
POV Author
Adam yang sudah yakin, untuk membawa ibunya kerumah salah satu teman ayahnya dulu. Dia yang berusaha menyelidiki lebih dulu, ketika sudah di pastikan barulah membawa ibunya datang kesini.
"Bu, aku tunggu di dalam mobil saja ya?"
"Kau yakin? Kenapa tidak ikut ibu masuk?" Adam hanya menggeleng dan sudah menyetel tempat duduk didalam mobil. Setelah meminta ijin masuk kepada penjaga rumah, dan untungnya mereka juga mempercayai saat ibunya mengatakan bahwa dia adalah istri dari Hendrawan.
"Silahkan duduk nyonya, akan saya panggilkan tuan besar." Penjagaan super ketat, mata yang liar melihat mereka yang berdiri tidak jauh darinya. Siapapun akan merasa risih akan hal ini.
"Kau?" Begitu tau siapa wanita yang ada dihadapannya ini. Ibunya Adam reflek berdiri, ketika orang yang ada dihadapannya ini benar-benar Husein. Sahabat baik suaminya dulu.
"Husein?" Matanya langsung berkaca-kaca. Kenapa tidak sedari dulu menemuinya! Begitu ibu merutuki kebodohannya sendiri.
"Duduklah." Menarik nafas. "Kau apa kabar? Bagaimana keadaan anak-anakmu?"
"Kau sudah menikah lagi?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan. Husein malah tertawa.
"Kau ini tidak pernah berubah, apapun yang kau lihat langsung kau tanyakan." Tetapi dengan akhir yang mengangguk. Lalu menunjuk sebuah photo yang menghias didinding ruang tamu.
"Kau melihatnya?"
"Apa benar?"
"Iya."
"Lalu bagaimana keadaan calon menantu ku sekarang? Apa dia sehat? Apa dia baik?"
"Dia sehat." Tapi wajah gagah seorang Husein langsung berubah. "Kau masih ingat tentang perjodohan itu?" Tertawa kecil. "Lupakan dulu, sekarang katakan apa tujuanmu datang kesini mencari ku setelah beberapa tahun menghilang tanpa kabar?"
Keadaan seketika hening, ibu Adam tidak menjawab. Dengan bahasa tangan Husein mengusir seluruh pelayan dan penjaga rumahnya. Hilang dari pandangan dalam waktu beberapa detik saja.
"Kau sudah tau tentang kematian suamiku?" Husein mengangguk. Mengaitkan kedua tangannya di depan lutut.
"Apa kau juga tau kalau ini hanya jebakan?" Diam. "Husein, bantulah aku. Sudah beberapa tahun aku menderita karena ini. Jika itu memang kehendak Tuhan aku bisa menerimanya. Tapi aku dan anak-anakku, selalu dihantui rasa tidak nyaman selama ini. Karena belum menemukan pelakunya. Aku yakin pasti kau tau soal ini."
"Aku tidak tau Marisha."
"Kau orang yang kuat, berpengaruh dalam hal apapun. Jika hanya lalat beracun yang melakukannya bukankah kau bisa membantuku."
"Katakan saja kau menuduh siapa. Tidak mungkin selama bertahun-tahun lamanya kau tidak menemukan titik terang."
"Abdi!" Dengan lantang menjawabnya. Yakin dengan itu, ibu Adam menunduk setelah mengatakannya. Merasa berdosa atas tuduhan yang belum memiliki bukti.
"Kau saja sudah tau, kenapa minta bantuan ku?" Deg. Jantungnya berdenyut, saudara kandung yang tega merancang kematian saudaranya sendiri.
"Tapi aku tidak memiliki bukti apapun. Aku bisa dituntut karena melakukan pencemaran nama baik."
"Tidak akan."
"Bagaimana mungkin? Bukankah hukum di negeri ini masih berlaku?"
"Hukum tetap berlaku. Tapi hak dan kekuasaan juga berlaku di negeri ini. Apa kau pernah datang ke perusahaan sebelumnya? Tepat setelah kematian suamimu?" Ibu Adam menggeleng.
"Kalau begitu lakukanlah mulai sekarang. Hak ahli waris hanya ada pada anakmu. Kau harus tau, jika perusahaan Neo sudah berubah nama menjadi Winasa."
"Apa? Tidak mungkin!!"
"Kau pasti pernah menandatangani dokumen penting perusahaan sebelumnya kan?"
Ingatan itu muncul seketika. Dimana satu bulan setelah kematian suaminya. Adik iparnya meminta tanda tangan dengan alasan akan mengambil uang perusahaan. Yang dihalaman depan jelas tertera diagram dari perusahaan, keuntungan, dan pengeluaran.
"Kak, silahkan kakak tanda tangani. Keuangan akan masuk ke rekening kakak."
"Apa ini tidak terlalu membebanimu? Lalu bagaimana denganmu? Kau yang menjalankan perusahaan saat ini, bukankah harusnya juga bagi dua."
"Hendra adalah kakakku, dan kalian adalah tanggungjawab ku juga. Aku sudah memiliki keuntungan sendiri kak. Sudah cukup untukku." Tanpa ragu dan berpikir lagi, sebuah pena dengan tinta hitam sudah menggores diatas kertas. Tanda setuju sudah tercatat sampai kapanpun.
"Dan ini kak, ada yang mengajukan kerjasama. Aku yang akan mengaturnya." Lagi, ibu Adam menurut dan menandatangani. "Kedepannya, aku akan sering meminta tanda tangan kak. Hingga menunggu Windu nantinya yang menjadi pimpinan, barulah dia sendiri yang akan mengelolanya."
Seorang istri yang tidak mampu menolak kepercayaan. Seorang istri yang tidak tau menahu hanya bisa percaya. Dialah ibunya Adam. Dan sekarang, setelah anak sulungnya sudah berhasil menjadi sarjana, sudah waktunya untuk datang ke perusahaan dan menjabat sebagai pimpinan. Malah semuanya sudah berubah. Tidak, matanya berkaca-kaca sekarang. Membayangkan hal apa yang sudah dilakukannya. Bahkan, bukan hanya satu dua kali menandatangani dokumen penting ataupun berkas. Nasib keluarganya yang malang.
"Apa kau sudah ingat sekarang?" Otaknya langsung berputar, dan meyakini jika menang adik iparnya ingin menguasai perusahaan suaminya dengan cara halus. Mengelabui pikirannya dan juga anaknya, dengan rasa pengorbanan yang ditujukan sehingga mereka percaya.
"Jadi, bagaimana? Apa perusahaan memang sudah pindah ke tangannya?"
"Apakah kau sudah pernah menemui pengacaranya?" Ibu Adam menggeleng. Beribu alasan yang adik iparnya berikan ketika dirinya meminta dipertemukan kepada orang yang memegang surat-surat penting milik suaminya.
"Kau bodoh?"
"Kau benar!" Pasrah, memang hanya itu kata yang cocok untuknya saat ini.
"Kenapa kau baru sekarang datang padaku?"
"Aku tidak diijinkan keluar rumah ataupun ke sembarang tempat, yang awalnya aku pikir itu hanya untuk mengelabuhi pelaku. Dan ternyata, pelakunya lah yang mengatur kehidupanku. Bahkan aku rela meminta anakku untuk tidak membawa temannya datang kerumah."
"Anakmu?" Ibu Adam mengangguk.
"Apa kau tau, jika anakku selama ini mencarinya? Bahkan sampai datang padaku, dan rela betengkar denganku karena aku tidak memberikan alamat rumahmu. Padahal, aku sudah tau alamatnya sejak kau memutuskan untuk pindah lagi ke kota ini."
"Husein! Kau jahat sekali."
"Haha." Tertawa renyah. "Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang keras kepala."
"Apa dia ada disini sekarang?" Husein menggeleng. "Aya, Aya dimana dia? Putri kecilku."
"Dia putriku!"
"Tapi kau tidak menyayanginya! Kau selalu menyia-nyiakannya!" Tertawa lagi, menertawakan kebodohannya selaku seorang ayah.
"Kau sudah tau bagaimana kisah ku, bagaimana keluargaku. Sudah tidak bisa dipertahankan."
"Lalu bagaimana kabar mantan istrimu?" Husein hanya mengangkat bahu dan tangannya.
"Good. Tapi aku dengar dia mengalami keguguran."
"Keguguran? Kenapa bisa?"
"Jika kau bertanya hal ini dengan Aya putri kecilmu pun dia belum tentu tau." Ibu Adam meremas pinggiran sofa. Sebenarnya dimana keberadaan Aya, membayangkan hal itu, perasaannya menjadi campur aduk. Jika Husein mengatakan kalau dia tidak berada disini, dan juga tidak berada dirumah mantan istrinya, lalu dimana dia sekarang? Ah beberapa pikiran negatif muncul begitu saja dari dalam pikirannya.
__ADS_1
"Jangan bilang dia tinggal sendiri?" Husein mengangguk dengan wajah sendu.
"Tega sekali kau, ayah macam apa kau ini! Dia itu perempuan, harusnya kau selalu memberikan perhatian untuknya! Dia adalah korban keegoisan kalian?" Suaranya nyaring memenuhi ruangan.
"Dia tidak mau ikut denganku, aku hanya bisa memantaunya dari jarak jauh. Mungkin dia tidak pernah menyadari, jika setiap harinya kemanapun dia pergi aku selalu meminta pengawal mengikutinya. Apapun yang dia lakukan."
"Benarkah?"
"Kau tau, putri kecilmu itu membantu anak-anak jalanan. Meminta uang padaku dengan jumlah yang sangat besar, dengan alasan akan membeli barang yang dia suka. Padahal, dia menggunakan uang itu untuk membangun rumah, agar anak-anak jalanan bisa hidup lebih layak."
Dan ternyata, semua tentang anaknya juga Husien tau.
"Aku yakin, kau tidak mendidiknya soal itu. Hanya saja hati dan pikirannya tergerak sendiri."
"Hei, dia juga keturunanku. Jadi tidak salah jika hatinya selalu tidak tega melihat orang lain kesusahan."
"Katakan dimana alamatnya. Aku akan menemuinya."
"Kau harus mengurus salahmu terlebih dahulu, baru bisa berjumpa dengannya. Bukankah sekarang hidupmu juga di atur."
"Semenjak bertemu denganmu hari ini, aku akan memberontak. Dan mengambil langkah yang sudah kau katakan tadi." Husien tersenyum.
"Ambilah hak mu. Datang saja ke apartemen yang aku beli sewaktu suamimu menawarkannya."
"Dia disana? Sendiri?"
"Sudah kukatakan dia tidak sendirian. Datanglah, kau juga akan menemui sosok yang juga kau kenal."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Dan ingat, kau juga harus membantu ku."
Di tempat lain yang masih satu lingkupan. Adam sudah mulai bosan karena berdiam diri di dalam mobil. Tangannya sudah memegang handel pintu, tapi niatnya untuk turun hilang begitu saja ketika melihat sosok yang dia tunggu sudah terlihat berjalan keluar dari dalam rumah megah.
Melihat raut wajah ibunya bisa berubah ketika beberapa menit lalu masuk ke dalam. Dan berjalan dengan senyuman dibawah sinar matahari. Berlenggok bak baru saja menemukan harta yang paling berharga.
"Apa ibu sebenarnya adalah mantan kekasihnya? Ah mana mungkin. Tapi kenapa ibu terlihat senang?" Bak berjalan dengan adegan slow motion. Adam juga memperhatikan ibunya berjalan tanpa berkedip. Sudah lama sekali, sejak saat dimana mereka kehilangan sosok ayah. Wajah yang selalu murung. Iya, kini bisa tersenyum dengan ikhlasnya.
"Ibu, sudah?" Mengangguk dan tersenyum lagi. Adam masih diam dan belum menyalakan mesin mobilnya. Bingung, harus mulai dari mana bertanya dengan ibunya.
"Katakan pada ibu, dari mana kau tau rumahnya? Kenapa kau bisa tau kalau letak rumah om Husein ada disini sekarang? Bukankah yang kau tau hanya rumah lamanya, dan waktu itu kau masih terlalu kecil untuk mengingat jalan." Adam tersenyum dan menoleh ke arah ibunya.
"Aku pernah melihatnya Bu, dan aku mengikutinya hingga kesini."
Ibunya menggelengkan kepala.
"Hari ini jadwal cek up kan?" Adam diam dan mulai melajukan mobilnya. Para penjaga menunduk hormat ketika mobil melintas keluar gerbang. Tamu yang sebenarnya memiliki derajat yang sama dengan tuan mereka.
Adam memukul pelan stir kemudi, jika sudah diperingatkan jadwal cek up ke dokter. Hal yang paling dia ingin hindari.
"Apa tidak bisa besok Bu?"
"Ya sudah, kalau begitu kita kepusara sekarang. Ada hal yang ingin ibu bicarakan dengan ayah." Deg. Adam termangu, ibu mau sampai kapan begini? Baru saja aku melihat senyum itu mengembang dari bibirnya. Dan sekarang, kenapa malah seperti ini lagi? Sadarlah jika ayah sudah tiada. Batinnya, sambil melirik sekilas kearah ibunya.
"Ini untuk yang terakhir ibu mengeluh, ibu janji. Ibu tau apa yang kau pikirkan saat ini Adam."
"Ibu."
Hal yang tidak bisa ditolak olehnya, adalah ucapan dan permintaan ibu.
"Ibu salah, waktu itu tidak percaya kepadamu Dam. Padahal kau sudah mengatakannya kepada ibu."
"Om Abdi?" Ibunya mengangguk dan membuang nafas. Perasaan dendam langsung bergejolak dari lubuk hatinya. Andai saja dia juga mampu, maka akan membalas nyawa dengan nyawa. Dan juga penuh andai lainnya, termasuk tidak ada hukuman untuk orang yang sudah menghilangkan nyawa.
***
Tahun sudah berganti, tapi perasaan cinta seorang istri tidak bisa luntur begitu saja. Meskipun matahari bisa mengeringkan air di sungai, hujan bisa membasahi bumi. Pergantian cuaca tidak bisa melunturkan apa yang sudah ditanam sejak belasan tahun. Semenjak mengenal dan menjalin hubungan. Hingga memiliki dua putra dari buah cinta mereka. Kehidupan berbeda alam inilah yang harus dijalaninya sekarang. Masalah datang ketika tepat kabar duka datang menembus telinga.
Rumput hijau setinggi 5 centimeter bergoyang pelan saat angin datang menerpa. Batu bercorak putih dengan tanda pengenal, juga tanggal lahir dan tanggal kematian. Perlahan tangan halus itu mengusapnya, bersama titikan air mata yang terjatuh hingga ke bumi.
"Kau lihat kan, aku yang bodoh disini." Adam tidak ingin melarang ibunya untuk menangis, itu haknya. Dan sudah sering melihatnya begini. Tahun tidak bisa menghentikan air mata.
"Aku yang bodoh!" Lagi-lagi dia mengulang kata-katanya. Sambil terus mengusap Nissan.
"Andai saja aku tidak begitu percaya dengan saudaramu sendiri."
Sakit tentang kehilangan seorang suami. Sudah dia alami, dan sekarang dia sangat takut kehilangan salah satu putranya.
"Aku berharap, jika Adam bisa sembuh. Dia tidak boleh pergi sepertimu yang meninggalkanku."
"Ibu." Adam memeluknya, terus memeluk dan ikut menangis.
"Ibu takut kehilanganmu. Sembuhlah nak." Adam menggeleng, usaha sudah dilakukan. Tinggal menunggu mukjizat Tuhan yang paling nyata.
"Kenapa Adam seperti mu sih! Dia alergi obat, jadi sulit untuk menemukan cara mengatasi penyakitnya."
"Ibu!!" Adam berdiri. "Jangan katakan itu lagi."
Matahari semakin terik, membakar kulit tipis yang tidak terbungkus kain. Berpijak diantara dedaunan kering. Setelah merasa puas menyampaikan apa yang ingin disampaikan ibunya kembali mengajak Adam untuk pergi meninggalkan pusara. Sekali lagi Adam menikmati pemandangan yang seluruhnya hanya terlihat gundukan tanah dengan rumput diatasnya. Di sanalah ayahnya bersemayam.
"Kita pulang Bu?" Ibunya menggeleng, teringat lagi akan sesuatu.
"Kita datang kerumah saudara ayahmu." Adam yang tau maksudnya, om Abdi. Dan Adam menolak, dengan mengatakan untuk apa lagi datang kesana. Tapi lagi-lagi kekuatan seorang ibu yang mengalahkan penyihir. Adam tidak bisa menolak.
"Ibu, ibu untuk apa datang kesana?"
"Ibu akan mengatakan kalau besok Windu dan ibu akan datang ke perusahaan langsung."
"Ibu yakin?"
"Adam, ini sudah saatnya. Perusahaan ini ayahmu yang membangun, berjuang mati-matian."
Beberapa menit perjalanan, Adam dan ibunya sampai dirumah saudara ayahnya. Rumah yang sudah lama tidak mereka kunjungi, karena om nya selalu meminta untuk bertemu diluar rumah. Dan melarang mereka datang kesini dengan berbagai macam alasan.
Rumah mewah dan megah, sebelumnya tidak seperti ini. Yang berarti sudah direnovasi dengan biaya milyaran. Adam berspekulasi sendiri, semua ini pasti uang dari perusahaan ayahnya. Penggelapan uang perusahaan tidak mungkin tidak dia lakukan. Keuntungan yang jauh lebih besar dari yang sering masuk ke rekening ibunya.
Ibunya menggenggam tangan Adam, sebelum masuk ke dalam. Mereka meminta ijin terlebih dahulu kepada penjaga rumah.
"Apa sudah membuat janji?"
"Aku kakaknya, hanya ingin berkunjung apa harus meminta ijin?" Tidak bisa menolak, gebang terbuka sempurna untuk mereka. Mobil dibiarkan saja terparkir diluar.
__ADS_1
Abdi, dia hanya tinggal sendirian. Di usianya yang tidak lagi muda, dia juga belum menikah. Bukan karena tidak ada yang mau, tetapi jika membahas soal pernikahan pasti om nya itu selalu menolak, dan dengan alasan lagi-lagi ingin fokus menjaga keluarga kakaknya.
"Kak? Kenapa kakak datang kesini?" Sang tuan rumah turun dengan terburu-buru dan wajahnya panik. Dia melihat keponakan dan kakak iparnya duduk di sofa mewah miliknya.
"Eh tidak, hanya ingin menyampaikan sesuatu." Dia duduk diseberang sofa. Seorang pelayan sudah datang membawa minuman sebelum diminta.
"Apa ini ada racunnya?" Deg. Wajahnya langsung memerah. Adam bersembunyi dibalik tubuh ibunya sambil menahan tawa. Sialan, sejak kapan ibu berubah pesimis begini. Bicaranya juga asal, padahal baru beberapa jam bertemu dengan teman lama. Tapi sepertinya langsung diberikan les privat, sehingga jiwa sesungguhnya bisa kembali lagi.
"Kenapa kakak bicara begitu?" Tangannya melambai dan mengusir pelayan, agar segera pergi dari hadapan mereka dan tidak menguping pembicaraan.
"Mulai besok, seluruhnya perusahaan kau serahkan kepada kami. Aku dan Windu akan datang ke perusahaan."
"Tidak bisa kak." Adam menegakkan tubuhnya, merasa ini sudah tindakan lebih jauh lagi.
Bagaimana mungkin pemilik tidak di ijinkan datang, pikirnya.
"Kau lupa siapa pemiliknya?"
"Kak, maksudnya kakak apa bicara begini? Setelah perjuangan ku selama ini, kakak ingin menggeser ku dari perusahaan."
"Lalu, rumah ini? Dan semua yang kau punya sekarang? Apa ini belum cukup?" Abdi yang merasa ada yang tidak beres langsung berdiri dari duduknya.
"Kak, tolong jangan bicara berbelit-belit begini, katakan maksud kakak yang sebenarnya."
Marisha, selaku ibu Adam dan kakak ipar Abdi, dia bertepuk tangan pelan lalu tersenyum.
"Kau menyimpan berkas perusahaan kan? Aku mau lihat."
"Tapi kak, semua berkasnya ada di kantor. Aku tidak menyimpannya di rumah." Semula duduk kini berdiri, berjalan mondar-mandir dan melipat kedua tangannya. Adam tercengang melihat reaksi wajah ibunya. Tidak, bahkan dia teriak dalam hati kalau wanita dihadapannya ini bukanlah ibunya. Wajahnya yang semula tersenyum bisa berubah seperti singa lapar.
Adam menggeleng pelan, baiklah ibuku sudah kembali. Batinnya.
"Kau baik, kau hebat, bisa memimpin perusahaan sejak kakakmu meninggal. Dan bertanggungjawab atas kehidupan kami selama ini. Kau rela berkorban demi kami. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas itu." Diam sebentar, menoleh kearah adik iparnya yang menunduk bingung, tenggelam dalam pikirannya.
"Aku lupa, kalau sebenarnya suasana duka itu sudah hilang. Dan aku beserta kedua anakku malah menjadi ketergantungan kepadamu. Hidup hanya larut dalam kesedihan."
"Ibu, sebaiknya ibu duduk saja."
"Iya kak, Adam benar. Kenapa kakak harus berjalan mondar-mandir."
"Kalian berdua bisa diam? Aku masih ingin bicara."
Ibu! Kenapa aku yang menjadi sasarannya juga.
Baik Abdi ataupun Adam, mereka sama-sama terdiam. Adam malah ikut seperti terdakwa sekarang.
"Kau bahkan rela tidak menikah hanya karena sibuk mengurus perusahaan. Sampai-sampai kau lupa diri, dan menganggapnya itu perusahaan milikmu, hasil kerja kerasmu. Padahal, itu semua adalah hak anakku. Dan sekarang, kau terlena. Kau bahkan mengubah nama perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh suamiku. Dan kau menggantinya tanpa meminta ijin denganku ataupun anakku. Apa kau tau, dari sini aku berpikir jika kau lah pelaku dibalik kematian ayahnya Adam, suamiku? Yang juga kakak kandungmu."
Deg.
Deg.
Deg.
Dua orang yang duduk langsung mendongak, Adam sendiri tidak menyangka kalau ibunya langsung to the point, meskipun diawal kata sempat berbelit-belit. Memuji, berterimakasih.
"Kak, cukup? Apa maksud kakak." Abdi menggebrak meja mahal miliknya.
"Kau ada disanakan? Iya kan? Kau ada ditempat kejadian kan?" Ibu menodong dengan jarinya menunjuk ke arah adik iparnya.
"Ibu, ibu?" Adam menarik lengannya, mencoba untuk menenangkan hati ibu yang sudah memanas.
"Kak, aku bisa menuntutmu karena pencemaran nama baik."
"Kalau begitu aku juga akan menuntutmu karena melakukan penipuan, penggelapan uang perusahaan, dan memanipulasi berkas. Dan satu lagi, pembunuhan berencana. Aku hanya tinggal mengumpulkan bukti, bukan bukti palsu dengan menuduh orang lain. Oh iya satu lagi, aku akan datang ke rumah keluarga yang sudah kau tuduh sebagai pembunuh suamiku. Pasti kau juga akan dituntut olehnya."
"Kak, sebaiknya kau pergi dari rumah ku."
"Eh, ini rumahku juga. Bukankah kau membangun dari uang hasil perusahaan?" Deg. Abdi langsung terdiam, berdiri mengepalkan tangan dan wajahnya memerah.
"Bawa mereka pergi dari sini!!" Teriaknya lantang. Tapi tidak satupun diantara mereka berani menyentuh, karena sebagian ternyata sudah ada yang menguping.
"Kalian, jika kalian bekerjasama dengannya." Menunjuk ke arah Abdi. "Aku juga bisa menuntut kalian."
"Adam, ayo kita pergi." Adam tidak mampu membuka mulut, pandangannya masih kosong memikirkan hal diluar nalar. Ibuku hebat, singa sedang lapar. Hanya itu yang dia pikirkan.
"Ibu, apa kau kerasukan setan?"
"Mungkin." Tertawa kecil. "Ibumu sudah bangun kembali. Dan sekarang, ibu merasa ada kekuatan ayah disini." Menepuk dadanya pelan. Adam menggeleng dan tersenyum. Meninggalkan rumah megah yang dibangun dari hasil kelicikannya.
Wahai suamiku, datanglah lagi malam ini melalui mimpi, hanya untuk sekedar mengucapkan kata semangat. Maka aku akan kembali seperti dulu.
Doa seorang istri di dalam hati.
"Adam, jangan melupakan satu kunjungan lagi." Ucapnya saat mobil sudah memasuki jalanan raya.
"Ibu, aku sudah bosan harus terapi terus-menerus. Bisakah kita tunda?"
"Tidak Adam."
"Ibu."
Adam mendengus, penyakit yang dia derita tidak pernah memiliki ujung kesembuhan, dan ini terjadi semenjak Adam kehilangan ayahnya.
"Ibu tidak mengajakmu rumah sakit." Adam langsung menoleh. "Antarkan ibu ke apartemen yang ada dijalan X."
Mobil berhenti tiba-tiba, karena Adam menginjak rem dengan mendadak.
"Maksudnya."
"Ada putri kecil ibu disana, ibu rindu padanya."
Tidak!!! Nara!! Adam menjerit dalam diam. Belum siap untuk bertemu dengan Kinara saat ini, belum siap untuk menunjukan dirinya dengan kehidupan yang berbeda.
"Apa?"
"Ayahnya sudah mengatakannya." Tidak lagi bisa protes, dan hari ini, Adam harus berkeliling menuju beberapa tempat yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Bersambung..
__ADS_1