"
"Iya Tuan muda. Sedang bersama temannya."
"Kalau ibu?"
"Nyonya juga sedang kedatangan tamu. Mereka berada diruang kerjanya."
"Baiklah, kalau begitu nanti katakan pada ibu kalau aku sudah pulang, sengaja karena kepala sangat pusing."
Aku menajamkan lagi telingaku, dan sudah terdengar derap langkah menjauh. Aku seperti mengenali suaranya, rasa penasaran mendorongku untuk berjalan keluar dan bertanya pada penjaga. Ah tapi aku sangat segan.
"Kau kenapa?" Ternyata Adam sudah menemukan apa yang dia cari.
"Tadi, kau tidak mendengar ada yang berbicara, dia mencarimu?" Adam mengerutkan keningnya, acuh dengan ucapanku dan malah lebih memilih untuk membuka kertas putih lalu memintaku untuk melihatnya.
"Adam? Ini kau?" Adam tersenyum sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Itu masih membutuhkan waktu sekitar beberapa hari bahkan Minggu untuk menyelesaikannya. Tergantung moodku kapan aku ingin melukisnya."
"Seharusnya kau siapkan lukisan ini." Raut wajah Adam malah seperti orang yang tengah kecewa? Kenapa? Apa aku salah bicara, karena waktunya saat ini hanya untuk berobat?
"Adam, maaf aku tidak bermaksud, Hem aku tau jika kau sangat sibuk untuk terapi belakangan ini."
"Tidak apa-apa." Dia kembali meletakkan kedalam lemari.
"Memangnya, kau ingin melukis apa?" Aku hanya melihat rekontruksi awal saja, karena Adam belum sepenuhnya melukiskan gambarnya. Dan itu saja sudah membuatku sangat takjub.
"Sudah kubilang aku akan memberi ini untukmu sebagai kejutan. Jadi kau tidak boleh tau."
"Hanya lukisan."
"Bagimu tidak berharga Nara, tapi bagiku itu sangat berharga." Deg. Lagi-lagi, apa aku salah berkata? Ah Adam yang sekarang sepertinya malah lebih sentimen terhadapku.
"Kita keluar sekarang ya, aku takut ibu mencariku nanti." Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung saja keluar dan berjalan untuk kembali kesofa ruang tamunya. Siapa tau ibu sudah kembali kesana.
Dan ternyata benar, sudah ada ibuku dan ibunya Adam disana. Jika mereka bertanya, aku harus menjawab apa nanti?
"Nara, kau dari mana?"
"Maaf Bu, aku dari kamarnya Adam. Tadi adam-"
"Aku hanya menunjukan beberapa catatan persiapan ujian besok Bu." Heh, aku langsung menoleh. Sejak kapan dia datang? Aku bahkan tidak mendengar langkahnya.
"Duduklah, banyak sekali yang ingin kami tanyakan sebagai orang tua." Tidak, kenapa jantung ini langsung berdebar. Dan wajah kedua orang tua ini memang benar-benar serius. Apa mereka marah karena aku dan Adam keluar dari dalam kamar?
__ADS_1
Atau, jangan-jangan mereka sudah tau kalau sebenarnya aku dan Adam! Ah ya Tuhan tidak!!!
Bersambung..