
Satu bulan kemudian..
Rasa sedih jelas aku alami, tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana rasa kecewanya saat tau anakku lahir dengan keadaan tidak selamat. Tapi aku juga tidak bisa menolak, itu sudah takdir Tuhan.
Mengenai aku dan Adam, kurasa semuanya sudah selesai. Dia juga sudah pergi, tidak ada kabarnya. Memang aku sendiri pun tidak mencari tau tentangnya. Aku sendiri belum siap mengatakan kepada ayah ataupun ibu, siapa laki-laki yang sudah membuatku hamil. Aku meminta pada mereka untuk memberiku ruang waktu, dan akan aku ceritakan tapi tidak sekarang.
Karena rasa sedih saat kehilangan anakku saja belum hilang. Mungkin inilah yang dialami ibuku waktu itu. Sehingga dia depresi.
"Nara, apa kau sudah selesai?"
Itu suara bi Gina. Dia yang akan pergi menemaniku hari ini. Pergi kepusara untuk melihat anakku. Dan aku sekarang sudah tinggal dirumah ayah, hanya saja dengan satu syarat. Aku hanya mau diurus oleh bi Gina, tidak peduli berapa banyak pelayan yang ada dirumah ayah. Aku tetap maunya dengan bi Gina.
Sadar akan kesalahanku dulu, jadi aku tidak bisa lagi menolak apa yang sudah dikatakan ayah. Dan ibu, dia juga sekarang sudah tinggal satu rumah lagi dengan om Asraf. Biarlah, aku juga tidak bisa menemaninya dirumah. Hanya saja, setiap tiga hari sekali aku wajib datang kerumah ibu.
"Nara, sudah mau berangkat?" Aku dan bi Gina berhenti melangkah. Ini dia ibu hamil yang selalu memberi perhatian lebih terhadapku setiap harinya.
"Iya Bu." Perubahan yang terjadi padaku sudah jauh sekarang. Aku sudah menerima Tante Intan sebagai ibu tiri ku.
"Baiklah, ibu akan panggilkan supir yang mengantarmu hari ini."
"Bu?" Dia menoleh lagi sebelum pergi dari hadapanku sekarang.
"Apa aku tidak boleh membawa mobil sendiri?"
"Sayang, ini perintah ayahmu. Lagian jika kau membawa mobil sendiri itu masih berbahaya. Setelah kembali dari pusara, supir akan mengantarmu ketempat kuliah. Kau bisa melihatnya, jika tidak tertarik maka kau bisa mengatakannya kepada ayah."
Sungguh jauh berbeda sekarang. Aku diperlakukan bak tuan putri. Kemana pun pergi pasti selalu ada pengawal yang ikut bersamaku.
"Ayo bi." Aku menggandeng lengan bi Gina. Dan sekarang, bi Gina bukan seperti pembantu rumah tangga. Tapi lebih tepatnya beliau sudah seperti temanku sendiri. Semenjak itu, aku sudah tidak lagi bertemu dengan Wahid. Dia sudah kuliah diluar negeri. Hanya Munah yang sering datang untuk melihatku.
Tapi sebentar lagi juga pasti tidak, karena kami harus berpisah tempat kuliah.
***
Tampak mungil jika dilihat, begitu kan memang kalau pusara untuk anak yang baru lahir. Aku mengusap batu dimana ada nama anakku disana. Ingin sekali aku melihat seperti apa wajahnya. Aku benar-benar tidak sempat melihatnya.
"Bi, bagaimana wajah anakku? Apa bibi sempat melihat sebelum dia dibawa kepusara?"
"Wajahnya sangat mirip dengan Adam." Deg. Aku menunduk. Adam? Apa semirip itu padanya. Aku berharap Tuhan adil padaku, sehingga mengirim anakku melalui mimpi.
"Bi, apa bibi sudah pernah mengatakannya kepada ayah?"
__ADS_1
"Tidak Nara. Waktu itu bibi tidak jadi mengatakan, karena bibi tau bahwa Adam sudah harus pergi. Bibi tidak ingin membebani pikiran ibunya Adam lagi. Melihatnya terus menangis untuk Adam saja rasanya sudah pedih. Kau tau kan, bibi juga sudah pernah ada di posisinya, dan juga di posisimu sekarang ini."
Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa? Bahwa bukan hanya aku saja yang pernah merasakan kehilangan.
"Berdoalah untuk anakmu." Aku mengangguk.
Beberapa menit berada di pusara, aku mengajak bi Gina untuk kembali kemobil. Lalu tujuan selanjutnya adalah melihat seperti apa tempat kuliahku nanti.
"Nara, nanti bibi menunggu didalam mobil saja."
"Kenapa bi? Harusnya bibi ikut masuk denganku. Kita hanya berkeliling dan melihat-lihat saja."
"Tapi Nara, bibi-"
"Bi, apa bibi tega melihatku sendirian? Tidak ada Munah disini bi."
"Kau memang selalu bisa membuat bibi tidak sanggup melihatmu memasang ekspresi sedih."
Aku tersenyum, nah aku memang kan sekarang.
"Sudah sampai nona." Sebelum turun, aku menatap kearah gedung yang ada di hadapanku sekarang. Tidak salah? Kenapa ayah membawaku kesini? Bukankah dia seharusnya mencarikan ku tempat kuliah yang biasa saja? Ah ya ampun, aku lupa siapa ayahku!
"Kalian tidak perlu mengikutiku, tunggu saja disini." Mereka mengangguk patuh.
"Ini bagus sekali tempatnya bi." Aku meliarkan mataku. Banyaknya mahasiswa saat ini yang tengah wara-wiri. Ada yang duduk ditengah taman, asik juga ya sepertinya? Tidak seperti saat sekolah, harus start masuk ketika bel sudah berbunyi.
"Bi, coba lihat itu." Ada sebuah pamplet kecil yang bertuliskan "Zoo".
"Coba kita lihat." Bukan hanya aku saja yang penasaran, ternyata bi Gina juga. Terbukti dengan bi Gina menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat.
"Bibi semangat sekali, seperti ingin bertemu saudaranya."
"Nara, sejak kapan kau pintar mengejek?" Kami sudah berada didepan pintu gerbang kecil sekarang. Apa masuk kedalam harus permisi dulu? Aku menoleh ke kanan dan kiri, harus pamit dengan siapa kalau begini?
Tembok yang terlalu tinggi ini menghalangi pandangan kami untuk melihat apa yang ada didalam.
"Kalian mau apa?" Aku dan bi Gina menoleh. Seorang securitty ternyata, apa dia datang menghampiri kami karena melihat kami seperti orang yang mencurigakan?
"Eh ini pak, apa kami boleh masuk kedalam?"
"Kau bukan mahasiswa disini kan?" Aku menggeleng.
__ADS_1
"Tidak boleh sembarangan masuk kedalam."
"Eh begitu ya pak. Aku akan kuliah disini nanti, makannya aku ingin melihat-lihat apa saja kelengkapan dan keistimewaan dikampus ini."
"Bukti jika kau sudah mendaftar?" Aku dan bi Gina saling pandang. Lalu menggeleng lagi, aku mana punya semua yang mengurus kan ayah! Ingin sekali aku berteriak begitu.
"Ya sudah pak kalau tidak boleh, permisi. Maaf sudah mengganggu waktunya." Aku menunduk dan tersenyum sebelum pergi.
"Nara." Bi Gina celingak-celinguk. "Bibi akan membicarakan tentang adik-adikmu." Dia berbicara sedikit berbisik. Aku tau, pasti takut kalau ada pengawal yang tengah membututi kami sekarang. Lagian kalau ada, mereka juga tidak ingin mendengar aku berbicara apa. Hanya saja yang mereka pantau itu kemana aku pergi dan apa yang aku lakukan.
"Kita cari tempat yang pas ya bi?"
Menyamar menjadi mahasiswa selama satu hari tidak masalah kan? Haha aku ingin tertawa sekarang. Ternyata kampus memang tempatnya anak-anak yang sudah dewasa, sehingga tidak terlalu mengurusi jika ada orang asing yang masuk kesini.
Mungkin mereka juga berpikir aku ini sudah resmi kuliah disini, sehingga tidak ada yang menatap heran saat aku mengajak bi Gina untuk duduk disalah satu kursi yang ada didekat taman.
"Katakan lah bi?"
"Mereka sangat merindukanmu Nara. Bahkan si bungsu sampai sakit, dia terus memanggil namamu." Deg. Sudah berapa lama? Ya Tuhan, aku melupakan mereka. Tapi mereka tidak pernah melupakanku.
"Bi, bantu aku bicara dengan ayah. Agar aku besok bisa pergi kerumah bibi. Cari alasan yang tepat bi. Bukankah ayah selalu percaya dengan apa yang bibi katakan?" Bi Gina mengangguk dan tersenyum, lalu aku mengacungi jari kelingking. Membuat janji agar bi Gina mau membantuku.
"Ayo kita pulang bi?" Bi Gina lebih terlihat muda sekarang ya? Hahaha bermain denganku, dia seperti kembali muda lagi.
"Loh bi, bukannya itu Munah?" Aku menunjuk perempuan yang tengah berdiri didepan gerbang. Pandangannya seperti tengah mengamati kampus dari tempat dimana dia berdiri.
Aku dan bi Gina kompak mempercepat langkah. Saat sampai Munah sudah berbalik, tapi aku langsung menepuk pundaknya.
"Hah?" Dia kaget. Aku tertawa dan menutup mulut.
"Kinara? Kau sedang apa?"
"Hei, seharusnya aku yang bertanya kau sedang apa? Kau tidak mungkin herankan kalau aku kuliah disini? Yang membuatku heran, kenapa kau ada disini dan tadi seperti tengah mengamati kampus ini?"
"Iya, aku sangat heran. Aku juga akan kuliah disini?" Hah? Aku dan bi Gina saling pandang. Tidak, bukan maksudku menjengkali bagaimana ekonomi keluarganya. Tapi bukankah dia sendiri pernah mengatakan kalau sudah didaftarkan kuliah ditempat yang tidak jauh dari kantor ayahnya bekerja.
"Tanyakan saja semua pada ayahmu Nara. Sepertinya dia tidak ingin anaknya tidak memiliki teman?" Munah langsung pergi begitu saja.
"Hei, apa maksudnya?" Munah hanya menggoyangkan ponselnya. Ah aku tau, dia ingin berbicara melalui ponsel saja. Karena disini sudah ada dua pengawal, pasti Munah tidak ingin pembicaraan kami terdengar oleh mereka.
Apa serumit ini ya menjadi anak orang kaya?
__ADS_1
Bersambung..