Langit Mendung

Langit Mendung
Dialah orangnya!


__ADS_3

Aku yang asik rebahan sambil mendengarkan musik, menoleh ke arah samping dan menatap guling yang selalu menjadi teman tidurku setiap hari. Dia juga yang selalu ikut merasakan jika anakku menendang dari dalam perut. Saat ini, aku tengah memikirkan ibu. Aku tidak khawatir hanya saja aku ingin tau bagaimana kabarnya. Dan semenjak aku meninggalkannya pergi dari rumah sakit, ibu benar-benar tidak memberi kabar padaku. Atau setidaknya berusaha membujukku dan mencoba menjelaskan apa yang bisa aku dengarkan. Tapi tetap saja, ibuku berbeda dengan ibu-ibu yang lain.


"Hallo bi?" Aku lebih memilih menelpon bi Gina yang belum lama pulang dari apartemen.


"Adik-adik mana bi?"


"Ada diluar, mereka sedang main. Hanya saja si bungsu sakit Nara." Aku langsung mengubah posisi menjadi duduk.


"Sakit bi?"


"Iya. Tubuhnya panas sekali. Tadi juga sudah bibi bawa ke klinik terdekat. Sekarang dia sedang tidur."


"Ya ampun, nanti aku kesana ya bi."


"Eh tidak, tidak usah. Kau tetap dirumah saja. Sudah biar bibi saja yang urus. Kau juga harus memperhatikan kondisimu saat ini, jangan terlalu lasak. Kandunganmu sudah memasuki enam bulan. Ingat, satu bulan lagi kau harus bisa ikut ujian."


"Baiklah bi, kalau begitu besok saja ya?"


"Ya sudah."


Dan obralan berlanjut, menanyakan bi Gina sudah makan atau belum. Hingga aku mendengar bel berbunyi berulang-ulang barulah aku menutup panggilan telepon. Dan berjalan keluar kamar.


Aku membuka pintu, lalu menampakkan sosok wanita cantik. Dahiku berkerut, aku tidak mengenalnya.


"Maaf ya Bu, cari siapa?"


"Apa saya boleh masuk?" Tanyanya, aku menilik wajahnya. Seperti pernah melihatnya tapi aku lupa dimana. Seperti terhipnotis akupun mempersilahkannya untuk masuk. Lalu aku menyadari kalau aku tidak menggunakan korset, jika diperhatikan perutku akan jelas terlihat besar.


"Sebentar ya Bu, eh Tante." Aku saja bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa.


Aku bergegas kembali keluar ketika sudah memakai korset. Pikiranku sangat jelek saat ini, aku takut kalau wanita ini adalah rampok yang sedang menyamar.


"Sini." Dia bahkan menepuk sofa, memintaku untuk duduk disampingnya. Ah tidak, aku harus jaga-jaga.


"Tidak Bu, maaf aku duduk disini saja."


"Baiklah, kau apa kabar Aya?" Aya??? Panggilanku sewaktu kecil, bukankah hanya ada beberapa orang saja yang tau termasuk orang tua Iam dan seluruh pelayan di rumah? Tidak, aku memastikan sekali lagi wajahnya.


"Kau benar-benar tidak mengenaliku putri kecilku?" Aku langsung berdiri, berjalan mendekat ke arahnya.


"Ibu Marisha?" Dia mengangguk dan merentangkan tangannya. Aku memeluknya, sungguh jantungku berdebar. Aku menangis, menangis dalam pelukannya. Aku sangat-sangat merindukannya, merindukan anaknya.


"Kenapa kau Menangis?" Hiks, aku masih terisak. Aku memukul lenganku berkali-kali, aku takut kalau ini hanya mimpi. Karena rasa sangat ingin bertemu dan menjadi halusinasi berlebih.


"Ibu?" Hiks. Dia mengelus puncak kepalaku. Benar, rasanya masih sama seperti dulu ketika aku menangis, tepukan dan rasa itu masih sama.


"Kau baik selama disini?" Aku mengangguk, lalu menghapus air mataku.


"Kau sudah besar sekarang, menjadi gadis cantik." Dia sering sekali memujiku.


"Apa ibu sendiri?"


"Tidak, ibu bersama anak ibu, temanmu."


"Dimana dia?" Aku mencari disekelilingnya. Tapi tadi memang dia datang sendiri. Bahkan aku membuka pintu juga tidak melihatnya.


"Ada diparkiran bawah, kau turun saja kesana. Dan jemput dia untuk datang kesini. Dia malu bertemu denganmu."


Iam!! Aku sudah mengepalkan tangan. Memangnya seperti apa wajahnya dia sekarang sih! Kenapa harus malu bertemu denganku!!!


"Apa dia masih ompong dan botak seperti dulu?"


"Haha." Eh kenapa mulutku ini.


"Aku akan menjemputnya Bu." Kubuka pintu apartemen dan bergegas menaiki lift.


Iam, ya Tuhan. Tidak disangka kita akan bertemu kembali tanpa aku susah payah mencarimu, memecahkan teka-teki selama ini. Aku mencarinya disetiap sudut halaman apartemen. Seluruh parkiran, tidak ada. Apa dia juga masih tidak mau bertemu denganku?


"Aku yakin sekali, pasti wajahnya jelek. Makannya malu untuk bertemu denganku." Rasa penasaran yang membuncah, aku tidak menyerah begitu saja. Lelah berkeliling, aku mengunakan mataku untuk menyusuri setiap sudut dimana mobil sedang terparkir saat ini. Aku bak berada ditengah lautan sekarang, yang masih tiada gelombang yang menghempaskan tubuhku. Beberapa penghuni apartemen tampak berjalan dan juga ada yang memasuki mobil.


"Itu mobil Adam?" Aku meniliknya sekali lagi, dan berjalan mendekat.


"Adam." Ku ketuk kaca jendela mobil, merasa tidak puas karena tidak ada jawaban. Ku tempelkan wajahku di kaca mobil, agar dapat melihat keadaan di dalam.


"Adam!!" Dia malah asik memejamkan mata dan mendengarkan musik. Untuk apa dia disini?


"Adam!" Aku tidak menyerah. Dasar gila! Dia sering kali melakukan hal ini, apa tidak tau bahaya jika tidur di dalam mobil.


"Kau sedang apa disini?" Akhirnya, Adam membuka matanya dan melihat aku yang sudah berdiri di sisi mobilnya.


"Kau sedang apa disini?" Aku menepuk keningku, kenapa malah dia balik bertanya! Harusnya dia sadar jika aku adalah penghuni apartemen. Wajar jika aku ada disini bahkan setiap hari.


"Aku mencari temanku, dia ada disini. Ibunya datang menemui ku Adam. Ya Tuhan, aku tidak perlu lagi mencari keberadaannya." Ucapku girang, tapi sedetik kemudian menjadi lesu. Saat ku tau, tidak ada lagi orang disini. Entah pun dia ada tapi aku tidak tau seperti apa wujudnya sekarang. Bahkan soal wajah aku juga sudah tidak tau.


"Oh." Jawabannya membuatku naik pitam.


"Kau harus membantuku sekarang?" Aku menarik paksa lengannya untuk keluar dari mobil.


"Jika bertemu dengannya, kau akan mengatakan apa? Dan apa yang akan kau lakukan?"


"Aku sangat merindukannya. Aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan keliling kota. Itu impian kami dulu, sambil membeli cemilan dan juga ice cream." Sambil terus berjalan menyusuri parkiran.


"Eh tunggu, kau sedang apa disini? Kenapa kau ada didalam mobil?" Aku berhenti melangkah dan menunggu jawaban dari Adam.


"Aku menunggumu. Tapi kau datang malah mencari orang lain."


"Adam! Itu bukan orang lain." Ya Tuhan, apa dia tidak tau yang kurasakan saat ini. "Kalau begitu kau ikut denganku, aku sudah terlalu lama meninggalkannya di dalam." Adam masih diam mematung. Ku tarik lagi tangannya. Ah tenagaku kuat juga ternyata.


Saat berjalan, kulihat Adam sesekali menguap, lalu menutupnya dengan tangan.


"Apa kau tidak istirahat hari ini?" Adam menggeleng.

__ADS_1


"Aku baru saja pulang dari pusara."


"Ayahmu?" Adam mengangguk lagi.


Sampai di pintu apartemen, aku membukanya dengan kekecewaan. Iam benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Padahal, seperti apa bentuknya dia tetap temanku. Teman kecilku yang sempat aku sukai.


"Ibu?" Aku kembali duduk di sampingnya. Aku masih sangat ingin berlama-lama dengannya. Wanita cantik yang selalu memberiku coklat setiap kali berkunjung kerumah ayah dulu.


"Dia tidak ada. Iam tidak mau menemuiku." Aku mengaduh lagi padanya.


"Bu, kenalkan dia Adam. Teman sekolahku." Aku menunjuk ke arah Adam.


"Teman sekolah?" Kaget, lalu menoleh ke arah Adam yang duduk di seberang sofa.


"Kau?" Menunjuk ke arah Adam dengan tajam.


"Kenapa Bu? Apa ibu mengenalinya? Adam, dialah ibu dari temanku." Mereka saling pandang dalam diam. Kenapa? Aku bertanya-tanya. Apa Adam memiliki masalah dengan ibu Marisha?


"Apa dia sering datang kesini?" Aku harus menjawab apa sekarang? Kalau aku menjawab dengan iya, aku takut ibu berpikir macam-macam sekarang.


"Dia sering datang, tapi tidak sendirian, bersama dua temanku yang lain." Ibu semakin menatap tajam ke arah Adam. Aku takut, apa ibu akan menghakiminya sekarang.


"Katakan, apa kau sudah tau? Sebelum ibu sendiri tau?"


"Maksudnya?" Adam malah mengangguk. Tunggu, apa ini maksudnya? Kenapa ibu menyebutkan dirinya sebagai ibu dihadapan Adam?


"Maaf Bu." Lirihnya, aku tidak berkedip menatap ke arah Adam. Otakku sedang mencerna setiap kalimat dan kejadian yang terjadi dihadapan ku sekarang. Apa maksudnya? Apa, ah tidak mungkin. Aku bahkan sampai menggeleng tanpa sadar. Tidak mungkin jika Iam itu adalah Adam kan? Orang yang aku cari selama ini? Dia ada dihadapan ku sekarang? Dan bersamaku setiap saat dan waktu? Dia ayah dari anak yang aku kandung!


"Tidak!!!" Aku berteriak tanpa sadar. Memegang kepalaku dengan kedua tangan. Hatiku luluh lantak seketika, melihat kenyataan. Kenapa bisa? Dunia tidak begitu sempit kan? Lalu apa lagi yang aku akan tau kedepannya.


"Nara, Nara? Kau kenapa?" Kedua ibu dan anak ini, langsung mendekat ke arahku. Benar-benar tidak masuk di akal!!! Adam, jadi selama ini dia orang yang aku cari? Otakku terus berpikir, apa saja yang harus aku ingat.


"Kau harus lebih peka terhadap orang-orang disekitar mu." Ya, Adam pernah mengatakan hal itu. Lalu kenapa dengan bodohnya dia selama ini berakting di depanku? Berpura-pura membantuku mencarinya disekolah.


"Jadi, kau yang mengirimkan aku pesan waktu itu?" Adam mengangguk lagi. Ku lemparkan bantal sofa yang tepat mengenai wajahnya.


"Ibu? Dia jahat sekali. Dia tau aku sampai menangis karena merindukan sosok Iam." Aku terduduk melemas. Aku senang, bisa menemukannya, bertemu dengannya lagi. Tapi ada satu hal saat ini yang menjadikan Adam selalu memiliki kaitan denganku. Anak, ya anaknya saat ini ada bersamaku.


"Ibu?" Lirihku memanggil ibunya Adam.


Dia memelukku lagi, mengelus punggungku dengan lembutnya. Dan orang duduk dengan tenang diseberang sofa malah seperti tidak mempunyai kesalahan. Dia bahkan sempat tersenyum ke arahku, mengedipkan sebelah matanya. Apa setelah ini aku harus mengakui bahwa aku hamil??


***


Suara mesin motor yang berbagai aneka ragam, halus dan sampai ada yang memekakkan telinga. Disini aku duduk sekarang. Di pinggir jalan raya dekat trotoar. Ide gila dari Adam yang meminta janjinya, berkeliling kota. Tapi bukan seperti ini yang aku mau, ini malah seperti pengamen dipinggir jalan. Dan anehnya, aku malah banyak melihat anak remaja seusiaku juga duduk disini. Ada yang bernyanyi dengan gitarnya. Ada juga yang sedang duduk berkumpul makan cemilan.


Aku menunggu Adam, dia sedang pergi membeli cemilan dan minuman di warung-warung kecil. Terlalu jauh jika harus membeli di minimarket. Udara dingin malam ini menyeruak, menghempaskan rambutku yang sudah mulai panjang. Aku akan memotongnya lagi nanti setelah aku melahirkan. Eh aku sangat berharap jika aku bisa melahirkan dan menjadi ibu. Hanya saja, satu yang aku tidak mau, menikah.


Rasa tidak sanggup kehilangan, seperti ibunya Adam. Dia kehilangan suaminya, dan menderita selama bertahun-tahun, begitu juga dengan Adam. Lalu aku juga takut akan merasakan hal itu, bukankah yang dimiliki tidak bisa selamanya kita peluk. Biarlah nantinya anakku lahir tanpa seorang ayah, dan dia hanya punya aku. Sehingga tidak terlalu sakit jika kehilangan dua orang tua sekaligus. Aku tidak ingin melihatnya menangis.


"Kau harus melakukan operasi ketika melahirkan." Aku teringat kata-kata bi Gina lagi. Entah apa alasannya, mungkin karena aku belum menikah dan memiliki anak gitu? Ah tapi sudahlah, memang semua sudah di atur bi Gina. Dan terbukti kalau kandunganku saat ini masih baik-baik saja, itu semua karena bantuannya.


"Kak, sendirian?" Aku menoleh. Sepasang anak remaja menghampiriku. Kakak katanya, sepertinya kami sebaya, apa wajahku terlalu tua?


"Tidak, tentu saja kami memanggilmu kakak. Bukankah kami tidak tau siapa namamu."


Dia mengulurkan tangan.


"Kinara." Aku tersenyum. Tidak masalah jika hanya berteman.


Mereka menyebutkan namanya, mungkin besok aku juga akan lupa. Terlalu banyak pikiran ku sehingga tidak mampu lagi mengingatnya, maaf.


"Kemana temanmu?"


"Sedang beli cemilan."


"Pasti cantik temannya."


"Iya lebih cantik dariku." Mereka langsung berbisik, baiklah aku akan memberi pelajaran sedikit.


"Kalian mau kenalan?" Mereka mengangguk lagi. Manis, wajahnya memang manis. Salah satu memiliki lesung pipi. Tapi penampilannya sungguh urakan.


"Nah itu dia." Mereka saling pandang. Adam datang membawa bungkusan plastik berwarna hitam besar. Apa dia mau duduk disini sampai pagi membeli cemilan sebanyak itu?


"Bukankah itu laki-laki?" Aku menggeleng.


"Tidak dia perempuan, hanya saja penampilannya seperti laki-laki." Aku sudah menahan tawa sekarang.


"Dinda, ada yang ingin berkenalan denganmu." Aku berjalan lebih dulu mendekat ke arah Adam. Lalu mengedipkan mata, reaksi Adam semula bingung lalu aku menoleh ke arah mereka yang masih duduk disana. "Ayo Dinda." Aku menarik lengannya. Ku mohon kau mengertilah Adam.


"Hai, kalian menungguku?" Suaranya sudah dibuat Adam seperti wanita, aku mengelus perut agar anakku tidak sepertinya.


"Kau cantik, kenapa penampilanmu seperti ini?" Adam tersenyum dengan manisnya, lagi-lagi aku harus membuang pandangan karena tidak sanggup menahan tawa.


"Terima kasih. Aku lebih nyaman seperti ini." Mereka berdiri, lalu pamit untuk pergi.


"Eh tunggu." Mereka menoleh ke arahku.


"Ini aku kasih kalian cemilan." Ku berikan dua bungkus keripik kentang.


Setelah mereka pergi, aku yang tertawa sampai mengeluarkan air mata.


"Bagaimana bisa kau menyamai suara wanita Adam!" Ku pukul bahunya berkali-kali. Adam melirikku dengan tajam.


Aku sengaja berbuat seperti ini. Karena aku paling tidak suka ada orang yang mau berkenalan hanya karena memandang fisik seseorang. Padahal, yang memandang fisik sekalipun belum tentu sempurna.


"Apa yang kau lakukan pada mereka tadi?" Adam menyodorkan keripik kentang ke arahku, dan dia juga sudah membukanya.


"Tidak ada. Dari pada mereka mengganggu."


"Oh jadi kau senang jika hanya berdua denganku?" Adam memainkan alisnya.

__ADS_1


"Bukanlah, bukan seperti itu. Kalau mereka orang jahat gimana?"


"Minumlah. Agar kau tidak panik." Dia malah menyodorkan minuman untukku. Sialan, dikira aku dehidrasi apa, sehingga bisa melakukan hal semacam tadi.


Beberapa menit duduk menikmati cemilan, keheningan yang terjadi diantara kami saat ini. Aku dan Adam saling diam, lebih memilih melihat lalu-lalang para pengendara. Aku kaget, saat Adam menyentuh tanganku, lalu menggenggamnya.


"Tanganmu dingin sekali." Aku menoleh ke arahnya. "Kalau kau merasa kedinginan sebaiknya kita pulang." Adam menggeleng. Tanpa menoleh ke arahku, sedang menatap lurus ke depan. Entah apa yang dia lihat saat ini.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih hampir tak terdengar ditelan suara gemuruh dijalan raya dan terbawa oleh angin.


"Apa kau yang setiap hari meletakkan coklat didalam laci mejaku?" Adam mengangguk, kali ini dia menoleh. Wajahnya yang sendu benar-benar mengakui kesalahannya.


"Iya. Tapi itu jauh sebelum aku tau jika kau adalah Aya. Orang yang selama ini aku cari. Aku melakukan hal itu hanya karena ingin menebus rasa bersalahku. Karena semenjak kejadian malam itu, kau lebih murung dari biasanya. Aku tau jika kau sangat terguncang, tapi kau menutupinya dariku."


"Tunggu, orang yang selama ini kau cari? Tapi kenapa kau malah diam saat sudah tau kalau aku orangnya?"


"Karena aku tidak perlu lagi repot-repot mencarimu, setiap hari kau sudah ada di dekatku."


Aku yang merasa ini tidak adil memukul lengan Adam berkali-kali, tidak peduli dia mengaduh sakit. Membayangkan hal ini saja sudah membuatku syok, kenapa malah Adam terlihat biasa saat tau kalau Aya kecil itu adalah aku.


"Kau suka sekali memendam apapun sendirian."


"Tidak juga."


Nah kan, aku merasa dongkol melihatnya. Oh ibu Marisah, apa Adam juga akan begini denganmu?


"Lalu, bagaimana caranya kau meletakkan coklat itu? Bukankah setiap kali aku datang lebih awal aku tidak pernah melihatmu. Dan kalau pulang sekolah aku menunggu, kau tidak pernah ada disana." Berkata dengan satu nafas. Perasaan sudah berapi-api saat ini, membayangkan aku rela datang pagi-pagi hanya untuk melihat sosok yang sudah baik padaku. Eh ternyata dia dengan santainya setiap hari terus bersamaku. "bagaimana mungkin bisa." Ucapku lirih.


"Coba kau jelaskan." Adam melirikku dan tertawa. Sialan! Apa yang lucu.


"Apa kau sebegitu penasarannya?"


"Iya!!" Jawabku dengan nada membentak.


"Baiklah aku akan mengatakannya." Adam menarik nafas, tak sempat tertawa lagi setelah membuang nafasnya.


"Sebenarnya, terkadang aku meminta bantuan securitty. Kalau sudah melihatmu datang lebih awal ataupun sengaja menunggu disaat pulang sekolah."


"Securitty?" Adam mengangguk.


"Kalian sedang apa?"


"Tidak pak hanya mengerjakan tugas."


Aku mengingat kembali kejadian waktu itu, lalu seingatku Adam memainkan mata dengan securitty. Sialan! Aku benar-benar dibodohi olehnya ternyata.


"Sekarang, apa lagi yang membuatmu penasaran?"


"Dari mana kau tau jika aku adalah Aya. Dan bagaimana kau bisa membawa ibumu ke apartemen!" Ini adalah pernyataan yang paling unggul diantara yang lainnya.


"Aku melihat photo yang kau tunjukkan padaku." Deg. Benar, aku pernah menunjukan photo itu pada Adam, pantas saja!


"Dan pertama kali aku melihat wajah ibumu, aku jadi yakin kalau kau benar-benar Aya."


"Wajah ibu?" Apa pernah Adam melihat ibuku.


"Saat pulang sekolah dia menjemputmu disekolah." Ah ya ampun. Bagaimana aku bisa lupa akan hal itu. Ingatan Adam sungguh kuat ya, aku saja sewaktu ibunya datang masih sempat tidak mengenali.


"Dan, aku membawa ibuku datang kerumah ayahmu. Untuk meminta bantuan bagaimana cara mengatasi masalah kematian ayahku."


"Lalu, apa kata ayahku?" Aku ingin mendengarnya, jika dia mau membantu maka aku juga akan mengucapkan terima kasih padanya.


"Kata ibuku, ayahmu hanya meminta ibu untuk datang langsung ke kantor. Karena hanya dia dan kak Windu yang bisa bertindak. Bukankah ayahmu hanya orang luar?"


"Kau benar. Tapi kenapa ayah tidak mau membantu." Aku melempar kerikil kecil. Bersuara jika bersentuhan dengan aspal.


"Kinara?" Aku yang semula menunduk langsung mendongak ketika Adam memanggilku dengan nada yang terdengar aneh.


"Apa kau masih menyukaiku?" Ahhhhhhhhh Adam!! Kenapa malah mempermalukan aku begini sih. Aku pernah mengatakan padanya waktu itukan? Sungguh aku menyesal!!


"Jadi, aku adalah cinta pertamamu?"


"Itu kan, Hem sewaktu kita masih anak-anak. Ya jelas perasanku sudah berubah sekarang." Elakku.


"Haha. Tidak masalah, yang terpenting aku pernah disukai oleh orang yang tidak ingin mengenal cinta seumur hidupnya. Yang berarti, sampai kapanpun itu, hanya ada namaku di hatimu." Deg. Bolehkah aku berteriak dan berguling-guling di tanah sekarang?


"Padahal, jika kau mengatakannya dengan jujur, kita bisa menjalin hubungan. Tanpa harus kau membuka hati lagi kepada orang lain, hatimu sudah terbuka untukku."


"Bisa tidak jangan bahas perasaan?" Aku berdiri, membersikan celana dari debu. Lalu berjalan ke arah dimana aku memarkirkan mobilku.


"Eh aku tidak membawa mobil." Rasa malu yang teramat, terpaksa aku harus menunggu sang pemilik datang dan berkenan mengantarkan ku pulang.


10 menit sudah berlalu, dan Adam belum juga muncul. Aku memanjangkan leher untuk melihatnya, dan ternyata Adam malah menikmati cemilan dengan santainya.


"Kenapa balik lagi?" Dia mendengar suara langkah kakiku yang semakin mendekat ternyata.


"Adam! Kau sengaja ya?" Adam melirikku sekilas lalu melanjutkan memasukan cemilan lagi ke dalam mulutnya. Aku tetap berdiri dengan melipat kedua tanganku.


"Ya sudah, kalau begitu aku naik taxi saja."


"Silahkan, kau cari saja jika masih ada." Aku melihat kearah jalanan raya, benar sudah tidak ada lagi taxi. Ah ya ampun, aku berharap masih ada, aku akan Berteriak sekencang mungkin agar taxi bisa mendengarkan aku.


Adam tiba-tiba saja berdiri, menarik lenganku dan membawaku ke mobilnya.


"Masuklah akan ku antar kau pulang!"


"Memang seharusnya begitu!" Aku membanting pintu mobil dengan kerasnya.


Adam belum juga menyalakan mesin mobilnya, aku sudah jengah terus-terusan marah malam ini. Yang ada wajahku semakin tua nantinya.


"Bisakah ku pinjam tangamu?" Aku mengeluarkan tangan tanpa melihat kearahnya.

__ADS_1


"Cup." Adam menarikku secara tiba-tiba, hingga tubuhku terpental mendekat ke arahnya. Pelukan, ya aku juga membalas pelukannya. Tanpa disadari aku malah menikmati rasa kenyamanan ini. Apa aku dan Adam bisa terus seperti ini nantinya?


Bersambung..


__ADS_2