
Ah akhirnya aku bisa merasakan lagi berbicara dengan bi Gina. Setelah seminggu tidak berjumpa. Aku sudah duduk di meja makan dekat dapur. Menopang dagu dengan satu tangan, melihat bi Gina yang tengah sibuk memasak. Sambil berbicara, bi Gina juga sambil meladeni ku yang berbicara. Menjawab apa yang kutanya. Bisa dibilang aku pasti mengganggunya. Aku mengaduh tentang apa yang dikatakan Adam kemarin. Dan bi Gina malah menjawabnya hanya dengan senyuman, lalu mengelus kepalaku, setelahnya lanjut memasak lagi.
"Bi, kalau sudah selesai bibi juga ikut ya antar makanan untuk mereka?" Iya, sebenarnya bi Gina memasak untuk aku bawakan ke tempat adik-adik jalanan. Aku sudah rindu mereka.
"Iya Nara, boleh."
"Yes." Aku langsung kegirangan. Bukan hanya aku, tentunya juga mereka disana. Karena aku telah berjanji untuk kembali membawa bi Gina kesana.
"Sebaiknya ganti dulu bajumu." Eh iya, sangking senangnya saat pulang ke apartemen ada bi Gina, aku langsung duduk di meja dapur dan belum sama sekali masuk ke dalam kamar.
Siang ini panas sangat terik, aku dan bi Gina yang sudah sampai di tempat. Tapi tidak melihat ada mereka disana, tidak satupun. Heh, aku yakin kalau mereka pasti sedang mengamen ataupun mencari barang bekas. Kalau tidak begitu pasti mereka tidak bisa makan. Terkadang aku takut kalau selalu meninggalkan uang untuk mereka. Aku takut kalau ada yang berbuat jahat seperti waktu itu. Mending kalau hanya uangnya saja yang di ambil, kalau mereka melawan pasti akan dihajar. Mereka masih terlalu kecil untuk melawan.
"Kardus-kardus mereka juga tidak ada bi." Aku berjongkok, memegang kedua kepalaku. Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak ya. Ya Tuhan, jangan sampai mereka kenapa-napa. Salahku juga yang tidak datang kesini selama satu Minggu terakhir ini.
"Nara, coba kau cari di jalanan, tempat biasa mereka mengamen. Siapa tau ada disana." Aku mengangguk, lalu pergi dengan menggunakan mobil. Tempatnya cukup jauh, di daerah lampu merah. Semoga saja mereka ada disana.
"Tapi kalau menurut penglihatan bibi, mereka memang sudah tidak disana lagi. Kau lihat tadi kan, tidak ada barang-barang mereka disana. Malah tampak bersih." Deg. Cukup bi, jangan membuatku semakin khawatir.
Aku menepikan mobilku di salah satu warung pinggir jalan. Menunggu disini saja, sudah tidak jauh dari lampu merah. Mataku liar, melihat ke arah jalanan. Aku berharap menemukan satu saja diantara mereka. Jadi bisa bertanya.
"Bi, bibi tunggu disini sebentar ya." Aku berjalan menyebrang. Karena kulihat ada anak-anak jalanan lain. Meskipun bukan satu diantara mereka, tapi aku berharap kalau anak ini melihatnya.
"Aku tau kak tempatnya." Syukurlah, aku mengelus dada. Kemudian mengikuti langkah anak yang menunjukan jalan.
"Tadi mereka makan kak, beli nasi." Ah ya ampun, mereka makan. Aku lagi-lagi bersyukur mendengarnya. Yang berarti mereka baik-baik saja.
Anak itu menunjuk ke sebuah lorong kecil, yang di apit gedung dan ruko. Hanya saja keadaannya sangat sepi, meskipun masih berada di pinggiran jalan raya. Aku jelas melihat mereka makan dua nasi bungkus, dan harus dimakan dengan jumlah 10 orang. Apa akan kenyang? Mereka belum menyadari kedatanganku. Tengah asik makan dan tertawa. Aku menoleh lagi kebelakang. Bermaksud untuk berterima kasih kepada anak yang sudah menunjukan jalan tadi. Tapi dia malah sudah pergi, ya ampun.
"Kalian kenapa disini?" Tanyaku, mereka menoleh dan wajahnya langsung berbinar.
"Kak Nara?" Mereka berebut untuk memelukku. Serindu ini mereka padaku?
"Kakak datang ke tempat biasa, tapi kalian tidak ada. Padahal kakak sudah bawa makanan." Mereka tersenyum, tapi detik berikutnya wajahnya berubah sedih, menunduk. Ada apa?
"Kenapa? Ada apa? Katakan pada kakak?" Mereka hanya saling pandang. Aku tau, ini tempat yang tidak layak untuk mengobrol. Aku mengajaknya untuk duduk di warung dimana bi Gina menunggu disana.
Berjalan menyebrang jalan raya sambil bergandengan tangan, tertawa lepas. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, harus menggunakan bahasa tangan agar pengendara dijalan raya dapat memperlambat laju kendaraan mereka. Aku merasa terlahir kembali jika di dekat mereka. Wajah yang tidak bersih ini, umur yang belum cukup. Mampu bertahan hidup walaupun harus jungkir balik mencari rupiah. Sementara aku, yang enak-enakan saja bahkan memiliki pembantu di apartemen. Uang lancar, dan kapan saja meminta ayah akan memberinya.
Aku meminta bi Gina memesankan minuman sesuai dengan jumlah mereka. Dan soal makanan, kami sudah membawanya. Di masak khusus oleh bi Gina.
"Kak, kok minumnya ada 10? Kita kan cuma 9 orang." Aku menatap wajah mereka satu-persatu. Iya, benar aku menghitung melalui pandangan mata. Mereka hanya berjumlah 9 orang, bukannya 10? Siapa yang tidak ada disini. Andi? Aku mencari Andi, dia tidak ada.
"Apa Andi tertinggal? Sebaiknya di susul, atau kakak saja yang menyusulnya? Kalian sebutkan saja tempatnya, kasian Andi nanti dia malah nyari kalian." Mereka malah menunduk.
"Nara, biarkan mereka makan dulu." Aku menoleh ke arah bi Gina. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Baiklah, aku juga ikut makan. Mereka makan tampak lahap sekali. Aku jadi ikut selera, tidak merasa jijik sama sekali. Aku malah senang, begitu juga dengan bi Gina. Dia tersenyum terus, lalu sesekali mengelus salah satu dari mereka yang duduk di dekatnya.
Suara motor di pinggir jalan raya bersahut-sahutan. Seperti menjadi lauk makan siang kami hari ini. Jujur, aku tidak pernah makan di tempat ini. Tidak tau berapa harga minuman dan satu porsi nasinya.
"Maaf, ini kebanyakan." Aku memberinya tiga lembar uang seratus ribuan. Tapi penjual mengembalikan dua lembar uang kepadaku, dan ditambah lagi uang pecahan.
"Lho?" Aku kaget. Memangnya berapa harga minuman disini? "Hem Bu. Ambil saja kembaliannya, dan aku menumpang duduk disini sebentar ya Bu." Aku memberinya lagi uang itu.
"Tapi, tapi ini terlalu banyak." Wajahnya bingung, mulutnya belum menutup sempurna.
"Rezeki ibunya." Aku tersenyum dan kembali lagi duduk bersama mereka. Ini saatnya aku mendengar, apa sebenarnya yang terjadi, dan kemana Andi.
"Kak, Andi sudah meninggal." Deg. Tubuhku melemas. Bagai ada petir yang tiba-tiba datang di panas terik, sehingga membuatku terlonjak kaget. Bi Gina menopang tubuhku, hampir saja aku tak sadarkan diri.
Andi, dia yang paling muda diantara mereka. Umurnya 6 tahun. Menderita hidup di jalanan, karena perceraian kedua orang tuanya. Sama seperti ku, dan tinggal hanya dengan neneknya. Tapi setelah neneknya meninggal, Andi harus hidup di jalanan bersama mereka. Karena sudah tidak lagi memiliki tempat tinggal. Sekarang, Andi sudah bersama neneknya.
"Malam itu hujan sangat deras kak, kami semua mencari tempat teduh. Andi memang sudah mengeluh sakit perut dari pagi. Sehingga kami meninggalkannya mengamen. Dan malam itu, Andi menggigil. Kami tidak memiliki selimut. Jadi, hanya bisa saling memeluk agar saling menghangatkan. Tapi saat pagi hari kami terbangun, tubuh Andi sudah kaku tak bergerak." Aku menangis, aku menangis mendengar penjelasan mereka. Ya Tuhan, padahal seharusnya Andi ikut merasakan indahnya tinggal di dalam rumah sebentar lagi. Tapi malah dia memilih rumah yang lain.
"Lalu, kenapa semua kardus kalian tidak ada disana?"
"Itu kak, pemilik tanah mengusir kami. Karena katanya akan di bangun rumah disana." Lagi-lagi aku menggeleng.
"Dan sekarang kami tidur pindah-pindah tempat kak."
"Maaf ya, kakak tidak bisa membantu kalian waktu itu. Tapi kakak janji dalam waktu dekat ini kalian akan memiliki rumah."
Padahal, sebenarnya aku sangat jengkel melihat orang yang memiliki tanah disana. Meskipun akan dilakukan pembangunan. Setidaknya biarkan mereka disana sebelum adanya pembangunan dimulai. Aku menoleh ke arah bi Gina. Dia tau dari sorot mataku, aku meminta bantuannya kali ini.
"Tetangga bibi ada yang berkerja sebagai kuli bangunan. Kalau kau mau bibi akan bicara padanya."
"Soal tanah bi, aku mau mereka tinggal di sekitar sini saja." Bi Gina memikirkan sesuatu.
Dan hari ini, aku mencari rumah kontrakan yang layak untuk mereka tinggali sementara. Aku tidak akan lagi membiarkan mereka tidur di jalanan. Mulai hari ini, tidak akan lagi. Dan untungnya, hanya dalam waktu satu jam aku menemukan kontrakan yang apa. Cocok dengan harganya.
"Kalian suka?" Mereka serempak mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah mulai hari ini, kalian tidak boleh lagi mengamen ya. Setiap hari kakak akan mengantarkan makanan kesini. Dan kalau kakak tidak sempat, akan ada orang lain yang mengantarnya."
"Terima kasih ya kak." Aku memeluk mereka satu-persatu.
Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. Sudah jam 4 sore, ya ampun tidak terasa. Pantas saja kepalaku terasa berat, mungkin karena aku belum tidur siang.
"Bi?" Aku memanggil bi Gina yang tidak ada diantara kami saat ini. Ah sudahlah mungkin beliau sedang keluar.
"Kalian suka tidak tempat tidurnya?"
"Suka kak."
"Jangan berkelahi ya jika tinggal satu rumah. Ingat, kalian itu saudara. Saling menyayangi. Dan kau, kau yang paling tua di antara mereka. Harus bimbing adik-adikmu."
Mereka masih menyusuri setiap ruang, matanya berbinar seperti menemukan tempat penantian selama ini. Padahal ini kontrakan yang menurutku kecil. Nanti akan aku bangun rumah untuk mereka yang jauh lebih mewah dari ini. Andai saja aku sudah mempunyai penghasilan, aku pasti mampu menyekolahkan mereka.
"Nara? Nara?"
"Iya bi ada apa?" Aku sampai berlari ke arah bi Gina.
"Bi, ada apa?"
"Nara, suami bibi. Suami bibi terjatuh, ini baru saja tetangga bibi telepon." Ya ampun, berita duka datang lagi.
"Kalian jangan kemana-mana ya." Aku memberikan uang pada mereka. Lalu langsung keluar menuju mobil, siap untuk berangkat kerumah bi Gina. Sepanjang perjalanan bi Gina hanya bisa menangis. Aku tidak bisa memeluknya atau sekedar menenangkannya. Aku tengah fokus menyetir.
Saat sampai di depan gang, bi Gina langsung lompat turun. Meninggalkan ku begitu saja. Aku yang tidak tau letak rumah bi Gina mencoba bertanya kepada warga sekitar.
"Cari siapa de?"
"Rumah bi Gina Bu, yang suaminya sakit." Kemudian dia menunjuk rumah gandeng yang di kelilingi pagar bambu. Aku mengangguk, rumahnya sederhana tapi begitu rapi. Sudah ada beberapa tetangga disana, mungkin juga sudah menunggu kepulangan bi Gina. Aku semakin menjadi merasa bersalah, andai saja tidak mengajak bi Gina tadi. Ah ya Tuhan, aku jadi menyalahkan diriku sendiri. Andai dan beribu andai sekarang.
"Nara, Nara?" Bi Gina masih tetap panik.
"Iya bi, bagaimana keadaan suami bibi?" Dia menangis lagi.
"Tidak sadarkan diri. Nara bisa tolong bibi membawanya kerumah sakit?" Aku langsung mengangguk dan berlari, eh aku berbalik dan bertanya. Mobil tidak bisa masuk, lalu bagaimana cara membawanya sampai ke depan gang?
"Tunggu saja di mobil, biar tetangga bibi membantu mengangkatnya." Aku mengangguk lagi.
Baiklah, aku harus banyak melalukan kebaikan. Aku memang sering tidak sadar kalau aku sedang hamil, jelaslah aku juga belum menikah kan. Aku berlari sampai ke mobil, nafasku ngos-ngosan. Perutku, seperti keram di bagian bawah. Aku menyentuhnya. Lagi-lagi aku sembarangan saja.
"Bi? Bibi masuk saja duluan." Aku melihat bi Gina sudah sampai.
Bi Gina memandang suaminya yang berada di dalam ruangan, seluruh tubuhnya terpasang selang. Bahkan bisa Gina juga tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya. Sudah lelah menangis. Aku menuntunnya untuk duduk. Mengelus lengannya, hanya itu yang bisa aku lakukan.
"Bi? Berdoa saja agar suami bibi bisa kembali pulih." Bi Gina hanya diam menunduk.
"Bibi sangat mengharapkan hal itu, meskipun sebenarnya mustahil. Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan dokter tadi. Kesembuhannya hanya 50%. Tapi bibi memikirkan biaya rumah sakit ini. Kalau tidak di bayar sampai sore, tidak akan dilakukan tidak operasi." Biaya yang tidak sedikit, aku tau itu. Meski saat ini uangku cukup untuk membantu, tapi bagaimana nasib adik-adikku nanti kalau uangnya aku pakai sekarang. Sementara aku juga sudah berjanji.
"Sebentar ya bi." Aku berjalan di lorong rumah sakit. Mencari tempat yang sepi, di sudut lorong rumah sakit. Mengeluarkan ponsel, berharap kali ini ayah mau membantu.
"Hallo? Ayah?"
"Iya Nara?"
"Yah, aku mau minta bantuan ayah." Aku harus bicara dengan selembut mungkin, sesedih mungkin agar ayah mau membantunya.
"Katakanlah."
"Yah, suami bi Gina masuk rumah sakit. Dan harus butuh biaya yah, kalau tidak mungkin entah bagaimana nasibnya."
"Nara?" Ayah langsung memotong ucapan ku. Padahal aku belum selesai bicara.
"Yah? Kasian bi Gina yah."
"Nara?"
"Yah! Gantikan saja dengan uang jajan bulanan ku yah."
"Dengarkan ayah dulu!" Aku langsung terdiam.
"Lakukan operasinya. Ayah akan mentransfer uangnya sekarang, tapi ayah tidak bisa datang untuk melihatnya. Ayah sedang berada di luar kota." Ya Tuhan, dia ayahku. Aku sudah yakin ayah mau membantunya.
Saat notif masuk dengan sejumlah uang yang cukup untuk membayar biaya rumah sakit, aku langsung menuju pihak administrasi rumah sakit.
"Ini struk tanda bukti pembayaran. Silahkan tanda tangan disini ya." Aku mengangguk, dan menandatangani surat itu.
"Terimakasih suster." Aku bisa tersenyum sekarang, aku yakin bi Gina juga senang mendengarnya.
__ADS_1
Aku melewati lorong rumah sakit, cukup lama aku meninggalkan bi Gina sendirian. Ku lihat dia masih duduk disana, dengan posisi yang sama. Meski tatapannya tampak kosong. Hingga aku duduk kembali di sebelah bi Gina. Dia hanya melirikku sekilas.
"Bibi hanya punya dia, kalau dia pergi bibi tidak tau bagaimana kehidupan bibi nantinya." Deg, benarkah itu yang dinamakan cinta sejati?
"Meski bibi juga berkerja, dan memang bibi lah tulang punggung saat ini. Tapi tanpanya bibi yakin pasti semuanya menjadi hampa. Bibi semangat mencari uang juga karenanya." Aku memeluk bi Gina.
"Bi, tenang ya. Operasi akan dilakukan sebentar lagi." Bi Gina langsung melepas pelukanku. Memegang wajahku dengan kedua tangan.
"Katakan, apa kau Nara yang membayarnya?" Aku menggeleng.
"Bukan bi, tapi ayahku."
"Nara?" Bi Gina langsung memelukku dengan erat, mengucapkan terimakasih berulang-ulang.
"Bi, sudah ya. Jangan sedih." Ku tepuk-tepuk pundaknya.
"Bi, aku pamit pulang ya? Nanti malam aku datang lagi kesini, sekalian bawakan bibi makanan." Bi Gina mengangguk. Syukurlah, dua kabar duka yang aku dengar hari ini, tapi memiliki jalan keluar untuk mengatasinya. Aku bersyukur Tuhan masih mau mendengar doaku.
Sampai di apartemen, aku langsung membersihkan diri. Sungguh, tulangku terasa ngilu, tubuhku juga lemas. Aku tidak ada istirahat satu harian. Biasanya juga tidak pernah begini, tapi aku yakin kalau ini juga efek dari kehamilanku. Aku berbaring sebentar di tempat tidur. Menunggu hari gelap, aku akan datang lagi kerumah sakit sesuai janjiku dengan bi Gina. Sebentar saja aku memejamkan mata.
Aku kembali membuka mata, setelah 10 menit berlalu. Melamun dan menatap langit-langit kamarku. Aku memikirkan perkataan Adam, sampai kapan aku akan hidup sendiri seperti ini? Apa sampai tua? Dan hanya bergantung pada ayah, meskipun aku tidak tinggal satu rumah dengannya. Lalu soal biaya kelahiran anakku nanti? Walaupun bi Gina sudah berjanji akan mengurusnya, tapi bukankah itu semua memakai uang? Kalau aku selalu minta kepada ayah, bukankah dia akan curiga.
"Ah aku pusing!!" Tidak, aku harus terkendali. Kalau tidak aku pasti akan berusaha mencelakai anak dalam kandunganku lagi. Aku bangkit, dan mencari ponselku.
"Adam, kau dimana?" Aku mengirim pesan, berharap Adam segera membalasnya. Aku akan mengajaknya untuk datang kerumah sakit. Kalau dengannya aku merasa lebih tenang. Aku bersiap sekaligus menunggu balasan dari Adam. Tapi nihil, sampai aku berjalan keluar apartemen juga tidak ada jawaban. Atau mungkin dia sedang bersama Elena?
Aku melajukan mobil, tanpa semangat. Bukan aku terpaksa untuk datang kesana, tidak. Bukan itu, hanya saja memang tubuhku yang susah untuk di ajak bergerak. Aku sendiri di dalam mobil, memandang lampu-lampu kendaraan lain. Yang terkadang seenaknya saja memakai lampu sorot jauh, sehingga aku menyipiitkan mataku. Belum lagi suara klakson kendaraan lain yang tidak sabar dan ingin menyalip. Emosi gampang sekali naik sepertinya akhir-akhir ini.
Aku sudah sampai dirumah sakit, berhasil melewati keluhanku sepanjang jalan. Saat sampai di lorong aku menoleh ke samping, dimana ruangan pasien lain. Memang begitu kan? Aku rasa bukan hanya aku yang begini, tapi orang lain juga. Setiap berjalan pasti matanya akan liar melihat kesana kemari.
"Adam?" Aku mengehentikan langkahku, mundur dua langkah. "Tadi aku melihat Adam memakai baju pasien." Ruangan yang semula tidak tertutup, ah tapi saat pemeriksaan pasti di tutup. Seorang dokter juga menghalangi pandanganku.
"Ya ampun, kenapa aku jadi memikirkan Adam hanya gara-gara dia tidak membalas pesanku?" Aku menggeleng dan tertawa sendiri. Merutuki kebodohan ku, bagaimana bisa berpikir jika itu Adam. Lagian hanya melihat sekilas tadinya. Bisa saja salahkan.
"Bi?" Aku menghampiri bi Gina yang meringkuk duduk sendirian. Kasian sekali, pakaiannya juga belum diganti sejak pagi. Ha? Aku melupakan sesuatu.
"Bi, aku lupa bawa makanan. Sebentar ya bi?"
"Nara, tidak usah?" Bi Gina menarik lenganku.
"Kenapa bi? Bibi belum makan kan?"
"Sudah tidak usah. Bibi tidak lapar?" Aku duduk dan tersenyum, mengelus lengannya. Wajah bi Gina sangat sayu, matanya yang sembab karena terus menangis. Kalau dulu ayah dan ibu tidak bercerai, apa ibu juga akan seperti ini ketika melihat ayah sakit? Dan kalau mereka tidak bercerai, aku juga tidak akan pernah berjumpa sosok bi Gina.
"Tunggulah bi. Kalau bibi sakit juga, lalu siapa yang akan merawat suami bibi?" Bi Gina mau mendengarkan ku. Dia mengangguk, yang berarti setuju dengan aku membelikan makanan.
"Sebentar ya bi. Aku akan Carikan di sekitar rumah sakit." Bi Gina akhirnya luluh.
Aku yakin, disekitar rumah sakit pasti tetap ada yang menjual makanan. Terutama nasi bungkus. Karena mereka akan tetap stay menjual di jam berapapun. Lingkungan rumah sakit, bukan hanya pasien saja yang ingin mengisi perut. Tapi orang-orang yang menjaganya juga.
"Hallo Adam?" Adam menelpon ku saat aku sudah membeli makanan dan berjalan masuk kerumah sakit.
"Kau tadi bertanya aku dimana? Ada apa?"
"Tidak, eh maksudnya iya. Aku dirumah sakit. Suami bi Gina sakit." Adam masih diam.
"Tadi aku juga seperti melihatmu ada ruangan pasien, lucu ya. Hanya gara-gara kau tidak membalas pesanku." Adam malah tertawa mendengarnya.
"Kebetulan aku lagi diluar sekarang. Aku akan kesana, tunggulah sebentar."
"Iya, kau hati-hati di jalan." Aku menutup telepon. Semakin semangat, bukan karena bertemu Adam. Tapi aku jadi tidak merasa sepi, dengan begitu aku juga memiliki teman mengobrol. Saat ini bi Gina sedang tidak baik-baik saja. Jadi, untuk di ajak berbicara apapun masih tidak mungkin. Susah untuknya menanggapi apa yang aku sampaikan.
"Bi, bibi makan ya." Aku membuka nasi dan memberikannya kepada bi Gina. Dia mulai membuka mulut, memasukkan makanan ke dalamnya. Dan suapan kedua, dia berikan untukku.
"Kau juga belum makan kan?" Aku mengangguk. Lalu menerima suapan yang bi Gina berikan.
"Sudah bi, bibi saja yang makan." Entah kenapa aku merasa apa yang masuk kedalam mulut rasanya aneh. Bukan tidak enak, tapi entahlah mungkin hanya lidahku saja yang tidak bisa merangsang rasa makanan saat ini.
"Nara?" Aku mendongak saat selesai meneguk air mineral.
"Adam, kau sudah sampai? Cepat sekali?" Adam tersenyum, sebelum duduk dia sempatkan untuk menyapa bi Gina.
"Nara, kau pulang lah. Besok kau juga harus bangun pagi, sekolah." Kenapa bi Gina mengusirku?
"Bi, Adam juga baru sampai." Bi Gina malah mengelus lenganku. Apa maksudnya?
"Bibi sendiri saja. Maaf kalau besok bibi tidak bisa datang ke apartemen ya? Kau bisa meminta bantuan temanmu dulu, maaf ya?" Aku memeluknya.
"Iya bi. Tidak apa-apa." Adam yang baru saja duduk langsung berdiri, mengulurkan tangannya padaku. Lalu menggenggam tanganku saat aku menerima uluran tangannya.
__ADS_1
"Bi, kita duluan ya." Bi Gina mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.
Bersambung..