
Disini, aku malah melihat bagaimana mereka berdua saling memadu kasih. Colek sana, colek sini, tertawa cekikikan. Meskipun aku ikut nimbrung dalam pembicaraan, tetap saja rasanya kesepian.
"Sebentar lagi juga kita akan berpisah." Tiba-tiba Wahid berkata.
"Bukankah kau disini selama satu atau dua Minggu?"
"Rencananya, tapi ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan." Wajah Munah langsung berubah sendu. Apa dia akan menangis? Aku sengaja melemparnya dengan batu kerikil. Munah mengaduh kesakitan.
"Bisakah jangan memamerkan kemesraan di depanku?"
"Itu salahmu, kenapa kau tidak membiarkan Windu ikut saja." Heh aku hanya bisa mendengus dan kembali berbalas pesan dengan Windu. Sejak tadi dia ingin sekali melakukan video call, tapi aku menolaknya dengan alasan tidak enak dengan temanku.
"Aku akan menelpon saja, hanya ingin mendengar suaramu dan memastikan kau baik-baik saja disana." Baiklah, aku mengalah. Membalas pesan Windu dan mempersilahkannya menelpon dengan segala hormat.
"Yaa??" Aku berdiri dan berjalan kearah pohon besar. Duduk dibawahnya sepertinya enak juga, dari pada harus melihat mereka.
"Katakan, dimana villa yang menjadi penginapanmu sekarang? Lalu apa namanya??" Lah, kenapa dia tiba-tiba bertanya? Wajar kan jika aku heran. Jangan-jangan dia akan menyusulku kesini, seperti CEO gila yang ada didalam film dan novel.
"Aku berada divilla yang tidak jauh dari tempat wisata, dan namanya villa kristal." Maaf Windu aku harus berbohong padamu, aku takut kalau kau tiba-tiba datang.
"Oh syukurlah."
"Kenapa? Kenapa kau bersyukur kak?"
"Eh tidak. Ya sudah lanjutkan lagi berkumpul dengan temanmu. Maaf jika aku sudah mengganggu."
"Iya-" Tut.. Sambungan telepon sudah berakhir.
"Aneh." Aku berjalan kembali untuk duduk didekat Munah dan Wahid.
"Pasti Windu yang menelpon?" Aku mengangguk, tapi aku memandang Wahid yang tengah menuangkan minuman kedalam gelas. Sejak kapan ada alkohol?
"Kapan kau membelinya?" Tanyaku heran.
"Aku meminta penjaga villa yang mengantarnya kemari. Tadi kau tidak tau karena sedang asik menelpon calon suamimu." Kata-katanya tidak sedikitpun menunjukkan rasa suka. Terserahlah, aku juga sebenarnya tidak suka kan.
"Minumlah, hanya malam ini saja. Lagian kau juga sedang tidak hamil kan? Jadi tidak perlu dipaksa kau juga mau." Munah mencubit perutnya hingga Wahid mengaduh kesakitan.
"Jaga bicaramu."
"Maaf."
"Ah tidak apa-apa. Kau benar kok, aku tidak tersinggung soal itu. Baiklah karena malam ini juga tidak bisa lagi sering kita ulang, maka aku akan meminumnya. Sebagai perayaan kembalinya kau kesini." Wahid sudah menggantungkan gelasnya diudara. Giliran ku dan Munah yang menyambutnya.
"Cheers.." Ucap kami bersamaan.
"Untuk masa depan yang belum pasti." Ucapku.
__ADS_1
"Untuk cinta yang belum tau ujungnya." Munah menyambut.
"Untuk Munah sang pujaan hati." Hahaha, kami tertawa bersamaan. Lalu meneguk minuman hingga habis.
"Eh kenapa rasanya enak?" Aku heran, melihat label dibotol kaca. Aku memang belum pernah meminumnya, ternyata ada ya alkohol seenak ini?
"Itu sebenarnya aku membawanya dari luar negeri, tapi tidak banyak. Hanya dua botol saja, karena minum sedikit saja sudah bisa mabuk." Wahid menuangkannya lagi kedalam gelas ku.
"Minumlah lagi, jangan sungkan. Aku tau kau suka." Dia tertawa. "Jika kau yang mabuk maka tidak masalah, tapi jika aku dan Munah yang mabuk maka bisa menjadi malapetaka." Deg. tidak!! Wahid benar-benar mengingatkan aku dengan malam itu. Malam malapetaka.
Munah menatapku, setelah aku mendengar apa yang dikatakan Wahid aku langsung terdiam.
"Nara?" Hah? Aku menoleh.
"Minumlah, aku akan menjagamu malam ini." Aku mengangguk, iya benar. Laki-laki itu sudah tidak ada, dia tidak ada disini. Sudah jauh, dan tidak mungkin lagi ada.
Berbincang sambil minum, tidak terasa sudah satu jam berlalu. Tawa yang kami keluarkan, antara sadar atau tidak. Aku sadar kalau bicaraku sudah mulai ngelantur, padangan juga berkunang-kunang. Ah aku benar-benar sudah mabuk sekarang.
"Apa kalian masih tetap mau disini?" Aku tidak tau apa jawaban yang mereka beri, entah itu anggukan ataupun gelengan.
"Kalau begitu aku masuk kedalam duluan ya?"
"Eh Nara, apa aku perlu mengantarmu?"
"Tidak, aku masih sanggup berjalan. Lagian villa ini tidak terlalu besar. Kalian tetaplah disini, nikmati saja malam yang belum tentu bisa terulang ini."
Aku langsung saja masuk kedalam kamar, tapi keadaannya gelap. Apa tadi aku dan Munah lupa menghidupkan lampu ya? Ah sudahlah, rasanya ingin masuk kedalam kamar mandi ataupun sekedar kembali menghidupkan lampu juga malas. Aku lebih memilih berbaring ditempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhku. Tidak, aku tidak akan tidur dengan cara begini, aku lebih memilih membuka baju dan memakai tang top saja, dalam keadaan mabuk begini malah menjadi gerah.
***
Aku terbangun, dan sadar kalau tidur dalam keadaan seperti memeluk guling. Munah menutupi seluruh tubuhnya hingga wajah dengan selimut. Apa dia merasa sangat kedinginan ya? Aku beringsut turun, dan berjalan kekamar mandi, sekedar mencuci muka saja.
"Aku masih sangat ngantuk." Aku menguap lagi, lalu bercermin. Ah kantung mataku terlihat, padahal aku tidur dengan nyenyak, dan sepertinya tidak terlalu malam. Aku lebih memilih kembali keatas tempat tidur.
Tok.. Tok.. Suara pintu diketuk. Aku tau pasti itu Wahid, kenapa usil sekali sih. Padahal matahari juga belum terlihat. Aku menggerutu sambil berjalan menuju pintu.
"Masih pagi? Pergilah, nanti saja Munah juga belum bangun." Huam, aku kembali menguap. Apakah Wahid sudah merasakan rindu, padahal juga baru beberapa jam tidak bertemu. Aku melangkah lagi untuk kembali ketempat tidur, bermaksud untuk membangunkan Munah.
Dan ketukan pintu berubah menjadi gedoran pintu.
"Buka pintunya!!" Eh kenapa ada suara perempuan? Aku langsung berhenti melangkah. Berbalik dan memegang handle pintu.
"Buka!!" Suaranya semakin kencang.
"Cari siapa?" Deg. Tidak! Apa aku bermimpi saat ini?
"Ibu Herna? Kenapa ibu bisa ada disini?"
__ADS_1
"Nara! Apa yang kau lakukan disini? Mana Adam?" Hah??? Adam???
"Tidak ada Adam disini Bu. Kenapa ibu mencari Adam disini? Bukankah Adam bersama ibu?"
"Kami menginap di villa ini Nara, dan ini adalah kamar Adam." Deg. Tidak mungkin kan? Aku menoleh kearah tempat tidur, yang menampakkan bahwa ada sosok manusia yang tengah tertidur dibawah gulungan selimut.
"Tapi itu Munah Bu." Aku langsung berlari menuju tempat tidur, mengguncang tubuhnya agar segera bangun dan membuktikan bahwa ini memang benar Munah.
"Munah, bangun!!" Ku paksa menarik selimut yang menutupinya. Deg, tidak aku akan kehilangan kesadaran sebentar lagi.
"Nara?" Bagaimana bisa Adam disini? Tidur bersamaku? Tidak, tidak mungkin. Aku tau kalau ini hanya mimpi.
***
**Flashback
POV Author**
Kabar gembira yang didapat dua hari lalu membuatnya harus sibuk. Karyawan yang bersedia bekerja sama, dan merekam pembicaraan waktu itu sudah melaporkannya ke kantor polisi. Dan sekarang, pembunuh ayahnya sudah ditetapkan.
"Terima kasih atas bantuannya. Aku akan memberikan bonus lebih untukmu."
"Jangan sungkan pak, penjahat memang tidak pantas berada didalam perusahaan ini." Windu menepuk bahu karyawannya yang sudah bekerja sejak perusahaan masih dipimpin oleh ayahnya. Nafas lega jelas terdengar, kini tinggal menunggu jaksa mengetuk palu dan memvonis hukuman untuk omnya sendiri, atau bisa disebut juga dengan pembunuh.
"Hallo ibu?"
"Bagaimana nak?"
"Semua sudah beres Bu, tapi ibu harus pulang ketanah air. Untuk menandatangani beberapa berkas. Terutama untuk mengakui bahwa kini perusahaan atas namaku Bu." Ada rasa tidak rela saat mengatakan hal itu, meskipun itu memang hak nya. Tapi Windu merasa bahwa dia juga serakah.
"Bu, ketika Adam sudah bisa kembali kesini, soal perusahaan bisa kita ubah lagi nantinya."
"Tidak nak, kau sudah bekerja keras." Ada suara tawa bahagia diseberang telepon.
"Begini saja, kita akan berjumpa ditempat wisata yang pernah kita kunjungi dulu bersama ayah. Kau masih ingat nama villanya kan? Ibu akan membawa Adam kesana, dia sangat bosan menjalani terapi dan meminta ibu membawanya liburan."
"Ya Tuhan, aku juga sangat rindu padanya Bu."
"Jangan terburu-buru, ibu akan berangkat sore ini." Windu tersenyum saat mematikan sambungan telepon. Hasil akhir kesibukannya tidak sia-sia. Bahkan rela untuk tidak bertemu dengan Nara selama satu Minggu.
Malam harinya ketika Windu sudah didalam perjalanan, dia teringat kalau Kinara juga sedang liburan. Takut kalau berada ditempat yang sama, Windu menelpon dan menanyakan keberadaannya. Lalu mengucapkan syukur setelah mendengar dari Kinara langsung, bahwa villa penginapannya tidak sama dengan ibu dan adiknya saat ini.
Flashback end
"Kinara? Bukankah kau bilang kalau kau berada di villa kristal? Atau memang kau sengaja membuat janji dengan Adam?" Suara siapa lagi itu, aku langsung menoleh.
"Windu?" Deg. Sudah ada ibu dan Windu disini, dan Adam? Aku harus melakukan apa sekarang? Bukan pertemuan semacam ini yang aku inginkan.
__ADS_1
Bersambung..