Langit Mendung

Langit Mendung
Penyakit Adam


__ADS_3

Bukti-bukti yang didapat semakin kuat, dan sudah menjurus kepada orang yang sempat mereka curigai. Adam sangat berniat akan membantu Kinara, bagaimanapun caranya. Tidak tidur sekalipun hanya karena mengotak-atik layar laptop. Mata yang terlihat seperti panda pun tidak lagi dihiraukan. Berharap dengan ini, dengan semua yang dia lakukan. Kinara bisa tau arti perjuangannya. Adam yakin, jika diantaranya dengan Kinara memang memiliki rasa yang kuat, rasa sayang yang lebih dari teman. Hanya saja perasaan itu belum terbalas hingga saat ini. Menaklukan hati perempuan ternyata tidak segampang itu.


Adam yang meminta Elena untuk bertemu saat setelah pulang sekolah, menunggu disebuah taman yang jauh dari keramaian. Jika disiang hari orang-orang jarang ada yang mau berkunjung ke taman. Alasan pertama adalah panas terik matahari.


Duduk dengan memangku laptop, mendengar suara langkah kaki menapak bumi barulah Adam menoleh. Tersenyum kecut ketika tau gadis mungil itu sudah datang dengan membawa senyum bahagianya. Dia salah, berpikir bahwa Adam akan kembali merajut hubungan dengannya. Berpikir bahwa Adam mengajaknya bertemu hanya untuk sekedar minta maaf. Padahal, sudah ada rahang yang mengeras ketika melihat wajah cantik itu tersenyum. Baik ataupun berpura-pura baik, itu yang sedang Adam pikirkan.


Awalnya menyangka bahwa Elena seorang gadis yang polos, berbicara dengan nada lembutnya yang memang seperti sedang tidak dibuat-buat. Tatapan mata tajam itu menghentikan langkah kaki Elena, semakin ragu. Namun Adam menepuk lembut bangku taman yang ada disebelahnya.


"Kak?"


"Duduklah." Tersenyum lagi.


"Aku ingin bicara serius denganmu."


"Apa ini tentang hubungan kita?"


"Lebih dari itu." Elena yang merasa tersanjung. Dia bahkan terus tersenyum sebelum kata-kata telak yang dikeluarkan oleh Adam.


Matanya ikut menatap ke arah layar laptop. Saat menunggu Adam tidak juga membuka suara. Bahkan sedikit berdehem pun tidak.


"Kak? Apa itu?" Benarkan, ekspresi wajahnya berubah secepat itu. Membuang pandangannya, lalu tingkahnya yang sebelumnya tidak pernah dia tujukan dihadapan Adam.


"Kak, katakanlah sebenarnya ada apa mengajakku bertemu disini?"


"Kau kenal dia?" Menunjuk sebuah photo yang dia dapat di internet.


"Dia, pamanku." Deg. Meski jantung mulai berdetak lebih cepat, tapi mengatur nafas sekali lagi agar tidak emosi. Ingatlah, dia juga mantanmu, begitu hatinya berbisik.


"Katakanlah, apa maksudmu menyebarkan photo Kinara?" Elena langsung berdiri dari duduknya. Dia tersentak sebelum Adam menyelesaikan perkataannya. Bahkan juga belum sempat memberi beberapa pertanyaan.


"Apa maksudnya kak? Jika kau ingin bertemu denganku hanya untuk menuduh, lebih baik tidak usah kak."


"Duduklah." Dan tangannya ditarik oleh Adam, berbicara dengan lembut meski hanya karena terpaksa.


Hah, suasana siang hari yang panas akan semakin panas Sepertinya. Yang satu membela mati-matian orang yang dia sayang, sementara yang satu tidak mengaku meskipun sudah ditanya berkali-kali, dengan alasan masih menyimpan rasa sayang. Adam yang menjelaskan dengan detail bukti yang dia cari. Dan Elena, berpura-pura bodoh soal itu.


"Aku hanya tau tentang membaca status orang lain." Ungkapnya seperti tidak merasa berdosa.


"Baiklah, aku sudah lelah menanyakan ini denganmu. Aku bertanya dengan lembut sekalipun kau tetap saja berkilah!" Adam menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya. Hembusan angin datang menerpa poni rambut miliknya yang bergaya bak style Korea. "Lebih baik aku melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Dengan tuduhan pencemaran nama baik."


"Kak, tunggu!" Elena mengeraskan suaranya. "Iya kak aku yang melakukannya. Aku cemburu! Aku tau, kau lebih dekat dengannya. Dan aku tau, kau juga menyayanginya kak." Adam tersenyum tipis sebelum membalikkan tubuhnya. Cengkraman tangan yang ada di lengannya ditatap tajam oleh Adam. Merasa risih jika harus disentuh oleh Elena.


"Maafkan aku kak."


"Jangan menangis! Aku tidak suka melihat wanita menangis."


"Kalau begitu aku akan menangis kak, supaya kakak mau memaafkan aku dan tidak melaporkan ku ke pihak yang berwajib." Adam kembali duduk, tapi kali ini benar-benar menjaga jarak dan meminta Elena untuk tidak menyentuhnya.


"Aku tidak akan melaporkanmu, tapi kau sendiri tau Elena, siapa ayah dari Kinara. Dan seperti apa kekuasaannya. Dia bisa saja mencari tau tentang hal ini dengan waktu satu jam. Tapi syukurnya dia tidak melakukan itu, karena Kinara bukan tipe anak yang tukang mengaduh. Dia tidak memanfaatkan apa yang dimiliki ayahnya. Jika soal memanfaatkan pun itu hanya untuk hal-hal baik."


"Maaf kak. Aku cemburu. Jadi aku meminta paman untuk membantuku. Karena yang aku tau dia juga baru saja dipecat oleh ayahnya kak Nara."


Dan ingatan itu jelas muncul dibenak Elena. Malam dimana dia sedang sendiri menikmati indahnya malam. Dirooftop toko roti milik ibunya. Membayangkan setiap harinya Adam selalu dekat dengan Kinara. Kedekatan yang tidak seperti teman itu jelas tertangkap jelas oleh matanya. Bahkan sebelum Elena putus hubungan dengan Adam. Rasa cemburu itu muncul begitu saja, yang awalnya bisa memaklumi. Tapi lama-kelamaan hasutan dan bisikan muncul di telinganya.


"Kau lihat kan, kau lihat itu. Bahkan keliling sekolah saja harus berdua. Aku yakin, jika kak Adam memutuskan hubungan kalian hanya karena kak Kinara. Mungkin juga kalau dia yang meminta." Deg. Jantung yang awalnya masih berdetak dengan normal sudah mulai memompa dengan ambisi ingin marah.


Sejak itu, apapun yang dilakukan Adam dan Kinara disekolah selalu membayanginya. Lamunan itu langsung buyar, ketika suara laki-laki yang dia kenal menyapa.


"Paman?"


"Kenapa kau duduk sendirian disini?" Elena tersenyum manis, memang senyumnya juga selalu manis jika dilihat oleh orang lain.


"Tidak, aku ingin melihat bintang dengan jelas, indah." Dia mengadahkan padangannya ke arah langit. Benar, Bintang tampak berkedip menyapa.


"Kenapa paman disini? Apa paman tidak bekerja?" Lelaki itu menggeleng.


"Paman dipecat." Elena mengucapakan kata sabar untuk lelaki yang dia panggil dengan sebutan paman.


"Lalu, kenapa paman kesini membawa laptop?"


"Tidak, paman hanya ingin menghapus beberapa photo yang ada didalam sini." Elena bergerak mendekat, photo apa? Dia juga penasaran.


"Inikan kak Kinara?" Dia menatap lagi ke arah lelaki yang bertubuh tinggi tegap itu. Dan jawaban yang diberikan adalah anggukan.


"Kau mengenalnya?"


"Dia kakak kelasku." Tapi tangannya mulai meraba dan menggeser beberapa photo yang tidak pantas dilihat.


Seketika itu, rencana mulai muncul dengan alasan ingin balas dendam. Dan akan mencari simpati dari beberapa pihak nantinya.


"Bisakah paman membantuku?"


"Selama itu tidak membahayakan paman juga siap." Dan, akhirnya kedua orang itu setuju. Malam itu juga, Elena bukanlah lagi gadis baik seperti apa yang selama ini dilihat oleh orang-orang, termasuk juga oleh Kinara.


Elena yang merasa bahwa Kinara lah penyebab hubungannya dengan Adam harus putus. Hingga rasa dendam begitu saja muncul ketika memiliki peluang. Ah rasanya Adam sendiri sudah mulai membencinya.


Helaan nafas kasar jelas terdengar dari Adam, ketika Elena menceritakan semuanya saat ini. Adam terdiam, tidak mau menoleh sedikitpun ke arah Elena. Meski telinganya jelas mendengar kalau Elena berulangkali mengucapakan kata maaf dan tidak segan memohon. Tapi leher dan mulut yang kaku benar-benar tidak bisa menjawab permintaan maafnya.


"Sebenarnya bukan hanya itu yang aku tau." Adam meliriknya sekilas.


"Aku juga pernah melihat kak Nara, berada di kamar mandi sekolah. Lalu berbicara sendirian sambil mengelus perutnya. Aku curiga kalau dia hamil." Deg. Kali ini tidak lagi ada kata urat leher yang kaku. Adam langsung menatap tajam Elena. "Kali ini aku bersumpah kak. Maka dari itu aku berpikir bahwa kak Kinara dan pak Effendi memiliki hubungan."


"Apa hanya itu saja yang kau tau? Seperti bukti lain yang mengatakan Kinara hamil, tidak ada?"


Semakin tersudut sekarang, Elena tidak paham apakah ini berupa pertanyaan ataukah sindiran untuk tidak mengurusi lagi kehidupan orang lain.


"Maaf kak, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Maaf, bukan maksudku menuduh."

__ADS_1


"Iya aku tau, kau melihatnya. Yang aku tanya, apa kau melihat lagi hal lain yang aneh dari Kinara?" Elena menggeleng. Benar, dia takut sekali ternyata.


"Kak?"


"Hem."


"Kak?"


"Hapus saja semua photo itu Elena. Bukankah kau juga yang membuat akun palsunya?" Elena mengangguk. Tapi tangannya liar sekarang. Oh no! Dia sudah menggenggam tangan Adam.


"Aku masih mencintaimu kak. Aku berharap setiap harinya, kakak akan mengajakku bertemu."


"Kau buat saja masalah denganku ataupun Kinara, pasti aku akan sering mengajakmu bertemu seperti ini."


"Bukan itu maksudku kak!" Elena langsung melepaskannya genggaman tangannya. "Apa kakak mencintai kak Kinara?"


"Iya."


"Lalu, sewaktu denganku apa kakak juga menyayangiku?" Lama menjawab dan akhirnya Adam mengangguk.


"Kenapa kakak memutuskan hubungan kita?"


"Karena aku takut, kau akan merasa jauh lebih sakit ketika kehilangan ku nantinya?"


"Maksudnya?"


"Aku memiliki penyakit yang tidak akan pernah bisa sembuh. Dan ujung-ujungnya juga akan mati."


"Kak?"


"Ya? Kau tidak percaya?" Elena menggeleng pelan. "Kau tidak perlu memikirkan hal ini. Tugasmu hanya meminta maaf kepada Kinara dan juga ayahnya." Adam tersenyum tipis.


"Kenapa ayahnya?" Bingung, walaupun memang itu juga sebuah keharusan.


"Karena kau, Kinara sempat menuduh ayahnya yang melakukan ini."


Elena langsung mengingat, bagaimana hubungan Kinara dengan keluarganya.


Ya Tuhan, aku sangat merasa berdosa. Aku lupa jika kak Kinara sudah banyak menghadapai masalah sebelumnya! Ah tapi karena hal itu kak Adam selalu bersimpati padanya.


"Iya kak, aku akan melakukannya nanti."


"Baiklah, kalau begitu aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Adam bangkit dari duduknya. Menyambar laptop yang dia letakkan sebagai pembatas antara dirinya dengan Elena.


"Kak, tunggu?" Elena juga ikut berdiri, tidak segan mencegah Adam pergi dengan menarik tangannya.


"Katakan kak, penyakit apa yang sedang kau lawan saat ini?"


"Kau tidak perlu tau itu. Kedepannya kau tidak lagi perlu bertanya soal ini. Kau boleh menyimpan rasa untukku, tapi tidak boleh mencampuri urusanku. Sebentar lagi juga aku akan melaksanakan ujian kelulusan. Dan setelahnya kita tidak akan lagi bertemu."


Elena bungkam, perlahan tangan yang semula menahan Adam agar tidak pergi terlepas dengan perlahan. Ada yang membanjiri pelupuk matanya. Sekali berkedip air mata siap tumpah membahasi pipi mulusnya. Adam sudah melangkah jauh, tapi Elena belum bergerak dari tempatnya.


Terduduk lemas, dan sampai memandang mobil Adam sudah pergi dari area taman.


Cuaca yang semula panas terik, bisa langsung berganti dengan mendung. Tidak bisa ditebak jika Tuhan sudah berkehendak. Ada rasa penyesalan dihati Adam setelah mengatakan hal itu kepada Elena. Dan memang seharusnya tidak perlu dikatakan.


"Ah!!" Memukul stir kemudi.


Ponselnya berdering, ibunya sudah menelepon berulang kali. Dan bodohnya Adam meninggalkan ponselnya didalam mobil, keluar menemui Elena hanya membawa laptop.


"Iya Bu. Sebentar lagi aku sampai." Dengan rasa malas harus kembali datang kerumah sakit.


***


"Bagaimana dokter? Apa ada perkembangan?" Dokter menggeleng.


"Bisa ibu ikut keruangan saya. Saya akan menjelaskan sesuatu." Ibu Adam mengangguk, sementara Adam hanya terduduk lemas dibanker. Dia tau, penyakit yang dia derita tidak memiliki titik terang dari kesembuhan. Karena Adam, memiliki alergi obat, sehingga untuk masa penyembuhan sangat sulit.


Adam menderita penyakit leo kimia dari sejak kecil. Hanya saja dulu sudah dikatakan sembuh karena semangat itu tumbuh dari ayahnya. Dan kembali kambuh karena kehilangan sosok penyemangat. Ibunya yang berjuang mencari dokter terbaik, tidak peduli berapa biaya yang akan dia keluarkan untuk putranya. Tidak ada yang tau tentang hal ini, termasuk keluarganya. Apa lagi orang-orang yang ada disekitarnya.


Beberapa tahun belakangan ini, Adam sudah pasrah akan keadaannya. Tapi, dia kembali menemukan semangat baru yaitu Kinara. Orang yang dia sukai sejak kecil, yang berarti rasa sukanya Kinara dulu jelas terbalas.


Diruangan ini, ibu siap mendengar apapun yang dikatakan dokter. Meski hati seorang ibu akan pilu, tapi tetap saja mencoba kuat agar Adam tidak semakin putus asa.


"Bagaimana tawaran saya waktu itu? Meskipun belum bisa dipastikan sembuh total, tapi hanya itu jalan satu-satunya untuk mencoba. Percuma jika Adam selalu datang kerumah sakit untuk control ataupun terapi. Tapi tidak ada perubahan sedikitpun." Ibu menghela nafas, aliran darah seperti melemah begitu saja.


"Lakukanlah dokter. Dia akan berangkat setelah selesai ujian kelulusan disekolah."


"Berapa lama lagi?"


"Hanya beberapa Minggu lagi dokter."


"Baiklah, segera lakukan konfirmasi jika sudah siap." Ibu mengangguk, dan kembali lagi keruangan dimana Adam tengah dirawat. Setiap kali control, Adam harus menghabiskan satu botol cairan infus, agar tubuhnya tidak melemah. Meskipun vitamin yang masuk kedalam tubuhnya hanya bertahan selama beberapa hari.


"Bu?" Ibunya duduk disampingnya.


"Adam, kau harus siap? Bukankah kau juga ingin sembuh?" Adam menunduk, genggaman tangan ibunya yang menghangatkan hati membuat Adam lebih yakin sekarang.


"Ibu, aku sangat menyayangimu." Matanya berkaca-kaca, ibunya memeluknya.


"Ibu juga menyayangimu. Sembuhlah Adam untuk ibu."


Waktu itu akan segera tiba, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan Adam untuk masa pengobatannya diluar negri nantinya. Membayangkan jauh dari ibunya. Membayangkan jauh dari teman-temannya, dan satu lagi Kinara.


Jika aku tidak kembali dengan keadaan bernyawa, maka aku akan mengatakan pada ibu sebelum aku pergi. Apa yang sudah aku perbuat dengan Kinara, aku akan mengatakannya. Tidak peduli jika ibu kecewa.


Adam sudah mantap dengan apa yang kan dia perbuat. Apapun resikonya akan dia tanggung, meskipun rasa kecewa itu datang dari hati seorang ibu.

__ADS_1


Senja mulai terlihat, setiap hari pasti akan datang. Hanya saja berbeda suasana hati seperti saat ini. Duduk dengan ibu dan kakaknya tidak membuat pikirannya tenang. Beberapa Minggu lagi, Adam akan menikmati waktu itu. Jika teringat kata dokter "kematian adalah akhir dari sebuah penyakit jika tidak bisa disembuhkan, maka akan menghilang bersama nyawa orang itu sendiri" sungguh pahit sekali terdengar.


"Bu, aku ingin mengubah nama perusahaan kita lagi, seperti awal. Perusahaan Neo adalah namanya." Perkataan Windu berhasil mengalihkan lamunan Adam.


"Kau sudah yakin akan memimpinnya?" Windu mengangguk antusias.


"Apa yang ibu lakukan terhadap Abdi membuatnya mundur satu langkah. Dan dari yang aku dengar, dia akan pergi keluar negeri beberapa hari lagi."


"Apa yang akan dia lakukan diluar negeri?"


"Aku tidak tau Bu. Yang terpenting aku bisa menjabat sesuai keinginan ayah dan ibu."


"Kak jangan kau lupakan tentang keinginaku juga? Kau lupa kalau aku juga sangat mendukung?" Windu tertawa kecil.


"Iya-iya. Ini semua juga berkat bantuanmu."


"Windu?"


"Iya Bu?"


"Ibu ingin bicara." Melirik ke arah Adam. Adam sendiri tau, pasti akan membahas soal keberangkatannya nanti untuk berobat ke negeri seberang. Ah rasanya malas sekali harus mendengar ini berkali-kali, batinnya.


"Bu, aku ke kamar ya." Menoleh ke arah kakaknya. "Kak, kau semangtlah."


"Adam?"


Menoleh dan berhenti melangkah lagi.


"Kau juga harus semangat untuk sembuh, agar kita bisa sama-sama memperbesar lagi usaha ayah." Anggukan lemah jelas terlihat, Adam sangat ragu dan tidak yakin soal itu. Tapi jika menggeleng, bukankah kakaknya juga bisa kehilangan semangat. Lebih baik menutupi kesedihan dengan senyum yang dia bisa.


"Setelah ujian kelulusan adikmu, dia akan langsung berangkat keluar negeri. Tidak harus menunggu sampai kelulusan tiba. Itu semua sudah direncanakan dokter." Windu menunduk, reaksinya sama seperti Adam yang mendengar perkataan ini tadi.


Windu, meskipun dia berjenis kelamin sama dengan Adam. Tidak pernah sedikitpun merasa iri dengan adiknya. Meski perhatian ibunya lebih ke Adam, hanya saja itu juga memiliki alasan. Rasa iba jelas muncul dibenak saudara. Adam, dia juga tidak ingin begini.


"Apakah ibu tidak ikut menemaninya?"


"Jika ibu pergi, bagaimana soal kelulusan Adam nantinya? Dan kau?"


"Ibu, kenapa ibu malah memikirkan aku yang jelas-jelas dalam keadaan sehat? Adam yang harusnya ibu temani Bu, bagaimana bisa dia Semangat jika ibu saja tidak pergi bersamanya? Soal kelulusannya nanti bisa aku yang datang ke sekolah Bu."


Ibu bangkit dari duduknya. Merentangkan kedua tangannya, memeluk putra sulungnya sambil menitikkan air mata. Jarang sekali kedua saudara bisa akur seperti ini. Dan kenyatannya kedua putranya bisa akur dan menurut, itu semua karena bimbingannya dan suaminya.


"Jika kau putra Hendrawan kau pasti bisa melakukan semuanya?"


"Meski aku sejak kecil jarang ikut dengan ibu dan ayah." Disambungkan Kalimat ibunya.


"Ah, itu karena nenekmu dulu merasa kau adalah cucu satu-satunya!" Setelah memeluk ibu malah memukul lengan Windu sambil tertawa kecil. Air mata bahagia jatuh bersama senyuman.


Mereka kembali berbincang tentang masa lalu, Windu yang antusias menceritakan masa kecilnya sewaktu tinggal dengan neneknya sebelum beliau pergi untuk selamanya. Bertempat di pusara seperti ayahnya sekarang.


Sementara diruangan lain yang masih satu atap. Adam tertawa geli saat tengah melakukan video call dengan Kinara.


"Aku rindu, aku ingin memutar waktu supaya kau bisa cepat masuk lagi ke sekolah." Dia memiringkan tubuhnya sambil memegang ponsel mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Kau lupa ya, aku juga masuk hanya ikut ujian saja. Guru-guru tidak ada yang kasian denganku."


"Haha, ada yang sayang denganmu."


"Siapa?"


"Aku!"


"Itu juga aku tau." Kinara menutup wajahnya dengan bantal.


"Aku ingin bertemu nanti malam."


"Maaf Adam aku tidak bisa." Hah, kali ini Adam hanya bisa melihat layar yang hitam. Kinara menutup kamera ponselnya agar wajahnya tidak terlihat.


"Kenapa? Apa karena kau tidak merindukan ku?"


"Bukan, aku hanya ingin sendiri."


"Ah kau ini."


"Adam??" Teriakan dari luar kamarnya.


"Ibuku memanggil."


"Dia ibuku juga."


"Berarti kau siap untuk jadi menantunya?" Tanpa menjawab lagi Kinara langsung mematikan sambungan telepon.


"Ah aku jadi yakin jika kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Kalau begini aku jadi tambah semangat untuk berusaha sembuh." Meletakkan ponsel di atas tempat tidur dan berjalan membuka pintu.


"Ibu, ada apa?"


"Turunlah, ada temanmu yang sedang mencarimu."


"Teman? Siapa Bu?"


Tidak biasanya ada orang yang datang kerumah dan diperbolehkan untuk masuk.


"Wanita yang pernah masuk ke kamarmu tanpa ijin terlebih dahulu." Deg. Jelas ingatan itu langsung muncul.


"Elena?" Gumamnya pelan.


"Ayo, ibu sudah mengatakan bahwa kau ada dirumah. Kunci kamarmu agar dia tidak masuk lagi." Heh, dengan langkah malas Adam keluar kamar.

__ADS_1


Beberapa pertanyaan muncul begitu saja di kepalanya. Untuk apa Elena datang lagi kesini?


Bersambung..


__ADS_2