Langit Mendung

Langit Mendung
Malam pertama


__ADS_3

Malam ketiga tanpa Adam. Kenapa aku merasa sepi? Tidur dengan posisi apapun aku merasa sangat tidak nyaman, sungguh aku tidak tau bagaimana rasaku untuknya sekarang. Tuhan, aku menarik ucapanku dan sumpahku yang mengatakan tidak ingin menikah dan mengenal cinta. Dulu aku sudah mengakui bahwa Adam memiliki letak yang istimewa dihati ini. Tapi makin kesini aku bingung. Tuhan, ampuni aku dan tunjukkan kalau benar aku memang mencintai Adam.


Kulihat sudah pukul 10 malam. Kalau biasanya jam segini semenjak tinggal dirumah ayah, harusnya aku sudah tidur. Aku menyambar ponsel bermaksud menghubungi Adam.


"Aku merindukanmu, kapan kau pulang?" Tidak, aku menghapusnya kembali. Aku harus menanyakan apa?


"Adam kau sedang apa disana?" Tidak, aku menghapusnya lagi.


"Suamiku?" Haha, kenapa terdengar sangat lucu ya? Dan lagi-lagi aku menghapusnya.


Kutarik nafas dan ini yang terakhir.


"Maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang baik. Mengabaikan mu saat dekat denganku. Adam, maukah kau kembali mengenalkan apa itu cinta yang sebenarnya padaku? Sama seperti dulu saat kau mengajariku untuk membuka hati. Aku menunggumu pulang, dan berjanji akan bersikap lebih baik padamu. Layaknya seperti dulu saat status kita masih menjadi teman." Aku membaca doa sebelum mengirimnya. Lalu menekan enter dan selesai. Aku tidak peduli apa jawaban Adam. Aku memeluk guling dan meletakkan ponsel dibawah bantal.


Kata-kata ku tadi, itu tidak seperti orang yang tengah menyatakan perasaan kan?? Ahhh aku malu sekali rasanya. Bayang-bayang masa lalu jelas teringat, saat Adam memintaku membuka hati. Tapi setelah aku merasakan kenyamanan, harus ada jarak diantara aku dan Adam.


Ting, bunyi notif pesan itu masih terdengar meskipun aku sudah menimpah ponsel dengan bantal. Tapi kali ini, aku lebih memilih untuk tidur. Aku tidak ingin membukanya, takut kalau Adam membalas dengan kata-kata yang menyentuh. Sehingga aku ingin memeluknya sekarang juga.


***


Keadaan sangat gelap, aku sangat haus saat terbangun. Entah jam berapa saat ini, aku tidak bisa melihat karena lampu sudah dimatikan. Kulepas guling yang saat ini kupeluk.


"Bukankah tadi aku tidak mematikan lampu ya?" Aku bangkit, dengan posisi duduk mengucek mata. Saat menurunkan kaki, aku merasa ada yang bergerak. Ini benar-benar aneh, apa ada hantu didalam kamarku?


"Ahhhhhhhhh..." Aku berteriak, saat ada tangan yang menarik ketika aku hendak berdiri. Jatuh menindih sesuatu. Aku teringat kalau ini guling.


"Kenapa kau bangun?" Suaranya terdengar sangat berat seperti orang yang sangat mengantuk.


"Kau siapa?"


"Suamimu." Deg. Bagaimana mungkin? Aku yakin kalau ini hanya mimpi!!


Adam merubah posisinya menjadi duduk, menatapku dalam kegelapan. Aku masih menggeleng tidak percaya, menepuk wajahku sendiri. Terasa sakit, apa benar ini tidak mimpi??


"Tunggulah sebentar, jangan bergerak." Aku memang diam, membeku melihat bayangan itu berjalan.


Klik, lampu menyala. Memperlihatkan Adam yang saat ini memaki jeans tapi tidak memakai baju, Adam bertelanjang dada. Ah tidak, dia tampan sekali.


"Minumlah, kau haus kan?" Dia duduk dan menyerahkan segelas air. Aku hanya mengangguk, lalu meneguk air hingga tandas tak bersisa. Tapi aku masih terdiam, melihatnya tanpa berkedip.


"Kenapa kau begitu kaget saat melihatku? Apa kau tidak membaca pesanku?" Aku menggeleng.


"Mana ponselmu?" Aku mencarinya dibawah bantal tidurku.


"Lihat, aku sudah mengirim pesan padamu, aku mengatakan kalau sudah dalam perjalanan dari bandara." Ya ampun, aku pikir. Ah sudahlah Adam sudah ada disini sekarang.


"Kenapa kau mengirimkan pesan dan meminta maaf?" Aku diam. "Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena aku sengaja membiarkan mu tidur didalam kamar villa waktu itu, kau jadi harus menikah denganku sekarang. Padahal aku tau jika aku tidak ingin menikah." Aku hanya menggeleng.


"Lalu, apa kau masih merasa menyesal sekarang?" Aku menggeleng lagi. "Kenapa sifatmu berubah saat aku kembali? Bukankah itu karena kau marah padaku, sedangkan kau tidak ingin menikah dan menjalani rumah tangga?"


"Bukan soal itu."


"Lalu, apa karena kakak ku Windu? Apa sebenarnya kau juga mencintainya?"


"Bukan Adam!" Aku menunduk. Aku bingung, jika aku mengatakannya apa Adam akan berpikir bahwa aku sedang cemburu saat ini?


"Jangan sia-siakan waktu disaat kita masih berdua seperti ini, katakanlah." Aku menyiapkan hati, agar tidak berdebar setelah aku mengatakannya.


"Ini soal Elena." Aku menatapnya sekilas, lalu menunduk lagi. "Kenapa dia yang harus datang kesana? Dan kenapa ibumu bisa tau, bukankah kau yang memintanya? Kau masih menyayanginya kan? Tapi kau memutuskan hubungan dengannya karena kau merasa bersalah terhadapku. Lalu berpura-pura baik dan perhatian, memintaku agar aku membuka hati. Tapi nyatanya, kau malah sadar saat kedatangannya kesana."


"Apa kau hanya marah karena itu?" Aku mengangguk. "Apa kau cemburu?" Deg. Benarkan dugaan ku, Adam pasti mengatakannya.


"Apa itu namanya cemburu?" Adam tertawa kecil, lalu menarikku kedalam pelukannya. Sungguh tidak ada respon penolakan dari tubuh ataupun mulutku. Aku benar-benar sangat merasa tenang dan nyaman saat ini.


"Aku tersadar dari koma bukan karena kehadiran Elena. Itu hanya kebetulan saja. Kau boleh menanyakannya langsung kepada Elena ataupun ibu. Aku tidak ada mengajaknya bicara ataupun merespon kehadirannya disana. Karena aku sangat berharap jika yang datang itu adalah kau." Deg. "Dan soal perasanku padamu, itu nyata. Bukan hanya karena rasa bersalah tapi memang aku mencintaimu."


"Adam, maafkan aku."


"Tidak, kau tidak bersalah. Aku yang bersalah atas ini semua, permintaan ku yang konyol waktu itu meminta kak Windu menikahimu. Yang aku pikir aku tidak akan bisa sembuh, tapi nyatanya dokter menyatakan kalau aku sudah sembuh. Tuhan memang baik." Aku memeluknya semakin erat, dan kalau Adam tidak keberatan maka aku akan tidur dengan posisi seperti ini.

__ADS_1


"Aku akan mengajarimu bagaimana caranya mencintai. Itu yang kau minta kan?" Aku mengangguk dalam dekapannya. Mendongak menatapnya yang tersenyum. Perlahan, Adam melepaskan pelukannya, memegang wajahku dengan kedua tangan.


"Eum.." Tidak menunggu lama, Adam sudah melahap bibirku dengan rakusnya. Lembut tapi sangat mendalam.


"Maaf." Aku hampir saja kehabisan nafas jika tidak mendorongnya. Lalu Adam mengelus bibirku yang sudah basah. "Apa boleh?" Aku menunduk, dan detik kemudian mengangguk. Dia yang pertama maka akan kuserahkan semuanya saat ini, dia sudah sah menjadi suamiku.


Aku merasa geli saat ada bagaian sensitif dari tubuhku disentuh. Memejamkan mata, merasakan apa yang saat ini tengah menghujam ditubuh. Dan, malam ini adalah malam ketiga pernikahan, tapi menjadi malam pertama bagi kami, melakukan hubungan layaknya suami dan istri.


**


Kali ini terbangun dengan tulang yang terasa remuk redam, dan selanjutnya pasti akan begini. Malam tidak bisa terlewati begitu saja, sekedar memejamkan mata. Tidak mungkin, pasti akan sering terulang lagi.


Aku melihat Adam masih tertidur dengan pulasnya, dan aku lebih memilih untuk membersihkan diri barulah membangunkannya. Karena hari ini aku harus kuliah, jadi ya harus siap lebih dulu.


"Oh my God." Aku bercermin didalam kamar mandi, begitu banyaknya bekas kiss Mark dileherku. Bagiamana mungkin aku pergi dengan keadaan seperti ini? Aku mulai bingung. Aku mempercepat mandi, keluar untuk memakai pakaian, dan tidak lupa mencari cara untuk menutupi tanda merah dileherku ini. Aku sungguh tidak menyadarinya. Ternyata jika melakukan dengan keadaan sadar dan ikhlas itu sungguh terasa nikmat.


"Adam, kau sudah bangun?" Adam mengucek mata dan duduk dipinggiran tempat tidur.


"Iya. Kau sudah selesai mandi?" Aku mengangguk, dan mulai menyibukkan diri.


"Ah dapat." Kuambil syal dari dalam lemari.


"Kau mencari apa?"


"Ah tidak." Aku segera melilitkan syal keleher. Adam sudah berjalan mendekat kearah ku. Jangan bilang dia akan meminta hak nya lagi. Tidak, aku harus segera pergi kuliah.


"Adam, kau mandilah. Kita sarapan bersama ayah dimeja makan. Aku menunggumu dibawah ya?" Adam masih diam, menatapku tanpa berkedip.


"Kenapa?"


"Tidak, kau cantik sekali. Aku jadi takut ada yang menggodamu nanti." Aku tertawa kecil.


"Kalau itu, sudah sering."


"Jadi benar?"


"Aku akan mengantarmu." Aku menoleh kearahnya. Tapi Adam sudah berjalan masuk ke kamar mandi.


"Hei, Tunggulah. Kita turun bersama." Ternyata dia menyempatkan diri untuk keluar lagi dan hanya memberi peringatan padaku. Baiklah aku akan menurutinya. Lagian, jika aku hanya turun sendiri pasti ayah dan ibu akan menanyakannya.


Aku melirik kearah jam, ini sudah pukul 07. Tapi Adam belum juga selesai. Aku bisa terlambat kalau harus menunggunya, lalu belum lagi sarapan.


"Adam, cepatlah aku takut terlambat." Adam keluar dan mengibaskan rambutnya yang basah. Bertelanjang dada dan hanya melilitkan handuk sebatas pinggang.


"Bisakah kau bantu aku menyiapkan pakaian? Aku belum menatanya dilemari." Aku mengangguk, mencarinya didalam koper milik Adam.


Diatas tumpukkan pakaian yang tersusun rapi didalam koper, aku menemukan kotak kecil seperti wadah perhiasan. Aku mengambilnya setelah mendapatkan pakaian yang akan dipakai oleh Adam.


"Apa ini milikmu?" Adam tersenyum.


"Bukalah." Aku masih terdiam, sampai Adam mengambil pakaian dari tanganku.


"Adam, harusnya kau memakai pakaian diruang ganti." Ya ampun, pagi ini aku sudah harus melihat pemandangan indah dan menggoda.


"Kenapa? Kau juga sudah melihatnya kan?" Dengan tidak tau malunya Adam tetap membuka lilitan handuknya. Aku lebih memilih memalingkan wajah.


"Buka kotak yang kau pegang itu Nara." Aku meniliknya, ragu-ragu untuk membuka. Tapi tetap rasa penasaran ini tidak bisa dicegah. Lagian Adam juga meminta aku membukanya kan?


Ada Kilauan kecil yang bersinar, ini sungguh indah.


"Apa ini?"


"Iya, itu untukmu. Bukankah semalam saat kita menikah aku belum memberimu cincin?" Ya Tuhan, ini benar-benar indah.


"Bisakah kau yang memakaikannya?" Aku tidak melunjak kan? Aku hanya ingin kalau Adam sendiri yang memasangnya dijari manis ku.


"Tunggulah." Setelah selesai memakai pakaian barulah Adam berjalan mendekat. Dan, cincin itu pas dijariku. Menempel sempurna seperti memang cocok untukku.


"Kau suka?" Aku mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih." Adam mengecup keningku dengan lembutnya. Ahhhhhhhhh dalam hitungan jam aku bisa merasakan apa itu cinta jika terus didekatnya.


"Ayo turun, nanti kau bisa terlambat."


Adam tetap tidak ingin melepaskan tanganku meskipun saat menutup pintu. Lalu berjalan menuruni anak tangga dengan tangan saling terpaut.


"Adam, bagaimana caranya kau masuk kedalam kamar tadi malam?" Adam tertawa kecil, lalu menunjuk sosok yang sudah duduk dimeja makan.


"Ayah?" Adam mengangguk. Pantas saja, aku pikir dia merusak pintu dengan cara mendobraknya.


"Ayah belum pergi?" Aku lebih dulunya menyapanya dan duduk ketika pelayan menarik kursi untukku.


"Iya, kalian berangkat bersamaan kan?"


"Iya Adam akan mengantarku yah." Ayah mengerutkan keningnya, kenapa? Apa ayah akan melarang dan meminta supir saja yang mengantar agar tidak merepotkan Adam?


"Nara, dia tidak hanya mengantarmu tapi dia juga ikut kuliah bersamamu."


"Maksudnya ayah?" Adam mengelus lenganku, kenapa?


"Adam kan sudah pindah kuliah, dan dia pergi semalam untuk mengurus perpindahannya kesini." What?? Apa aku harus senang. Oh Tuhan, cobaan lebih berat. Satu kampus dengan suami, bagaimana kalau Adam digoda teman-temanku? Diakan tampan?


"Kenapa?" Adam berbisik. Aku hanya menggeleng.


"Adam, setelah selesai kuliah kau langsung saja datang keperusahaan ya?"


"Iya yah. Apa boleh kalau aku mengantar Kinara pulang kerumah dulu?" Adam menoleh ke arahku.


"Silahkan, itu malah lebih bagus karena bisa memastikan Kinara sampai dengan selamat dan tidak pergi kemana-mana lagi setelah selesai kuliah." Heh, aku benar-benar harus belajar menjadi istri yang baik dan penurut.


Keheningan dimulai, setelah sarapan dimulai. Aku tidak menyadari jika ibu tidak ada disini, apa dia sibuk ya mengurus Renan? Tapi bukankah ada baby sitter?


"Yah? Ibu mana?" Setelah selesai sarapan barulah aku bertanya.


"Ibu masih dikamar, dia sedang tidak badan. Jadi ayah memintanya untuk sarapan lebih dulu dikamar dan kembali istirahat saja."


"Apa tidak sebaiknya ibu dibawa ke dokter?"


"Ayah sudah menghubungi dokter, kemungkinan sebentar lagi juga akan sampai." Aku mengangguk saja, berarti Renan saat ini sedang ada dikamarnya. Kalau aku mengganggunya dulu sudah dipastikan aku akan terlambat.


"Yah? Adam pergi keperusahaan ayahnya?"


"Tidak, Adam akan pergi keperusahaan ayah. Dia akan mulai belajar disana, bagaimana jadi pimpinan yang baik dan bertanggung jawab." Hah? Aku menoleh kearah Adam, dan reaksi yang dia berikan hanya senyuman.


"Nara, meskipun ayah memiliki anak laki-laki, tapi perusahaan ayah bukan hanya satu. Jadi tidak salah jika salah satunya akan ayah berikan kepadamu, dan akan dikelola oleh suamimu." Deg. Ayah begitu baik padaku dan Adam.


"Yah, kalau begitu aku pergi ya takut terlambat." Ayah mengangguk, dan Adam mengikuti untuk pamit dengan ayah.


Di dalam mobil, aku diam hanya sesekali melirik kearah Adam. Berdoa agar jalanan tidak macet.


"Nara, aku ingin sekali menggendong Renan." Eh kenapa tiba-tiba Adam berkata begitu?


"Kau bisa menggendongnya nanti setelah pulang dari perusahaan ayah."


"Aku ingin kau sendiri yang menjaganya, dan tidak perlu orang lain." Deg. Ini apa maksudnya? Ah aku tau, pasti Adam salah paham sekarang.


"Adam, apa kau mengira kalau Renan adalah anakku?" Adam mengangguk. Dugaan ku benar ternyata.


"Adam, kau tidak tau?" Adam menoleh ke arahku dan menggeleng pelan.


"Aku akan membawamu untuk menemuinya. Tapi yang pasti bukan Renan. Renan adalah adikku."


"Jadi bukan Renan?" Aku menggeleng dan tersenyum, senyum yang sangat pahit dan menyakitkan untukku.


"Apa dia ada bersama bi Gina?" Aku menggeleng lagi.


"Dia ada di pusara." Adam langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Apa dia benar-benar tidak tau??


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2