Langit Mendung

Langit Mendung
Prihal kematian ayah Adam


__ADS_3

POV AUTHOR


Di dalam dunia penuh kehangatan ini, tapi juga merasakan begitu banyak kekeliruan. Mereka seperti Boneka yang hidup dikendalikan orang lain. Manut saja apapun yang diperintahkan. Contohnya seperti hari ini, ibunya Adam harus menandatangani sebuah berkas. Yang entah apa itu isinya.


"Ini untuk windu kak, dia sudah selesai kuliah dan harus menggantikan posisi kak Hendrawan. Aku langsung nanti yang mengajarinya."


Adam yang sudah tau kelicikan omnya ini berusaha melarang ibunya. Mengatakan kalau sebaiknya ibu harus membaca terlebih dahulu berkas itu. Dari bentuknya saja sudah mencurigakan.


"Adam, panggil kakakmu kemari." Adam mengangguk. Berjalan melirik ke arah omnya.


"Sebaiknya jangan ibu sentuh dulu berkas itu. Apa lagi sampai menandatangani." Berbisik lalu pergi.


Pandangan seorang wanita cantik ini yang berstatus ibunya Adam kosong. Berbagai filtrasi kehidupan masuk di benaknya. Entah apa sekarang yang membuatnya juga ragu akan kata-kata adik iparnya. Selama beberapa tahun belakangan ini dia sendiri sudah merasa bahwa hidupnya sangat tidak bebas. Meskipun kematian suaminya sudah terungkap, siapa pelakunya. Tapi kenapa dia juga tetap dilarang keluar rumah ataupun pergi ke sembarang tempat. Apa lagi di larang berjumpa dengan satupun teman bisnis suaminya.


"Kenapa Bu?" Windu duduk di samping ibunya, begitu juga dengan Adam. Ibu duduk dengan di apit dua penjaga di hidupnya.


"Om, jika benar itu berkas harus ditandatangani dengan alasan perusahaan. Pergantian kepemimpinan, kenapa tidak ada pengacara ayah disini?"


Windu mengambil berkas, membacanya mulai dari halaman awal. Benar memang tertera namanya disana.


"Dia sedang ada diluar kota, dan menyerahkan ini kepada om. Bukankah sama saja? Malah kalau dengan om kalian tidak merasa canggung. Jika sudah ditandatangani mulai besok kau sudah bisa mulai datang ke kantor."


"Bu, bisakah kita bicara sebentar?" Adam berbisik lagi. Rasa kecurigaan semakin meningkat, ini yang sangat ditakutkan Adam. Bagaimana cara menyampaikan kepada ibunya, jika omnya sendiri lah yang sudah membunuh ayahnya dengan bantuan orang lain.


"Sebentar ya. Windu kau tetap disini temani om mu sebentar."


Adam membawa ibunya pergi ke kamarnya, duduk di tepi ranjang. Memegang lengan ibunya, menatap penuh iba. Perasaan anak yang ikut hancur beberapa tahun belakangan ini. Adam berdiri lagi untuk mengunci pintu kamarnya. Kembali duduk dan siap untuk mengatakan apa yang harusnya dia sampaikan beberapa hari lalu.


"Aku mohon, ibu jangan teriak ataupun merasa syok." Ibunya tersenyum dan mengangguk, Adam memeluknya sesaat.


"Apa ibu percaya bahwa pelakunya benar-benar orang yang dikatakan oleh om Abdi?" Diam, bukankah firasat seorang istri juga sangat kuat. Adam menyakini ibunya tidak sebodoh yang omnya pikirkan.


"Adam, beberapa hari terkahir ini ibu selalu memimpikan ayahmu. Entah apa maksud mimpi itu, tapi ibu seperti diberi petunjuk dengan mimpi kejadian ayahmu kecelakaan." Air mata sudah menumpuk di pelupuk mata. Menggenang dan ditahan agar tidak jatuh. "Tapi itu juga hanya mimpi Dam. Yang tidak akan bisa dijadikan bukti. Ibu melihat ada om Abdi disana, selalu muncul di dalam mimpi ibu ini."


Perasaan keduanya sudah gusar. Selama ini harusnya mereka sendiri yang menyelidiki tanpa harus meminta bantuan orang lain.


"Aku tau siapa orang yang bisa menjelaskan kepada ibu. Maukah ibu pergi menemuinya?" Ibunya langsung memegang kedua bahu Adam. Menilik manik mata anaknya. "Bilang saja berkas itu tidak bisa ditandatangani sekarang. Dengan alasan menunggu pengacara ayah. Ibu, apa ibu sepenuhnya mempercayai om Abdi?"


"Sebenarnya tidak Dam. Hanya saja ibu tidak mempunyai alasan yang kuat. Terlebih lagi om mu adalah adik kandung dari ayahmu."


"Bu, musuh terbesar adalah orang terdekat kita. Aku masih terlalu kecil Bu untuk melawannya. Tapi aku juga harus membantu, sekarang sudah ada kak Windu. Aku yakin dia bisa. Kita pergi nanti ke tempat dimana aku tau."


Rumah mewah yang merasa tidak mempunyai kesan cantik jika dipandang pemiliknya sendiri. Hanya tentang kematian seorang suami saja sampai harus hidup dengan berpindah kota.


"Kak, jangan pernah keluar rumah sembarangan. Dan jika ada yang mencari kalian jangan pernah menemuinya langsung. Apa lagi sampai memberi keterangan pada mereka. Biar aku yang mencari dan menyelidiki siapa orang yang sudah membuat kak Hendrawan sampai meninggal."


"Kenapa kita tidak lapor polisi saja?"


"Sudah kak, sudah aku urus semua itu. Kakak tinggal menjaga kedua putra kakak. Dan Windu, dia harus kuliah diluar negeri. Agar kemampuan berpikirnya lebih luas lagi. Soal perusahaan biar aku yang urus. Keuangan kalian akan tetap berjalan semestinya. Aku selaku adik kak Hendra, bertanggungjawab atas kalian."


"Terima kasih Abdi."


Semenjak itu, semuanya berubah. Adam yang harusnya memiliki keceriaan hilang begitu saja. Sampai dia masuk disekolah barunya, perlahan Adam mulai memiliki senyum yang sering ibunya lihat lagi. Sering ijin keluar rumah dan pulang malam, ibunya tidak mampu melarang untuk itu.


"Bu, kenapa ibu melamun?" Ibunya bahkan tidak sadar kalau sudah duduk dihadapan adik iparnya sekarang. Bayangan di masa lalu itu sungguh membuatnya termangu dalam kesakitan. Bingkai indah yang sudah dirancang hancur begitu saja ketika ada hari dimana dia kehilangan pengukirnya.


"Eh Abdi, sebaiknya soal berkas ini dan itu lebih baik menunggu pengacara mendiang kakakmu pulang dari luar kota. Biarkan Windu belajar dulu dan datang ke perusahaan tanpa harus tanda tangan. Bukankah tanpa tanda tangan Windu ataupun Adam, mereka berhak datang kesana, karena itu milik ayah mereka."


Raut wajah yang berubah dari omnya jelas tertangkap oleh Adam. Kenapa dia tidak senang? Bukanlah yang dikatakan ibuku benar? Begitu batin Adam berbicara. Ini sudah jadi bukti yang kuat, kalau terlalu banyak hal yang tidak mereka tau. Banyak hal yang disembunyikan oleh omnya.

__ADS_1


"Apa kakak tidak percaya padaku?"


Ternyata tidak semudah itu mengusir seorang Abdi dengan bahasa yang lembut.


"Om, kurasa apa yang dikatakan ibu benar. Bukankah itu perusahaan ayah? Yang artinya itu juga milikku dan Adam. Kami tidak perlu menandatangani berkas apapun, dokumen apapun."


"Baiklah kalau begitu. Kalian bisa mengurusnya sendiri. Mengubungi pengacaranya sendiri. Sepertinya bantuan ku selama ini sia-sia."


"Lho, bukan begitu maksudku Abdi." Adam memegang lagi lengan ibunya.


"Kak, sepertinya kalian meragukan ku? Aku tidak menginginkan harta kak Hendra, aku hanya tulus membantu."


"Om jika tidak ada hal apapun yang om sembunyikan, seharusnya om tidak keberatan soal keputusan kami. Bukankah selama ini om semua yang mengatur, ibu juga menurutinya. Kenapa ketika ibu memberi pendapat om tidak terima?"


Omnya langsung berdiri dari duduknya, menunjuk wajah Adam dengan wajahnya sendiri yang memerah.


"Apa maksudnya kau berbicara begitu? Kau masih terlalu kecil untuk tau ini."


"Om, sudah." Windu memintanya untuk duduk kembali. Menoleh kearah adik dan ibunya. "Katanya om sudah menemukan siapa yang membunuh ayah kan? Dan supir itu, om juga sudah taukan? Kalau begitu bawa kami bertemu dengannya. Dia juga harus meminta maaf dengan kami secara langsung."


"Ah sudahlah!" Om nya langsung menyambar berkas dan pergi. Ibunya hanya bisa mengelus dada. Kedua anaknya bersandar di bahunya. Kedua tangannya dia gunakan untuk menyambut dan mengelus puncak kepala anaknya. Kehangatan yang sesungguhnya sudah ada disampingnya. Kekuatan yang sesungguhnya sudah ada disampingnya.


***


Rumah sederhana yang berada di dalam gang inilah yang menjadi harapan terakhir Adam. Gelak tawa anak-anak berlarian di sore hari. Langit yang masih mengeluarkan sinarnya seperti memberi semangat. Adam mengaku sudah mengingkari janjinya saat ini, untuk tidak membawa nama bi Gina. Tapi sepertinya keadaan mengharuskan Adam untuk membuat ibunya percaya, siapa om Abdi sebenarnya.


Mereka masih saling pandang, baik ibu dan juga Windu. Ingin mengetuk, tapi tangan seperti memiliki besi penjerat, sehingga terasa berat hanya untuk mengayun.


"Kak Adam?" Serempak menoleh, Adam tersenyum. Adik-adik Kinara dan juga anak angkat bi Gina saat ini.


"Kakak cari ibu?"


"Iya, apa ibu kalian ada dirumah?" Mereka menggeleng.


"Oh baiklah, apa kakak boleh menunggu disini?"


"Iya kak, silahkan."


Adam membawa ibu dan kakaknya duduk di kursi teras rumah bi Gina. Sayup-sayup angin datang menerbangkan daun kering berwarna keemasan. Mata menyipit ketika angin juga membawa abu yang menerpa wajah.


"Adam, Nara siapa? Temanmu?"


"Iya Bu. Kinara."


"Kinara?" Sekali lagi bertanya. Adam mengangguk. Windu malah lebih memilih berdiri di depan rumah. Mengamati bocah berlarian dan teriak-teriak tertawa, dari pada ikut duduk dengan ibu dan adiknya.


"Windu, duduklah disini."


"Tidak Bu, aku suka melihat anak-anak bermain."


Rumah sederhana ini sangat terasa nyaman, itu bagi ibunya saat ini. Beberapa menit duduk menunggu, lalu terlihatlah wanita paruh baya yang membawa keranjang berisi sayuran. Bi Gina menatap heran. Adam berdiri menyambutnya. Dia berhenti melangkah, senyumnya langsung hilang ketika melihat sosok yang duduk di samping Adam. Perasannya mencelos, hati berdebar sudah tau maksud kedatangan mereka kesini.


"Maaf bi." Adam menghampiri bi Gina dan meminta keranjang yang di bawa oleh bi Gina. Membawanya masuk ke dalam.


"Apa kau mengatakan kepada ibumu?" Nada yang terdengar getir. Adam berulang kali mengucapkan kata maaf.


"Suruh ibu dan kakakmu masuk ke dalam." Adam mengangguk dan menarik lengan ibunya. Semakin tidak tau sekarang, apa maksud dari anaknya membawa dia datang kerumah ini.


"Apa benar itu?" Adam mengangguk.

__ADS_1


"Windu?" Windu juga mengangguk, dia sempat melambaikan tangan ke arah bocah yang sedari tadi dia lihat. Sebagai tanda pengenalan dan juga perpisahan.


Sebagian orang jika masuk ke rumah orang lain, yang pertama dilihat pasti keadaan rumahnya, suasananya. Photo yang terpajang membuat ibu Adam tercengang. Matanya tidak berkedip.


"Ibu tidak salah lihat." Deg. Jantungnya berpacu dengan cepat. Orang yang dia cari selama ini. "Tapi mang Suryo sudah meninggal Bu, beberapa bulan lalu." Ya Tuhan, dia memohon dalam hati, berdoa baik untuk mantan supirnya itu.


"Jadi?" Windu yang sudah mulai paham juga ikut kaget. Bisa-bisanya Adam tidak berkata sejak kemarin, protesnya dalam hati.


Bi Gina datang membawakan minuman dari arah dapur. Lalu ikut duduk dengan wajah yang lesuh, dia tau pasti akan di interogasi. Ah iya itu lebih tepat dari bahasa apapun.


"Bi, apa benar itu suami bibi?" Menunjuk ke arah photo yang terpajang di dinding rumahnya. Bi Gina hanya menjawab dengan anggukan lalu menunduk.


Tanpa menunggu ditanya, bi Gina sudah langsung menjelaskan apa saja yang dia ketahui dari mendiang suaminya. Mulai dari awal hingga akhir, tidak satupun kata yang bi Gina lebih-lebih kan. Hanya berusaha mengulang apa yang dikatakan suaminya dulu.


"Meski aku juga sempat mencari keluarga kalian. Karena ingin meminta bantuan pengobatan suamiku, karena aku sendiri yakin dari ceritanya kalau keluarga kalian orang baik."


"Kami sudah hidup bertahun-tahun di atur olehnya bi, jadi sulit untuk kami berkomunikasi dengan orang lain, ataupun orang yang sudah kami kenal dulu." Jawab ibunya Adam. Mereka masih banyak diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing setelah apa yang dikatakan bi Gina memang memiliki kaitan dengan adik suaminya. Yang pertama, ibunya Adam mengatakan bahwa saat suami mengalami kecelakaan, Abdi selaku adik kandung suaminya juga sedang berada di luar kota. Dan bisa pulang setelah jenazahnya sudah dikuburkan dekat pusara. Lalu mereka keluarga berkumpul di rumah duka. Disitulah Abdi mulai mengatur kehidupan mereka kedepannya, dengan alasan mempermudah menyelidiki kasusnya.


"Sebentar, om kalian telepon."


"Bu." Adam menahan satu tangan ibunya, agar tidak berdiri dan tetap duduk. "Kami juga ingin dengar apa yang dikatakan olehnya, lebih baik jika ibu mengeraskan suara dan tetap duduk disini." Ragu-ragu tapi tetap melakukan permintaan Adam.


"Hallo?"


"Kak, apa kakak sedang bersama anak-anak?" Ibunya menoleh ke arah Adam.


"Jangan katakan." Hanya membuka mulut dan tidak mengeluarkan suara. Windu menggeser duduknya lebih mendekat, agar mendengar lebih jelas. Ruangan sudah hening, hanya ada suara ibu dan Abdi di seberang telepon.


"Tidak ada. Kenapa?"


"Kak, sebaiknya kita berjumpa saja diluar. Dan pastikan kakak hanya pergi sendiri. Lalu segera tandatangani surat itu. Bukankah kakak sangat ingin jika anak kakak segera menggantikan posisi suami kakak? Aku tau kak, kedua anak kakak melarang hanya karena mereka tidak mau bekerja, dengan alasan meminta kakak agar tidak menandatangani berkas itu." Deg. Adam yang sudah geram mengepalkan tangannya membentuk tinju.


"Tidak mungkin anakku seperti itu Abdi."


"Lalu kak? Buktinya Windu juga belum ada niatan, kalau dia mau bukankah dia juga setuju untuk tanda tangan, supaya besok bisa langsung datang ke perusahaan. Dan aku juga akan mengenalkannya kepada seluruh karyawan. Bahwa dialah pimpinan perusahaan."


"Nanti aku pikirkan lagi."


"Kalau bisa sekarang kak, aku tunggu di tempat biasa kita bertemu." Panggilan berakhir.


"Bu, tidak usah. Besok aku akan datang langsung ke perusahaan ayah. Aku sudah cukup tau untuk itu Bu, selama kuliah di luar negeri aku sudah banyak belajar." Ibunya mengangguk.


***


Langit malam tanpa bintang, bulan juga sudah tertutup oleh awan gelap. Malam yang gelap malah bertambah gelap. Adam duduk di halaman rumahnya. Sendiri dengan membawa satu cangkir teh hangat.


"Tuan muda, ibu meminta anda untuk masuk."


"Katakan kalau aku masih ingin berada disini." Pelayan mengangguk lalu pergi. Tuan muda, yang berarti Adam juga dapat penghormatan dirumahnya.


"Aku tidak tau sampai kapan usiaku." Bergumam sendiri sambil memejamkan matanya.


Adam sendiri tidak merasa punya keinginan untuk melanjutkan bisnis ayahnya. Memang benar, semua itu adalah bantuan dari omnya, sehingga perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya masih berjalan dengan semestinya. Hanya saja, untuk apa dia melakukan itu semua. Apa tujuannya? Jika ingin membuat perusahaan bangkrut, seharusnya dia sendiri tidak perlu melakukan hal keji seperti ini. Menghilangkan nyawa seseorang bukanlah hal yang biasa.


Adam masuk ke dalam, berbaring di atas tempat tidur. Pikiran tentang masalah ayahnya hilang begitu saja saat menerima pesan dari Kinara. Hatinya langsung menghangat, perasaan yang tidak terbalaskan. Haha, Adam tertawa sendiri.


"Jangan lupa rencana kita." Adam mengetik pesan membalas dengan senyuman.


"Jangan lupa juga sup daging yang sudah kau janjikan."

__ADS_1


"Ok." Ada tanda cium diakhir kalimat. Membuat Adam bisa tidur dengan nyenyak.


Bersambung..


__ADS_2